Work Text:
Pukul 03.23 dini hari.
Waktu ketika kota ini seharusnya melipat diri dan beristirahat, namun bagi Jaemin Na, dunia justru baru terasa masuk akal.
Ia berdiri di balkon apartemen lantai dua belas, kamera menggantung berat di lehernya seperti jimat pelindung. Angin musim gugur yang membawa aroma daun basah dan aspal dingin menampar pipinya pelan, namun ia tidak bergeming. Matanya, yang dibingkai lingkaran gelap samar, berfokus pada jendela bidik.
Klik.
Suara rana kamera memecah hening. Ia tidak memotret sesuatu yang megah. Hanya pantulan lampu neon binatu 24 jam di genangan air sisa hujan semalam. Baginya, ada kejujuran dalam ketiadaan manusia. Tidak ada topeng, tidak ada suara yang meninggi, hanya cahaya dan bayangan yang berdamai.
Jaemin menurunkan kamera, mengusap lensa dengan ujung kemeja flanelnya. Ia menyesap kopi hitam dari cangkir keramik yang sudah kehilangan panasnya sejak satu jam lalu. Pahit, dingin, dan menenangkan.
Di dalam apartemennya, lampu utama tidak pernah dinyalakan. Hanya ada lampu berdiri di sudut ruangan yang memancarkan cahaya kuning redup, cukup untuk memastikan tidak ada sudut gelap tempat monster—atau kenangan—bisa bersembunyi.
Ia melangkah masuk, meletakkan kameranya di meja kerja yang penuh dengan cetakan foto hitam putih. Matanya menyapu ruangan. Bersih. Terlalu rapi untuk ukuran pria lajang berusia dua puluh tahun yang tinggal bersama pamannya. Tidak ada baju kotor berserakan, tidak ada piring menumpuk. Kekacauan adalah musuh lama yang ia hindari mati-matian.
Ingatannya—pengkhianat ulung itu—sesekali menariknya mundur. Ke sebuah rumah besar dengan dinding-dinding yang terasa seperti es. Di mana suara piring pecah adalah jam beker, dan teriakan adalah lagu pengantar tidur. Jaemin kecil belajar bahwa memejamkan mata adalah tindakan berbahaya. Tidur berarti lengah. Dan lengah berarti tidak siap ketika pintu kamar dibanting terbuka.
Itulah sebabnya, bahkan ketika pamannya—pria pendiam namun hangat yang menyelamatkannya saat ia berusia enam belas tahun—membawanya terbang melintasi samudra ke negeri asing ini, kebiasaan itu tidak tertinggal di bandara. Trauma tidak butuh paspor untuk ikut bepergian.
Jaemin duduk di tepi ranjang. Ia menatap langit-langit kamar. Di sana, terselip cahaya dari lampu jalan menerobos masuk lewat celah tirai, membentuk garis-garis abstrak yang tidak pernah diam.
Bulan Agustus lalu, usianya genap dua puluh. Usia di mana dongeng-dongeng mengatakan separuh jiwamu akan mulai memanggil. Jaemin pernah menertawakan konsep itu sambil membersihkan lensa tele-nya. Siapa yang mau terikat dengan jiwa yang retak seperti miliknya? Ia sudah cukup repot mengurus kewarasannya sendiri tanpa harus membebani orang lain.
Namun, sesuatu telah berubah.
Dulu, jika kelelahan akhirnya menang dan menyeretnya jatuh tertidur, mimpi Jaemin selalu sama: koridor panjang tanpa ujung, suara pecahan kaca yang memekakkan telinga, dan rasa dingin yang menusuk tulang. Klise, tapi menyakitkan.
Tapi sejak bulan lalu, kegelapan itu bergeser.
Jaemin merebahkan tubuhnya, masih dengan pakaian lengkap. Ia membiarkan matanya terpejam setengah, membiarkan kesadarannya hanyut perlahan.
Kini, gelap itu tidak lagi absolut.
Dalam ketidaksadaran yang dangkal itu, ia melihat cahaya. Bukan warna-warni, melainkan ledakan warna putih yang menyilaukan di tengah kanvas hitam. Garis-garis hitam yang tegas dan kasar muncul, membentuk sudut-sudut tajam.
Tidak ada suara. Tidak ada bau. Murni visual bisu.
Namun, ia bisa merasakan emosinya.
Ada kepanikan di sana. Ada rasa sesak yang visualisasikan lewat ruangan kotak sempit dengan jendela besar yang memamerkan langit kosong. Jaemin merasakan jantungnya—atau jantung orang lain yang ia pinjam—berdegup kencang seolah sedang dikejar sesuatu yang tak terlihat. Rasa takut itu murni, namun asing. Itu bukan ketakutan Jaemin akan masa lalu; itu ketakutan orang lain akan masa depan yang tidak pasti.
Jaemin tersentak bangun, napasnya sedikit memburu. Ia menatap jam digital di nakas.
03.38.
Ia meraba dadanya sendiri. Detak jantungnya tenang, ritmis, kontras dengan sensasi sesak yang baru saja ia rasakan dalam tidurnya yang hanya berlangsung lima belas menit.
Ia tahu ia tidak akan tidur lagi malam ini.
Maret adalah bulan yang aneh bagi Renjun Huang. Orang bilang itu awal musim semi, tapi baginya, itu adalah awal dari invasi.
Meja belajar Renjun bukan lagi sekadar tempat mengerjakan tugas kuliah; itu telah berubah menjadi arsip investigasi.
Di antara tabung-tabung cat akrilik yang tutupnya mulai mengering dan remah penghapus, berserakan kertas-kertas sketsa dengan gaya yang tidak konsisten. Ada yang tarikan garisnya lembut khas Renjun, ada pula yang kaku, penuh sudut tajam, dan didominasi arsir gelap—hasil dari tangannya yang bergerak sendiri sehabis ia tersentak bangun di pagi buta.
Renjun menyebutnya "Katalog Dunia Asing".
Ia menyusunnya bukan karena obsesi, melainkan kebutuhan. Sejak ulang tahunnya yang ke-20 bulan Maret lalu, hak istimewanya untuk bermimpi indah direnggut paksa. Tidurnya tidak lagi diisi oleh pemandangan surealis penuh warna yang biasa ia nikmati. Sebaliknya, ia diseret paksa ke sebuah ruang hampa.
Visualnya selalu konsisten: Abu-abu. Hitam pekat. Putih yang menyilaukan mata. Dan perasaan yang dibawa dari mimpi-mimpi itu.
Rasa kesepian yang begitu padat hingga menyesakkan dada.
“Ngelamun lagi!” sebuah suara memecah konsentrasinya.
Donghyuck Lee, teman sekamarnya, melempar bantal kotaknya ke arah Renjun. Mahasiswa Manajemen—yang ‘nyasar’ mendapatkan kamar di asrama fakultas seni alih-alih bisnis karena kehabisan—itu menatap Renjun dengan kening berkerut. “Serius, Njun. Akhir-akhir ini tidurmu aneh. Kamu… bergerak-gerak kaya ulat. Tangan kamu berusaha ngelukis di udara sambil merem.”
Renjun menghela napas, memungut bantal itu. “Cuma lagi mimpi, Hyuck.”
“Lagi mimpi apanya? Kesurupan kali. Habis itu, kamu bangun kaya orang habis lari maraton. Keringatan, napas ngos-ngosan. Kalau bukan karena aku tahu kamu jomblo akut, aku pasti ngira kamu mimpi jorok. Eh, tapi gak perlu punya pasangan untuk—”
Renjun melempar kembali bantal Donghyuck ke empunya, memotong tuduhan aneh sebelum dikeluarkan dan kembali menatap sketsa arang di depannya. Sebuah gambar koridor kosong. Ia tahu ini bukan sekadar bunga tidur. Emosi yang menyertainya terlalu nyata, terlalu asing untuk berasal dari kepalanya sendiri. Ada seseorang di luar sana, seseorang yang meminjamkan matanya pada Renjun saat tidur.
Malam itu, angin November mendinginkan kota Seoul.
Renjun berbaring di kasurnya, menatap kegelapan kamar. Selama berbulan-bulan ia pasif, hanya menjadi penonton bisu dari pameran foto hitam-putih di kepalanya. Namun malam ini, rasa penasarannya membengkak.
Jika orang itu bisa mengirimkan visual kesepian, bisakah Renjun mengirimkan sesuatu balik?
Ia memejamkan mata, membiarkan kesadarannya tergelincir masuk ke fase REM.
Dunia itu kembali. Abu-abu. Statis. Bisu.
Renjun berdiri di ruang hampa yang familiar itu. Kali ini, ia mencoba memegang kendali. Ia tidak mau hanya melihat dinding kosong. Dalam benaknya, ia memvisualisasikan sebuah kuas besar yang berlumuran cat kuning cerah. Warna yang terasosiasi dengan kehangatan.
Lihat ini, batin Renjun.
Ia mengayunkan tangan imajinernya. Di dinding kelabu mimpi itu, ia menyipratkan noda kuning besar. Visual itu menabrak kemonotonan dunia hitam-putih di sana. Kontras. Mencolok. Sebuah teriakan visual yang berbunyi.
Responsnya tidak langsung, tapi pasti.
Ruang mimpi itu bergeser. Cipratan kuning imajinernya perlahan memudar, digantikan oleh sesuatu yang muncul melayang di hadapannya.
Selembar foto.
Di dalam mimpi itu, Renjun melihat foto tersebut dengan kejernihan definisi tinggi. Kertasnya terlihat glossy. Gambar di dalamnya begitu tajam, berbeda dengan kabut mimpi biasa.
Foto itu memperlihatkan sebuah jembatan batu tua yang melengkung di atas sungai. Di sekelilingnya, lampu-lampu jalan antik memendarkan cahaya putih, tapi Renjun bisa merasakan kehangatan balik dari foto itu. Komposisinya tenang, damai.
Itu bukan memori Renjun. Itu adalah pemandangan yang diberikan padanya. Sebuah kartu pos balasan.
Renjun tersentak bangun.
Napasnya tertahan. Kamar asramanya gelap dan sunyi, hanya terdengar dengkuran halus Donghyuck. Tidak ada foto fisik di tangannya. Tapi gambar jembatan batu itu tercetak jelas di ingatan fotografisnya, sesejuk dan senyata ingatan yang baru saja terjadi.
Renjun menyalakan lampu belajar, menyambar pensilnya. Ia harus menggambarnya sebelum detail itu menguap.
Saat ia menggoreskan bentuk jembatan itu di kertas, sudut bibirnya terangkat.
Orang itu tidak marah ruangannya diacak-acak oleh warna kuning Renjun. Dia justru memamerkan dunianya. Sebuah barter visual dalam diam.
Kamar gelap itu berbau asam asetat dan kesunyian. Di bawah pendar lampu merah yang remang, Jaemin mengamati selembar kertas foto yang perlahan memunculkan gambar di dalam bak cairan pengembang.
Bukan foto pesanan klien, bukan pula portofolio untuk pameran.
Gambar itu muncul perlahan: sebuah pohon oak tua yang rantingnya meranggas, berdiri sendirian di tengah lapangan bersalju. Jaemin mengambil foto itu kemarin sore, di sebuah taman kota yang jarang dikunjungi orang, didorong oleh impuls yang tidak bisa ia jelaskan. Seolah ada jarum kompas di dadanya yang berputar liar, memaksanya pergi ke sana, memaksanya membidik, memaksanya berkata: Lihat ini.
Ia menjepit foto basah itu di tali gantungan, berjejer dengan puluhan foto lain yang ia cetak seminggu terakhir.
Sistem rutin kini terbentuk.
Malam hari, saat ia berhasil mencuri tidur barang satu jam, ia akan melihat coretan. Kadang abstrak—seperti ledakan warna biru yang melambangkan kebingungan. Kadang lebih jelas—sebuah jendela, sebuah kursi. Dan siangnya, Jaemin akan mencari padanan dunia nyatanya.
