Work Text:
Lift berhenti dengan bunyi ‘ding’ pelan di lantai yang sudah sangat mereka hafal.
Begitu pintu lift terbuka, Younghyun langsung melangkah ke lorong tanpa menunggu siapa pun.
Sungjin menyusul di belakangnya, langkahnya lebih tenang. Wonpil berjalan paling akhir, mengikuti mereka tanpa terburu-buru.
Sesampainya di dorm, Wonpil adalah orang yang masuk paling akhir. Ia menutup pintu dorm di belakangnya dan memastikan pintunya sudah tertutup sempurna, lalu menunduk untuk melepas sepatunya.
Dan disitulah pandangan dan gerakannya terhenti. Matanya menangkap sepasang berwarna biru yang tertata rapi di sudut paling pinggir.
"Eh?" Wonpil mengerutkan dahi begitu melihat sepatu itu. Karena berdasarkan ingatannya, sang empunya sepatu biasanya jarang berada di dorm.
Wonpil berjalan menuju ruang tengah dan meletakkan tasnya ke sofa, mencoba menepis dugaan yang tiba-tiba muncul.
"Younghyun hyung," panggilnya santai sambil mengikuti langkah Younghyun yang sudah berada di area dapur, "Udah pesan makan?"
"Sebentar..."
Younghyun membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa wadah makanan, lalu meletakkannya di meja makan satu per satu. Jumlahnya lebih banyak dari biasanya.
"Dowoon sepertinya sudah pesan beberapa buat kita," kata Younghyun santai. "Schedule solonya selesai lebih dulu dari kita, tadi dia sempat kasih kabar di grup."
Wonpil memiringkan kepalanya begitu mendengar informasi tersebut. "Dowoon?" dengan buru-buru dia membuka aplikasi chatnya.
Di sisi lain, Sungjin sudah membuka semua tutup wadah makanan. Satu per satu. Sampai akhirnya ia berhenti di satu menu, isinya tinggal setengah.
“Aish,” Sungjin menghela napas. “Makannya cuma segini.” Nada suaranya terdengar kesal, tapi jelas bercampur khawatir. “Padahal akhir-akhir ini dia sibuk banget.”
Wonpil mendekat ke meja makan. Matanya menghitung cepat, ada lima menu. Empat masih utuh.
Pandangannya lalu beralih ke arah wastafel dapur. Di sana ada satu mangkuk bersih yang sudah dicuci dan diletakkan terbalik.
Dowoon memang sering begitu.
"Ya mau gimana lagi, hyung,” sahut Younghyun sambil memasukkan salah satu wadah ke microwave. “Mau capek, mau lapar, porsinya tetep segitu.”
Sungjin hanya bisa mengusap wajahnya dan menghela napas.
Makan malam mereka berakhir tanpa banyak percakapan. Hanya bunyi sendok dan sumpit yang beradu pelan dengan mangkuk, serta gumaman bahagia karena perut kenyang.
Younghyun berdiri lebih dulu. Ia membawa sedok, sumpit dan gelas kosong yang sudah dipakainya ke wastafel dapur, meletakkannya di sana begitu saja.
“Aku mandi dulu,” katanya singkat, sudah setengah berjalan menuju kamar mandi.
Sungjin hanya mengangguk. Tanpa berkata apa-apa, ia mulai mengumpulkan wadah-wadah makanan kosong di atas meja. Plastik pembungkus, kertas, sisa makan, dan kotak-kotak delivery dipisahkan dengan rapi sesuai dengan jenis sampahnya. Ia menggeser tempat sampah lebih dekat dan memasukkan semuanya satu per satu.
Wonpil memperhatikan sejenak, lalu ikut berdiri. Ia mengumpulkan sendok, sumpit, dan gelas yang tersisa, membawanya ke wastafel. Air mengalir pelan saat ia mulai membilas, gerakannya teratur dan tenang saat melakukan kegiatan mencuci.
Dari arah kamar mandi terdengar suara pintu tertutup dan gemericik air.
Sungjin menyeka meja makan dengan lap bersih, memastikan tidak ada noda minyak atau remah yang tertinggal. Setelah itu, ia menoleh ke arah sudut dapur, ada beberapa tumpukan kantong sampah sejak semalam yang tersusun rapi di dekat wastafel dapur, sampah itu belum sempat mereka buang sebelum mereka keluar tadi pagi.
Sungjin menghela napas pendek.
Kantong-kantong itu diikat, satu per satu. Sungjin mengambil jaketnya, bersiap keluar dan turun kelantai bawah untuk membuang sampahnya.
Wonpil selesai mencuci sendok, sumpit, dan gelas. Ia menatanya di rak pengering, lalu menyeka tangannya dengan lap kecil. Matanya melirik ke arah pintu kamar mandi, suara air mengalir masih terdengar.
Wonpil masih berdiri di dapur ketika pintu dorm kembali terbuka.
