Work Text:
Haikyuu © Haruichi Furudate
Only Warmth Still Lies oleh Aileen Haynsworth
Akaashi Keiji/Reader | T | Psychological Hurt/No Comfort
Aileen Haynsworth tidak mengambil keuntungan finansial apapun dari fanfiksi ini
***
Akaashi Keiji menghidu aroma daun teh dan koran terbitan baru tatkala ia membuka pintu apartemennya; wangi khas yang selalu diingat saat dirinya kembali, wangi yang selalu menguar di ambang pintu.
Sang adam melonggarkan kerah atas kemeja yang dikenakannya, seraya melangkah ke dalam—kebiasaan kecil yang telah melekat, gerakan sistematisnya sejak tiga tahun silam. Dari genkan tempatnya berdiri, ia mendengar suara sendok yang beradu pelan dengan mangkuk keramik. Sontak, mendengar kegiatan domestik kecil di dapur sana membuat sudut bibir sang tuan melengkung ke atas.
Langkah kaki kecil terdengar, menuju ke arahnya. Netra biru gelapnya berserobok dengan sang pemilik langkah, dan seketika Akaashi merasakan rasa lelahnya menguap begitu saja, digantikan oleh rasa nyaman yang meresap ke dadanya—bahkan, terlalu hangat untuk dipercayainya sendiri.
“Okaeri, Keiji.”
Suara manis sang dara yang menyambut dengan melodik, seperti biasa, dengan kilatan jenaka di ujung kata, seolah puan pemilik hatinya itu telah menanti kedatangannya. Setelah meletakkan kembali sepatu di rak, sensasi dari lantai kayu merayap melalui kaus kaki yang dikenakan pria jangkung itu tak ayal membuatnya bergidik.
Seolah, rasa dingin itu adalah cemooh untuknya.
Akaashi menggelengkan kepala, mengenyahkan bisikan aneh yang sempat hinggap. Sang adam lantas memberikan pelukan serta kecupan ringan di dahi [Name], istrinya, dengan sedikit tergesa, bak rasa rindunya tumpah riuh begitu saja.
“Tenggat manuskripnya dimajukan. Maaf pulang terlambat, [Name],” ucap Akaashi, seraya menghirup aroma rambut sang dara dalam-dalam, aroma yang mendefinisikan rumah untuknya, menunggu tawa kecil–reaksi sang dara kala Akaashi mengeluh padanya—meluncur dari bibir Akaashi [Name].
Benar saja, [Name] tergelak tawa sedetik berikutnya, yang tak ayal membuat Akaashi terkekeh pula.
“Aku sedikit menangis membaca bagian klimaks dari manuskrip hari ini,” keluh Akaashi kemudian seraya mengecup kening sang dara. Sekali. Dua kali. Tiga kali. “Ada panel yang sedikit mengharukan. Sedikit.”
[Name] perlahan mengangkat kepala, melihat ekspresi suaminya itu, menangkap kemerahan di mata sang adam.
Wanita itu tersenyum sendu.
“Mhm, kamu menangis. Aku bisa bilang dari matamu yang merah,” ucapnya lembut untuk mengiyakan, lantas menangkup wajah tampan Akaashi. “Akhir-akhir ini kamu selalu terlihat lelah, Sayang.”
Benarkah demikian? Betulkah penampilannya menunjukkan kelelahan yang didera?
Akaashi menyadari bahwa ia jarang melihat cermin beberapa hari ini. Mungkin, dalam beberapa minggu? Pikiran itu seolah menggali sesuatu yang janggal, mengikis sesuatu di dalam relung hatinya. Sorot mata pria itu memperhatikan lekat-lekat sang dara di hadapan; [Name] yang mengenakan hoodie lama milik Akaashi yang sangat kebesaran di tubuh mungil itu, dengan perut bulat yang condong ke depan—tanda kehidupan lain yang akan menjadi babak kehidupan baru mereka kelak, dan senyum hangat serta kilatan kekhawatiran yang menghiasi wajah jelita itu.
