Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2025-12-29
Words:
2,270
Chapters:
1/1
Kudos:
8
Bookmarks:
1
Hits:
93

KISSING MY HOMIE TO SEE HIS REACTION

Summary:

Eksperimen iseng-iseng Kaelix berakhir di luar ekspektasinya. Walau sebenarnya Kaelix sama sekali tidak punya ekspektasi apa-apa juga sih. Sumpah.

 

Kaelix bohong.

Notes:

I missed them, no beta, bear with me.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

 

 

 

LAMPU merah sedang menyala di detik keenam saat ide gila sekelebat lewat di kepala Kaelix. Ia kini tengah duduk di kursi penumpang di samping sahabatnya, Seible, yang tengah fokus menyetir untuk mengantar Kaelix pulang dari acara resepsi pernikahan salah satu sepupu dekat Kaelix. Ada aliran deras adrenalin yang membanjiri tubuhnya kini hingga membuat Kaelix ingin melompat keluar mobil. Ide ini terlalu gila dan tidak masuk akal jika dipikir-pikir dengan kepala dingin. Namun, sumpah mati ia ingin mencoba.

Sedari beberapa saat tadi, Kaelix sibuk menggulirkan for you page-nya di TikTok lalu cekikikan sendiri dengan video-video hasil algoritma yang diformulasikan khusus untuknya. Beberapa kali Seible menoleh kilat sambil ikut terkekeh walau tidak tahu apa konteksnya—Seible tidak memiliki akun TikTok dan termasuk manusia yang chronically offline. Lelaki dengan rambut lurus sewarna tembaga itu akan bertanya What now? atau sesimpel Mm? lalu Kaelix akan mendeskripsikan apa yang barusan dilihatnya dengan bersemangat.

Jika Kaelix merasa menjelaskan terlalu cepat, ia akan memastikan Seible paham apa yang membuatnya asyik tertawa dengan terus mengulang Lo ngerti 'kan, Sei? dan Seible akan menjawab Iyaa, ngerti, Kae. Lo ngejelasinnya kocak juga abisan. Barulah Seible akan mengulang kekehan dengan suara beratnya yang bodoh—yang sama sekali tidak membuat degupan jantung Kaelix melompat sekali lebih cepat.

Malam ini, dari sekian banyak video yang melewati linimasanya, ada satu unggahan video yang membuat Kaelix tertarik ingin ikut mencoba. Pada Seible. Saat ini juga. Adalah video yang memperlihatkan dua anak muda yang dinarasikan sebagai sepasang sahabat yang sedang berkendara di dalam mobil—kondisi yang tengah dilakukannya sekarang. Salah satunya berinisiatif mengecup kawannya yang tengah mengemudi untuk melihat bagaimana reaksinya. Entah sudah diatur sedemikian rupa atau bagaimana, video-video serupa dengan tantangan tersebut terlihat berakhir dengan manis. Yang dicium kebanyakan memperlihatkan ekspresi kaget di awal, kemudian balas mencium juga.

Bagaimana kelanjutan hubungan persahabatan orang-orang di internet itu pada akhirnya, tidak ada yang tahu. Kaelix juga tidak ambil pusing soal itu—Kaelix sama sekali tidak membayangkan jika pada akhirnya mereka semua bahagia selamanya dan hidup dengan dua anjing dan satu anak perempuan kecil.

Kissing my homie to see his reaction, katanya.

Judulnya saja sudah terdengar menantang maut, tapi entah mengapa Kaelix tertantang dibuatnya. Mungkin benar apa kata teman-teman di sekitarnya jika Kaelix adalah target market dari semua gimik marketing di internet. Namun, khusus untuk video yang ini, sepertinya Kaelix punya beberapa alasan yang menjadi faktor kuat untuk mengikutinya. Jika diurut mundur soal latar belakang Kaelix ingin melakukan tantangan itu, kemungkinan besar karena Kaelix Debonair memiliki kecenderungan FOMO yang cukup akut—ini sudah bukan rahasia umum lagi, melainkan pengetahuan umum. Kemungkinan juga karena Kaelix suka berjudi dengan situasi yang membahayakan, yang memompa adrenalin. Kalau akibat Seible yang memperlakukannya lembut di acara pesta tadi dan terlihat supertampan saat fokus di balik kemudinya kini, kemungkinannya hampir menuju nol. Sama sekali bukan karena itu. Sumpah.

