Work Text:

Yeonjun merebahkan dirinya di atas kasur kamar hotelnya yang nyaman. Dirinya baru saja menyelesaikan penampilan di sebuah konser di London bersama dengan keempat rekan satu timnya. Menampilkan pertunjukkan selama kurang lebih tiga jam terlihat mudah bagi seorang Yeonjun, tapi setelah akhirnya ia sendirian seperti di kamarnya saat ini, Yeonjun baru merasakan lelahnya.
Lelaki berambut hitam itu menutup mata sejenak dan menjilat bibir bawahnya. Yeonjun otomatis mendesis saat ia merasakan rasa perih akibat kebiasaannya untuk menjilat bibir. Ia baru ingat kalau bibir bawahnya tanpa sengaja terluka saat menampilkan lagu solonya tadi.
Yeonjun mengambil ponsel di saku celananya dan membuka fitur kamera untuk memeriksa lukanya. Tadi para staf sudah memberikan tisu untuk menekan lukanya agar berhenti berdarah dan sebuah kantong kompres berisikan es batu untuk mengurangi pembengkakan, katanya. Mungkin ini perasaan Yeonjun saja, tapi bibirnya masih terlihat sedikit bengkak sekarang. Ditambah dengan dirinya kembali ingat kalau bibirnya terluka, rasa ngilunya kembali datang.
Oleh karena itu, Yeonjun beranjak dari kasurnya dan menuju pintu untuk meminta kantong kompres dingin tadi pada manajer mereka. Namun, laki-laki jangkung itu hampir saja loncat dari tempatnya berdiri saat ia melihat sosok lelaki yang sedikit lebih pendek darinya berdiri di depan pintu, dengan tangan mengambang di depan bel. Ia yang awalnya ragu-ragu, terlihat sama terkejutnya dengan pintu yang tiba-tiba dibuka.
“Beomgyu? Ngapain di depan kamarku? Gak bilang-bilang lagi,” ucap Yeonjun setelah memeriksa ponselnya sekilas. Khawatir kalau ia melewatkan notifikasi Beomgyu.
Yang ditanya nyengir lalu menunjukkan barang bawaannya dengan bangga. “Hyung pasti nyari ini ‘kan?” ucap Beomgyu sambil memamerkan sebuah kantong kompres di tangan dan sebuah tas medis yang diapit di siku bagian dalam. Yeonjun yang diam-diam merasa terkejut–karena tebakannya setengah benar–tersenyum pada Beomgyu dan buru-buru menekuk wajahnya sok serius.
“Netnot! Karena kamu salah, ayo masuk dulu,” Yeonjun merangkul pundak pacarnya untuk membawanya masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Beomgyu hanya bisa terkekeh melihat kelakarnya.
Beomgyu mengamati keadaan kamar Yeonjun. Koper pakaian yang terbuka di ujung ruangan, selimut yang tidak seratus persen berada di tempatnya dengan rapi, dan botol plastik kosong yang ada di meja nakas samping tempat tidur. Sementara sang pemilik kamar hanya mengekorinya dan mengikuti kemana pandangan Beomgyu mengarah sambil menyesal kenapa ia tidak membereskan kamarnya terlebih dahulu.
“Hyung, kemampuan hyung buat berantakin kamar tuh emang tinggi ya?” Beomgyu berkomentar dan mendudukkan dirinya di ujung kasur. Beomgyu menatap Yeonjun dengan wajah penuh penghakiman.
‘Kan.
Yeonjun memicingkan matanya pada Beomgyu. “Kayak kamar kamu gak pernah berantakan aja,” gumamnya dan turut duduk di samping Beomgyu. Ia mengerucutkan bibirnya dan kembali mendesis. Lagi-lagi lupa kalau bibirnya sedang terluka.
Beomgyu yang ternyata sedari tadi memperhatikan bibir Yeonjun ikut mendesis dan buru-buru memberikan kantong kompres dingin pada Yeonjun. Wajahnya tampak khawatir meskipun ia tidak membicarakannya. Beomgyu menggeser duduknya ke arah Yeonjun untuk melihat luka tersebut secara dekat sebelum akhirnya Yeonjun mengompres bibirnya.
