Work Text:
Saat itu umurnya baru menginjak usia tiga dan tak punya teman sebaya di sekitar rumah. Tak pernah keluar dari area taman karena jika satu langkah saja tungkainya berpijak pada luaran sana, maka akan ada wanita paruh baya yang dengan sigap membawanya masuk kembali ke dalam.
"Martin gak boleh main di luar, sayang."
Sepertinya ini menjadi alasan kenapa Papi membelikan mainan yang banyak.
Mami selalu tersenyum manis tiap kali mendengar rengekan Martin bahwa ia ingin mempunyai teman, sambil merapikan rambut Si Kecil yang sedikit berantakan karena tiupan angin, Mami menjawab, "sebentar lagi, ya. Nanti kamu bakal punya teman."
Dia percaya Mami sepenuhnya, menunggu hari itu datang dimana ia bisa leluasa bermain di luar bersama teman sebaya.
Selang beberapa hari dari pembicaraan itu, ternyata perkataan Mami benar adanya. Di sebelah rumah yang dulu kosong kini terisi dengan satu keluarga lengkap dengan Kakak dan Adik yang seumuran dengannya.
Katanya itu adalah teman Mami waktu dulu sekolah, makanya mereka sedekat sekarang. Malah sering menitipkan Si Bungsu pada Mami saat mereka sedang tak ada di rumah.
Martin sangat senang karena dia mempunyai teman sekarang, semua berjalan menggembirakan sampai saat dia mengeluarkan mainan pistol dari kamarnya untuk ditunjukkan kepada Si Teman. Biasanya anak kecil memang begitu, ingin menunjukkan apa yang ia punya pada teman baru.
"Sean liat! Aku punya pistol!"
Pistol mainan itu pemberian dari Papi sewaktu ia ulang tahun kedua dulu.
Terlihat binar mata SeanㅡSi Teman baru saat melihat mainan milik Martin, yang lebih kecil langsung merebut mainan itu dari tangan sang pemilik lalu berlari keluar bertingkah seperti dirinya adalah pahlawan yang sudah menangkap pencuri sambil menodongkan pistol itu ke arah tanaman.
"Dor! Dor!"
Martin sumringah melihatnya, bagai menemukan setengah diri yang ia cari selama ini.
Tak apa kalau mainannya direbut, asal ada yang menemani bermain ternyata cukup membuat dia bahagia di umur yang seharusnya belum mengerti apa itu konsep bahagia. Dia lalu bertingkah seperti pencuri dengan bergeletak di lantai dan memegang dada seolah tembakan Sean tepat kena sasaran.
Hari kedua main pun berjalan menyenangkan, kali ini Martin membawa mainan mobil canggih yang bisa digerakkan oleh remote. Sean tentu menyukainya, dia merebut lagi mainan itu dan bermain sendiri tanpa Si Pemilik.
Tak apa, toh cuma mobil remote saja, dia bisa meminta lagi pada Papi nanti.
"Jangan dibawa pulang!"
"Pinjam sebentar! Nanti aku balikin."
"Mana pistol punyaku?"
Keduanya lalu menuju ke rumah Sean mengambil pistol mainan yang kemarin sempat ia pinjamkan, mobil remotenya masih Martin tinggalkan.
Hari perhari Martin selalu diawali dengan mengeluarkan mainan dan diakhiri dengan mainanya direbut oleh Sean, mobil remote saja belum dikembalikan, sekarang dia sudah merebut vidio gim miliknya.
Setahun berlalu menjadi tetangga, Martin malah sering mengadu pada Mami. Dia bilang kalau Sean selalu mencuri mainannya, lalu Mami dengan lembut menjawab. "Sean cuma pinjem, sayang. Nanti dibalikin."
"Mami udah gak sayang lagi sama Martin! Mami sayangnya sama Sean!"
Semenjak itu, dari usia empat sampai sekarangㅡtepatnya Sean dan Martin masuk sekolah dasar, tingkahnya masih sama, Martin semakin tak suka dengan Sean.
Sean merebut alat tulisnya, merebut sepeda untuk pergi keliling komplek, merebut semua yang menjadi kesukaan Martin.
"Martin! Aku pinjem sepeda, ya!"
"Sean kan kamu punya sendiri,"
"Aku lebih suka naik sepeda kamu."
Martin memandangi punggung yang sedang menaiki sepedanya, dia menggerutu kesal dengan sumpah serapah yang tak lupa ia rapalkan.
Lalu beberapa detik kemudian tak sampai di depan gerbang komplek perumahan, Sean malah terjatuh dari sepeda karena terserempet mobil yang melaju cukup kencang. Martinㅡanak umur delapan yang tadinya kesal dan geram sepedanya dipinjam oleh teman malah banting menjadi khawatir saat yang meminjam terjatuh dari sepedanya, terlihat jelas dari geraknya yang cepat menghampiri Sean, membantu Si Kecil bangun lalu menawarkan gendong punggung menuju rumah.
Tangisan Sean semakin menjadi membuat Martin makin panik, luka di lutut Sean ternyata cukup dalam, ditambah darah yang sedikit bercucuran. Masih ada sepuluh rumah lagi yang harus mereka lewati untuk sampai di rumah Sean, sementara dia sudah meringis nangis sambil sesekali meremas pundak Martin menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan.
Akhirnya Martin mendudukan pria kecil itu di sebuah pembatas taman dan kini keduanya saling berhadapan. Tenang, kata Mami harus menghadapi semua masalah dengan tenang. Ia ambil nafas dalam lalu mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam tas sekolah miliknya.
