Actions

Work Header

the things that felt permanent

Summary:

Rutinitas kecil itu bukan sesuatu yang penting. Mereka tidak pernah membicarakannya dan tidak ada perjanjian tak tertulis perihal ini. Setidaknya, tidak yang pernah mereka sepakati dengan sadar.

#Octoberabble: Break Apart

Notes:

Today is clearly January, but hey, this fic is for #OctoberAbble: Break Apart!

Work Text:

Mai tidak langsung menyadarinya.

Pagi itu sudah cukup menyebalkan, bahkan sebelum Mai sempat melihat matahari pagi dengan mata kepalanya sendiri. Alarm milik mereka tidak menyala, membuat hari Mai dan Noritoshi harus diawali dengan derap langkah yang beradu dan gigitan pada roti dengan selai cokelat yang terburu-buru.

Noritoshi berdiri di dapur dengan rambut rapi dan ekspresi tenang yang sangat ingin Mai pukul dengan handuk. Waktu mereka sangat tipis, dan Noritoshi sudah terlihat terlalu rapi untuk ukuran seseorang yang bersiap di tengah keributan pagi. Semua itu saja sudah cukup untuk membuat Mai mendecak pelan.

“Pagi,” sapa Nori sebelum melanjutkan kunyahan rotinya sembari memeriksa beberapa map yang ada di dalam tasnya. 

Mai mendengus kecil, tangannya mengambil asal karet gelang yang ada di counter dapur. “Pagi. Kamu duluan aja, jadwalku minggu ini lebih siang soalnya.”

Segalanya berjalan cepat. Terlalu cepat untuk Mai sadari.

Tas ditutup. Sepatu dipakai. Pintu dibuka. Noritoshi berdiri di sana sembari berkata, “Aku berangkat dulu, Sayang!”

“Iya, hati-hati,” jawab Mai sambil setengah berlari dan mengikat rambutnya dengan kasar, menarik kuncirnya terlalu kencang dengan keyakinan itu akan menyelesaikan semua masalah hidupnya hari ini.

Pintu tertutup. 

Dan... selesai.

Mai menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Sikat gigi menggantung di tangannya saat otaknya mencoba menelusuri apa yang terasa janggal. Kaus Noritoshi entah kenapa selalu lebih nyaman dipakai daripada kausnya sendiri, dan rambutnya yang telah memanjang melebihi bahu menolak bekerja sama walau sudah diikat dua kali. Mungkin Mai harus membuat jadwal untuk mengunjungi salon di akhir minggu nanti. 

Bukan, bukan itu. Tapi apa? 

Bukan juga karena Noritoshi pergi tanpa pamit. Toh, ia pamit, dan Mai melihat sendiri suaminya keluar dari pintu rumah mereka. Juga bukan karena pagi yang ribut—setiap pagi selalu ribut, kebetulan saja hari ini intensitasnya lebih dari hari biasa. 

Hanya saja, ada sesuatu yang biasanya ada.

Mai mengatupkan bibirnya sebentar, lalu menghela napas. “Ah.”

Mai tahu persis apa itu. Ia hanya memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. Lagipula, rutinitas itu bukan sesuatu yang penting. Mereka tidak pernah membicarakannya dan tidak ada perjanjian tak tertulis perihal ini—setidaknya, tidak yang pernah mereka sepakati dengan sadar.

Ciuman di pipi atau kening—tergantung siapa yang lebih tinggi posisinya saat itu—dan satu kalimat yang sama, ‘I love you’, sebelum mereka berpisah di pagi hari.

Hal-hal kecil yang terlalu sering terjadi hingga terasa permanen.

Cuma cium doang, katanya pada dirinya sendiri. Bukan masalah besar. Tangannya tetap menggenggam sikat gigi itu sedikit terlalu kencang.

Lagipula, mereka sudah menikah. Mereka akan bertemu lagi malam ini di tempat yang sama. Dunia tidak akan runtuh hanya karena satu pagi tanpa cium di pipi atau kening dan satu kalimat klise yang selalu sama.

Lebay banget, deh.

Sepanjang hari, Mai bekerja seperti biasa. Ia tidak memikirkan Noritoshi. 

Sama sekali tidak.

Kecuali mungkin saat Mai bersiap di ruang praktik, di tengah bau antiseptik dan dentingan alat-alat medis yang berjajar di baki instrumen dental. Atau sewaktu  jeda makan siang, saat wangi ayam katsu menggoda hidungnya. Dan sekali lagi saat sore datang terlalu cepat dari yang dapat ia sadari. 

Malamnya, Mai sampai rumah lebih dulu. Ia menerima pesan bahwa suaminya akan pulang sedikit lebih lama dari biasanya. Mai hanya menjawab itu dengan “oke” kemudian melepas sepatu, masuk lebih jauh untuk menyimpan tas dan mandi sebelum kemudian pergi ke dapur. 

Mai membuka kabinet dapur atas untuk meraih bungkus teh lalu tanpa sadar menyiapkan dua gelas. Mai mendengus pelan, tapi tetap menyeduh air dengan takaran lebih banyak dengan gerakan yang terlalu terbiasa untuk dihentikan di tengah jalan.

Kebiasaan ini.

Mai menatap dua gelas yang kini berdiri sejajar di atas meja dapur, uap tipis mengepul dari teko yang ia pegang. Ia mendecak pelan, lalu mendorong salah satunya sedikit ke samping, seolah jarak itu cukup untuk menyangkal apa pun yang sedang ia lakukan.

Nanti keburu dingin, pikirnya. Yaudah. Kalau nggak diminum, ya salah dia.

Mai membawa satu gelas ke meja makan, duduk, lalu menyesap teh perlahan. Rasanya biasa saja. Terlalu biasa untuk membuatnya kesal, tapi cukup hangat untuk membuat bahunya rileks tanpa sadar. Ia tidak bergeming di tengah keheningan. Rumah terasa sunyi dengan cara yang tidak ia sukai. 

Ia memutuskan untuk bangkit, membuka kulkas, menatap isinya dengan ekspresi datar. Ada sayur. Ada sisa lauk yang akan dihangatkan nanti. Tidak ada yang benar-benar ia inginkan.

“Capek,” gumamnya, lalu menutup kulkas sedikit lebih keras sebelum bergerak menuju tempat beras, mencucinya, kemudian memasukkannya ke dalam penanak nasi. 

Saat suara kunci dan pintu terbuka terdengar dari pintu, Mai sedang duduk di meja makan dengan satu gelas teh yang hampir kosong. 

“Kamu pulang,” sambarnya tanpa menoleh. 

“Iya, aku pulang” jawab Noritoshi. “Maaf lama.”

Mai menjawab pelan, “Aku udah bilang oke.”

Ia baru menoleh saat Noritoshi berdiri di ambang dapur—sedikit lebih berantakan dari biasanya. Jasnya tidak langsung dilepas, satu tangannya membawa kotak kecil berwarna hijau pucat.

Mai mengernyit. “Apa itu?”

“Oh?” Noritoshi berkedip, lupa dirinya membawa sesuatu. Ia mengangkat tangannya kemudian meletakkan kotak itu di meja, tepat di samping gelas teh yang belum diisi air panas. 

Intern di tempatku bilang kalau mereka baru buka cabang di sekitar kantor.” Noritoshi melenggang menuju kamar, melepas dasi dan jas perlahan dan memasukkannya ke keranjang cucian. “Aku ingat kamu nonton video kue ini di shorts.”

Mata Mai mengerjap pelan. “Aku cuma nonton konten yang lewat.” 

“Iya, konten yang lewat tiga kali sehari karena kamu selalu tonton ulang sebelum tidur.” Mai bisa mendengar senyuman mengejek di wajah Noritoshi saat mendengar jawabannya tanpa perlu benar-benar menatap suaminya secara langsung. Sebelum Mai sempat menjawab, Noritoshi melanjutkan, “Kebiasaanmu kalau mau sesuatu, selalu dilihat berulang kali.” 

Mai mendengus pelan, kemudian berucap pelan, “Makasih, ya.”

Noritoshi hanya menjawab dengan gumaman halus sebelum tubuhnya menghilang ke balik pintu kamar mandi, meninggalkan sisa kehangatan percakapan mereka barusan. Mai membiarkan pikirannya melayang, menatap langit-langit sambil mendengarkan suara air yang jatuh teratur.

Berapa banyak sebenarnya kebiasaan-kebiasaan kecil yang mereka bagi? 

Saat suara air berhenti dan langkah kaki terdengar mendekat, Mai menghela napas pendek.

“Nori,” panggil Mai, masih dengan nada yang tidak peduli.

“Hm?”

“Kita lupa sesuatu pagi tadi.”

Mendengar itu, Noritoshi terlihat terkejut sebentar sebelum tersenyum kecil, menghampiri Mai yang masih di posisinya—di balik counter dapur, memasukkan lauk untuk makan malam ke dalam microwave. Mungkin, mungkin, Noritoshi juga memikirkan hal yang sama sepanjang hari.

“Oh,” katanya, jedanya nyaris tak terlihat sebelum senyum kecil itu muncul. “Iya.”

“Kamu inget?” Mai mendecak lagi, kali ini lebih pelan. “Pantesan seharian rasanya aneh.”

Noritoshi terkekeh kecil. Ia mendekatkan wajahnya pada wajah Mai, terlalu dekat untuk ukuran orang yang Mai pikir cuma lupa hal kecil. Mai tidak mundur. Ia juga tidak berkata apa-apa saat Noritoshi menunduk dan mencium keningnya—seperti biasa.

Dan bodohnya, perasaan hangat di dadanya yang sempat hilang langsung kembali.

I love you,” kata Mai cepat, bahkan sebelum kepalanya bisa berpikir lebih jelas 

I love you, Mai” balas Noritoshi, suaranya masih tenang seperti biasanya.

Mai berpaling, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul tanpa izin.

Dasar, pikirnya.

“Kedepannya,” Mai menolehkan kepalanya untuk kembali melihat Noritoshi saat suara pria itu menghampiri telinganya lembut, hingga ia merasakan kecupan singkat mendarat di pipinya, “Tahan aku sebelum keluar rumah kalau aku lupa lagi, ya,” ucap Noritoshi sebelum memberikan satu ciuman lagi di tempat yang sama. Kali ini, lebih lama. 

Do the same for me,” jawab Mai sekenanya, tapi kedua ujung bibirnya terangkat sempurna. Noritoshi yang melihat itu kembali membubuhkan kecupan di kepala Mai, kemudian bergerak menuju kabinet dapur atas untuk mengambil piring. Dua piring sekarang terjajar di depan mereka.

Cuma rutinitas doang.

Mai melirik Noritoshi sekilas, lalu kembali ke piringnya. Yah, walau terasa sepele, beberapa rutinitas tetap layak dijaga mati-matian agar tidak hancur.

Karena Noritoshi tidak pernah benar-benar melupakan Mai, dan Mai tidak akan pernah keberatan, selama rutinitas itu tetap ada.