Work Text:

He saw her, dancing under the snow. Letting the cold hit her cheeks, making it red like her scarf. He saw her, giggling while swinging around. Letting her scarf fall to the snowy ground. She didn’t recognize him, he knew it. The way she kept giggling and giggling. The way she started crouching and playing with the snow. The way she started making a tiny snowman. He knew it, that she didn’t recognize him, though he had been watching her from the start. Until finally she got up and turned around. Until finally their eyes met. Her cheeks reddened, didn’t know if it was because of the cold or shame. But then, she smiled. Warm and pretty.
And that was when he knew that she was his first love. His very first love.
—
“Pokoknya nanti kami semua bakal dateng jam 7, oke?! Mau kamu nggak nerima kami, pun, kami tetap akan datang!”
Sylus menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Satu tangannya bergerak ke arah pangkal hidungnya, memijatnya lembut, sementara satu tangan lagi masih memegang ponsel yang terus menyuarakan celotehan panjang dari seberang.
“Sudah kubilang aku nggak bisa malam ini, Raf, masih ada kerjaan,” ucap Sylus setelah sekian lama membiarkan sang lawan bicara terus merengek tanpa henti. Sementara itu, Rafayel, sang lawan bicara, mendecak kesal mendengar balasan pria bersurai perak tersebut.
“Selalu itu alasanmu. Basi.”
Sylus memutar mata, “bukan alasan. Kenyataan,” balasnya sembari meletakkan ponselnya di meja, mengaturnya dalam mode loudspeaker, dan kembali berkutat pada layar laptop yang menampilkan deretan dokumen memusingkan.
“Argh! Terserah! Pokoknya jam 7 malam kami datang! Titik!”
Dan untuk kesekian kalinya, Sylus menghela napas panjang. Sangat panjang.
“Why my place, tho?” Sylus melepas kacamatanya dan kembali bersandar pada kursi, “masih banyak restoran mewah di dunia ini yet you still chose my place.”
“Because that’s the only way to make you join our dinner!”
“And why should I join your dinner?”
Tepat setelah itu, Sylus dapat mendengar teriakan frustasi dari ponselnya.
“Pokoknya kami datang jam 7! Mau kamu nggak ada di rumah atau kamu kunci pintu kamu, terserah! Kami bakal tunggu sampai kamu buka pintu buat kami, meski harus nunggu sampai pagi sekalipun!”
Dan layar ponselnya pun menghitam, bersamaan dengan sang pria bersurai perak yang lagi-lagi menghembuskan napas panjang. Well, mungkin tidak ada salahnya ia mengiyakan kemauan Rafayel. Anggap saja sebagai liburan super singkat, meskipun setelah itu ia harus kembali berkutat dengan tumpukan dokumen yang telah menghantuinya sejak seminggu lalu.
“Ya udah, lah, making him happy for once won’t hurt,” ujarnya pada dirinya sendiri sembari kembali memakai kacamatanya, berniat untuk melanjutkan pekerjaannya. Namun, baru saja ia menegakkan badannya, layar ponselnya kembali menyala, menampilkan sebuah pesan dari Rafayel.
Oh, aku lupa bilang kalau Caleb mungkin akan datang bersama adiknya.
Yang lainnya belum pernah ketemu sih, tapi aku pernah, and she’s so pretty!
And I guess she’s your type, so why don’t you try? ;)
Tapi kamu harus menghadapi Caleb yang super protektif, sih, hahaha.
Dan saat itu juga, Sylus menarik kembali ucapannya terkait niatnya untuk menyenangkan hati Rafayel, menggantinya dengan niatan untuk meracuni pria tersebut saat makan malam nanti.
—
“Sorry, it must be weird to see a total adult dancing under the snow and making a snowman.”
Sylus mengerjap, menyadarkan diri dari lamunannya. Di hadapannya, perempuan itu masih tersenyum hangat padanya. Pipinya pun masih merona yang tak diketahui karena malu atau kedinginan. Hal tersebut membuat Sylus secara tak sadar ikut tersenyum.
“It’s fine, not weird at all. Nggak ada salahnya buat orang dewasa untuk bermain salju.”
Senyum sang puan semakin merekah, “you’re a kind man,” ucapnya sembari kembali berjongkok dan mulai membuat manusia salju kecil lainnya.
“Heh,” Sylus terkekeh kecil, “we just met, yet you already claimed me as a kind man.”
“Because others would already look at me with their ‘what-a-weird-girl’ stare,” sang puan mendongak, menatap tepat di mata Sylus, seakan menghipnotis pria tersebut dengan iris biru lautnya, “while you just looked at me casually as if what I did was a normal thing to do for an adult.”
“Well…” Sylus ikut berjongkok, ikut membuat manusia salju kecil di sebelah manusia salju kecil buatan sang puan, “this indeed is a normal thing to do, even for an adult. At least to me.”
“Oh? How can that be?”
“Hmm… let’s say that I also have a friend who’s a bit like you, likes to do something that we never thought he’d do as an adult,” jawab Sylus lalu tertawa kecil. “Oh– and a bit childish,” lanjutnya beberapa detik kemudian.
Perempuan itu mengerjap, sebelum akhirnya tertawa lepas. “Bilang aja kalau aku kekanakan!” ujarnya di sela tawa.
“Loh? Aku cuma bilang temanku sedikit kekanakan.”.
“Sama aja,” ucap sang puan sembari berusaha menormalkan napasnya setelah banyak tertawa. “You’re the one who said that he’s a bit like me,” lanjutnya setelah dirasa napasnya akhirnya kembali normal.
Sementara itu, Sylus hanya tertawa kecil sembari mengedikkan bahu, “yet I didn’t say you’re childish, did I?”
Mendengar hal itu, perempuan tersebut hanya memutar mata sembari menggumamkan kata ‘terserah’ lalu kembali fokus pada manusia salju kecil di hadapannya. Sedangkan Sylus, ia hanya terus menatap sang puan, seakan ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Dan baru saja ia kembali membuka bibirnya, perempuan tersebut sudah berdiri secara tiba-tiba dan sedikit memekik. “Ah! Five missed calls dari abang!”
Perempuan itu lalu menatap Sylus yang masih menatapnya sedari tadi, “aku duluan, ya, takut abang ngomel. I know this was a short meet, but I really had fun talking to you. Hope we can meet again one day,” ucapnya sembari tersenyum lalu berlari meninggalkan Sylus yang bahkan tak sempat berucap apapun, membuatnya hanya bisa menghela napas panjang.
“Should’ve asked her name and number from the start…”
—
Sylus mengerjap, mengedarkan pandangannya dan menyadari bahwa ia sempat tertidur dengan layar laptop yang masih menampilkan dokumen-dokumen yang membuatnya tidak tidur dalam beberapa hari. Ia tak tahu berapa lama ia tertidur, tetapi yang pasti, saat ini ruangannya sudah sedikit gelap. Dan benar saja, begitu ia melihat ke arah dinding, jam sudah menunjukkan pukul 18.30. Artinya, ia hanya memiliki waktu 30 menit untuk bersiap sebelum Rafayel dan yang lainnya datang.
Sylus mendengus lalu bangkit dari duduknya, meregangkan persendiannya dan segera membereskan laptop dan perangkat lainnya mengingat saat ini ia menggunakan meja makan untuk bekerja. Karena acara malam ini adalah acara makan malam kecil-kecilan, setidaknya meja makan harus sedikit lebih rapi. Tak mungkin ia biarkan pekerjaannya bercecer di hadapan teman-temannya, karena selain takut mereka akan mengacau, ia juga malas harus mendengar omelan Rafayel karena masih bekerja di beberapa jam sebelum perayaan tahun baru. Belum lagi Caleb yang mungkin akan meledeknya karena pria tersebut berhasil mengambil cuti spesial tahun baru sementara ia masih harus berkutat dengan dokumen-dokumen sialan itu. Bisa-bisa acara kecil mereka berubah menjadi pertandingan tinju antara Sylus dan Caleb. Dan Sylus tak mau hal itu terjadi, karena sudah pasti apartemennya yang akan menjadi korban.