Jaemin mundur selangkah, mengusap wajahnya yang lelah.
Dalam tidurnya yang terakhir, ada yang berbeda. Di antara kabut abu-abu itu, ia melihat goresan pensil yang ragu-ragu. Garis-garis kasar membentuk bahu yang turun, rambut yang berantakan, dan punggung yang membungkuk menahan beban tak kasat mata.
Itu sketsa seorang laki-laki. Itu sketsa dirinya sendiri.
Meski wajahnya dikaburkan—seolah si pelukis belum diizinkan melihat fitur mukanya—posturnya tidak bisa salah. Jaemin menatap pantulan dirinya di cermin kamar gelap yang buram. Orang di seberang sana mulai melihatnya. Bukan lagi sekadar merasakan kehadirannya, tapi mencoba membentuknya.
Ada rasa takut yang menjalar, tapi anehnya, rasa itu tidak membuatnya ingin lari. Jaemin justru ingin kembali tidur, ingin berpose lebih lama dalam ketidaksadaran itu, agar si pelukis bisa menyelesaikan gambarnya.
Aroma biji kopi hangus dan suara mesin espresso yang mendesis memenuhi udara kedai kopi di belakang kampus. Renjun duduk di sudut, mengaduk Iced Americano-nya dengan sedotan sampai es batunya berdenting nyaring.
Di hadapannya, buku sketsa terbuka. Halaman itu penuh dengan tarikan garis grafit yang ditekan kuat.
"Jadi..." Donghyuck memulai, mulutnya penuh dengan croissant cokelat. "Kamu bilang hantu itu sekarang jadi muse kamu?"
Renjun tidak langsung menjawab. Matanya terpaku pada gambar yang sedang ia kerjakan: sebuah siluet laki-laki yang memegang benda kotak di depan wajahnya—mungkin kamera. Renjun menggambarnya berdasarkan insting. Ia tidak pernah melihat wajah orang itu dalam mimpi, hanya merasakan bobot kehadirannya. Rasa lelah yang menguar dari sosok itu terasa begitu pekat, seolah ia memikul langit sendirian.
"Bukan hantu, Hyuck," koreksi Renjun, suaranya pelan. "Dia nyata. Aku bisa ngerasain itu. Semalam aku kirim gambar sketsa acak dia, dan tadi pagi..." Renjun berhenti, mengurungkan niatnya. Menjelaskan bahwa ia "menerima" memori visual tentang pohon oak di salju akan terdengar gila.
"Dan tadi pagi apa?" desak Donghyuck.
"Tadi pagi perasaanku... lega. Kayak ada yang bilang 'terima kasih'."
Donghyuck menelan kunyahannya dengan susah payah, lalu menatap temannya dengan pandangan prihatin yang dibuat-buat. "Njun, dengar ya. Aku tahu tugas akhir bikin stres. Aku juga tahu menjadi jomblo di usia dua puluh itu berat, apalagi lihat orang lain pamer tanda jodoh di jidat atau tangan yang aku benci setengah mati—karena, helo? tanda ikatan jiwa? Jaman sekarang? Ha. Siapa peduli—Tapi ini? Ini udah level drama televisi."
Renjun memutar bola matanya, akhirnya menusuk croissant milik Donghyuck dengan garpu sebagai bentuk protes.
"Kamu nggak ngerti. Ini beda sama cerita orang lain yang romantis-romantisan," ujar Renjun defensif. "Nggak ada bunga-bunga. Nggak ada suara merdu. Cuma sepi. Dia itu... gelap. Tapi dia selalu balas, pakai foto. Dia ada di sana."
"Oke, oke, Tuan Seniman Melankolis," Donghyuck mengangkat tangan menyerah. "Anggaplah dia ada. Terus rencanamu apa? Mau pacaran lewat mimpi? Mau kencan buta di alam bawah sadar?"
Renjun menatap sketsa siluet itu lagi. Ujung pensilnya menebalkan garis di bagian tangan sosok itu. Tangan yang ia bayangkan kuat namun hati-hati.
"Aku cuma mau tahu," gumam Renjun, lebih pada dirinya sendiri. "Kenapa rasanya dia lelah sekali?"
Donghyuck terdiam sejenak, kehilangan bahan ejekan melihat keseriusan di mata sahabatnya. Ia menghela napas panjang, lalu menyedot sisa minumannya.
"Ya sudah. Kalau kamu ketemu dia di mimpi nanti malam, titip salam. Bilang, jangan bikin teman sekamarku gila, atau kuberikan tagihan dokter jiwa ke dia."
Renjun tertawa kecil. Tawa yang ringan, meski hatinya masih berat oleh rasa penasaran yang tak kunjung padam.
-
Malamnya, atmosfer di kamar asrama itu jauh dari kata sunyi.
Donghyuck duduk bersila di kasurnya, laptop menyala terang di pangkuan, sementara Renjun sedang membersihkan kuas di wastafel kecil di sudut kamar. Suara air keran yang mengalir tidak bisa meredam suara Donghyuck yang sedang membaca dengan nada seperti dosen sejarah.
"Coba Njun, baca ini," ujar Donghyuck, matanya memindai layar dengan intensitas yang jarang ia tunjukkan untuk tugas kuliah. "Tentang 'soulmate'. Di saat umur dua puluh tahun, manusia mulai diberikan pertanda selain tato atau jam hitung mundur untuk menemukan jodohnya ketika mereka belum dipertemukan secara fisik."
Renjun mematikan keran, mengibaskan kuasnya yang basah. "Kamu bukannya gak suka hal-hal ikatan jiwa beginian, Hyuck? Katamu itu konsep untuk orang yang tidak percaya diri."
"Gak suka bukan berarti gak boleh baca beginian," balas Donghyuck defensif, jarinya menunjuk layar laptop. "Lihat deh ini salah satu pertandanya: Mimpi."
Renjun berhenti bergerak. Handuk kecil di tangannya diremas pelan.
"Ada yang bisa ketemu satu sama lain di mimpi walaupun gak kenal," lanjut Donghyuck, nadanya merendah, lebih serius. "Oh, ini ada yang bisa dengar satu sama lain dari mimpi. Yang ini juga... Renjun, konon ada yang bisa baca masa depan pasangannya lewat mimpi."
Hening menggantung di antara mereka. Renjun berbalik, bersandar pada pinggiran wastafel. Wajahnya terlihat letih di bawah lampu neon kamar yang berkedip.
"Jadi menurut kamu, yang ada di mimpi aku... soulmate aku?" tanyanya, suaranya terdengar sangsi, nyaris mengejek dirinya sendiri.
"Bisa jadi," sahut Donghyuck, kini menutup laptopnya setengah. "Kamu selama ini gak pernah mimpi buruk segininya, kan? Dan semenjak ulang tahun kamu yang kedua puluh itu, kamu mulai ngalamin ini. Polanya cocok, Njun."
Renjun menatap lantai. "Tapi kenapa mimpi buruk kalau dia pasangan jiwa aku? Bukankah seharusnya indah? Menenangkan? Kenapa rasanya seperti aku sedang dihukum?"
Donghyuck terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya, kehabisan teori dari artikel internet yang baru saja ia baca. Mereka berdua tidak punya jawaban untuk itu.
Takdir, tampaknya, punya selera humor yang gelap. Jawabannya memang tidak diberikan, tapi mimpi itu kembali.
Kali ini visualnya tajam, tidak lagi abstrak. Renjun mendapati dirinya berdiri di seberang jalan sebuah persimpangan yang sunyi. Kabut tebal menyelimuti sekeliling, namun pandangannya terfokus pada satu bangunan di sudut jalan.
Itu terlihat seperti sebuah toko tua atau kafe kecil yang tutup. Dindingnya terbuat dari bata merah yang kusam. Pintu masuknya terbuat dari kayu berat yang dicat hijau tua, namun catnya sudah banyak yang mengelupas, memperlihatkan serat kayu di bawahnya.
Di atas pintu, ada lampu dinding kecil yang memancarkan cahaya kuning redup—satu-satunya sumber penerangan yang melawan dominasi warna abu-abu di mimpi itu.
Renjun melangkah mendekat dalam tidurnya. Matanya menangkap detail yang sangat spesifik: pegangan pintunya terbuat dari kuningan yang sudah pudar, diukir berbentuk kepala singa yang sedang mengaum dengan cincin di mulutnya.
Renjun terbangun dengan detail arsitektur itu terpatri di otaknya.
Tanpa sadar, ia sudah duduk di meja belajarnya. Pensilnya menari di atas kertas sketsa, merekonstruksi gang gelap dan kafe bercahaya sendu itu dengan presisi yang menakutkan. Arsiran batanya, bayangan di trotoar, pendar lampunya—semua ia pindahkan ke atas kertas.
Lukisan itu selesai. Indah, melankolis, dan sangat nyata.
Renjun menatap karyanya. Namum, gelombang frustrasi yang tadi sempat merayap saat mendengar teori Donghyuck, menghantamnya kembali.
Kenapa harus tempat ini? Kenapa harus kesedihan ini? Kenapa ia harus menanggung memori tempat yang tidak pernah ia kunjungi demi seseorang yang bahkan tidak ia kenal?
Apakah semua ini hanya halusinasi? Beban pikiran pra tugas akhir?
Dengan napas tertahan, Renjun mengambil pensilnya lagi. Bukan untuk melanjutkan menggambar. Ia menekan ujung grafit itu keras-keras ke atas kertas, mencoret gambar kafe itu. Garis-garis hitam kasar menutupi keindahan sketsa yang baru ia buat.
Selesai membuat noda, ia melempar pensilnya ke meja, lalu membenamkan wajah ke telapak tangan. Di luar, fajar mulai menyingsing, tapi di dalam hati Renjun, rasanya malam masih panjang sekali.
-
Pukul dua pagi, Jaemin terbangun bukan karena suara, melainkan karena amarah.
Ia tersentak duduk di ranjangnya, selimut terlempar ke lantai. Dadanya naik-turun dengan cepat, dan tangannya mengepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ada rasa panas yang menjalar di dada, sebuah frustrasi yang mendidih, keinginan untuk berteriak atau memukul dinding.
Namun, saat ia melihat sekeliling kamarnya yang hening dan steril, rasa marah itu menguap secepat ia datang, meninggalkan residu kebingungan yang pahit.
Itu bukan amarahnya. Jaemin tahu itu. Ia jarang marah; emosinya sudah lama kebas. Tapi barusan, selama beberapa detik, ia merasakan luapan emosi seseorang yang merasa buntu, terpojok, dan lelah.
Jaemin menyeret langkahnya ke dapur. Di sana, pamannya sedang duduk, kacamata baca bertengger di hidung, ditemani secangkir teh herbal. Pria paruh baya itu tidak bertanya kenapa keponakannya bangun; ia sudah hafal rutinitas kacau Jaemin.
"Wajahmu keruh," komentar pamannya tanpa mengalihkan pandangan dari buku tebal di tangannya.
Jaemin menuang air dingin ke gelas, meneguknya rakus. "Hanya... mimpi buruk."
"Mimpi buruk biasanya membuat orang takut, Jaemin. Tapi kamu terlihat seperti orang yang baru saja kalah berkelahi."
Jaemin meletakkan gelasnya di meja makan. Bunyinya terlalu keras di dapur yang sunyi. Ia menatap pantulan dirinya di jendela dapur yang gelap.
"Akhir-akhir ini rasanya aneh, Paman. Ada hal-hal yang masuk ke kepala. Gambar, rasa sakit, suara bising yang bukan dari sini," Jaemin menyentuh pelipisnya. "Rasanya seperti rumahku dimasuki orang asing, tapi aku tidak bisa menemukan pintunya untuk mengusir dia keluar."
Pamannya menutup buku, menatap Jaemin dengan sorot mata yang sulit diartikan—campuran antara kekhawatiran dan pemahaman yang tertahan. Namun, ia hanya mengetuk teko yang masih menyisakan teh herbal miliknya, menawarkan satu-satunya kenyamanan yang ia tahu bisa diterima keponakannya saat ini.
Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk mengubah rasa penasaran menjadi pengabaian.
Pada tahun pertama, Renjun masih rajin berselancar di internet, mencari makna simbolis dari mimpi tentang ruang hampa dan cahaya putih. Pada tahun kedua, skripsi dan tugas akhir menyita waktunya, membuat mimpi-mimpi itu tergeser menjadi sekadar gangguan tidur rutin. Dan kini, di usia dua puluh lima, Renjun telah berhenti bertanya. Ia menerima mimpi-mimpi bisu itu seperti menerima bercak lahir di punggung tangan; sesuatu yang ada di sana, mengganggu, namun menjadi bagian permanen dari dirinya.
Prancis menyambutnya bukan dengan romansa, melainkan dengan angin lembap yang membawa aroma baguette hangat dan knalpot tua. Ia datang lewat program pertukaran kurator selama satu tahun, sebuah pelarian yang disamarkan sebagai promosi karier.
"Ten, berhenti menjejalkan baju-baju dari butikmu ke lemari Renjun. Dia cuma di sini sampai dapat apartemen sendiri," suara Kun Qian terdengar tenang dari arah dapur, kontras dengan denting spatula yang beradu dengan wajan.
Ten Lee, yang sedang berdiri di atas bangku kecil untuk menjangkau rak atas lemari, menoleh. Lengan kemeja sutranya tergulung sampai siku. Di pergelangan tangan kanannya, sebuah tato tinta hitam terekspos jelas: gambar seekor burung walet kecil yang sedang merentangkan sayap, terbang bebas.
“Aku cuma mau adik sepupumu ini tampil layak, Kun. Paris itu kejam buat orang yang pakai kemeja ala kadarnya,” sahut Ten sambil melompat turun.
Kun masuk ke kamar sementara Renjun, membawa nampan berisi teh, memperlihatkan pergelangan tangan kirinya sendiri. Di sana, tergambar tato sangkar burung dengan pintu yang terbuka lebar.
Renjun menatap kedua tanda itu bergantian. Burung dan sangkar. Pasangan yang sempurna. Tanda itu muncul di kulit mereka saat usia dua puluh, memberikan petunjuk visual yang harfiah dan romantis.
Renjun hanya tersenyum tipis, menyusun buku-buku seni tebalnya di rak kamar tamu apartemen Kun. Sepupunya itu adalah definisi kestabilan—tunangan yang sabar, koki yang handal, dan tuan rumah yang tidak banyak bertanya.
Sudah tiga hari Renjun di sini. Dan selama tiga hari itu pula, ada perasaan ganjil yang terus memantik di belakang lehernya. Sebuah sensasi "klik" yang halus, seolah roda gigi yang lama macet tiba-tiba menemukan pasangannya dan mulai berputar pelan.
Siang tadi, Renjun menghabiskan waktu menyusuri distrik-distrik pinggiran, mencari apartemen sewaan yang sesuai dengan gaji kuratornya. Ia menghindari pusat turis. Ia mencari tempat yang tenang.
Langkah kakinya terhenti di sebuah persimpangan di Arondisemen ke-11.
Di depannya, sebuah bangunan tua dengan cat biru pucat yang mengelupas berdiri miring. Di lantai dasar, ada toko buku bekas dengan tenda kanvas berwarna merah marun yang sudah pudar. Kucing hitam gemuk sedang tidur di balik kaca jendela toko.
Renjun mematung.
Ia belum pernah ke Prancis seumur hidupnya. Ia tidak punya kenalan di sini selain Kun dan Ten. Tapi matanya mengenali letak pot bunga geranium yang pecah di balkon lantai dua itu. Hatinya mengenali lekukan jalan berbatu di depannya.
Aku tahu tempat ini, batinnya. Tapi dari mana?
Ia menepis perasaan itu, menganggapnya sebagai efek jet lag atau déjà vu akibat terlalu banyak melihat referensi arsitektur Eropa di buku kuliah dulu. Ia berbalik pulang dengan langkah dipercepat, berusaha meninggalkan perasaan aneh itu di persimpangan jalan.
Malam harinya, apartemen Kun masih dipenuhi kardus-kardus sisa pindahan yang belum sempat dibuka.
"Ini kotak terakhir," ujar Kun, menyerahkan sebuah kardus yang dilakban rapat dan agak berdebu. "Isinya berat. Buku-buku lama?"
Renjun menerima kotak itu. "Kayanya sih sisa barang dari kamar asrama dulu yang langsung dikirim ke gudang rumah. Ibu pasti masukin asal-asalan."
Dengan cutter, Renjun membelah lakban itu. Aroma kertas tua dan grafit pensil langsung menguar, membawa memori yang tidak ia undang.
Di dalam kotak itu, terkubur di bawah tumpukan majalah seni lama, ada beberapa buku sketsa bersampul hitam. Buku-buku yang sudah bertahun-tahun tidak ia sentuh.
"Katalog Dunia Asing" yang ia buat dengan naif.
Tangannya ragu-ragu mengambil buku sketsa paling atas. Buku dari masa-masa awal mimpi itu datang.
Renjun membukanya secara acak.
Halaman 42. Sebuah sketsa kasar menggunakan arang. Gambar sebuah bangunan tua dengan cat yang ia beri keterangan "biru pucat" di pinggirnya. Ada tenda toko yang miring. Ada detail pot bunga pecah di balkon lantai dua.
Jantung Renjun seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Ia membalik halaman selanjutnya dengan jari gemetar. Sebuah jembatan batu dengan lampu antik—tempat yang ia lewati saat naik taksi dari bandara. Halaman berikutnya, sebuah taman kecil dengan bangku besi yang menghadap ke sungai Seine. Renjun baru berencana ke sana besok berdasarkan rekomendasi brosur wisata.
Renjun terduduk lemas di lantai kayu apartemen Kun. Napasnya tercekat.
Selama lima tahun ini, ia sudah menyerah dan berpikir ia hanya menggambar halusinasi acak. Ia pikir ia sedang menggambar dunia fantasi antah-berantah yang diciptakan oleh otaknya yang stres karena tugas.
Namun malam ini, di bawah lampu apartemen yang hangat, kebenaran itu menamparnya dingin.
Ia tidak sedang berhalusinasi. Selama ini, seseorang telah mengiriminya peta.
Setiap jalan, setiap gedung, setiap sudut sepi yang ia gambar dalam tidurnya bertahun-tahun lalu, semuanya ada di sini. Di kota ini.
Renjun menatap sketsa bangunan biru itu lagi. Goresan tangannya dari lima tahun lalu kini terasa seperti ramalan yang terpenuhi. Ia tidak sekadar pindah negara. Ia telah berjalan lurus menuju pusat labirin yang sudah ia gambar sendiri tanpa sadar.
"Renjun? Kamu oke?" tanya Kun, nadanya khawatir melihat sepupunya memucat di tengah tumpukan barang.
Renjun menelan ludah, menutup buku sketsa itu perlahan seolah benda itu bisa meledak.
"Aku..." Renjun tergagap pelan, matanya menatap nanar ke arah jendela yang menampilkan langit malam Paris. "Aku rasa aku sudah pernah tinggal di kota ini, Ge. Jauh sebelum aku sampai di sini."
Bagi Jaemin, Paris sudah lama kehilangan kilau romantisnya, berganti menjadi kenyamanan yang membosankan namun aman.
Sembilan tahun. Itu waktu yang cukup untuk mengubah kota asing menjadi kulit kedua. Ia hafal di mana ubin trotoar yang goyah di Rue de Charonne, tahu jam berapa tukang sampah akan memaki kemacetan pagi, dan paham bahwa baguette terbaik tidak dijual di toko yang antreannya panjang oleh turis.
Ia berjalan dengan langkah yang efisien—bukan langkah santai pelancong, melainkan langkah warga lokal yang punya tujuan. Mantel trench coat abunya membaur sempurna dengan tembok-tembok batu kapur di sekelilingnya.
"Pagi, Madame Laurent," sapa Jaemin singkat dalam bahasa Prancis yang fasih, nyaris tanpa aksen, saat melewati wanita tua yang sedang menyapu pelataran toko bunganya.
Wanita itu melambai tanpa melihat, sudah hafal suara bariton itu. "Hati-hati, Mon chéri. Lantainya licin."
Jaemin hanya mengangguk, tangannya sigap menahan pintu masuk apartemen tetangganya yang kesulitan membawa belanjaan, membiarkan orang itu lewat dulu, lalu melanjutkan jalannya.
Tujuannya satu: Boulangerie langganannya di sudut blok.
Bangunan itu klasik, bertahan di antara gempuran renovasi modern. Dinding bata merahnya masih kokoh. Pintu kayu berat berwarna hijau tua yang catnya mulai mengelupas di sana-sini menjadi ciri khasnya.
Jaemin mengulurkan tangan, mencengkeram pegangan pintu kuningan berbentuk kepala singa—yang sudah pudar warnanya karena dimakan usia dan sentuhan ribuan pelanggan—dan mendorong pintu itu. Segera setelah lonceng pintu berdenting, pria paruh baya di balik etalase kaca sudah membungkus sepotong pain au chocolat dan menyiapkan espresso ganda di cangkir kertas.
"Wajahmu kurang tidur lagi, Nak," komentar si pembuat roti dalam bahasa setempat.
"Hanya malam yang panjang," jawab Jaemin singkat, meletakkan uang koin pas di atas meja marmer. Ia tidak suka berbasa-basi tentang insomnia kronisnya. Baginya, interaksi sosial di kota ini adalah tarian yang sudah diatur koreografinya: sopan, berjarak, dan efektif.
Ia berbalik untuk keluar, siap kembali ke dunianya yang senyap.
Namun, koreografi pagi itu mendadak rusak.
Tepat di trotoar depan toko, sedikit menyingkir dari pintu masuk agar tidak menghalangi pelanggan, berdiri seorang pemuda. Sosok itu mengenakan pakaian berlapis-lapis, menunduk dalam-dalam, hidungnya nyaris menyentuh buku sketsa lebar yang terbuka di tangannya.
Jaemin berhenti sejenak, menyesap kopinya.
Ada yang aneh. Bukan karena orang itu menghalangi jalan—turis sering begitu—tapi karena posturnya. Bahu yang tegang, kepala yang miring sedikit ke kiri... Jaemin merasa pernah melihat gestur itu. Bukan di jalanan, bukan di foto-fotonya.
Lebih seperti di ruang gelap yang ada di balik kelopak matanya sendiri.
Rasa familiar itu menyengat, seperti mengingat melodi lagu yang ia lupa judulnya. Tapi Jaemin bukan orang yang akan menepuk bahu orang asing hanya karena perasaan déjà vu. Ia menghargai privasi orang lain sebagaimana ia menjaga privasinya sendiri. Ia memilih menggeser langkahnya, berjalan melewati sisi kiri pemuda itu dengan gerakan fluida, berusaha tidak bersinggungan.
Saat ia lewat, matanya sempat melirik sekilas ke buku sketsa yang terbuka itu. Hanya sedetik. Gambar arsir hitam putih. Garis-garis kasar yang penuh emosi.
Jaemin memalingkan muka, mempercepat langkahnya, membiarkan aroma parfum citrus asing yang menguar dari pemuda itu tertinggal di belakang.
Ia tidak menoleh lagi.
-
Napas Renjun tertahan di tenggorokan.
Ia berdiri di depan toko roti itu, matanya berpindah cepat antara halaman buku sketsanya dan bangunan nyata di hadapannya.
Sama persis.