Ah, tidak. Mungkin ia hanya lelah karena pekerjaan. Tidak ada yang lebih lelah ketimbang istrinya saat ini.
“Harusnya aku yang bertanya, [Name],” bisik Akaashi sembari mengeratkan pelukan—dengan tetap berhati-hati terhadap perut hamil sang istri. “Kamu masih saja sibuk memasak, sibuk membersihkan rumah.”
Sang adam menghela napas, kemudian melontarkan hal yang melintas di kepala, “Aku khawatir,” lanjutnya.
[Name] tergelak tawa mendengar kekhawatiran lelaki pemilik hatinya itu, lantas sedikit berjinjit untuk mengecup pipi sang suami.
Yang Akaashi rasakan selama sepersekian detik itu adalah dingin yang menggigit kulit. Tak ayal membuatnya tertegun sejenak, kemudian dibuat terhenyak akan perkataan sang istri yang membuat otot-otot di bahunya menegang, hingga bulu romanya pun meremang:
“Aku baik-baik saja, Keiji, aku—ah, kami sama sekali tidak menyalahkanmu,” suara manis dari [Name] seketika berubah menjadi suara parau yang sama sekali tak pernah Akaashi dengar sebelumnya.
Peluh dingin mengalir di pelipis pria itu.
Semburat merah muda yang mewarnai pipi digantikan oleh wajah yang pucat pasi. Kehangatan dari tubuh di dekapan lelaki itu seolah sirna, digantikan oleh pelukan yang frigid, bak jiwa kehidupan telah pergi dari sang istri.
Satu tepukan di pipi, dan bayangan imajiner baru saja itu sirna.
“Keiji? Kamu mendengarkan aku, tidak, sih?” [Name] bertanya sembari mengerucutkan bibir, menggerutu kesal karena perhatian sang suami melanglang buana. “Aku sudah bilang kalau aku diam saja dan tidak banyak bergerak, aku akan merasa sangat bosan! Kamu juga banyak mengerjakan pekerjaan rumah, aku tidak mau kamu terlampau lelah, Keiji. Lagipula, aku senang memasak—bukan karena peran istri harus demikian, ya! Aku bukan perempuan yang terdoktrin dengan peran tradisional begitu–”
Celotehan panjang sang istri membuat Akaashi tersenyum jua, melupakan rasa takut yang hinggap semula. Ia sangat mencintai [Name], mulai dari omelan pertanda kasih, bahkan dari sifat sang dara yang terkadang ceroboh. Perasaannya itu seolah menjadi pengingat akan janji suci upacara pernikahannya tiga tahun silam; bahwasanya dirinya akan mencintai [Name] sepenuh hati, termasuk hal-hal yang dikatakan ‘kelemahan’, meski bagi Akaashi, hanyalah kelebihan eksentrik wanitanya.
Akaashi menangkap aroma pahit nan hangus menyeruak, tampaknya ia terlalu lama menyita perhatian sang istri.
“Sebentar, maaf kupotong. [Name], masakanmu—”
“Oh, iya!” seru [Name] seolah baru teringat akan masakan yang telantar di dapur, sembari melepaskan diri dari pelukan hangat sang suami. “Aduh, aku selesaikan masakanku dulu!”
Perempuan itu terlihat tergesa, mengayunkan langkahnya dengan cepat menuju dapur kecil di apartemen mereka berdua. Hampir saja Akaashi menyusul, sebab ia telah berteriak dalam hati agar istrinya lebih berhati-hati. Melihatnya berlari begitu sungguh membuat perutnya terasa diaduk.
“Keiji, sebaiknya kamu pergi mandi! Aku sudah menyalakan pemanas airnya!” pinta sang dara sembari membalik ikan yang ditelantarkannya tadi.
Akaashi hanya menggelengkan kepala, sebelum pada akhirnya berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan peluh dan menghilangkan rasa lelah yang masih menempel di tubuhnya.
Ia sedikit menoleh ke belakang, memandang punggung sang istri yang tengah sibuk dengan dunia dapur. Anehnya, Akaashi tak mendengar suara minyak berderit di wajan, meski ia jelas-jelas menghidu aroma hangus tadi.