“Masih sakit ya, hyung?” tanyanya prihatin. Bibirnya sedikit maju sambil masih berusaha untuk melihat luka tersebut. Yeonjun jadi salah tingkah sendiri, apakah sebaiknya ia mengompresnya atau membiarkan Beomgyu mengamati lukanya.
“Masih kebas dan perih dikit kalau kena sesuatu atau terlalu gerak. Tapi gak apa-apa kok,” ucap Yeonjun yang memilih untuk tetap mengompres bibirnya. Tangannya yang lain mengeluarkan ponsel untuk memeriksa jam, lalu meletakkannya di atas kasur begitu saja.
Usai Yeonjun mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, Beomgyu menatapnya dengan kedua alis berkerut dan bibir yang semakin maju. Melihat pacarnya bertingkah lucu untuk ‘mengancamnya’ begini hanya membuat Yeonjun terkekeh. Ingin sekali rasanya untuk mencium bibir kerucut itu.
“Hyung beneran gak apa-apa, Beomie! Darahnya juga langsung berhenti tadi ‘kan,” kata Yeonjun berusaha meyakinkan laki-laki yang sudah menghapus riasan wajah dan berganti ke pakaian tidurnya. Sudah wangi sabun juga. Sepertinya Beomgyu sudah mandi. Cepat sekali.
“Bener juga,” akhirnya Beomgyu menyerah dan membuka tas medis yang dari tadi mereka abaikan. Dilihatnya Beomgyu mengambil sebuah cotton bud dan mengoleskan pelembab di ujungnya dengan hati-hati karena salah satu tangannya sedang dibalut dengan belat pergelangan tangan.
Yeonjun tersenyum tipis melihatnya. Kalau boleh jujur, Yeonjun sebenarnya suka-suka saja diurus oleh pacarnya seperti ini. Namun bukan di saat-saat seperti ini, dimana Beomgyu juga sedang lelah dan terluka.
“Padahal kamu gak perlu ke sini dan istirahat di kamar kamu aja lho,” ucap Yeonjun, merasa sedikit bersalah.
Beomgyu mengangkat kepalanya. “Tapi aku mau ke sini tuh? Hyung larang aku buat ke sini?” tanya Beomgyu dengan nada dramatis, ekspresi wajahnya pun sesuai.
Yang ditanya mendengus. “Kamu tahu maksud aku bukan gitu,” Yeonjun merespon dengan kalem. Ia mulai mengantuk.
Yang lebih muda terkekeh. “Aku khawatir. Tadi aku gak sempet liat secara deket dan bahkan pas kejadian pun gak lihat, sampe harus nyari di Twitter. Aku gak nyangka kalo darahnya sebanyak itu. Sampe bisa netes. Makanya aku khawatir. Ayo mana sini bibirnya,” Beomgyu menyodorkan cotton bud beroleskan pelembab pada Yeonjun.
“Oh ya? Berarti kamu lihat dong kerennya aku play it cool pas nyadar kalo bibirku berdarah? Mirip vampir ganteng gitu ‘kan?” Yeonjun bertanya dengan nada menyebalkan sambil menaikturunkan alisnya. Beomgyu hanya menatapnya datar dan Yeonjun kembali bertingkah normal serta menurunkan kompresnya.
“Aw!” Yeonjun berjengit saat Beomgyu menekan cotton bud tersebut di atas luka bibirnya. Kedua alisnya menukik karena rasanya Beomgyu sengaja untuk melakukan itu sebelum akhirnya betulan mengoleskan pelembab dengan baik.
“Keren sih,” Beomgyu mulai bersuara. “Seksi juga. Betul-betul seksi…,” gumamnya di akhir seakan-akan tidak mau Yeonjun untuk mendengar. Tapi jarak mereka yang terlalu dekat tidak membantu upaya itu.
Yeonjun yang sedang membuka mulutnya agar Beomgyu dapat lebih leluasa mengoleskan pelembab pada luka yang berada di bagian atas bibir bawah hanya menarik ujung bibirnya sebagai respon.
Saat ia memeriksa respon dan pendapat orang-orang terhadap luka yang tidak diharapkan dan bagaimana ia mengatasinya, banyak orang yang berpikir demikian. Namun, Yeonjun tetap ingin mendengarnya sendiri dari pacarnya. Apapun respon yang dimiliki orang banyak, yang terpenting adalah respon pacarnya, Beomgyu.
