Work Text:
“Bagus nggak?”
Selama tujuh belas tahun Keonho hidup, dia nggak pernah nyangka kalau kata ‘cantik’ bisa terbesit di kepalanya ketika melihat seorang laki-laki dengan riasan di wajahnya. Lebih tepatnya, sahabatnya sendiri, sih. Karena sekarang Seonghyeon sedang berdiri di hadapannya dengan sebuah gitar di tangan, lengkap dengan alis yang terlihat lebih defined dan pipi yang berwarna pink kemerahan. Nggak lupa dengan bibirnya yang—
“Malu, deh…” Seonghyeon menciut. “Lagian ngapain, sih, tampil buat bawa lagu perpisahan kelas dua belas aja masa harus pakai makeup.”
“Bagus,” Keonho terbata. “Bagus, kok. Bagus,” katanya. “Bagus.”
Seonghyeon mendengus. “Sekali lagi dapet piring cantik.”
“Piring elu?”
“Hah?”
“Piring cantik?”
“Apa, sih?” Seonghyeon mengernyitkan keningnya, menatap sahabatnya aneh karena kayaknya, kalau dalam komik-komik, Keonho udah pantas disebut konslet. Ia kemudian membalikkan badan dan kembali menatap pantulan dirinya di cermin. “Tapi ini blush-nya nggak ketebalan kan, ya, No?”
Keonho menggeleng. Lidahnya kelu. Ia harap Seonghyeon udah lihat responnya dari pantulan cermin sehingga dia nggak harus mengatakannya lagi secara lisan, karena Keonho tiba-tiba merasa grogi, dan dia bingung. Kenapa coba?
“Lo ilfeel, ya, sama gue?”
“Hah?” Sekarang giliran Keonho yang bingung.
“Ilfeel lihat gue didandanin gini?” Tudingnya. “Makanya daritadi lo diem aja.”
Lagi-lagi, Keonho menggeleng. Bedanya, kali ini dia mengutarakan sesuatu, “Nggak.”
Seonghyeon manyun. “Bo’ong.”
“Serius,” ia menipiskan bibirnya. Bilang nggak, ya? “Cakep, kok.”
Dari pantulan cermin, Keonho bisa lihat kalau Seonghyeon lagi meliriknya sambil menahan senyum. Bibir manyunnya agak gemetar karena ditahan dari membentuk sebuah senyuman, dan itu udah cukup untuk bikin Keonho rileks dikit. Dia kira Seonghyeon bakal beneran berprasangka buruk karena sikapnya yang tiba-tiba mendadak aneh.
“Yaudah, kalau gitu gue mau ke—”
“Cantik.”
Kalau dikira cuma Seonghyeon yang sekarang melotot karena kaget, salah. Keonho pun begitu. Dia nggak tau dorongan astral mana yang membuat dia berani menyatakan hal tersebut. Satu kata yang barusan lepas dari mulutnya, berhasil bikin dia merinding sekujur badan. Bukan karena rasa aneh yang berasal dari keasingan kata cantik yang diperuntukkan ke sahabatnya, lebih ke arah kata cantik itu jadi semakin hidup setelah Keonho benar-benar mengucapkannya.
Pipi kemerahan yang tadinya sudah merah, kini malah tambah memerah. Lutut Keonho lemas. Ada beberapa helai poni Seonghyeon yang jatuh dan membingkai sempurna wajah cantiknya. Kedua bibirnya yang terlihat mengkilap karena sentuhan lipgloss sedikit terbuka, meskipun belum tau mau merespon apa.
“Cantik, Seonghyeon,” Keonho memelintir dasinya lembut. Grogi. Ada keringat yang menetes di pelipis. Kelas yang dijadikan ruang tunggu penampil acara perpisahan kelas dua belas terasa panas meskipun sudah ada AC yang hidup dan pintu yang ditutup. “Cantik. Blush-nya nggak ketebalan. Alis lo bagus. Bibir lo bagus. Pokoknya bagus. Cantik,” Keonho mundur perlahan, meraih gagang pintu. “Cantik, kok,” gagang pintu diputar sebelum membalikkan badan, tapi kemudian menghadap ke arah Seonghyeon untuk benar-benar melihatnya satu kali lagi sebelum ia keluar dari ruang tunggu, “Cantik. Beneran, dah. Nggak bohong gue. Sumpah.”
“Iya, Keonho, iya,” Seonghyeon ketawa. Lucu. Gemas. Nggak tau kenapa sahabatnya bisa sekikuk itu. Nggak tau juga kenapa pipinya sendiri terasa panas banget. “Iya, makasih. Gue juga…”—leher gitarnya tanpa sadar ia remas—“... ngerasa cantik.”
Keonho mengangguk pelan. Matanya nggak pernah lepas dari wajah Seonghyeon. “Oke,” gumamnya, masih mengangguk-anggukkan kepala. “Oke,” sekali lagi ia bergumam sebelum akhirnya tersenyum. “Semangat, ya, Cantik.”
Meskipun hatinya langsung loncat kegirangan dan ritme jantungnya juga ikut berantakan karena berdetak saking cepatnya, Seonghyeon tetap terbahak dan berseru, “Apaan, sih! Udah sana cabut lo!”
Dari balik pintu yang sekarang sudah ditutup, Seonghyeon masih bisa mendengar tawa jahil Keonho yang menggelegar. Ia bahkan juga sempat ngintip dari jendela kelas untuk memberikan Seonghyeon dua acungan jempol beserta cengiran lebarnya itu sebelum akhirnya melangkah pergi dari area belakang panggung.
Dengan gitar yang masih ada di tangan, Seonghyeon akhirnya bisa melonggarkan genggaman eratnya tadi. Hatinya masih hangat. Pipinya masih panas. Senyumnya juga masih tercetak di wajah.
Pun ketika ia naik ke panggung untuk membawakan lagu perpisahan, wajah Keonho juga masih nyangkut di benaknya.
(Dan kayaknya wajah Keonho, serta keseluruhan momen di ruang tunggu yang mereka habiskan berdua itu, akan terus-terusan nyangkut di benaknya selama beberapa minggu ke depan. Atau, mungkin, malah nggak akan pernah bisa ditepis selamanya?)