Meniup luka itu amat pelan sampai Sean tak merasa sakitan dan menutupnya dengan plester bergambar tokoh kartun kesukaan.
"Sakit! Martin sakit!"
Wajah sudah basah penuh dengan air mata bercampur ingus yang digosok oleh punggung tangan sendiri, membuat Martin melihatnya agak jijik. Sean mana peduli, meski Martin sudah membantu mengusap air matanya beberapa kali.
"Makanya kamu jangan nakal! Aku udah bilang jangan pake sepedaku! Sepedaku kan tinggi, kamu pendek, SeㅡAk! Kenapa malah narik rambut aku, Sean? SAKIT AKh!"
Martin .. martin .. Sean sedang kesakitan begini mana masuk jika dinasehati? Yang ada kesalnya malah makin menjadi meskipun dia sedang mengalami penderitaan sedari tadi.
Setelah melepas rambut dari genggaman kuat Sean, dia kini mengusap pelan kepalanya yang terasa sakit. Kalau tahu temannya seperti ini, dulu ia tak ingin meminta pada Mami.
Sean yang tak henti merengek meskipun air mata sudah kering ini makin membuat Martin jengkel, nafasnya ia tarik panjang sebelum mengeluarkan kata serangan.
"Diam, Sean. Nangis kamu jelek!"
Lima kata itu spontan terucap dari mulut Martin dan membuat Sean langsung terhenti menangis lalu hal ini pula menjadi dorongan kuat dari Sean untuk semakin membuat Martin kesal setiap harinya.
Sampai mereka memasuki dunia sekolah menengah pertama di mana awal tahun mereka harus mengikuti satu ekstrakurikuler tambahan di sekolah berambisi wajah mereka terpampang bersama empat siswa terbaik lain di tahun pertama masuk buku tahunan sebelum libur musim panas.
Ekstrakurikuler reporter koran menjadi yang pertama masuk daftar hitam keduanya, menjadi student council pun tak mungkin ikut serta, jazz dance club, cooking club, swim club, tentu saja TIDAK. Lalu patroli keamanan sekolah? Tanggung jawabnya besar, membayangkannya saja membuat keduanya ogah-ogahan.
Berakhir pada Sean menuliskan namanya pada kertas bertuliskan Ekstrakulikuler Gulat yang tertempel di Mading.
Iya, Gulat.
Dipikir Martin akan memilih sebagai anak reporter koran karena sudah diajak oleh temannya, tapi saat Sean mengikuti kelas pertama Gulat, dia malah mendapati Martin sudah siap dengan pakaiannya.
Semua murid dipisah berdasarkan berat badan, dan yang mengejutkan Martin dan Sean berada di garis sama.
Pelatih George mengisyaratkan Martin untuk maju terlebih dahulu dan memilih lawan, dan sialnya malah Sean lagi yang harus ia hadapkan.
Berteriak layaknya pegulat sungguhan lalu berlari ke arah masing-masing dan memegang kedua pundak sebelum akhirnya Martin dengan mudah dikalahkan oleh Sean dengan sekali lemparan.
Kalau menyangkut tentang Martin, tolong jangan remehkan Sean!
Martin tak mau kalah, buktikan bahwa ia juga bisa dengan hempaskan tubuh Sean sekali gerak dan kini berada di bawahnya.
Begitu seterusnya sampai Pelatih meniupkan peluit tanda berakhir 'pertandingan', tak ada yang kalah maupun menang, keduanya imbang.
Pulangnya Sean meminta Mama untuk dijemput karena ia merasa lemas tak punya tenaga setelah bergulat dengan Martin siang tadi.
Bukannya Papa yang menjemput, tapi malah JakeㅡKakaknya yang baru saja menyelesaikan sekolah perguruan tinggi di Australi.
Merasa jika disetir oleh Jake dirinya akan semakin muntah, Sean menggeleng enggan.
"Get in, Sean!"
"No."
"I know you lost wrestling, so get in!"
"Who told you that?"
Sean terburu memasuki mobil Jake dan duduk di samping kemudi, sampai ia tak menyadari ...
"Your enemy." Jawab Jake sambil menunjuk Martin yang sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang.
"WHAT?!"
Land Rover berwarna hitam itu langsung melaju kencang mengagetkan kedua anak SMP yang ia bawa sampai keduanya memegangi kursi mobil dan dada.
"YOU CRAZY, JAKE!"
"JAKE?!"
Yang diteriaki hanya tertawa, sudah lama rasanya tak bertemu dengan keduanya. Apakah keadaan sudah berubah sekarang? Dulu seingatnya meski Martin selalu kesal dengan tingkah tengil Sean, dia akan selalu sabar.
Tapi Jake melihat ada yang berbeda, mungkin karena mereka sudah memasuki sekolah dengan tingkat pertama, makin banyak teman makin banyak cobaan persahabatan pula.
Tak apa, dia yakin Sean dan Martin itu hanya bertengkar cuma sementara, sisanya mereka tak bisa saling jauh dari masing-masing sebenarnya.
Dirasa gulat ini tak akan berhasil membawanya menjadi siswa yang paling diingat dan ditempel di buku tahunan awal ini, Sean putuskan untuk keluar dari ekstrakulikuler itu dan akhirnya berani mengambil tanggung jawab penuh sebagai patroli keamanan.
Dipanggil oleh Mr. Max ke ruangan dengan penuh suka cita karna akan mendapat seragam kehormatan untuknya bertugas.
