Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-06
Words:
1,338
Chapters:
1/1
Kudos:
11
Bookmarks:
1
Hits:
177

take it and eat

Summary:

Riwoo sibuk, dan Leehan khawatir. Based from eat by Zion T.

Work Text:

Leehan duduk di bangku kelasnya tanpa ada niatan bangkit dalam waktu dekat. Ada banyak hal yang membumbung di kepalanya, tapi itu semua adalah tentang pacarnya yang beberapa bulan lalu baru saja melempar toga. Riwoo bukanlah orang yang tertutup, ia cenderung sering menceritakan Leehan tentang kesulitan yang ia hadapi. Namun akhir-akhir ini, jangankan curhat, sekedar bertukar selamat pagi saja sulit. Semuanya bermula ketika Riwoo memutuskan untuk mengambil alih bakery milik orang tuanya. Banyak sekali hal yang harus disiapkan, karena niatnya pemuda itu ingin mengubah konsep usang toko yang terletak strategis di pinggir jalan itu menjadi konsep kekinian yang digandrungi remaja masa kini. Tentu saja sulit mengatur semuanya sendiri, jadi Riwoo sudah merekrut karyawan untuk membantunya mengembangkan ide serta bertukar pikiran. Jika kalian pikir Leehan akan cemburu, sebenarnya tidak bisa dibilang begitu. Hal yang mengganggu Leehan hanyalah waktu yang biasa dihabiskan untuk kencan atau mengobrol lewat daring berkurang drastis. Leehan juga tahu dan memahami beratnya beban yang Riwoo pikul, tapi di lain sisi ia mengkhawatirkan pacarnya itu.

Miris untuk memikirkan bagaimana dulu mereka bertemu karena Riwoo suka merekomendasikan makanan, tapi kini makanan yang masuk ke pencernaan pemuda itu tak jauh dari onigiri yang dibeli dari minimarket saat ia berangkat ke toko atau kadang hanya susu berperisa buah. Leehan tahu informasi ini dari hasil ia menghubungi asisten Riwoo—Taesan namanya. Berita yang cukup membuatnya kalut, takut suatu hari Riwoo masuk UGD gara-gara telat makan atau kekurangan nutrisi.

Leehan menghembuskan napas panjang dan mulai membereskan buku catatan yang terbuka di mejanya, dengan lesu melangkah keluar. Ia punya janji dengan salah satu adik tingkatnya yang baru saja menempati jabatan yang sebelumnya Leehan pegang di himpunan mahasiswa. Woonhak namanya, anak ceria yang hobi cengar-cengir. Walaupun begitu, Woonhak merupakan salah satu mahasiswa paling bisa diandalkan di jurusan ini. Pertemuannya adalah di kantin fakultas, Leehan membawa tas selempangnya di pundak dan berjalan ke dalam kantin. Matanya bergerak mencari Woonhak diantara mahasiswa yang lalu-lalang. Anak itu tersenyum cerah dari meja di pojok kiri. Laptopnya terbuka dan menyala lalu di sampingnya sudah terhidang es teh.

“Hai kak.”

Leehan mengangguk untuk membalas sapaan Woonhak.

“Nih, kakak jus mangga, kan? Aku yang traktir.”

Leehan tersenyum. Anak ini masih bisa begitu baik ditengah-tengah siang bolong seperti ini. Mereka memang sudah kenal lumayan lama. Untuk beberapa kali bahkan Leehan pernah membahas hal diluar urusan kampus dengannya.

“Makasih, ya.”

Lalu mereka larut dalam obrolan yang sudah sedikit disinggung lewat chat tempo hari. Woonhak berkonsultasi soal draf musyawarah kerja yang sedang disusunnya. Leehan membacanya serta memberikan saran-saran yang menurutnya diperlukan.

Woonhak menekan tombol untuk menyimpan dokumen dan akhirnya menutup laptopnya dengan hati-hati.

