Chapter Text
Jika ada waktu yang paling mirip dengan serbuk emas di film-film peri, maka itu pasti pukul lima sore di musim panas. Matahari bersinar lebih lama, membuat berkas hangatnya masih terpendar hingga ke kulit. Korea memang selalu tampak lebih 'kuning' di mata Noah. Ia menjulurkan tangan ke luar kaca mobilnya yang tengah parkir hanya untuk mencari mana pori-pori lengannya. Padahal dulu di Moskow, ia benar-benar jadi merah berbintik-bintik hanya karena tiga puluh menit di bawah jilatan sinar matahari, kala serunya permainan rugby sedang di puncak dan Noah benar-benar anak bahagia berusia enam belas.
"Kak, masih lama tidak sih? Kak Anton sampai ngopi bareng sopir teman-temanmu loh"
Melalui pesan suara, Noah mengabari lagi Ella sang sepupu yang bilang minta dijemput sekalian usai dua laki-laki itu berenang. Nyatanya empat puluh menit berlalu dan tidak nampak kemunculan Ella di gate sekolah yang ia arahkan itu. Murid-murid ramai keluar dan Noah tidak awas salah satunya berjalan mendekat. Barulah ketukan ringan pada kaca jendela mengalihkan Noah dari kekhusyukannya mempelajari suara Thom Yorke dari earpods. Buru-buru ia tanggalkan hanya untuk mendapati seorang pemuda kelewat tinggi merunduk untuk berbicara dengannya.
"Man, mobilmu keren banget. Ini USSV G. Patton kan? Bisa masuk Korea ya?"
Dengan sedikit decak kagum, diamatinya eksterior SUV hitam pekat yang merupakan kendaraan besar khusus buatan Amerika itu. Noah tersenyum, ia tidak menyangka anak yang menghabiskan SPP tiga puluh enam juta won pertahun di SMA internasional bertajuk Dulwich College Seoul ini masih bisa kagum terhadap sesuatu. Jadi mereka bukan cuma anak-anak ekspat manja yang tinggal tunjuk apa yang mereka mau ya?
"Bisa dong. Masuknya dalam kategori household goods. Nanti dibuatkan bea khususnya" Noah layaknya anak laki-laki yang keren segera mengimbangi percakapan tentang otomotif itu. Ini bukan mobilnya tentu saja, dia bahkan belum tujuh belas. Ini mobil kakaknya.
Sementara pemuda tinggi itu mengamati mobil, Noah ganti mengamatinya. Dia adalah pemuda kulit putih yang memang jadi mayoritas pelajar di sekolah internasional kawasan Seokcho ini. Rambut pirang gelapnya sudah kehilangan tatanan akibat waktu, sementara ekor dari sebuah tato lengan menyembul sesekali dari balik seragamnya ketika ia bergerak. Bahkan andai pemuda ini telah naik delapan belas tahun, Noah tidak yakin bagaimana hal itu diperbolehkan bagi siswa sekolah. Sebuah tas cangklung hitam ia sampirkan asal pada bahu mudanya. Secara keseluruhan, anak ini tampak sedikit liar.
"Kau sedang apa di sini? Menunggu seseorang?"
Si tinggi bertanya lagi. Entah apa yang membuatnya peduli. Dia tak lagi fokus pada mobil melainkan pada Noah itu sendiri di balik celah jendela. Warna matanya bagus, yang ditatap jadi tidak tahu harus menahan atau menghela napas.
"Ella Mckenzie, sepupuku. Kau kenal?"
Keterusterangan Noah secara acak membuat pemuda tinggi itu mengerling tertarik.
"Oh, kau sepupunya" Entah sengaja atau tidak, cara pemuda tadi mengatakan kau sepupunya alih-alih dia sepupumu menyiratkan bahwa Noah adalah subyek yang lebih membuatnya tertarik.
"Interesting" tambahnya. Kan?
Baru saat Noah hendak mengernyitkan 'pardon', gelembung percakapan aneh itu pecah. Suara renyah anak perempuan yang dia tunggu-tunggu hampir satu jam tiba. Ella, entah mengapa terdengar agak tersipu ketika menyapa pemuda tadi dengan namanya;
"Eden, hai?"
Oh, jadi namanya Eden?
"Hai"
Eden dan Ella jadi bercakap-cakap, maka Noah tidak punya alasan untuk tidak segera kembali duduk normal pada bangku mobil. Mengeliminasi diri dari konversasi yang tidak akan dia pahami berhubung dia adalah orang luar di sini. Tapi sepertinya, mereka bicara soal pesta. Noah jadi berpikir bahwa anak-anak ini punya dunia lain yang tidak sama dengan bagaimana norma Korea berjalan untuk anak tujuh atau delapan belas tahun.
