Work Text:
Living room rumah keluarga Choi-Yoon sore itu berantakan seperti biasa. Bekas makan malam masih ada di meja, mainan berserakan di karpet, dan delapan bocah dengan energi sepertinya baru habis separuhnya. Jeonghan, dengan tubuh rampingnya yang menyandarkan diri di tubuh besar Seungcheol di sofa, mendengarkan suara-suara riuh itu sambil jarinya dengan santai memainkan otot lengan suaminya. Gede banget, pikirnya. Dan seksi banget malem ini.
"Appa, Jihoon ambil mobil-mobilanku!" teriak Soonyoung, si kembar kedua yang energik.
"Ihhh! Orang mobilan nya aja punya aku! Appa yang beliin pas itu!" bantah Jihoon, sambil memeluk sekumpulan mobil kecil.
Junhui cuma ngeloyor perhatian, mencoba menyeimbangkan bantal di atas kepalanya. Wonwoo sudah asyik dengan buku gambarnya di pojokan. Jisoo, si sulung, pura-pura dewasa mencoba melerai Jihoon dan Soonyoung. Sementara trio bungsu, Seokmin, Mingyu, dan Minghao, sedang asyik berperang bantal dengan volume yang... luar biasa keras.
Seungcheol cuma mendengus, matanya hampir terpejam. Tangannya yang besar terbuka di sandaran sofa, melindungi ruang di mana Jeonghan bersandar. "Sudah, sudah, tenang dikit. Baru habis makan," gumamnya.
Tapi Jeonghan nggak dengar. Pikirannya melayang. Melihat Seungcheol yang besar dan kuat ini, yang sudah berhasil dia hamilin tiga kali—dan tiap kehamilan hasilnya... produktif banget (kecuali kehamilan pertama). Karena alasan yang sangat jelas: suaminya ini terlalu menarik buat diabaikan. Jari memencet-mencet lengan Seungcheol itu berubah jadi pijitan kecil yang agak iseng.
"Hamil pertama," bisik Jeonghan tiba-tiba, jarinya nelusur ke bahu Seungcheol. "Hasilnya satu, Jisoo." Dia melirik ke arah Jisoo. "Terus hamil kedua... Empat. Junhui, Soonyoung, Wonwoo, Jihoon." Seungcheol udah mulai waspada. "Terus hamil ketiga... Seokmin, Mingyu, Minghao."
"Jeonghan-ah..." Seungcheol mulai ngerasain vibe aneh.
Jeonghan langsung nyelonong, muka innocent banget. "Cheol, mau punya anak lagi nggak?"
"HAH? MAKSUD? Seungcheol langsung melek, duduk tegak. Suaranya bikin semua anak pada kaget.
"Appa, kenapa?" tanya Junhui.
Jeonghan malah senyum-senyum manis, liat ke semua anaknya yang pada bengong. "Nih, kita tanya anak-anak juga yuk! Siapa yang mau punya adik lagi?"
Hening
"MAU!" teriak Soonyoung langsung melompat, hampir menabrak Junhui.
"Aku mau adik cowok!" seru Mingyu, ikut melompat-lompat.
"Aku mau adik cewek! Aku bosen punya adik cowok!" sahut Jisoo dengan mata berbinar.
"Tambah lagi? Nanti rumah jadi penuh," kata Wonwoo dengan logika nya, sementara Jihoon cuma mengangguk setuju dengan Wonwoo.
Junhui bingung, lihat kiri kanan. "Kalau ada adik baru... aku masih jadi yang paling ganteng?"
"Adik bayi lucu! Bisa nyanyi buat dia!" Seokmin bersorak, sudah mulai menyanyikan lagu pengantar tidur dengan volume penuh.
Minghao yang biasanya kalem ikut merengek, "Aku nggak mau jadi bungsu lagi! Aku mau jadi kakak!"
Living room yang tadi sudah riuh sekarang jadi seperti pasar. Pertanyaan satu itu telah membuka banjir bandang permintaan, debat, dan ekspresi kekhawatiran.
Seungcheol liat ke Jeonghan yang mukanya kayak orang jackpot judi. Dia tarik napas dalem-dalem. Ini mah alesan doang. Jeonghan cuma lagi sagne parah. Dia tau banget maksud "punya anak lagi" di mulut Jeonghan itu 90% prosesnya, 10% hasilnya.
"Gimana, Cheol? Demokrasi loh suara terbanyak menang," desis Jeonghan manis, tangannya udah nakal narik-narik tali celana Seungcheol.
Seungcheol merem melek, liat ke delapan muka kecil yang pada penuh harap. Dia liat lagi ke Jeonghan, yang matanya berkobar-kobar.
Dia akhirnya menghela napas panjang, sambil nangkep tangan Jeonghan yang usil.
"Dasar… kamu itu alesan banget, Hannie," desis Seungcheol akhirnya, cubit paha Jeonghan yang deket. "‘Mau punya anak’ apanya? Kamu yang lagi sagne aja kali."
Jeonghan cengengesan makin nakal, lalu bisik ke telinga Seungcheol. "Terus? Gak boleh? Suamiku… seksi banget malem ini~"
Seungcheol meringis, tapi pipinya rada kemerahan. Dia merangkul semua anak yang ada di deketnya. "Udah dulu, udah! Tidur! Ayok anak-anak gosok gigi dulu!"
Rumah langsung kembali rame dengan protes, rengekan, dan derap kaki kecil. Tapi di tengah keriuhan itu, Seungcheol cuma bisa geleng sambil liat Jeonghan yang masih senyum-senyum sok polos.
Dia dah tau. Besok malem, atau lusa, atau kapan pun Jeonghan nanya lagi dengan alesan yang sama… ya elah. Siap-siap aja rumah ini makin rame.