Beomgyu menurunkan tangannya sambil terus memperhatikan bibirnya. Sepertinya sudah selesai.
“Tapi aku jadinya gak bisa cium!” rengek Beomgyu tiba-tiba.
Huh?
Mata Yeonjun berkedip berkali-kali. Beomgyu kembali ke setelan angry puppy–kedua alis menyatu, bibir maju, dan dengan tambahan mata melotot. Bukannya terlihat seram, tapi malah terlihat menggemaskan bagi Yeonjun. Apalagi sepasang mata indah itu.
“Jadi kamu ke sini sambil khawatir cuma karena khawatir kamu gak bisa cium untuk sementara?” tanya Yeonjun menahan tawa.
Beomgyu mengangguk dengan semangat. “Iyalah. Ya kali aku khawatirin bibir hyung?” ucapnya dengan nada sok angkuh. Kedua tangannya sibuk membereskan barang-barang yang ia buka tadi. “Tadi aku cari di internet soalnya dan katanya begitu,”
Tak lama kemudian mereka tergelak bersama karena sama-sama merasa konyol. Percakapan mereka malam ini mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi rasanya tetap nyaman. Yeonjun menikmati kebersamaan tersebut dengan Beomgyu.
Yeonjun memperhatikan pergelangan tangan Beomgyu yang dibalut dengan belat sampai ke bagian bawah siku. Kemudian seakan-akan tubuhnya disetir secara otomatis, Yeonjun mencondongkan tubuhnya dan meraih bibir Beomgyu yang masih sedikit maju dengan bibirnya sendiri. Hanya menempel, tapi tetap bersuara saat ia melepaskannya.
Lebih tepatnya terpaksa melepaskannya karena Beomgyu mendorongnya terkejut. Kalau saja Yeonjun adalah seseorang yang lemas dan letoy, dirinya sudah pasti terjungkang ke belakang.
“Hyung! Gak boleh!” pekik Beomgyu menutup mulutnya sendiri seakan-akan mereka sedang harus diam-diam bermesraan karena ada orang lain di ruangan itu. “Nanti lama sembuhnya jadi makin lama bisa ciumannya!”
Yeonjun tertawa. Pacarnya lucu sekali kalau sudah jujur.
“Pas kamu searching tadi, berapa lama sampe bibir yang luka bisa ciuman lagi?” tanya Yeonjun sambil bangkit berdiri untuk mengambil makeup remover di kopernya.
“Lah, mana aku tahu,” jawab Beomgyu enteng. Lelaki itu sudah membaringkan punggungnya di atas kasur.
Yeonjun buru-buru menoleh. Matanya tertutup satu karena sedang ia bersihkan. “Lah, kirain kamu nyari juga,” timpalnya dengan nada yang sama entengnya.
“Sejujurnya gak kepikiran sampe situ sih, tapi boleh juga dicari.” ucap Beomgyu lalu berguling untuk berbaring pada perutnya dan mengambil ponsel Yeonjun yang ada di atas kasur sisi lain. Dengan mudah Beomgyu memasukkan kata sandi ponsel tersebut dan menuju aplikasi pencarian.
Setelah hening beberapa saat dan anehnya Yeonjun hanya menetap di posisinya sambil menunggu, Beomgyu kembali menatapnya dengan ekspresi terkejut. Terlalu meyakinkan untuk sekadar akting. Perasaan Yeonjun jadi tidak enak.
“Katanya dua minggu…,” Beomgyu berkata dengan dramatis dan sekali lagi, ekspresi itu terlalu nyata untuk sebuah akting. Jadi secara tidak sadar Yeonjun mempercayainya dan merasa dunianya seketika runtuh.
“Masa gak bisa ciuman selama dua minggu?!” tanya Yeonjun heboh sendiri sambil menghampiri Beomgyu.
Gak, gak. Gak bisa. Yeonjun tidak bisa hidup tanpa ciuman dengan Beomgyu sekarang. Lewat sehari saja rasanya ia bisa sawan.
Oke, agak hiperbola.