"Sepertinya tidak bisa deh, Rabu malam aku sudah janjian nonton Demon Slayer dengan Noah" Ella melirik sedikit ketika mengucap kata Noah."Sudah kenalan kan?"
Belum, tapi Eden mengangguk secara meyakinkan dan berbalik tersenyum pada Noah. Kerlingan 'i just got your name' terpeta jelas-jelas di sana.
"Nonton Demon Slayer ganti jadi Kamis malam, dan Rabu malam kau bisa datang ke pestanya plus Noah agar dia tidak sedih ditinggal. Bagaimana?"
Apakah si Eden Eden ini memang sesembrono itu dalam bicara? Plan siapa yang mengatur siapa. Noah secara langsung teriritasi dengan dicatutnya namanya dalam agenda yang tak ia rencanakan.
"Excuse me–"
"Oke deal!" Ella berseru semangat, masih sedikit tersenyum terlalu lebar di depan Eden. Sampai pemuda dengan backpack itu pun pergi dan kesumringahan Ella menetap. Entah, mungkin Eden itu sangat populer. Begitu Ella masuk mobil beserta Kak Anton yang menyetir, Noah tak segan-segan menyembur sepupunya itu.
"Era sapphic-mu sudah tamat hah? Kulihat centil sekali tadi" Semburnya kejam. Terakhir Noah berkontak selagi di Moskow, Ella ini sedang naksir-naksirnya dengan senior bernama Anna.
"Shut up. Eden itu pengecualian. Dia keren banget kan?"
Noah terdiam. Ia tidak akan menilai seseorang dari percakapan tiga menit tanpa konteks seperti tadi kan? Tapi dari luar... memang. Eden terlihat sangat keren. Apa mungkin postur tingginya yang membuat dia mencolok? Atau tato dari balik lengan terlinting itu? Bisa jadi suaranya yang amat percaya diri membuat putusan bahwa Ella harus pergi ke pesta membawa serta Noah? Entah.
Sayang sekali Noah masih terlalu muda untuk menyadari bahwa otaknya merekam sebanyak itu tentang seseorang, serta terus mengulang-ulang momen bercakap singkat tadi di kepalanya hingga ia tiba di rumah, akan disebut dalam sastra sebagai sesuatu bernama terpesona.
●○●○●○
"Jadi, bagaimana?"
Sebuah apartemen loft dua kamar pada pukul delapan malam itu terlihat harmonis dengan percakapan empat orang mengitari meja makan.
Noah dan Ella tampak lebih sibuk memilihi udang dari salad sayur ketimbang mendengarkan secara serius percakapan dua orang dewasa di depan mereka. Yang tadi bertanya adalah Gawon, kakak perempuan Noah.
"Agak susah, Babe. Federasi Renang Korea kan school based recruitment. Sekolah yang biasanya langsung daftarkan full satu tim unggul dan mereka langsung dilatih untuk kejurnas. Aku dulu juga begitu" Anton yang sudah dua minggu ini membawa Noah wara-wiri mengurus pendaftarannya agar dapat masuk dalam Federasi Renang Korea; kelompok binaan pengkader atlet nasional- mengeluarkan dari tas sebuah map dan mengembalikannya pada Gawon. Isinya adalah resume dan puluhan piagam kejuaraan yang diharapkan bisa menjadi pembuktian bagaimana kiprah pemuda tujuh belas tahun itu memecah air di negara tempat ia tumbuh, yang sayang sekali tidak serta merta diakui. Aksara Korea 안건호 (Ahn Keonho) yang di-emboss di depan map sebagai nama pemilik prestasi ternyata tidak cukup untuk mengingatkan bahwa ia juga anak bangsa.
Gawon membuka-buka sekilas map tertolak Noah, tampak sedikit terganggu dengan fakta tersebut mengingat ia yang paling paham seberapa besar mimpi adiknya menjadi atlet renang nasional.
"Dia tidak dites sama sekali?"
Anton menggeleng sembari melanjutkan makan.
"Dia disuruh jadi idol saja, ganteng katanya"
"tsk!"
Noah terdiam. Garpunya berputar mengitari mi bening dalam mangkuk yang ia tak lagi selera untuk santap. Pikirannya tersetel lagi pada perjalanannya sampai berakhir pulang ke tanah air. Ia pikir, kenapa pula dia mau bersusah-susah begini?
Noah lahir di Korea, namun pada usia enam ayahnya yang merupakan Duta Besar -kala itu masih diplomat- ditempatkan di Rusia dan menerima perpanjangan masa tugas dua kali lima tahun sehingga Noah menghabiskan hampir seluruh masa anak-anak dan remajanya di Moskow, Rusia. Noah sangat menyukai berenang sejak ia tak ingat kapan, dan ia begitu ingin menjadi atlet. Rusia jelas tidak akan memberinya wadah berhubung ia bukan warga negara. Maka sembari menunggu usia tujuh belas tahun datang pada Februari nanti, Noah mengeraskan hati dan mengambil keputusan menyusul kakaknya yang lebih dahulu berada di Korea untuk berkuliah. Namun kini setelah sampai, ia masih saja dianggap outsider.
"Tidak usah berkecil hati, Keonho"
Anton yang sadar Noah muram segera melemparnya dengan dukungan. Ia bahkan memanggil Noah dengan nama koreanya yang pasti akan digunakan ketika dia benar-benar menjadi atlet nasional nanti.
"Kita masuk klub swasta dulu ya? Nanti kamu bisa ikut beberapa youth meet, biasanya banyak orang dari federasi nasional di sana. Biar mereka yang lihat langsung skill-mu"
Ucapan Anton tadi ibarat solar bagi jiwa muda Noah yang penuh gelora. Jatuh bangun sampai mati juga pasti akan ia amini. Kakak-kakaknya langsung tertawa ketika Noah tiba-tiba mengangkat tinjunya tinggi-tinggi ke langit seolah dia siap membengkokkan takdir Tuhan agar mengikuti kemauannya. Agaknya mereka tidak perlu terlalu khawatir, bukan? Noah tidak akan tumbang cepat.
Semangat, Atlet Keonho!
○●○●○●
Rabu malam itu rupanya sekarang? Ini cuma hari Rabu kan, bukan kiamat kecil? Tapi entah mengapa ajakan Ella agar Noah benar-benar datang ke pesta temannya sebagai plus one benar-benar membuat Noah resah. Ayolah, ia bahkan baru tiga minggu di Seoul, adalah homeschooler, dan tentu saja tidak kenal siapa-siapa.
"Makanya ayo berkenalan! Juhoon orang Korea totok, dia pasti langsung ramah padamu"
Dengan kekuatan tersembunyi yang jarang ia pakai itu, Ella menggeret tangan Noah agar mau memilih baju dan betul pergi bersamanya. Dipaskan olehnya ke tubuh lunglai pemuda itu beberapa kaos band beserta atribut jaket. Tidak ada yang tidak bagus jika itu pada Noah.
"Kalian memang sesering ini mengadakan party random? Ini bukan Amerika loh" Noah tidak merasa dirinya tradisional, namun tetap saja sangsi.
Pertanyaannya tidak sangat penting bagi Ella jadi tak digubrisnya. Buru-buru ia didorong ke kamar mandi untuk ganti baju.
"Pokoknya akan seru deh" Ella menutup pintu untuk Noah. Dan sebelum itu, Noah masih mendengar sedikit pekik gadis itu. Katanya "Aku tidak sabar ketemu Eden!"
Oh... Eden.
Mengapa pula Noah harus tertegun mendengar nama dari seseorang asing. Probabilitas bahwa ia akan bertemu dengan sosok jangkung itu lagi ada di pelupuk mata. Mungkin memang ada segelintir orang yang diciptakan terlalu memikat sehingga siapapun tidak bisa mengeluarkannya dari kepala mereka. Dan Eden mungkin salah satunya. Sepanjang Noah mengoles rambutnya dengan gel, juga sepanjang Ella menggeretnya menuju mobiiyl, pun sepanjang perjalanan menuju pesta, Noah terus menerus merancang di kepalanya tema apa yang harus ia bawa seandainya ia betul-betul bercakap lagi dengan Eden. Topik mobil seperti hari itu? Atau Noah harus memuji tato Eden? Atau dia bocorkan bahwa sepupunya sedikit naksir padanya?
Kalau boleh jujur, Noah tidak pernah serepot ini hanya untuk mencoba berkenalan. Pertemanan antara para laki-laki terjadi sangat natural dan benar-benar bukan yang Noah alami sekarang. Dia jadi merinding sendiri mempertanyakan sedang apa dirinya.
"Please tidak perlu canggung, oke? Teman-temanku super baik dan aku bahkan sudah cerita sepupuku dari Moskow datang" kata Ella tepat ketika mereka tiba.
Sudah Noah duga, pasti di Daechi-dong 2. Satu area di distrik Gangnam yang memang banyak dihuni ekspatriat profesional. Trip ke sana ke mari memburu uang mungkin membuat mereka kecolongan bahwa rumah mereka telah disulap jadi kelab malam oleh anak mereka. Begitu Noah melangkah ke dalam pesta, ia dapati martabat timur Korea telah lenyap dari tempat ini sejak beberapa jam lalu. Muda mudi bersuka cita di bawah pendar lampu warna-warni seolah mereka akan tujuh belas tahun selamanya. Pakaian terbuka terasa sah-sah saja, meja-meja permainan lebih diminati ketimbang lantai tari, sementara halaman dalam beserta kolam renang berisi mereka yang ingin mengobrol.