Udara malam ikut menyelinap masuk, membawa aroma dingin lorong apartemen. Sungjin masuk sambil menutup pintu dengan pelan di belakangnya, melepas jaket dan menggantungkannya kembali ke tempat semula. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung menuju dapur dan mencuci tangan.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Younghyun keluar dengan rambut masih sedikit basah, handuk tersampir di leher. Ia berjalan melewati ruang tengah tanpa banyak bicara, langsung menuju kamarnya.
Wonpil mengambil gilirannya. Ia menyiapkan pakaian, lalu masuk ke kamar mandi setelah memastikan semuanya rapi.
Saat Wonpil keluar, uap tipis masih menggantung di udara kamar mandi. Ia menepuk bahu Sungjin pelan sebelum berlalu, isyarat sederhana bahwa kamar mandi sudah kosong dan kini giliran Sungjin untuk mandi.
Setelahnya Wonpil berjalan menuju kamarnya, tapi langkahnya perlahan melambat. Pandangannya tertuju pada pintu kamar Dowoon yang sedikit terbuka.
Tanpa sepenuhnya sadar, kakinya berbelok, menuju kamar Dowoon. Wonpil mendorong pintu itu perlahan. Lalu menutupnya hingga terdengar bunyi ‘klik’ lembut.
Lampu kamar yang temaram itu memperlihatkan Dowoon yang tidur dengan posisi menghadap langit-langit, dengan selimut menutupi sebatas perut, napasnya teratur, damai.
Di sisi kiri Dowoon, di antara dinding kamar dan tubuh Dowoon, ada sosok lain yang tampak sudah lebih dulu berbaring. Younghyun. Posisi tubuh Younghyun miring menghadap Dowoon, punggungnya hampir menempel ke tembok.
Wonpil terdiam sesaat. Terpaku akan posisi Younghyun yang sengaja menyelipkan diri seperti kucing.
"Hyung?" Wonpil berbisik namun suaranya menyiratkan perasaan terkejut, "Kok dirimu disini?"
"Kamu juga sama, memang ini kamarmu?" intonasi Younghyun bernada pembelaan, dengan posisi badan tetap menyamping di sebelah Dowoon.
"Ya nggak sih." Wonpil menggaruk pipinya yang tidak gatal, salah tingkah.
"Pingin nengok si bontot ya?" suara Younghyun terdengar jahil disana. "Udah lama banget dia gak tidur di dorm, mangkanya aku mau isengin dia. Tapi aku ambil posisi begini dia tetap aja tidur," katanya sambil mengusap lembut kepala Dowoon.
Wonpil menarik kursi beroda yang ada di dekat ranjang, menempelkan pipinya ke sandaran kursi itu. Ia duduk diam, memperhatikan Dowoon yang tidur dengan tenang, dan Younghyun di sampingnya.
Suasana seperti ini berasa déjà vu bagi Wonpil.
"Pil, kamu nggak mau ikutan baring sebelah Dowoon. Udah lama kita gak begini loh!"
Wonpil terdiam sesaat, memproses ucapan Younghyun barusan. Oh! Lalu ingatannya melayang ke masa mereka latihan bersama di unitnya Dowoon waktu wajib militer, dan memang, mereka bertiga pernah berbagi kasur. Berjubel lebih tepatnya. Pantas saja pemandangan malam ini terasa begitu familiar.
Dengan perlahan Wonpil mengambil tempat kosong di sebelah Dowoon. Dan benar saja, lelaki paling muda itu tidak merespon apapun. Padahal biasanya dia dengan mudah terbangun, entah suara atau gerakan sekecil apapun.
Wonpil yang sekarang memiringkan badan menghadap Dowoon dan Younghyun, dengan tangan kirinya menopang kepalanya agar lebih tinggi dari kepala Dowoon. Wonpil masih mau mengobrol dengan Younghyun, meski dengan suara pelan agar tidak membangunkan Dowoon.
"Pantesan waktu liat kalian tadi rasanya familiar. Ternyata waktu kita latihan bareng di unitnya Dowoon buat acara itu, kita satu kasur bertiga," ucap Wonpil sambil mengusap bahu Dowoon yang tidak tertutupi selimut.
Younghyun terkekeh, mengingat memori itu. "Jujur, aku masih heran, kita bertiga bisa tidur di kasur lebih kecil dari ini."
****
Setelah Sungjin mandi dan mengambil baju di kamarnya, dia merasa heran kenapa dorm tiba-tiba terasa lebih sepi daripada biasanya. Younghyun dan Wonpil tidak terlihat di ruang tengah ataupun di dapur. Dia juga sempat mengecek sepatu mereka barangkali mereka keluar rumah, namun sepatu-sepatu itu masih tersimpan rapi di samping rak.
Sungjin lalu mencoba mencari mereka di kamar masing-masing dengan mengetuk dan membuka pintunya. Namun tetap saja nihil. Satu ruangan yang belum dia cek adalah kamar Dowoon.
Sungjin mengetuk pintu kamar dua kali lalu membukanya. Terlihat kedua orang yang dia cari dan seorang yang sejak awal tidur, ternyata berada di tempat yang sama. Dengan perlahan Sungjin menutup pintu di belakangnya.
"Kalian ngapain ngumpul disini. Tumben." Sungjin heran, melihat gelagat kedua orang tersebut.
