Work Text:
Awalnya kamu menolak keras kehadiran chanyoung. Sebagai sesama peliharaan hybrid tentunya ada rasa posesif atas kepemilikan tempat dan juga atas atensi dari Naka. Kamu berpikir dengan adanya Chanyoung atensi dari Naka untukmu akan berkurang. Kamu tidak suka ide tersebut.
Kamu suka diperhatikan, pokoknya semua afeksi Naka hanya untukmu seorang. Namun, siapa sangka pemilik yang kamu sayangi satu-satunya itu malah membawa pulang peliharaan lain tanpa memberitahumu.
Perdebatan terjadi di antara kamu dan Naka, tentu saja kamu langsung komplain dengan kehadiran Chanyoung.
“Naka, kamu gak bilang-bilang aku dulu sebelum bawa dia!” tunjukmu pada hybrid kucing yang masih setia berdiri di sebelah sofa tempat Naka duduk.
“Maaf, aku kira kamu bakal seneng karena aku bawa temen,” ujar Naka.
Mukamu sudah cemberut, mata berair dan menggigit bibir. Terlihat sekali sedang menahan tangisan di depan peliharaan baru pemiliknya itu, kamu tidak ingin dianggap lemah.
Naka berdiri dan membawamu ke dalam pelukan. Wajahmu terbenam di lehernya dan tangannya mengusap punggungmu untuk memberi ketenangan. Sekali lagi dia meminta maaf, “Maaf, ya. Maaf aku gak nanya pendapat kamu dulu. Nanti Chanyoungnya aku titip di tempat lain, kamu jangan nangis,” tenangnya.
Mendengar itu kamu mendongakkan kepala, menatap wajah Naka. “Beneran?” tanyamu.
Naka mengangguk pelan dan mengusap surai lembutmu pelan, “Tapi dia tinggal di sini dulu, aku gak bisa secepet itu cari tempat buat dia.”
Kamu yang masih terisak membalasnya hanya dengan anggukan kepala. Namun, kamu melirik ke arah Chanyoung. Sebenarnya kamu sedikit kasihan karena adopsi kucing abu itu sepertinya akan dibatalkan. Tetapi kalau Chanyoung tetap di sini, kamu tidak bisa beraktivitas dengan nyaman dan tenang. Kamu akan terus menerus merasa khawatir dan bisa stres oleh hal itu. Jadi, memang lebih baik untuk Chanyoung tidak tinggal di sini.
Chanyoung yang mendengar itu tetap bersikap biasa saja. Ekspresinya datar, tidak sebal ataupun marah. Hal ini sudah biasa bagi Chanyoung, lagi-lagi dia akan dibuang. Sebelumnya Chanyoung juga sudah pernah diadopsi, tetapi dia dikembalikan tiga bulan setelahnya. Katanya Chanyoung seram karena tidak bersikap manja, posesif, perhatian, dan clingy seperti hybrid lainnya.
Chanyoung berpikir, apa kamu tidak suka dengannya karena dia seram? Apa kamu berpikir Chanyoung aneh? Chanyoung tidak mengerti apa yang kamu rasakan, tetapi dia ingin tahu apa isi pikiranmu.
Saat melihat dirimu menangis, ada sesuatu dalam diri Chanyoung yang bergejolak. Chanyoung penasaran tentang dirimu, dia ingin tahu pendapatmu tentangnya. Dia ingin bertanya mengapa kamu tidak suka dirinya. Untuk pertama kalinya, Chanyoung merasakan hal seperti ini. Sepertinya dia terhipnotis oleh tangisanmu tadi.
Setelah sesi tangis menangis tadi, Naka membawamu ke kamar dan menemani hingga kamu tertidur. Sementara Chanyoung dibiarkan duduk di sofa ruang tamu sebelum Naka mengajaknya berbicara mengenai keinginanmu yang tadi.
“Chanyoung,” Naka menghampiri hybrid kucing abu itu dengan dua gelas susu di tangannya. Ia menyodorkan satu gelas ke Chanyoung, setelah hybrid itu menenggaknya baru Naka membuka mulut.
“Maaf ya soal tadi,” ujar Naka sembari membawa dirinya duduk di samping Chanyoung.
Chanyoung hanya menggelengkan kepala pelan, “Gak apa-apa, Kak,” ucapnya. Ia tersenyum kecil, bukan senyuman yang berseri dan bahagia tentunya.
Naka membawa tangan Chanyoung untuk ia genggam, memberikan kehangatan kecil untuknya. “Tenang aja, aku gak bakal balikin kamu beneran kok.”
Mata Chanyoung langsung melebar, dia kaget. “Maksudnya? Bukannya tadi Kak Naka bilang bakal taro aku di tempat lain?”
Naka tersenyum kecil, “Iya, tapi itu cuma buat nenangin si kucing bentar. Aku sengaja bawa kamu untuk nemenin dia, gak mungkin aku balikin kamu Chanyoung.”
“Emang perlu waktu, tapi aku yakin kalian bisa jadi deket kok,” lanjutnya.
Chanyoung membalas ucapan Naka dengan anggukan kepala. Dia senang, setidaknya kali ini dia tidak dibuang walaupun memang dibawa untuk maksud tertentu.
“Bukan berarti aku gak sayang kamu, Chanyoung. Kamu imut dan lembut banget, aku yakin dia bakal suka kamu kayak aku sekarang ini,” ujar Naka.
“Sekarang tidur ya, udah malem. Habisin susunya dulu baru tidur,” lanjut Naka sembari mengelus pelan kepala Chanyoung.
Mulai besok, Chanyoung harus memberanikan diri untuk mendekati kucing putih kecil itu. Dia harus istirahat untuk mengumpulkan energi dan memikirkan cara agar kamu bisa senang dengan kehadirannya.
Mungkin awalnya Chanyoung berpikir begitu untuk mempertahankan posisinya di kediaman ini, agar tidak dikembalikan ke penampungan. Tetapi, seiring jalannya waktu sepertinya Chanyoung benar-benar ingin untuk menemani dirimu seperti tujuan awal Naka. Chanyoung tidak merasa keberatan kehadirannya belum sepenuhnya diterima oleh dirimu. Rasa keingintahuan yang muncul saat kamu menangis ternyata memang sangat membekas dibenaknya.
Hari Ke-1
Biasanya kamu bangun cukup pagi, tetapi kali ini kamu melewati waktu berangkat Naka saking lelahnya menangis semalam. Saat keluar dari kamar, yang pertama dirimu dengar adalah kebisingan yang tidak biasa.
Langkahmu terbawa ke ruang makan, di situ matamu menangkap sosok Chanyoung sedang menata makanan yang sungguh terlihat menggugah selera. Namun, kewaspadaan dirimu tetap dalam level tertinggi.
“Hai, selamat pagi,” sapa Chanyoung. Kamu hanya membalas dengan anggukan kecil, tidak berniat bersikap terlalu ramah dengannya. Tetapi kamu salah fokus dengan bulu pada kuping kucing Chanyoung yang terlihat sangat lembut. Ingin rasanya kamu menyentuh kuping itu, membayangkan betapa halus dan lembutnya.
Kamu terdistraksi sebentar, tetapi segera menyadarkan diri dan duduk di salah satu kursi meja makan. Melihat kembali hidangan yang disajikan kamu jadi bertanya, “Ini makanan dari mana?”
Chanyoung tersenyum, dia senang karena kamu membuka suara duluan. “Aku yang masak. Kak Naka bilang kamu suka seafood jadinya aku masakin ini,” jawabnya.
Melihat senyum Chanyoung yang manis dan juga suaranya yang sangat lembut membuat dirimu merasa bersalah karena ingin mengusirnya. Tetapi kamu lebih kaget lagi fakta bahwa hybrid kucing abu yang sedang duduk di hadapanmu ini bisa memasak berbagai hidangan yang kelihatannya sangat lezat. Tidak perlu diragukan lagi, tampilan dan wanginya membuat perutmu meronta minta ingin segera mencicipi makanan-makanan itu.
Piring dan alat makan sudah tertata rapi, tanpa lama tanganmu langsung bergerak untuk mengambil makanan yang tersedia. Tetapi sebelum itu Chanyoung menyodorkan segelas air hangat ke hadapanmu. “Minum dulu, kamu baru aja bangun,” ucapnya lembut dengan tatapan hangat yang mengarah ke dirimu.