Goresan pensil kasar yang ia buat saat masih berstatus mahasiswa di Korea kini berwujud nyata. Cat hijau tua yang mengelupas itu ada di sana. Dan yang membuat napasnya tercekat adalah gagang pintunya.
Renjun menyentuh kertas gambarnya, tepat di sketsa kepala singa yang tertutup coretan marah. Lalu matanya menatap gagang pintu boulangerie itu. Kepala singa kuningan yang sama. Cincin di mulutnya yang sama.
“Gila,” bisiknya, jarinya gemetar. “Ini gila.”
Saat ia sedang sibuk mencocokkan realitas dengan memori, sensor di tengkuknya tiba-tiba bergetar.
Ada seseorang di belakangnya. Bukan sekadar pejalan kaki lewat. Renjun merasakan bobot kehadiran itu. Sebuah gelombang statis yang membuat bulu roma di tekuknya berdiri.
Renjun berbalik cepat, nyaris menjatuhkan buku gambarnya ke genangan air.
Terlambat.
Orang itu sudah melewatinya.
Renjun hanya menangkap punggung seorang pria jangkung bermantel abu-abu yang berjalan menjauh dengan ritme langkah yang tenang dan pasti. Rambut hitamnya sedikit berantakan ditiup angin. Tidak ada keraguan dalam langkah itu, seolah ia pemilik jalanan ini.
Renjun terpaku.
"Tunggu..." suara Renjun tercekat, hilang ditelan suara klakson skuter yang lewat.
Logikanya berontak. Jangan bodoh, Renjun.
Tapi hatinya berdebar dengan ritme yang menyakitkan. Ia menatap sosok itu sampai menghilang di tikungan, meninggalkan Renjun dengan buku sketsa yang kini terasa jauh lebih berat.
-
Malam itu, Paris tertidur di bawah selimut awan rendah.
Di dua tempat berbeda di kota yang sama, dua kesadaran perlahan hanyut, ditarik oleh gravitasi mimpi yang kali ini terasa lebih kuat dari biasanya.
Mungkin karena jarak fisik mereka yang menipis, atau karena semesta akhirnya bosan bermain petak umpet, kabut abu-abu yang biasanya tebal di dunia mimpi mereka perlahan menyurut. Lantai yang biasanya tidak berujung kini terasa padat.
Jaemin, dalam tidurnya, mendongak. Ia tidak lagi melihat bayangan buram. Ia melihat sosok nyata berdiri lima langkah di depannya.
Renjun, dalam tidurnya, menahan napas.
Visual itu jernih.
Mereka berdiri berhadapan di ruang hampa yang sunyi. Jaemin bisa melihat jelas mata pemuda itu—mata yang menyimpan rasa ingin tahu yang meledak-ledak. Dan Renjun, akhirnya, bisa melihat wajah yang berbagi ruang ini dengannya. Wajah yang tenang, sedikit dingin, namun memiliki sorot mata lelah yang selama ini ia rasakan emosinya di dadanya sendiri.
Tidak ada kata yang terucap. Lidah mereka kelu.
Hanya tatapan. Dua pasang mata yang saling mengunci, mengenali satu sama lain di antara jutaan kemungkinan. Setelah bertahun-tahun berbagi rasa sakit dan sunyi tanpa wajah, akhirnya mereka saling menemukan.
Malam itu, di dunia tanpa suara, mereka tidak lagi sendiri.
Frank, barista merangkap kasir yang sudah mengenal Jaemin selama dia bisa mengingatnya, hari ini terlihat lebih cerewet dari biasanya. Sambil menyusun croissant yang masih hangat ke dalam etalase, ia melirik Jaemin yang sedang menunggu kopinya.
"Kau tahu, Monsieur Na," ujar Frank dalam bahasa Prancis yang cepat, tangannya sibuk membuang remah roti. "Akhir-akhir ini aku sering melihat pemuda Asia lain mampir ke sini. Tapi tingginya dan bahunya lebih... kecil dari dirimu? Dia selalu memesan pain au raisin dan duduk di pojok sana sambil mencoret-coret buku."
Jaemin, yang biasanya hanya mendengarkan sambil lalu, kali ini mengangkat pandangannya.
"Dia sepertinya tinggal di blok sebelah," lanjut Frank, menunjuk ke arah jalanan yang jarang Jaemin lewati. "Dia sering terlihat berjalan ke arah air mancur tua yang rusak itu."
Informasi itu seharusnya tidak penting. Namun bagi Jaemin, itu terdengar seperti koordinat.
Saat ia keluar dari kedai dengan espresso di tangan, kakinya menolak berbelok ke gang tikus yang biasa ia gunakan—jalan pintas yang memangkas waktu lima menit menuju apartemennya. Sebaliknya, ia membiarkan kakinya melangkah ke jalanan berbatu yang lebih lebar, rute memutar yang biasanya ia hindari karena terlalu banyak turis.
Tapi hari ini sepi.
Jaemin berjalan mengikuti insting, melewati deretan toko barang antik yang tutup. Dan di sana, di sebuah pelataran kecil tempat sebuah air mancur kering yang batunya mulai lumutan, ia melihatnya.
Pemuda itu.
Duduk di pinggiran batu air mancur, punggungnya melengkung santai. Sebuah buku sketsa besar terbuka di pangkuannya. Ia terlihat begitu larut, seolah kebisingan kota Paris hanyalah suara latar yang tidak berarti.
Jaemin berhenti di balik bayangan pohon chestnut. Ia tidak mendekat. Ia tidak menyapa. Sifat alamiahnya sebagai pengamat menahannya di sana.
Ada dorongan aneh di dadanya—seolah ia baru saja menemukan potongan puzzle yang hilang di bawah sofa.
Perlahan, Jaemin mengangkat kameranya. Ia tidak membidik wajah pemuda itu. Ia membidik suasana di sekelilingnya: tekstur batu air mancur yang kasar, dedaunan kering di tanah, dan di sudut komposisi, punggung serta sebagian profil samping pemuda itu yang sedang menunduk tekun.
Klik.
Rana kamera menutup dan membuka dalam sekejap, membekukan waktu. Jaemin menurunkan kameranya, menatap sosok itu sekali lagi, lalu berbalik pergi. Ia membawa pulang satu bingkai digital, sebuah bukti bahwa intuisi paginya tidak salah.
Tiga bulan kemudian, Paris sedang basah oleh hujan musim semi yang persisten. Di dalam galeri seni kontemporer di kawasan Le Marais, Renjun sibuk dengan sarung tangan putihnya.
Sebagai kurator tamu, ia bertanggung jawab memastikan pameran seniman lokal berjalan sempurna. Ia mengawasi penempatan lampu sorot, memastikan setiap bayangan jatuh di sudut yang tepat.
"Renjun, bisa tolong cek ruang sebelah?" panggil rekan kerjanya. "Mereka lagi nurunin karya dari pameran fotografi bulan lalu. Siapa tahu ada barang yang tertinggal sebelum kita kunci ruangannya."
Renjun mengangguk, melangkah menuju ruang galeri di sayap kiri.
Ruangan itu sudah setengah kosong. Beberapa pekerja sedang hati-hati membungkus bingkai-bingkai foto besar dengan bubble wrap. Renjun berjalan menyusuri dinding yang mulai melompong, matanya menyapu sisa-sisa karya yang belum diturunkan.
Temanya seputar kesunyian kota. Foto-foto hitam putih dengan kontras tinggi.
Langkah Renjun terhenti mendadak di depan sebuah foto berukuran medium yang tergantung di dekat pintu keluar.
Darahnya berdesir hebat.
Itu foto sebuah air mancur tua yang kering. Tekstur batunya terlihat begitu tajam dan dingin. Namun bukan itu yang membuat napas Renjun tercekat.
Di sudut kanan foto, duduk seorang laki-laki. Wajahnya tidak terlihat jelas, hanya siluet samping dan punggung yang membungkuk di atas buku sketsa. Laki-laki itu mengenakan sweater rajut yang sangat Renjun kenal—karena sweater itu sekarang sedang tergantung di lemari apartemen sewanya.
Renjun melepas sarung tangan putihnya, jemarinya bergerak ingin menyentuh permukaan foto itu, namun berhenti satu sentimeter di udara.
Sudut pengambilan gambarnya... Renjun yakin jaraknya mungkin hanya lima belas meter.
Orang itu ada di sana hari itu. Mengawasinya. Memotretnya.
Renjun segera melihat label keterangan karya di bawah bingkai.
Artist: Jaemin Na.
Nama itu asing. Belum pernah ia dengar. Namun, rasa penasaran mendorong Renjun menoleh ke dinding samping, tempat panel biografi seniman biasanya ditempel. Panel itu belum dicopot.
Di sana, di bawah tulisan About the Photographer, terpampang sebuah foto potret hitam putih.
Seorang pria muda dengan sorot mata tenang, sedikit lelah, namun tajam. Rambut hitamnya sedikit berantakan. Pria itu tidak menatap kamera, melainkan menatap ke samping.
Dunia Renjun berhenti berputar.
Wajah itu.
Itu wajah yang ia lihat di mimpi tiga bulan lalu. Wajah yang muncul dari balik kabut saat dinding mimpi mereka menipis. Dan sekarang, hantu itu punya nama.
"Na Jaemin," bisik Renjun, menguji nama itu di lidahnya. Rasanya familiar, seolah ia sudah meneriakkan nama itu dalam diam selama lima tahun. "Aku menemukanmu."
-
Malam itu, mimpi mereka tidak lagi sunyi.
Bukan ruang hampa statis seperti biasa. Kali ini, dunia mimpi mereka terasa bergetar hebat, seolah fondasinya tidak kuat menahan beban kebenaran yang baru saja terungkap di dunia nyata. Dinding-dinding kelabu di sekitar mereka retak, menjatuhkan debu-debu imajiner.
Jaemin berdiri di sana. Renjun berdiri di hadapannya.
Jarak mereka semakin dekat. Tidak ada lagi kabut yang menghalangi. Jaemin bisa melihat tanda lahir di punggung tangan Renjun. Renjun bisa melihat bulu mata Jaemin yang panjang.
Getaran di sekitar mereka semakin kuat. Langit-langit mimpi mulai runtuh, kepingan cahaya putih menyilaukan menerobos masuk melalui celah-celah retakan. Suara gemuruh rendah mulai terdengar—suara pertama yang menembus kebisuan dunia mereka.
Renjun tahu waktunya tidak banyak. Ia harus memberitahu Jaemin bahwa ia tahu.
Renjun membuka mulutnya. Tenggorokannya terasa kering, kaku karena tidak pernah digunakan untuk bersuara di alam bawah sadar ini. Tapi ia memaksa. Ia menghimpun seluruh tenaganya.
"Na Jaemin."
Suara itu keluar.
Bukan telepati. Itu adalah gelombang suara murni. Serak, namun jelas. Menggema di antara reruntuhan dinding mimpi, memecahkan hukum kebisuan yang selama ini mengikat mereka.
Mata Jaemin membelalak lebar. Keterkejutan murni terpancar di wajahnya. Seseorang memanggil namanya di tempat di mana suara seharusnya tidak ada. Jaemin melangkah maju, melawan guncangan lantai mimpi yang mulai amblas. Ia tidak diam saja. Ia ingin menahan sosok itu. Ia ingin jawaban.
Bibir Jaemin bergerak. Dan untuk pertama kalinya, Renjun mendengar suara itu.
"Tunggu."
Suara Jaemin berat, dalam, dan bergetar. Sebuah bariton yang terasa seperti gema di ruang kosong.
"Siapa namamu?" teriak Jaemin, suaranya terdengar putus asa di tengah gemuruh runtuhan. "Katakan, siapa kamu?!"
Renjun ingin menjawab. Ia ingin berteriak "Renjun! Aku Renjun!".