Pokoknya Kaelix ingin mencobanya.

Mencoba seperti yang di video itu, seperti orang-orang dengan sahabat-sahabat mereka. YAng berakhir hidup bahagia selamanya dengan dua anjing dan satu anak perempuan—oke, Kaelix harus fokus kembali pada tujuannya.

Kaelix ingin melakukannya pada Seible.

Sekarang juga.

Bagaimana ini?

Kacau. Jantungnya sudah beberapa saat ini berdebar kencang sampai ia khawatir sendiri Seible dapat mendengarnya.

"Mm? Tell me, Kae." Lamunannya dibuyarkan oleh pertanyaan lelaki yang duduk di sampingnya, yang memakai kemeja putih dan dasi kupu-kupu berwarna khaki yang sudah terurai lepas di balik kerahnya, sama sepertinya. Seible menoleh sebentar ke arah Kaelix lalu kembali menatap lurus ke jalan karena lampu lalu lintas sudah kembali hijau.

Seible ganteng.

Juga payah.

Anak ini selalu tahu saat mesin di kepala Kaelix berputar kencang. Di waktu lain, Kaelix menghargainya, karena itu artinya ia tidak perlu ragu untuk berbagi kegelisahannya secara lantang. Namun kali ini, Kaelix berpikir baiknya Seible mematikan kemampuannya tersebut barang sejenak dan tidak menganggu kemelut yang sedang terjadi di dalam dirinya.

Kaelix menoleh ke arah Seible sembari menggeleng. Mungkin aktingnya tidak meyakinkan karena Seible mendengus sambil melirik padanya.

"Apaan, Kaee? Ngomong aja."

"It's ... nothing?"

Seible tersenyum. Tatapannya yang sebelumnya lurus memperhatikan jalan, kini bisa lebih relaks saat lampu lalu-lintas sudah berubah warna menjadi merah. Perhatiannya kini total tertuju pada Kaelix yang kapan saja bisa meneteskan keringat dingin—mengapa semua tiba-tiba menjadi panas, ya? Apa AC mobil Seible mendadak rusak?

"Lo kalo kepikiran something trus diem aja tuh tuh muka lo berisik tau nggak, Kae?"

"Masa?"

"Hadeeh." Mungkin saja Seible mengeluh, tetapi satu tangannya yang bebas dari kemudi terulur ke arah Kaelix untuk mengacak rambutnya.

Oh, ini bahaya. Kaelix ingin mencium Seible sekarang juga. Mengapa kemauannya terdengar mesum jika diulang-ulang begini?

Ah, sialan.

Bagaimana ini?

Lakukan saja?

Atau jangan?

Lakukan.

Jangan.

Oke, jangan.

Kaelix menggigit bibirnya.

Persetanlah.

"Sei?"

"Mm?"

Kaelix sempat merekam bagaimana raut manis Seible yang bertanya-tanya sebelum ia mengulurkan satu tangannya dalam usaha membuat lelaki itu menoleh penuh padanya. Kemudian Kaelix mencondongkan tubuhnya untuk mengecup pipi Seible, dekat dengan dua tahi lalat di bawah matanya—ia bersumpah tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya mencium dua tanda lahir di wajah Seible sebelum tidur setiap malamnya. Ia lalu menjauhkan wajahnya sebentar untuk memeriksa ekspresi macam apa yang Seible keluarkan dan—sungguh mati—ia tidak menyesal. Sepasang mata biru itu membelalak dengan kedua alis yang terangkat tinggi. Kentara kaget, tetapi Kaelix dapat melihat ada juga minat di sana saat pandangan lelaki itu beralih cepat ke bibir Kaelix lalu kembali menatapnya di mata.

Ah, masa bodoh.

Kaelix kembali memajukan tubuhnya untuk mengecup bibir Seible. Telapak tangannya mengangkup satu pipi dan rahang Seible sekaligus untuk membantunya tidak pergi ke mana-mana. Hanya kecupan ringan yang dilakukan sekali.