"Kau kuambilkan cola ya?" Ella menawari Noah dan meninggalkannya di kerumunan yang sedang bermain beer pong. Noah menonton sambil menjamin salah satu dari pemain ini pasti masih di bawah sembilan belas tahun.
Noah tampan dan tinggi, serta tersenyum dengan cara yang menawan. Kendati dia pendiam tapi sama sekali bukan pemalu. Dua tiga orang yang semula hanya berniat menyapanya dan Ella berakhir duduk dan mengobrol asyik. Ada satu gadis yang merupakan penggemar berat Radiohead seperti dirinya dan hanya dengan itu saja Noah siap bertahan di sana tiga jam. Dari halaman dalam, Ella bersama geng gadisnya memantau sang sepupu baik-baik saja maka ia hanya melambaikan tangan berisi minuman dan tersenyum.
Tiba-tiba, semarak pesta mengalami pecah kecil entah karena apa. Sepertinya ada yang datang dan orang-orang menuju padanya. Kala Noah menoleh, ia menemukan jawabannya; pemuda luar biasa tinggi dengan karismanya yang istimewa itu. Eden, datang terlambat masih dengan backpack hitamnya dan menyedot fokus semua orang. Tanpa seragam, dia benar-benar apa yang Noah labelkan dalam kepalanya; nyentrik dan panas. Beanie dan kaus hitam terlinting, jins pipa pudar dan gabungan beberapa gelang tali dan perunggu. Orang-orang mengerumuninya dan dia dengan mudahnya meladeni mereka bersamaan. Kala bercakap dengan anak laki-laki ia merangkul bahu mereka, dan ketika yang berbicara seorang gadis dia akan merunduk rendah sampai mereka bisa berbisik di telinganya.
Damn, andai yang naksir padanya seribu orang juga Noah maklum.
"Eden ya?" Gadis penggemar Radiohead di samping Noah menyeletuk dan Noah hanya mengedikkan bahu menyembunyikan malu. Rupanya ia kentara tengah mengamati.
"Dia keren kan?"
Super, super keren batin Noah. Tapi yang keluar dari mulutnya adalah;
"Lumayan saja sih. Kak Ella tuh yang agak ngefans"
Adapun Noah, yang berarti bukan fans, harusnya tidak seterfokus itu pada Eden kan? Tapi dari ekor matanya, ia terus mengikuti langkah pemuda itu. Sampai pada momen ketika ia bersama kerumunan di ruang billiard menggelar sesuatu yang baru ia keluarkan dari dalam backpack-nya. Aktivitas seperti tawar menawar dimulai dan seberapa pun tajam Noah memicingkan matanya, ia tidak tahu apa yang tengah terjadi.
"Itu mereka sedang apa sih?" Noah berharap dia tidak terlihat terlalu tertarik, perihal orang yang dia bilang cuma lumayan itu.
Gadis Radiohead tadi berdecak santai, seolah kalimat setelahnya tidak nyaris menohok Noah di tenggorokan.
"It's Eden. He's a dealer"
Hah?
"Maksudnya?" Noah bukannya bodoh, namun ia berharap bahwa ia punya tafsiran yang salah terhadap kata yang barusan dia dengar.
"Iya, he sells drugs. Satu sekolah juga tahu"
What. The. Fuck.
Baiklah, di belakang hal-hal mentereng pasti terdapat sisi gelap. Tapi Noah juga tidak tahu apakah harus segelap itu. Memang, siapa Noah untuk berekspektasi terhadap orang asing yang cuma dilihatnya dua kali. Ia coba lirik lagi si dia yang mungkin masih sibuk di dalam sana. Dan alangkah terkejut Noah ketika mendapati bahwa Eden rupanya tengah menatap tepat kemari. Dikedikkannya sebelah alis dengan senyum simpul, seolah hal itu tidak nyaris membuat anak orang memikirkan ulang seluruh keputusannya pulang kampung ke semenanjung Korea.
Eden benar-benar berita buruk.
Noah segera mengirim Ella pesan untuk tidak terlalu larut. Sampai rumah nanti akan ia interogasi apakah dia pernah jajan sesuatu dari backpack hitam cowok yang dia lirik itu. Vape dan rokok memang hal biasa di kalangan anak SMA, Noah juga kadang penasaran. Tapi sampai ada satu penjaja narkotika di sebuah pertemanan? Gila.