Namun, sebelum suara Renjun sempat keluar lagi, cahaya putih dari reruntuhan langit-langit menelan mereka. Intensitas pertemuan suara itu terlalu kuat, menghancurkan konstruksi tidur mereka.
Mimpi itu pecah.
Menyisakan Renjun yang terbangun dengan jantung berdebar dan gema suara berat "Siapa namamu?" yang masih berdenging jelas di telinganya.
Cahaya biru dari layar laptop menjadi satu-satunya penerangan di apartemen sewa Renjun. Di luar jendela, Paris sudah gelap gulita, tapi di layar itu, wajah Donghyuck Lee terlihat cerah—mungkin terlalu cerah untuk ukuran orang yang sedang menahan amarah.
Koneksi internet sedikit tersendat, membuat wajah Donghyuck sesekali pecah menjadi piksel kotak-kotak, tapi suaranya terdengar jernih dan penuh emosi.
"...Dan dia bilang begini Jun, 'Masih untung saya bantuin, kalau gak ada saya kamu gak bakal bisa nyelesein ini tepat waktu'. Kayak, WOW," Donghyuck mendekatkan wajahnya ke kamera, matanya membulat dramatis. "Emangnya anda siapa? Tuhan? Kaya aku butuh banget dia."
Renjun terkekeh pelan, mengupas jeruk mandarin dengan santai sambil mendengarkan keluhan rutin sahabatnya. "Lagi? Bukan kamu yang minggu lalu bilang rekan kerjamu itu mulai bisa diajak kompromi?"
"Tarik ucapan itu. Bakar dan buang abunya ke laut," potong Donghyuck cepat. Ia terlihat menghempaskan punggung ke sandaran kursi kantornya yang berdecit. "Kalau aku bisa muter ulang waktu, aku bakal muncul di jaman orang tuanya belum ketemu biar bisa cegah dia dilahirkan. Serius, Njun. Lee Jeno itu cobaan hidup."
Renjun menggeleng-gelengkan kepala, memasukkan seulas jeruk ke mulut. Di seberang benua, Donghyuck tampak memijat pelipisnya seolah keberadaan Jeno menyebabkan migrain permanen.
"Hyuck, kamu jangan sebel-sebel sama dia," goda Renjun, senyum jahil terbit di sudut bibirnya. "Kalau dia soulmate kamu gimana? Kata orang benci dan cinta itu beda tipis."
Reaksi Donghyuck instan. Ia melotot horor, seolah Renjun baru saja mengutuknya menjadi katak.
"Apa???" pekiknya. "Kalau dia soulmate aku, aku tenggelemin kepala aku di toilet—eh jangan, bau. Aku bakal minum obat nyamuk aja sekalian biar aku gak bisa ngerasain jadi soulmate orang sombong, congak, sok tau—"
"Hyuck," potong Renjun, nadanya berubah. Tidak ada lagi nada bercanda. Lembut dan serius.
Donghyuck berhenti di tengah-tengah umpatannya. Ia menyadari perubahan atmosfer itu meski terpisah ribuan kilometer. "Apa?"
Renjun menatap kamera, atau lebih tepatnya, menatap sahabatnya lewat lensa kecil itu. Jemarinya berhenti mengupas jeruk.
"Aku kayanya ketemu soulmate aku deh. Di sini."
Hening sejenak. Hanya suara statis samar dari speaker.
"Hah maksudnya?" Donghyuck mengerutkan kening, wajahnya maju lagi mendekati layar.
"Dia ada di sini. Aku bisa rasain," Renjun meletakkan kulit jeruknya di meja. Tatapannya menerawang sebentar ke arah jendela gelap. "Dan setelah lima tahun, di mimpiku akhirnya dia bersuara."
"Rasain? Kamu belum ketemu langsung?" nada suara Donghyuck berubah skeptis tapi tetap ada penasaran di bawah lapisannya.
"Belum secara resmi sih... tapi aku rasa dia udah nemuin aku duluan. Dan aku harus nemuin dia juga."
"Kok tahu dia nemuin duluan?"
Renjun menarik napas panjang. Mengingat momen di galeri beberapa siang lalu masih membuat jantungnya berdesir aneh. "Dia kayanya fotografer. Dia ngadain exhibit bulan lalu yang aku gak tahu. Tapi pas aku liat salah satu fotonya yang tertinggal di galeri tempatku kerja... aku lihat diri aku di sana. Di fotonya."
Mulut Donghyuck membentuk huruf 'O' kecil. Otaknya yang cepat langsung merangkai potongan puzzle yang selama bertahun-tahun ini berserakan di meja asrama mereka dulu.
"Foto?" Donghyuck bergumam, matanya membelalak sadar. "Itu bisa menjelaskan kenapa selalu ada foto di mimpi kamu. Selama ini dia ngirim karyanya ke kamu, Njun."
Renjun mengangguk keras, menyetujui kesimpulan itu. Rasa lega menjalar di dadanya karena akhirnya ada orang lain yang memvalidasi kegilaan ini. "Itu juga yang aku pikirin. Semua foto pemandangan, jalanan sepi, tempat asing... Dan sekarang aku harus cari tahu Na Jaemin itu siapa dan tinggal di mana."
"Na Jaemin?" ulang Donghyuck, menguji nama itu di lidahnya.
"Iya," jawab Renjun mantap. "Nama itu tertera di galeri fotonya... dan juga muncul, di mimpi.."
Donghyuck terdiam sejenak, lalu senyum miring khasnya kembali muncul, meski matanya memancarkan dukungan tulus.
"Oke. Kalau gitu, lupakan soal Lee Jeno si brengsek itu dulu," kata Donghyuck sambil menunjuk layar. "Tugasmu sekarang cuma satu: cari si tukang foto itu sebelum dia motret punggungmu lagi secara diam-diam. Itu agak creepy kalau dipikir-pikir, tapi ya sudahlah, namanya juga jodoh."
Renjun tertawa lepas. Di Paris yang dingin, dukungan hangat dari sahabatnya terasa seperti selimut tebal.
-
‘Jaemin Na’
Selepas telepon video dengan Donghyuck, Renjun melirik ke secarik sticky note kuning yang bertuliskan nama itu tertempel di sudut monitor laptopnya.
Sederhana, namun memiliki bobot yang mampu membuat jari-jari Renjun ragu di atas papan ketik.
Apartemen sewa barunya hening, hanya ada suara hujan rintik yang mengetuk jendela kaca dan dengung halus hard drive laptop yang sedang bekerja. Renjun menarik napas panjang, lalu menekannya. Enter.
Internet bekerja dalam hitungan milidetik, menyisir jutaan data, dan memuntahkan hasilnya ke layar.
Renjun tidak menemukan akun media sosial yang berisik. Tidak ada Twitter yang penuh keluhan, tidak ada Instagram yang memamerkan menu makan siang atau swafoto di depan cermin pusat kebugaran. Jejak digital Na Jaemin sepertinya setenang orangnya.
Hasil pencarian teratas mengarah ke sebuah situs web portofolio. Domainnya minimalis: https://www.google.com/search?q=njm-archive.com.
Renjun mengklik tautan itu. Layar laptopnya berubah hitam pekat sejenak, sebelum sebuah logo tipis berwarna putih muncul di tengah, diikuti deretan galeri foto.
Renjun terdiam.
Ia merasa seperti sedang berjalan masuk ke dalam mimpinya sendiri, tapi kali ini dengan kesadaran terbuka.
Foto-foto itu, Renjun mengenalnya. Ada foto jembatan batu dengan lampu antik yang pernah ia sketsa lima tahun lalu. Ada foto lorong stasiun kereta bawah tanah yang kosong melompong. Ada foto seekor kucing hitam yang tidur di balik etalase toko buku tua.
Renjun meraih buku sketsanya yang tergeletak di meja, membandingkan gambar arang miliknya dengan foto resolusi tinggi di layar. Sudut pandangnya identik. Pencahayaannya sama. Rasa sepinya serupa.
Perbedaannya hanya satu: Sketsa Renjun penuh dengan tarikan garis yang cemas dan kasar, sementara foto Jaemin terlihat damai.
"Jadi begini cara kamu melihat dunia," gumam Renjun pelan, kursor tetikusnya bergerak menelusuri galeri berjudul Silent Noise. "Bukan menakutkan... tapi tempat istirahat."
Selama ini Renjun mengira mimpi-mimpi itu hanyalah sekedar teror. Ia mengira kekosongan dan warna abu-abu itu adalah tanda depresi atau kesedihan mendalam. Tapi melihat foto-foto ini—yang dikurasi dengan begitu rapi dan penuh perasaan—Renjun sadar ia salah.
Jaemin bukan orang yang terjebak dalam gelap. Jaemin adalah orang yang bersahabat dengan gelap.
Renjun beralih ke halaman About.
Tidak ada foto profil wajah. Hanya sebuah siluet seorang pria yang memegang kamera, berdiri membelakangi matahari terbenam sehingga wajahnya gelap total.
Biografinya pun singkat, ditulis dalam bahasa Inggris dan Prancis: "Na Jaemin. Fotografer lepas berbasis di Paris. Menangkap apa yang terlewatkan saat orang lain berkedip."
Di bawahnya tertera alamat email untuk keperluan bisnis dan lokasi studio yang ternyata berada di Distrik 11—hanya berjarak tiga stasiun metro dari tempat tinggal Renjun sekarang.
Jantung Renjun berpacu. Alamat itu nyata. Orangnya nyata. Dia bisa saja naik kereta sekarang, mendatangi alamat itu, mengetuk pintu, dan berkata, "Halo, aku orang yang mengacaukan tidurmu selama lima tahun."
Renjun mengetikkan sesuatu di kolom email baru. Subjek: Tentang mimpi kita. Isi: Halo, Jaemin. Aku Renjun...
Kursor berkedip-kedip di akhir kalimat, menunggu kelanjutan. Renjun menatap layar itu lama.
Lalu, ia menekan tombol Backspace. Menghapus semuanya sampai layar kembali putih bersih.
Tidak. Tidak begini caranya. Mengirim email terasa terlalu dingin, terlalu korporat untuk sebuah hubungan yang terjalin lewat alam bawah sadar yang intim. Renjun tidak ingin pertemuan mereka menjadi sekadar transaksi digital.
Ia menutup tab browser itu perlahan.
Renjun bersandar di kursinya, menatap langit-langit kamar. Ia teringat suara di mimpinya semalam. Teriakan putus asa dengan suara bariton yang berat:
"Siapa namamu? Katakan, siapa kamu?!"
Renjun tersenyum tipis, jarinya mengetuk meja. Ia mengambil pena, lalu di bawah nama Jaemin Na, di kertas kuning itu, ia menulis satu kalimat kecil: Sampai ketemu di dunia nyata.
Galeri itu riuh rendah oleh suara denting gelas sampanye dan gumam sopan para penikmat seni. Di bawah sorot lampu track light yang hangat, lukisan-lukisan abstrak berukuran raksasa berdiri gagah, seolah menjadi tuan rumah yang sombong.
Renjun, dengan setelan kemeja rapi yang sedikit mencekik leher, berdiri di dekat pilar, memegang gelas minuman yang isinya tidak berkurang sejak satu jam lalu. Tugasnya sebagai kurator pendamping sudah selesai; lampu sudah pas, katalog sudah tersebar, dan seniman utama sedang sibuk tertawa dengan kolektor kaya.
Seharusnya Renjun merasa lega. Namun, ada frekuensi asing yang berdenging di telinganya. Bukan suara, melainkan sensasi tekanan udara yang berubah.
Seseorang baru saja masuk.
Renjun tidak perlu menoleh untuk tahu. Sensor di tengkuknya, yang selama lima tahun ini terlatih mengenali kehadiran satu entitas spesifik, kini berteriak nyaring. Jantungnya memukul rusuk dengan ritme yang tidak wajar.
