Work Text:
Bahkan kediaman Hibari Kyouya terasa terlalu besar bagi seseorang seperti Gokudera Hayato.
Dia tidak pernah benar-benar terbiasa dengan ruang luas dan lengang — dengan jarak antar satu dan yang lain, memberikan ruang bagi kesunyian untuk menetap.
Bertahun-tahun pemuda itu tinggal di apartemen sempit sehingga merasa lebih akrab dengan dinding tipis bercat pudar, perabot rumah tangga yang saling berhimpit sehingga mempersempit udara, serta suara samar yang tidak sepenuhnya menghilang di tengah malam.
Dalam kehidupannya, sejak ia melakukan pelarian di masa kecil, kesunyian justru menjadi bentuk keterbatasan yang jarang untuk dimiliki.
Tetapi ada yang berubah. Tepat setelah menjalin hubungan dengan Hibari Kyouya, penjaga awan dari generasi kesepuluh — ketua komite kedisiplinan diktator itu. Dalam ‘ikatan’ yang lebih serius, Gokudera merasa kesunyian menjadi satu hal yang ditemui dengan mudah.
Membiasakan diri dalam kesunyian, membiarkan ruang lengang itu membungkusnya setiap kali mengunjungi kediaman Hibari.
Satu tahun, hubungan antara badai dan awan mulai terjalin. Pemuda yang lebih tua menjadi yang pertama mengulurkan tangan, membuka perasaan dengan cara yang datar dan dingin. Gokudera terkekeh saat mengingat kembali momen mereka yang begitu kacau, seperti situasi komedi romansa dalam drama pendek Italia tahun lama yang pernah diputar oleh Shamal di klinik bobroknya.
Iris hijau itu terang seperti batu giok saat tertimpa cahaya hangat di penghujung tahun. Malam ini akan ada perayaan penyambutan tahun baru, kuil akan ramai dengan orang-orang yang memanjatkan doa dan harapan.
Tentu Hibari akan berada di sana, setidaknya hingga tengah malam. Pemuda itu masih memiliki obsesi yang sama mengenai menjaga ketertiban Namimori dan menggigit para serangga yang mengganggu.
Salju masih turun di luar sana. Titik-titik putih memenuhi angkasa, jatuh pada dedauan yang kehilangan warna hijau dari musim panas. Kerikil di jalan setapak menuju taman kediaman Hibari tertutup lapisan tipis. Begitu pula dengan kolam dangkal yang telah membeku; ikan-ikan yang dipelihara telah berpindah ke akuarium ruang tengah — lebih hangat untuk menunggu musim dingin berlalu.
Rumah itu sendiri seperti Hibari dalam pandangan Gokudera. Dia tidak pandai untuk mendeskripsikan alasan, namun cukup di dalam kepalanya untuk menyetujui pandangan itu sendiri.
Mata Gokudera menyusuri sudut-sudut rumah yang ia lewati. Tidak banyak yang berubah di sana, Hibari mempertahankan semua dengan perhatian penuh.
Lantai kayu membentang bersih tanpa karpet, memantulkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar berbingkai kayu. Hangatnya jatuh perlahan, tidak menyilaukan, tersaring oleh tanaman-tanaman kecil yang tertata rapi di taman.
Uri selalu menyukai berjemur di sana, lebih daripada ketika ia dilepaskan di apartemen sempit Gokudera. Kucing badai itu melompat, berbaring di bawah sinar matahari, dan bermain dengan Hibird atau Roll di taman. Bahkan dia selalu bereaksi saat Gokudera pergi — seperti memaksa untuk dikeluarkan di sana.
“Apakah aku harus membeli rumah seperti ini suatu hari nanti?” Gokudera berbicara pada udara kosong saat melewati ruang tengah.
Bukan berarti Gokudera kesulitan dalam pindah ke tempat yang lebih layak. Tsuna dan penjaga yang lain, bahkan arcobaleno seperti Fon, telah memaksanya meninggalkan apartemen sempit dan bobrok yang ditinggalinya hingga saat ini.
Tetapi Gokudera menolak dengan senyum yang konyol. Dia tidak berpikir menyukai tempat yang tenang sebanyak menyukai apartemen sempitnya. Justru merasa tercekik dengan tempat-tempat yang tenang, berkejaran dengan mimpi buruk dan trauma masa lalunya.
Mata itu menatap langit-langit yang dihiasi lampu berbentuk kotak, jenis lampu yang telah ada sejak zaman tradisional — menurut Gokudera.
Lampu itu bukan sesuatu yang mewah. Pada ingatan masa kecilnya, kastil Sisilia milik keluarga Gokudera beberapa kali lebih besar. Langit-langit tinggi dengan banyak lampu gantung dan lukisan yang memiliki kesan kejam — berguna untuk menghukum para calon suksesor mereka.
Patung-patung serta ornamen seolah hidup, menghujani Gokudera dengan tatapan penghinaan dan merendahkan.
Kebesaran yang mewah terus menekan, berhenti pada titik kebenaran kelahirannya terungkap. Dia kemudian sadar dan berbalik, melarikan diri untuk bertahan hidup di jalan kumuh yang sempit sebagai gelandangan.
Hingga Vongola Nono menemukannya. Mengirimnya untuk menguji Sawada Tsunayoshi, mengubah kehidupan anak laki-laki malang itu dalam satu malam.
“Apa yang kupikirkan,” ucapnya menertawakan diri saat mengingat kembali kehidupannya.
Kemudian Gokudera mengalihkan pandangan dari lampu tersebut.
Rumah Hibari berbeda dengan kastil itu.
Dengan dua kantong belanja di tangannya, Gokudera melewati ruang tengah dan ruangan lain menuju dapur yang terletak di belakang — dekat dengan jalan singkat menuju gunung Namimori.
Tidak ada seorang pun di kediaman Hibari hari ini. Gokudera telah berbicara pada Kusakabe mengenai kedatangannya. Menjelaskan secara singkat untuk memastikan pemuda berambut pompadour itu mengistirahatkan para pengurus rumah dan mengambil waktu libur.
Dia mengetahui jelas keraguan dalam panggilan telepon dengan orang kepercayaan Hibari, namun Gokudera mengabaikannya dan berbicara dengan tenang, “Aku tidak akan meracuni Kyouya atau membiarkannya menggigitmu sampai mati. Silahkan nikmati hari liburmu, Kusakabe-san.”
Lalu panggilan itu diputus sepihak oleh Gokudera.
Dapur menyambut Gokudera dengan suasana yang dingin, tidak jauh berbeda dari ruangan lain di kediaman Hibari. Dia meletakkan kantung belanja di atas meja, membuka satu per satu isinya dengan gerakan teratur.
Daging cincang, sayuran, beras, dan dua botol sake dalam kotak tidak terlihat begitu mewah — cukup sederhana untuk dipandang. Gokudera telah memilih semua bahan yang dibutuhkan dengan bantuan instruksi nyonya Sawada Nana dan pedagang tua yang ramah di pasar.
Ia ingin memasak sesuatu yang disukai oleh Hibari. Sajian sederhana terlintas di kepala pemuda itu saat melewati restoran keluarga di persimpangan kantor cabang Vongola.
Anak laki-laki memakan hamburg steik dengan lahap bersama ibunya.
Kyouya tidak pernah menjadi orang yang menyukai makanan bergaya barat atau makanan Mediterania. Lidah pemuda itu memenangkan makanan sederhana dengan sentuhan Jepang yang kental, atau mungkin beberapa fushion yang bisa ditolerir.
Lagi pula, Gokudera sadar bahwa Kyouya memakan hamburg steik lebih sering dibandingkan jenis makanan jepang yang disusun rapi seperti sashimi. Dia berpikir bahwa kekasihnya terkadang memiliki selera anak kecil.
Menyimpan kekehannya ketika jam dinding di dapur telah menunjuk pukul tiga sore, Gokudera kemudian mulai fokus pada hal yang akan dilakukan.
Helaian rambutnya yang mulai melewati tulang selangka itu dikuncir rendah ke belakang, menyisakan beberapa anak rambut di sekitar wajah. Dia memanjangkan rambut setelah ‘terikat dalam hubungan’ dengan Hibari, tepat saat mengetahui bagaimana pemuda yang lebih tua selalu menyelipkan jari-jarinya di sana — membelai dengan lembut.
Gokudera merasa seperti anak perempuan menengah pertama ketika merasa tersipu dengan fakta itu. Dia sepertinya sudah gila, sebelum menggelengkan kepala.
Bahunya naik sedikit saat menarik napas dalam-dalam, jemarinya meraih laci dapur untuk mengeluarkan peralatan yang dibutuhkan. Pemuda itu tahu bahwa gerakannya di dapur saat memasak lebih kaku daripada saat mencoba merangkai dinamit dengan formula baru atau menembakkan anak panah.
Hibari selalu mengatakan hal yang sama, “Aku tidak tahu, apakah kamu sedang bersiap untuk perang atau memasak.”
Kata-kata yang diucapkan oleh kekasihnya dengan nada mencibir, tetapi dia berada di belakang punggung Gokudera. Mata tajam itu selalu mengawasinya saat yang lebih muda memasak.
Dapur yang hening perlahan dipenuhi suara. Ketukan pisau pada talenan terdengar teratur. Gokudera bersenandung pelan tanpa sadar, nada yang familiar — lagu kebangsaan sekolah Namimori.
Ia merasa konyol. Ketika berada di masa menengah pertama dia tidak menyukai lagu mengerikan itu berputar dan terdengar. Namun, kini ia justru bersenandung dengannya, terkadang mengajari Hibird yang buta nada untuk menyanyi lebih baik.
Tangannya bergerak lebih cepat daripada pikirannya — memotong, menyusun, dan memindahkan.
Gokudera memang tidak secakap Haru atau Kyoko dalam memasak. Itu diketahuinya. Tetapi setidaknya, Gokudera lebih baik dari para penjaga generasi sepuluh lainnya.
Ingatan itu melintas singkat, disertai tawa bodoh penjaga hujan dan pujian yang terdengar lebih seperti sindiran. Gokudera mendengus pelan. Yamamoto selalu bicara tanpa menyadari bekas yang ditinggalkannya.
Dan tetap saja, yang terlintas setelah itu bukan Tsuna — melainkan punggung Hibari yang membelakanginya malam sebelumnya.
Pisau di tangannya melambat.
Gokudera mengingat pujian buruk itu, “kamu lebih berbakat untuk memasak daripada mengingat semua janji di luar pekerjaan atau mempertahankan waktu kosong untuk diri sendiri. Sayang sekali, Dera.”
Kalimat itu seperti sindiran.
Ini adalah alasan lain mengapa Gokudera berada di kediaman Hibari. Benar-benar alasan utama dirinya pergi untuk memasak makanan dan memulangkan para pengurus rumah dan Kusakabe Tetsuya.
Bayangan malam sebelumnya berputar — kamar hotel yang dingin, cahaya lampu kota masuk dari balik tirai tipis, dan punggung Hibari Kyouya yang membelakanginya.
Mereka tidak bertengkar setelah mengantar Fon dan Mammon atau ketika kembali ke hotel pada pukul tiga pagi, setelah menerima laporan misi yang diberikan kedua penjaga kabut generasi kesepuluh.
Hibari dan Gokudera terlarut dalam pikiran mereka pada waktu-waktu sebelum mencapai kamar.
Awan itu tidak memeluknya setelah menutup pintu. Tidak ada suara yang berbicara dengan nada mencibir mengenai bagaimana buruknya manajemen waktu dan penempatan prioritas Gokudera.
Tidak juga berbicara mengenai Gokudera yang melupakan bahwa mereka seharusnya tidak bekerja di hari itu dan menghabiskan waktu bersama setelah terpisah selama dua bulan penuh.
“Kyouya, ak -”
Bagaimana tatapan Kyouya hari itu sungguh menyakitkan. Hati Gokudera mencelos mendapati titik kecewa di antara iris keabuan milik Hibari. Segera, pemuda yang lebih tua meninggalkan Gokudera tanpa berbicara.
Hibari tidak kembali setelah menutup pintu, membiarkan Gokudera yang menunduk dengan perasaan bersalah untuk menahan perasaan ingin menangis.
Gokudera tidak pernah menyukai perlakuan yang dingin. Ia lebih baik mendapatkan kemarahan atau pukulan kasar. Setidaknya beranggapan bahwa Hibari yang menggigitnya sampai mati akan dipilihnya, bukan sebuah punggung yang dingin dan tidak dapat disentuh.
Napas yang terhela berat kembali terdengar.
Hubungan mereka berjalan satu tahun dan tidak pernah keluar dari lapisan es yang sangat tipis dan rapuh.
Dia selalu tahu, bahkan mereka berdua tahu dengan benar.
Bukan hanya Gokudera Hayato yang merela memberikan jiwa dan raganya sebagai pengabdian kepada Tsunayoshi, tetapi Hibari Kyouya dan keterikatan pada kota Namimori — separuh dari kehidupan milik Hibari yang berharga.
Mereka adalah pasangan yang buruk.
Pertemuan dalam satu tahun dapat hitung oleh jari Gokudera. Lebih sedikit dibandingkan waktu yang dihabiskan oleh Fon — paman jauh Hibari dan terkadang menjadi mentor Gokudera, untuk menggoda Mammon yang berada di kastil Varia.
Arcobaleno itu benar ketika berbicara di dalam mobil.
Mereka hanya bertemu dalam waktu yang sebentar. Waktu terlama adalah satu pekan. Mencurahkan perasaan rindu yang sulit untuk dideskripsikan meskipun membuncah di dada, Gokudera menyadari dia benar-benar jatuh pada Hibari saat itu.
Namun, mereka selalu berhenti pada titik yang sama. Bahkan tidak benar-benar bersama ketika menerima panggilan mendadak pada ponsel. Baik Hibari dengan ekspresi merendah ataupun Gokudera yang tersenyum masam, mereka selalu memilih berpisah untuk kembali pada dunia yang menjadi pusat sebelumnya.
Waktu-waktu keduanya tergerus menjadi lapisan es yang semakin tipis. Sulit untuk mempertahankan diri dan tidak memecahkannya.
Pisau Gokudera berhenti sejenak, dia kembali tertawa — kini dengan suara yang lebih parau.
“Che, merda,” gumam pelan untuk merendahkan diri.
Dia merasa kecil dan tidak pantas berada dalam hubungan seperti ini.
Mengupas, memotong, dan menyiapkan bahan makanan. Setiap gerakan yang dilakukan Gokudera seperti penebusan kecil atas mengingkari janji malam itu — tidak cukup untuk menghapus seluruh kekecewaan Hibari, menurutnya.
Pemuda itu tahu bahwa kekasihnya bukan orang dengan hati yang lapang. Lancang untuk berpikir sajian hamburg steik akan menjadi permintaan maaf yang baik dan diakui oleh Hibari.
Dia juga tak berharap Hibari akan langsung memaafkannya. Hanya saja, Gokudera berharap Hibari mau duduk bersebelahan dengannya, kembali menatapnya tanpa ada titik kecewa, tidak lagi meninggalkan Gokudera sendiri dengan punggung yang dingin.
Pisau dalam genggam tangan Gokudera kembali tercengkram erat. Ia mulai bergerak memotong bahan-bahan lain untuk supnya.
Pikiran pemuda itu hampir kosong atas perasaan hati yang terus mengganjal. Kepala Gokudera berdenyut ringan, sepertinya ia akan terserang flu karena udara malam hari yang lalu.
