Actions

Work Header

for the 6th time.

Summary:

Keduanya berdiri sejenak di sana, memandang lamat-lamat hasil karya mereka setelah hampir seharian menata dekorasi pohon natal, gantungan dan lampu kelap-kelipnya, serta dekorasi besar di sebelahnya. Mingyu tersenyum puas memandang hasil karyanya dan Wonwoo. Sedikit terharu, mengingat bagaimana malam-malam sebelumnya telah ia dan Wonwoo habiskan untuk merancang konsep, membeli dan membuat dekorasi, serta memasangnya, hingga kini ia dapat melihat hasilnya. Proyek ‘kecil’ yang diusulkannya ini, entah bagaimana, telah berubah menjadi proyek yang cukup menyita waktu dan tenaga. Yang tak keduanya sangka adalah bagaimana momen ini justru menjadi sarana refleksi akan kehidupan keduanya.

Atau

Dekorasi, gelap malam, dan percakapan jujur di antara Mingyu dan Wonwoo pada malam natal di pojok ruang tengah rumah mereka.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Min, beneran ganti aja deh.”

“Yang.”

“Serius.”

Pria yang tengah duduk di puncak tangga lipat itu menghela napas panjang. “… Sini kamu aja yang naik, aku yang pegangin tangganya.”

“Oh, tega kamu.”

Baby, I love you but my back can’t handle another one of this.” Mingyu membuat gestur yang besar dengan tangannya.

“… Padahal lebih lucu kalau yang rusa.”

“Kalau ini nggak ganti sampe kelima kalinya mungkin masih aku turutin, sayang. Udahan ya? Pegel, serius.”

Wonwoo memandangi suaminya memanjat turun dari tangga dengan bibir yang mencebik.

“Jangan ngambek, sayang. The snowman suits them well, kok.”

Mingyu mengecup singkat pelipis Wonwoo dan menarik lengannya, membawanya menjauh beberapa langkah dari pojok ruang tengah tempat mereka berkutat sejak tadi siang.

Keduanya berdiri sejenak di sana, memandang lamat-lamat hasil karya mereka setelah hampir seharian menata dekorasi pohon natal, gantungan dan lampu kelap-kelipnya, serta dekorasi besar di sebelahnya. Mingyu tersenyum puas memandang hasil karyanya dan Wonwoo. Sedikit terharu, mengingat bagaimana malam-malam sebelumnya telah ia dan Wonwoo habiskan untuk merancang konsep, membeli dan membuat dekorasi, serta memasangnya, hingga kini ia dapat melihat hasilnya. Proyek ‘kecil’ yang diusulkannya ini, entah bagaimana, telah berubah menjadi proyek yang cukup menyita waktu dan tenaga. Tidak jarang adu mulut terjadi karena perbedaan selera Wonwoo dengan preferensi pribadinya. Ada kalanya ia harus mengalah dan mengikuti keinginan Wonwoo, dan sebaliknya.

Satu hal yang Mingyu ketahui sejak awal, sebelum mereka memutuskan untuk menjadi satu kesatuan, adalah mustahil untuk hidup bersama orang lain tanpa berselisih. Hal yang membedakan antara mereka yang tetap bertahan dari mereka yang memilih berpisah adalah sejauh mana kedua pihak mau saling mengerti dan menyesuaikan diri. Proyek-proyek kecil seperti ini dapat menjadi sarana latihan yang dapat melatih kemampuan mereka untuk saling beradaptasi.

Yah, walau sejujurnya, Mingyu tidak berpikir sejauh itu sebelum mengajak suaminya untuk memasang dekorasi natal di rumah mereka tahun ini. Semua ini hanya diawali oleh sebuah ide yang muncul karena ia melihat konten dekorasi natal pada FYP-nya.

Mingyu melirik ke arah pria berkacamata yang masih berdiri tanpa berkomentar di sampingnya. Matanya berpindah dari sudut satu ke yang lainnya, seakan tengah memindai pemandangan yang ada di hadapannya secara menyeluruh. Bibirnya bergerak selayaknya ketika ia berkontemplasi. Mingyu menahan gelitik yang mengancam untuk menderingkan tawanya.

Ini adalah hal yang penting bagi Wonwoo, untuk alasan apapun itu. Mingyu kembali menyadarinya saat ini.