Perlahan, seolah digerakkan oleh tali tak kasat mata, Renjun memutar tubuhnya ke arah pintu masuk.
Dunia seakan menyusut. Suara tawa dan denting gelas meredup menjadi dengung statis di latar belakang.
Di sana, berdiri di depan sebuah lukisan kanvas hitam yang melambangkan kekosongan, adalah dia.
Na Jaemin.
Tanpa kamera. Tanpa filter mimpi. Tanpa kabut. Dia nyata. Dia mengenakan mantel panjang berwarna charcoal, rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, menampakkan dahi dan sepasang mata yang kini—secara ajaib—sedang menatap lurus ke arah Renjun.
Tidak ada pencarian. Tidak ada keraguan. Tatapan mereka bertemu dan terkunci, seolah dua magnet yang akhirnya diizinkan bertabrakan. Waktu tidak berhenti, tapi bagi Renjun, waktu menjadi tidak relevan.
Kakinya bergerak sendiri. Renjun melangkah maju, membelah kerumunan orang yang mendadak terasa transparan. Jaemin tidak bergerak, hanya berdiri di sana dengan kedua tangan di dalam saku, menunggu.
Semakin dekat jarak mereka, semakin Renjun merasa pusing. Ini terlalu nyata untuk menjadi kebetulan, tapi terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
"Aku gak percaya..." suara Renjun keluar sebagai bisikan tercekat. Ia berhenti dua langkah di depan Jaemin. Tangannya terangkat, jari-jarinya menekuk, nyaris mencengkeram rambutnya sendiri karena frustrasi. "Kamu nyata."
Jaemin tidak menjawab, hanya sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis—senyum yang selama ini hanya Renjun rasakan lewat perasaan damai di pagi hari, tapi tak pernah ia lihat.
Kepanikan melanda Renjun. Logikanya membangkang, mencari celah bahwa ini adalah trik tidur yang kejam.
"Sebentar," Renjun mundur setengah langkah, matanya bergerak liar memindai ruangan, lalu kembali ke wajah Jaemin. "Apa ini jangan-jangan masih mimpi? Tapi, aku bangun kok tadi pagi. Aku ngerasain air dingin pas mandi sampai menggigil. Aku denger lagu aneh yang disetel Donghyuck saat video call tadi sebelum berangkat. Kun-Ge juga nganterin aku ke sini, aku ingat bau pewangi mobilnya."
Renjun menatap tangannya sendiri, lalu tanpa ragu mencubit lengan kirinya keras-keras.
"Ow!" pekiknya pelan, meringis. Rasa sakit itu menyengat, tajam, dan menyadarkan.
Ia menatap Jaemin lagi, napasnya memburu. "Sakit. Aku gak mimpi. Kamu nyata..."
Renjun menelan ludah, tiba-tiba sadar bahwa sedari tadi Jaemin hanya diam mengamatinya. Rasa malu merambat naik ke lehernya.
"Tapi kenapa kamu gak ngomong?" Renjun mulai panik lagi, tangannya bergerak kikuk di udara. "Oh, apa kamu bisanya bahasa Prancis? Astaga, aku lupa. Eum... anu..."
Renjun menarik napas, mencoba menggali sisa-sisa pelajaran bahasa Prancis kilatnya. "Ex... excusez-moi? eh… je… suis… désolé… je cherche— anu, je m’appelle… Renjuhhn—”
Ia terdengar konyol. Ia tahu itu.
Namun, tawa kecil lolos dari bibir Jaemin. Tawa yang renyah, dalam, dan menular. Pria itu mengeluarkan tangannya dari saku mantel, posturnya rileks, seolah sedang melihat pemandangan paling menarik di seluruh galeri ini.
"Aku ngerti apa yang kamu katakan." jawab Jaemin.
Bahasa ibunya sempurna. Nada suaranya tenang, membumi.
Renjun melongo. "Kamu..."
"Aku cuma gak mau ganggu monolog kamu," lanjut Jaemin, senyumnya kini merekah lebar, menampilkan deretan gigi yang rapi dan sorot mata jenaka. "Lagipula, kamu lucu kalau panik."
Renjun mendengus, separuh tertawa, separuh ingin marah, tapi rasa lega membanjiri dadanya begitu hebat hingga matanya terasa panas.
Tidak ada lagi tembok. Tidak ada lagi jarak benua. Tidak ada lagi teka-teki bisu.
Jaemin mengulurkan tangan kanannya. Sebuah ajakan untuk memulai sesuatu dengan benar.
"Na Jaemin," ucapnya lembut.
Renjun menatap tangan itu. Ia menyambut uluran tangan itu. Kulit bertemu kulit. Hangat. Solid.
"Huang Renjun," balasnya.
Saat nama itu terucap, mata Jaemin sedikit membelalak. Ada kilatan pengenalan di sana. Seolah ia akhirnya menemukan jawaban dari pertanyaan yang ia teriakkan dalam mimpi semalam.
Ah, jadi ini namamu.
Saat tangan mereka berjabat, rasanya seperti pulang ke rumah.
-
Udara di luar galeri terasa lebih sejuk, membasuh sisa-sisa kegugupan yang tadi memenuhi ruangan pameran.
Renjun dan Jaemin duduk di bangku panjang yang menghadap trotoar basah. Di antara mereka, ada jarak satu jengkal, namun medan magnet di udara membuat mereka terasa bersentuhan. Tidak ada kembang api, hanya rasa nyaman yang menetap pelan seperti endapan bubuk kopi.
"Aneh rasanya," gumam Renjun, matanya menatap ujung sepatunya sendiri. "Biasanya aku melihatmu dalam bentuk gelap, hitam putih atau abu-abu. Melihatmu berwarna begini... rasanya sedikit berlebihan untuk mataku."
Jaemin terkekeh pelan. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit malam yang mendung. "Maaf kalau warna mantelku terlalu mencolok."
"Bukan itu maksudku," Renjun tertawa, bahunya rileks. "Maksudku... kamu nyata. Percakapan ini nyata."
Mereka membicarakan hal-hal kecil. Tentang pameran tadi, tentang bagaimana Renjun hampir menumpahkan sampanye ke gaun istri kolektor, dan tentang rasa déjà vu yang mereka rasakan saat melihat satu sama lain. Jaemin tidak banyak bicara, tapi ia pendengar yang baik. Ia mendengarkan dengan seluruh tubuhnya—tatapannya, anggukan kecilnya, caranya memiringkan kepala.
Sebelum mereka berpisah di stasiun metro, Renjun memberanikan diri.
"Sabtu ini kamu sibuk?" ujarnya. "Ada kafe di distrik 11. Di tengah-tengah jalan pulang kita."
Jaemin tidak butuh waktu untuk berpikir. "Boleh. Aku bisa bertemu denganmu jam empat sore, mungkin? Kopi di sana enak."
“Tentu. Tentu…”
Butuh waktu lima detik untuk Renjun sadar. Dia baru saja mengajak kencan ikatan jiwanya.
Tiga hari kemudian, persiapan dimulai dengan kepanikan kecil.
Renjun dan Ten berada di sebuah salah satu toko sepatu di kawasan Le Marais. Ten sedang sibuk membolak-balik sepatu loafers kulit untuk Kun, sementara Renjun duduk lemas di bangku tunggu, dikelilingi kantong belanja.
Ponsel Renjun menempel di telinga. Di seberang sana, ribuan kilometer jauhnya, jam menunjukkan pukul sepuluh malam di Seoul.
"Jadi, kamu mau pakai apa? Jas hujan?" suara Donghyuck terdengar serak, mungkin sudah setengah tertidur atau lelah bekerja lembur.
"Ten bilang aku harus pakai sweater rajut yang 'jatuhnya pas di badan'. Katanya biar kelihatan approachable tapi tetap elegan," desah Renjun. "Hyuck, aku gugup. Gimana kalau aslinya kami gak cocok? Gimana kalau di mimpi itu cuma... ilusi?"
"Heh," potong Donghyuck tajam. "Kalian sudah ketemu. Kalian sudah salaman. Kamu bilang tangannya hangat. Ilusi macam apa yang punya suhu tubuh?"
Terdengar suara gemeresik, mungkin Donghyuck sedang mengubah posisi tidurnya.
"Lagian, bersyukurlah kamu bisa kencan sama soulmate-mu. Coba lihat aku. Seharian ini aku terjebak sama Lee Jeno di ruang arsip. Kamu tahu dia ngapain? Dia bernapas. Dan suara napasnya aja bikin aku mau resign. Sumpah, orang itu kalau senyum matanya hilang, tapi akhlaknya juga ikut hilang."
Renjun tersenyum geli, melirik Ten yang sedang berdebat dengan pelayan toko soal ukuran sepatu.
"Hyuck, hati-hati," goda Renjun pelan. "Siapa tahu nanti malam kamu mimpiin dia. Ingat kan? Benci dan cinta itu tetangga dekat."
"Diam kamuuu, Huang Renjun! Kalau aku mimpiin dia, aku bakal bangun terus kumur air suci—"
Pip.
Sambungan diputus sepihak. Renjun tertawa kecil, memasukkan ponselnya ke saku. Setidaknya, omelan Donghyuck berhasil mengusir rasa gugupnya.
Sabtu sore datang dengan langit biru pucat yang malu-malu.
Di meja sudut kafe yang dinding luarnya dipenuhi tanaman rambat kemerahan, dua cangkir kopi mengepulkan uap panas. Satu Americano hitam pekat, satu Latte dengan buih susu tebal.
Renjun duduk dengan punggung tegak, tangannya sibuk memutar-mutar sendok kecil di piring tatakan cangkir. Suara denting logam beradu keramik itu terdengar nyaring di telinganya sendiri, menyamarkan detak jantungnya yang tidak karuan.
Sudah lima belas menit mereka duduk, dan Renjun merasa seperti sedang ujian lisan. Bukan karena Jaemin mengintimidasi—pria itu justru terlihat sangat santai dengan turtleneck hitam dan mantel yang disampirkan di kursi—tapi karena keheningan ini terasa asing di dunia nyata.
Di dalam mimpi, diam adalah bahasa ibu mereka. Di sini, diam terasa seperti jeda iklan yang canggung.
"Kopinya... enak," ujar Renjun memecah hening, suaranya sedikit terlalu antusias. "Maksudku, roasting-nya pas. Gak terlalu asam. Kamu sering ke sini?"
Jaemin, yang sedang menatap lamat-lamat ke luar jendela melihat orang-orang berlalu-lalang, menoleh pelan. Ia tersenyum tipis. "Lumayan. Kalau lagi butuh melihat manusia tapi gak mau diajak ngobrol, aku ke sini."
"Oh," Renjun mengangguk cepat. "Bagus. Tempatnya bagus. Strategis juga. Dekat stasiun, dekat apartemenmu juga, kan? Tadi aku jalan kaki dari stasiun cuma sepuluh menit. Eh, mungkin lima belas menit karena aku sempat salah belok di toko bunga..."
Renjun terus berbicara. Kata-kata meluncur deras dari mulutnya seperti air keran yang rusak. Ia mengomentari cuaca, mengomentari lukisan abstrak jelek di dinding kafe, mengomentari anjing yang lewat di trotoar. Ia menimbun keheningan dengan kalimat-kalimat sampah karena takut jika ia diam, Jaemin akan sadar betapa membosankannya realitas seorang Renjun Huang.
Hingga akhirnya, Renjun kehabisan napas dan topik.
Hening kembali turun.
Renjun menggigit bibir bawahnya, merutuki dirinya sendiri. Bodoh. Kamu terlalu berisik. Dia pasti pusing.
"Maaf," cicit Renjun pelan, menunduk menatap buih latte-nya yang mulai kempes.
Jaemin meletakkan cangkirnya perlahan. "Kenapa minta maaf?"