Pemuda itu meringis saat denging mengganggu pendengaran, sakit kepala benar-benar hal yang merepotkan. Pisau berhenti terlalu dekat dengan tangan ketika ia tidak sadar, menggores tajam hingga pandangan matanya beralih menunduk.
“ — Che.”
Darah kental merembes melewati garis tipis pada sidik jari di kulit telunjuknya. Gokudera berdecih, buru-buru melepas pegangan pada pisau dan membilas luka di wastafel. Dia tidak ingin merusak rasa dari bahan makanan dengan anyir darah.
Ditatapnya luka goresan yang terlihat dalam itu. Gokudera tidak memikirkannya benar-benar. Lagi pula, penjaga badai Vongola memiliki kecenderungan untuk tidak memikirkan diri sendiri ketika terluka — sehingga membalut luka itu dengan perban yang berantakan.
“Fokuslah, bodoh.”
Dia berbicara dengan nada yang keras.
Pisau kembali berada di genggamannya. Jemarinya masih kaku di balik lilitan perban, tetapi Gokudera memaksa untuk terus bergerak. Dapur masih memiliki keheningan besar meskipun telah diisi dengan suara jam dinding atau pisau yang menyentuh talenan kayu.
Gokudera menata kembali bahan-bahan yang telah selesai dipotong. Menggeser mangkuk besar, membersihkan alat-alat yang tidak lagi digunakan, dan mengelap telapak tangan yang sedikit lembap pada celemek.
Hamburg steik.
Menu kekanakan yang selalu mengingatkan Gokudera pada Hibari.
Dipandangnya adonan daging yang telah tercampur dalam mangkuk besar. Ia mengoleni lagi, lebih pelan kali ini, mencoba mengingat arahan yang diberikan oleh Sawada Nana lewat panggilan ponsel dan kebiasaan dari koki restoran keluarga tempatnya dulu bekerja paruh waktu.
Setiap kali pemuda itu berhenti, ada perasaan ragu yang tertinggal di ujung jari, membuatnya kembali mengaduk seolah kesalahan bisa diperbaiki hanya dengan mengulang.
Yang pertama terlalu lembek.
Ia menekannya dengan tangan, mencoba membentuk bulatan yang stabil, tetapi begitu menyentuh wajan panas, adonan itu melebar dan kehilangan bentuknya. Suara desis minyak terdengar terlalu keras di telinganya. Bau panas yang menyengat membuat alis Gokudera berkerut, napasnya tertahan sesaat.
Dengan sumpit, ia mencoba memisahkan bagian yang menempel di tepi wajan. Gerakannya sedikit terburu, tangan yang berbalut perban bergetar halus saat bersentuhan dengan wajan panas.
Dia menambah satu lagi luka di sana.
Ia menarik wajan itu menjauh dari api, membiarkan adonan yang gagal itu tergeletak begitu saja.
“Ini sulit sekali,” Suara gumamannya tenggelam oleh dengung kecil di telinga.
Gokudera memejamkan mata sejenak, menunduk, dan membiarkan bahunya turun. Ia tahu Hibari tidak pernah meminta kesempurnaan. Namun entah sejak kapan, ia ingin setidaknya satu hal berjalan dengan benar — satu hal yang tidak ia tinggalkan setengah jalan.
Ia membilas wajan, mengeringkannya dengan kain bersih, lalu kembali menatap sisa adonan di mangkuk.
Telapak tangannya menahan bentuknya dengan sabar, seolah adonan itu bisa merasakan niatnya. Ia membuat lekukan kecil di tengah — mengingat kembali saran sederhana yang pernah didengarnya.
Api dinyalakan lebih kecil.
Saat wajan kembali panas, Gokudera menurunkan adonan itu dengan hati-hati. Tidak ada desis berlebihan. Bentuknya bertahan. Ia tidak segera menyentuhnya, hanya berdiri diam, menunggu — membiarkan waktu bekerja, sesuatu yang jarang ia lakukan.
Tangan Gokudera lengket oleh minyak, jari-jarinya berbau seperti bawang dan daging mentah. Wajan panas membuat udara di sekitar terasa berat, setiap asap membuat mata itu memerah dan berair.
Percobaannya telah mencapai lima atau enam, dia sendiri tidak lagi menghitung. lagi pula, keras kepala adalah sifat alami dari badai.
Dia mengulang langkah yang sama dengan setengah marah dan putus asa. Hamburg steik ‘gagal’ yang telah matang dimasukkan ke dalam kotak makanan. Gokudera berpikir untuk membawanya pulang daripada membuangnya. Hibari akan marah karena perilaku membuang-buang makanan adalah sesuatu yang sangat buruk di matanya.
Sesekali ia mengalihkan pandangan pada meja makan yang kosong. Bayangan Hibari duduk di sana, menunggu dalam diam dengan tatapan yang lurus ke arahnya.
Saat akhirnya salah satu adonan terlihat cukup baik — teksturnya padat, permukaan kecokelatan merata, aroma bawang yang manis muncul. Gokudera menarik senyum tipis di wajah, kemudian tangan yang memiliki beberapa bekas luka baru itu bergerak menghapus titik keringat dari dahi.
Hembusan napas panjang terdengar memenuhi dapur. Lembaran uap masih berputar di udara dari wadah tembikar berisi sup miso.
Di luar jendela besar, langit terakhir di bulan Desember merunduk, menyingkap pepohonan yang kehilangan hijau musim panas.
Merapikan dapur membutuhkan waktu lebih lama dari yang ia sadari. Banyak peralatan yang digunakan, begitu pula dengan sampah-sampah yang berserakan di sana. Gokudera membereskan semuanya dengan berhati-hati.
Kepala pemuda itu mulai berdenyut, seperti memperingatkan bahwa badan itu akan mencapai batasnya. Angin di malam sebelumnya masih terasa. Mammon membuka jendela mobil terlalu lama hingga mempengaruhi kondisi fisiknya yang tidak terlalu baik.
Dia meruntuk.
“Aku akan beristirahat setelah ini,” bicaranya pada wadah tembikar berisi kaldu hangat.
Ia tidak tahu pasti apakah Hibari akan pulang tepat waktu, atau pulang sama sekali, tetapi ia tetap menyiapkannya.
Ketika semuanya selesai, jam di dinding telah menunjukkan pukul lima sore.
Gokudera menoleh keluar jendela, melihat lapisan salju yang mulai menebal — kontras dengan langit yang menjadi semakin gelap. Angin menerbangkan sisa-sisa daun yang bertahan pada batang, membawa aroma segar yang bercampur dengan kaldu yang menyeruak memenuhi dapur.
Pemuda itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel. Layarnya menyala, memperlihatkan gambar cincin badai dan awan yang menyala dengan api indah — memberikan perasaan nostalgia yang menggelitik.
Ia mengetik singkat.
aku sudah selesai memasak.
aku menunggumu di rumah, Kyouya.
Pesan terkirim.
Gokudera meletakkan ponsel di atas meja dapur, layar menghadap ke atas, seolah dengan begitu ia bisa menangkap getaran sekecil apa pun. Ia menuangkan segelas air, meminumnya perlahan, lalu bersandar pada kabinet.
Hibird terbang memasuki jendela dapur, menyapa Gokudera dengan bernyanyi — lagu kebangsaan sekolah Namimori. Nada itu masih sama sumbangnya dengan terakhir kali, Hibari adalah guru musik yang buruk untuk peliharaan kecilnya.
“Hayato…Hayato…”
Burung itu cerdas untuk memanggil nama Gokudera.
Kepala bulatnya mencondong ke depan saat menatap tajam pada kekasih dari pemiliknya. Dia mengetuk-etuk meja dan bergantian mengarahkan pandangan menuju toples berisi biskuit.