"Cuma pingin nemenin Dowoon tidur aja." Younghyun menjawab asal.
"Lah. Dikira dia masih bocah apa?" Sahut Sungjin geli.
"Lebih ke kangen aja sih, hyung." Timpal Wonpil pada akhirnya.
Sungjin dengan perlahan duduk di kasur, di antara kaki mereka bertiga. "Jujur aja, kalian berdua ada niat apa disini?" Sungjin masih berusaha menyelidiki maksud mereka.
Younghyun dan Wonpil saling lirik.
Sebelum akhirnya Younghyun menjawab. "Beneran karena kangen. Udah lama gak liat bontot satu ini di dorm. Biasanya kan dia di apartemennya, untung aja kita gak ubah kamarnya menjadi walk-in closet."
Wonpil menahan tawa ketika mendengar ucapan tulus serta sindiran dari mulut Younghyun. Sedangkan Sungjin cuma bisa menggeleng-gelengkan kepala.
Belum juga mereka merespon kejadian tersebut tiba-tiba terdengar suara parau.
"Ahh.. berisik!" Dowoon menggeliat, lalu menutup telinganya dengan bantal.
Ketiga tamu yang tidak diundang tersebut langsung terdiam, begitu menyadari pemilik kamar tersebut terbangun.
Belum sempat Sungjin menenangkan diri, Younghyun membuka suaranya lagi.
"Eh, Dowoon. Kalo kita berempat satu kasur boleh, kan?”
Sungjin dan Wonpil melotot begitu mendengar ucapan Younghyun yang tidak masuk akal itu.
Jika saja jarak mereka tidak terlalu jauh, Sungjin ingin mencubit bibir Younghyun.
"Dowoon jawab, jangan tidur lagi!" Younghyun masih sibuk menepuk bahu lelaki paling muda itu. Menunggu persetujuan sang pemilik kamar.
Dowoon mendengus pelan, menyingkirkan bantal yang menutupi telinganya, matanya masih setengah tertutup.
"Terserah,” gumamnya malas.” Tapi kalo masih gangguin lagi, aku tendang kalian satu-satu."
Dowoon kembali memejamkan matanya, melanjutkan kegiatan tidurnya.
Hening.
Sebelum akhirnya Younghyun memberikan tanda jempol kepada Wonpil.
Wonpil menatap tajam ke arah Younghyun.
Younghyun malah nyengir lebar. “Berarti boleh.”
“Yang bener aja…” Wonpil menghela napas, jelas kalah sebelum perang dimulai.
"Semisalnya gak cukup, Dowoon kita jadikan sandwich di tengah." Younghyun mengedipkan mata, seolah itu ide paling jenius sedunia.
Karena tidak mau memperpanjang debat, Wonpil bangkit dari kasur dan mengambil bantal tambahan dari kamarnya.
Sungjin hanya diam sambil memperhatikan Younghyun dengan santai melingkarkan tangannya di dada Dowoon.
Sungjin menghela nafas panjang. Ya Tuhan, kenapa jadi kayak gini.
Begitu Wonpil kembali dengan dua bantal tambahan, Sungjin menyuruh Wonpil untuk berbaring di sebelah Dowoon sedangkan Sungjin sendiri yang berada di pinggir kasur.
Wonpil dengan posisi miring ke kiri, menghadap Dowoon dan Younghyun. Sedangkan Sungjin berbaring agak menyerong, kepalanya tetap menghadap langit-langit, tetapi tubuhnya condong ke kiri, mengikuti kemiringan Wonpil di sebelahnya.
Begitu keempatnya akhirnya berbaring sejajar, napas mereka mulai pelan dan sinkron. Sungjin membiarkan matanya terpejam, sambil mendengarkan suara nafas teman-temannya.
Tanpa benar-benar Sungjin sadari, bahu kanannya sedikit bergeser. Lengannya ikut bergerak, menyelinap pelan melewati lengan Wonpil, membuatnya menggeliat kecil tapi tidak protes. Tangan Sungjin yang menjulur itu mencari tangan Dowoon yang berada di luar selimut. Namun sebelum Sungjin sempat benar-benar menggenggamnya—
“Hm.. hyung?” suara Dowoon terdengar lirih. “Kita mau tidur kan, bukannya mau nyebrang jalan.”
Butuh satu detik sebelum Sungjin menyadari apa yang baru saja dikatakan Dowoon.
Tawa meledak.
Wonpil menahan tawa dengan menutup mulutnya dengan bantal, bahunya naik turun. Younghyun tertawa tanpa suara tetapi badannya membuat kasur sedikit bergetar. Bahkan Dowoon sendiri ikut terkekeh kecil sebelum akhirnya jari-jarinya membalas genggaman Sungjin.
Sungjin ikut tertawa. Dadanya terasa ringan.
Tawa mereka perlahan mereda, menyisakan keheningan yang berbeda dari sebelumnya. Membuat mereka lebih nyaman dan dekat.
Sungjin tertidur dengan senyum kecil yang bahkan tidak ia sadari.[]