"Aku... terlalu berisik ya?" Renjun memberanikan diri menatap mata Jaemin. "Aku cuma gugup. Rasanya aneh. Biasanya kita ketemu tanpa suara. Sekarang ada kamu, ada kopi, ada aku, ada... kita."
Jaemin tidak langsung menjawab. Ia justru menopang dagunya dengan tangan, menatap Renjun dengan sorot mata yang sulit diartikan—bukan terganggu, melainkan... takjub.
"Terusin saja," kata Jaemin lembut.
"Hah?"
"Bicaranya," jelas Jaemin. "Selama lima tahun aku cuma bisa bayangin suara kamu kayak apa. Sekarang aku bisa dengar langsung. Kenapa harus berhenti?"
Wajah Renjun memanas. Ada ketulusan yang melucuti pertahanannya dalam kalimat sederhana Jaemin.
Renjun menarik napas panjang, membiarkan aroma kopi mengisi paru-parunya, mencoba menenangkan detak jantung yang masih berpacu. Ia menatap Jaemin, kali ini bukan sebagai orang asing yang harus ia hibur, tapi sebagai seseorang yang memang ingin mengenalnya.
"Oke," gumam Renjun, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang lebih rileks. "Kalau kamu memaksa mendengarkan celotehanku, jangan komplain kalau telingamu panas nanti."
Jaemin tertawa kecil, menyandarkan dagu di tangan. "Aku pendengar yang baik. Silakan, Tuan Kurator."
Maka Renjun mulai bicara. Kali ini bukan tentang cuaca atau anjing lewat, tapi tentang hal-hal yang benar-benar ia sukai. Ia bertanya tentang kamera antik yang Jaemin bawa. Ia bercerita tentang betapa sulitnya mencari hot pot yang enak di Paris. Ia bahkan melempar lelucon garing tentang patung abstrak di galeri kemarin yang menurutnya mirip gumpalan permen karet bekas.
Jaemin meresponsnya dengan tawa ringan, anggukan antusias, dan sesekali timpalan sarkas yang jenaka. Obrolan mereka mengalir, melompat-lompat dari satu topik ke topik lain tanpa skenario.
Hingga akhirnya, tawa mereka mereda secara alami, menyisakan senyum yang tertinggal di bibir masing-masing.
Energi gugup Renjun sudah habis, tergantikan oleh rasa puas.
Jaemin kembali menoleh ke arah jendela, menatap jalanan Paris yang sibuk dengan tatapan menerawang yang tenang. Kali ini, Renjun tidak panik. Ia tidak merasa perlu menarik Jaemin kembali dengan pertanyaan basa-basi.
Renjun ikut menyandarkan punggung ke kursi, menyesap sisa kopinya yang mulai dingin. Ia membiarkan matanya mengikuti arah pandang Jaemin—mengamati daun kering yang jatuh, pasangan tua yang bergandengan tangan, dan awan yang bergerak pelan.
Keheningan turun di antara mereka, tapi rasanya berbeda dari sebelumnya. Tidak ada tuntutan. Tidak ada kecemasan.
Di meja sudut itu, Renjun belajar satu hal penting tentang Jaemin: pria itu adalah keheningan yang nyaman. Dan di dalam diam itu, ia merasakan detak jantung mereka mulai selaras, mengetuk ritme yang sama tenang.
Pertemuan itu berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya.
Minggu depannya, mereka duduk di taman Luxembourg, berbagi sandwich. Minggu depannya lagi, Jaemin mengajak Renjun menyusuri tepi sungai Seine.
"Ini tempatnya," ujar Jaemin suatu sore, menunjuk sebuah jembatan batu.
Renjun tertegun. Ia mengeluarkan buku sketsa kecil dari tasnya, membuka halaman yang sudah lecek. Gambar jembatan itu ada di sana, dibuat lima tahun lalu.
"Aku memotret ini saat subuh," jelas Jaemin, matanya menerawang. "Saat itu aku merasa... kosong. Aku ingin seseorang melihat ini dan bilang kalau tempat ini indah, bukan sepi."
Renjun menatap profil samping Jaemin. "Aku bisa lihat itu."
Seiring berjalannya waktu, Renjun mulai menyadari sebuah pola.
Di hari-hari ketika Jaemin terlihat segar dan matanya berbinar saat bertemu, malamnya Renjun bisa tidur nyenyak tanpa gangguan. Tapi di hari ketika Jaemin datang dengan bahu turun dan lingkaran hitam di bawah mata, malamnya Renjun akan tersentak bangun, dadanya sesak oleh mimpi lorong gelap yang menyempit.
Sore itu, di apartemen Jaemin yang minimalis dan didominasi warna monokrom, mereka duduk di lantai karpet, menyusun hasil cetakan foto.
"Kamu punya insomnia parah, ya?" tanya Renjun hati-hati.
Jaemin tidak langsung menjawab. Ia memutar lensa kameranya, gerakan repetitif untuk menenangkan diri.
"Rumahku dulu... gak pernah sepi," suara Jaemin pelan, nyaris tenggelam oleh suara gesekan daun diluar. "Selalu ada suara teriakan. Suara barang pecah. Suara pintu dibanting. Tidur itu bahaya pas kecil. Kalau aku tidur, aku gak bisa siap-siap."
Jaemin mengangkat wajah, tersenyum getir. "Kebiasaan itu masih ada. Otakku gak mau padam. Rasanya kalau aku merem, aku akan kembali ke rumah itu."
Renjun terdiam. Potongan puzzle terakhir jatuh ke tempatnya.
Mimpi-mimpi buruk itu. Lorong tanpa ujung. Rasa takut, waspada, dan keinginan untuk lari. Itu bukan sekadar gambar acak. Itu adalah rasa sakit Jaemin. Itu adalah trauma yang tidak bisa diucapkan oleh bibir Jaemin, sehingga jiwanya berteriak lewat mimpi Renjun.
Malam itu, setelah pulang ke apartemennya sendiri, Renjun duduk di meja belajar.
Ia membuka buku sketsanya. Halaman demi halaman penuh dengan gambar ketakutan dan kesepian. Ia mengambil foto polaroid yang mereka ambil minggu lalu—foto Jaemin yang tersenyum tipis di bawah sinar matahari.
Renjun mengusap foto itu dengan ibu jarinya. Ia menutup buku sketsanya dengan mantap, lalu mengambil ponsel, mengetik pesan singkat untuk Jaemin.
>Renjun : Malam ini, coba tidur ya. Aku jagain di mimpi.
Renjun tahu misinya sekarang. Bukan lagi mencari lokasi misterius, tapi menjadi tempat istirahat yang aman bagi jiwa yang lupa caranya terlelap.
Sore itu, gravitasi terasa dua kali lipat lebih berat bagi Na Jaemin.
Ia duduk di sofa apartemennya, sebuah lensa kamera 50mm menggelinding lepas dari tangannya dan jatuh ke karpet tebal dengan bunyi buk yang tumpul. Jaemin bahkan tidak punya tenaga untuk memungutnya. Matanya merah, dikelilingi lingkaran hitam yang membuatnya tampak seperti lukisan yang tintanya luntur. Tiga hari tanpa tidur yang layak telah mengubah fokusnya menjadi buram.
Renjun memungut lensa itu, meletakkannya aman di atas meja, lalu berjongkok di hadapan Jaemin. Tidak ada tatapan kasihan di matanya—Jaemin benci dikasihani—yang ada hanyalah sorot determinasi seorang kurator yang hendak memperbaiki lukisan rusak.
"Kita coba lagi," ujar Renjun pelan tapi tegas.
Jaemin mendengus lemah, menyandarkan kepala ke sandaran sofa. "Renjun, kita sudah coba lilin aroma lavender itu. Kita sudah coba video orang memotong sabun yang katamu satisfying itu. Susu hangatmu juga enak, tapi..." Jaemin menunjuk kepalanya sendiri. "Mesin di sini yang gak mau mati."
"Kalau begitu, kita pakai cara ekstrem."
Jaemin membuka satu mata. "Kamu mau mukul aku sampai pingsan?"
"Bukan," Renjun berdiri, merapikan sweater-nya. "Malam ini aku gak pulang. Aku yang akan temenin kamu tidur."
Jaemin menegakkan punggung, postur defensifnya otomatis muncul. "Renjun, gak perlu. Aku..."
"Aku gak minta izin, Na Jaemin. Aku memberitahu," potong Renjun. Nadanya ringan, namun tidak mentolerir bantahan. "Kamu pernah bilang tidur sendirian itu seperti masuk ke medan perang tanpa senjata, kan? Nah, malam ini aku jadi tamengnya."
Makan malam berlangsung sederhana. Renjun mengambil alih dapur Jaemin. Aroma sup ayam jahe dan teh chamomile perlahan menggeser bau bahan kimia pencuci cetak foto yang biasanya mendominasi apartemen itu.
Mereka makan dalam diam yang nyaman. Denting sendok yang beradu dengan mangkuk keramik menjadi satu-satunya musik. Jaemin makan pelan, seolah energinya perlu dihemat bahkan untuk mengunyah, tapi ia menghabiskan semuanya.
Pukul sepuluh malam. Lampu utama dipadamkan. Hanya ada lampu tidur kecil di nakas yang memancarkan cahaya oranye redup.
Renjun meletakkan diffuser yang mengepulkan uap kayu cendana di sudut ruangan. Ia naik ke sisi kiri ranjang ukuran king size itu, sementara Jaemin duduk kaku di sisi kanan. Ada jarak lebar di antara mereka—ruang kosong yang diisi oleh kecanggungan dan harapan.
"Tidurlah," bisik Renjun, menarik selimut sampai sebatas dada. "Aku di sini."
Jaemin berbaring. Tubuhnya tegang, menunggu serangan panik atau memori buruk yang biasanya datang begitu kepalanya menyentuh bantal. Ia menatap langit-langit, mendengarkan napas teratur Renjun di sebelahnya.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Dua jam setengah.
Kesadaran Jaemin mulai retak, terseret arus kantuk yang berat. Namun, tubuhnya mengenali transisi ini sebagai bahaya. Kakinya menyentak. Keningnya berkerut. Napasnya mulai pendek-pendek.
Di ambang mimpi itu, koridor gelap masa kecilnya mulai terbentuk. Dinding-dinding tinggi yang lembap, suara pertengkaran yang bergema dari kejauhan...
Tiba-tiba, ada kehangatan di punggungnya.
Koridor gelap itu tidak memanjang tanpa ujung seperti biasa. Di kejauhan, ada seberkas cahaya yang membelah kegelapan. Cahaya itu bukan dari lampu atau matahari, melainkan dari siluet seseorang yang berdiri menunggu dengan sabar.
Jaemin berlari. Kali ini ia tidak berlari dari sesuatu. Ia berlari menuju sesuatu.
Ia menerjang kabut hitam, mengabaikan suara-suara bising di kepalanya, dan fokus pada siluet itu. Semakin dekat, sosok itu semakin jelas.
Renjun berdiri di sana. Di tengah ruang hampa yang kini berpendar hangat. Ia tersenyum, merentangkan tangan.
Jaemin menubruknya. Bukan tabrakan yang menyakitkan, tapi sebuah kepulangan. Ia merasakan lengan Renjun melingkar di bahunya, mendekapnya erat. Rasa dingin yang menggigit tulang-tulangnya selama bertahun-tahun menguap seketika.
"Kamu ada di sini," bisik Jaemin di ceruk leher Renjun dalam mimpi itu. Suaranya bergetar, takut jika ia berkedip, sosok itu akan buyar menjadi asap.
Renjun mengeratkan pelukannya, mengusap punggung Jaemin yang gemetar.
"Aku akan selalu ada," jawab Renjun. "Sekarang istirahatlah."
Sedangkan, di dunia nyata, di kamar tidur yang sunyi, keajaiban kecil terjadi. Renjun yang belum sepenuhnya terlelap menggeser tubuhnya. Ia menempelkan telapak tangannya di punggung Jaemin, memberikan tekanan yang konstan dan menenangkan.