“Kau, tahu aku gugup malam ini,” kata Gokudera, lebih kepada burung daripada siapa pun.
“Aku ingin semuanya sempurna.”
Hibird menoleh, mengeluarkan nada kecil, hampir seperti tawa, dan mengepakkan sayapnya. Gokudera tersenyum, sedikit lega.
“Oh,” gumam Gokudera lirih.
Dia teringat dengan Uri. Kucing badainya menyukai berada di kediaman Hibari.
Pemuda itu lalu mencari kotaknya yang tersimpan pada salah satu kantung belanja. Percikan api merah menguar dari jari Gokudera, menerangi sisi dapur dengan warna menyala yang cantik.
Hibird mengepak sayapnya lebih bersemangat, seperti mendapatkan hiburan yang luar biasa. Suara geram terdengar samar saat percikan cahaya kembali datang, Uri melompat keluar dengan ekor yang berayun.
Kucing badai mendarat dalam pelukan Gokudera, menjilat dagu dan pipi pemiliknya secara terburu-buru. Meskipun hubungannya dengan Gokudera tidak terlihat sangat akur — mereka saling menyayangi.
Uri tahu benar bahwa pemiliknya tidak dalam keadaan baik. Dengan tangan-tangan kecil itu, dia mengarahkan bantalan lembut pada tempat-tempat yang lembap karena jilatan.
Kucing itu mengeong, mencoba mengusir perasaan sunyi yang mengisi hati Gokudera.
“Hentikan Uri, aku tidak apa-apa.”
Wajah kucing itu seperti memiliki ketidakpecayaan atas ucapan yang keluar. Dia adalah hewan yang sangat pintar, lebih pintar daripada Natsu bahkan Bester yang besar — dia tahu kapan pemiliknya berbohong.
Ikatan mereka lebih kuat daripada yang terlihat.
Gokudera meraih tengkuk Uri, mengusapnya pelan sebelum memeluk kucing badai dengan lembut.
“Percayalah, aku baik-baik saja. Sekarang kamu bisa bermain dengan Hibird hingga Kyouya pulang. Aku akan membuatkanmu ikan makarel asap setelah kita sampai di rumah.”
Uri mendengus. Tawaran Gokudera tidak lebih dari sesuatu yang murah. Dia bisa saja menolak dan menenggelamkan cakar di wajah berekspresi sayu itu — seperti yang dulu selalu dilakukan Uri saat Gokudera remaja. Namun kulit pucat Gokudera dan matanya yang memiliki sinar redup membuat Uri tidak mengurungkan niat.
Pemiliknya menyedihkan.
Kucing itu melompat dari pelukan Gokudera, berlari menuju jendela yang terhubung dengan jalan setapak menuju taman. Hibird terbang mengikuti Uri dengan suara nyanyian sumbang — mengabaikan kucing badai yang terus mengeong marah dan terganggu.
Suara hewan-hewan itu menggema ringan, memecah keheningan rumah untuk sesaat.
Gokudera mengamati sambil bersandar pada kabinet dapur. Bahunya terasa berat. Kepalanya berdenyut lebih kuat sekarang, panas menjalar dari tengkuk ke pelipis. Menyalakan api untuk mengeluarkan Uri tampak membebani tubuhnya yang kurang sehat.
Ia mengusap dahi dengan punggung tangan, menyadari kulitnya terasa lebih hangat dari seharusnya.
Pukul enam sore.
Udara dingin menyelinap dari jendela-jendela besar yang tidak tertutup sepenuhnya. Lantai kayu di bawah kaki Gokudera terasa dingin. Ia baru mengingat bahwa kediaman Hibari menggunakan pemanas tradisional yang harus dinyalakan — ruang khusus berada di sisi selatan dekat gudang.
Para pengurus rumah telah mendapatkan libur sesuai dengan permintaan Gokudera di pagi hari. Mereka tentu melewatkan, atau mungkin lupa untuk menyalakan penghangat karena hal tersebut.
Rumah itu benar-benar dingin.
Gokudera menarik lututnya sedikit, menahan gemetar yang mulai terasa di lengan. Ia kembali melirik ponsel di atas meja. Tubuh itu terhuyung dan hampir kehilangan keseimbangan saat mencoba berdiri.
Kemudian kembali merosot, pemuda itu menelan sedikit kecewa karena tidak ada tanda bahwa Hibari telah membaca pesannya. Hela napas Gokudera terasa panas, dia menepis pikiran buruk yang melintas di kepalanya.
Mungkin Kyouya belum sempat melihat ponselnya.
Mungkin Kyouya meninggalkan ponselnya di ruangan sebelum berpatroli
Mungkin Kyouya sedang sibuk menggigit para serangga yang mengganggu ketertiban sampai mati.
Mungkin Kyouya tidak ingin menemuinya.
Gokudera menepis kemungkinan terakhir, dia menunduk lebih dalam. Tubuhnya bersandar pada kabinet. Di belakangnya, sup masih hangat di panci, hamburg steik tertutup rapi di piring.
Pukul tujuh malam.
Uri dan Hibird bergerak menuju Gokudera dengan suara yang memenuhi ruangan. Kedua hewan kecil itu kembali dalam pelukan Gokudera dengan tubuh yang lebih dingin. Sepertinya menikmati waktu bermain salju di taman.
Uri menyentuh lutut Gokudera dan mengeong. Pandangan kucing itu memiliki kekhawatiran dengan pemiliknya yang terlihat semakin pucat. Dia menggeram, Hibari Kyouya adalah pengecualian yang bisa ditolerir dan Uri nyaman berada di dekat pemuda berambut gelap itu.
Namun, mendapati Gokudera terus berpikiran buruk tentang diri sendiri dan menunggu Hibari dalam keadaan seperti sekarang membuat Uri berpikir akan mencakar wajah sombong Hibari setelah dia datang.
Hibird berhenti berkicau. Burung itu menjatuhkan diri pada bahu Gokudera — menyusup di antara ceruk leher yang hangat. Mata bulatnya berkedip, tubuh pemuda berambut perak itu menjadi lebih panas dari sebelumnya.
“Bagaimana salju di sana? Apakah kalian menyukainya?”
Suara Gokudera parau saat bertanya. Masing-masing tangan itu meraih Uri dan Hibird, membelai mereka penuh kasih sayang.
Pemuda itu terkekeh ketika kedua hewan itu membalas dengan kicauan dan dengkuran serentak. Pandangan Gokudera mulai mengabur, tetapi ia mencoba untuk tetap sadar.
Ia tidak ingin tertidur dan kehilangan waktu untuk menyambut kedatangan Hibari.
“Bagaimana jika kalian mendengarkanku bernyanyi?”
Dia bertanya lagi.
Gokudera mencoba mengalihkan perhatian Uri dan Hibird dengan bersenandung. Lagu lama mengenai natal yang pernah didengar satu kali dari Lavina ketika dia masih anak-anak.
Suara itu melantun indah meskipun serak. Gokudera menutup mata dan terus bernyanyi. Jemarinya yang memiliki luka baru tidak berhenti mengelus Uri dan Hibird.
Nyanyian yang seharusnya hangat dan penuh dengan rapalan doa di malam Natal itu justru menjadi sesuatu yang terdengar menyedihkan. Rasanya Gokudera ingin menangis.
Pukul delapan malam.
Keheningan kembali menjadi teman di sisi Gokudera. Sesekali terdengar suara salju yang jatuh di atas atap, atau angin yang menabrak tirai tipis di kediaman Hibari.
Hibird telah terbang meninggalkan dapur, pergi bermain di langit malam untuk menyambut pergantian tahun.
Atau mungkin untuk mencari keberadaan tuannya yang tidak kunjung pulang.
Mata bulat burung kecil itu berkedip beberapa kali sebelum bergerak di ceruk leher Gokudera.