Hal itu membuatmu tercekat, tidak menyangka hal kecil seperti ini sampai dilakukan Chanyoung. Kamu sedikit gelagapan, mengambil gelas dari tangan Chanyoung. Tanpa sengaja jari-jari kalian bertemu sekilas, meninggalkan bekas hangat sesaat.
Setelah itu, kalian segera menyantap hidangan yang tersaji. Benar saja, masakan buatan Chanyoung terasa sedap. Kamu jadi ingin memakannya terus menerus, membuatmu ketagihan dengan rasa yang nikmat ini.
Sesudah makan, tanpa lama Chanyoung langsung mengambil piring bekasmu dan membawanya untuk ia cuci. Tidak bisa kamu pungkiri lagi, Chanyoung memiliki pribadi yang attentive. Tetapi itu tidak meluluhkanmu, mendapat perhatian adalah asupan keseharianmu dari Naka. Meskipun tidak sesering itu tetapi setiap harinya kamu selalu disayang dan diperlakukan instimewa olehnya.
Hari Ke-4
Lagi-lagi kamu bangun kesiangan dan Naka sudah berangkat bekerja. Kamu jadi melewati sarapan dengan pemilikmu itu dan harus sarapan dengan Chanyoung. Untung kamu sangat menikmati hidangan yang Chanyoung buat, jadinya kamu tidak protes sedikitpun.
Setelah makan kamu langsung ke ruang tengah untuk menonton televisi, membiarkan Chanyoung membereskan meja makan. Dirimu berbaring di sofa empuk sambil memilih tontonan baru apa yang akan kamu nikmati.
Saat sedang bersantai, tiba-tiba Chanyoung membawakan potongan buah apel. Rupanya berisik-berisik tadi di dapur bukan hanya karena sedang membereskan makanan melainkan ia juga memotong buah untukmu. Potongannya kecil-kecil, pas di mulutmu untuk sekali suap. Tapi sekarang kamu terlalu malas bahkan untuk sekadar menggerakan tangan. Jadi kamu menolak pemberian Chanyoung, “Males,” ujarmu.
Chanyoung beralih menjadi duduk di karpet bulu, tepat berada di depan sofa yang sedang kamu tiduri. “Aku suapin, mau?” tanyanya menghadapmu dengan suara selembut kapas.
Kamu berpikir sejenak, tidak langsung mengiyakan. “Hmm, boleh juga sih. Daripada aku malah gak makan buah atau capek-capek suap sendiri. Kalau ada yang gampang gini, kenapa enggak?” pikirmu.
Akhirnya kamu mengangguk mengiyakan, mulutmu langsung terbuka menyambut suapan dari Chanyoung. Saat dingin dari potongan apel masuk ke mulutmu, senyum kecil terbentuk. Enak, segar, dan tidak repot. Kamu hanya perlu membuka mulut dan Chanyoung akan menyuapimu.
“Manis,” pikir Chanyoung. Padahal bukan ia yang sedang memakan potongan apel itu.
Mereka terlihat sangat natural seakan hal ini sudah seperti kebiasaan sehari-hari. Chanyoung terus menyuapi dirimu setiap mulut terbuka. Di saat kamu fokus ke televisi, mata Chanyoung tidak pernah terputus darimu. Ia sangat fokus dan serius setiap berurusan denganmu. Tanpa sadar pula, ia kembali terpana oleh paras dan sikapmu.
“Yah, udah abis,” ujarmu sedih dengan muka memelas.
“Kalau kamu mau lagi bisa aku potongin.”
Kamu menggeleng dengan kuat, “Udah kenyaaanng,” ucapmu senang. Sekarang kantuk mulai menyapa dirimu dan ingin rasanya segera tidur di kasur yang empuk.
Entah dorongan dari mana, kamu merubah posisi menjadi duduk dan merentangkan tanganmu ke arah Chanyoung. “Ngantuk, gendong,” ucapmu manja.
Chanyoung memiringkan kepalanya dengan senyuman yang tertahan. Dia tidak menyangka kamu akan secepat ini nyaman dirinya. Ia menaruh piring digenggamannya di atas meja, membiarkannya dengan pemikiran akan ia bereskan nanti setelah mengurusmu.
Chanyoung membalas permintaan itu dengan anggukan dan segera berdiri dari tempatnya. Kedua tangannya ia julurkan ke samping kiri dan kanan tubuhmu. Kamu mendekat hingga tubuhmu benar benar ada di rengkuhan Chanyoung.
Dengan dua tangan besarnya ia perlahan dan hati-hati mengangkatmu, membawamu ke dalam gendongan dengan mudahnya. Kedua kakimu otomatis melingkar di tubuhnya yang besar itu.
Berada di pelukan Chanyoung membuatmu dapat menghirup aroma tubuhnya dengan jelas. Tercium aroma musk dan kayu yang lembut, ditambah ada sedikit wangi dedaunan teh yang membuatmu tidak ingin lepas dari dekapannya.
Halangan dari helai pakaian tidak membatasi kehangatan yang kamu dapat dari tubuh Chanyoung. Nyaman. “Senyaman pelukan Naka,” pikirmu.
Chanyoung membawamu ke kamar tidurmu yang ada di lantai dua. Ia membuka kamar dengan satu tangan yang masih menumpu tubuhmu. Saat membuka kamar, Chanyoung langsung disambut dengan kasur berseprai abu yang dipenuhi banyak boneka berbagai macam bentuk dan warna. Sembari masuk, matanya mengamati tiap sudut dari kamarmu dengan intens.
Ini pertama kalinya dia masuk ke dalam kamarmu. Ia kira kamar yang kamu tempati akan heboh dengan banyak furniture dan hiasan mewah, ternyata tidak seperti itu. Tetapi kamarmu tidak simpel juga, ada banyak tempelan gambar dan foto yang menghiasi dinding. Kumpulan art prints yang memenuhi kamar membuat Chanyoung kagum. Rupanya kamu sangat menyukai seni, mungkin hal ini bisa jadi bahan obrolan kalian berdua nanti.
Dengan perlahan dia menempatkanmu di kasur, dengan penuh keberanian dia bertanya, ”Mau ditemenin atau sendiri aja?”
Kamu yang sudah berbaring nyaman di kasur menggeserkan badan, menyisakan tempat yang cukup untuk satu orang lagi. ”Sini, mau tidur sambil meluk Channie,” ucapmu sambil menepuk sisi sebelahmu yang kosong.
Chanyoung menggigit bibirnya, menahan diri dari keimutan yang datang dari dirimu. Entah apa yang terjadi, tetapi sepertinya hari ini kamu jauh lebih terbuka dengan Chanyoung. Dapat ia rasakan kemanjaanmu yang berkali-kali lipat lebih keluar dari sebelumnya.
Channie.
Panggilan itu membuat hati Chanyoung berdesir. Ada kehangatan yang ia rasakan menyeruak dalam tubuhnya. Ia rasa kupingnya memerah sekarang.
Mengesampingkan perasaan itu, akhirnya Chanyoung membawa dirinya untuk berbaring disebelahmu. Kamu langsung mendekat, tanganmu tanpa aba-aba memeluk tubuh besar Chanyoung. Membenamkan kepala di lehernya, tubuhmu mencari kembali kehangatan yang tadi kamu rasakan.
Dari jarak sedekat ini, dengan kepalamu yang menempel di dagunya, wangi bayi tercium dari rambut fluffy-mu. Chanyoung menggesekan hidung mancungnya di rambutmu, mencoba menikmati wangi dan kelembutan itu lebih jauh. Tangan kanannya terbawa untuk mengusap kepalamu, membuat tubuhmu semakin mendusel mendekatnya.
Dengan kehangatan yang mereka dapatkan dari satu sama lain membuat keduanya tertidur tanpa lama-lama.
Sorenya, kamu terbangun dengan posisi berada di dalam rengkuhan Chanyoung. Karena sangat nyaman, kamu rasanya tidak ingin pernah lepas dari dekapannya. Badanmu semakin mengeratkan pelukan ke tubuh Chanyoung, mendusel lebih dalam ke tubuhnya.
