Work Text:
Suara lonceng berbunyi di suatu tempat. Hanya saja, pria bersurai cokelat tua dan berpenutup mata sebelah ini tidak mengetahui secara pasti dari mana asalnya. Apakah berasal dari gereja? Apakah berasal dari area pertokoan yang ada di sekitarnya? Atau justru hanya khayalannya semata lantaran dia sedang terlena usai menyadari bahwa dirinya sedang jatuh cinta.
Sungguh … akal sehatnya seakan menghilang entah ke mana. Padahal, dia masih harus mengejar kereta.
Aku ingin segera bertemu dengannya.
Rasanya dia tidak rela untuk berpisah dengan sosok yang sudah memenuhi isi kepalanya. Terlebih ini adalah malam natal. Malam yang sangat spesial.
Pria itu berusaha secepat yang dia bisa untuk menemuinya, meskipun tujuan yang sebenarnya adalah berkaitan dengan pekerjaan yang tak bisa lagi ditunda.
Memohon kepada Tuhan pun sepertinya tidak ada gunanya jika bukan aku sendiri yang berusaha.
Ah, bukankah ini terdengar arogan? Semoga khusus di malam ini aku akan mendapat pengampunan.
Aku benar-benar tidak peduli dengan apa pun lagi. Melihat para pasangan yang bermesraan di sepanjang jalan juga tidak membuatku iri. Aku hanya membatin. Karena mereka berani sekali.
Apakah aku juga bisa bertindak demikian?
Langkah demi langkah kaki berhasil membawanya masuk ke dalam kereta. Dia akan segera menemui sosok yang dicinta setelah melewati beberapa stasiun saja.
Amplop cokelat besar dan tebal berada dalam pelukan tangan kirinya, sementara tangan kanan harus memegang tiang penyangga di sebelah kursi penumpang. Mata kirinya tak ingin repot-repot memandang ke arah lain selain pintu kereta yang diharapkan segera terbuka di stasiun tujuannya.
Tekad dalam hatinya sudah bulat, meskipun dia juga sangat menyadari bahwa perbuatannya nanti akan terlampau nekat. Terlebih para kolega dan sahabat pun mungkin akan merasa heran lantaran mereka tidak terlihat dekat.
Setelah dia menyadari perasaannya sendiri, dia merasa jatuh cinta itu tak ubahnya bermain judi. Segalanya tidak pasti. Tidak akan pernah pasti jika belum ada yang memulai pembicaraan sama sekali.
Suara pengumuman ketibaan di stasiun tujuan yang seharusnya terdengar biasa saja, justru kini akan menjadi salah satu pertanda yang tak akan pernah terlupa.
Secepat mungkin dia melangkah keluar dari kereta tatkala pintu terbuka sempurna. Dilihatnya langit malam yang dihiasi bintang. Belum pernah sekalipun dia berharap kepada bintang untuk dapat mengabulkan permintaan. Namun, malam ini lagi-lagi pengecualian.
Rasanya aku tidak mengenali diriku sendiri saat ini.
Sungguh membuat frustrasi jika hanya kupendam sendiri.
Wahai Nirei Akihiko … kenapa baru sekarang aku menyadarinya?
Aku tidak tahu apakah kau menyukaiku juga.
Aku tidak tahu apakah kau nantinya merasa terganggu atau tidak.
Yang kutahu … aku hanya ingin bertemu denganmu setiap hari.
Aku hanya ingin kau selalu berada di sisiku.
Aku ingin kau mengetahui isi hatiku.
Aku juga ingin kau memikirkanku.
Betapa egoisnya diri ini jika dipikirkan kembali.
Tetapi, sungguh … tiada yang lain selain dirimu. Aku hanya menginginkanmu, Nirei Akihiko.
Kerumunan orang yang berlalu lalang tak menjadi penghalang untuk sang pria mencari jalan keluar dari stasiun kereta. Sebisa mungkin dia tak ingin waktu terbuang percuma agar mereka segera berjumpa.
Dalam 30 tahun hidupnya di dunia, baru kali ini dia bertindak tergesa-gesa. Seakan tidak ada lagi waktu yang tepat. Seakan tak ingin berakhir terlambat. Seakan takut tidak akan sempat. Sebab hatinya telah sepenuhnya tertambat.
Lantas netra mereka bertemu beberapa saat setelah salah satunya berhasil selamat dari lautan manusia.
“Wah, Suō-san!” Pria yang sedang memenuhi pikirannya langsung menyapa dengan suara yang mengandung perasaan lega. “Terima kasih sudah datang! Maaf jadi merepotkan. Aku sungguh teledor. Padahal sudah ditunggu tim percetakan. Kau benar-benar menyelamatkanku hari ini, Suō-san!”
Sebuah senyum tersemat sebelum memberi respons. Namun, saat hendak merespons, sang lawan bicara sudah berbicara kembali tatkala amplop cokelat yang sedari tadi dipegangnya berpindah tangan.
“Jujur, aku sampai berharap Santa itu nyata ketika aku nyaris mengacaukan majalah edisi natal yang seharusnya rilis besok pagi. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Untung saja kau masih di kantor.”
“Mungkin memang sudah takdirnya untuk kita bertemu lagi di malam ini, Nirei-kun,” ujar Suō seraya tersenyum.
“Terima kasih,” ucap Nirei lagi diiringi dengan tubuh yang membungkuk 45 derajat atau saikeirei karena dia betul-betul berterima kasih kepada Suō.
Pemandangan di hadapannya membuat dirinya semakin tidak tahan, antara ingin meluapkan perasaan atau justru karena tidak menyukai situasi yang mengharuskannya menerima ucapan terima kasih yang terkesan berlebihan.
“Nirei-kun,” Suō berujar seraya memegang pundak Nirei dan membuat pria yang lebih mungil darinya itu kembali berdiri tegak. “Singkat saja, aku menyukaimu. Jadilah kekasihku.”
Nirei terdiam di tempat. Dia tidak tahu harus merespons seperti apa lantaran hal semacam ini sudah di luar perkiraan, bahkan dia juga berpikir bahwa Suō Hayato termasuk pria yang berada di luar jangkauan.
“Maaf, aku tidak bisa membuat situasi yang lebih romantis dan dipenuhi kata-kata puitis. Karena rasanya canggung sekali,” ujarnya lagi. “Aku tidak mengharapkan jawaban darimu sekarang. Silakan dipikirkan terlebih dahulu dan beri tahu aku ketika kau sudah siap.”
Nirei terlihat sangat bingung. Pipinya merona sempurna. Dia pun merasa canggung untuk menatap langsung ke arah Suō sehingga dia menunduk sembari memeluk amplop cokelat yang berisi gambar edisi terbatas dari beberapa mangaka.
❄️❄️❄️
Pada akhirnya aku mengungkapkan apa adanya saja. Sungguh … kalimat yang panjang dan terkesan meyakinkan justru terperangkap jauh di dalam otak.
Biarlah.
Karena terlalu panjang, biarkan aku mempersingkatnya.
Aku mencintaimu.
Suatu saat, aku juga akan menjelaskan mengapa aku bisa jatuh cinta padamu.
And so, the confession ends.