"Sstt..." gumam Renjun, suaranya serak dan lembut. "Aku di sini... kamu nggak sendirian. Ini cuma mimpi. Lewati saja."
Sentuhan itu menjadi jangkar.
Napas Jaemin yang tadi memburu kini melambat, menjadi ritme yang panjang dan dalam. Kerutan di dahinya lenyap.
Tanpa sadar, tubuh Jaemin bergerak mencari sumber panas. Ia berbalik, bergeser, memangkas jarak di antara mereka, dan membenamkan wajahnya ke dada Renjun. Tangannya mencengkeram kaos tidur Renjun, seolah berpegangan pada pelampung di tengah lautan luas.
Renjun, yang kini juga sudah setengah melayang di alam mimpi, secara naluriah menumpukan dagunya di atas kepala Jaemin, tangannya masih setia mengusap punggung lelaki itu.
Sudut bibir Jaemin terangkat sedikit dalam tidurnya.
Malam itu, monster di bawah tempat tidurnya, akhirnya terusir pergi.
-
Cahaya pagi tidak datang dengan gebrakan, melainkan merayap pelan melalui celah tirai yang tidak tertutup rapat. Membentuk garis-garis abstrak di dinding kamar yang masih dikuasai temaram.
Di luar, Paris mulai menggeliat. Suara langkah sepatu samar di trotoar batu, deru mesin pengangkut sampah, dan denting samar sendok di kafe seberang jalan menandakan dunia sudah berputar.
Namun di dalam kamar apartemen Jaemin, waktu seolah menekan tombol jeda.
Udara di sana diam, tapi tidak stagnan. Ada ritme kehidupan yang tenang—dada yang naik turun secara teratur, dua detak jantung yang melambat hingga nyaris satu tempo.
Mereka tidak bicara. Tidak langsung.
Keheningan yang terjaga sejak malam tadi masih bernapas di antara mereka. Renjun, yang posisinya sedikit lebih tinggi karena berbantal lengan Jaemin, bergerak lebih dulu. Ia menggeliat kecil, mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut di pelupuk mata.
Matanya mengerjap, menemukan wajah Jaemin hanya berjarak beberapa sentimeter. Wajah itu rileks, tanpa kerutan di dahi, tanpa ketegangan di rahang.
“Tidur nyenyak?” bisik Renjun. Suaranya serak, patah-patah khas bangun tidur.
Jaemin tidak segera menjawab. Matanya yang sedari tadi terpejam, kini terbuka perlahan, menatap dinding, lalu beralih menatap Renjun. Ia meresapi pertanyaan itu. Dulu, pertanyaan ‘tidur nyenyak?’ adalah ejekan baginya. Tapi hari ini, pertanyaan itu terdengar seperti validasi.
Jaemin mengangguk pelan.
“…Ya.”
Satu kata itu meluncur ringan, namun bobotnya luar biasa. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada lari maraton dalam tidur. Hanya gelap yang damai dan kepulangan yang hangat.
Renjun tersenyum, separuh wajahnya menggesek sedikit kulit Jaemin. “Aku juga.”
Tanpa instruksi, Renjun menarik lengan Jaemin yang masih melingkar protektif di pinggangnya, membawanya sedikit lebih erat. Mencari sisa kehangatan tubuh yang mungkin menguap jika mereka berpisah terlalu cepat.
“Jangan ke mana-mana dulu,” gumam Renjun, matanya kembali terpejam, menikmati gravitasi kasur yang nyaman. “Lima menit lagi.”
Jaemin mendengus pelan—bukan tawa, tapi hembusan napas geli yang menyentuh kening Renjun. Ia tidak bergerak menjauh. Lengan yang diminta tetap di sana, menjadi jangkar agar Renjun tidak hanyut ke mana-mana.
Ruang di antara mereka tetap hangat, diisi oleh rasa aman yang padat.
Di bawah cahaya pagi yang semakin berani merebut isi kamar, mereka tahu—tanpa janji tertulis, tanpa sumpah setia yang dramatis, tanpa definisi rumit—bahwa mereka bukan lagi orang asing yang berbagi frekuensi otak.
Tidak lagi hanya siluet bisu dalam mimpi.
Tidak lagi hanya suara samar yang menggema di kepala.
Kini, mereka nyata. Daging bertemu daging, napas bertemu napas.
Dan itu cukup.
Baik di dunia mimpi yang sudah mereka taklukkan, maupun di dunia nyata tempat mereka terbangun.
Misi penyelamatan tidur Jaemin Na berevolusi menjadi sesuatu yang lebih domestik. Tiga hari dalam seminggu, sikat gigi Renjun sudah menetap permanen di kamar mandi apartemen Jaemin, bersanding dengan botol sabun cuci muka yang isinya tinggal setengah.
Pagi itu, dapur Jaemin beraroma mentega cair dan telur dadar.
Renjun berdiri di depan kompor, satu tangan memegang spatula, tangan lain menopang ponsel di atas toples kopi agar kamera bisa menangkap wajahnya.
“Jadi, misinya sukses besar?” suara Donghyuck terdengar cempreng dari speaker, diiringi suara bising jalanan Seoul—pria itu baru saja pulang kerja.
“Sukses,” jawab Renjun sambil membalik telur. “Dia tidur delapan jam penuh semalam. Tanpa terbangun sekali pun.”
“Cuma tidur?” Donghyuck menaikkan alisnya curiga, senyum miring yang menyebalkan terbit di wajah lelahnya. “Yakin cuma tidur, Njun? Kalian gak main catur? Atau main monopoli? Atau main ‘dokter-dokteran’ gitu?”
“Lee Donghyuck!” Renjun mendelik tajam ke arah layar, wajahnya memanas. “Otakmu itu perlu dicuci pakai pemutih pakaian, tahu gak? Aku bantu dia terapi insomnia, bukan—”
Kalimat Renjun terputus. Ia merasakan hawa hangat di punggungnya. Langkah kaki Jaemin yang selalu senyap membuatnya tidak sadar bahwa si pemilik apartemen sudah bangun.
Tiba-tiba, sepasang lengan melingkar di pinggang Renjun dari belakang. Dagu Jaemin bertumpu di bahunya yang tertutup kaos tipis. Dan sebelum Renjun sempat memproses invasi dadakan itu, sebuah kecupan kilat namun tegas mendarat di pipinya.
Renjun membeku. Spatula di tangannya menggantung di udara.
Sejak pertemuan nyata mereka, Jaemin memang sopan. Sentuhan mereka terbatas pada pegangan tangan atau pelukan tidur.
Ini… ini adalah manuver baru. Ini adalah deklarasi.
Di layar ponsel, Donghyuck terdiam selama dua detik.
“Oh.”
Lalu sedetik kemudian, teriakan histeris pecah dari speaker ponsel.
“AAAAK! APA-APAAN INI ! TOLONG LANJUTKAN, LANJUTKAN!!! JANGAN BERHENTI! INI LEBIH SERU DARI DRAMA VERTIKAL!”
Jaemin, dengan senyum jahil yang jarang ia perlihatkan, melepaskan pelukannya dan mencoba kabur ke ruang tengah.
“Na Jaemin!” seru Renjun, kesadarannya kembali. Wajahnya merah padam, campuran antara malu dan salah tingkah. “Sini kamu!”
Renjun meninggalkan telurnya—dan Donghyuck yang masih berteriak heboh—mengejar Jaemin ke ruang tengah. Jaemin tertawa, mencoba menghindar, tapi kalah gesit. Renjun menerjangnya, membuat mereka berdua kehilangan keseimbangan dan jatuh menumpuk di sofa beludru abu-abu.
Posisi mereka berakhir kacau. Renjun berada di atas Jaemin, napasnya memburu, kedua tangannya menahan bahu Jaemin agar tidak kabur lagi.
“Maaf, maaf,” Jaemin mengangkat kedua tangan tanda menyerah, meski matanya menyipit jenaka. “Habisnya kamu wangi telur dadar. Aku sudah lapar.”
Renjun sudah siap meluncurkan omelan, atau mungkin gelitikan maut di pinggang. Tapi saat ia menunduk dan melihat wajah Jaemin di bawahnya—wajah yang dulu selalu tertutup bayangan mimpi buruk, kini terbuka dan cerah—kata-katanya tertelan kembali.
Jaemin pun berhenti tertawa. Tangannya yang tadi di udara turun perlahan, mendarat di pinggang Renjun. Usapannya lembut, menenangkan detak jantung yang liar.
Renjun menatap bibir itu.
Tanpa aba-aba, Renjun menunduk. Bukan lagi kecupan di pipi, ia mempertemukan wajah mereka. Ciuman itu dimulai pelan, sebuah eksperimen rasa untuk mengetes permukaan, sebelum lambat laun berubah menjadi tuntutan. Ada rasa lega, rasa memiliki, dan rasa lapar yang bukan karena butuh makanan.
Tangan Jaemin menyelinap masuk ke balik kaos Renjun, meraba kulit punggungnya yang hangat. Renjun meresponsnya dengan menggigit bibir bawah Jaemin pelan, menarik erangan tertahan dari tenggorokan fotografer itu.
Dunia seolah menyusut hanya tinggal di sofa itu.
“Ekhem.”
Renjun tersentak kaget. Refleksnya buruk; ia mencoba bangun terlalu cepat, sementara Jaemin mencoba menahannya karena kaget.
Dug!
“Aw!” Jaemin mengaduh, memegangi jidatnya yang baru saja beradu dengan jidat Renjun.
Sedangkan pria di atasnya menoleh horor ke arah dapur. Di sana, di layar ponsel yang masih menyala di atas toples kopi, wajah Donghyuck memenuhi layar dengan ekspresi datar yang dibuat-buat.
“Maaf mengganggu sesi ‘ekhem’ kalian,” suara Donghyuck terdengar datar tapi matanya memancarkan kepuasan usil. “Tapi telurnya gosong, Njun. Dan aku masih di sini, kalau-kalau kalian lupa.”
“Donghyuck! Matiin!” teriak Renjun, wajahnya sudah semerah tomat matang. Ia bangkit dari atas tubuh Jaemin, mengusap jidatnya sendiri yang berdenyut.
“Nggak mau. Ini bagian terbaiknya—”
“MATIIN ATAU AKU BLOKIR NOMORMU SEUMUR HIDUP!”
Klik. Sambungan terputus. Layar menjadi gelap.
Hening kembali menguasai apartemen, kali ini diiringi bau telur yang sedikit hangus.
Renjun berdiri berkacak pinggang, napasnya masih belum teratur karena kesal dan… hal lain.
“Temanmu itu…” Jaemin bergumam sambil duduk di sofa, satu tangan mengusap jidatnya yang memerah, tangan lain menarik pinggang Renjun agar mendekat lagi padanya. “Benar-benar perusak suasana.”
Renjun ingin marah, tapi saat Jaemin melingkarkan lengan di pinggangnya dan menyandarkan kepala di perutnya, amarah itu menguap.
Jaemin mendongak, menatap Renjun. Matahari pagi menerobos masuk lewat jendela besar, menyentuh kulit Renjun seperti kuas lembut yang menari di atas kanvas hidup. Ada bias keemasan di sepanjang rahangnya, membuat bulu-bulu halus di wajahnya terlihat bersinar.
Jaemin terdiam menatap pemandangan itu.
Selama bertahun-tahun ia memotret kota mati, lorong gelap, dan kesunyian. Tapi pagi ini, melihat Renjun yang menggerutu sambil mengusap kepala Jaemin dengan sayang, ia tahu satu hal.
Mungkin ini adalah bentuk paling nyata dari mimpi yang tak ingin ia bangun darinya.
Dan untuk kali ini, Jaemin tidak perlu tidur untuk merasakannya.
