Work Text:
Dunia Simo Häyhä adalah dunia yang putih, bisu, dan beku. Di garis depan Karelia, tahun 1939, warna adalah musuh. Warna berarti kehidupan, dan kehidupan berarti target. Itulah sebabnya Simo menjadi bagian dari salju. Dengan seragam putih yang menyatu dengan cakrawala, masker yang menutupi wajahnya, dan senapan Mosin-Nagant tanpa teropong optik agar pantulan cahaya matahari tidak membocorkan keberadaannya, ia adalah hantu. Belaya Smert. Kematian Putih.
Namun, sore itu, di tengah suhu minus empat puluh derajat yang mampu membekukan napas di dalam tenggorokan, Simo melihat sesuatu yang menentang seluruh hukum logikanya.
Ia sedang berbaring telungkup di dalam gundukan salju yang ia padatkan sendiri—agar kepulan salju tidak terbang saat ia menembak. Matanya fokus pada celah di antara pepohonan pinus sejauh tiga ratus meter. Namun, di ujung laras senapannya, muncul sebuah pendaran hijau zamrud.
Awalnya, Simo pikir matanya mulai berhalusinasi karena kedinginan. Namun pendaran itu bergerak. Ia lincah, melompat dari satu dahan ke dahan lain, meninggalkan jejak serbuk cahaya yang berkilau seperti debu bintang. Dan kemudian, sosok itu turun, mendarat tepat di atas ujung senapan Simo.
Itu adalah seorang pria. Atau setidaknya, menyerupai pria. Tingginya tak lebih dari lima belas sentimeter jika diukur dengan jari manusia. Ia mengenakan pakaian yang tampak terjalin dari lumut dan serat perak. Sayapnya transparan, menyerupai sayap capung namun dengan pola geometris yang berubah warna saat terkena cahaya remang matahari musim dingin. Rambutnya yang hijau, kontras dengan kulitnya yang pucat dan telinganya yang lancip.
Sosok itu—Loki—menatap langsung ke dalam mata Simo yang hanya terlihat sedikit di balik masker.
Loki menyeringai nakal. Ia tidak takut pada moncong senjata yang telah merenggut ratusan nyawa itu. Bagi Loki, benda besi dingin itu hanyalah panggung kecil untuk pertunjukannya.
"Kau membosankan sekali, Manusia Putih," suara Loki terdengar seperti denting loncek perak yang pecah. Ia bicara dalam bahasa yang tidak dikenal Simo, namun anehnya, Simo mengerti setiap maknanya di dalam kepala. "Kau sudah di sini selama enam jam. Kau tidak bergerak. Kau bahkan tidak berkedip. Apa kau sudah jadi es?"
Simo tidak menjawab. Menjawab berarti bersuara. Suara berarti ketahuan. Ia hanya menatap peri itu dengan tatapan datar yang kaku.
Loki mendengus, merasa terhina karena diabaikan. Ia terbang ke atas, berputar-putar di depan wajah Simo, lalu dengan sengaja menjatuhkan segenggam salju tepat ke hidung Simo yang tertutup kain.
"Bicara padaku! Atau aku akan berteriak sekeras mungkin agar tentara-tentara di sana tahu kau ada di sini!" ancam Loki sambil menunjuk ke arah barak musuh.
Simo menghela napas panjang, kepulan uap keluar dari maskernya. Ia tahu peri hutan adalah makhluk yang merepotkan, tapi yang satu ini sepertinya memiliki tingkat narsisme yang akut. Dengan gerakan yang sangat lambat agar tidak menimbulkan suara, Simo mengangkat satu jarinya yang terbungkus sarung tangan tebal, memberi isyarat 'diam' di depan mulutnya.
Loki tertawa. Ia mendarat di atas syal Simo, merangkak masuk ke celah kain yang hangat di dekat leher sang sniper. "Dingin di luar sini. Aku ikut bersembunyi di sini, ya?"
Itulah awal dari gangguan termanis dalam hidup Simo Häyhä.
Hari-hari berikutnya menjadi ujian kesabaran bagi sang penembak jitu. Simo adalah pria yang mencintai kesunyian; baginya, sunyi adalah doa. Namun Loki adalah badai kecil yang cerewet.
Setiap kali Simo sedang membidik, Loki akan duduk di atas kepalanya, memainkan helai rambut Simo yang menyembul, atau menyanyikan lagu-lagu kuno tentang hutan yang tidak pernah didengar manusia. Loki adalah makhluk yang haus akan perhatian. Ia akan berubah wujud menjadi burung kecil untuk memata-matai musuh, lalu kembali ke wujud aslinya hanya untuk membisikkan ejekan tentang betapa buruknya gaya rambut tentara musuh.