Ia sempat mengira Wonwoo tidak begitu tertarik dengan kegiatan dekorasi yang diajukannya ketika pria itu hanya terdiam setelah Mingyu dengan bersemangat menceritakan rencana yang dimilikinya. Akan tetapi, hal itu segera terbukti salah ketika Wonwoo hampir selalu meminta Mingyu untuk mampir ke berbagai toko untuk membeli bahan dekorasi saat menjemputnya pulang. Harus diakui, Mingyu sering diam-diam mengeluh dalam hati setiap kali Wonwoo mengambil waktu terlalu lama untuk memutuskan jenis dekorasi yang diinginkannya, karena ia selalu berakhir membeli opsi yang tidak dipilihnya pada kunjungan mereka yang berikutnya. Salah satu contohnya adalah untaian dengan karakter natal yang sejak tadi sore mereka lepas dan pasang pada dinding bagian atas. Dari total 8 opsi yang tersedia, Wonwoo membeli 6 di antaranya pada 6 kunjungan yang berbeda. Dari gambar salju, stoking putih-merah khas natal, bintang, rusa, sinterklas, hingga manusia salju, ternyata tidak semudah itu bagi Wonwoo untuk memilih satu yang paling sesuai.

… Jangan minta Mingyu menceritakan proses panjang yang mereka lalui sebelum akhirnya dapat mereka sepakati untuk menghias pohon natal dengan aksesoris berwarna merah, perak, dan emas.

Mingyu bertanya-tanya, akankah mereka kembali berdiskusi panjang untuk menentukan untaian mana yang harus mereka gunakan, dengan memetakan kekurangan dan kelebihan dari masing-masing opsi?

Setelah beberapa saat, Wonwoo akhirnya mengangguk singkat. Kemudian, ia menoleh ke arah Mingyu yang sejak tadi telah memandangnya, tatapannya sebuah pertanyaan. Dalam hati Mingyu bersorak, merayakan rangkaian kegiatan mendekorasi bertema natal yang akhirnya akan segera berakhir ini.

We did so well, baby.” Tangannya menyelinap ke lekuk pinggang Wonwoo sebelum memberikan sedikit tekanan tanda afirmasi di sana, “this feels like ‘home’”. Wonwoo menghela napas pelan sebelum tersenyum lembut dan mengoreksi ucapannya barusan, “This is ‘home’, Mingyu.”

Kemudian, Wonwoo melakukannya, senyuman yang membuat matanya berubah bak bulan sabit dan hidungnya mengerut lucu. Jangankan merasa frustrasi, kini Mingyu telah melupakan rasa lelahnya dan hanya berpikiran untuk melamar suaminya kembali saat ini juga. Sadar tak dapat memenuhi keinginannya tersebut, Mingyu hanya menarik tubuh Wonwoo mendekat ke tubuhnya sebelum membubuhkan rentetan ciuman pada wajah pria di sampingnya itu.

“Min — Ah, geli. Mingyu, stop — ahaha — what’s gotten into you?” Tawa geli Wonwoo turut menghias suasana ceria di rumah itu, membuat segalanya tentang malam ini terasa begitu sempurna. Tak lama kemudian, Mingyu merasakan wajahnya didorong dengan kuat oleh telapak tangan kekasihnya. Ia mengeluarkan nada tak terima ketika Wonwoo melepaskan diri dari pelukannya. Ia memandangi Wonwoo yang pergi menjauh ke arah saklar dan mematikan penerangan di ruangan tempat mereka berada, menyisakan kerlip lampu pada pohon natal yang kini menjadi satu-satunya sumber cahaya. Wonwoo segera kembali ke sisi Mingyu dan mendudukkan dirinya di atas karpet, menghadap ke arah pohon natal. Pria itu melihat ke arahnya, sebuah undangan nonverbal untuk Mingyu melakukan hal yang sama dengannya. Mingyu dengan senang hati mendudukkan dirinya hingga menempel dengan sisi tubuh Wonwoo.

Mingyu mengamati bagaimana lampu pada pohon natal itu menyala dan padam dalam pola yang berubah-ubah. Terkadang ia berkelip-kelip begitu cepat, terkadang lebih lambat hingga ia dapat melihat gradasi dari gelap menjadi terang, kemudian menyala bergantian antara warna satu ke lainnya. Dekorasi yang tergantung pada pohon natal yang mereka susun memantulkan kerlip lampu pada permukaannya yang mulus.

