Work Text:
Sosok yang sedang berdiri itu bernama Nam Yejun. Usia tidak diketahui. Asal tidak diketahui. Hubungan kerabat terdekat tidak diketahui. Alat komunikasi tidak ada. Hal yang diingatnya hanyalah ia sebelumnya berlari dari satu tempat ke tempat lain, lalu memasuki sebuah portal berwarna putih terang yang tiba-tiba muncul di tengah terowongan.
Begitu katanya setelah ditanyai pertanyaan-pertanyaan sederhana. Namun, hal itu tetap membuat Yejun bingung. Kebingungan yang pertama, nama dan wajah mereka sama. Sama persis. Kedua, Yejun memang sedang melakukan eksperimen seperti biasa, tapi ia tidak menyangka bahwa kegagalan di eksperimennya dapat memunculkan sosok lain dirinya. Ketiga, ia masih tidak yakin, hanya saja ada kemungkinan bahwa Nam Yejun adalah dirinya di semesta yang lain. Seperti sebuah buku yang pernah ia baca tentang keberadaan lain dari diri sendiri yang muncul di belahan semesta lain dan memiliki kehidupannya sendiri. Dengan kata lain, kehidupan di dunia paralel. Terdapat sebuah teori yang mengemukakan bahwa semesta tempat kita hidup saat ini hanyalah satu dari sekian semesta yang sedang bekerja di saat yang bersamaan, tapi dengan linimasa dan situasi berbeda.
Begitu yang Yejun pikirkan saat ia melihat Nam muncul. Nam yang mengenakan celana pendek hitam, sepatu hitam, kemeja putih, dalaman putih, serta dasi hitam yang tidak diikat di lehernya. Sebuah hal yang Yejun lihat dari buku kini terbukti kebenarannya melalui eksperimennya sendiri. Teori dunia paralel itu tidak lagi menjadi sebuah teori yang akan selalu dipertanyakan.
Yejun yang telah menjadi peneliti selama belasan tahun dan menemukan hal baru seperti ini menjadi menemukan alasan baru untuk tetap melanjutkan eksperimennya. Ia memberikan banyak pertanyaan pada Nam. Mengulik lebih jauh seperti apa dunia Nam itu. Seperti apa kondisinya, bagaimana waktu yang terjadi di sana, bagaimana kehidupan di dunianya, hingga apa yang orang-orang di dunia Nam biasa lakukan di kehidupan sehari-hari. Semua benar-benar Yejun kulik, menghabiskan hari demi hari hingga berganti jadi bulan demi bulan sembari mencari tahu bagaimana cara untuk Nam kembali ke dunianya.
Eksperimen demi eksperimen telah mereka lalui. Buku demi buku, mulai dari yang tipis hingga tebal bahkan sampai meminjam buku di tempat Noah, telah mereka baca. Buku-buku bacaan yang bersifat fiksi pun telah mereka baca dan sempat meniru beberapa cara dalam buku tersebut. Spekulasi demi spekulasi pun telah mereka utarakan. Sampai pada titik hampir mencelakai Nam saat melakukan sebuah eksperimen yang cukup ekstrim. Banyak hal telah mereka coba, tapi Nam tak kunjung dapat kembali ke dunianya, ke tempat asal yang bahkan Yejun sendiri tidak tahu di mana letak persisnya. Sebuah dunia yang Yejun anggap aneh karena perbedaan mencolok antara dunianya dan dunia tempat Nam seharusnya berada.
Helaan napas yang berat, kantung mata yang cukup gelap, dan tatapan sayu yang muncul dari sorot mata keduanya menunjukkan betapa kerasnya mereka dalam mencari sebuah jawaban dari misteri ini. Hingga pada suatu waktu, Nam mengatakan sebuah hal yang cukup gila. Bahkan menurut Yejun itu sangat gila. Hal itu merujuk pada sebuah buku fiksi yang sempat mereka baca sekilas, tapi tidak dipikirkan terlalu jauh karena konten yang ditunjukkan sangat tidak masuk akal. Dalam buku tersebut, seorang tokoh wanita melakukan ciuman dengan tokoh pria dan secara ajaib tokoh wanita tersebut tiba-tiba berpindah tempat. Penjelasan pada cerita selanjutnya, saat Nam baca kembali, tertulis bahwa si tokoh pria telah dikutuk oleh seorang wanita yang ingin menikahi tokoh pria tersebut.