"Santai, itu cuma ganja kok"
Demi Tuhan, tidak ada yang mengabari Noah kapan gadis Radiohead pergi dari sisinya ketika tahu-tahu suara serak seseorang datang menginvasi ruang sofa tepat di sisinya. Eden menjatuhkan diri bongsornya itu dengan terlalu santai di samping Noah yang berusaha tidak memutar bola mata.
'Cuma' katanya? Ganja itu cuma?
"Kau-" kosa kata Noah kering di kerongkongan. Seluruh skenario yang ia siapkan di mobil tadi andai ia bercakap lagi dengan Eden seketika buyar ketika sang pemeran sudah ada di sampingnya.
"Muka kagetmu tadi lucu sekali, tahu tidak?" Eden menggunakan lengan panjangnya untuk menyambar dua kaleng kola sekaligus dari meja. Menyerahkannya satu pada Noah yang saat ini betul-betul jadi memutar bola mata.
"Maaf. Terakhir aku lihat jualan anak SMA adalah gantungan kunci" Noah membalas langsung dan Eden tertawa.
"Itu kan yang cupu. Yang keren beda dong" Eden licin berkilah.
"Yang KRIMINAL maksudmu?"
Terbahaklah Eden setelah mendapat semprotan tak tanggung-tanggung dari Noah. Ia duduk tegak, terang-terangan mengamati Noah yang mulai agak gelisah. Sepupunya mana sih?
"Kau pedas sekali ternyata. Padahal di parkiran waktu itu kau kelihatan manis loh" Eden mengatakan seperti itu dengan amat santai. Mungkin saja dia sudah mengucapkaan ini seribu kali sebagai kalimat pembuka sebelum menawarkan jualannya kan? Tidak ada yang tahu. Maka salah siapa wajah Noah tiba-tiba jadi hangat sedikit sampai dia perlu pura-pura minum agar tak amat kentara.
Jeda hening sekian detik saja rupanya tak dibiarkan oleh seseorang.
"Tebya zavút No-a, da?"
(Your name is Noah, right?)
Seketika Noah menoleh. Tidak mungkin tidak untuk lemparan pertanyaan dalam bahasa sehari-6sehari-6 sepuluh tahun terakhir, dan baru hari ini ia dengar lagi semenjak tiga minggu berada di Seoul. Ia menatap Eden dari atas ke bawah, mengantisipasi keajaiban apa lagi yang akan keluar dari pemuda itu selain tiba-tiba berbicara bahasa Rusia.
"ck, sudah. Cuma bisa itu saja kok" Eden menghela napas dan entah kenapa itu membuat Noah tertawa kecil. Muka memblenya tidak selaras dengan betapa digdaya pemuda itu tampil di hadapan Noah awal tadi. Tentu saja hal itu tidak berlangsung langgeng, seringainya kambuh tak lama kemudian.
"Wah, tidak sia-sia aku instal duolingo tepat sebelum berangkat tadi, seseorang terkesan" tambah Eden dengan lagak puas.
Noah mengusap wajahnya jengah. Mencari-cari makna dari perkataan pemuda macam Eden cuma akan membuatnya makin pening.
"Sudah deh, dari pada kau melantur melulu coba beri lihat aku apa saja isi ransel keramatmu itu?"
Noah tidak mau dianggap anak laki-laki culun yang gampang tersipu oleh Eden.
Reaksi Eden tentu saja sangsi.
"Aku tidak yakin kau bahkan bisa merokok"
"Oh, jadi beli di tempatmu tidak include tutor?" Nada pura-pura lugu Noah berhasil membuat Eden mendenguskan tawa terhibur, berikut segera melemparkan backpack hitamnya yang segera ditangkap Noah dengan tangkas. Kala bunyi nyaring resleting terbuka, sejatinya itu adalah gerbang menuju sebuah alur yang Noah tidak akan dapat keluar lagi darinya dalam keadaan sehat sentosa. Mungkin bukan apa isi ransel itu yang akan menjeratnya, tapi pemiliknya.
Di dalam tas itu, berserak uang dalam pecahan besar dolar dan won. Bercampur dengan barang yang menjadi asal uang haram itu terkumpul; berbagai macam narkotika jenis kanabinoid semisal ganja dan slab, beserta lintingan dan pipa-pipa aplikatornya. Kemudian juga beberapa pil stimultan dan slop kertas kecil yang Noah yakini merupakan LSD. Sisanya Noah tidak kenali, tapi itu jelas-jelas bukan cuma ganja. Ini benar-benar lebih dari itu. Noah mengulum bibirnya singkat melihat surga kecil jebakan setan berada tepat di antara dua telapak tangannya. Eden mengamatinya dalam diam, berjudi antara dua kemungkinan yang akan terjadi pada anak baru di depannya; ia akan sangat tertarik hingga tak bisa lepas, atau sangat takut hingga kabur tak kembali lagi.
