Actions

Work Header

An Unexpected Visit

Summary:

“Kukira kata-kataku dua hari yang lalu cukup jelas, Tuan Muda. Aku tidak ingin kamu terlalu sering menempuh perjalanan jauh hanya untuk menemuiku."

“Tapi seminggu itu waktu yang terlalu lama untuk menunggu."

Sejak resmi menjalin hubungan dengan Flins, kedatangan Illuga ke Makam Malam Terakhir lebih sering didasari atas alasan personal daripada profesional. Alasan mengantarkan persediaan dan dokumen kerja tak cukup kuat—insting tajam Flins dengan segera bisa mengetahui bahwa Illuga menemuinya lantaran rindu yang teramat.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Sejak resmi menjalin hubungan dengan Flins, kedatangan Illuga ke Makam Malam Terakhir lebih sering didasari atas alasan personal daripada profesional. Alasan mengantarkan persediaan dan dokumen kerja tak cukup kuat—insting tajam Flins dengan segera bisa mengetahui bahwa Illuga menemuinya lantaran rindu yang teramat.

 

Sepertinya sudah menjadi kebiasaan baru Illuga untuk menenggak paling tidak dua gelas air setibanya ia di pemakaman itu. Perjalanan jauh yang kian kerap dilakukan tentunya cukup mengundang dahaga.

 

“Kukira kata-kataku dua hari yang lalu cukup jelas, Tuan Muda,” ujar Flins ringan, sosok tingginya membayangi Illuga dari silaunya matahari. “Aku tidak ingin kamu terlalu sering menempuh perjalanan jauh hanya untuk menemuiku. Betapapun kamu merindukanku."

 

Illuga tak lantas membalas ataupun menyanggah. Gelas air ketiga yang sudah tandas diletakkan ke meja di sisinya. Ekor mata Illuga mengikuti pergerakan Flins yang juga duduk di kursi lain di sampingnya dengan santai. Kegelisahan perlahan melingkupi Illuga, tahu benar bahwa kali ini ia tidak bisa berkelit—tidak setelah ia mengiyakan permintaan Flins dua hari yang lalu.

 

“Habisnya … kamu jarang sekali menampakkan diri di Piramida.” Sembari mengabaikan pipinya yang memanas—barangkali karena cuaca yang menyengat—Illuga meneruskan, “Seminggu itu waktu yang terlalu lama untuk menunggu bertemu denganmu lagi.”

 

Sebagian dari diri Illuga ingin bergelung dan bersembunyi di sudut, jauh dari tatapan Flins yang sulit dijelaskan. Ia merasa dirinya telah melakukan hal konyol yang mungkin dilakukan oleh orang-orang yang baru pernah berpacaran—lagipula Flins memang kekasih pertamanya, baru tiga minggu berlalu sejak Illuga mengungkapkan perasaannya.

 

Mendengar hal itu, air muka Flins berangsur-angsur mengendur. Masih dengan ketenangan yang sama, Flins bangkit dari duduknya. “Ayo, masuk. Cuaca seterik ini kurang baik untuk berjemur.”

 

Illuga menyambut uluran tangan dari Flins, lantas tangan yang sama ganti menggenggamnya dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. “Aku baru saja membeli batu permata yang indah, yang punya kisah menarik juga. Kamu tidak boleh pergi sebelum aku selesai menceritakan kisahnya.”

 

Usai mengenal Flins sekian lama, Illuga mengerti pernyataan barusan bermakna ‘kamu tidak boleh pergi sebelum aku memutuskan kamu istirahat yang cukup di sini’. Alih-alih merasa berat hati, dirinya justru ingin tinggal lebih lama—barangkali menginap juga jika keadaan berpihak padanya.

 

“Kamu belum makan, kan?” yang dibalas dengan anggukan, “Kuharap kamu tidak keberatan dengan menu steik ikan lagi,” dan Illuga berujar bahwa dirinya suka apapun masakan Flins—semua Illuga jawab dan lakukan dengan patuh. Kecuali satu hal; Illuga tak menurut manakala Flins menyuruhnya duduk manis selagi lelaki itu memasak.

 

“Oh? Sepertinya ada seseorang yang tidak mau jauh-jauh dariku.”

 

Sepasang lengan melingkari pinggang Flins, mengerat sewaktu ia mencoba melepaskan diri. Gelak tawa Flins mengalun, getaran halusnya merambati pipi Illuga yang menempel di punggungnya. Sesungguhnya jarak bukanlah halangan utama bagi mereka, tapi kehadiran Flins yang tak berjarak seperti ini menenteramkan hati Illuga, seakan seluruh rasa rindunya telah terbayar lunas.

