Chapter Text
George Russell mati.
Badannya sangat bersih, berpakaian begitu apik dengan wangi yang tercium asri.
Lalu ada Max Verstappen dengan deskripsi matang mengenai duka; penuh pilu, nestapa, dan putus asa.
George Russell melihat Max Verstappen. Melihat bagaimana suaminya nampak begitu berantakan dengan mata yang benar-benar kelelahan. Tangannya mencoba menyentuh bahu yang biasa dijadikan olehnya tempat bersandar tetapi hadiah yang didapat hanyalah kesakitan yang merongga besar.
Jika angin dapat memberikan rasa kesejukan, maka belaian kosong George memberikan kehampaan.
Tangannya tidak lagi bisa menenangkan sang suami tersayang.
Seharusnya dadanya sakit, dan memang terasa sakit, tetapi George sudah mati maka itu tidak ada gunanya.
George hanya bisa mengepalkan tangan, pun ketika badan besar suaminya ambruk hingga tak sengaja menembus tubuhnya, George hanya bisa membatu bak nisan yang hendak ditancapkan di gundukan tanah, tempat di mana tubuh George Russell nanti akan dikebumikan.