Setelah seluruh ruangan–atau lebih tepatnya area ruang makan bersih, ia pun beralih ke menyiapkan dirinya sendiri. Mulai dari membersihkan wajah, menata rambut, hingga menyesuaikan pakaian. Benar, menyesuaikan pakaian, karena Xavier sempat memberikan ide tidak cemerlang berupa dress code. Untung saja aturan yang dicetuskan masih sesuai dengan isi lemarinya karena Sylus sudah sangat siap untuk mendatangi dan menghantam wajah tampan sang teman apabila ia mencetuskan aturan tak masuk akal.
Setelah semuanya siap, baik dirinya sendiri maupun ruangan yang akan digunakan, ia mendudukkan dirinya pada sofa ruang tamu. Tangannya bergerak menjangkau ponsel di meja, menggulirkan jarinya pada layar yang menampilkan pesan bahwa teman-temannya akan segera sampai. Sesekali Sylus terkekeh membaca ruang obrolan mereka yang tiba-tiba menjadi sedikit lebih “ribut”, entah apapun yang mereka ributkan. Namun, begitu nama Caleb muncul di layar ponselnya, ia tiba-tiba teringat dengan pesan Rafayel yang menyatakan bahwa Caleb akan membawa adiknya. Selama lima tahun berteman, ia memang mengetahui bahwa Caleb memiliki adik perempuan. Dan selama itu juga, Caleb tak pernah mengenalkan adiknya pada teman-temannya, termasuk Sylus. Bahkan, memperlihatkan foto atau mempublikasikan di sosial media pun tidak. Entah hidup sang adik yang terlalu privat atau Caleb yang terlalu protektif sebagai seorang kakak, Sylus tak tahu. Atau mungkin, tak peduli.
Meskipun begitu, ia tetap sedikit penasaran karena tak ada angin tak ada hujan, Caleb akan membawa adiknya ke acara mereka. Padahal, baik Sylus maupun yang lainnya tak pernah merasa keberatan apabila Caleb merahasiakan adiknya dari mereka. Tak pernah memaksa Caleb untuk mengenalkan mereka pada adiknya.
Oh– mungkin saja Rafayel yang memaksa mengingat pria itu mengatakan bahwa ia pernah bertemu dengan sang adik, entah bagaimana caranya. Atau mungkin sang adik yang memaksa ikut karena Rafayel tanpa sengaja menyinggung acara dan membuat sang adik tertarik untuk ikut. Tak ada yang tahu.
And I guess she’s your type, so why don’t you try? ;)
Jarinya berhenti bergerak begitu penggalan pesan Rafayel sebelumnya tiba-tiba saja terlintas di otaknya. Sylus mendengus. Tipenya, katanya. Tahu apa temannya itu tentang tipe perempuannya. Karena meski telah lima tahun berteman, Sylus sama sekali tak pernah membahas tentang perempuan idealnya di depan teman-temannya.
Termasuk tentang perempuan itu.
Sylus memejamkan matanya, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa, “it’s already one year and I still didn’t know your name,” bisiknya lirih.
Beberapa saat kemudian, bel apartemennya berbunyi. Teman-temannya telah sampai, sepertinya. Butuh beberapa kali berbunyi untuk membuat Sylus membuka kembali matanya dan beranjak menuju pintu. Dan benar saja, begitu pintu terbuka, ia langsung disuguhi dengan kehadiran teman-temannya, menenteng beragam barang di tangan masing-masing. Matanya kemudian melirik ke arah wajah Rafayel, terlihat sangat siap untuk menyemprotnya karena tak langsung membukakan pintu untuk mereka. Sylus pun menghela napas dan segera menyingkir, memberikan jalan untuk mereka agar dapat masuk ke dalam apartemen. Dimulai dari Rafayel yang sekaligus langsung mengomel sesuai dugaannya, Xavier yang belum apa-apa sudah menguap kecil, Zayne yang tersenyum kecil padanya, dan Caleb yang sedikit menyenggol bahunya iseng, membuatnya memutar matanya malas.
Hingga akhirnya, matanya bertemu dengan mata itu. Mata sejernih laut yang berhasil membuatnya membeku, seperti saat itu.
It’s her. The girl he’s been looking for one year. The girl he’s been waiting and waiting at the same place for one year. The girl that has been his first love since the day he saw her dancing under the snow.