Namun, di balik semua kejahilannya, Loki mulai memperhatikan sesuatu. Ia memperhatikan betapa seringnya tangan Simo gemetar setelah melepaskan tembakan. Ia memperhatikan bagaimana Simo akan duduk diam di malam hari, menatap api kecil dengan tatapan yang sangat kesepian—tatapan seseorang yang sudah menyerahkan kemanusiaannya demi melindungi tanah airnya.
Suatu malam, di dalam bunker perlindungan yang sempit dan dingin, Simo sedang mencoba membersihkan senapannya. Cahaya lilin temaram membuat bayangan mereka menari di dinding tanah.
Loki, yang saat itu sedang dalam wujud seukuran manusia (sebuah kemampuan sihir yang baru ia tunjukkan pada Simo), duduk bersandar di dinding di hadapan Simo. Kaki jenjangnya bersilangan, dan sayapnya terlipat rapi di punggung. Dalam wujud ini, Loki terlihat sangat cantik sekaligus berbahaya. Wajahnya memiliki garis yang tajam, matanya hijau menyala, dan senyumnya selalu menyimpan rahasia.
"Kenapa kau melakukan ini, Simo?" tanya Loki tiba-tiba. Kesombongannya menghilang, diganti dengan nada ingin tahu yang tulus.
"Kau manusia. Hidupmu cuma sekejap mata jika dibandingkan denganku. Kenapa kau habiskan sisa waktumu di tengah salju dan darah?"
Simo berhenti menggosok senapannya. Ia menatap Loki. Ini adalah pertama kalinya mereka berada dalam jarak sedekat ini dalam wujud manusia. Simo tidak memakai maskernya. Luka di pipi kirinya terlihat jelas—bekas luka yang membuatnya sedikit sulit untuk tersenyum.
"Untuk rumah," jawab Simo pendek. Suaranya serak karena jarang digunakan.
"Rumah?" Loki mendengus. "Rumahmu akan tetap ada meskipun kau tidak menembak mereka. Pohon-pohon akan tetap tumbuh. Salju akan tetap turun."
"Tidak," bantah Simo lembut. "Hutanmu mungkin abadi, Loki. Tapi keluargaku, ladangku, mereka rapuh. Jika aku tidak berdiri di sini, mereka akan hilang."
Loki terdiam. Ia menatap telapak tangan Simo yang kasar. Entah dorongan apa yang merasuki sang peri, Loki meraih tangan Simo. Jari-jari Loki yang ramping dan terasa seperti aliran energi hangat bersentuhan dengan kulit Simo yang pecah-pecah karena kedinginan.
Simo tersentak, instingnya sebagai tentara membuatnya ingin menarik tangan, tapi sentuhan Loki memiliki daya tarik yang aneh. Rasanya seperti menyentuh musim semi di tengah musim dingin.
"Kau sangat dingin," bisik Loki. Ia membawa tangan Simo ke pipinya, menggesekkannya di sana. "Manusia Putih yang malang. Kau membunuh begitu banyak orang untuk menjaga kehidupan, tapi kau sendiri lupa caranya hidup."
Simo menatap mata Loki. Untuk pertama kalinya, ia melihat lebih dari sekadar peri yang jahil. Ia melihat kesepian yang sama. Loki adalah roh hutan yang sudah melihat ribuan musim dingin, melihat manusia datang dan pergi seperti lalat. Mungkin, bagi Loki, Simo adalah sesuatu yang ingin ia genggam agar tidak hilang ditelan sejarah.
"Aku masih hidup," kata Simo lirih. "Selama aku masih bisa merasakan napasmu di dekatku, aku tahu aku masih hidup."
Wajah Loki memerah. Ia tidak terbiasa dengan kejujuran yang polos. Biasanya ia dikelilingi oleh tipu daya dan teka-teki. Namun Simo adalah pria yang jujur seperti peluru yang melesat lurus.
Loki mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga hidung mereka bersentuhan. Aroma Loki adalah aroma pinus dan es yang mencair. "Kalau begitu, biarkan aku mengingatkanmu lebih banyak lagi tentang rasanya menjadi hidup."
Loki mencium Simo. Itu bukan ciuman yang meledak-ledak, melainkan ciuman yang lambat, penuh keraguan, dan rasa ingin tahu. Bibir Loki terasa manis, seperti nektar bunga yang dipetik saat fajar. Simo membeku sejenak, tangannya yang terbiasa memegang pelatuk kini terasa kaku saat mencoba memeluk pinggang Loki.
Namun perlahan, Simo menyerah. Ia menjatuhkan senapannya ke lantai dan menarik Loki lebih dekat. Di dalam bunker yang dingin dan bau mesiu itu, terjadi sebuah anomali yakni sang Kematian Putih menemukan kehangatan di pelukan sang Peri Penipu.