“Akhirnya, kelar juga!” serunya, agak sedikit kencang dari yang Leehan ingin dengar.

“Duh, laper banget kalo abis mikir gini gak sih, kak? Kakak mau makan apa?”

Leehan berpikir serius. Sebenarnya dari tadi bau nasi goreng ibu kantin langganannya sudah memanggil-manggil cacing di perutnya untuk berteriak minta makan.

“Nasgor deh. Kamu apa?” Leehan melempar pertanyaan kepada Woonhak.

“Kalo aku sih, hehehe..”

Woonhak mengambil tasnya yang disimpan di atas bangku plastik di sampingnya. Dari dalamnya ia mengambil sebuah kotak makan yang bertumpuk dua susun.

“Pagi ini aku dimasakin bunda terus aku bawa deh. Lumayan buat hemat uang makan.”

Di balik tempat makan itu terlihat nasi, potongan telur dadar, tumis sayuran dan sosis goreng yang dipotong serong. Tampak cerah dan penuh cinta.

Melihatnya, Leehan jadi terpikirkan sebuah ide. Ide brilian yang mungkin saja bisa menyelamatkan hubungannya dengan Riwoo.


Leehan membuka mata dengan erangan yang membersamai tubuhnya untuk duduk di atas kasur. Hari Selasa biasanya adalah hari yang lumayan santai baginya, karena kelasnya baru akan dimulai siang hari. Tapi hari ini berbeda, Leehan memasang alarm untuk membuatnya bangun lebih awal. Setelah mandi, ia mulai membuka kulkas mini yang ada di kamarnya dan mengeluarkan beberapa bahan yang sudah ia beli sehari sebelumnya.

Rencana Leehan adalah memulai dari masakan yang sederhana namun membekas. Karena itu ia menyiapkan sayur mayur serta daging untuk dimasak bibimbab dengan topping beef bulgogi. Resepnya? Tentu saja teman baik kita—tutorial youtube sebuah channel ibu-ibu korea paruh baya yang menamakan kanal youtube-nya dengan nama Maangchi.

Leehan melakukan persiapan dengan mengupas dan memotong bahan-bahan yang perlu dipotong. Untuk bibimbab, yang dibutuhkan hanya merebus beberapa macam sayuran. Sementara beef bulgogi diperlukan daging sapi yang dimarinasi dengan berbagai macam bumbu. Sisanya tinggal membuat saus gochujang untuk bibimbab serta menumis daging dengan sedikit minyak. Tidak lupa sebelum itu semua Leehan sudah menanak nasi di alat penanak nasinya yang mungil namun bisa diandalkan.

Setelah semuanya sudah tidak terlalu panas, Leehan memasukkan semua komponen ke dalam kotak bekal. Tak lupa membungkus alat makan dalam sapu tangan. Itu semua ia masukkan ke dalam tas jinjing kecil yang pas.

Sambil menunggu bus yang akan mengantarkannya ke kawasan tempat tinggal Riwoo, Leehan menyempatkan untuk menghubungi Riwoo.

[Kak, ada sesuatu yang akan kuberikan ke kakak pagi ini di apartemen kakak. Kakak sudah bangun?]

Tak lama, Leehan mendapat balasan dari kekasihnya.

[Ya, aku akan berangkat pukul sembilan. Kita bisa bertemu sebelumnya.]

Leehan sudah hapal tempat ini. Tempat yang baru Riwoo dapatkan dari hasil kerja sampingannya selama beberapa bulan sebelum lulus. Sewanya dibayarkan pertahun. Tempatnya tidak terlalu besar namun cukup untuk diisi satu atau dua orang.

Leehan sampai di depan pintu kemudian ia memencet tombol bel. Tak butuh waktu lama, Riwoo keluar dan menyambutnya dengan rambut yang masih acak-acakan.

“Masuk.” Pintanya. Leehan melepas sepatu dan menggantinya dengan selop dalam ruangan. Sampai di dalam, Leehan duduk di sofa dan melepas tas selempangnya.