Sangat tidak masuk akal, ‘kan?
Memang. Sangat tidak masuk akal bisa berpindah tempat hanya dengan ciuman. Namun, itulah yang diusulkan oleh Nam pada Yejun. Sesuai yang Nam pikirkan sebelum mengusulkan idenya, Yejun jelas menolak ide tersebut. Alasan yang pertama, aneh menurutnya kalau harus berciuman dengan dirinya sendiri. Jelas mereka tidak bisa meminta bantuan pada orang lain karena keduanya sepakat untuk menyembunyikan masalah ini dari teman-teman Yejun. Kedua, belum tentu Nam akan kembali ke dunianya. Ketiga, cara yang diusulkan berasal dari cerita fiksi. Tentu saja semua hal dapat terjadi apabila telah memasuki dunia fiksi. Keempat, Nam sudah gila.
Gila. Semua dunia gila. Semesta pun ikut gila, pikir Yejun.
Yejun terus menolak, tapi Nam kebalikannya. Ia terus meyakinkan Yejun untuk mencoba cara itu. Katanya ia akan coba untuk memikirkan tentang dunia aslinya saat mereka berciuman. Yejun memang menolak, tapi di sisi lain ia juga kasihan. Mereka sama-sama sudah putus asa, bingung, dan kalut. Namun, ide tentang mencium seseorang yang merupakan dirinya sendiri dari dunia berbeda, membuat Yejun merinding. Ide lain disampaikan. Nam bilang bahwa Yejun tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya perlu diam dan kalau mau bisa menutup matanya. Nam yang akan bergerak. Sebuah ide yang cukup bagus, meski tetap harus berciuman.
Yejun mempertanyakan kemungkinan berhasilnya rencana ini. Jelas ia ragu. Ide ini muncul secara tiba-tiba, tanpa adanya dasar teori atau bidang keilmuan manapun. Hanya berdasarkan cerita fiksi yang jelas-jelas merupakan hasil dari imajinasi manusia. Kebenarannya tidak bisa terbukti sama sekali oleh jenis penelitian apapun.
Berpikir cukup lama telah dilakukan sebelum Yejun mengambil keputusan untuk menyetujui ide Nam itu. Dia juga menegaskan bahwa tidak akan bergerak sedikitpun dan membiarkan Nam yang akan melakukannya. Nam tidak masalah, ia pun setuju. Nam juga tidak masalah jika gagal. Toh, tinggal perlu mencari cara lain dan mencobanya.
Yejun melepas jas labnya terlebih dulu. Menyeret kursi ke tempat yang lebih luas, lalu mendudukinya. Mempersiapkan dirinya menerima ciuman dari dirinya sendiri yang berasal dari dimensi lain. Jantungnya berdegup kencang, matanya ia pejamkan dengan sangat erat, kedua tangannya bahkan mengepal di atas paha, dan punggungnya sungguh sangat kaku serta tegap. Sedikit gemetar dan semakin gemetar ia saat mendengar Nam semakin mendekat. Kakinya yang semula diam, menjadi bergerak-gerak resah saat wajah Nam sudah di depannya.
Jempol Nam memegang dagu Yejun. Mengelusnya lembut agar Yejun tidak lagi merasa gugup. Mencoba memberikan kenyamanan pada pria dengan wajah sama seperti dirinya, tapi mengenakan setelah lab dan berada di dunia yang dipenuhi oleh sihir (Nam diberi tahu oleh Yejun). Nam juga tahu ide ini aneh, tapi dia sendiri sudah sangat ingin kembali ke dimensinya dan menyelesaikan semua hal di sana secepatnya.
Nam sedikit mempertimbangkan bagaimana seharusnya ia mencium Yejun. Hanya menempelkan bibir? Atau sedikit lebih berani?
Sepersekian detik kemudian, ia memutuskan untuk melakukannya seperti opsi yang kedua. Dalam hatinya, ia telah meminta tolong dengan sangat untuk dikembalikan ke dunianya. Perlahan ia coba kecup terlebih dulu bibir Yejun. Kemudian Nam melesakkan lidahnya ke dalam mulut Yejun. Pria yang sedang duduk itu terkejut bukan main, sampai-sampai ia membuka matanya lebar-lebar.
Nam menarik dirinya sendiri hingga sedikit terputus ciuman mereka sebelum melakukan lagi hal sebelumnya. Mengulang-ulang kegiatan tersebut sampai Yejun mulai menggebuk-gebuk punggung Nam karena stop udaranya yang semakin menipis. Nam mengerti sinyal itu, ia melepas ciumannya dan secara tidak sengaja membentuk sebuah tali saliva antara lidahnya dengan Yejun. Keduanya rebutan oksigen dalam kamar Yejun sembari memproses keadaan yang berjalan dan berlalu dengan sangat cepat.
Yejun yang wajah memerah dan masih berusaha menenangkan dirinya usai ciuman tersebut, mempertanyakan keberhasilan metode yang baru mereka lakukan. Namun, tidak ada perubahan apapun setelah mereka ciuman. Terlihat jelas kekecewaan di wajah Nam. Tidak ada yang berubah sama sekali. Bahkan setelah 5 menit sejak mereka berciuman.
Nam berpikir bahwa ia akan langsung kembali usai berciuman seperti yang ada pada buku fiksi. Namun, ia lupa bahwa itu hanya fiksi. Seharusnya tidak berharap lebih pada metode gila yang terinspirasi dari buku fiksi, bahkan tanpa landasan teori atau kajian ilmiah manapun sebagai dasar dari pelaksanaan metode itu. Namun, tidak lama kemudian Nam merasa sangat mengantuk. Akhirnya memutuskan untuk beristirahat di sofa, tempat yang biasa ia gunakan untuk beristirahat.
Melihat Nam yang telah merebahkan tubuhnya di sofa, Yejun membantu dirinya yang berasal dari dimensi lain itu untuk merasa nyaman dengan menyelimutinya. Saat ia hendak pergi ke meja kerjanya untuk melanjutkan penelitian mengenai kejadian aneh ini, mata Yejun melihat pantulan cahaya terang di dinding yang berasal dari belakang tubuhnya. Lantas ia langsung berbalik lagi ke tempat Nam berada.
Mata Yejun membelalak, mulutnya bahkan terbuka lebar, dan tubuhnya mematung sejenak ketika melihat Nam yang tidak lagi berada di sofa. Saking terkejutnya, Yejun sampai berlutut di lantai dan berulang kali mencubit pipinya sendiri.
Jadi, metode ciuman itu berhasil? Nam benar-benar kembali ke dunianya? Melalui ciuman tadi?
Puluhan, mungkin hingga ratusan, pertanyaan muncul di kepala Yejun. Sebuah fenomena aneh yang baru ditemui pertama kali dalam hidupnya terjadi pada dirinya sendiri, diselesaikan dengan cara yang tidak masuk akal dan aneh meski telah melakukan banyak percobaan lain yang didasari oleh teori-teori, serta bagaimana bisa Nam muncul di dimensinya. Semua dipertanyakan, tapi Yejun tidak dapat menemukan jawabannya.
Mengesampingkan Yejun dan pertanyaan-pertanyaannya, Nam justru benar-benar berhasil kembali ke dimensinya. Saat ia terbangun, teman-temannya telah mengelilinginya dan menanyakan apakah Nam baik-baik saja. Satu hal yang membuat Nam terkejut, selain fakta bahwa dirinya kembali setelah ide gila yang diusulkannya, pengulangan waktu di dunia ini ikut berhenti. Hal itu dibuktikan dengan Nam yang bertemu teman-temannya ini. Sebelumnya, ia terus berputar-putar antara sebuah terowongan sembari memegang kamera, lalu dilanjut pada berkumpulnya ia dengan teman-temannya di dalam kereta sembari bersenda gurau, dan berjalan di padang rumput yang luas. Namun, kejadian saat ini tidak terjadi di pengulangan waktu sebelumnya. Ia bahkan mempertanyakan apa yang sedang terjadi. Salah satu dari temannya menjelaskan bahwa Nam telah menghilang selama beberapa minggu setelah pingsan selama tiga hari.
Banyak hal yang membuat Nam dan Yejun kebingungan. Baik itu hal yang ada di dunia mereka sendiri hingga yang terjadi di luar sana. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam kepala mereka tsrus berdatangan, tapi tidak ada satupun yang bisa menjawabnya atau setidaknya membantu mereka menjawab itu semua. Yejun bahkan beranggapan bahwa dirinya telah menjadi gila, tapi ia menganggap itu tidak mungkin. Justru setelahnya ia menganggap bahwa semestalah yang telah menjadi gila. Sangat gila hingga mengutak-atik semua dimensi yang ada.