Romansa mereka bukanlah sesuatu yang bisa dipamerkan. Itu adalah romansa di sela-sela dentuman artileri.
Simo akan tetap menjadi sniper yang mematikan di siang hari, tapi sekarang ia punya alasan ekstra untuk pulang ke persembunyiannya. Ia akan menemukan Loki yang sudah menyiapkan tempat tidur dari bulu binatang yang ia 'curi' dengan sihir, atau Loki yang akan memijat jari-jari Simo yang kaku setelah seharian memegang senapan.
Loki pun berubah. Ia tidak lagi sekadar menonton perang sebagai hiburan. Ia mulai menggunakan sihirnya untuk melindungi Simo. Ia akan menciptakan kabut tebal saat Simo harus mundur, atau ia akan mengubah arah angin agar peluru musuh meleset.
"Kau curang, Peri Kecil," tegur Simo suatu hari saat mereka sedang bersembunyi di balik gundukan salju. "Sniper harus mengandalkan kemampuannya sendiri, bukan sihir."
Loki, yang sedang duduk di pangkuan Simo sambil memakan buah beri ajaib, menjulurkan lidahnya. "Dunia ini tidak adil, Simo. Kau melawan satu pasukan sendirian. Aku hanya meratakan peluangnya sedikit."
Loki kemudian menyandarkan kepalanya di dada Simo, mendengarkan detak jantung pria itu. "Lagipula, aku tidak mau kau mati. Jika kau mati, siapa yang akan mendengarkan ceritaku? Siapa yang akan membiarkanku tidur di balik syalnya?"
Simo mengelus rambut Loki dengan lembut. "Aku tidak akan mati dengan mudah. Aku punya janji untuk kembali ke ladangku."
"Bawa aku," bisik Loki tiba-tiba.
Simo terdiam. "Apa?"
"Bawa aku bersamamu saat perang ini berakhir," Loki mendongak, matanya yang hijau terlihat sangat serius. "Aku bosan di hutan ini sendirian. Aku ingin melihat ladangmu. Aku ingin melihat bagaimana manusia hidup tanpa senjata di tangan mereka."
Simo menatap cakrawala yang memerah karena matahari terbenam. Ia tahu bahwa hubungan antara manusia dan peri jarang berakhir bahagia. Ia tahu bahwa ia menua, sedangkan Loki akan tetap muda selamanya. Namun, saat ia melihat harapan di mata Loki, Simo tidak tega untuk menolak.
"Baiklah. Jika kita selamat, kau akan ikut denganku ke pertanian di wilayah tengah. Tidak akan ada suara tembakan di sana. Hanya ada suara angin dan sapi."
Loki tersenyum lebar. Ia memeluk leher Simo erat-erat. "Janji ya, Manusia Putih? Jika kau ingkar, aku akan mengutuk seluruh ladangmu jadi batu!"
"Janji," jawab Simo, mencium kening Loki.
Puncak dari ujian mereka terjadi di akhir Februari 1940. Pasukan musuh melakukan serangan besar-besaran. Artileri menghujani hutan, menghancurkan pepohonan kuno yang menjadi rumah bagi kaum peri.
Simo berada di garis depan, melakukan apa yang ia bisa untuk menahan laju infanteri musuh. Namun kali ini, musuh memiliki jumlah yang terlalu banyak. Sebuah ledakan granat terjadi di dekat posisi Simo, melemparkannya ke belakang dan menimbunnya di bawah salju.
Dunia menjadi hitam bagi Simo.
Di dalam kegelapan itu, ia mendengar suara teriakan. Bukan teriakan manusia, tapi teriakan alam yang menderita. Loki.
Simo memaksa matanya terbuka. Kepalanya berdarah, dan pipi kirinya—area yang dulu terluka—terkena serpihan logam. Namun yang ia lihat bukan musuh. Ia melihat Loki.
Loki berdiri di tengah medan perang, wujudnya membesar hingga melampaui ukuran manusia normal. Sayapnya tidak lagi indah; mereka berubah menjadi tajam dan berwarna hitam pekat. Amarah peri yang rumahnya dihancurkan meledak. Loki memanggil badai salju yang begitu dahsyat hingga jarak pandang menjadi nol. Ia mengayunkan tangannya, dan akar-akar pohon besar muncul dari bawah salju, menyeret tentara musuh ke dalam tanah.
"Loki! Berhenti!" teriak Simo, suaranya tenggelam dalam deru angin.
Simo merangkak, menyeret kakinya yang terluka menuju pusat badai. Ia tahu bahwa jika Loki terus menggunakan sihir penghancur seperti itu, esensi peri di dalam dirinya akan habis. Loki akan menghilang menjadi debu hutan.
Simo berhasil mencapai kaki Loki. Ia memeluk kaki sang peri dengan sisa tenaganya. "Cukup, Loki... Cukup. Aku di sini. Aku selamat."