Tidak, Kaelix ternyata butuh dua kali.

Atau mungkin tiga.

Ia berakhir mengecup Seible sebanyak lima kali.

Astagastagastaga.

Bibir tipis Seible lembut sekali saat menyentuh bibirnya. Mungkin karena berniat mendatangi acara semi formal sebelumnya maka lelaki itu memakai produk khusus sehingga bibirnya tidak sekering biasanya—Kaelix tidak bilang bahwa ia acap kali memperhatikan bibir sahabatnya di hari-hari biasa ya, tolong jangan salah paham. Wangi parfum Seible—wangi favorit Kaelix, untuk yang ini ia tidak mengelak—tercium lebih kuat, lebih dekat. Napasnya menyapu kulit wajah Kaelix dan untuk yang satu itu juga, ia tidak lagi punya energi untuk menyangkal bahwa tiap embusannya mampu membuat bulu kuduk Kaelix berdiri. Keduanya memang beberapa kali terlibat dalam kondisi berkelonan satu sama lain saat sedang menonton film atau pertandingan olahraga bersama di akhir pekan yang membosankan. Namun kedekatan seperti sekarang ini merupakan hal baru bagi keduanya.

Dan Kaelix suka.

"Woah ...," komentar Seible terdengar seperti bisikan. Anak itu perlahan membuka matanya—Seible sempat memejamkan matanya tadi di tengah gempuran ciuman Kaelix yang grasa-grusu? Wah, Kaelix rasanya ingin mampus.

Seible menatapnya untuk beberapa detik yang menyenangkan dan Kaelix hanya bisa mengernyih seperti anak kecil yang kepergok tengah memakan es krim sebelum sarapan oleh orang tuanya. Lampu lalu-lintas berangsur berubah menjadi hijau dan Seible kembali menjalankan mobilnya. Lelaki itu menggelengkan kepala. Kaelix masih sedikit menahan napas saat melirik ke sampingnya. Ia dapat melihat Seible tengah menggigit bibir bawahnya sambil tertawa kecil.

"Kaelix, Kaelix, Kaelix ...," namnya diucapkan beberapa kali begitu dengan nada yang asing. Ada kegemasan dan kekaguman di dalamnya. Membuat Kaelix sakit perut.

"Iyaa?"

"Bahaya banget ih."

"Apa?"

"Bahaya banget anaknya Mama Debonair ckck."

"Oke, iya, udahan. Anaknya Mama Debonair tobat." Kaelix tertawa kecil sambil mencoba menyamankan kembali duduknya yang kini sudah kembali tegap.

Seible memperlihatkan mimik tidak setuju yang kentara.

"Kok udah? Apa maksudnya udah?"

Seible terlihat tersinggung dan Kaelix ingin tertawa dibuatnya.

"Nyetir dulu aja yang bener, Sei." Kaelix terbahak. Seible menggelengkan kepalanya berkali-kali. Kaelix lalu mengulurkan satu tangannya untuk mencubit pipi Seible yang disauti Aduh! cukup kencang. Namun, belum sempat Kaelix menarik tangannya kembali, satu tangan Seible yang semula bertengger dekat tombol rem tangan sudah lebih dahulu menangkapnya dan membawanya ke depan bibirnya.

Seible menautkan jemari mereka lalu mengangkat punggung tangan Kaelix untuk dikecupnya tiga kali.

Oh, sinting.

Seible sinting.

Kaelix salah tingkah.

Ia tidak berkomentar apa-apa. Hanya bunyi protes serupa rengekan dan wajah yang menengadah, menolak untuk menatap lelaki yang duduk di sampingnya, apa pun alasannya.

Apa-apaan sih ini?

Ia hanya meminum seperempat gelas anggur putih di acara makan malam pernikahan tadi. Seible mungkin menghabiskan sepertiga gelas. Namun, tetap saja, tidak ada yang mabuk di antara keduanya, sadar diri bahwa sepulang acara salah satu dari mereka harus menyetir dan salah satu lainnya harus menemani yang menyetir. Lalu, mengapa rasanya situasi sekarang sememabukkan ini?

Apa yang sebenarnya sedang terjadi kini?