Tapi kemudian, ekspresi di wajah Noah berubah. Ada sesuatu yang lebih menarik tertimbun di dasar tas; sebuah memo kecil dalam keadaan terbuka, berisi coretan pena yang berantakan namun menggemaskan. Lima detik Noah mengamatinya dan kemudian ia tidak dapat menyembunyikan senyum penuh goda dari bibirnya.
"Kau menulis lagu?"
"OH! Fuck off!"
Eden yang terbelalak refleks menyambar memo itu dari tangan Noah, menyakuinya di celana. Demi Tuhan, dari sekian banyak barang yang bisa diminati Noah kenapa dia harus tertarik pada yang satu itu sih? Sekarang anak itu sedang terkikik kecil dan Eden segera merebut balik tasnya karena salah tingkah.
"Jadi beli tidak?!"
Andai mau, Noah bisa saja bersikap jahil lebih dari ini. Namun menyadari bahwa Eden dan dirinya hanya orang asing, dia tak ingin melanggar batasan. Ia mengangkat tangan rendah seolah menyerah. Tapi sesungguhnya dia juga tak ingin Eden pergi.
"Bahkan kau tadi sudah bisa menebak kan kalau aku merokok saja tidak bisa?"
Hanya dengan satu pernyataan itu, harusnya sudah membuat penjaja macam Eden enyah dari hadapan Noah. Dia bukan target yang instan. Namun agaknya, ketertarikan kecil dalam dada Noah berbalas. Ia tertegun mendapati bahwa sebuah tangan terulur dalam sebuah tawaran. Ajakan untuk berdiri, atau menyingkir dari tempat ini. Digagas tak lain tak bukan oleh seorang Eden.
"Kuajari?" Bujuknya lemah lembut seolah ia menawari mendengar pujian rohani. Ia bahkan menambahkan lagi;
"Gratis"
Andai saja ada seseorang yang memerhatikan seluruh interaksi kedua pemuda itu, dia harus memberi tahu keduanya sebuah fakta yang sedang coba ditutupi; bahwa mereka sebenarnya hanya tertarik pada satu sama lain. Seluruh gagasan tentang lagu, bahasa, atau yang terbaru rokok cuma jadi alasan agar mereka tetap terlibat satu sama lain. Maka ketika Noah meraih balik jemari Eden dan membiarkan pemuda itu menggiringnya keluar diam-diam dari riuh pesta, sejatinya ia tengah menuruti sebuah candu yang tidak akan sembuh dalam waktu singkat.
●○
"Duduk yang nyaman, Princess"
"Kau mau kusepak?"
Apa yang diharapkan dari pembuka pembicaraan dua orang dengan kutub magnet berlawanan itu. Noah hampir batal duduk di jok mobil akibat panggilan usil dari Eden selaku pengundang. Meski akhirnya tetap mengalah karena pemuda jangkung sembrono tadi menarik tangannya sembari tergelak. Eden terlihat bersenang-senang dengan betapa garang namun murninya Noah. Ia mengundang pemuda itu duduk di mobilnya yang tengah terparkir, sebagai tamu terhormat yang siap dirusak.
Sementara Noah, entah untuk kali keberapa dari malam ini harus dibuat tertegun mengamati perintilan kehidupan si Eden-Eden itu. Kali ini adalah kendaraannya. Dari sekian tipe Ferrari dan Porsche yang bertengger elit nan tak diperhatikan di halaman, sebuah hatchback Eropa lawas berwarna abu gelap kusam disimpan baik-baik di parkiran oleh Eden sang pemilik. Noah tidak harus jago otomotif untuk tahu bahwa Peugeot 306 ini adalah mobil tua yang diproduksi setidak-tidaknya tahun 1993 sampai 2002. Interiornya juga terlihat sudah dirindukan reparasi; jok kulit keras, roda setir aus di arah jam 2 dan 10, dan tombol-tombol kecil yang sudah pudar nama fungsinya. Ketika Eden mengambil korek dari laci dashboard, ada bunyi 'tug' nyaring kala ditutup kembali.
"Kau itu orang kaya pura-pura miskin, atau orang miskin pura-pura kaya sih?"
Celetukan bingung Noah yang sangat alami terdengar seratus kali lebih lucu dari yang seharusnya. Lagi dan lagi membuat Eden tertawa. Pemuda itu membuka separuh jendela sebelum mengambil sebatang rokok dan menggamitkannya di jemari Noah. Sangat-sangat tidak perlu, tapi apa daya, seseorang cuma ingin tahu rasa memegang tangan seseorang yang lain.