Badai perlahan mereda. Wujud Loki menyusut kembali ke ukuran manusia. Ia jatuh berlutut, wajahnya terlihat sangat lelah. Rambut hijaunya berantakan dan matanya kehilangan pendarannya.
Loki menatap Simo yang penuh darah. Ia mulai menangis—peri jarang menangis, dan setiap tetes air matanya berubah menjadi kristal zamrud saat menyentuh salju. "Mereka... mereka menyakitimu. Mereka menghancurkan semuanya."
Simo menarik Loki ke dalam pelukannya, meskipun ia sendiri sedang menahan sakit yang luar biasa. "Biarkan saja. Hutan bisa tumbuh kembali. Tapi aku tidak mau kehilanganmu karena amarah ini."
Loki menyembunyikan wajahnya di dada Simo yang kotor karena tanah dan mesiu. "Aku takut, Simo. Aku takut jika aku kehilangan kendali, aku tidak akan bisa melihatmu lagi."
"Kau tidak akan kehilanganku," bisik Simo, meskipun ia tahu luka di wajahnya sangat parah. Ia merasa kesadarannya mulai memudar. "Ingat janji kita... ladang... sapi... sunyi..."
Sebelum Simo benar-benar pingsan, ia merasakan bibir lembut Loki menyentuh bekas luka baru di pipinya. Rasa hangat sihir mengalir, mencoba menutup luka itu, namun energi Loki sudah terlalu lemah.
"Tidur saja, Simo," bisik Loki di telinganya. "Aku akan menjagamu sampai pagi datang. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambilmu."
Perang berakhir beberapa minggu kemudian. Finlandia bertahan, namun dengan harga yang mahal. Simo Häyhä selamat, meskipun separuh wajahnya harus direkonstruksi dan ia tidak akan pernah bisa menembak dengan cara yang sama lagi.
Di sebuah rumah sakit militer yang tenang, Simo terbangun. Ia menatap ke jendela, di mana salju mulai mencair menandakan datangnya musim semi. Di atas meja di samping tempat tidurnya, terdapat sebuah botol kecil berisi air jernih dan setangkai bunga Lily of the Valley—bunga nasional Finlandia yang seharusnya belum mekar di bulan Maret.
Simo tersenyum kecil. Ia meraba lehernya, di bawah bantalnya, ia merasakan sesuatu yang kecil dan hangat bergerak.
Loki muncul dari balik bantal dalam wujud mungilnya. Ia terlihat lebih sehat, sayapnya kembali berkilau, meskipun ia tampak sedikit lebih malas dari biasanya.
"Kau lama sekali tidurnya, Manusia Putih," keluh Loki sambil menguap. Ia terbang dan mendarat di ujung hidung Simo. "Aku hampir saja memutuskan untuk mencari manusia lain yang lebih tampan."
Simo tertawa pelan, sebuah suara yang masih terasa kaku di wajah barunya. Ia mengangkat tangannya, membiarkan Loki mendarat di telapak tangannya. "Maaf membuatmu menunggu, Peri Kecil."
"Jadi," Loki menatap mata Simo dengan penuh harap. "Kapan kita berangkat ke ladangmu? Aku sudah mengepak pakaianku (maksudnya, aku sudah menyiapkan sihir untuk berganti baju)."
Simo menatap tangannya yang kini tidak lagi memegang senapan, melainkan memegang sesuatu yang jauh lebih berharga—masa depannya.
"Sekarang juga," jawab Simo.
Bertahun-tahun kemudian, orang-orang di desa terpencil di wilayah tengah Finlandia sering bercerita tentang sang pahlawan perang, Simo Häyhä, yang hidup tenang di ladangnya. Mereka bilang dia pria yang sangat pendiam, namun dia tidak pernah benar-benar sendirian.
Ada yang bilang mereka sering melihat cahaya hijau aneh menari di sekitar ladangnya saat malam hari. Ada yang bilang Simo sering terlihat bicara sendiri sambil menatap bahunya yang kosong. Dan ada yang bilang, meskipun Simo sudah tua dan rambutnya memutih, ia selalu tampak bahagia—seolah-olah ia memiliki rahasia paling indah di dunia yang ia simpan di balik kesunyiannya.
Dan di sana, di antara barisan pepohonan dan padang rumput yang hijau, seekor peri dengan rambut hijau dan sayap transparan akan selalu duduk di samping sang penembak jitu, membisikkan cerita-cerita tentang keabadian kepada pria yang telah mengajarinya arti dari satu momen yang tulus.
Di ladang itu, tidak ada White Death. Tidak ada perang. Hanya ada Simo dan Loki, dua jiwa dari dunia yang berbeda yang menemukan rumah di dalam satu sama lain.
TAMAT.