Kenop pintu ia buka semangat namun setelahnya jantung melorot hebat.
Sudah ada Martin di dalam.
Maksudnya apa?
"Bagus, kamu masuk di waktu yang tepat, Sean. Sini duduk."
Siapa SANGKA?
"Mulai besok kalian sudah bisa menjalankan tugas sebagai patroli keamanan."
Siapa sangka Martin juga berpindah ke patroli keamanan sekolah sepertinya? Hal ini tentu membuat keduanya gusar. Martin pikir Sean tidak akan ikut ekstrakurikuler ini makanya ia masuk, begitupun sebaliknya.
Dengan terpaksa mereka harus bekerja sama setiap pagi menjaga anak taman kanak-kanak yang akan berangkat sekolah, urutannya Sean di depan, anak-anak di tengah, dan Martin di paling belakang menjaga.
"Martin liat, Sean gak betul!"
"Martin tolong Martin saja yang di depan!"
"Martin jaga aku!"
"Martin tetap di sini."
Beberapa rengekan dari anak-anak muncul ketika Sean yang memimpin jalanan, ini bukan karna Sean tak bisa tapi karna Sean trauma.
Terserempet dua kali saat bersepeda dan jalan menuju pulang di umur empat tahun adalah alasannya dan Martin mengetahui semua.
Buktikan bahwa ia tak takut dengan apapun, keesokan harinya Sean lebih dulu menuntun anak-anak tanpa Martin. Awalnya berjalan lancar, namun yang namanya anak taman kanak yang ada saja tingkahnya buat Sean sedikit kewalahan.
Ada satu anak yang berlarian sehingga Sean harus mengejar lalu hilang fokus pada anak lain dan membuat ia mengalami hal serupa waktu dulu kala.
Sean merasa sangat bersalah, menginjak SMP ini harusnya ia seperti Martinㅡdapat diandalkan, bukannya menyusahkan.
Seminggu lamanya ia tak masuk sekolah.
Beberapa hari kemudian ia mengundurkan diri dari patroli keamanan tinggalkan Martin sendirian.
Sampai ia baru ingat malam ini adalah malam Halloween dimana ia ingin berkunjung ke rumah di bagian utara komplek untuk mendapatkan permen atau manisan sebanyak mungkin.
Jangan keluar malam kecuali bersama Martin adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Mama Sean saat anaknya ini meminta izin untuk keluar malam.
Sudah menyiapkan kostum halloween keren Detective Conan begini sayang kalau tidak keluar rumah dan melewatkan malam penuh tipuan.
Sean sedikit mendecak kesal dengan tangan yang memegang telepon rumah hendak menelepon Martin untuk mengajak keluar bersama.
"Martin, can we go out tonight?" Tanya Sean terburu buat Martin tak sepenuhnya mengerti apa yang ia ucapkan.
"Huh?"
"Ish! LET'S GO OUT TONIGHT, MARTIN! You hear me right? Let's go out to the north side for treats."
"No."
Martin menolak tegas.
"Why you refuse to go? It's halloween night, let's strolling around and get some sweet."
"I can give you some sweet tomorrow."
"What are you talking about?"
"No, Sean."
Entah apa yang membuat Martin tidak mau pergi menghabiskan malam dengan Sean, yang pasti Sean sudah setengah putus asa.
"Martin please? Mom’s cool with me going if you're there."
Martin segera menutup telepon rumahnya buat Sean tak percaya, apa karena kejadian kemarin membuat Martin marah besar padanya?
Sudah memakai baju detektif tapi hanya duduk sendiri di kamar melihat di jendela anak lain sedang bermain, apa yang seru?
Sean rasanya ingin menangis, halloween tahun ini mungkin akan menjadi yang terburuk baginya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka buat dirinya terperanjat.
Martin sudah berada di ambang pintu dengan kostum halloween miliknya.
"Let's go to north side."
Sean menarik Martin dengan cepat ke dalam kamar dan menutup pintu rapat.
"Sst, please. I don't tell my mom we will go to north side."
Rasanya Martin sedang dijebak.
"You?!ㅡ"
Sebelum Martin protes, Sean sudah lebih dulu memasang muka memohon, matanya sayu tatap Martin yang sudah seminggu ini tak ia temui.
Hati yang tadi mengeras akhirnya luluh juga, Martin setuju pergi ke North Side hanya sebentar untuk mendapat permen dan manisan saja, setelah itu mereka berdua akan segera pulang dan Sean menyetujuinya.
"I will give any sweets tomorrow, can we just go back?"
"You scare?"
"I'm not."
Langkah kaki Sean terhenti kala melihat sesuatu tak asing melewati jalan komplek di sebelah utara ini.
"Why?" Tanya Martin bingung dengan tingkah Sean.
Jari menunjuk pada satu mobil yang berjalan pelan di depan mereka, Martin ingat itu adalah mobil yang sudah menyerempet Sean dan kabur begitu saja.
Martin masih menyimpan dendam padanya.
Dengan cepat tak pakai pikir panjang, Martin mengambil selang air di sembarang rumah dan menyemprotkan air itu pada mobil yang kini jaraknya hanya beberapa kaki saja.
"Martin, Martin! Stop, mereka bakal ngejar kita!"
Sean sudah sepenuhnya ketakutan terbukti dengan tangan yang menarik baju Martin untuk mundur.
"Hey bocah! Berani-beraninya!"