***
Air dari pancuran menyiram tubuh Akaashi, uap mengepul di kamar mandi dan membuat seluruh cermin di ruangan itu memburam—seolah, semesta tak mengizinkan laki-laki itu mengenali dirinya sendiri melalui pantulan cermin. Ia masih berdiri di bawah guyuran, perlahan dwinetranya terpejam, membiarkan air mengalir deras di kulit yang mendambakan rasa hangat nan nyaman. Pikirannya melayang, ke pekerjaannya yang seperti kereta tanpa tujuan akhir, kemudian ke momen-momen kecil bersama [Name].
Aroma sitrus, dari sabun yang sengaja dipilihkan sang istri, menyeruak dalam kamar mandi. Pria itu seketika teringat, bahwa [Name] membelinya karena aroma jeruk itu mirip dengan aroma jus jeruk yang acapkali Akaashi berikan pada [Name] semasa mereka bersekolah di Fukurodani. Akaashi jadi teringat senyum manis yang mengembang di wajah sang dara kala tangan mereka tanpa sengaja bersentuhan saat pria itu memberikan sekotak jus jeruk kepadanya.
Senyum malu-malu itu yang membuat Akaashi jatuh kepada [Name], hingga bertahun-tahun setelahnya menikahi sang dara.
Kemudian, ia secara refleks mengerlingkan mata ke arah pintu, sebab, sang istri acapkali muncul dengan handuk kering secara tiba-tiba, sembari menggerutu, “Jangan mandi terlalu lama, Keiji! Kulitmu bisa kering seperti tumpukan manuskripmu di kantor!” Mengingat kebiasaan wanita itu saja membuat Akaashi terkekeh, kemudian mematikan aliran air pancuran, kemudian mengeringkan dirinya dengan handuk.
‘Aku tidak mau membuat [Name] lelah kesana kemari hanya untuk mengingatkanku menyudahi mandi,’ batinnya.
Uap air yang semula memenuhi ruangan mulai mengembun, jejak air pun terlihat samar di dinding sekitar pancuran—terutama pada cermin di depan wastafel. Akaashi menatap pantulan dirinya, sedikit terhenyak kala penampilannya terlihat tak karuan; kantung mata yang gelap, mata yang merah, rambut yang berantakan.
Seolah, hidupnya selama ini kacau.
Namun, kacau dari apa?
Apakah ini alasan ia enggan melihat cermin, karena seluruh rumah ini seakan menjadi kosong dan menggemakan kesunyian secara tiba-tiba?
Akaashi tersentak dari lamunan ketika ia mendengar ketukan di pintu, diikuti suara [Name] yang menyiratkan rasa cemas.
“Keiji? Kamu lama sekali di kamar mandi,” ucap [Name], teredam oleh pintu kayu di antara mereka. “Jangan bilang kamu menangis lagi.”
Pria itu lantas melilitkan handuk di pinggangnya sebelum membuka pintu. Kedua alisnya terangkat, heran akan ucapan [Name] tadi. Ah, mungkin, istrinya mengira ia masih menangisi manuskrip manga yang dibicarakannya tadi.
“Kami-sama, aku tidak akan menangis karena manuskrip di kantor tadi, [Name],” ucapnya dengan intonasi jenaka dan wajah tampannya yang mengulas senyum.
Namun, sekelebat imaji Akaashi yang menangis hingga jatuh terduduk, lunglai dan tak berdaya melintas di benak sang adam. Hanya sepersekian detik, tetapi sanggup membuat senyuman semula untuk [Name] luntur.
“Lebih baik kamu mengenakan sesuatu dulu, kemudian makan,” pinta [Name], tidak menyadari roman wajah suaminya yang berubah. Sekilas, sang dara justru terlihat sedang pura-pura tidak tahu. “Lalu … teh hitam, ‘kan? Aku sudah buatkan.”
Akaashi mengangguk, mengenyahkan imaji tak menyenangkan tadi, lantas meraih pundak sang dara sebelum mengecup keningnya. “Iya. Terima kasih banyak, [Name], aku akan berganti pakaian dan segera menyusul di ruang makan.”