 

“Kapan lagi aku bisa memelukmu sesuka hati seperti ini? Kita tidak bisa melakukannya saat ada orang lain,” gumam Illuga, menekan nada manja dari keluhan kecilnya. “Apalagi Ayah juga belum tahu soal hubungan kita.”

 

“Tuan Muda Illuga yang terkasih,”—isi perut Illuga berjumpalitan, masih belum terbiasa dipanggil demikian—“aku paham bahwa kamu ingin menikmati kebersamaan yang singkat ini, tapi ditempeli ketat seperti ini hanya akan menghambatku saat memasak. Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu duduk manis sementara aku siapkan makan siang kita. Makin cepat selesai, makin banyak sisa waktu yang kita habiskan bersama.”

 

Tanpa melayangkan protes, Illuga melakukan apa yang disuruh Flins—dengan sedikit digelayuti berat hati tentunya. Lagipula tidak ada larangan dari pacarnya untuk menunggu di meja makan sembari memandanginya. Pisau dalam genggaman Flins bergerak gesit, memotong ikan dengan kelihaian luar biasa. Tak mengherankan, Flins hampir tak pernah bosan meski sering sekali memasak makanan favoritnya.

 

Jentikan jari di depan mata menyentakkan Illuga, benaknya seketika buyar. Entah sejak kapan masakan Flins sudah tersaji di meja makan. Aroma lezat yang menggugah selera seketika menyapa, menuai gemuruh hebat dari perut Illuga.

 

“Aku tidak tahu kalau sudah selapar itu,” Illuga bergumam, sedikit malu.

 

“Selesai tepat waktu kalau begitu,” komentar Flins sedikit geli. “Mari makan.”

 

Tepat seperti yang Illuga tebak, seluruh cita rasa meledak di mulutnya. Rasa gurih, manis, dan asin berpadu dengan lembutnya daging ikan salmon segar. Illuga memotong daging lagi dan melahapnya, hampir-hampir terkesan buru-buru.

 

Flins tak mampu lagi menahan tawa gelinya. “Pelan-pelan saja. Tidak ada yang berniat mengambil makanan di piring—” Kalimat Flins terputus ketika potongan ikan disodorkan ke depan mulutnya.

 

“Kamu pun belum mulai makan juga, Flins. Ayo, buka mulutmu. Aaaah ….”

 

Agaknya Flins tidak begitu terbiasa disuapi, tapi kali ini lelaki itu melahap apa yang ada di ujung garpu Illuga tanpa membantah.

 

Untuk beberapa saat selanjutnya hanya ada suara denting pisau dan garpu beradu. Sesekali gumaman senang tanda menikmati hidangan Illuga loloskan. Pemuda itu tidak keberatan dibuatkan menu ini selamanya, dan sebagai tanda terima kasih, ia bersikeras untuk mencuci piring dan peralatan lainnya.

 

Lima belas menit kemudian, Illuga sudah bergabung dengan Flins di sofa. Rasa lelah dan kenyang melebur menjadi rasa kantuk yang lambat laun sulit dibendung, mata setengah terpejam mengamati Flins yang tengah memeriksa dokumen Lightkeeper. Illuga tiba-tiba teringat akan sesuatu yang ia lewatkan tatkala menyadari itu dokumen yang ia bawa saat terakhir kali berkunjung, tetapi kepalanya yang sudah terlampau nyaman bersandar di bahu Flins sulit diajak kerjasama.

 

“Apa laporannya belum selesai?”

 

“Aku sudah menyelesaikannya sebelum kamu datang ke sini.” Flins membalik halaman dokumen. Sebelah tangannya mengusak puncak kepala Illuga. “Sepertinya ada beberapa tempat yang harus kuperiksa saat patroli nanti malam. Aku khawatir ada Perburuan Liar bersembunyi di sana.”

 

Ah … patroli. Bintang keberuntungannya meredup sehingga tak ada kesempatan menginap baginya. Tapi barangkali ia bisa tidur sejenak untuk saat ini?

 

“Tidurlah, Tuan Muda. Aku akan membangunkanmu nanti sebelum senja.”

 

Sayup-sayup Illuga mendengar Flins berkata demikian. Ia setengah berharap bisa tidur (secara harfiah) bersama Flins, tapi tampaknya kekasihnya itu sedikit sibuk. Tak butuh waktu lama hingga tubuhnya merosot di luar kehendaknya, perlahan berbaring di permukaan empuk yang luar biasa nyaman. Kali ini tidak ada perlawanan, kedua kelopak mata sepenuhnya terpejam, jatuh ke alam mimpi.

 

Jika boleh jujur, itu adalah tidur terbaik yang Illuga rasakan dalam beberapa minggu terakhir. Posisinya sebagai kapten tidak lantas membuatnya bisa membebankan tugas pada anggotanya dengan sewenang-wenang—justru ia bekerja keras untuk membuktikan bahwa posisi yang ia peroleh adalah hasil usahanya, bukan semata-mata karena hubungannya dengan Starshyna Nikita (yang tidak lain adalah ayah angkatnya). Dan setelah sekian lama waktu tidurnya tersita oleh kesibukan yang menggunung, Illuga akhirnya bisa merasakan tidur nyenyak tanpa gangguan. Barangkali rasa lelah yang menumpuk memaksa tubuh Illuga untuk terlelap. Mungkin perut kenyang yang membuat jiwanya puas. Bisa jadi kehadiran Flins yang membuatnya rileks sehingga Illuga bisa menurunkan kewaspadaan yang senantiasa tinggi selama patroli. Mimpinya begitu damai sampai-sampai kecupan lembut di kening dari Flins bisa turut dirasakannya dari sana.

 

Pada suatu ketika, Illuga terbangun sesaat, masih dengan keadaan mengantuk. Ia menyadari kehadiran Flins yang terbaring di sisinya, tengah tertidur lelap pula. Tangannya memeluk Illuga yang ditariknya lebih rapat agar spasi sempit pada sofa itu cukup untuk ditempati keduanya.

 

Tubuh Flins seakan memancarkan kehangatan. Illuga begitu nyaman dalam pelukannya hingga ingin terus menerus bergelung selamanya di sana, aman dari marabahaya mana pun yang mengancam.

 

Menjelang senja, Illuga terbangun dengan keadaan segar bugar. Matanya mengerjap-ngerjap, sesaat lupa dirinya tengah berada di mana. Tatkala pandangannya jatuh pada figur Flins di sofa di depannya, Illuga menarik napas lega, teringat alasannya berada di sini.

 

“Aku baru saja akan membangunkanmu,” ujar Flins sambil menyorongkan cangkir pada Illuga. “Tidurmu nyenyak?”

 

Tangan Illuga menyingkap selimut—yang pastinya Flins sampirkan tanpa ia sadari—lantas meregangkan tubuh. “Mm-hmm. Sudah lama aku tidak tidur senyenyak tadi.” Illuga menghirup aroma tehnya dan menyesapnya perlahan. Rupanya teh peppermint yang ia bawakan di antara persediaan hari ini.

 

“Aku tebak terakhir kali begitu berbulan-bulan yang lalu.”

 

“Tidak juga, paling hanya satu atau satu setengah bu—”

 

Mendadak Illuga menghentikan ucapannya. Tepian cangkir yang nyaris mencapai bibirnya membeku di udara.

 

“Satu setengah bulan. Aku tidak salah dengar, kan?”

 

Dalam hati, Illuga merutuki mulutnya yang kelepasan bicara. Flins berkali-kali mengingatkannya agar tidak bekerja hingga kelelahan dan jangan terlalu sering begadang berkutat dengan laporan. Bahkan intensitas omelannya melesat setelah mereka berpacaran sebab rasa khawatir yang turut meningkat.

 

Kendati demikian, Illuga tahu dirinya akan melakukan hal serupa jika Flins yang terus bekerja tanpa henti.

 

“Aku memang seringkali memaksakan diri, tapi untuk ke depannya jadwalku tidak sepadat itu kok,” Illuga menjelaskan dengan cepat. Ia mencurahkan nada penuh keyakinan yang tidak dibuat-buat, berharap Flins mempercayainya. “Sungguh! Aku sudah membagi tugas dengan anggotaku. Tidak ada beban kerja berlebihan lagi setelah ini.”

 

Bibir Flins yang terkatup rapat segera membentuk senyum tipis. Di matanya Illuga yang panik seperti barusan tampak menggemaskan. “Baiklah, jika itu yang kamu katakan.” 

 

“Aku tidak bercanda …. Aku serius!”

 

“Kamu kira aku menganggapmu tidak serius?”

 

“Aku—” Illuga kehilangan kata-kata dan memutuskan untuk tidak melanjutkan.

 

Flins melayangkan pandang sekilas ke jam dinding. “Aku ingin menemanimu lebih lama kalau bisa, tapi sayangnya aku harus memulai patroli lebih awal.”

 

“Sekarang?” Pertanyaan Illuga dibalas dengan anggukan singkat. “Oh, kalau begitu aku juga sebaiknya kembali.”

 

“Sayang sekali aku belum sempat menunjukkan batu permata baruku.” Nada penuh penyesalan Flins terdengar sungguh-sungguh.

 

“Tidak apa-apa. Aku bersedia mendengarkannya lain kali.” Senyum Illuga mengembang, tak sabar menanti kunjungan berikutnya ke kediaman Flins.

 

Usai berkemas singkat, Illuga melangkah keluar bersama Flins yang bermaksud mengantarnya ke depan gerbang mercusuar. Namun, langkahnya berhenti di depan ambang pintu.

 

“Ada sesuatu yang tertinggal?” tanya Flins.

 

Yang lebih muda hanya menggeleng. Sesuatu dalam dirinya membuncah, begitu meluap seperti gelembung pecah di permukaan air mendidih. Illuga merasa dirinya lebih berani dari biasanya, maka ia biarkan sisi dirinya yang itu mengambil alih.

 

Detik berikutnya, Flins sedikit terbelalak, tidak menyangka Illuga akan merengkuhnya. Seakan kerinduannya kembali tumbuh bahkan sebelum mereka berpisah. Maka Flins balas memeluknya dengan erat, dagunya disandarkan lembut di pucuk kepala berkelir keabuan itu.

 

“Hati-hati, Flins. Jangan ragu untuk memanggil regu bantuan saat kamu tidak bisa mengatasinya sendiri.”

 

“Kamu tidak perlu khawatir, Tuan Muda. Aku sudah terbiasa dengan hal ini.”

 

“Illuga.”

 

“Hmm?”

 

“Panggil aku Illuga. Seingatku kamu hanya pernah memanggil namaku sesekali.” Ada jeda sesaat yang menyelinap, seakan Illuga tengah menimbang-nimbang haruskah ia mengutarakannya. “ … atau … panggil aku ‘Sayang’ saja, kalau tidak keberatan.”

 

Pelukan mereka terlepas. Illuga bisa melihat raut muka Flins melunak, senyumnya perlahan merekah, lembut bagaikan kelopak bunga mekar. Illuga tak akan pernah lupa raut yang barusan juga pernah Flins tunjukkan manakala lelaki yang lebih tua itu menerima pernyataan cintanya.

 

“Sayang ….”

 

Illuga menggigit bibir bawahnya, mengupayakan seluruh kendali agar kedua sudut bibirnya tidak sontak terangkat.

 

Sayangnya, Flins sudah tentu menangkap reaksi Illuga barusan. Maka, lelaki itu melanjutkan, “Illuga Sayangku …,” dengan lirihan halus yang menyamai bisikan angin.

 

Dalam sekejap, rona merah padam mewarnai wajah Illuga, merambat hingga ke telinganya. Jika bisa lebih tersipu lagi, niscaya rona wajahnya tampak serupa dengan warna anting yang dikenakannya jika disandingkan.

 

“Wajahmu merah sekali, Sayang.”

 

“Cu-cukup panggil ‘Sayang’-nya.”

 

Illuga mengalihkan pandangan ke arah lain. Jantungnya masih berdegup kencang. Reaksi yang wajar mengingat mereka masih saling memanggil dengan embel-embel ‘tuan’ saat ada orang lain di sekitar mereka. Jarang sekali ada kesempatan untuk menggunakan panggilan sayang yang hanya dikeluarkan kala mereka tengah berdua—dan Illuga masih saja belum terbiasa dipanggil demikian.

 

“Baiklah, baiklah.” Tampaknya Flins sedang dalam suasana baik hari ini. Lihat saja, lelaki itu mudah sekali tertawa seperti barusan. “Ada permintaan lain?”

 

Semburat warna emas senja menyapu cakrawala, dengan indahnya terpantul oleh mata kuning Flins. Sepotong figur dirinya terselip di ujung bawah, begitu jernih dengan ganjilnya. Seperti itukah sosok dirinya yang dilihat oleh Flins? Dan apakah Flins juga menangkap rupa sempurnanya yang dilihat Illuga yang terpantul di netra ungu-merah miliknya?

 

Sentuhan lembut di pipi menarik jiwa Illuga yang tenggelam dalam kilau manik mata Flins. Lengannya masih mengalungi bahu lelaki yang lebih jangkung, permukaan jubah terasa kokoh di bawah kulitnya.

 

Sisa-sisa keberanian Illuga masih berkobar bagaikan api. Seraya menelan keraguan yang menghampiri, Illuga mencondongkan tubuhnya mendekat. Bibirnya bertemu dengan milik Flins.

 

Mula-mula hanya bibir yang saling bersentuhan lembut, begitu hangat, tak ada pergerakan selain bulu mata yang bergetar halus ketika keduanya memejamkan mata. Merasakan kecupan nan polos yang memberikan sensasi melayang. Keadaan itu bertahan hanya beberapa sekon sebelum salah satu dari mereka bergerak lebih jauh.

 

Flins yang lebih dulu mengambil inisiatif dengan menggerakkan bibirnya. Posisi bibir yang selaras membuat belah bibir Illuga turut membuka celah kecil, dan tahu-tahu lidah Flins melesak masuk tanpa permisi. Lidah menyapu geligi, panas dan basah selagi meluncur dalam rongga mulut, menyapa lidah Illuga yang sedari tadi terdiam. Napas Illuga tersendat. Samar-samar ia mengecap sisa-sisa rasa teh peppermint yang tertinggal di mulut Flins.

 

Kembang api seolah meledak dalam diri Illuga. Telapak tangan Illuga merayap di tengkuk Flins, membiarkan helaian rambut panjangnya berjatuhan dan tersangkut di antara jemarinya. Sementara itu, dekapan Flins di pinggangnya juga mengerat, menghapus seluruh jarak hingga tiada yang tersisa.

 

Denyut jantungnya berpacu cepat, degupnya begitu kuat hingga Illuga takut rungu Flins mampu menangkapnya. Tenggorokannya tercekat, sesekali erangan dan desahan kecil yang gagal ia redam lolos di antara decak lidah dan kecup bibir yang kian intens. Flins pun tak luput dari sensasi memabukkan, tiap kecupan menuai desahan yang dikeluarkannya tanpa malu-malu. Segala hal di dunia ini seakan tidak lagi penting bagi dua insan yang dimabuk kepayang itu.

 

Illuga-lah yang lebih dulu melepas tautan sebelum kehabisan napas. Bibir Flins mengejar, tapi Illuga telah menarik diri, masih terengah-engah seakan paru-parunya kehabisan udara.

 

Flins mengerling sekilas pada sesuatu di belakang Illuga. “Apakah kamu seharusnya membawakanku dokumen juga, Tuan Muda?”

 

Sesuatu mengemuka dari ceruk benak Illuga—hal yang nyaris ia ingat ketika melihat Flins memeriksa dokumen lama. Dokumen baru yang harusnya ia bawa … tertinggal di Piramida. Berhubung Starshyna sendiri yang menekankan bahwa dokumen yang itu cukup penting, sepertinya Illuga harus segera kembali mengambilnya.

 

“Maaf, aku lupa. Besok kubawakan ….”

 

“Tidak perlu. Ada yang baru saja membawakannya.”

 

Detik itu Illuga baru paham mengapa pandangan Flins tak lepas dari sesuatu—seseorang?—di belakang dirinya. Hati Illuga mencelus, dirinya seakan-akan baru saja tersambar oleh petir. Jika orang itu sudah berdiri cukup lama di sana, maka pemandangan Illuga berciuman mesra dengan Flins mustahil terlewatkan.

 

Dengan penuh keraguan, Illuga menoleh ke balik bahunya. Seketika tikaman rasa bersalah menghunjam dadanya, jantungnya serasa jatuh ke tanah. Perutnya melilit seakan baru saja dituangi lelehan logam panas.

 

Tidak mungkin ….

 

Berdiri terpaku di gerbang mercusuar, Nikita menatap mereka berdua dengan pandangan yang sukar diartikan. Di sekitar kakinya berserakan dokumen penting Lightkeeper yang terlupakan.

 

Fin.

Notes:

HUAAAA tadinya mau bikin pendek aja. Jadi illuflins diem-diem jadian, lagi ciuman terus keciduk sama bapak nikita, udah end. Taunya pas nulis malah kepanjangan intro dan ciumannya jadi rada jauh di bawah wkwkw anyway thank you for reading <3