Saat mendengar teriakan itu pula Martin dan Sean langsung ngacir lari ke arah timur mencari perlindungan, nafasnya sudah terperangah, kaki yang dirasa masih sakit buat Sean meringis tak henti.
Malam halloween ini mereka malah balik dikejar oleh seseorang yang menyenggol Sean waktu itu.
"Martin can we sit in here? It's hurt."
"No, Sean. Kalo kita duduk di sini, mereka bakal nangkap kita."
Martin dengan sigap menghampiri Sean yang tertinggal di belakang, merangkul pundak dan membantu Sean untuk berjalan sebisa mungkin.
Sampai mobil yang mengejar mereka kembali terlihat di ujung pandangan, Martin langsung menggendong punggung Sean persis seperti saat mereka umur delapan.
Martin panik, pikirannya kemana-mana apalagi ia sedang membawa Sean di punggungnya.
Maka hal gila yang pertama muncul adalah harus memasuki hutan pemuja iblis agar mobil itu tidak bisa mengikutinya sampai dalam.
"Martin no! Ini hutan!"
"Diem aja, ikutin aku!"
Sean menyerah, seberapapun ia protes, Martin tidak akan mendengar.
Dan ya, setelah lari sejauh mungkin ke dalam hutan pemuja iblis itu, Martin akhirnya mendudukkan Sean di atas rumput yang samar menampakkan hijaunya.
Nafasnya terengah dengan kedua tangan yang berkecak pinggang.
Sean yang terduduk di bawah hanya meringis kesakitan dan segera menarik tangan Martin untuk duduk di sampingnya.
"Sean lepasin! Gak bakal ada apa-apa di sini!"
Rasakan badan hangat Sean tiba-tiba memeluknya erat sungguh sampai ia sendiri seperti kehabisan nafas, Martin menggeliat dengan tangan yang ia pakai untuk menjauhkan badan Sean darinya.
"SHUT UP! IT'S YOUR FAULT BRING ME IN! YOU MUST PROTECT ME!"
Martin hela nafas dan perlahan tangan yang dipakai untuk menjauhkan itu merangkul badan sang lawan.
Di tengah hutan ini mereka terduduk berdua dengan minimnya terpaan cahaya, tangan Sean memeluk pinggang Martin, sementara Martin merangkul Sean erat berikan rasa aman.
Ternyata ini bukan Hutan Pemuja Iblis yang diceritakan orang-orang, hanya lingkungan asri dengan banyak pohon dilindungi, makanya disebut Hutan Pemuja Iblis supaya tidak sembarang orang bisa memasuki.
Sean merasa bersalah di kejadian ini, dia yang mengajak Martin pergi ke North Side dan ini lah yang terjadi pada mereka, bermalam di tengah hutan adalah hal yang tidak ada dalam jadwal hidupnya.
Meski begitu, Martin tidak menyalahkan Sean sedikit pun. Justru Martin mengusap tangan atas Sean berikan beribu rasa nyaman, kaki Sean yang tengah sakit pun Martin coba usap dan sedikit buatnya baikan.
Di bawah langit yang sudah nampak gelap dengan sedikit hamburan bintang ini mereka terlentang tak lepaskan pegangan tangan.
Saling bertaut hilangkan dinginnya udara yang menusuk karena sebentar lagi akan datang musimnya.
Sean Si Clean Freak ini tak mau rambutnya terkena rumput dan jadikan tangan Martin sebagai bantalan, Martin tak bisa menolak karena satu protes saja tidak akan membuat berubah keadaan.
Bayangkan posisinya seperti apa, dan ini semua salah keduanya.
"Martin can we go out? Kayaknya mereka udah pergi."
Sean tak berani menatap Martin namun suara yang diharapkannya belum juga muncul, dengan berani kepalanya menengadah lihat wajah Martin yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
"Martin? You should not sleep, kita harus pergi .."
Martin tak menggubris atau lebih tepatnya dia diam mungkin tertidur lelap.
Pastikan bahwa keadaan sekitarnya aman, Sean kembali letakkan kepalanya kini pada dada Martin.
Mengeratkan kembali pelukan pada pinggang yang lebih besar dan telinganya sampai di atas detak jantung yang berdegup kencang.
Tangan kanan terangkat mengambil sesuatu yang melingkar di leher sang lawan, nyatanya itu adalah kalung liontin hati kecil yang bisa menyimpan foto di dalamnya.
Rasa penasaran menguar kala Sean memegang benda metalik itu, hanya melihat sedikit tak apa kan?
Di bawah langit yang sudah nampak gelap dengan sedikit hamburan bintang ini, Sean tatap tak percaya dapati foto Martin dan dirinya tersimpan di sana.
Itu adalah foto mereka saat pertama bertemu, tepatnya saat mereka usia tiga dulu.
Tutup dan simpan kembali liontin itu di balik baju yang Martin kenakan, satu garis senyum terlihat meski tipis samar dan Sean sendiri tak bisa menghindar atas apa terlihat tadi yang entah mengapa membuat jantungnya sama berdebar.
Keesokan hari untungnya akhir pekan, setelah menginap semalaman di Hutan akhirnya Sean dan Martin pulang ke rumah masing-masing.
Habiskan seharian untuk tidur karena semalam ia tak bisa terlelap akibat dinginnya cuaca, Sean dibangunkan oleh Mama sekitar pukul dua siang karena ada yang mengantarkan beberapa manisan di depan rumah untuknya.
Keranjang dibuka dan seluruh isinya dikeluarkan namun tak ada sepucuk surat yang tertunda, hanya cokelat dan manisan asing yang mahal terletak di sana.
