Actions

Work Header

Pretty Merman

Summary:

Seumur hidup Naravit tidak pernah terpikir jika ia akan bertemu sesuatu yang mampu mengubah hidupnya. Merman, dan mitologi laut yang tak pernah ia percayai berada di depan matanya. Sungguh, lebih cantik dari pria dan wanita manapun yang pernah Naravit temukan di Bangkok.

Chapter 1: How We Meet

Notes:

I don't know if this will be cringe or not, tapi aku harap kalian sukaa, soo happy reading naa~

Chapter Text

Matahari Pattaya di penghujung sore itu menggantung rendah, membiarkan semburat jingga dan ungu membasuh permukaan air yang tenang. Angin laut yang membawa aroma garam dan kelembapan tropis menerpa wajah Naravit Lertratkosum, seorang pria muda yang biasanya lebih akrab dengan aroma kopi mahal dan pendingin ruangan kantor pusat di Bangkok.

Naravit menghela napas panjang, melonggarkan kancing teratas kemeja linen putihnya yang mulai terasa lengket di kulit. Ini adalah hari keduanya di sini. Seharusnya, ini adalah pelarian dari tumpukan berkas audit yang mencekik dan rapat direksi yang tak kunjung usai. Namun, bagi seorang putra mahkota dari kerajaan bisnis properti dan perhotelan, kata "liburan" selalu memiliki catatan kaki di bawahnya.

Ayahnya, pria yang membangun imperium Lertratkosum Group dengan tangan besi, tidak akan membiarkan Naravit pergi tanpa syarat.

"Sekalian kau lihat progres pembangunan resort baru di sana, Naravit," suara bariton ayahnya masih terngiang di telinganya. "Dan kalau kau tidak terlalu sibuk mengeluh soal panas, sewalah speedboat ke Pulau Koh Sichang. Periksa bagaimana keadaan bar dan motel tua kita di sana. Manajer di sana melaporkan penurunan omzet, aku ingin kau melihatnya sendiri sebelum kita memutuskan untuk meruntuhkannya atau merenovasinya."

Naravit menyandarkan tubuhnya pada pagar balkon kamar penthouse-nya yang menghadap langsung ke arah laut lepas. Matanya menyipit, berusaha menangkap siluet samar Pulau Koh Sichang di cakrawala yang mulai menggelap. Pulau itu tampak misterius dari kejauhan, diselimuti oleh kabut tipis dan legenda lokal yang selalu dianggapnya sebagai bualan pemandu wisata untuk menarik minat turis.

Namun, ada sesuatu yang mengusik logikanya. Naravit bukan pria yang percaya pada takhayul. Dia hasil dari parenting Barat yang mengutamakan data dan fakta. Namun, sejak menginjakkan kaki di Pattaya, tidurnya tidak pernah benar-benar tenang. Mimpi itu datang lagi dan lagi, persis seperti rekaman video yang diputar berulang kali di kepalanya.

Dalam mimpinya, laut tidak pernah tenang. Airnya terasa sedingin es, namun ia bisa memeluknya dengan cara yang sangat akrab. Di sana, di kedalaman yang temaram di mana cahaya matahari hanya menembus sebagai garis-garis tipis yang goyah, dia melihatnya.

Seorang pria. Bukan, bukan sekadar pria.

Makhluk itu memiliki tubuh bagian atas yang atletis namun ramping, dengan kulit seputih porselen yang seolah memancarkan cahaya redup di bawah air. Namun, dari pinggang ke bawah, segalanya berubah menjadi keajaiban yang mustahil. Sebuah ekor panjang meliuk dengan anggun, ditutupi oleh sisik-sisik yang berkilauan. Warnanya adalah perpaduan antara tosca yang cerah dan dark green yang pekat, mengkilap tajam setiap kali terkena pantulan cahaya dari permukaan.

Merman. Duyung jantan.

Dalam mimpi itu, merman tersebut tidak pernah berbicara. Ia hanya diam, melayang di antara terumbu karang yang berayun. Rambut hitamnya yang halus menari-nari mengikuti arus. Naravit tidak pernah bisa melihat wajahnya dengan jelas—selalu ada bayangan atau kilasan cahaya yang menghalangi. Namun, Naravit bisa merasakan tatapannya. Satu hal yang pasti. Meskipun ia seorang laki-laki, merman itu terlalu cantik untuk digambarkan dengan kata-kata. Kecantikannya berbahaya, seperti keindahan karang yang bisa menyayat kulitmu jika kau terlalu dekat.

Lamunan Naravit terbuyar saat ponselnya bergetar di atas meja kayu jati. Sebuah pesan singkat dari asistennya,

"Tuan, kapal untuk ke Koh Sichang sudah siap besok jam 09.00 pagi. Apakah Anda ingin saya menemani?"

Naravit mengetik balasan dengan cepat, "Tidak perlu. Aku ingin pergi sendiri. Siapkan saja peta motel itu."

Dia membutuhkan kesendirian. Mimpi-mimpi itu membuatnya merasa kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Dia merasa jika dia pergi ke Koh Sichang—pulau yang menurut rumor lokal adalah tempat "mereka" bersembunyi—mungkin rasa penasarannya akan terobati, atau setidaknya dia akan menyadari bahwa itu semua hanyalah akibat dari kelelahan bekerja.

Malam itu, Naravit memutuskan untuk berjalan-jalan di sepanjang bibir pantai pribadi milik resortnya. Suara ombak yang menyapu pasir terdengar seperti bisikan yang memanggil namanya. Dia melepas sandalnya, membiarkan kakinya merasakan sensasi air laut yang hangat namun menyegarkan.

Langkah kakinya membawanya semakin jauh dari keramaian lampu-lampu resort, menuju area yang lebih gelap dan berbatu. Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu di kejauhan. Di atas sebuah batu karang besar yang menjorok ke laut, ada sebuah kilatan.

Warna tosca dan hijau gelap.

Jantung Naravit berdegup kencang secara tiba-tiba. Dia mempercepat langkahnya, mengabaikan air laut yang mulai membasahi celananya hingga setinggi lutut. Apakah itu hanya pantulan cahaya bulan pada ganggang laut? Atau apakah matanya mulai menipu dirinya sendiri?

"Halo?" serunya, suaranya parau tertiup angin laut.

Kilatan itu bergerak. Ada gerakan yang cepat, sebuah deburan air yang cukup keras, seolah-olah sesuatu yang besar baru saja melompat kembali ke dalam pelukan ombak. Naravit sampai di batu karang itu dalam keadaan terengah-engah. Kosong. Hanya ada sisa-sisa air yang membasahi permukaan batu, dan bau amis laut yang sangat tajam, bercampur dengan aroma bunga melati yang anehnya sangat harum.

Naravit membungkuk, matanya menyapu sela-sela batu. Di sana, terselip di antara celah karang yang tajam, dia menemukan sesuatu. Sebuah sisik. Ukurannya sebesar telapak tangan anak kecil, keras seperti tempurung kura-kura namun sangat tipis dan transparan. Warnanya berubah-ubah dari hijau tua ke biru kehijauan saat Naravit menggerakkannya di bawah cahaya bulan.

Tangannya sedikit gemetar saat menyentuh permukaan sisik yang licin itu. Itu nyata. Bukan sekadar imajinasi dari mimpinya. Keesokan paginya, cuaca di Pattaya sangat cerah, namun pikiran Naravit tetap mendung. Dia duduk di bagian belakang speedboat yang membawanya menuju Koh Sichang. Di dalam sakunya, sisik yang ia temukan semalam terasa dingin di kulit pahanya.

Perjalanan itu memakan waktu sekitar empat puluh menit. Selama perjalanan, Naravit tidak bisa berhenti menatap ke bawah, ke dalam air laut yang jernih. Dia membayangkan merman itu ada di sana, berenang tepat di bawah mesin kapalnya, mengikuti jejak buih putih yang ditinggalkan.

Koh Sichang muncul di hadapannya seperti raksasa hijau yang bangkit dari laut. Pulau ini tidak seramai Pattaya. Suasananya lebih tenang, dengan dermaga tua yang kayunya sudah mulai melapuk dan beberapa nelayan lokal yang menatapnya dengan pandangan penuh selidik.

Begitu menginjakkan kaki di dermaga, Naravit merasa ada yang aneh. Suasana di sini terasa... berat. Seolah-olah setiap partikel udara di pulau ini mengandung sejarah yang tidak ingin diceritakan.

Dia berjalan menuju bar dan motel milik keluarganya yang terletak di bagian timur pulau, area yang paling berdekatan dengan tebing-tebing curam. Bangunan itu tampak megah pada masanya, namun sekarang cat putihnya sudah mengelupas, digantikan oleh noda hijau lumut dan karat.

"Selamat datang, Tuan Lertratkosum," seorang pria tua dengan wajah keriput yang dalam menyambutnya. Dia adalah Paman Somchai, pengelola tempat itu selama tiga puluh tahun.

"Terima kasih, Paman. Ayah ingin aku melihat-lihat," jawab Naravit singkat.

"Laut di sini sedang tidak ramah, Tuan Muda," ujar Somchai tiba-tiba, matanya menatap lurus ke arah teluk yang berada di belakang motel. "Mereka bilang, kalau air laut berubah warna menjadi hijau gelap secara mendadak, itu artinya penghuni bawah sana sedang ingin ditemani."

Naravit mengerutkan kening, sejak ia berangkat air laut tadi tetap berwarna biru jernih bukan hijau gelap. "Penghuni? Maksudmu ikan-ikan besar?"

Somchai terkekeh, suara tawa yang kering. "Bukan ikan biasa. Sesuatu yang sudah ada di sini jauh sebelum kakek Anda membeli tanah ini."

Naravit meraba sisik di dalam sakunya. Jantungnya berdebar tidak keruan. "Pernahkah kau melihatnya, Paman?" Dengan santai ia bertanya, menyembunyikan rasa penasarannya.

Somchai berhenti berjalan, lalu menoleh perlahan. "Saya tidak pernah melihatnya secara langsung, Tuan. Tapi saya bisa merasakannya. Dan jika saya boleh jujur… Saya sangat berharap agar tuan tidak mencoba untuk mencari tahu tentang keberadaan ‘Mereka’."

Kalimat itu memukul Naravit tepat di dadanya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah laut lepas Koh Sichang. Di sana, di balik ombak yang menghantam tebing, dia merasa seolah ada sepasang mata yang sedang menunggunya. Mata yang indah, yang hanya ia kenali dari balik kabut tidurnya.

"Aku hanya di sini untuk urusan bisnis, Paman," dusta Naravit, meskipun dia tahu, di tempat ini, bisnis adalah hal terakhir yang akan ia pikirkan.

Pattaya mungkin tempat dia memulai, tapi di Koh Sichang-lah, rahasia tentang merman berekor tosca itu akan mulai terkuak. Dan Naravit tidak tahu, apakah dia siap untuk apa yang akan dia temukan di bawah permukaan air yang tampak tenang itu.

Di balik riak gelombang yang memecah pantai Pattaya, jauh di bawah tekanan ribuan ton air yang gelap dan dingin, terdapat sebuah dunia yang tidak pernah terjamah oleh radar kapal selam tercanggih sekalipun. Di sini, cahaya tidak datang dari matahari, melainkan dari koloni ubur-ubur bioluminescence yang menggantung di langit-langit gua karang, memancarkan warna biru pucat dan ungu yang menenangkan. Arus laut di sini terasa seperti angin sepoi-sepoi, membawa nutrisi dan rahasia dari samudra luas.

Namun, bagi Phuwin, keheningan bawah laut ini terasa seperti penjara yang menyesakkan.

"Pho sudah bilang berapa kali, Phuwin? Berapa kali?!"

Suara Gun—ayahnya, atau yang biasa ia panggil Pho—menggelegar di dalam aula utama kediaman mereka yang terbuat dari jalinan karang putih dan cangkang kerang raksasa. Gun berdiri dengan sirip ekornya yang berwarna merah marun bergetar hebat karena amarah. Di dunia merman, getaran sirip adalah indikator emosi yang paling jujur.

Phuwin hanya berdiri diam, atau lebih tepatnya melayang rendah di dekat lantai pasir yang halus. Ekor tosca dan dark green-nya yang indah, yang biasanya ia banggakan, kini tampak kuyu. Ia membiarkan rambut hitamnya yang halus menutupi sebagian matanya, enggan menatap tatapan tajam sang ayah.

"Kamu naik ke permukaan tanpa izin lagi. Apa yang ada di pikiranmu, Phuwin?" Gun mendekat, tangannya yang ramping namun kuat mencengkram bahu anaknya. "Dunia atas itu berbahaya! Manusia bukan makhluk yang bisa diajak berteman. Mereka itu serakah, mereka berisik, dan mereka merusak segala yang mereka sentuh!"

"Aku hanya ingin melihat, Pho..." gumam Phuwin pelan.

"Melihat apa? Melihat cara mereka menjala saudara-saudara kita? Pho pusing kamu susah banget dibilangin!" Gun memijat pangkal hidungnya yang mancung, tampak benar-benar frustrasi. "Ini masih mending kamu pulang selamat. Kalau kamu ketahuan nelayan gimana? Kalau mereka melihat ekormu yang mengkilap itu, mereka akan menangkapmu, menjualmu ke sirkus, atau lebih parah... organ kamu diambil untuk penelitian!"

Phuwin ingin membantah. Ia ingin mengatakan bahwa manusia yang ia lihat semalam tidak tampak seperti monster yang akan membedahnya. Manusia itu memiliki mata yang penuh dengan kekaguman, bukan ketamakan. Tapi ia tahu, berdebat dengan Gun saat ini sama saja dengan menantang badai laut.

"Pho bakal bilang Ayah kalau kamu sampai melanggar lagi! Paham!" ancam Gun akhirnya, menyebut sosok 'Ayah'—Off Jumpol, sang kepala suku yang otoriter dan disegani di seluruh wilayah Teluk Thailand.

Phuwin berdecak pelan, sebuah suara yang tertelan oleh gelembung air. "Iya, Pho. Aku paham."

Di ujung pintu aula, yang terbuat dari tirai rumput laut yang menjuntai, sesosok merman kecil dengan ekor berwarna jingga cerah tampak mengintip. Itu adalah Babii, adik laki-laki Phuwin yang masih sangat muda. Bukannya merasa kasihan melihat kakaknya dimarahi, Babii justru menutup mulutnya dengan tangan, tertawa kecil melihat ekspresi Phuwin yang menyedihkan.

"Kakak kena marah lagi~ Kakak nakal~" ejek Babii dengan suara ultrasonik yang hanya bisa didengar oleh kaum mereka.