“Pergilah. Uri ada di sini bersamaku,” ucap Gokudera.
Dia tertawa kecil. Entah sejak kapan Gokudera merasa dapat membaca maksud dari burung peliharaan Hibari itu.
Iris hijaunya hampir pudar karena kelelahan. Uri tertidur dipangkuannya dengan nyaman sehingga Gokudera tidak memilih untuk bergerak dan mengganggu waktu istirahat kucing badai itu.
Pukul sembilan malam.
Waktu berjalan tanpa suara. Menurutnya bahkan tidak bergerak karena terasa begitu lambat. Gokudera mulai merasa denyut di kepalanya menjadi semakin parah.
Dia ingin menangis.
Perasaan dingin menelusup ke dalam dada Gokudera bersama dengan hembusan angin. Bahu pemuda itu bergetar, kilas balik mengenai punggung Hibari yang meninggalkannya di kamar hotel atau tatapan kecewa dari iris kelabu itu berulang seperti kaset lama yang rusak.
Titik air jatuh dari pelupuk yang tidak dapat ditahan oleh Gokudera. Hiruk pikuk keramaian menjadi samar dari luar rumah. Festival pergantian tahun sepertinya sudah dimulai.
Ketika orang-orang berbahagia dan berbagi kehangatan dengan yang mereka kasihi. Entah berada di jalanan yang ramai mendekati kuil atau menikmati sajian di rumah mereka. Gokudera meringkuk dalam kesendirian, menunggu di atas lantai yang dingin. Dia terus berharap bahwa Hibari segera datang dan memanggilnya, meskipun dengan suara yang datar atau tatapan merendah pemuda itu.
“Kyouya…”
Kelopak mata yang sayu menutupi iris hijau pudar pada akhirnya. Ia menutup mata, menarik napas pendek saat terisak. Tangan Gokudera mengelus Uri yang tertidur dengan nyaman, menyembunyikan wajah dengan jejak air mata di antara helaian rambut perak yang berantakan.
Perlahan terlelap bersama dengan kehangatan makanan yang menghilang.
Pukul sepuluh malam.
Hibari Kyouya membuka pintu dengan langkah tenang. Jaket hitam yang tersampir di bahu tertutupi salju tipis. Rumah menyambutnya dengan keheningan yang sama di setiap waktu.
Tetapi, dingin hari ini tidak biasa. Pengurus rumah seharusnya telah menyalakan penghangat setelah pukul empat sore.
Ia berhenti sejenak di genkan, melepas sepatu dan meletakkannya di rak. Di sana pandangan itu turun, sepasang sepatu familiar berada di sisi sebelah kanan.
Sepatu boots milik Hayatonya.
Hibari mengerutkan dahi tipis. Tangannya bergerak merogoh saku celana naik, menarik ponsel keluar dari sana. Layar itu menyala, memperlihatkan pesan yang telah dikirimkan sejak beberapa jam yang lalu.
aku sudah selesai memasak.
aku menunggumu di rumah, Kyouya.
Pesan itu sudah terkirim sejak pukul lima.
Pantas saja.
Ucapan Kusakabe pada siang hari kembali terlintas — nada canggung yang selalu hati-hati selalu terdengar dari orang kepercayaan Hibari itu saat membicarakan sesuatu mengenai Gokudera.
Pemuda dengan gaya rambut pompadour itu mengatakan pada Hibari untuk pulang lebih awal hari ini. Hibari menghela napas pendek, nyaris tak terdengar, lalu melangkah lebih dalam ke rumah.
Lampu-lampu tidak menyala, jendela bahkan belum tertutup sempurna. Hibari mulai berpikir bahwa Gokudera mungkin tertidur di kamarnya atau pergi tanpa mengenakan sepatu karena menunggu terlalu lama.
Tetapi pikiran itu menguap bersama dengan lampu yang menyala dari dapur.
Meja makan telah disiapkan dengan rapi. Dua set alat makan diletakkan berdampingan, ditutupi dengan baik sehingga menyisakan setitik kehangatan di sana.
Botol sake dan dua cawan kecil pada sisi lain.
Hibari tahu bahwa Gokudera lebih menyukai anggur daripada sake. Sering kali mereka berselisih saat hendak memilih alkohol, tetapi Gokudera banyak mengalah untuknya. Ekspresi pemuda berambut perak itu lucu saat menyesap sake.
Pandangan Hibari turun.
Pemuda itu mendapati Gokudera tertidur dalam posisi yang tidak nyaman, bersandar pada kabinet — dengan lantai dingin sebagai alasnya.
Di pangkuannya, Uri menggulung tubuh. Kucing badai bergerak tidak nyaman atas pandangan Hibari padanya.
Hewan bermata merah menyala terbangun, mendesis pelan di pangkuan Gokudera. Bulu-bulunya berdiri, menatap tajam dan tidak ramah. Seolah kucing itu tengah melemparkan kemarahan pada kekasih pemiliknya.
Hibari mengabaikan Uri yang tidak bergerak.
Langkahnya berhenti di depan Gokudera. Ia berjongkok tanpa suara, satu lutut menyentuh lantai kayu yang dingin.
Mata Hibari masih menatap helaian rambut perak Gokudera yang berantakan, mencuat keluar dari kuncirnya yang rendah. Kemejanya kusut di beberapa bagian dan memiliki cipratan minyak tidak beraturan.
Kemudian ia beralih pada jari-jari Gokudera yang terbuka di atas tubuh Uri. Ada perban kecil yang berantakan — membalut luka sembarangan. Begitu pula bekas luka bakar lain, sepertinya Gokudera berusaha keras untuk memasak hari ini.
Hibari menyingkirkan Uri yang terus mendesis. Dia tidak biasa berlaku kasar, namun tindakan tidak bersahabat Uri mengganggunya. Gokudera pasti marah jika tahu bahwa Hibari memegang tengkuk Uri dengan kasar, melempar kucing badai itu keluar dari jendela dapur tanpa aba-aba.
Uri bahkan tidak sempat bereaksi. Hibari menepuk tangannya pada kain celana tanpa menoleh pada jendela tersebut. Suara jatuh pada salju cukup menandakan hewan itu mendarat dengan baik.
Ekspresi Hibari tertahan sejenak saat menyentuh jari dan wajah Gokudera. Rahangnya mengeras, mirip ketika Hibari merasa terganggu akan sesuatu. Jari-jari Gokudera begitu dingin — seperti dia telah menghabiskan waktu untuk bermain salju.
Tetapi, wajah dan leher pemuda itu panas — hampir mendidih.
Alis Hibari berkerut tipis. Sejak semalam ia telah memperhatikan bahwa kekasihnya tidak dalam kondisi sehat. Angin dingin karena jendela mobil yang terbuka, kurangnya waktu tidur, dan sekarang — dia menunggu hingga tertidur.
Seberapa jauh Gokudera hendak membuatnya khawatir.
Ia menarik napas pendek, lalu menempatkan satu tangan di bawah bahu Gokudera, satu lagi menyokong lututnya. Dengan gerakan hati-hati Hibari mengangkat kekasihnya dari lantai yang dingin.
Alis Hibari kembali berkerut, wajahnya berekspresi heran. Tubuh Gokudera terasa ringan dari terakhir kali. Jelas bahwa dia kehilangan banyak massa tubuh karena kesibukan departemen tempesta.
Hibari harus mengajukan cuti yang panjang untuk Gokudera setelah ini. Atau dia akan benar-benar menggigit Sawada Tsunayoshi dan semua orang di Vongola.
Saat Hibari bergerak, Gokudera mengerang pelan. Kepalanya terjatuh ke dada, dahi yang panas menekan kemeja katun Hibari yang dingin. Tubuh itu bergetar, sepertinya Gokudera bermimpi buruk.
“Hayato, bangunlah.”
Dengan berbisik Hibari berbicara pada Gokudera.
Ia mendudukkan diri di hadapan makanan yang telah tersaji dan dingin. Tangan itu meraih dahi Gokudera, memijat pelan untuk membangunkan kekasihnya.
Pemuda berambut perak itu mengerutkan dahi dalam tidur, perlahan terbangun dengan kepala yang masih berdenyut sakit. Gokudera bergeser, mengerang kecil.
Matanya terbuka perlahan, fokus yang buram karena cahaya mendadak memenuhi pupil membuatnya kebingungan. Ia akhirnya menemukan sosok yang telah dinantikannya selama beberapa jam terakhir.
Kekasihnya, Hibari Kyouya.
“…Kyouya? okaerinasai.”
Suaranya parau saat berbicara, memastikan bahwa pemuda di depannya adalah awannya.
Hibari mengangguk untuk sapaan selamat datang Gokudera, “tadaima Hayato.”
“Sudah berapa lama kamu datang? Maaf aku tidak bisa menyambutmu dengan benar. Aku tidak tahu kapan mulai tertidur.”
Gokudera mencoba menjelaskan dengan suara parau. Tenggorokan pemuda itu kering dan terasa tidak nyaman.
Hibari tidak menjawab. Dia menenggelamkan kepala pada ceruk leher Gokudera yang hangat, menghirup dalam-dalam aroma mint bercampur dengan rempah terbakar dari sana.
“Kamu demam,” ujar Hibari datar. Tangannya melingkar di antara pinggang Gokudera — memeluk dengan erat seolah pemuda berambut perak itu akan menghilang ketika ia mengendurkannya.
Gokudera tertawa lemah. Dia meraih leher Hibari, menatap lurus pada mata tajam kekasihnya. Ada sedikit rasa lega pada Gokudera yang tersenyum samar, tidak menemukan titik kecewa pada tatapan Hibari.
“Lantainya memang dingin Kyouya. Aku lupa memberitahu Kusakabe-san untuk menyalakan pemanas lantai sebelum para pengurus rumah pergi. Beruntunglah aku tertidur dan tidak membakar rumahmu untuk menghangatkan diri.”
Gokudera tidak tahu bagaimana suaranya dapat keluar seperti rancauan ketika kali pertama mabuk di hadapan dua botol sake.
Hibari tidak menanggapi Gokudera yang bersuara parau. Tatapannya beralih pada jari Gokudera yang terbalut perban, kemudian pada sepasang mata yang memiliki jejak memerah — pemuda itu jelas menangis.
“Kamu terluka.”
“Hanya sedikit,” jawab Gokudera cepat.
Pemuda itu bersandar dengan nyaman pada Hibari, “kamu pasti tahu bahwa memotong bawang adalah sesuatu yang sulit, ‘kan?”
Dia kembali berbicara untuk melanjutkan ucapan — sebelum Hibari mendahuluinya.
Yang lebih tua lalu menghela napas. Hampir tidak terdengar, namun Gokudera tahu — dia berpikir bahwa Hibari tidak menyukai bagaimana kecerobohannya.
Memandangi wajah Gokudera, mengikuti jejak air mata yang tersisa hingga bagian kantung yang memerah. Kelelahan itu tidak tertutup sepenuhnya, mata badai yang terbiasa bersinar terang kini menjadi sayu dan redup.
“Seharusnya kamu tidak perlu menungguku dan pergi tidur. Lihat, bahkan kamu menangis.”
Gokudera menunduk.
Sebelum ia kembali dengan alasan mengapa menangis kepada Hibari, tubuh itu menegang. Hibari memindahkannya ke kursi sebelah dengan hati-hati.
“Kyouya!”
Melakukan gerakan yang tenang, secara telaten ia meluruskan kaki Gokudera yang telah lama tertekuk saat menunggu. Hibari ingin membuat posisi Gokudera lebih nyaman karena sepertinya malam mereka akan panjang.
Iris Gokudera bergetar saat Hibari berhenti menatapnya dan berbalik. Secara tidak sadar jari-jarinya meraih ujung celana pemuda yang telah berdiri membelakanginya — lagi.
Putaran balik pada malam itu datang kembali, mengundang kepala Gokudera untuk berdenyut lebih keras — dia mengerang pelan.
Hibari memutar tubuh dan menatap Gokudera dengan ekspresi sedikit heran. Sikap Gokudera terlampau aneh di matanya saat ini.
“Kumohon…”
Suara Gokudera menggantung, terdengar bergetar.
“Ada apa Hayato?”
Memaksakan diri untuk mengadahkan pandangan. Sepasang iris hijau yang berkaca-kaca kini menatap Hibari dengan kecemasan. Gokudera menggigit bibirnya dengan keras, berusaha untuk berbicara pada Hibari.
“Aku — aku, maksudku, aku akan memanaskan makanannya. Tunggu saja di sini. Uri sepertinya sedang bermain dengan Hibird, dia akan kembali untuk menemanimu sementara aku memanaskan ma -”
“Tidak perlu Hayato.”
Gokudera tidak tahu bagaimana menyusun kata dengan baik, mulai mengatakan semua secara acak dan dipotong oleh Hibari sebelum menyelesaikannya dengan benar.
Dia menunduk lagi, pegangan pada celan Hibari terlepas.
“Ah — kamu sudah makan, ya?”
Ada nada kecewa terselip pada pertanyaan Gokudera. Dia menjadi lebih sensitif. Dadanya sesak memikirkan bahwa Hibari menolak sesuatu yang sepele ini. Gokudera ingin tertawa bukan menangis.
Dia ingin pergi dari dapur.
Keluar dari kediaman Hibari sekarang juga. Dia ingin melakukannya.
Seluruh tubuhnya lelah, dadanya sakit, kepalanya berdenyut seperti meminta untuk dilepaskan.
“Aku akan bersiap-siap untuk pulang. Makanannya bisa kamu tinggalkan di sini saja. Selamat beristirahat, Kyouya.”
Suara Gokudera menjadi semakin parau saat berbicara. Dia menahan untuk tidak menangis lagi. Setidaknya di depan Hibari.
Hibari menghela napas.
Penjaga awan itu kembali duduk di samping badainya yang bersedih. Tangan Hibari terentang, merangkul tubuh Gokudera yang dingin — membawa kepala pemuda itu untuk bersandar padanya.
Mata Gokudera tertutup, menikmati aroma hinoki yang menguar dari tubuh Hibari.
Akhirnya Gokudera menangis.
“Ada keributan di kuil Namimori. Herbivora katak bodoh itu berbuata kekacauan dengan mengeluarkan sihir ilusi.”
Hibari berbicara dengan suara yang datar, memberikan nada ketidaksukaan dengan peristiwa yang terjadi pada malam pergantian tahun. Kekasihnya tidak memberikan tanggapan, hanya terdengar isakan di sana.
“Dia benar-benar harus digigit sampai mati karena mengganggu ketertiban dan melakukan kejahatan penipuan berskala besar di Namimori. Jadi aku mengejarnya.”
Suara Hibari semakin rendah saat menjelaskan. Dia mendaratkan beberapa kecupan pada helaian rambut Gokudera, menyisirnya pelan dengan jari — kebiasaan yang selalu dilakukan sejak mereka bersama.
Gokudera menunduk lebih dalam, menggelamkan wajahnya di dada Hibari. Air mata mengalir lebih deras. Semua rasa frustrasi, lelah, dan bersalah yang menumpuk dalam dada Gokudera tumpah.
“Aku — Aku bodoh. Aku mengacaukan semuanya. Aku semua, Kyouya — aku…”
Bibirnya terbuka dan merancau. Gokudera hampir tidak bisa berbicara dengan benar.
Dia mulai menumpahkan kegundahan pada Hibari, bersembunyi dan mencengkram erat kemeja Hibari.