Kaelix terkekeh. Ganti ia yang menggelengkan kepalanya tak percaya. Seible bergabung tertawa bersamanya. Terbukti saat ia memelankan laju mobilnya dan berjalan di sebelah kiri. Kaelix tidak bisa menghentikan debaran jantungnya yang kian bertalu saat Seible membelokkan SUV hitamnya ke area parkir taman kota. Lelaki  itu mematikan mesin mobilnya sepenuhnya, lalu menyerongkan tubuh untuk menghadap Kaelix.

"Coba jelasin tadi tiba-tiba nyosor gue trus bilang udahan tuh konsepnya gimana?"

"So there's one TikTok video—"

"Of fucking course ...."

"Shut up. It's called kissing your homie to see their reaction or something like that."

"Oke ... terus gimana?"

"Apanya?"

"Udah dapet belum hasil reaksi eksperimen yang dimaunya?"

"Nggak ada hasil-hasilan sih. Nyosor aja udah."

Seible mendengus.

"Udah? Gitu aja?"

"Ya ... iya?"

"Kok udah? Lagi dong ... yang banyak."

Percakapan ini konyol.

Kini, ada sesuatu yang berbeda dari obrolan Seible dan Kaelix dibanding biasanya. Ada nuansa saling merayu di dalamnya yang entah keduanya disadari atau tidak. Tidak ada yang menghindari celetukan satu sama lain. Keduanya sama-sama cari mati di sini.

Kaelix menyukai ini.

"Jadi, selalu ada kemungkinan yang dicium ngehindar atau ngomel atau minimal ngegeplak temennya yang inisiatif nyium duluan."

"I'm not one of them, no."

"Yeah. Gue masih belum lo geplak."

"Lo tau gue orangnya pendendam 'kan ya, Kae?" Seible mendekat ke arahnya.

"Perasaan gue nggak enak." Berkebalikan dengan kalimatnya sendiri, Kaelix mendekat ke arah Seible.

"Bawaannya suka pengen bales." Suara Seible sudah serupa bisikan dan jarak antarwajah mereka sudah hampir tidak berjarak.

Kaelix menggumamkan Orgil yang pelan sebelum memejamkan matanya dan kembali menyambut bibir Seible di atas bibirnya. Ia merasakan telapak tangan Seible bertengger di sisi wajahnya. Ia sendiri kembali mengulurkan telapak tangannya untuk diselipkan ke lehernya. Kemudian Seible menggerakkan tangannya ke tengkuk Kaelix untuk membuatnya menjadi lebih dekat. Setelah saling memetakan bibir atas dan bawah satu sama lain, Kaelix merasakan ada usapan basah yang menyapu bibirnya.

Kaelix tahu ia harus bagaimana. Maka ia memperdalam ciumannya. Kaelix menahan diri untuk tidak tersenyum kala mendengar desahan lega Seible. Tentu ia tahu apa yang Seible mau. Entah ke mana niat kecupan-iseng-iseng-pada-sahabat di awal itu menguap. Karena kini keduanya sudah terlibat dalam kegiatan bersilat lidah—yang harfiah.

"Kae ...," Seible berbisik di atas bibir Kaelix. Keduanya seperti enggan untuk menjauh saat sudah merasakan bagaimana nyamannya menjadi dekat tanpa jarak.

"Mm?"

"More."

Pusing.

Desahan dan erangan terdengar silih berganti, entah suara siapa yang terdengar, Kaelix sudah tidak mampu mengenalinya lagi. Seible mengembalikan ciumannya dengan serius dan sarat akan serangan kini. Kaelix harus menahan diri setengah mati untuk tidak melompat ke atas pangkuan Seible dan mencium lelaki itu sampai kehabisan napas. Ide yang menggoda, tapi ia tidak cukup minat untuk mati karena malu akibat ditegur polisi yang kerap berpatroli. Maka, Kaelix hanya bisa menyalurkan kegemasannya pada remasan di pinggang Seible—yang segera dijawab dengan protesan yang tertutupi oleh bunyi lumatan-lumatan keduanya.

