Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of OSPEK
Stats:
Published:
2026-01-05
Words:
1,492
Chapters:
1/1
Comments:
6
Kudos:
45
Hits:
389

OSPEK

Summary:

seongjun mempermalukan gyujin di depan semua orang karena dia pakai lip gloss saat ospek.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

gyujin dengan name tag sebesar papan catur itu berbaris di lapangan bersama teman-teman mabanya. berkali-kali dia memeriksa atribut seragamnya. baju hitam-putih, ceklis. dasi hitam, ceklis. kaos kaki putih, ceklis. sepatu hitam, ceklis. name tag dengan tali rafia berwarna biru, ceklis. topi almamater, ceklis. dia terlihat sibuk sendiri diantara teman-temannya yang sibuk mengobrol. gyujin hanya ingin menghindari hukuman dari panitia keamanan. 

para mc membuka acara. semua anak mulai berdiri dengan lebih rapih setelah kakak pembimbing mengatur mereka. gyujin mengikuti seluruh rangkaian acara pembuka dengan baik walaupun kakinya mulai kram karena berdiri hampir dua jam. gyujin sampai hampir jatuh dan harus meminta teman di sebelahnya menahannya agar tidak sepenuhnya jatuh dan menimbulkan keributan. 

ketika acara pembukaan selesai, akhirnya mereka diperbolehkan untuk duduk. kakak pembimbing sibuk membangikan snack ringan. sementara kakak-kakak berwajah serius di pinggir lapangan menatap mereka satu-persatu. gyujin pikir mereka terlihat lucu. mereka terlihat begitu tegang, seakan-akan ini bukan acara penyambutan mahasiswa baru melainkan penyambutan anggota militer baru. gyujin tidak memikirkannya lebih jauh dan lanjut mengunyah makanan ringan dan mengobrol asik dengan teman sekelompoknya. 

acara berlanjut. mereka masuk ke ruang auditorium untuk pemberian materi dari seorang tamu alumni sukses. gyujin tidak berhenti terpukau melihat presentasi kakak alumni itu. dia terus bertepuk tangan tiap kali kakak itu selesai bicara. dia bahkan dengan rajin mencatat hal-hal penting dengan rapih di buku catatannya walaupun kakak pembimbing tidak menyuruh untuk mencatat. 

saat waktu makan siang, kakak pembimbing membagikan makan siang. pas sekali saat perut gyujin mulai keroncongan. dia melihat setiap box nasi yang dibagikan dengan penuh antusiasme. 

saat semua anak sudah mendapatkan makan siang mereka, kedua kakak pembimbing memimpin doa di depan mereka semua. namun, entah kenapa ada kakak ketiga di samping mereka yang ikut berdiri menggunakan topi dengan wajah masam. 

awalnya gyujin tidak peduli dan langsung membuka box makan siangnya. namun seketika ada yang menarik tangannya untuk keluar dari bangku tribun dan berdiri di depan semua orang. tarikan tangannya cukup kencang, namun tidak memaksa. kakak itu membiarkan gyujin menaruh kotak nasinya di kursi baru menariknya turun dari tribun. gyujin benar-benar bingung. teman-temannya pun menatapnya dengan bingung dari atas tribun. gyujin tau mereka dari divisi keamanan. tapi gyujin merasa tidak melanggar apapun. gyujin juga merasa mengikuti kegiatan dengan baik. dia bahkan banyak mencatat saat pemberian materi dari alumni. hal ini membuatnya bertanya-tanya apa yang membuatnya berbeda atau bahkan lebih buruk dari temannya yang lain? 

awalnya gyujin kira hanya dia yang ditarik ke bawah, rupanya ada beberapa anak lain yang ditarik keluar tribun. gyujin sedikit lega, namun tetap saja saat melihat anak-anak yang ditarik itu memiliki kesalahan yang jelas terlihat oleh mata sementara dirinya tidak dia merasa sangat dicurangi. 