***
Akaashi berbaring sembari memeluk pinggang [Name] yang sudah terlelap dengan hati-hati, mengingat kehadiran buah hati mereka yang sedang tumbuh di dalam perut wanita itu. Diusapnya punggung sang dara perlahan, sembari membisikkan kata-kata penuh romansa di telinga perempuan yang menemaninya selama tiga tahun ini—apalagi, sekarang sang dara tengah mengandung anaknya.
Makan malam tadi, seperti biasa, selalu menjadi momen indah yang sanggup membuat Akaashi jatuh cinta kembali kepada istrinya itu. Tawa, celotehan panjang, serta godaan jenaka yang sanggup membuat seorang Akaashi Keiji tersenyum lebar dan tertawa—walau sembari menikmati ikan goreng yang sedikit hangus tadi.
“Keiji! Yang hangus jangan dimakan!” seru [Name] saat melihat suaminya menyantap ikan yang ditelantarkannya tadi.
Sedangkan Akaashi hanya mengernyitkan dahi kala rasa pahit memenuhi indranya. “Tidak apa-apa, masih bisa dimakan, [Name],” ucapnya dengan tenang.
Mengingat percakapan tadi hanya membuatnya terkekeh. Ekspresi ketidakpercayaan [Name] melihatnya memakan ikan hangus, rasa ikan yang membuat laki-laki itu teringat permintaan sang istri untuk mengajarinya memasak agar tugas rumah mereka berdua terbagi adil ke depannya.
Pria itu lantas memejamkan mata, walau tak berselang lama membuka matanya lebar-lebar, memastikan [Name] tetap tertidur di sampingnya sembari tersentak. Seolah, dirinya takut bahwa ini hanyalah bunga tidur belaka.
“[Name],” bisiknya pelan, mengeratkan pelukan di pinggang sang istri, tanpa intensi membangunkannya. “Tetaplah di sampingku.”
Akaashi tidak tahu alasannya berbisik demikian. Kalimat itu bergema begitu saja dalam benak, hingga tak ayal ia pun mengucapkannya secara verbal.
Padahal [Name] tidak akan ke mana-mana, ‘kan?
Sang dara mengerjapkan matanya, tampak kantuk masih menguasai diri. [Name] lantas menepuk pelan rambut suaminya yang seolah menyiratkan ketakutan dari gestur tubuhnya saat ini.
“Aku akan selalu ada di hatimu, Keiji. Selalu.”
Napas Akaashi seakan tercekat di tengorokan, rasa sesak memenuhi paru-parunya tiba-tiba.
Kenapa [Name] seakan mengucapkan perpisahan?
Sontak, Akaashi merasakan kubangan ketakutan tak berdasar, ketakutan akan kehilangan sang dara yang telah menguasai seluruh jiwa dan pikirannya, perempuan yang telah mengisi lubang kekosongan dalam dirinya.
Oh, betapa ia tidak ingin kehilangan [Name]. Ia ingin [Name] selalu ada di sisinya.
Atau ia justru sudah kehilangan perempuan itu?
Laki-laki itu lantas mencoba melihat wajah istrinya, sekadar untuk memastikan eksistensi sang dara yang kini tersenyum manis kepadanya, dengan wajah yang juga menyiratkan rasa kantuk nan lelah.
“Tidur, Keiji,” pinta [Name], berbisik pelan. “Kamu hanya lelah, jangan pikirkan apapun. Aku di sini.”
Ya, hanya lelah. [Name] selalu ada di sisinya, selalu menggenggam tangannya.
Akaashi lantas menghela napas lega, perlahan memejamkan mata, mencoba merasakan kehangatan tubuh [Name] yang terasa begitu nyata di sampingnya, mendengarkan dara jelita yang kini mengembuskan napas dengan perlahan, ritmis, dengan irama yang stabil—bak kaset rekaman yang berulang dalam kepala sang adam.
Malam ini Akaashi merasa terlalu rapuh. Rasanya, seluruh apartemen ini hanyalah set panggung dari manga yang disuntingnya, penuh karakter yang hidup dalam panel, kemudian menghilang saat halaman dibalik.