Tapi serius. Yeonjun sangat suka mencium Beomgyu pada bagian apa saja yang dapat ia cium. Kalau ia tidak bisa mencium kesayangannya selama itu, bagaimana nasibnya?!
Beomgyu cepat-cepat membalikkan badan saat Yeonjun berusaha meraih ponselnya sambil mengatakan kalau ia harus melihatnya sendiri. Beomgyu terus berkelit di bawah Yeonjun dan menahan tawanya.
Karena tidak berhasil, Yeonjun menghentikan aktivitasnya. Sama seperti Beomgyu, napasnya agak tersengal. Yeonjun dengan kedua tangannya menahan beban dirinya di atas kasur menatap Beomgyu yang ada di kungkungannya. Tanpa sadar Yeonjun terkekeh.
Pacarnya terlihat indah sekali dari sudut pandang ini.
“Jangan sampe aku kelitikin kamu ya?” ancamnya sok serius. Tentunya ancaman itu tidak mempan bagi Beomgyu, sehingga Yeonjun betul-betul menggelitik perut Beomgyu dan saat itulah Beomgyu mengakhiri sandiwaranya.
“Ampun iya, ampun! Aku bohong!” ucap Beomgyu di sela tawa dan usahanya menahan tangan Yeonjun. “Tadi gak ada hasilnya! Cuma ada berapa lama sembuhnya, yaitu dua minggu. Apakah anda paham, Choi Yeonjun-ssi?” lanjutnya dengan nada yang berubah menjadi seperti seorang guru.
Yeonjun menatapnya bingung dan penuh penghakikan, tapi akhirnya ia tertawa pelan saja.
“Hyung juga gak boleh makan yang panas atau pedes dulu. Berarti gak boleh makan mi,” Beomgyu kembali melanjutkan hasil riset singkatnya. Mendengar kesayangannya yang lain disebut sebagai hal yang ‘dilarang’ untuk dekat-dekat sementara, Yeonjun otomatis menarik diri dan merebahkannya di sisi samping Beomgyu. Bibirnya sedikit maju karena masih agak perih kalau maju banyak-banyak.
Kekehan Beomgyu terdengar. “Makanya, hyung. Hati-hati kalo lagi perform. Enerjik boleh tapi jangan kelewat semangat kayak gitu,” ucap Beomgyu layaknya seorang cendekiawan yang menceramahi muridnya.
Yang diceramahi mendengus. “Kata yang tangannya lagi cedera,” gerutunya sambil memicingkan mata. Beomgyu yang kalah telak nyengir. “Ini ‘kan karena sepatu yang licin banget itu…,” gumamnya.
“Bener sih.” Yeonjun buru-buru menyampingkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan satu tangan. “Kenapa stylist kita bisa ngasih kamu sepatu selicin itu?! Mereka harusnya riset dulu tentang bahannya. Mereka mau kamu celaka apa ya?!” cerocosnya. Ia jadi kembali teringat betapa kesalnya saat tahu kalau Beomgyu terjatuh dari tangga karena sepatu licin yang digunakannya pada jadwal rekaman konten mereka beberapa hari lalu.
“Hyung! Tapi ‘kan aku gak apa-apa?” ucap Beomgyu yang sekarang juga mengikuti pose Yeonjun, tentunya dengan tangan yang sehat.
Kedua alis Yeonjun berkerut. “Ya untungnya gak parah! Bisa aja kejadiannya lebih parah…, astaga amit-amit. Pokoknya lain kali hati-hati kalo jalan! Kalo ngerasa outfit kamu gak nyaman atau aman, jangan lupa bilang! Atau bilang ke aku, nanti aku bilangin? Oke sip!” kata Yeonjun yang hampir seperti monolog. Tidak peduli dengan Beomgyu yang tertawa pelan dan pura-pura tidak percaya dengan kata-katanya.
Yeonjun menatap tangan Beomgyu yang cedera dengan sedih. Setiap kesayangannya mendapatkan luka atau cedera karena faktor luar, rasanya Yeonjun ingin membalutnya dengan bubblewrap dan menjinjingnya kemana-mana agar Beomgyu selalu aman dan sehat. Bagi Yeonjun, kesayangannya seharusnya tidak boleh terluka sedikit pun.