Phuwin melemparkan tatapan tajam yang membuat Babii segera melesat pergi menjauh ke arah taman koral. Dengan perasaan dongkol, Phuwin mendorong tubuhnya dengan satu kibasan ekor yang kuat, berenang melewati Gun tanpa sepatah kata pun menuju kamarnya yang terletak di menara karang paling tinggi.

Kamar Phuwin adalah cerminan dari jiwanya yang gelisah. Berbeda dengan merman lain yang menghias kamar mereka dengan mutiara atau kerang-kerang langka, Phuwin memiliki sudut rahasia di balik tumpukan batu apung. Di sana, ia menyimpan "harta karun" dari dunia atas.

Ada sebuah jam tangan tua yang sudah mati dan berkarat, sebuah sendok perak yang ia temukan di dekat bangkai kapal karam, dan sebuah kacamata hitam yang salah satu lensanya sudah retak. Bagi kaumnya, ini adalah sampah. Bagi Phuwin, ini adalah bukti dari keberadaan peradaban yang jauh lebih kompleks daripada sekadar berenang dan berburu ikan.

Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur yang terbuat dari anemon laut yang empuk. Pikirannya melayang kembali ke kejadian semalam di dekat pantai Pattaya.

Itu adalah rekor terbarunya. Biasanya, ia hanya berani mengintip dari kejauhan, di balik gelombang yang pecah. Tapi semalam, dorongan rasa ingin tahunya begitu kuat. Ia melihat seorang manusia—pria yang tinggi dengan bahu lebar—berdiri di tepi pantai, tampak kesepian di bawah sinar bulan.

Phuwin secara impulsif mendekat ke batuan karang. Ia ingin melihat lebih jelas seperti apa rupa manusia dari dekat. Dan saat itulah mata mereka bertemu. Manusia itu melihatnya. Manusia itu bahkan mencoba mendekat, mencoba menggapainya.

Phuwin merasakan sensasi aneh yang menjalar dari ujung ekor hingga ke dadanya saat mengingat tatapan pria itu. Ada sesuatu yang sangat akrab, namun sangat asing. Pria itu tidak berteriak ketakutan. Pria itu justru tampak... terpesona.

Kehidupan di bawah laut tidak sesederhana yang dibayangkan manusia. Sebagai anak dari Off Jumpol, Phuwin memikul beban yang berat. Ayahnya adalah pemimpin yang menjaga keseimbangan antara ekosistem laut dan keselamatan kaum mereka. Off adalah orang yang menetapkan hukum bahwa kontak dengan manusia adalah dosa terbesar.

Phuwin tahu bahwa ayahnya sedang merencanakan sesuatu. Akhir-akhir ini, getaran dari proyek pembangunan manusia di permukaan—suara mesin pancang yang menghujam dasar laut, polusi suara dari kapal-kapal besar—mulai mengganggu ketenangan suku mereka.

"Mereka membangun resort lagi," suara ayahnya sering terdengar di ruang pertemuan. "Mereka akan merusak terumbu karang kita. Kita harus menjauh lebih dalam, ke arah palung."

Phuwin benci ide itu. Ia benci harus pergi lebih jauh dari permukaan. Ia merasa ada ikatan yang tidak terlihat antara dirinya dan garis pantai itu.

Ia berenang menuju jendela kamarnya, menatap ke arah atas. Dari kedalaman ini, permukaan air tampak seperti cermin yang bergerak, memantulkan sisa-sisa cahaya bulan yang menembus kegelapan.

"Kenapa kalian membangun begitu banyak hal di atas sana?" gumam Phuwin pada dirinya sendiri.

Ia teringat struktur beton yang ia lihat dari kejauhan semalam. Resort baru itu. Manusia-manusia itu seolah-olah sedang membangun menara menuju langit, sementara kaumnya terus-menerus dipaksa untuk bersembunyi di dalam lumpur dan kegelapan.

Rasa penasaran Phuwin sudah mencapai puncaknya. Ia tidak bisa hanya duduk diam dan menunggu ayahnya mengusir mereka ke palung yang gelap dan membosankan. Ia harus tahu lebih banyak. Ia harus tahu siapa pria di atas batu karang itu.

Apakah pria itu juga memikirkannya? Apakah pria itu tahu bahwa sisik yang ia jatuhkan semalam bukan milik ikan biasa?

Phuwin melirik ke arah pintu kamarnya. Gun pasti sedang sibuk menyiapkan makan malam atau berbicara dengan Off. Babii pasti sedang bermain di luar. Ini adalah kesempatan terbaiknya.

Ia mengambil sebuah kalung dari kantong rahasianya—sebuah liontin sederhana dengan batu biru yang ia temukan di dalam kotak kayu tua di dasar laut. Ia melingkarkannya di lehernya.

"Hanya sebentar," bisiknya pada dirinya sendiri. "Hanya untuk memastikan bahwa dia tidak memberitahu siapa pun tentang aku."

Dengan satu gerakan gesit, Phuwin melesat keluar dari jendela kamarnya. Ia tidak berenang melewati gerbang utama, melainkan mengambil jalur tikus melewati celah sempit di antara hutan rumput laut raksasa.

Arus laut terasa semakin hangat saat ia berenang naik. Tekanan di telinganya mulai berkurang, digantikan oleh suara deburan ombak yang semakin jelas. Phuwin memacu kecepatan ekor tosca-nya, membiarkan air laut membelah tubuhnya dengan anggun.

Ia tidak peduli jika Pho akan memarahinya lagi. Ia tidak peduli jika Ayah akan mengurungnya di dalam gua isolasi. Ada sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut yang menariknya ke permukaan.

 


 

Koh Sichang memang menyimpan banyak rahasia di balik dinding-dinding tebingnya. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam memeriksa kondisi motel tua yang berdebu dan mendengarkan keluhan Paman Somchai tentang pipa air yang bocor, Naravit memutuskan untuk mencari udara segar. Ia berjalan menyusuri garis pantai yang jarang dilewati turis, menjauh dari dermaga utama, hingga ia sampai di sebuah area yang tampak terisolasi.

Langkah kakinya membawanya pada sebuah formasi batuan karang raksasa yang menakjubkan. Di tengah-tengah kumpulan batu hitam yang kokoh itu, terdapat celah besar yang membentuk gua kecil yang menghadap langsung ke laut lepas. Tempat itu sepi, hanya ada suara ombak yang menghantam karang dengan ritme yang menenangkan.

Naravit menghela napas lega. Ia meletakkan tas selempangnya di atas tumpukan pasir kering di dalam gua tersebut. Pikirannya melayang pada kehidupan yang selama ini ia jalani. Menjadi pewaris Lertratkosum Group adalah sebuah kehormatan, namun baginya, itu terasa seperti setelan jas yang satu ukuran terlalu kecil—pas, tapi membuatnya sulit bernapas.

"Kalau saja Ayah tahu aku lebih suka berada di situs pertambangan daripada di lobi hotel mewah," gumamnya pada diri sendiri.

Naravit memang memiliki hasrat yang besar pada geologi dan industri pertambangan. Baginya, ada sesuatu yang jujur dalam menggali bumi dan menemukan mineral yang telah terkubur jutaan tahun. Namun, demi keluarga, ia harus rela berurusan dengan desain interior resort dan manajemen perhotelan yang menurutnya jauh lebih rumit.