Namun, biarlah Akaashi Keiji terbuai dalam mimpinya malam ini; direngkuh dalam dekapan hangat sang terkasih.
Keesokan paginya, semua akan berjalan dengan normal lagi, bukan?
***
Ya, semua kembali normal keesokan paginya.
Akaashi terbangun, seperti biasa, saat cahaya matahari mulai membiaskan kehangatan melalui celah tabir jendela yang ia pikir tertutup rapat. Rasa sesak di dada sudah menjadi kawan karibnya setiap pagi selama beberapa waktu ini. Tubuhnya bahkan terasa kaku, seperti pria itu baru saja menyelesaikan latihan lari dengan teman-teman setimnya di Fukurodani dulu.
Netra biru gelapnya secara refleks mengerling ke samping, ke sisi peraduan tempat biasa [Name] beristirahat.
Kosong.
Bantal dan sprei di sisi sang dara tampak terlalu rapi, seperti tidak pernah tersentuh sebelumnya. Aroma khas [Name] yang biasa menyeruak, kini sudah hilang, tergantikan oleh harum deterjen. Akaashi hanya sanggup menatap bantal itu lama, kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuhnya.
Ia menyesali sisi impulsifnya, karena hanya membuat pria itu dirundung rasa kekecewaan.
Sebab, tidak ada lagi kehangatan [Name] yang tersisa di situ. Wangi manis yang biasanya menyeruak di situ sudah tidak ada lagi.
Sang adam duduk tegak, menggosok wajah dengan kedua tangan. Jam di atas nakas menunjukkan pukul 05.47. Waktu yang sama setiap pagi kala ia bangun kemudian membuat dua cangkir minuman hangat; teh hitam untuk dirinya, serta secangkir susu hangat untuk sang istri. Meski kini, satu cangkir susu itu tidak lagi diminum siapapun.
“Hari ini juga aku akan membuatkanmu susu. Harus kauhabiskan karena itu baik untuk kesehatanmu,” tukasnya dengan suara serak, khas seorang yang baru bangun dari tidur lelap dengan mimpi panjang. “Kamu suka kalau bubuk susunya tidak terlalu banyak, kan, [Name]?”
Tidak ada jawaban.
Meski begitu, Akaashi tetap beranjak ke dapur, menyiapkan dua cangkir minuman; teh hitam dan susu hangat. Ia tidak mengindahkan rasa dingin merayap dari lantai kayu apartemen—yang sebelumnya, apartemen ini selalu diliputi rasa hangat—dan memilih menyibukkan diri merebus air, ditemani cahaya remang dari lampu dapur. Pria itu mengambil cangkir putih polos untuk dirinya, kemudian cangkir pastel kesukaan sang istri, kemudian meletakkan keduanya di meja makan minimalis yang dipilih oleh [Name] di awal pernikahan mereka.
Meski berteman baik dengan kesendirian, Akaashi menemukan kedamaian tersendiri saat melihat cangkir pastel berisikan susu hangat yang tak tersentuh itu, sembari menyeruput teh. Rasa pahit memenuhi indra pengecapnya, stimulasi yang meningkatkan rasa konsentrasinya.
Namun, Akaashi masih menolak untuk kembali ke realita.
Pria itu mengambil koran, kebiasaannya setiap pagi sebelum bersiap pergi bekerja. Bukan koran baru. Bukan. Koran yang dibacanya selalu sama selama dua bulan terakhir. Tajuk berita yang memantik atensi sang adam selalu mengenai kecelakaan beruntun yang menewaskan banyak korban jiwa, termasuk seorang wanita yang tengah hamil.
Akaashi tidak pernah membuang koran yang telah lusuh dengan tinta yang telah memudar itu—koran yang penuh sobekan tanda pergelutan jiwanya sendiri kala membaca koran itu untuk kali pertama, tercurahkan rasa frustrasi dan kehilangan yang memenuhi dirinya hingga membuatnya meremas kertas koran itu erat. Ia tahu, dunia berputar, tetapi, biarlah dunianya ini macet di panel yang sama.