“Rasanya kayak udah lama banget aku nggak kesini.”

Riwoo mengisi mug dengan teh dari kulkas lalu menaruhnya di meja samping sofa.

“Maaf ya, kamu pasti datang karena khawatir, kan? Taesan sudah bilang padaku kalau kamu nanya kabarku lewat dia.”

“Jadi kakak sadar?” Leehan tidak berniat untuk berkata setajam itu, tapi kalimat itu keluar tanpa sempat ia rem.

“Iya. Maaf ya, Han. Kita jadi jarang ketemu dan kontakan. Aku bakal lebih prioritasin kamu.”

Leehan menyilangkan tangan di depan dada.

“Sebenernya aku nggak minta diprioritasin. Aku cuma khawatir sama kesehatan kakak, thats all. Aku paham kakak lagi sibuk-sibuknya, kalo masa-masa sibuk udah lewat kakak pasti balik kayak dulu lagi. Tapi aku nggak bisa bayangin kalau sebelum kakak kembali, malah tubuh kakak yang ambruk duluan.”

Riwoo duduk di lantai di depan Leehan. Leehan bisa melihat matanya yang memancarkan penyesalan.

“Aku sayang kakak.”

“Aku juga sayang kamu, Han.”

Leehan membuka lengannya dan membiarkan Riwoo masuk kedalam pelukannya yang hangat. Riwoo mengistirahatkan hati dan pikirannya, dan setidaknya pada saat itu saja ia hanya memikirkan wangi sampo yang Leehan kenakan menguar di dalam hidungnya.

“Makannya, aku putusin buat masakin kakak bekal.”

Leehan menyerahkan tas jinjing itu.

“Sengaja aku taruh situ biar bisa kakak bawa ke tempat kerja. Tapi kalau kakak mau makan itu buat sarapan juga boleh. Tapi inget, makan siang harus real food! Bukan cuma nasi kepal.”

Riwoo mengangguk mengerti.


Hari itu Leehan berakhir bolos kelas, semester ini jadwal bolosnya memang belum ia gunakan. Sementara Riwoo menelpon Taesan untuk agenda uji coba resep cup cakes hari itu digantikan esok harinya. Taesan mengerti, apalagi ketika ia menangkap suara Leehan yang sedang bermain game di belakang suara Riwoo.

[Enjoy your date, boss.] Ucapnya. Riwoo sedikit malu namun tidak bisa membendung rasa senangnya karena akan menghabiskan waktu dengan pacarnya yang baik hati.

Setelah tiga permainan yang dimenangkan Leehan, Riwoo akhirnya menyerah dan mereka memutuskan untuk makan bekal yang Leehan siapkan.

“Wah.. Sayurnya cantik sekali, Han.”

“Makasih kak, aku habisin banyak waktu buat menata selada wortel dan kawan-kawannya itu.”

Riwoo membuka wadah saus gochujang dan menumpahkan isinya ke dalam mangkuk.

“Yuk, makan.” Mereka menikmati waktu dan sesekali bersulang menggunakan gelas berisi soda.


TV menyala dan senja mulai menjelang. Lampu-lampu jalanan sudah mulai berkilauan. Leehan menyalakan beberapa sudut apartemen Riwoo yang temaram. Mereka berdua duduk di atas karpet, menyaksikan matahari perlahan menutup sayap emasnya.

“Kak, aku boleh tanya sesuatu nggak?”

Riwoo menanggapi tanpa mengucapkan satu kata yang jelas. Hanya berupa gumaman kecil.

“Are you in the mood right now?”

Riwoo menoleh ke samping dan menatap Leehan dengan senyuman miring.

“Would you like to guess?”

Kemudian Riwoo mencuri satu ciuman. Dan hanya langit temaram yang tahu apa yang akan terjadi di apartemen Riwoo malam ini.