Besok hari saat sekolah belum puas dengan pengalaman yang ia dapat di semester awal ia memasuki SMP ini, Sean putuskan untuk bergabung dengan grup Teater yang akan pentas di musim dingin nanti.
Sudah berharap dapat pemeran utama karena dia cukup yakin dengan suara indahnya, Sean datang ke ruang latihan lalu sialnya lagi bertemu dengan Martin sedang mengincar posisi yang sama.
Meski terlihat seperti tak terjadi apa-apa pada malam halloween kemarin, jika di sekolah tetap saja mereka adalah musuh untuk mendapatkan tempat paling utama di buku tahunan sekolah.
Mereka saling adu suara buat semua orang yang berada di dalam ruangan itu menganga, keduanya tak mau kalah apalagi satu sama lain saingannya.
Miss Rebecca yang bertugas untuk menentukan siapa saja yang lolos audisi itu tak merasa pusing, dia tersenyum lebar mendengar suara Sean dan Martin yang merdu saling bersahutan.
"Sudah aku putuskan!"
Degup jantung keduanya tak bisa disembunyikan, ini adalah kesempatan terakhir menjadi pemeran utama di tahun pertama.
"Sean dan Martin jadi pohon!"
Giliran keduanya yang mengaga tak percaya.
Maksudnya apa? Kenapa tiba-tiba pohon? Bukannya audisi menyanyi ini diadakan untuk mencari pemeran utama?
"Miss sorry? Aku nyanyi buat jadi pemeran utama."
"Lho.. kata siapa pemeran utama yang nyanyi?"
Sepertinya mereka lupa membaca cerita asli sampai tak tahu mana yang harus menyanyi.
"Dramanya kan tentang musim semi, jadi pohon dan tumbuhan yang nyanyi. Sean dan kamu Martin, karena tadi suara kalian bagus jadi kalian yang menyanyi di pentas nanti sebagai pohon."
Aduh!
Sean dan Martin lagi.
Kalau hanya sekedar menyanyi tak apa, ini mereka harus berpegangan tangan juga!
Baik, tak masalah jika harus berpegangan tangan. Masalahnya ini akan dipertontonkan!
Sepanjang latihan ini mereka habiskan waktu untuk bersentuhan tangan meski keduanya terlihat enggan.
"Martin, Sean, tangannya?"
"Martin, yuk, pegang tangan Sean."
"Sean ayo dong jangan gak mau gitu."
Begitu seterusnya sampai pertunjukan musim dingin dimulai, kedua keluarga mereka datang termasuk Jake yang sudah siap dengan kamera perekam.
"Please smile, Sean, Martin, it's showtime."
Lampu aula mati berganti nyala dengan lampu sorot yang mengarah pada panggung pertunjukan, sorak sorai riuh diperdengarkan saat pemeran utama wanita mulai dipertunjukkan.
Martin dan Sean penuh gugup, ini adalah pementasan pertama bagi keduanya. Meski hanya sebagai pohon, tak apa. Tak ada orang yang langsung berhasil menjadi pemeran utama, semuanya berawal dari figuran saja.
Sudah tiga perempat jalan cerita dipentaskan, tiba waktunya suara indah Sean dan Martin diperdengarkan.
Sean melihat dari balik tirai, Jake sudah siap dengan alat perekam dan sorai semakin ramai membuatnya tambah gugup.
Hanya mereka berdua sajaㅡMartin dan Sean yang belum dikeluarkan.
Tangan dingin yang tadinya tertaut jari seperti sedang berdoa demi kelancaran acara tiba-tiba ditarik oleh tangan lain yang lebih besar darinya.
"Ew so sweaty ..."
"It nervous, Martin shut up."
Meski basah tapi Martin tetap menggenggam tangan Sean tanpa melepaskan.
Mempererat hilangkan rasa ketegangan buat sedikit demi sedikit rasa gelisah di hati Sean terhilangkan.
Keduanya lalu memasuki panggung dengan penuh senyum, disambut oleh tepukan penonton yang semakin ramai.
Kostum pohon ini tak membuat mereka kaku bergerak, seleluasa mungkin mereka gerakan kaki dan tangan lalu bernyanyi saling bersambutan.
Tangan tertaut yang tadinya terasa banyak takut kali ini melembut.
Sean balas genggaman tangan Martin dengan menautkan jarinya pada jari Martin, tak peduli apa yang akan Jake ledek nanti, Sean rasa menyanyi di atas pentas ini adalah jiwanya.
Martin dan Sean tersenyum tak hentinya timbulkan pipi yang mengembang dan mata yang tenggelam, rona bahagia terpancar saat penonton perlihatkan rasa nyaman dan senyuman ketika Martin Sean bernyanyi bersamaan.
Sampai senyum keduanya terpotret oleh reporter koran sekolah lalu menjadikan mereka sebagai sorotan utama di koran sekolah mingguan.
Pasangan Pohon di Musim Semi Terlihat Bahagia
"Pasangan? Maksudnya apa pasangan?" Sean simpan lembar koran itu pada meja salah satu reporter.
"Ini berita bagus, malah tayangan kalian selama drama paling banyak dilihat!"
Martin dan Sean saling tatap tak sengaja lalu buang muka.
"Bisa dicabut aja? Please?"
"Kalian ada sesuatu yang disembunyikan?"
"KITA GAK PACARAN!"
"Loh? Aku gak sebut kalian pacaran .. aku cuma nanya apa ada sesuatu yang kalian sembunyikan?"
Total malu terpatri jelas di muka keduanya, sama-sama memerah entah karena tersipu atau marah yang pasti keduanya sama-sama seperti kepiting rebus yang baru diangkat di dalam pemanggangan.
Menjadi terkenal di sekolah memang impian keduanya, tapi terkenal sebagai pasangan? GILA! beberapa foto beda malah dipajang di mading sekolah dan membuat semua orang mengetahuinya.
Memberikan stiker cinta di sekitar muka memenuhi foto mereka.
"Laku gini, tahun depan pementasan mending cerita prince sama princess. Sean yang jadi princess."
Pernyataan dari Keonho itu sontak membuat Martin, Sean dan Juhoon melihat ke arahnya.
Juhoon tertawa setuju mengiyakan beda hal dengan dua orang lainnya.
"No! Gue prince!"
"Hooo, jadi beneran pengen drama sama Martin lagi? Okay, nanti tinggal laporan ke Miss Rebecca."
Aduh! Maksudnya Sean bukan begitu! Dia hanya ingin menjadi pangeran bukan main pementasan lagi dengan Martin sebagai pasangan.
"Keonho hey!! Don't you dare!!"
Keonho lari disusul Juhoon di lorong sekolah tinggalkan mereka dalam keadaan gugup dengan usap tengkuk.
Kedua lainnya berjalan beriringan di belakang.
Dapati Jake dengan mobil khasnya terparkir depan tangga keluar sekolah buat alis Sean menukik tajam.
"Will give you some treats karena kemaren adikku did great di pementasan."
Ogah pusing dengan apa yang terjadi dengan Jake kenapa ia bisa tiba-tiba begini, yang pasti Sean merasa senang. Rasanya kembali ke saat dia belum memasuki SMP dan Jake memberikannya banyak traktiran makan.
Sudah memasuki mobil dan bersiap untuk berjalan ke tempat tujuan.
Lalu sesampainya mereka di satu tempat bersih penuh warna di mana hanya ada beberapa orang yang berkunjung, ini tempat eksklusif!
Mata Sean tangkap seseorang yang tak asing baginya, perasaan tadi ditinggalkan di sekolah kenapa di sini ketemu lagi?
"Gak biasanya dia ke tempat ini." Bisik Sean namun masih terdengar oleh Jake.
"Oh... kenapa tau banget kalo Martin gak biasa ke tempat ini?"
"Diam, Jake!"
"I asked him for join us."
"JAKE?!"
Dari tempat mereka makan sampai sekarang sedang perjalanan pulang, hanya Jake saja yang mengoceh. Sean dan Martin hanya "Jake!" "Jake!" saja karena terlalu senang menggoda mereka.
"Denger dari Keonho, katanya kalian jadi trending di sekolah! Uwaaaa, emang kemaren tuh bagus banget sih, kalian cocok!"
Keonho memang benar-benar.
"Em.. Keonho juga bilang tahun depan bakal ada pementasan lagi Martin Sean, dan Sean jadi pangeran ..."
"That's me pangeran, he's a a princess!"
Martin tiba-tiba bersuara tak terima buat Jake dan Sean melihat kearahnya.
"I-itu kata Keonho! Keonho yang bilang he is the princess."
"... And you are the prince?"
"Yeㅡah! No, whatever that's princess prince not us."
Padahal yang dibilang Keonho dan Jake ini hanya bercanda, tapi keduanya seperti menganggap serius posisi mereka.
Mengingat ini lagi buat Jake tersenyum sendiri kala ia melihat tingkah Sean dan Martin yang sekarang duduk bersebelahan di sebuah acara dan kini mereka sudah menginjak bangku SMA.
Tak terasa tahun-tahun Jake lalui dengan mereka, rasanya seperti baru kemarin melihat Sean pindah dan menjadi teman Martin.
Keduanya kini datang ke acara Ajang Bakat Musim Dingin di kota, berangkat tak bersama namun akhirnya duduk bersampingan lagi selama acara.
Satu demi satu pertunjukan hebat dan ciamik dipertontonkan, sampai ada satu hal yang menarik perhatian.
Melihat dua orang anak kecil di balik kostum pohon sedang bernyanyi bersama kembali putarkan memori keduanya.
Senyum yang tak bisa dihindarkan dan bagaimana perasaan senang yang dirasakan saat pementasan.
Menginjak SMA ini mereka sepakat untuk tidak bertengkar lagi setelah apa yang terjadi di masa kecil sampai sekolah menengah pertama.
Pulang bersama setelah ajang bakat selesai adalah ide dari mereka berdua, tak langsung pergi ke rumah melainkan membeli manisan rasa berry bersama.
Sampai di rumah dengan rasa bahagia karena salah satu dari mereka mengajak berlibur musim panas ke klub janapada dan satu lain menyetujuinya.
Umur tujuh belas ini memang lagi masanya mengenal cinta, tapi Martin Sean masih belum mengetahuinya.
Habiskan waktu belasan tahun berdua buat para gadis jadi sulit mendekati karena selama itu pula mereka lebih pilih bertengkar sambil berjalan tinggalkan seorang gadis sendirian.
Begitu seterusnya sampai di lingkungan sekolah ramai akan berita bahwa Martin telah mencium seorang gadis di ruang latihan.
Bukan cuma itu, beberapa orang juga bilang kalau gadis ini tak nyaman dengan kedekatan Martin dan Sean.
Entah kenapa rasanya Sean seperti ditimpa oleh perasaan aneh yang menjalar di seluruh tubuh buatnya tak nyaman.
Siapa peduli? yang keluar dari mulut Sean mengalahkan segalanya, bersikap dingin pada Martin karena dirasa ia akan mengganggu berjalannya hubungan antara Martin dengan sang pacar.
SMA ini justru Martin dan Sean berencana untuk tidak terlalu "terlihat", berusaha menjadi siswa biasa dan menikmati masa muda bersama.
Memang apa yang terjadi tak selalu berjalan sesuai rencana, tahu-tahu keduanya mendadak terkenal karena banyak dari teman SMA nya ini datang dari teman SMP mereka.
Dan gadis ini adalah salah satunya.
Sean yang berjalan lesu di lorong kelas ini tiba-tiba kaget saat badan sedikit terpental karena ada yang menabraknya dari belakang.
"Eh sorry kak ..."
Sean yang ditabrak malah dia juga yang meminta maaf, kakak kelas beda dua tahun itu tersenyum sumringah lihat Sean yang merasa bersalah.
"Santai ... gue yang harusnya minta maafㅡ" Balasnya sempat terhenti karena melihat senyum canggung Sean. "ㅡBtw, gue liat lo di bangku penonton waktu ajang bakat kemaren. Liat perform gue gak? Yang jadi drummer."
Dengan wajah kebingungan Sean berusaha mengingat.
"Wah, iya betul aku liat di sana. Performnya keren banget dan baru tau sekolah di sini juga."
"Iya beda 2 tingkat, nama gue James. Lo siapa?"
Ya mungkin seperti itu awal kenal dengan James di sekolah, anak band yang cukup terkenal ini sekarang sering berkunjung ke kelas Sean hanya untuk mengajak istirahat makan siang atau pulang bersama.
Terlihat bahagia setelah Sean menjauh darinya dan kini dekat dengan cowok popular sekolah membuat Martin rasakan apa yang dirasa Sean juga.
Rasa tak nyaman muncul menjalar seluruh badan, panas dan tak suka.
Keduanya saling berpapasan pun hanya saling tatap dan membuang muka, sama seperti dulu saat sekolah menengah pertama.
Lihat Martin dan gadisnya ini sedang mengobrol di aula, lalu tangannya ditarik lembut oleh James untuk pulang sampai decit sepatu terdengar di telinga Martin buat salah paham.
Setelah bulatkan keputusan, Sean mengambil ponsel, mengetik beberapa angka di layar dan menempelkan benda persegi tersebut di telinga.
"Libur musim panas nanti, Sean ikut ke Brisbane."
Pilih menghindar dan batalkan rencana liburan bersama Martin ke klub Janapada.
Waktunya libur musim panas tiba saat Martin temukan rumah Sean kosong tak ada siapa-siapa, kata Mama mereka pergi ke kampung halaman di Australia.
Tanpa mengabari?
"Jadi ke Country Club?"
"No, Mom. Martin cuma pengen sendiri di rumah."
"Ayolah, masa liburan cuma di rumah? Sean aja ke Australia."
"Dia rumahnya di sana."
"Betul juga, Mami denger katanya mereka gak akan kesini lagi? Mau menetap di Brisbane."
"Mami jangan bercanda!"
Mami kaget dengan Martin yang tiba-tiba memegang kedua pundak mengagetkan.
"Loh Sean gak cerita ke kamu?"
Jadi selama hampir enam bulan Sean menjauhinya di sekolah karena dia akan pindah dan menetap di Australia? Bahkan tak mengabarinya?
Sean mungkin tak tahu bagaimana tersiksanya Martin saat ia mencoba meminta penjelasan kenapa dari libur musim dingin sampai akan libur musim panas ini Sean menjauhinya sampai mendapat teman baru yang lebih perhatian, mencoba menelepon lewat telepon rumah dan dijawab oleh seluruh orang rumah kecuali Sean sendiri.
Coba memperbaiki keadaan dengan mengajak berangkat dan pulang bersama dihiraukan, Sean benar-benar menjauhinya dan Martin tak tahu kenapa.
Separuh dari dirinya terasa hilang, biasa tiap pagi lihat wajah Sean yang tenang sekarang sudah tiga minggu ia terasa seperti seorang yang akalnya hilang.
GILA!
Segini besar pengaruh Sean terhadap hidupnya, dulu ia membenci karena Sean dianggap sering mencuri mainan, kali ini sepertinya sama saja, Sean sedang mencuri bagian yang ada pada diri Martin entah itu waktu atau hati yang pasti Martin pun tidak bisa mengerti.
Menulis sepucuk surat yang akan ia kirim ke Australia dengan harapan Sean akan membalasnya meski tak tahu kapan.
Mengacak kertas saat belum sampai sepuluh kata ia menulis karena menurutnya sangat menggelikan jika dibaca kembali.
Satu, dua, akhirnya tak sampai dua ratus kata sudah Martin tulis untuk Sean. Berharap dia bisa membaca dan kembali di sisi karena Martin sangat tersiksa saat ini.
Melihat lagi pada tembok kamar terdapat banyak foto bersama Sean yang diambil sewaktu kecil sampai sekolah malah membuat Martin semakin ingin menangis.
Habiskan waktu libur musim panas hanya di rumah bermain vidio gim dan sesekali ikut ke klub janapada yang dulu pernah mereka janjikan liburan bersama.
Dan akhirnya libur sudah akan sampai di penghujung, belum ada tanda Sean pulang. Mungkin benar, Sean akan tinggal menetap di Australia.
Tak ada kabar sedikit pun, sampai ia nekat pergi sendiri ke Australia untuk mengunjungi Sean di sana.
"Loh Martin?"
"Sean ..."
"Martin ... Martin ...
... Martin bangun hey! Udah waktunya makan malem, kamu malah Sean Sean terus."
Oh?
Jadi semuanya hanya mimpi? Dia mengunjungi Australi dan bertemu Sean itu MIMPI?
"Cepet turun, kamu ditunggu di meja makan."
Argh!
Kenapa bisa ia se-hilang ini?
Dengan membasuh muka dan segera turun ke bawah, badan lemas itu tiba-tiba tegap saat dapati tiga orang yang tak asing di hadapan dan salah satunya adalah orang yang selama ini ia rindukan.
Martin tak berani berucap atau apapun, rasa yang tertahan selama ini akhirnya sampai pada puncak dimana ia bertemu lagi dengan seorang yang selalu ia pikirkan.
Menikmati makan malam bersama tanpa kata, hanya saling curi pandang saja lalu buang muka.
Keesokan harinya dua keluarga itu putuskan untuk habiskan masa terakhir liburan musim panas dengan pergi ke sebuah desa kecil di sisi kota.
Menyuruh anak-anak mereka agar pergi ke danau memancing ikan untuk dimakan.
Dengan perahu kayu yang hanya muat dua orang itu mereka duduk berhadapan tak ada yang berani buka obrolan terlalu hanyut dalam perasaan yang tak bisa diartikan.
Saat salah satunya akan membuka tutup umpan pancing yang di dalamnya banyak tersimpan cacing, sialnya tempat itu malah jatuh seluruhnya ke danau.
Mereka kemudian saling tatap setelah melihat apa yang terjadi.
Bodoh! Bagaimana mau mancing kalau umpannya saja terjatuh ke dasar air?
Di tengah danau ini keduanya sama-sama hening, hanya terdengar lembutnya suara air ombak kecil yang terdayung oleh salah satu dari mereka.
"Sean?"
"Ya?"
Canggung.
Rasanya hanya ingin langsung memeluk dan salurkan rasa yang selama ini tertahan.
"Have you read my letter?"
"You sent me a letter?"
"You never received the letter?"
"No. Why, Martin?"
Aduh!
Bahaya apalagi yang akan diterima Martin sekarang?
"Jake masih di Brisbane?"
Sean mengangguk.
Bisa-bisa surat itu sampai ke tangan Jake dan dia membacanya, gawat. Isinya adalah pernyataan perasaan, penjelasan, rasa salah dan kata-kata yang belum pernah Martin ucapkan pada Sean sebelumnya.
Dia merutuk pada diri sendiri, bagaimana ia akan jadi bahan olokan Jake nanti?
Sean yang melihat Martin sedang berkomat-kamit merasa aneh padanya.
"Martin?"
"Sean, I never kissed anyone butㅡ"
"But what? You kisㅡ"
"But you! Sean, I never kissed Cheers girl di ruang latihan kita gak pernah deket. But I kissed you waktu kita tertidur di hutan, after you slept on my chess dan saw the photo. I kissed you that night! Sorry i know it was rude kissing someone yang lagi tidur maybe it's scaring you right now but ..." Jelas Martin dengan suara yang melemah di akhir.
Sean memegang bibirnya, saat pertama mengunjungi lagi Brisbane setelah belasan tahun tak di sana, ia sempat dicium di bibir sekejap oleh seorang gadis tetangganya sebagai tanda penyambutan.
Dia pikir cium bibir dari gadis itu adalah yang ciuman pertama dan itu terjadi dengan seorang wanita, tapi tak rasakan perasaan aneh menjalar di tubuhnya, dia biasa saja.
Namun saat Martin bilang bahwa dia mencium bibirnya di malam halloween itu entah mengapa ada sesuatu yang berbeda, seperti perasaan lega atau apa .. Sean tak tahu pasti kenapa.
Dengan perahu kayu yang hanya muat dua orang itu mereka duduk berhadapan tak ada yang berani melanjutkan obrolan terlalu hanyut dalam perasaan yang mungkin sekarang keduanya sudah dapat artikan.
Lidah rasanya kelu untuk sekedar ucapkan apa yang mereka rasakan karena takut mengancam hubungan persahabatan.
Perasaan magis yang muncul antara mereka entah sejak kapan.
Mungkin dari ketidak sengajaan tangan mereka saling bersentuhan atau karena senyum membekas tak pernah pudar di pikiran.
Pilih memberhentikan perahu kayu di sisi danau, keduanya kini berhadapan saling pertemukan badan salurkan rasa rindu yang tertahan.
Mereka berpelukan dan tentu masih memakai pakaian.
Rasakan kembali hangat dekapan dengan perasaan yang berbeda saat mereka pertama kali bertemu sebagai teman.
"Never leave me again, please."
Tangan Sean terangkat mengusap punggung Martin menenangkan, badan kecil Sean ini tenggelam seluruhnya di badan Martin. Keduanya hirup aroma yang menguar dari pakaian masing-masing.
Di sekitar danau yang daunnya kering berjatuhan ini mereka masih enggan mengungkapkan perasaan, meski dirasa keduanya sudah tahu masing-masing perasaan tapi semua itu dikalahkan oleh satu kekhawatiran.
Biar waktu yang menjawab kapan mereka akhirnya menyatukan hubungan.