Beomgyu akhirnya terkekeh saat melihat Yeonjun serius terhadap perkataannya dan mengangguk. Sudah terbiasa dengan sisi protektif Yeonjun.
Yeonjun lalu memeluk pinggang ramping Beomgyu. “Balik ke topik utama. Dampaknya apa?” gumamnya.
Yang ditanya menaikkan satu alisnya. Bingung. “Dampak apa?”
“Dampak kalo ciuman pas bibir lagi luka,”
“Astaga, masih mikirin ciuman aja!”
Yeonjun tertawa, lalu mencium pipi Beomgyu dengan cepat. “Aku bisa lemah letih lesu lunglai lapar kalo kelewat satu hari gak cium kamu tahu,” lelaki itu cepat-cepat menjelaskan sebelum pacarnya menegurnya.
Beomgyu memutar bola mata. “Lebay!”
Yeonjun terkekeh geli dan Beomgyu mengikutinya. Lagi-lagi merasa konyol dengan perkataan mereka sendiri.
“Kalo tahu luka begini selama itu sembuhnya, next time aku pake bubblewrap aja lah. Kamu juga! Apalagi kamu,” Yeonjun bergumam di akhir, mengutarakan pemikirannya tadi. Ia mengelus pergelangan tangan Beomgyu yang menggunakan belat dengan hati-hati. Beomgyu tidak mengelak dan kembali berbaring.
Yeonjun terlalu sibuk memikirkan ide-ide absurd sampai tidak menyadari kalau Beomgyu sedang menutup matanya. “Atau pake zorbing ball?!” tanya Yeonjun tiba-tiba semangat, mengagetkan Beomgyu yang sudah hampir tertidur.
“Hyung ngagetin ih!” Beomgyu merengek, berusaha melepaskan pelukan Yeonjun yang ada di pinggangnya. Tentu saja Yeonjun tidak melepaskan pelukan itu. “Eh, eh! Iya iya maaf.” ucapnya sambil tertawa karena gemas. Tangannya kembali mengelus perut dan pinggang Beomgyu dengan lembut.
Hari semakin malam. Tidak ada lagi percakapan karena dua-duanya sama-sama mengantuk sekarang.
Yang lebih tua melirik pacarnya yang kelihatannya sudah terlelap. Bibirnya menampilkan senyum lembut. Ia mendekatkan kepalanya dan mencium bibir tebal itu. Hanya menempel, karena Yeonjun tidak mau membangunkan Beomgyu.
Tiba-tiba satu tangan Beomgyu naik dengan lemas. “Tunggu sembuh dulu, hyungie…,” gumamnya. Tangan itu kembali turun dan napas Beomgyu kembali teratur.
Astaga. Bahkan dalam tidurpun Beomgyu mengkhawatirkan dirinya?
Yeonjun terkekeh pelan. “Nanti kalo udah sembuh total, aku cium kamu sampe gak bisa napas ya? Iya, oke,” bisiknya sambil memperhatikan fitur-fitur wajah Beomgyu yang tidak sabar ingin ia hujani dengan ciuman.
Dirasa pelembab pada bibirnya sudah meresap, Yeonjun memaksa dirinya bangun untuk menuju ke kamar mandi setelah dengan rapi membetulkan posisi kedua kaki Beomgyu yang tadi berada di luar tempat tidur. Tak lupa dengan postur tubuh yang tadinya miring, menjadi lurus dengan kepala terletak nyaman di atas bantal. Beomgyu yang dapat tidur dengan segala posisi dan situasi harus berterima kasih padanya nanti karena ia telah mencegah keencokkan badan.
Tangannya dengan hati-hati menaruh selimut di atas tubuh Beomgyu. Ketika Beomgyu terluka, Yeonjun membiarkan perasaan alaminya untuk memperlakukan Beomgyu seperti sesuatu yang mudah terpecah belah.
Senyum lembut tercetak di bibir Yeonjun saat ia melihat Beomgyu mendusel dan menarik selimutnya, mencari rasa nyaman di bawah selimut. Yeonjun membungkukkan badannya dan mencium pelipis Beomgyu dengan hati-hati. Tangannya terangkat untuk mengelus rambut halus Beomgyu.
“Aku mandi dulu ya. Good night, Beomie,”