Baru saja ia hendak mendudukkan pantatnya di atas pasir untuk sekadar memejamkan mata, sebuah suara deburan air yang keras bergema dari arah kiri gua. Itu bukan suara ombak biasa. Itu terdengar seperti sesuatu—atau seseorang—yang terlempar dengan paksa ke permukaan.

Rasa penasaran Naravit mengalahkan rasa lelahnya. Ia kembali berdiri, mengabaikan tasnya, dan melangkah keluar dari gua dengan hati-hati. Ia memanjat sebuah batu karang datar untuk melihat apa yang terjadi di balik celah sempit itu.

Dan di sanalah dia.

Dunia Naravit seolah berhenti berputar. Udara di paru-parunya seakan tersedot habis saat matanya menangkap sosok yang selama ini hanya menghantui mimpinya. Di atas sebuah batu karang yang setengah terendam air, merman itu sedang berusaha menstabilkan tubuhnya.

Dari dekat, merman itu jauh lebih indah daripada apa yang bisa digambarkan oleh mimpi mana pun. Kulitnya seputih porselen halus, tampak bersinar di bawah terik matahari siang itu. Tubuh bagian atasnya ramping namun memiliki otot-otot yang terbentuk dengan proporsional—seperti pahatan patung Yunani yang hidup.

Namun, yang paling mencolok adalah ekornya. Sisik-sisik berekor tosca dan hijau gelap itu berkilauan tajam, memantulkan warna-warna laut yang dalam. Sirip di ujung ekornya yang lebar tampak bergetar lembut.

Phuwin, sang merman, membeku. Ia tidak menyangka akan ada manusia di tempat tersembunyi ini. Matanya yang besar dan jernih menatap Naravit dengan campuran rasa takut dan penasaran. Ini adalah pria yang sama. Pria dari pantai Pattaya. Pria yang membuat hatinya berdesir aneh.

Pertemuan yang seharusnya magis itu tiba-tiba berubah menjadi mencekam. Karena terburu-buru berenang naik untuk menghindari arus bawah yang kuat di sekitar tebing, Phuwin tidak sengaja menghantamkan bagian bawah ekornya pada karang laut yang tajam.

"Akh!" sebuah ringisan pelan keluar dari bibir Phuwin.

Suaranya terdengar merdu namun penuh penderitaan. Naravit melihat ke arah ekor sang merman dan mendapati sebuah luka robek yang cukup dalam di dekat pangkal siripnya. Cairan berwarna merah pekat yang sedikit berkilauan mulai mengalir, membasahi batu karang tempat ia bertumpu.

Melihat luka itu, insting pelindung dalam diri Naravit bangkit. Ia melupakan rasa takut atau ketidakpercayaannya pada makhluk mitos di depannya. Baginya saat ini, makhluk di depannya adalah seseorang yang sedang terluka dan membutuhkan bantuan.

"Tunggu! Jangan bergerak," seru Naravit spontan.

Phuwin tersentak, ia mencoba mendorong dirinya kembali ke air, namun rasa perih di ekornya membuatnya lemas. Ia menatap manusia itu dengan waspada saat Naravit berlari kembali ke dalam gua.

Naravit menyambar tas selempangnya secepat kilat. Ia selalu membawa kotak P3K kecil dan beberapa botol air mineral—kebiasaan lama sejak ia sering melakukan perjalanan lapangan ke daerah pertambangan. Ia kembali ke arah merman itu, melompat melewati batu-batu karang dengan ceroboh, bahkan hampir terpeleset jika ia tidak segera menjaga keseimbangannya.

Saat Naravit mendekat, Phuwin mendesis, menunjukkan barisan gigi yang rapi namun sedikit tajam—sebuah peringatan bahwa meskipun ia cantik, ia tetaplah predator laut.

Naravit berhenti sekitar dua meter darinya, mengangkat kedua tangannya ke atas. "Aku tidak akan menyakitimu. Aku berjanji. Lihat ini?" Naravit menunjukkan sebuah botol air dan sebotol antiseptik. "Aku hanya ingin membantu lukamu."

Phuwin menatap mata Naravit. Ia tidak mengerti bahasa manusia sepenuhnya, tapi ia bisa membaca nada suara dan ekspresi wajah. Pria ini tidak memiliki senjata. Pria ini memiliki tatapan yang sama dengan tatapan di mimpinya—penuh kekhawatiran yang tulus.

Perlahan, Phuwin merilekskan otot-otot tubuhnya. Ia membiarkan kepalanya bersandar pada batu, napasnya tersengal-sengal. Air laut yang asin terasa sangat menyakitkan saat mengenai lukanya yang terbuka.

Naravit mendekat dengan sangat perlahan, seolah sedang mendekati seekor rusa liar yang terluka. Saat ia sudah cukup dekat, ia bisa mencium aroma merman itu—campuran antara garam laut, air dingin, dan... wangi bunga melati yang sangat lembut. Aroma yang sama yang ia cium di batu karang semalam.

"Ini mungkin akan sedikit perih," bisik Naravit pelan.

Ia membuka botol air mineral dan mulai menyiramkan air tawar ke atas luka Phuwin untuk membersihkan sisa-sisa pasir dan garam. Phuwin berjengit, tangannya mencengkeram pinggiran batu karang hingga kuku-kukunya yang sedikit lebih panjang dari manusia normal itu memutih.

Naravit terpaku sejenak saat melihat wajah Phuwin dari jarak sedekat ini. Hidungnya yang bangir, bulu matanya yang panjang dan basah, serta bibir yang sedikit pucat. Ia jauh lebih cantik daripada wanita dan pria mana pun yang pernah Naravit temui di Bangkok.

"Kau... siapa sebenarnya?" tanya Naravit tanpa sadar, sambil dengan hati-hati meneteskan cairan antiseptik pada luka tersebut.

Phuwin hanya menatapnya, tidak menjawab. Namun, satu hal yang pasti: rasa takut yang tadi mendominasi hatinya mulai memudar, digantikan oleh rasa hangat yang aneh saat tangan manusia itu bersentuhan dengan sisik ekornya yang dingin.

Keheningan di antara mereka terasa sangat intens. Naravit kini sedang membalut luka itu dengan perban bersih, berusaha sekuat tenaga agar ikatannya tidak terlalu kencang namun cukup kuat untuk menahan pendarahan.

"Aku Naravit," ucap Naravit lagi, kali ini sambil menunjuk dadanya sendiri. "Na-ra-vit."

Phuwin memiringkan kepalanya sedikit, menirukan gerakan bibir Naravit tanpa suara. Ia tampak sedang mencerna nama tersebut.

"Phu... win..." suara itu keluar dengan sangat lembut, hampir menyerupai bisikan.

Naravit tertegun. "Phuwin? Itu namamu?"

Phuwin tidak mengangguk, namun ia memberikan sebuah senyuman tipis yang sangat singkat—begitu singkat sehingga Naravit mengira ia hanya berhalusinasi. Namun, senyuman itu cukup untuk membuat jantung Naravit berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia sedang mempresentasikan proyek jutaan dolar di depan direksi.

Tiba-tiba, suara klakson kapal dari kejauhan memecah kesunyian. Phuwin tersentak. Ketakutan kembali menghiasi wajahnya. Ia melihat ke arah laut, lalu kembali menatap Naravit.

Dengan gerakan yang sangat cepat, bahkan sebelum Naravit sempat berkata apa-apa lagi, Phuwin mendorong tubuhnya ke dalam air. Ekornya yang baru saja dibalut perban putih itu mengibaskan air, menciptakan cipratan yang membasahi seluruh kemeja Naravit.

"Tunggu! Perbanmu akan lepas!" teriak Naravit, tapi sudah terlambat.

Sosok tosca itu sudah menghilang di balik birunya air laut Koh Sichang, meninggalkan Naravit yang berdiri mematung di atas batu karang dengan tangan yang masih memegang sisa perban.

Naravit menunduk, melihat ke arah tangannya. Ada sedikit bercak darah merman yang tertinggal di sana. Darah itu tidak sepenuhnya merah; di bawah sinar matahari, darah itu tampak berkilauan seperti debu berlian.

"Phuwin..." gumam Naravit, meresapi nama itu di lidahnya.

Air laut yang semakin dalam biasanya memberikan rasa tenang bagi Phuwin, namun kali ini, detak jantungnya yang tidak beraturan mengalahkan suara arus. Ia berenang secepat yang ia bisa, meliuk di antara pilar-pilar karang purba yang menjulang seperti gedung pencakar langit di bawah laut. Luka di ekornya memang masih terasa berdenyut, namun rasa perih yang tadi menyengat kini telah berubah menjadi sensasi dingin yang nyaman—mungkin efek dari cairan yang dituangkan manusia itu.

Manusia itu.

Phuwin memperlambat ayunan ekornya saat ia mencapai zona yang lebih gelap. Ia berhenti sejenak, bersandar pada sebuah batu yang ditumbuhi anemon ungu. Ia menunduk, menatap kain putih yang membalut lukanya dengan rapi. Kain itu terasa asing di kulitnya, serat-seratnya terasa kasar.

"Terima kasih..." bisiknya pelan, mencoba mengingat kata-kata yang sering ia dengar dari kapal-kapal turis.

Ia merasa sedikit bersalah. Manusia itu telah menolongnya, memberikan sesuatu yang berharga dari dunianya, namun Phuwin justru pergi begitu saja tanpa memberikan balasan. Bahkan, ia bahkan tidak tahu apakah ia mengucapkan nama pria itu dengan benar di dalam kepalanya.

"Na... ra... vit? Navit?" Ia mencoba mengeja nama itu berkali-kali. "Naravit."

Nama itu terasa berat namun indah di lidahnya. Dan wajahnya... Phuwin tidak bisa berbohong pada dirinya sendiri. Manusia itu memiliki garis wajah yang tegas, hidung yang menjulang seperti tebing karang, dan mata yang menatapnya seolah-olah Phuwin adalah satu-satunya hal yang berharga di samudra ini.

"Tampan," gumam Phuwin, lalu segera menggelengkan kepalanya hingga rambut hitamnya berantakan. "Tidak, tidak. Dia manusia, Phuwin! Fokus!"

Sial baginya, keberuntungan tidak sedang berpihak pada Phuwin hari ini. Saat ia berbelok di persimpangan terumbu karang yang menuju ke arah istana suku mereka, ia melihat siluet yang sangat ia kenali.

Beberapa meter di depannya, tampak rombongan merman dengan tombak-tombak dari tulang ikan hiu yang berkilauan. Di tengah rombongan itu, sosok yang paling tinggi dan berwibawa tengah bergerak dengan anggun namun penuh otoritas. Itu adalah ayahnya, Off Jumpol.

Ekor perak gelap milik ayahnya bergerak dengan kuat, menciptakan pusaran air kecil di sekitarnya. Dari raut wajahnya yang keras, Phuwin tahu bahwa laporan dari Pho (Gun) sudah sampai ke telinga sang Kepala Suku. Ayahnya sedang mencarinya.

Phuwin segera memutar arah, jantungnya mencelos. Jika ayahnya melihat perban putih di ekornya, habislah sudah. Itu adalah bukti nyata bahwa ia telah melakukan kontak fisik dengan manusia. Itu bukan sekadar pelanggaran; itu adalah pengkhianatan terhadap hukum kuno mereka.

Ia segera melesat ke arah hutan rumput laut raksasa di sisi timur. Rumput laut di sini berwarna hijau tua, tebal, dan sangat keras, cukup untuk menyembunyikan tubuhnya dari pandangan mata yang tidak teliti.

Phuwin membenamkan tubuhnya di antara helai-helai rumput laut yang bergoyang lambat. Ia menahan napas, berusaha meminimalisir gelembung udara yang keluar dari insangnya yang tersembunyi di balik telinga. Matanya memicing, mengawasi rombongan ayahnya yang lewat hanya beberapa meter dari tempat persembunyiannya.

Cepat pergi... tolong cepat pergi... batinnya dalam hati.

"Phu?? Ngapain?"

Suara itu terdengar sangat dekat, hampir tepat di telinganya. Phuwin tersentak hebat hingga tubuhnya terlonjak. Ia hampir saja berteriak jika ia tidak segera sadar di mana ia berada.

Ia menoleh ke samping dan mendapati dua wajah yang sangat ia kenali. Fourth dan Satang. Keduanya adalah teman masa kecil Phuwin, dua merman muda yang biasanya selalu ikut dalam kenakalannya, namun kali ini mereka tampak sama terkejutnya melihat Phuwin bersembunyi di tempat seperti ini.

Fourth, dengan ekor kuning cerahnya, tampak siap untuk bertanya lebih keras, sementara Satang yang memiliki ekor biru laut hanya menatapnya dengan bingung.

"Sshhhh!" Phuwin segera membekap mulut Fourth dengan tangan kanannya dan menarik Satang mendekat dengan tangan kirinya.

Ia memberikan isyarat dengan mata ke arah luar hutan rumput laut. Fourth dan Satang mengikuti arah pandangannya dan seketika membeku saat melihat Off Jumpol dan para pengawalnya baru saja berhenti tepat di depan hutan tersebut.

"Cari di setiap sudut!" suara Off terdengar bergetar di dalam air, membawa otoritas yang tidak bisa dibantah. "Phuwin tidak mungkin pergi jauh dengan luka di ekornya. Gun bilang dia melihat darah di karang atas tadi."

Phuwin memejamkan mata. Jadi Pho benar-benar melihat luka itu. Sial.

Di dalam keremangan rumput laut, Fourth dan Satang saling pandang. Mata mereka kemudian turun ke arah ekor Phuwin yang terluka. Dan saat itulah, keduanya hampir meledak karena terkejut.

"Phu, apa itu di ekormu?!" bisik Satang dengan nada yang sangat lirih namun penuh penekanan. "Kain apa itu? Itu... itu milik manusia?"

Fourth melepaskan tangan Phuwin dari mulutnya dengan paksa, wajahnya tampak ngeri. "Kamu gila, Phu? Kalau Ayahmu lihat itu, kamu bisa dibuang ke Palung Hitam! Lepaskan benda itu sekarang!"

"Jangan!" cegah Phuwin, memeluk ekornya sendiri. "Dia... manusia itu yang memasangkannya untuk menghentikan darahku. Ini membantu, tahu!"

"Membantu?" Fourth menggelengkan kepala, merasa ngeri. "Phu, mereka itu monster. Mereka memburu kita! Dan kamu membiarkan salah satu dari mereka menyentuhmu? Kamu sudah hilang akal!"

Phuwin tahu teman-temannya benar secara logika. Seluruh sejarah kaum mereka dibangun di atas rasa takut terhadap manusia. Manusia adalah makhluk yang mengambil tanpa memberi, yang menghancurkan terumbu karang dengan jangkar besar, dan yang membuang racun ke dalam air mereka.

Tapi bayangan Naravit yang berlutut di depannya, dengan tangan yang gemetar karena khawatir, tidak cocok dengan gambaran monster yang selama ini ia dengar.

"Dia berbeda," bisik Phuwin pelan, hampir tidak terdengar.

"Tidak ada manusia yang berbeda!" sahut Satang. "Ayo, lepaskan kain itu dan buang ke dalam celah batu. Kita harus keluar dari sini sebelum pengawal Ayahmu masuk ke hutan ini."

Phuwin melihat ke arah kain putih itu. Ia teringat betapa hati-hatinya Naravit saat membalutnya. Jika ia melepaskannya, ia merasa seolah membuang satu-satunya bukti bahwa pertemuan itu nyata. Pertemuan yang terasa seperti mimpi yang menjadi kenyataan.

Namun, suara tombak yang menggesek batu di luar hutan semakin dekat. Para pengawal mulai masuk ke dalam area hutan rumput laut.

"Phu, cepat!" desak Fourth.

Dengan berat hati, Phuwin mulai membuka ikatan perban itu. Setiap lilitan yang terlepas terasa seperti memutuskan benang tipis yang menghubungkannya dengan dunia di atas sana. Saat kain itu terlepas, luka di ekornya tampak sudah mulai menutup—sebuah keajaiban dari obat manusia itu, atau mungkin karena regenerasi alami merman yang cepat.

Ia menggumpal kain putih itu dan menyerahkannya pada Satang. "Tolong simpan ini di tempat yang tidak akan ditemukan siapa pun. Kumohon."

Satang ragu sejenak, namun melihat tatapan memohon di mata Phuwin, ia akhirnya mengangguk dan menyelinap pergi ke arah celah karang yang paling dalam untuk menyembunyikannya.

Baru saja kain itu menghilang, sesosok pengawal besar dengan ekor hiu muncul di balik rumput laut, tepat di depan Phuwin dan Fourth.

"Di sini! Tuan Muda Phuwin ada di sini!" teriak pengawal itu.

Suasana di hutan rumput laut itu terasa membeku, lebih dingin daripada arus laut terdalam. Off Jumpol, dengan wibawa yang meluap-luap, menatap satu per satu merman muda di hadapannya. Kehadiran para pengawal di belakangnya menambah kesan intimidatif, seolah-olah setiap gelembung udara yang keluar dari insang mereka sedang diawasi.

Fourth meringis, tubuhnya sedikit gemetar saat matanya bertemu dengan tatapan tajam ayah Phuwin. Ia segera membungkuk rendah, sebuah gestur hormat yang wajib dilakukan setiap anggota suku kepada sang Kepala Suku.

Tepat pada saat itu, Satang muncul dari balik celah karang dengan gerakan yang sangat natural. Di tangannya, ia membawa seutas ganggang laut keras yang meliuk-liuk dan beberapa kerang kecil berwarna-warni. Wajahnya tampak tenang, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan tugas sederhana.

"Phu, Fott! Aku sudah dapat bahan gelangny—" Satang menghentikan kalimatnya secara tiba-tiba, memasang ekspresi terkejut yang sangat meyakinkan saat melihat Off. "Loh? Ada apa ini? Ayah... maksud saya, Kepala Suku? Kenapa Anda ada di sini?"

Satang segera menunduk hormat, menyembunyikan senyum lega karena ia berhasil menyembunyikan perban manusia itu di tempat yang sangat dalam. Di antara mereka bertiga, Satang memanglah sang manipulator ulung; ia tahu persis bagaimana cara mengatur napas dan detak jantung agar tidak terdeteksi oleh indra penciuman merman dewasa yang tajam.

"Kalian sejak tadi bersama Phuwin?" tanya Off. Suaranya bergema rendah, menggetarkan pasir di dasar laut.

Satang mengangguk mantap, ekspresinya berubah menjadi polos. "Benar, Ayah. Kami sedang mengumpulkan bahan untuk upacara bulan depan. Mengapa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?"

Fourth berusaha mengimbangi permainan peran Satang. "Betul, Ayah. Apakah Ayah ada urusan mendadak dengan Phuwin?"

Off hanya menggeleng pelan, namun matanya tidak lepas dari putra sulungnya. Phuwin sendiri sudah masuk ke dalam perannya; ia bersedekap dada, memasang wajah kesal dan bosan, seolah-olah kehadiran ayahnya hanyalah gangguan bagi waktu bermainnya.

"Hanya memastikan bahwa anak ini tidak kembali ke permukaan secara diam-diam," ucap Off. "Pho-nya melaporkan bahwa Phuwin menghilang ke arah atas tadi."

Satang dan Fourth segera berakting seolah mereka mendengar berita paling konyol sedunia. Mereka saling pandang dengan mata membelalak.

"Ke permukaan? Sungguh, Phu?" Fourth bertanya dengan nada yang sedikit terlalu antusias. "Apa manusia di sana benar-benar tampan seperti foto-foto di dalam kapal karam yang kita temukan di bawah sana?"

PLAK!

Satang memukul pelan bagian belakang kepala Fourth. "Bodoh! Jangan bertanya hal yang tidak penting!" bisik Satang, meskipun suaranya tetap bisa didengar oleh Off.

Phuwin memijat pelipisnya, merasa ingin sekali menenggelamkan Fourth ke dalam palung saat itu juga. Pertanyaan Fourth adalah bukti betapa buruknya merman itu dalam berbohong. Namun, justru kepolosan Fourth itulah yang tampaknya membuat Off sedikit mengendurkan kewaspadaannya. Sang Kepala Suku mungkin berpikir bahwa jika Phuwin benar-benar pergi ke permukaan dan melihat sesuatu yang berbahaya, teman-temannya tidak akan bertanya soal "ketampanan" manusia.

"Sudahlah," potong Off. "Mungkin Gun salah lihat karena bias cahaya matahari. Tapi Phuwin, ingat pesanku. Manusia-manusia di atas sana sedang membangun sesuatu yang besar. Suara mesin mereka sudah mulai merusak karang-karang kita di sisi utara. Mereka adalah ancaman, bukan tontonan."

Phuwin hanya bergumam tidak jelas sebagai jawaban. Ia diam-diam menarik napas lega. Luka di ekornya memang sudah tertutup oleh sisik baru yang tumbuh sangat cepat—sebuah kemampuan regenerasi khas keluarga bangsawan merman—sehingga goresan kecil itu tidak akan terlihat kecuali jika ayahnya memeriksa dengan sangat teliti.

Meskipun Off tampak percaya, ia tidak membiarkan Phuwin lepas begitu saja. Sebagai bentuk "pencegahan", Off tetap memberikan sanksi.

"Karena kau membuat Pho-mu khawatir dan pergi tanpa pengawalan ke wilayah perbatasan, kau dilarang meninggalkan area istana selama tiga siklus arus," tegas Off. "Dan kau akan bertugas membantu di perpustakaan tua, menyalin peta arus laut yang baru."

Phuwin terbelalak. "Tiga siklus arus? Itu hampir seminggu di dunia manusia! Dan di perpustakaan? Ayah, itu tempat paling membosankan di seluruh samudra!"

"Itu lebih baik daripada kau berakhir di jaring nelayan," jawab Off dingin. "Pengawal, bawa dia kembali ke istana. Fourth, Satang, kalian juga kembali ke keluarga masing-masing."

Phuwin hanya bisa menatap nanar ke arah atas—ke arah di mana cahaya matahari masih menyinari permukaan air. Di suatu tempat di sana, Naravit mungkin masih menunggunya. Atau mungkin, manusia itu sudah melupakannya dan menganggap pertemuan mereka hanya halusinasi akibat panas matahari.

Malam itu (atau setidaknya apa yang dianggap malam di bawah laut saat cahaya ubur-ubur mulai meredup), Phuwin duduk di sudut perpustakaan istana. Tangannya memegang sebuah pena yang terbuat dari duri ikan pari, namun pikirannya berada di tempat lain.

Ia teringat sentuhan tangan Naravit. Hangat. Sangat berbeda dengan suhu air laut yang selalu stabil. Ia teringat bagaimana pria itu tampak begitu panik melihat lukanya, seolah-olah luka itu adalah hal terburuk yang bisa terjadi di dunia ini.

"Naravit..." bisiknya pelan, memastikan tidak ada pengawal yang mendengar.

Ia merogoh sesuatu dari balik lipatan pinggangnya. Bukan kain perban yang tadi, melainkan sebuah benda kecil yang sempat ia ambil dari saku tas Naravit saat manusia itu sedang sibuk mengambil obat: sebuah koin tembaga kecil dengan lubang di tengahnya.

Bagi manusia, itu mungkin hanya koin keberuntungan atau recehan yang tak berarti. Tapi bagi Phuwin, koin itu adalah jembatan. Logam itu memiliki aroma yang sama dengan Naravit—aroma daratan, aroma debu, dan aroma sesuatu yang disebut "kehidupan".

"Bagaimana aku bisa menemuimu lagi?" gumamnya lesu. "Tiga siklus arus itu terlalu lama..."

Sementara itu, di Koh Sichang, Naravit tidak bisa tidur. Ia duduk di teras motel tua milik ayahnya, menatap bulan yang terpantul di permukaan laut yang tenang. Di depannya, di atas meja kayu, terdapat sisik tosca yang kini ia simpan di dalam kotak kaca kecil, seolah itu adalah berlian paling langka di dunia.

Ia telah menghabiskan sore harinya dengan bertanya kepada penduduk lokal tentang legenda "Pria Laut". Kebanyakan dari mereka hanya tertawa dan mengatakan itu adalah dongeng pengantar tidur. Namun, seorang nelayan tua di ujung dermaga sempat memberikan peringatan yang aneh.

"Kalau kau mencari mereka, jangan bawa cahaya yang terang. Mereka menyukai ketenangan. Dan ingat, sekali kau menyentuh mereka, laut tidak akan pernah membiarkanmu pergi dengan hati yang utuh."

Naravit tidak peduli dengan peringatan itu. Ia sudah memutuskan. Besok, ia akan menyewa peralatan selam terbaik. Ia tidak akan menunggu Phuwin muncul ke permukaan; ia yang akan pergi ke bawah.

Ia tahu itu gila. Ia tahu itu berbahaya. Tapi rasa penasaran yang membakar jiwanya jauh lebih kuat daripada rasa takut akan tenggelam.

"Aku tahu kau ada di bawah sana, Phuwin," bisik Naravit ke arah kegelapan laut. "Dan aku tidak akan berhenti sampai aku menemukanmu lagi."

 


 

Malam di Koh Sichang terasa lebih sunyi dari biasanya, namun di kepala Naravit, kebisingan tidak kunjung reda. Ia mondar-mandir di beranda motel, mengabaikan suara serangga malam yang bersahutan dengan deburan ombak. Di tangannya, kotak kaca kecil berisi sisik tosca itu terasa berat. 

Naravit tahu dia tidak bisa mengandalkan logika bisnis atau data konstruksi untuk menjelaskan apa yang ia lihat. Dia butuh seseorang yang mengerti laut lebih dari sekadar "properti yang menguntungkan".

Tiba-tiba, sebuah nama muncul di benaknya. Emi.

Emi adalah teman masa kuliahnya yang mengambil jalur hidup yang sangat berbeda. Saat Naravit sibuk mempelajari manajemen aset, Emi justru tenggelam dalam buku-buku biologi kelautan dan oseanografi. Namun, ada satu hal yang membuat Emi unik, dia satu-satunya orang di lingkaran pertemanan Naravit yang tidak akan tertawa jika mendengar kata "Merman/Mermaid". Bahkan, Emi memiliki obsesi tersendiri pada legenda-legenda maritim yang dianggap sains sebagai dongeng belaka.

Tanpa membuang waktu, Naravit mendial nomor Emi. Telepon itu berdering tiga kali sebelum suara perempuan yang terdengar bersemangat menjawabnya.

"Naravit? Tumben sekali kau meneleponku di jam segini. Ada apa? Kau butuh saran tentang jenis terumbu karang yang bagus untuk dekorasi kolam renangmu?"

Naravit menarik napas panjang. "Emi, aku tidak sedang bercanda. Aku butuh bantuanmu. Dan aku butuh kau mendengarkanku tanpa memutus kalimatku sedikit pun."

Suara di seberang sana berubah serius. "Oke, kau terdengar... aneh. Ada apa?"

"Aku melihatnya, Emi. Bukan cuma melihat, aku menyentuhnya. Aku mengobatinya," bisik Naravit. "Merman. Dengan ekor berwarna tosca dan hijau gelap. Di teluk Koh Sichang."

Hening sejenak. Naravit mengira Emi akan menutup teleponnya atau tertawa terbahak-bahak. Namun, yang terdengar justru suara grasak-grusuk kertas dan kursi yang digeser.

"Demi Poseidon, Naravit! Kau serius?!" suara Emi meninggi. "Kau tahu berapa lama aku mencari bukti otentik tentang keberadaan mereka di Teluk Thailand? Selama ini aku hanya menemukan jejak sonar yang aneh dan beberapa rekaman suara ultrasonik yang tidak bisa dijelaskan oleh spesies paus mana pun!"

"Aku punya sisiknya, Emi. Satu keping sisik yang tertinggal di karang," lanjut Naravit.

"Jangan ke mana-mana. Jangan berikan pada siapa pun," Emi berbicara secepat kilat. "Dengar, Naravit. Jika apa yang kau katakan benar, kau berada dalam situasi yang sangat luar biasa sekaligus berbahaya. Mereka bukan sekadar makhluk spesies purba yang sangat protektif terhadap wilayah mereka. Dan jika kau melihatnya di Koh Sichang... itu masuk akal. Ada banyak gua bawah laut yang belum terpetakan di sana."

"Aku ingin bertemu dengannya lagi, Emi. Namanya Phuwin."

"Dia memberitahumu namanya?!" Emi terdengar hampir pingsan karena terkejut. "Naravit, ini gila. Ini ide yang sangat buruk jika kau berencana menyelam dan mencarinya sendirian. Hubungan antara manusia dan mereka selalu berakhir tragis dalam catatan sejarah mana pun. Bagi mereka, manusia makhluk serakah, dan mereka itu pendendam."

"Aku tidak ingin menyakitinya," tegas Naravit. "Aku hanya ingin... memastikannya. Aku merasa dia juga mencariku."