Dua bulan lamanya sejak ia kehilangan [Name] akibat kecelakaan nahas yang menimpa.
Dua bulan ia bangun setiap pagi, membuat dua cangkir, berbicara pada kursi kosong, memeluk bantal yang telah kehilangan aroma khas sang istri, kembali ke apartemen yang telah kehilangan kehangatannya. Akaashi Keiji menolak melepaskan rutinitas selama dua bulan yang membuatnya damai ini, karena jika ia melepaskannya, berarti dirinya telah merelakan [Name] dan bayi mereka.
Akaashi tidak akan pernah rela.
“Andai saja aku menjemputmu, ketimbang mementingkan manuskrip manga yang mendekati tenggat waktu.” Sang adam masih ingat jelas dirinya yang bersimpuh, menangis di kamar mereka seusai acara pemakaman [Name], terus berucap kata ‘andai’.
Akaashi Keiji sangat piawai dalam membenci dan merasa kecewa kepada dirinya sendiri.
Maka, ia akan membuat rekayasa imajinasi. Mimpi tentang Akaashi [Name] yang membuatnya enggan terbangun. Tentang kebiasaan [Name] di waktu malam, sejatinya adalah rutinitas sang dara sebelum tiada. Sedangkan jika pagi datang, mimpi itu pun hilang.
Pria itu tahu, hari-harinya tetap akan berjalan seperti ini. Ia akan menjalani rutinitas pagi, bersiap pergi ke kantor, menyunting manuskrip manga dan berbicara dengan mangaka, pulang malam kepada sosok [Name] dalam benak imajinernya, berbicara kepada bayangan masa lalu sang istri, lalu beristirahat, dan segala hal ini akan berulang kembali. Sebab jika ia berhenti dalam kepura-puraan ini, maka Akaashi harus menghadapi kenyataan bahwa apartemen ini telah kehilangan sang nyonya rumah, telah kehilangan sentuhan kehangatan dari wanita yang menemaninya dalam bahtera rumah tangga tiga warsa terakhir dengan berbagi rasa suka dan duka.
Yang tersisa hanyalah kebohongan yang diciptakannya sendiri untuk sekadar bernapas.
Akaashi bangkit, mengangkat cangkir teh kosong miliknya, lalu cangkir susu hangat yang masih penuh, lantas menaruhnya di wastafel dapur.
“Omong-omong, [Name], aku akan pulang cepat malam ini,” tukasnya sembari mencuci dua cangkir tadi. “Manuskrip penting sudah terlewati semua. Mungkin aku akan bertemu dengan mangaka yang terakhir kuceritakan itu siang ini.”
Tidak ada jawaban.
Namun, bagi sang adam, hal itu bukan masalah. Lagipula, [Name] tetap hidup dalam benaknya.
Setelahnya, pria itu bersiap, berpakaian rapi dan mendorong kacamatanya agar bertengger manis di batang hidungnya. Ia berbalik, menatap dapur yang kosong tanpa sentuhan sang nyonya rumah. Rasa getir sejenak bersarang di dadanya, tetapi hilang dalam sekejap.
“[Name], aku berangkat dulu,” ucap Akaashi, sebelum beranjak untuk mengenakan sepatu di genkan.
Lalu, pria jangkung itu berjalan ke pintu depan, menguncinya rapat, meninggalkan apartemen yang masih beraroma daun teh dan susu hangat. Di luar, Tokyo sudah ramai; kereta berlalu, suara klakson memekakkan telinga bersahutan, orang-orang melangkah dengan tergesa, dan hidup berlanjut sepenuhnya. Namun, di balik pintu apartemen ini, kehidupan Akaashi Keiji tetap berhenti selamanya di panel yang sama, hanya berulang dari bab awal hingga panel tentang hidupnya bersama [Name].
Karena bergantung kepada kehangatan akan eksistensi [Name], meski sebuah kebohongan dan rekayasa imajinernya belaka, adalah satu-satunya yang membuatnya bertahan.
Akaashi Keiji enggan melepaskannya.
FIN