Beberapa waktu berlalu dan keduanya bersepakat untuk memperlambat ritme ciuman mereka sebelum menutupnya dengan kecupan-kecupan kecil sambil diselingi kekehan kecil. Kaelix menggerung protes saat ciuman Seible menjelajah ke rahang lalu ke lehernya. Ia kembali meremas pinggang Seible untuk menyetop pergerakannya berkenalan lebih jauh.

"Sei ...."

"Mm?"

"Mau ngapain?" Kaelix terkekeh sambil sedikit terengah.

"Pengen nyupang satu."

"Nggak usah aneh-aneh. Nanti gue jelasinnya gimana ke orang?"

"Bilang aja ditandain gue?"

Kaelix mengulum senyumnya.

"Friends don't cupang each other, Seible."

"Then don't ...?"

"Exactly."

"Bukan gitu ih."

Keduanya kembali bersandar pada tempat duduknya masing-masing sambil mengembuskan napas panjang. Mereka bersamaan memejamkan mata sambil menengadah. Mungkin tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

"Terus gimana, Sei?" Kaelix menoleh sambil tersenyum malas. Seible menatapnya dengan ekspresi yang sama. Lelaki itu sedang memainkan jemari Kaelix yang ditangkup oleh kedua telapak tangannya.

"Ya gitu. Just ... don't be friends ... can we?"

Ya Tuhan.

Jantung Kaelix masih berdetak riuh. Namun kali ini rasanya menyenangkan. Tidak sepanik tadi.

"Nice idea."

"Ya, 'kan?"

"Mm. Pulangnya ke gue aja gimana, Sei?"

"Mau diapain guenya emang?"

"Mau dikokop ampe pagi gitulah rencananya. You up?"

Seible terbahak.

"I'm so up. Let's go?"

"Let's fucking go."

Kemudian Seible menyalakan kembali mobilnya dan bermanuver untuk kembali ke jalan raya. Kembali ke tujuan mereka sebelumnya: mengantar Kaelix pulang. Tiba-tiba juga Kaelix teringat celetukan sepupu-sepupunya selama ini. Ia mengerang sembari menutup matanya dengan lengan.

"Astaga ... bilang apa gue nanti sama sepupu-sepupu gue ...."

"Kenapa emangnya?"

"Mereka dari lama udah nyumpahin gue bakal ended up sama lo. Tinggal tunggu waktu katanya."

"Oh ya? Pantesan tadi Mas Vanta sama Mbak Klara senyumnya sus banget pas kita foto bareng." Seible menyebut sepupu Kaelix yang hari ini baru menikahi kekasihnya.

"Emang iseng itu penganten."

"Tapi ... lo-nya sendiri ... gimana ...?"

"Gimana apanya?"

"Keberatan nggak ... dianuin sepupu-sepupu lo sama ... gue?"

Seible menggaruk ujung hidungnya yang Kaelix yakin tidak terasa gatal. Lelaki itu harus tahu bahwa ia sangat tidak cocok untuk insecure. Tapi kali ini, Kaelix membiarkannya.

Seible menggemaskan saat sedang salah tingkah.

Kaelix suka.

"Masih in denial so far walau bikin salting dikit. Lo-nya sendiri kalo gue jadiin target challenge dalam waktu lama gitu gimana?"

"Being your homie to kiss to see his reaction ... for life gitu?"

Terdengar seperti ide yang menarik.

"Iya. Mau?"

"Maulah."

Cengiran Kaelix membuat pipinya sendiri pegal. Perjalanan menuju apartemennya terasa lama. Mungkin karena Seible yang tak henti tersenyum sambil menyetir dengan kecepatan kura-kura. Mungkin karena Kaelix terlalu lama menatap jalinan tangannya dan Seible yang bertengger di atas pahanya.

Yang pasti Kaelix ingin segera sampai di unitnya. Berciuman dan membicarakan rencana untuk masa depan berdua dengan sahabat sendiri terdengar seperti hal yang menjanjikan.

Sepertinya sepupu-sepupunya benar soal ia dan Seible.

Kacau.

 

 

 

*

 

 

 

Notes:

Thank you Nath for confirming that the video on insta reels about the said challenge is so kaeble/seilix. They're so cute and fit so well hhhh.

Hope you like this short piece and HAPPY HOLIDAY!