Kesedihan pada malam Hibari meninggalkannya di hotel tanpa berbicara, rasa sakit yang menjalar di jarinya karena tergores pisau ketika memasak, perasaan tidak nyaman ketika berpikir mengenai kekasihnya yang tidak puas dengan masakannya, pesan-pesan yang diabaikan, serta perasaan dingin yang menyelimuti Gokudera selama menunggu Hibari di dalam rumah besar itu.
Semua ia keluarkan dengan suara yang parau. Sesekali Gokudera terisak, terkadang berteriak ketika mengeluh. Dia mengumpat pada Hibari, berbicara dan menyalahkan — sebelum meminta maaf kembali dan berkata bahwa dirinya yang patut disalahkan dan bukan Hibari.
“Aku bodoh, Kyouya.” suara Gokudera untuk terakhir — nyaris tersendat.
Jari-jari yang mencengkram kemeja kekasihnya kemudian ditarik. Gokudera menggunakannya untuk menutupi wajah. Tidak ingin dilihat oleh Hibari— wajahnya pasti buruk karena menangis.
“Hari ini tidak ada yang berjalan dengan baik. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku terluka dan kesulitan untuk memasak hamburg steik sialan itu. Kamu tidak menjawab pesanku. Hari ini sangat dingin dan rumahmu benar-benar sepi. Kepalaku berdenyut. Semuanya buruk!”
Napas Gokudera terputus saat berbicara lebih banyak. Dia tersedu, masih menutupi wajah karena tatapan Hibari yang lurus padanya.
“Dan kamu meninggalkanku di hotel hari itu. Aku menunggumu hingga pagi, kupikir kamu akan kembali, Kyouya.”
Pemuda berambut perak berhenti berbicara dengan suara yang lebih pelan, menyisakan isak tangis untuk mengisi kekosongan di antara mereka.
Hibari membisu. Pikiran awan itu berkecamuk.
“Hayato, tatap aku.” Suaranya masih datar ketika berbicara.
Ia meraih Gokudera, menarik tangan yang menutupi wajah kekasihnya itu turun. Kulitnya yang panas menyebar pada jari-jari lembap karena air mata yang ditahan agar tidak terjatuh lebih banyak.
Hibari menghela napas, “Aku berbohong jika tidak kecewa padamu malam itu.
Hati Gokudera mencelos mendengar Hibari. Dia berusaha untuk tidak menangis lebih banyak, menahan suara hingga bahunya bergetar. Pemuda itu menatap pada Hibari dengan mata berkaca-kaca.
Jari-jari Hibari berpindah ke tangan Gokudera yang terluka. Ia menekannya perlahan, mengecek perban berantakan, sebelum menelusuri luka yang diciptakan kekasihnya selama memasak untuknya.
Telapak tangan Hibari itu kasar, dia telah memegang tonfa untuk waktu yang lama. Tetapi, menurut Gokudera, gesekan telapak tangan itu lembut — hampir seperti keajaiban yang mungkin menenangkan rasa sakit dari luka-lukanya.
“Tapi, aku bukan orang yang berlarut dengan kekecewaan. Itu sudah berlalu. Aku bahkan pernah melakukan hal yang lebih buruk padamu Hayato.”
Gokudera mengangguk, tidak tahu apa yang sedang dilakukan dirinya. Napasnya menjadi lebih ringan, hati pemuda itu seperti melepaskan beban yang berat saat mendengar ucapan Hibari.
Menunduk lebih dalam dan membiarkan dirinya bersandar pada bahu Hibari, Gokudera lalu tertawa kecil — semua menjadi lucu dan menggelitik. Meskipun dia sendiri masih menangis.
Hibari mengulas senyum tipis. Tangan yang bertaut dengan Gokudera kemudian berpindah, membawa sang badai untuk kembali naik ke pangkuan kekasihnya.
Gokudera menunduk untuk menatap wajah Hibari yang berada beberapa senti di bawahnya. Tangan itu menangkup Hibari, mengelus pelan sebelum mendekatkan diri — memeluk kekasihnya dengan hangat.
“Maafkan aku Kyouya,” bisiknya lagi
Hibari mengadah, jarinya beralih mengusap air mata yang mengalir di pipi Gokudera, kemudian pelipis, menelusuri wajah yang panas hingga bibirnya dengan lembut. Memperlakukan Gokudera seperti guci rapuh yang akan pecah jika diperlakukan dengan setitik kekasaran.
“Kamu sudah makan malam?”
Pertanyaan itu mengambang, mengabaikan permintaan maaf Gokudera. Dia mengerjap, melirik ke arah sajian makan malam di atas meja. Ada dua porsi yang telah diabaikan, dingin karena terlalu lama menunggu untuk disentuh.
Hibari mengikuti arah pandang kekasihnya dengan alis yang terangkat.
“Aku berencana untuk menunggumu dan makan bersama.”
Penjelasannya terdengar mengecil ketika mencapai akhir kalimat. Gokudera tahu bahwa Hibari menatapnya tajam. Awan yang adalah kekasihnya adalah seorang yang disiplin terkait jam makan — terlebih karena Gokudera sendiri sering lalai akan kebutuhannya itu.
Badai Vongola mencoba mengalihkan perhatian Hibari dengan menggeliat, beruaha untuk turun dari pangkuan kekasihnya dan meraih nampan berisi sajian makan malam itu.
“Aku akan memanaskan makananmu. Maaf, aku tidak bisa memasak hamburg yang baru, aku menghabiskan semua daging hari ini,” gumamnya pelan dan masih menyisakan suara parau.
Denyut di kepala masih tersisa sehingga ia kembali terhuyung, beruntung Hibari tidak melepaskannya. Pinggang itu ditarik hingga terduduk lagi dalam pangkuan yang lebih tua.
“Kyouya!”
“Tidak perlu. Aku bisa memakannya seperti ini Hayato. Kita makan bersama.”
Meskipun terdengar dingin, secara aneh dada Gokudera menghangat karena perkataan Hibari.
Gokudera menelan ludah, menunduk, dan perlahan kembali bersandar ke dada Hibari. “Tapi, aku ingin kamu nyaman. Pasti melelahkan menangani semua keributan di kuil Namimori, ulah Fran, dan…”
Suaranya tercekat.
“Aku ingin kamu makan makanan yang terbaik sebagai permintaan maaf.”
Hibari mendesah ringan, lalu menarik kepala Gokudera lebih dekat. Ia menyatukan dahinya dan kekasihnya, merasakan panas dari pemuda perak — demam itu semakin tinggi.
“Aku bukan anak kecil, Hayato. Aku tahu caramu menunggu. Aku menghargai itu — tapi sekarang, duduk saja. Biarkan aku yang menyelesaikannya.”
Tidak bisa menang.
Jelas Gokudera tahu bahwa ia kalah jika terus menyanggah ucapan Hibari. Perlahan ia mengangguk pasrah. Helaian rambut perak yang mulai memanjang ikut bergerak mengikuti arah kepala.
Jantung Gokudera berdetak lebih cepat. Kesedihan yang menumpuk perlahan berterbangan — seolah tertiup oleh angin terakhir di penghujung tahun. Rasa lega menggelitik perutnya. Gokudera menarik senyum ke arah Hibari yang masih menatapnya.
“Sekarang aku tahu kenapa aku bisa mencintai bajingan sepertimu Kyouya.”
Hibari terkekeh, senyumnya meremehkan ucapan Gokudera.
“Aku akan menggigitmu sampai mati dan tidak pernah melepaskanmu, Hayato.”
Ia kemudian mengangkat tangan Gokudera terlebih dahulu. Kedua telapak tangan dalam genggamnya itu memiliki banyak luka, ibu jarinya menekan ruas-ruas yang terasa dingin. Hibari menunduk, lalu mencium punggung tangan kanan Gokudera, lama, napasnya hangat dan teratur. Setelahnya tangan kiri — memberikan hal yang sama di sana.
Gokudera terdiam. Bahunya mengendur. Ia tidak bisa bergerak dan membiarkan Hibari melakukan semua yang dia inginkan.
Pemuda itu kembali meninggikan pandangan, bergeser lebih dekat. Gigi yang tajam menyentuh kulit leher Gokudera, mengigitnya hingga cukup membuat kekasihnya terkesiap. Menghisap, kemudian memberikan beberapa kecupan — awan itu meninggalkan penanda yang cukup jelas di sana.
Hibari tersenyum puas.
Setelah itu, Hibari mencium pelipisnya. Satu kali. Lalu pipi — di sisi yang masih hangat karena demam. Ciuman berikutnya jatuh pada kelopak mata Gokudera, kiri dan kanan, masing-masing diberi waktu sendiri, seperti memastikan bahwa pandangan lelah itu bisa beristirahat. Hidungnya disentuhkan singkat, napas mereka bertemu.
Terakhir, bibir.
Tidak ada ciuman kasar seperti yang biasa mereka lakukan untuk menyalurkan kerinduan. Pemuda berambut hitam itu hanya menempelkan bibir mereka, membuat kepala Gokudera meleleh — dia bersandar sepenuhnya pada Hibari.
Saat itulah jendela terbuka dengan bunyi ringan.
Suara kecil datang dari arah jendela.
Hibird muncul lebih dulu, melesat masuk dengan kepakan sayap cepat, mendarat di dekat mereka. Hampir bersamaan, Uri menyusul dari arah lain — loncatannya ringan, tapi pendaratannya sangat baik.
Kucing itu berhenti sejenak, menilai situasi dengan mata menyipit, lalu — dengan dengusan kesal — mencakar tangan Hibari yang masih berada terlalu dekat dengan Gokudera.
“Oi,” gumam Hibari datar, menarik tangannya sedikit, tepat saat Hibird mematuk kepala pemiliknya sendiri seperti menyuarakan protes.
Hibari menatap heran kedua hewan kecil yang terlihat seperti pemberontak itu.
Gokudera tersentak kecil sebelum tertawa pelan, suaranya masih terdengar rapuh. Ia meraih Uri lebih dulu, menarik tubuh hangat itu ke pangkuannya. Kucing itu melingkar dengan enggan, tetap melirik Hibari seolah dengan rasa enggan. Hibird menyusul, hinggap di dada Gokudera sebelum naik ke bahunya, berkicau puas seakan kemenangan kecil baru saja diraih.
Hibari mendengus, menerima keadaan dengan napas kasar.
Namun kemudian ia bangkit sebentar, meletakkan Gokudera pada kursi di sebelahnya. Ia melangkah ke sudut ruangan, dan kembali dengan sebuah kotak di tangannya.
“Roll,” katanya singkat.
Api ungu menyala dari cincin Hibari, memindahkan ke dalam kotak hingga ledakan cahaya memenuhi dapur.
Seekor landak kecil keluar, bergerak perlahan dengan hidung yang bergetar karena udara dingin.
Mata Gokudera melembut seketika. Kaki-kaki kecil Roll bergerak ke arahnya. Dia mencicit senang, naik ke pangkuan pemuda berambut perak — mencari kehangatan bersama Uri di sana.
“Herbivora merepotkan,” gumamnya, meski tangannya kembali ke punggung Gokudera, menahan tubuh itu tetap dekat.
Hibari merangkul tubuh Gokudera, membawa kepala kekasihnya untuk bersandar. Sesekali ia mengecup helaian rambut Gokudera, kebiasaan yang terus dilakukan setiap mereka bersama.
Keheningan bertahan sejenak, meninggalkan Uri yang mendengkur saat Gokudera mengusap tengkuknya.
Lalu suara sumpit yang beradu kembali mengisi ruang makan.
Hibari meraih piring, memotong hamburg steik dengan gerakan tenang. Ia mengangkat suapan itu, mengarahkannya ke Gokudera, mata kekasihnya menjadi sayu setelah tangisan panjang dan hari yang terlalu penuh.
Sebelum sumpit itu mencapai bibirnya, Hibari merendahkan tubuhnya sedikit, mencium pelipis Gokudera dengan singkat.
“Buka mulutmu, Hayato,” perintahnya datar.
Gokudera tidak benar-benar membuka mata. Ia hanya mengikuti suara itu, refleks yang lahir dari kepercayaan. Tubuhnya tetap bersandar, kepalanya condong ringan ke bahu Hibari.
Hibari tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mencondongkan tubuh sedikit lebih jauh, memastikan Gokudera tidak bergeser. Satu tangan menahan piring, sumpit bergerak dengan ritme pelan dan pasti — menyisakan jeda yang cukup agar Gokudera bisa menelan tanpa tergesa.
Gokudera menelan, lalu mengangkat pandangan. Matanya masih basah, suaranya masih gemetar di dalam dada, namun senyum tipis tetap muncul.
Ia mencoba menunduk, entah untuk menyembunyikan ekspresi itu atau karena lelah, tetapi tubuhnya sudah terlalu nyaman untuk bergerak.
“Sup,” kata Hibari singkat.
Mangkuk hangat diarahkan ke bibir Gokudera. Nada suaranya tetap datar, tetapi perhatian di baliknya terasa jelas — cukup untuk mengisi ruang kosong yang ia rasakan sepanjang hari.
“Kemampuan memasakmu semakin baik.”
Kalimat itu sederhana, nyaris terdengar seperti fakta biasa. Namun Gokudera tersenyum lebih lebar. Pengakuan itu — dari Hibari — sudah lebih dari cukup.
Ketika piring-piring perlahan kosong dan aroma makanan masih menggantung di udara, Gokudera meraih tangan Hibari. Ia mencium jari-jari itu — kasar, berbekas rutinitas pertarungan yang tak pernah sepenuhnya hilang.
“Kyoya… aku minta maaf,” bisiknya lagi.
Hibari menunduk, menyentuh kepala Gokudera dengan pelan.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Hayato.”
Ia tetap duduk di kursi. Gokudera bersandar sepenuhnya — dipindahkan ke atas pangkuan Hibari dengan hewan-hewan kecil di sana. Satu lengan melingkari tubuh pemuda perak itu dengan aman, sementara tangan yang lain menepuk punggungnya sesekali .
Di luar, kembang api mulai menyalip langit yang gelap.
Pukul dua belas malam.
Dentuman samar dan cahaya berwarna-warni memantul dari jendela dapur yang besar, menembus ruangan yang masih dipenuhi aroma masakan dan sisa kehangatan.
Hibird bertengger tak jauh, Uri melingkar dengan setengah waspada, Roll tertidur di pangkuan Gokudera — semuanya diam, seolah tahu ini bukan waktu untuk berkelahi.
Mereka tidak bicara banyak.
Hanya menatap cahaya yang menari di langit, mendengarkan detak jantung masing-masing, membiarkan waktu bergerak tanpa dikejar.
Hibari menunduk, menempelkan dahinya ke rambut Gokudera sebentar.
Gokudera menutup mata, tersenyum, dan memeluk tubuh Hibari lebih erat.
“Selamat Tahun Baru, Kyouya.”
Suaranya nyaris bergetar.
Hibari tidak menjauh. Ia mencium Gokudera. Ciuman lembut lainnya, hampir ragu, cukup membuat dada Gokudera terasa sesak oleh sesuatu yang hangat.
“Selamat Tahun Baru, Hayato.”
Gokudera tersenyum, tertawa kecil, dan untuk pertama kalinya malam itu — benar-benar tenang. Dia tidak membenci keheningan dan rasa dingin untuk saat ini.
Malam pertama tahun baru yang tidak sempurna.
Dan untuk Gokudera, itu sudah lebih dari cukup.