"Tidak ada yang pura-pura" Katanya singkat, mungkin saja membuat Noah makin bingung tapi jelas itu bukan tanggung jawabnya. Ia di sini untuk nikotin.
"Siap?" Eden merujuk pada pemantik di tangannya.
Sementara Noah, ia memandangi batang putih yang terselip canggung antara jemarinya. Seolah benda itu tidak seharusnya berada di sana. Namun pada akhirnya, jemari itu tetap terangkat naik, menyelipkan lintingan tembakau itu pada celah sempit dari bibir penuh Noah yang warnanya memang semerah itu dari lahir. Andai rokok itu bernyawa maka dia akan lebih berdebar dari pada Noah itu sendiri, karena diletakkan di situ.
Kala Noah mengangkat tatapannya pada Eden- bermaksud meminta api, pemuda yang satunya lagi melakukannya sembari meneguk ludah. Satu kali pantikan dan api menyala besar, andai darah Eden berasal dari solar maka pasti dirinya yang kini terbakar hebat. Sesuatu yang amat murni namun menantang seperti Noahlah penyebab utamanya. Gugatan pada malam berrokok ini ternyata bukan hanya apa yang Eden lakukan pada Noah?, tapi juga apa yang Noah lakukan pada Eden?
Asap tipis berembus naik, selama beberapa menit Noah tak ubahnya robot kaku yang coba mencerna seluruh instruksi Eden dalam satu menit. Eden mewanti-wanti supaya Noah tidak menggigit rokoknya, dan agar tidak melakukan apapun dulu pada lima detik pertama asap memenuhi mulutnya. Noah melakukannya dengan sangat baik di permulaan, setidaknya hingga pada saat Eden memintanya menarik napas pelan ke dalam kerongkongannya. Rasa panas tiba-tiba mencekik Noah dari dada sampai rongga hidung, membuatnya tidak tahu harus menghirup oksigen dari mana.
"Jangan dilawan" bisik Eden pelan, namun matanya waspada. Pengalaman merokok pertama memang tidak pernah keren dan Noah bukan pengecualian.
Pun Noah; sebagai perenang ulung ia belum pernah tahu bagaimana rasa tenggelam itu, tapi pasti seperti sekarang ini rasanya. Dadanya sesak, matanya pedih, dan ia kehilangan kontrol pada mayoritas inderanya. Tiga detik kemudian Noah terlempar dari jok di belakang kepalanya, nyaris terantuk dashboard andai Eden tidak sigap mengangkap tubuhnya. Ia terbatuk hebat, asap kotor mengepul tak beraturan entah dari hidung atau mulutnya. Masih dalam pegangan Eden ia mengumpulkan kesadaran dari sesuatu yang dinamai otaknya sebagai 'tenggelam kering' itu.
"UHK! Astaga..." Noah kembali mampu berbicara susah payah setelah batuk terakhirnya. Ia campakkan rokoknya pada kaleng minuman di dashboard, menyerah di babak satu peperangan. Ditolehnya Eden dan pemuda itu kentara jelas berusaha tidak tertawa, walau pada akhirnya gagal. Dia tergelak hingga bahunya berguncang, membuatnya dapat hadiah tendangan di kaki oleh korbannya yang satu itu. Melihat Noah sekarat semenyenangkan itu rupanya?
"Oke, oke. Boleh lah, tujuh persepuluh" pungkas Eden dan Noah mendelik.
"Siapa yang minta di-rating, bangsat?!"
Eden tergelak lagi beberapa saat, sebelum akhirnya berhenti untuk coba serius. Atau tidak.
"Jangan galak begitu dong, Matryoshka"
Pintanya melas sambil merujuk pada boneka perempuan klasik Rusia yang tersohor itu. Bibir merah, alis tebal, mata jernih, pipi merona, itu Noah kan?
"Jangan panggil aneh-aneh begitu ih!"
"My bad. Sorry, Princess"
"Astaga"
"Eitsss...!!"
Noah yang nyaris keluar mobil karena muak segera ditahan lengannya oleh Eden agar duduk kembali. Kali ini ada senyum tertahan di bibir Noah, tanda bahwa ia tidak benar-benar marah. Ia cuma bingung sebenarnya, harus bereaksi apa pada pemuda berandal yang memanggilnya berkali-kali dengan sebutan manis.
