Chapter Text
Mikasa membuka matanya dan langsung terkejut saat ia menyadari dirinya ada di dalam kereta berjalan yang bentuknya jauh lebih modern daripada yang terakhir kali ia ingat.
Hadirin, kini kita mencapai Persimpangan. Silahkan turun dari kereta.
Mikasa mengerutkan keningnya saat mendengar pengumuman dari pengeras suara namun ia tetap berdiri dari duduknya dan mulai mengikuti orang-orang masuk ke suatu tempat yang dinamakan Persimpangan. Bersamaan dengan pengumuman yang mengatakan jika kematian baru dari Paradis sudah tiba di Persimpangan 301, Mikasa langsung memasuki tempat tersebut. Setelah benar-benar di dalam, Mikasa langsung mengedarkan pandangannya ke semua arah dan melihat bahwa tempat yang ia kunjungi ini sangat ramai. Sepertinya bukan hanya dirinya saja yang kebingungan disini sebab ia melihat beberapa penumpang kereta yang hadir bersamanya juga sama-sama terlihat bingung. Kebingungan Mikasa semakin bertambah ketika ia melihat ada banyak orang menawarinya untuk pergi ke sebuah tempat yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui. Orang-orang itu yang melihat dirinya hanya diam saja lalu langsung meninggalkannya sambil saling berbisik jika ia adalah anak baru dan belum melakukan kontak. Tentu Mikasa tidak memahami apa maksudnya namun meskipun demikian, ia tetap melangkahkan kakinya berkeliling sambil melihat beberapa penumpan dari kereta yang sama dengannya sudah dipertemukan dengan KAB mereka. Mikasa juga tidak mengetahui apa maksud KAB itu namun ketika ia memperhatikan salah satu penumpang yang didatangi oleh KAB mereka, Mikasa jadi memahaminya sekarang.
Ia sudah meninggal.
Sekarang ia ada di alam baka.
Dan sekarang ia sedang menunggu seseorang yang akan menjadi KAB-nya atau Koordinator Alam Bakanya untuk menjelaskan semuanya padanya.
“Mikasa Ackerman-Kirschtein. Oh wow, Ackerman lainnya.” Mikasa mendengar seseorang memanggil namanya. “Apakah Mikasa Ackerman-Kirschtein ada disini?”
“Ya, itu aku.”
Mikasa memperhatikan perempuan berisi berkulit hitam serta rambut berwarna putih terang itu tersenyum dan datang ke arahnya. “Baiklah, halo Mikasa. Aku adalah Anna, KAB-mu disini. Apakah kau sudah mengetahui apa itu KAB dan tempat apakah ini?”
“Kuasumsikan aku sudah mati dan ini adalah alam baka serta kau adalah koordinator untukku.”
Perempuan yang diketahui bernama Anna itu kembali tersenyum. “Seperti yang kukira, para Ackerman dan segala kejeniusan mereka. Ikutlah denganku, Mikasa.”
Masih sedikit bingung, Mikasa mengangguk lalu mengikuti Anna. “Bisakah kau menjelaskan tempat apakah ini dan kenapa aku ada disini dan bukannya di neraka atau sorga?”
“Ini adalah Persimpangan. Alam baka namun bagian peralihan dari kehidupan fanamu di dunia menuju keabadianmu. Kau akan diberikan waktu tujuh hari disini sebelum kau memutuskan akan masuk ke dunia keabadian yang mana. Perlu kau ingat, jika kau sudah memutuskan di keabadian mana kau akan tinggal, kau tidak akan bisa berpindah atau pergi ke keabadian lain lagi. Jika kau membangkang dan kabur, kau akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam Kehampaan. Jadi, pergunakan waktu tujuh hari ini dengan baik untuk memikirkan di keabadian manakah kau akan menghabiskan selamanya.”
“Begitu, ya.”
Anna menoleh menatap Mikasa yang sedang melamun menatap ramainya Persimpangan 301 di bawahnya. “Kau tahu, Mikasa, kau adalah Ackerman kedua yang ditugaskan untuk menjadi klienku selama aku bekerja disini.”
“Oh, siapa lagi Ackerman lainnya yang menjadi klienmu?”
“Pria pendek yang selalu cemberut itu. Aku lupa nama depannya. Jika tidak salah, Lany? Larry? Lionel? – ”
“Levi.”
“Ya! Levi Ackerman!”
“Apakah dia adalah keluargamu?”
“Tidak. Aku dan dia hanya berbagi nama belakang saja. Dia adalah kaptenku saat perang dulu.”
“Ah, perang gila untuk menghabisi titan dan menghentikan genosida massal yang membunuh delapan puluh persen penduduk dari duniamu itu? Levi sudah pernah menceritakan hal itu padaku.” Mikasa mengangguk. “Saat itu aku belum bekerja disini. Tak bisa kubayangkan akan seramai apa Persimpangan kedatangan delapan persen penduduk dari duniamu saja—belum termasuk orang-orang meninggal yang lain dari dunia-dunia yang lain juga.”
Karena berjalan sambil mengobrol, keduanya sama-sama tidak menyadari jika mereka sudah sampai di depan salah satu kamar dengan nomor 3201. Anna membuka kunci kamar tersebut lalu mengizinkan Mikasa untuk memasuki kamar tersebut. Mikasa berjalan masuk lalu terkejut saat melihat bagaimana bentuk dirinya saat ini. Ini mustahil. Ia terlihat sangat muda dengan rambut panjangnya yang ia tumbuhkan setelah perang berakhir. Mikasa memegang wajahnya dengan kedua tangannya lalu mulai memegang tubuhnya yang sudah kembali ke bentuk primanya. Anna di sisi lain yang menyadari kebingungan Mikasa hanya bisa tersenyum sebelum membuka mulutnya untuk menjelaskan semuanya.
“Saat di alam baka, tubuhmu akan kembali ke tubuh dimana kau merasa paling bahagia. Tidak hanya itu, semua anggota tubuhmu saat ini sudah kembali berfungsi seperti sedia kala.”
“Begitu. Baiklah.”
“Baiklah. Kurasa kau sudah lebih bisa menyesuaikan diri dibanding orang-orang lainnya yang baru datang. Jadi, akan kutinggalkan kau terlebih dahulu. Kau bisa membaca brosur, menonton televisi, atau mendatangi pameran untuk mencari referensi mengenai dunia keabadian mana nantinya yang akan kau pilih.”
“Terima kasih, Anna.”
“Sama-sama, Sayang. Jika kau perlu apa-apa, cari aku saja. Aku pergi terlebih dahulu, ada klien lain yang harus kujemput. Nikmati waktumu disini, Mikasa.”
“Baiklah.”
Setelahnya, Anna segera meninggalkan Mikasa sendiri di kamar tersebut. Ia mengelilingi kamar dan melihat keluar jendela, bahwa langit dan matahari disini tidak nyata. Itu hanya kain yang digambar langit serta matahari yang diberi penerangan buatan sehingga menyerupai siang hari. Mikasa melihat ke arah lemari dan menemukan ada banyak pakaian yang dulunya sering ia pakai. Saat melihat semua pakaian itu, fokusnya langsung terarah pada syal merah yang sangat ia kenal—yang masih terlihat sangat bagus tergantung di lemari. Dengan senyuman di wajahnya, Mikasa mengambil syal itu lalu menyampirkannya di lehernya.
Hangat.
Mikasa juga mengganti pakaiannya menjadi terusan putih yang dulu biasanya ia pakai ketika ia masih lebih muda, yang menjadi kesukaannya, juga kesukaan Jean. Mengingat nama itu membuat Mikasa terkejut. Jean. Bagaimana dengan Jean? Ia sudah meninggal dan itu berarti ia telah meninggalkan Jean sendiri di bumi. Apa yang terjadi pada Jean setelah dirinya meninggal?
Ketika kepanikan sudah ada di seluruh pikirannya, tak perlu pikir panjang, Mikasa langsung keluar kamar dan mencari Anna. Anna pasti tahu apa yang terjadi pada Jean. Ia harus menemui KAB-nya untuk mengetahui hal tersebut.
Berlari meninggalkan kamarnya, Mikasa sudah harus mati-matian menahan air matanya supaya tidak jatuh. Tidak. Tidak bisa begini. Ia tidak ingin Jean sendirian di bumi sementara ia sudah ada di alam baka seperti ini. Ia harus mencari tahu bagaimana caranya supaya ia bisa kembali ke dunia dan menemui Jean. Untungnya, Mikasa tidak perlu terlalu lama mencari sebab Anna bisa ia temukan dengan cukup mudah.
“Anna!”
“Oh, Mikasa sayang. Apa yang terjadi padamu? Apa kau baik-baik saja?”
“Ya, aku baik. Aku hanya ingin bertanya mengenai keadaan suamiku. Apakah suamiku baik-baik saja setelah aku pergi kesini?”
Anna tersenyum. “Urusan mereka yang hidup, yang masih di dunia sudah bukan urusan kita lagi, Sayang. Disini, kau tidak perlu memikirkan mereka. Dirimu sendirilah yang paling penting disini. Pikirkan dirimu sendiri saja.”
“Tapi… aku tidak bisa membayangkan bagaimana suamiku melihat aku meninggal di hadapannya. Ia pasti sedih.”
“Tidak ada yang bisa kau lakukan untuk itu, Mikasa. Kau hanya bisa berharap semoga suamimu bisa menerima kepergianmu dengan hati yang lapang dan melanjutkan hidupnya.”
Raut wajah Mikasa menjadi semakin terlihat sedih ketika ia mendengar ucapan Anna. “Melanjutkan hidup ketika kau kehilangan orang yang sangat kau cintai itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, Anna.”
“Kau sebelumnya juga pernah kehilangan orang yang sangat kau cintai?”
Mikasa mengangguk. “Karenanya, aku paham betul bagaimana rasanya dan aku tidak ingin suamiku merasakan hal itu. Ia… tidak boleh merasakan apa yang sebelumnya aku rasakan. Aku tidak akan membiarkannya merasakan semua itu.”
“Tapi, sayang, sudah tidak ada yang bisa kau lakukan sekarang. Berusaha melawan aturan yang ada akan membuatmu dimasukkan ke dalam Kehampaan.” Anna menggenggam tangan Mikasa. “Aku paham jika kau sangat mencintai suamimu dan berharap jika ia tidak pernah merasakan apa yang sudah kau rasakan sebelumnya. Sayangnya ini adalah jalanmu, Mikasa. Kau tidak bisa melakukan apapun untuk mengubahnya. Kau hanya bisa menjalaninya saja, sambil berharap jika suamimu yang sangat kau cintai itu bisa menerima kepergianmu dan bisa melanjutkan hidupnya.”
Semua ucapan Anna membuat Mikasa semakin sedih. Ia lalu menutupi setengah wajahnya dengan syal merah yang ada di lehernya, berharap jika Anna tidak terlalu melihat kesedihannya. Meskipun demikian, Anna tetap menyadarinya. Ia lalu memeluk Mikasa dan membiarkan Mikasa menangis di bahunya.
“Kau adalah orang yang luar biasa, Mikasa. Kau sudah melakukan berbagai hal luar biasa selama hidupmu. Kau tidak pernah egois dan selalu mengutamakan orang lain diatas dirimu. Bahkan saat ini pun, kau lebih merasa sedih karena kau takut membuat suamimu bersedih dibanding dengan fakta bahwa kau sudah meninggal itu sendiri. Sayang, untuk kali ini, tolong lebih pikirkan dirimu sendiri dulu, ya. Sudah cukup kau selalu mengutamakan semua orang selama kau hidup. Berusahalah untuk menjadi lebih lembut pada dirimu sendiri. Saat ini, disini, setelah ini, waktunya kau memikirkan dirimu sendiri.”
Meskipun masih merasa sangat sedih, Mikasa akhirnya tetap menganggukkan kepalanya. Semoga Jean akan merasa baik-baik saja tanpanya di sisinya. Walaupun sulit, Mikasa hanya berharap jika Jean bisa melewatinya dengan baik. Benar. Jean pasti bisa melewatinya dan ia harus yakin pada suaminya.
Anna di sisi lain saat bisa merasakan Mikasa sudah menyelesaikan tangisnya, ia lalu melepaskan pelukannya dan menatap Mikasa sambil tersenyum. “Kau sangat cantik dengan terusan putih dan syal merah itu. Sekarang kau beristirahatlah terlebih dahulu. Kita bertemu lagi saat makan malam tiba, ya.”
“Baiklah. Terima kasih banyak, Anna.”
“Sama-sama, Sayang. Sekarang aku harus benar-benar pergi sebab klien baruku sepertinya sedang ada di fase denialnya karena ia sudah meninggal.”
Mikasa terkekeh kecil lalu membiarkan Anna pergi. Ia pun lalu kembali ke kamarnya dan sebelum kembali, ia sempatkan melihat Pameran mengenai dunia mana saja yang mungkin akan ia pilih sebagai tempat peristirahatan abadinya. Keabadian adalah waktu yang sangat lama dan ia tidak ingin salah memilih. Anna benar. Ia harus memanfaatkan tujuh harinya disini dengan baik untuk mengenal dunia-dunia keabadian yang mungkin ia pilih supaya nanti ia tidak salah memilih dunia.
Tanpa sadar ketika Mikasa sedang bertanya-tanya mengenai dunia gunung, seorang laki-laki lewat di belakangnya.
Laki-laki itu sedang menuju stan dunia padang rumput untuk membayangkan hidupnya bersama dengan perempuan yang sudah ia tunggu selama delapan dekade.