“Tahu nggak,” Wonwoo tiba-tiba mulai berbicara di sebelahnya. “Dulu waktu kecil, ada masanya aku pengen banget pasang pohon natal yang bisa nyala kayak gini.” Kerlip lampu pohon natal yang menyala dan padam dengan cepat terpantul pada kacamata yang dikenakannya. “Tapi nggak kesampaian, boros listrik kata Papa.” Pria itu tertawa tanpa mengalihkan wajahnya dari cahaya yang ada di hadapannya. Ia memberi jeda sebentar sebelum melanjutkan, “Kasihan ya, padahal anak kecil kalau mau lihat lampunya juga berapa lama, sih? Paling berapa menit terus udah ke-distract yang lain.”

Mingyu teringat akan masa kecilnya sendiri. Natal di rumahnya malah tidak terasa berbeda dari hari-hari pada umumnya. Ia bahkan baru mengetahui beberapa waktu lalu bahwa orang tuanya memiliki pohon sintetis itu, tersimpan rapi dalam gudang selama bertahun-tahun. Mungkin ini lah salah satu alasan sesungguhnya ia mengajak Wonwoo memulai segala hal tentang dekorasi ini.

“Aku nggak pernah terlalu mikirin itu, karena makin aku besar juga nggak ada lagi dekor-dekor kayak gini di rumah.” Ia berhenti sebentar, seakan mengingat-ingat kembali masa lalunya. “Aku nggak kepikir sama sekali, sampai waktu kamu ajak aku buat dekor rumah kita.” Wonwoo menyandarkan tubuhnya pada sisi tubuh Mingyu. “Rasanya kayak dapat kesempatan untuk ‘membalas’ apa yang sebelumnya nggak bisa aku dapatkan.”

Mungkin benar, di dalam gelap, kita lebih mudah untuk mengakui berbagai hal apa adanya. Mingyu meraih tangan Wonwoo masuk ke dalam genggamannya. Ia juga merasakan hal yang sama.

“Mungkin karena itu aku anggap proyek dekorasi ini jadi terlalu serius, sampai cukup boros beli dekorasi ini itu, ngerepotin kita– kamu, terutama, buat bikin semuanya jadi… sempurna.” Wonwoo merefleksikan kelakuannya sendiri selama beberapa minggu terakhir. Wonwoo menautkan jemarinya di antara jemari milik Mingyu.

“Tapi di tengah semua itu, thank you for putting up with me.” Wonwoo kini melihat ke arahnya.

“Kamu mungkin nggak sadar, tapi satu persatu keinginan dalam hidupku, keinginan-keinginan terkecil yang bahkan aku sendiri lupa, satu persatu terpenuhi karena ada kamu.

Mingyu membawa tautan tangan keduanya mendekat ke bibirnya sebelum mengecup tangan kekasihnya sayang.

You’re the greatest gift that I’ve ever received in life.”

Mingyu tak perlu mengatakan apapun untuk membalas ucapannya, karena seluruh keberadaannya adalah bukti dari kalimat yang tak dapat diutarakannya. Ia mengusap ibu jarinya pada punggung tangan Wonwoo yang ia yakini memahami dengan sangat baik perasaannya. Mereka memandangi bagaimana pohon natal itu berkilauan di temaram ruang tengah mereka. Memandangi setiap sisi dari dekorasi yang telah berhasil mereka rangkai menjadi satu, yang secara tidak langsung menjadi simbol harapan yang terpenuhi. Mingyu tidak tahu berapa lama mereka akan duduk di sana di dalam gelap, tetapi waktu adalah milik mereka saja saat ini.

Ia menoleh ke arah Wonwoo yang telah memandangnya dengan mata yang membuat hatinya terasa penuh. Dengan bergetar, ia menangkup wajah kekasihnya itu sebelum menciumnya tepat di bibirnya. Layaknya pasang surut lautan, keduanya melumat bibir satu sama lain tanpa berusaha untuk saling mengambil kendali. Perlahan, tanpa tergesa, keduanya menghidupi detik demi detik, menghargai momen yang mereka ciptakan bersama. 

Mingyu sampai kepada sebuah kesimpulan. Jika memberikan lebih banyak waktu, tenaga, dan sumber daya untuk dekorasi natal semata dapat menambah sedikit saja persentase kebahagiaan Wonwoo; maka untuk seumur hidupnya, Mingyu berjanji untuk terus memberikan segalanya bagi pria itu.

Bahkan, jika itu berarti ia harus mengubah dekorasi yang dipasang olehnya untuk yang ke-6 kalinya.

Notes:

Merry X'mas and Happy New Year, people! May 2026 be kind to all of us (it's not too late to wish for some Minwon selcas on New Year's, is it? 🥹).

Find me on X

Aku akan terus menulis, bahkan di tahun depan! 💐

Series this work belongs to: