Chapter Text
Salome Helvia Diaz, satu-satunya putri dari keluarga Duke Diaz yang paling tersohor di bawah pemerintahan Kekaisaran Constantin. Sangat terkenal akan sifatnya yang tenang dan tidak terganggu, atau malah—cukup dingin dan tidak pernah menunjukkan emosinya di depan publik, membuat Salome dipandang sebagai Lady yang menakutkan dan juga yang paling dihindari.
Memang, bakat yang dimiliki oleh Salome adalah suatu harta yang Kekaisaran tidak boleh sia-siakan. Meski begitu, dengan bakat yang sangat luar biasa itu, tentu ada konsekuensi yang harus diterima. Kemanusiaan Salome seringkali dipertanyakan.
…
Tiap harinya terasa begitu berat untuk dijalankan oleh Salome. Tidak, bukan karena dia memiliki masalah yang berat. Tidak sama sekali. Melainkan karena Salome harus menjalani kebosanan yang sama setiap harinya, entah sampai kapan. Tidak ada satupun hal yang bisa menghibur Salome dan mengisi kekosongan hatinya.
Salome sadar betul bahwa ia sangat berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, bahkan orang tuanya sendiri. Namun, kedua orangtuanya sudah lama menyadari sifat alami Salome dan mereka pun tidak bisa memberikan sedikitpun dampak untuk mengubahnya. Asalkan Salome tidak berbuat yang berlebihan, mereka membiarkan Salome menentukan sendiri pilihannya. Dengan demikian, menjadi seorang jenius bukan berarti memiliki kehidupan yang pasti sempurna.
Salome sangat berharap ada sesuatu yang menarik minatnya. Dia sangat tidak tahan hidup penuh kebosanan seperti ini. Jika hal ini terus berlanjut, Salome yakin apapun yang akan diperbuat nantinya, tidak akan memberikan satupun dampak baik. Maka dari itu, bahkan Salome pun mulai mengharapkan ada keajaiban yang muncul.
Plop.
Tiba-tiba saja, muncul gumpalan merah yang aneh tepat di mana Salome hendak melangkah. Salome sempat menghela napas lega, menyadari bahwa pilihan yang tepat untuk ragu melangkah. Karena jika tidak, dia yakin dengan pasti bahwa gumpalan merah tersebut akan mendarat di punggung kakinya.
Salome tahu jelas apa gumpalan merah itu, tidak lain adalah daging manusia. Ditambah lagi, gumpalan tersebut bergerak-gerak sendiri dengan cara yang sangat tidak menyenangkan. Tidak butuh waktu lama, gumpalan tersebut menunjukkan perkembangan yang aneh. Yang sebelumnya berbentuk gumpalan daging yang telah tercincang parah, pelan-pelan mulai merekonstruksi bentuk aslinya. Salome hanya terdiam, berdiri dan menatap proses rekonstruksi tersebut lekat-lekat dengan tenang.
Selama proses rekonstruksi tersebut, Salome memandangnya dengan takjub, sebab eksistensi macam ini adalah hal yang belum pernah dia ketahui sebelumnya. Dan hal itu membuatnya bersemangat untuk mengungkapkan misteri tersebut.
Butuh sekitar sepuluh menit agar gumpalan daging itu untuk menjadi sosok manusia sepenuhnya. Namun, dugaan Salome salah—itu bukan manusia, melainkan spesies yang masih terbilang sejenis namun berbeda dengan manusia, yaitu Elf. Dan Elf ini bukan orang sembarangan, dia adalah orang yang sangat berpengaruh di Kekaisaran Constantin.
“Kryllios Silas Asterion.” Salome langsung memanggilnya dengan nama panjangnya. Tanpa panggilan gelar kehormatan.
Oh.
Salome tersadar kelepasan memanggil nama pria Elf tersebut tanpa gelar penghormatan, maka dari itu Salome segera menundukkan kepalanya dan memberikan hormat layaknya seorang Lady. “Mohon maaf atas ketidaksopanan diri saya, Grand Duke Asterion. Perkenalkan, saya Salome Helvia Diaz, putri tunggal keluarga Duke Diaz.”
Grand Duke Asterion hanya menatap jauh. Tatapannya tidak tertuju pada Salome. Tatapannya tidak mengarah kepada siapapun, matanya kosong, seolah sinar pengharapan sudah menghilang dari dirinya.
Salome menghela napas lega, bersyukur bahwa kejadian ini terjadi di waktu yang tepat, saat tengah malam ketika Duchy Diaz masih terlelap. Sumber pencahayaan hanya berasal dari istana Duchy yang syukurnya tidak jauh dari jalan samping Duchy, rute Salome biasanya berjalan mencari udara segar. Salome adalah orang yang spesial, maka dari itu dia tidak ketakutan ketika melihat gumpalan daging yang merekonstruksi menjadi pria Elf yang sekarang berdiri telanjang dengan tatapan kosong di depannya. Jika orang lain yang melihat penampakan ini, tidak diragukan lagi bahwa Duchy Diaz akan sangat digemparkan.
“Grand Duke Asterion?” Salome mengambil satu langkah ke depan untuk menipiskan jarak di antara mereka. Salome berusaha memanggil Grand Duke Asterion, namun naasnya tidak ada respon sama sekali.
Jika sampai panggilan ketiga pria Elf ini tidak merespon, aku harus menepuk pundaknya. Pikir Salome.
Salome mengambil satu langkah ke depan, lagi. “Grand Duke Asterion.” Salome memanggil untuk kedua kalinya, namun masih tidak ada respon.
Untuk ketiga kalinya, Salome benar-benar menipiskan jarak di antara mereka berdua dan memanggil namanya. “Kryllios Silas Asterion.” Kuharap dia tidak tersinggung. Pikir Salome juga di saat yang bersamaan.
Akhirnya, Grand Duke Asterion pun merespon panggilan Salome dan menatapnya. Sungguh, dia terlihat tidak terganggu dengan penampilannya sendiri yang telanjang bulat. “Sepertinya Anda membutuhkan sesuatu untuk setidaknya membuat Anda hangat.” Celetuk Salome dengan tenang.
“Jika untuk membuatku merasa hangat, tidak, tidak perlu. Namun akan sangat tidak etis bagi pria sepertiku bertelanjang bulat di depan seorang Lady seperti ini.” Grand Duke Asterion merespon Salome dengan cara yang kurang lebih sama tenangnya. Wajahnya bahkan tidak menunjukkan ekspresi panik ataupun malu.
Salome pun dengan segera menuntun Grand Duke Asterion masuk ke dalam Duchy melewati jalur rahasia yang tidak diketahui oleh pelayan biasa, karena akan sangat gawat jika mereka sampai melihat sosok Elf, terlebih jika Elf tersebut adalah Grand Duke Asterion. “Tolong perhatikan langkah Anda, Grand Duke.” Salome memperingatkan.
Setelah tiba di lorong Duchy, Salome diam-diam membawa Grand Duke Asterion memasuki kamar tamu dan segera menyediakan baju malam yang layak. Namun, Grand Duke Asterion sempat menolak dan hanya mau memakai kain putih panjang yang ia lilitkan di seluruh tubuhnya. “Ini pakaian tradisional Elf.” Grand Duke Asterion menjawab pertanyaan yang bahkan belum ditanyakan oleh Salome.
“Banyak hal yang perlu ditanyakan. Namun mengingat waktunya masih tengah malam, saya harap Grand Duke bersedia untuk tetap bertahan di Duchy Diaz. Setidaknya sampai esok hari.” Salome melangkah menjauhi Grand Duke Asterion dan berhenti sebentar saat dia memegang kenop pintunya.
“Selamat malam.” Ucap Salome lalu keluar dari kamar tamu dan berjalan menjauh.
Kryllios Silas Asterion. Dia mau menjadi teman bermainku tidak, ya? Tutur Salome dalam batinnya. Ekspresinya tersenyum lebar, bersemangat.
...
Bagi orang lain, situasi ini adalah hal yang cukup canggung. Namun, tidak bagi Salome dan Grand Duke Asterion. Tiga puluh menit sudah berlalu, namun mereka hanya duduk berhadapan dalam diam, sambil menyantap sarapan yang sudah tersedia dengan tenang. Hanya suara kunyahan dan bunyi alat makan yang terdengar sepanjang selang waktu tersebut.
Lalu, setelah selesai makan bukannya memulai pembicaraan, mereka berdua hanya saling bertatapan dalam diam. Tiga puluh menit pun langsung berlalu dalam sekejap. Jika Grand Duke Asterion tidak angkat bicara duluan, sepertinya interaksi tatap-tatapan tersebut dapat berlanjut hingga senja.
"Apa yang Lady inginkan dari saya?" Grand Duke Asterion langsung bertanya pada intinya.
Salome mengangkat alisnya sekejap, memikirkan kata yang tepat agar Grand Duke Asterion tidak kabur ketika mendengar keinginannya. Salome tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Saya pikir, Grand Duke akan memahami perasaan saya," Tutur Salome lalu berhenti sebentar. "Diberkati dengan kemampuan fisik yang luar biasa, saya adalah salah satu harta berharga Kekaisaran. Dengan kemampuan fisik yang luar biasa ini, membuat kemanusiaan saya sangat kurang, dan seringkali dipertanyakan. Sebab, apa yang saya anggap hiburan adalah sesuatu yang... mengganggu untuk orang normal." Salome menjelaskan dengan tenang.
Salome terdiam sesaat, dan ketika ia melihat Grand Duke Asterion tidak memberikan respon, Salome melanjutkan. "Selama ini saya dilanda rasa bosan yang luar biasa. Sangat bosan. Jika hal ini berlanjut semakin lama, saya yakin saya akan menjadi pisau bermata dua bagi Kekaisaran. Yang saya inginkan dari Grand Duke adalah, saya ingin menjalin hubungan persahabatan dengan Grand Duke Asterion." Salome selesai menyampaikan keinginannya dan menatap Grand Duke Asterion dengan lekat.
Satu, dua, tiga menit telah berlalu. Lalu bertambah menjadi sepuluh, dua puluh, tiga puluh menit. Akhirnya, Grand Duke Asterion angkat bicara. "Kau adalah wanita yang gila." Kata-kata yang singkat, namun berhasil membuat Salome tersenyum lebar dengan senang.