Tanpa sadar gerakan yang sedari tadi dilakukan ternyata membangunkan si pemilik tubuh besar dari tidurnya. Masih dengan badan memelukmu, suara dengkurannya Chanyoung menyapa indra pendengaran.
“Udah bangun?” tanyanya dengan suara berat dan serak khas bangun tidur. Kamu langsung menyembunyikan muka di ceruk lehernya, merasa malu oleh situasi yang sedang terjadi ini.
Hal itu membuat Chanyoung tertawa kecil, menurutnya kamu sangat imut ketika sedang merasa malu-malu. Dapat ia lihat semburat merah di pipi dan kuping yang perlahan muncul.
Di dalam cerukkan leher Chanyoung, kamu hanya mengangguk kecil. Memukul pelan dada Chanyoung dengan tangan mungilmu, mengisyaratkan kemaluan dan peringatan untuk Chanyoung agar jangan tertawa.
Dengan tangan kirinya yang berada di belakang lehermu sebagai tumpuan, Chanyoung membawa kepalamu untuk menghadapnya. Menggunakan tangan dengan jari-jari panjangnya untuk mendekap wajah imutmu menatap matanya, dan kamu hanya memejamkan mata karena terlalu malu untuk melihat Chanyoung.
“Kenapa tutup mata gitu?” tanyanya.
“Malu.”
“Kenapa malu?”
Kamu tidak bisa menjawab, terlalu gugup dan bingung sepertinya.
“Hm? Tadi kamu panggil aku Channie. Inget gak?” kamu hanya bisa mengangguk sebagai jawaban, tetapi kini matamu tidak lagi terpejam.
“Coba panggil lagi,” pinta Chanyoung.
Refleks bibir bawahmu tergigit, rasanya jantungmu berdegup kencang entah karena apa.
“C-channie…,” panggilmu dengan suara kecil dan wajah yang berpaling dari hadapannya.
“Lagi,” ujar Chanyoung, membawa wajahmu kembali menatapnya dan menahannya.
“Channie.”
Chanyoung tersenyum seri, tidak pernah ia rasakan sesenang ini ketika ada yang memanggilnya. Panggilan darimu adalah pengecualian pertama dan satu-satunya. Ketika dipanggil oleh suara kecilmu rasanya darah berdesir hangat menjalar ke seluruh tubuhnya dan jantung semakin berdegup kencang.
Sepertinya, kamu bukan satu-satunya yang merasakan perasaan aneh dan tidak biasa ini.
Hari Ke-7
Seperti sebelum-sebelumnya, kamu bangun dan langsung ke ruang makan untuk menyantap hidangan lezat buatan Chanyoung.
Setelah itu, karena sudah selesai dengan urusanmu, kamu berniat untuk kembali ke kamar karena tidak ingin berlama-lama dengan Chanyoung. Masih mencoba untuk mengusir si hybrid kucing lain dari rumahmu dan Naka. Tidak ingin membiasakan diri dengan kehadirannya.
Tetapi sebelum kamu pergi dia menahanmu dengan pertanyaan. “Kamu gak mau nonton TV? Bukannya biasanya nonton dulu sebelum balik ke kamar?” tanyanya. Ternyata Chanyoung cukup memerhatikan kebiasaanmu sedari awal dia datang ke rumah ini.
Kamu tidak biasa mendapat perhatian sampai ke hal-hal kecil sebegininya. Ya, kamu memiliki Naka yang sangat memanjakanmu. Tetapi pemilikmu itu cukup sibuk sehingga sehari-hari biasanya kamu hanya sendiri dan tidak diperhatikan sesering ini.
Mulai dari hal kecil seperti menyiapkan minuman dan makanan, memotongkan buah, menyuapi, bahkan sampai menemani dirimu tidur siang.
Hal-hal yang jarang kamu rasakan ini ternyata menyenangkan juga. Kamu mulai merasa kehadiran Chanyoung tidak seburuk itu jika dia memang seperhatian ini. Apakah kamu sebenarnya sudah mulai bisa menerima Chanyoung? Sepertinya hal ini harus kamu bicarakan dengan Naka nanti.