"Itu yang paling berbahaya, Nara. Rasa penasaran adalah umpan yang paling mematikan di laut. Aku akan mengirimkan beberapa data koordinat tentang anomali suhu air di sekitar Koh Sichang yang pernah terekam kantorku. Tapi tolong, jangan lakukan hal bodoh sebelum aku sampai di sana lusa."

Naravit menutup telepon setelah mengucapkan terima kasih. Matanya beralih ke laut. Lusa terlalu lama, pikirnya.

Sementara itu, di kedalaman yang temaram, Phuwin merasa seolah-olah waktunya telah berhenti. Perpustakaan istana karang itu sangat luas, dipenuhi dengan gulungan rumput laut kering yang berisi sejarah suku mereka. Namun, bagi Phuwin, setiap gulungan itu terasa seperti jeruji penjara.

"Phu, kamu sudah menyalin peta arus utara?" suara berat pengawal di depan pintu perpustakaan membuyarkan lamunannya.

"Sedikit lagi," jawab Phuwin malas. Tangannya masih memegang pena duri, namun di bawah meja karangnya, jemarinya sedang memainkan koin tembaga milik Naravit.

Phuwin tahu bahwa tindakannya berbohong pada ayahnya adalah sebuah risiko besar. Namun, bayangan wajah Naravit saat mengobati ekornya terus muncul di benaknya. Mengapa manusia itu begitu lembut? Mengapa dia tidak membawa tombak seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah kelam kaum merman?

"Ini benar-benar ide yang buruk," gumam Phuwin pada dirinya sendiri. "Aku seharusnya melupakannya. Pho benar, Ayah benar. Manusia itu berbahaya."

Namun, rasa hangat di dadanya setiap kali ia mengingat nama Naravit seolah-olah memberontak. Ia merasa ada sesuatu yang belum selesai. Ia tidak sempat memberikan tanda terima kasih. Di dunia merman, menerima bantuan tanpa membalasnya adalah hal yang memalukan.

Tiba-tiba, sebuah ide muncul di benaknya. Ayahnya bilang ia dilarang meninggalkan area istana. Tapi, istana ini memiliki saluran pembuangan air lama yang terhubung dengan gua-gua karang di sisi luar yang jarang dijaga. Saluran itu sempit dan penuh dengan ubur-ubur penyengat, tapi jika ia berhati-hati, ia bisa keluar menuju teluk tanpa melewati gerbang utama.

"Tiga siklus arus terlalu lama," bisik Phuwin. "Aku harus memastikan dia tidak mencariku ke dalam air. Manusia tidak bisa bernapas di bawah sini, dia bisa mati kalau mencoba menemukanku."

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Phuwin mulai menyusun beberapa gulungan rumput laut di atas tempat tidurnya agar terlihat seperti sosok yang sedang tidur, sebuah trik klasik yang sering ia lakukan saat masih kecil.

Kembali ke permukaan, Naravit tidak bisa menunggu Emi. Ia sudah menyiapkan peralatan selamnya—tabung oksigen, masker, dan senter bawah air yang sangat terang. Ia menyewa sebuah perahu kecil dari nelayan setempat dengan alasan ingin memotret terumbu karang di malam hari.

Paman Somchai sempat menahannya. "Tuan Muda, laut malam ini terlihat tenang, tapi arusnya di bawah tebing sangat menipu. Jangan pergi terlalu jauh ke arah Gua Kerangka."

Naravit hanya tersenyum tipis. "Aku akan berhati-hati, Paman."

Saat perahu kecilnya membelah air menuju teluk tempat ia pertama kali bertemu Phuwin, Naravit merasakan firasat buruk. Langit mulai tertutup awan, menutupi cahaya bulan yang menjadi satu-satunya sumber navigasinya. Namun, keinginan untuk melihat kembali sosok bercahaya itu jauh lebih kuat daripada peringatan siapa pun.

Ia memakai maskernya, menggigit regulator oksigen, dan terjun ke dalam air yang gelap.

SPLASH.

Dunia di bawah permukaan sangat berbeda di malam hari. Semuanya tampak seperti bayangan hitam yang bergerak. Senter bawah airnya membelah kegelapan, menunjukkan ikan-ikan kecil yang terkejut oleh cahaya buatan. Naravit berenang menuju celah karang tempat Phuwin menghilang kemarin.

Tanpa ia sadari, di kedalaman yang lebih bawah, sepasang mata besar sedang memperhatikannya. Bukan mata yang ramah. Bukan mata Phuwin.

Itu adalah pengawal perbatasan suku merman yang sedang berpatroli. Dan melihat seorang manusia dengan cahaya terang masuk ke wilayah mereka di malam hari dianggap sebagai provokasi.

Phuwin baru saja berhasil keluar dari saluran pembuangan air tua saat ia merasakan getaran yang tidak asing di dalam air. Gelombang suara yang tidak beraturan—detak jantung yang cepat dan suara gelembung udara yang kasar.

Manusia.

Phuwin berenang secepat mungkin menuju sumber suara itu. Jantungnya berdegup kencang karena takut. "Jangan bilang itu dia..."

Saat Phuwin sampai di dekat tebing bawah laut, ia melihat cahaya senter yang bergoyang-goyang di antara terumbu karang. Di sana, Naravit sedang berusaha masuk ke dalam sebuah gua sempit yang sebenarnya adalah pintu masuk ke wilayah berbahaya suku merman.

"Hentikan!" Phuwin ingin berteriak, namun suaranya hanya keluar sebagai gelembung air.

Phuwin melihat ke arah lain dan menyadari bahwa dua pengawal istana dengan tombak tajam sudah bergerak mendekati Naravit dari arah belakang. Mereka tidak akan bertanya; mereka akan langsung menyerang siapa pun yang melanggar batas.

Ini benar-benar ide yang sangat buruk. Bagi Naravit, dan bagi Phuwin.

Dengan satu kibasan ekor yang sangat kuat, Phuwin melesat melewati para pengawal itu, membelah arus dengan kecepatan yang luar biasa. Ia harus sampai ke manusia itu sebelum tombak para pengawal itu menembus tabung oksigennya.

Naravit, yang masih berusaha menyesuaikan pandangannya, tiba-tiba merasakan sesuatu yang sangat kuat menarik tubuhnya ke arah samping. Ia terjatuh ke dalam sebuah celah batu yang sempit tepat saat sebuah tombak tulang melesat lewat di tempat kepalanya berada beberapa detik yang lalu.

Dalam kegeraman air dan kepanikan, Naravit merasakan tangan yang dingin namun halus membekap mulutnya (dan regulatornya). Di depan matanya, dalam keremangan cahaya senter yang terjatuh, ia melihat wajah itu lagi.

Mata Phuwin yang besar menatapnya dengan kemarahan yang bercampur dengan ketakutan yang mendalam. Phuwin menempelkan jarinya ke bibir, memberikan isyarat untuk diam.

Dua merman pengawal berhenti tepat di depan celah batu itu, mengendus air, mencari jejak manusia yang baru saja menghilang. Suasana menjadi sangat mencekam. Naravit bisa merasakan dada Phuwin yang naik turun dengan cepat menempel pada dadanya. Aroma laut dan melati itu kembali menyerbu indranya.

Di bawah sana, di dalam celah batu yang sempit, dua dunia kembali bersentuhan. Namun kali ini, mereka tidak sedang berada di bawah sinar matahari yang hangat. Mereka berada di wilayah maut, dan satu kesalahan kecil akan membuat mereka berdua kehilangan nyawa.