"Aku tidak bercanda lagi, demi Tuhan" Eden bersumpah saking takutnya ditinggal. Beberapa orang di pesta terlihat mulai beranjak pulang satu demi satu. Ini malam yang menyenangkan, tapi juga aneh. Mereka bukan siapa-siapa untuk bercanda dan saling mengumpati seperti tadi. Tapi masih ada besok, bukan? Besok dimana mereka bisa mencari tahu lagi apa yang mereka bisa lakukan agar tidak sekedar bukan siapa-siapa bagi satu sama lain.
"Can i see you again?" Eden bertanya lembut. Pertama kalinya terdengar tulus setelah seribu satu muslihatnya terhadap sepanjang pesta. Noah mengulum bibirnya tanpa sadar, menggali-gali kewaspadaan di dasar hatinya agar mampu menolak Eden mentah-mentah. Tapi nyatanya, yang keluar hanya sebuah keluhan yang tak membantu menutupi betapa ia juga ingin bertemu Eden lagi.
"I don't know, Senin ini aku sudah masuk klub dan mulai latihan intensif" katanya, gagal tidak terlihat menyesal.
"Klub? Klub apa?"
Eden mengernyit, tentu saja Noah belum memberi tahunya. Lagi pula, siapa mereka?
"Renang. Aku atlet"
Suara Noah terdengar manis kala tersisipi senyuman. Selalu berbinar-binar ketika menyinggung mimpinya. Eden menanggapinya dengan anggukan kagum, sama-sama tak sadar sejak kapan pembicaraan mereka mulai melembut.
Alarm di ponsel Noah berbunyi, peringatan curfew-nya dan Ella sudah habis. Gadis itu tidak menelepon berarti dia mabuk dan Gawon bisa jadi mencabik-cabik mereka berdua jika tahu apa yang terjadi malam ini.
"Sudah jam dua belas malam, aku pergi dulu ya?"
"Oke, Cinderella"
"JANGAN MULAI LAGI DEH!"
Noah yang memukulinya dengan brutal mau tak mau membuat Eden menangkap kedua pergelangan tangan pemuda itu dan menariknya agar terkunci. Tidak peduli bahwa mereka jadi amat dekat sekarang, secara praktik Noah hampir menindihnya.
"Give me a guarantee" kata Eden kemudian "-that we'll meet again"
Garansi? Garansi seperti apa yang Eden mau? Noah tidak pernah merasa sepenting itu untuk menjanjikan pertemuan dengan seseorang, yang baru pertama bertemu terutama. Tapi oh Tuhan, bagaimana jika seseorang itu kini memandang pada wajahnya penuh penantian, menahan kedua tangannya dan tidak akan melepasnya sampai Noah memberi jaminan yang adil. Satu kecupan yang lugu, haruskah? Toh wajah mereka sudah amat dekat.
"ehm"
Tapi pada akhirnya Noah hanya berdehem kecil, menarik tangannya dengan canggung dari genggaman Eden. Sihir yang melingkupi mereka pecah, dan hari ini harus benar-benar berakhir.
"Aku pergi dulu, Eden. Sampai jumpa lagi" pungkas Noah singkat, namun jujur. Ada ketulusan saat ia mengatakan tentang perjumpaan itu. Satu yang ia harap Eden paham bahwa ia betul memaksudkannya. Untuk sementara ini, kalimat itu cukup dibanding ciuman apapun.
Eden menganggukkan senyum, membiarkan Noah keluar dari mobilnya. Satu dua anak yang berpapasan dengan Noah memberitahukannya di mana sepupunya terkapar pening, membuat Noah menggigit kuku jarinya akibat sedikit merasa bersalah; Ella yang ingin bertemu Eden, tapi justru dirinya yang berduaan dengan pemuda itu di dalam mobilnya. Haruskah ia mengingkari janji? Membatalkan saja keinginannya untuk bertemu Eden lagi dan cukup fokus saja pada karirnya menjadi perenang.
Ya, Eden memang memikat, memikat siapapun. Bisa jadi momen yang bagi Noah mendebarkan tadi ternyata cuma recehan bagi pemuda itu. Demikian setidaknya Noah menyabotase dirinya sendiri agar tidak lancang mengidamkan Eden lebih lanjut. Untuk menguji keteguhan hatinya, Noah berbalik untuk melihat pada Eden satu kali lagi, jika ia kokoh maka harusnya ia bisa melihat pemuda berandal itu sebagai orang asing biasa.
Namun sungguh namun, apa yang tertangkap mata Noah justru sampai nyaris membuatnya tersandung. Singkirkan kata asing di tengah-tengah nama Noah dan Eden setelah ini, kala yang Noah lihat dari kaca bening mobil Eden saat ini adalah pemuda itu dalam ketidakawasannya. Di tengah kesunyian menahan senyum simpul, menikmati rasa rokok pertama Noah di antara belah bibirnya.
○●○●○TBC○●○●○