"kak, izin! salah saya apa ya kak?" akhirnya gyujin memberanikan diri untuk bertanya ke kakak yang tadi menariknya keluar tribun. 

anggota keamanan yang berdiri di sebelahnya itu memutar kepalanya ke arah gyujin. namun saat melihat wajah kakak itu lebih dekat, gyujin menciut. mungkin seharusnya dia diam saja. 

kakak itu tidak menjawab, namun menatap gyujin dengan tatapan tajamnya. tidak banyak ekspresi apalagi kata-kata, namun gyujin menangkap pesannya. diam. patuhi. 

gyujin menunduk, mengalihkan pandangannya pada sepatunya. rupanya satu talinya terlepas. jika itu alasannya, tetap saja mengambil jam makannya itu tidak manusiawi. sangat tidak masuk akal dan gyujin sangat lapar. perutnya tidak berhenti berbunyi. 

"semuanya perhatian!" seorang anggota kemananan berteriak dengan lantang ke arah tribun, "ada yang bisa sebutin ulang do and don't ospek?"

tidak ada yang berkutik. hanya beberapa lirikan kanan-kiri dan gestur tunjuk-menunjuk di tribun. 

"ayo dong." akhirya gyujin mendengar suara kakak yang tadi menariknya keluar tribun, sampai-sampai gyujin harus menoleh kearahnya untuk memeriksa apakah itu benar suaranya atau bukan, "kalo gak ada yang bisa, nih aku tunjukin," 

kakak itu mendorong tubuh gyujin lebih maju kedepan, menjadikannya pusat perhatian. seketika ibu jari itu mendarat di bibir gyujin, mengusap bibirnya dengan gerakan cepat. gyujin memaku. nafasnya terhenti sesaat. 

kemudian ibu jarinya dia angkat ke atas. 

"don't. lip gloss." kakak itu memutar tubuhnya seakan membiarkan semua orang tau kalau gyujin, seorang laki-laki, memakai lip gloss. 

wajah gyujin memerah. dia hanya bisa menunduk. 

"liat ke temen-temen kamu!" kakak itu tidak memberi celah untuk gyujin menyembunyikan rasa malunya, "mau ngedate?" 

rasanya seperti kakak itu hanya ingin mempermalukan gyujin di depan semua orang. 

"sama siapa? hah?" tidak berhenti disana. kakak itu memutar tubuhnya lagi ke arah tribun. "ngaku siapa yang gyujin mau ajak pacaran abis ini?"

diam. 

"kakak pembimbing kamu gak ngasih tau?" kakak itu tanya lagi ke arah gyujin yang hampir menangis. 

"ngasih tau, kak." itu jawaban paling aman. gyujin sebenarnya tidak benar-benar ingat soal pelarangan menggunakan lip gloss. lagi pula yang dia pakai itu bukan lip gloss. itu lip balm yang dia curi dari kamar kakak perempuannya tanpa dia sadari kalau itu berwarna. lip balm juga sangat penting untuk bibirnya yang sering kering dan luka itu. 

"kenapa masih di pake?"

gyujin benar-benar tidak tau harus jawab apa. 

"banci." bisik kakak itu agak dekat ke wajah gyujin walaupun masih agak kencang. 

terdengar beberapa orang tersontak kaget setelah mendengarnya. 

"jun, udah jun." seorang anggota panitia, mungkin bukan dari keamanan terlihat seperti menarik kakak 'jun' keluar. 

gyujin sudah tidak bisa menampung air matanya lagi. sepertinya dia masih tidak dibolehkan duduk dan makan karena segmen mempermalukan ini berlanjut ke anak selanjutnya oleh anggota keamanan yang lain. 

selesai dengan segmen mempermalukan itu, gyujin langsung berlari ke kamar mandi. walaupun waktu makan siang tersisa sepuluh menit, gyujin sudah tidak peduli dengan makanan itu. 

gyujin melihat dirinya di kaca. banci. kadang gyujin tidak mengerti dirinya sendiri. apakah tidak seharusnya dia merasa nyaman dengan menggunakan lip balm berwarna? apakah seharusnya dia tidak memakai lip balm sama sekali? 

bangsat. dasar cowo sok tau. lip gloss sama lip balm aja gak bisa bedain! 

sekarang gyujin harus menampung rasa malu dan kesalahpahaman itu sendirian. rasanya gyujin semakin menciut dan tidak ingin keluar kamar mandi. dia kehilangan semangat untuk melanjutkan apapun itu yang akan dilakukan setelah ini. 

gyujin memilih masuk ke bilik toilet dan duduk di WC. dia mengeluarkan ponselnya. grup percakapannya sudah ramai mencari keberadaannya karena rupanya sepuluh menit sudah terlampaui. beberapa mengirim pesan privat termasuk kakak pembimbingnya dan mengatakan hal-hal seperti "dia kelewatan kok gyu, balik sini, gua peluk lu" ada juga "gapapa gyuu gua bahkan gasadar lu pake gituan kok bisa dia sadar ya jirr??" atau "dosen paling gapeduli kaya gituan gyu" dan yang paling membuat gyujin gila adalah "paling juga dia iri gabisa se cantik elu" tapi dia memilih diam dan tidak merespon satu pun pesan yang masuk. dia memilih untuk menghabiskan hari ospeknya di toilet dengan earphone yang terpasang di telinganya. 

menjelang sore, para mahasiswa baru sudah bersiap untuk kegiatan penutup. sementara gyujin masih di dalam toilet, asik memainkan ponselnya untuk melupakan rasa malunya. 

gyujin mendengar suara pintu terbuka walaupun musik yang dia mainkan lewat earphonenya cukup keras. artinya pintu itu dibuka dengan kasar. gyujin segera mematikan musiknya dan ponselnya. 

"park gyujin! keluar!" suara familiar itu. 

gyujin terdiam, kaku. 

"kamu tau hukumannya kalo gak ngikutin seluruh rangkaian acara kan?"

seketika gyujin teringat. dia bisa saja mengulang ospek tahun depan. tapi, sejujurnya, gyujin sudah tidak punya rasa hormat ke para panitia ataupun seluruh acara ini. acara sampah. panitia sampah. 

pintu bilik toiletnya diketuk. sepertinya kakak 'jun' itu sudah tau gyujin sembunyi di bilik yang mana. 

tiba-tiba dua pasang mata muncul, mengintip dari celah diatas pintu bilik. 

seluruh badan gyujin bergetar saat matanya mendarat pada sepasang mata itu. 

"ngapain lu? buka pintunya!"

gyujin dengan pasrah membuka pintunya. dia tetap berdiri disana sambil menundukkan kepalanya, tidak kuasa melihat wajah kakak yang tadi memanggilnya dengan sebutan 'banci'. 

gyujin juga sudah siap menerima hukuman apapun meskipun itu harus di suruh push up seratus kali atau membuat resume tertulis menggunakan folio bergaris sampai penuh atau membersihkan lapangan atau membersihkan auditorium atau mengulang tahun depan dengan harapan kepanitiannya tidak sampah seperti ini atau--

"cepet ikut temen-temen kamu di lapangan. bentar lagi upacaranya mulai!" 

gyujin bingung. tapi ini jauh lebih baik. 

dia kembali ke lapangan, mencari teman sekelompoknya. saat berkumpul kembali, seorang temannya langsung memeluknya. 

"are you okay, gyu?" kata temannya sambil memeluknya erat. 

walau gyujin belum hafal nama dan wajah mereka satu-persatu, gyujin yakin mereka akan berteman lama. 

"ini gyu, tas lu gua bawain. sama makanannya ada di dalem." kata temannya yang lain sambil memberikan tasnya. 

kakak pembimbingnya pun ikut menghampirinya, "gyujin, kita dari panitia minta maaf ya. maafin seongjun dari keamanan, ya. kita akui dia berlebihan. kita juga udah kasih dia peringatan ke dia kok. kalo ada hal yang bikin kamu gak enak lagi, kasih tau kita ya."

"iya gyu, gua sebagai temen deketnya seongjun ikut malu dan merasa bersalah." kata kakak pembimbing yang satunya. 

rupanya mereka tidak seburuk itu. hal itu membuat gyujin sedikit lega. walaupun mungkin remark semacam 'banci' itu bisa bertahan di kepalanya selama bertahun-tahun. tapi, tidak apa. setidaknya dia dikelilingi orang baik yang tidak akan pernah mengulang kata itu di telinganya. 

tidak seperti kakak keamanan itu. gyujin memata-matainya dari sela-sela barisan. dia berdiri dengan postur lempeng di pinggir lapangan. tatapannya kosong di balik topi itu. sekalinya melirik, mata itu mendarat pada gyujin. gyujin langsung memalingkan pandangannya. 

seongjun. 

semoga karma nimpa lu, kak.

 

Notes:

btw gua udah lupa cara ospek bekerja sorry kalo ada yg janggal🥀

Series this work belongs to: