Chapter Text
Semua murid kelas XI IPS 1 menghela nafas lega, pasalnya mereka baru saja menyelesaikan penampilan tari untuk penilaian praktik pelajaran Seni Budaya. Membuat lagu, kostum, hingga koreografi untuk penampilan yang berdurasi 4 menit, tentu bukan sesuatu yang mudah yang harus mereka selesaikan dalam kurun waktu 6 bulan. Maka dari itu, mereka senang sekali. Memeluk satu sama lain, memberi kata-kata apresiasi dan terima kasih, serta tidak lupa untuk berfoto bersama, agar dapat mereka pamerkan ke media sosial. Namun, kelegaan dan kesenangan mereka harus berakhir pada hari itu.
Seminggu kemudian–lebih tepatnya pada hari Selasa, suasana kelas XI IPS 1 kembali menjadi tegang. Penjelasan oleh guru Seni Budaya mereka terkait nilai praktik untuk semester ini, membuat mereka sudah terlena dan lupa dengan kesenangan yang berlebihan akibat praktik yang telah dilakukan pada semester lalu.
“Seperti yang sudah saya katakan sejak awal pertemuan, karena semester kemarin kita sudah melakukan tari tradisional untuk nilai praktik. Maka untuk nilai praktik semester ini, kita akan melakukan teater–di mana nantinya kalian akan merancang sebuah penampilan teater, mulai dari membuat naskah, latihan pemeranan, membuat dekorasi sebuah latar di panggung, sampai ke kostumnya,” jelas Bu Tiara–guru Seni Budaya.
Sungguh, semua murid XI IPS 1 merasa hal ini tidak akan mungkin bisa mereka lakukan. Sebabnya, mereka saja sudah merasa kesusahan dengan penilaian praktik semester lalu, malah dibuat tambah susah pada semester ini.
“Oh iya, untuk penampilannya, Saya ingin minimal berdurasi 45–50 menit, dengan toleransi kelebihan durasi sebanyak 5 menit,” tambah penjelasan Bu Tiara.
Sontak semua murid menundukkan kepala mereka, melihat satu sama lain, dan memiliki pikiran yang sama, bahwa ini tidak akan bisa mereka lakukan. Bu Tiara-pun beranjak dari kursinya untuk memberikan penjelasan lebih lanjut. Beliau menerangkan bahwa hal pertama yang harus disiapkan adalah membentuk kepanitiaan. Kepanitiaan dibagi menjadi tiga divisi, intrinsik, ekstrinsik, dan artistik. Di mana, divisi intrinsik meliputi sutradara, penulis naskah, sekretaris, dan bendahara. Divisi ekstrinsik dapat meliputi acara dan dana usaha (jika memang membutuhkan dana tambahan). Serta divisi artistik–divisi inti untuk sebuah teater, yang meliputi pemeran, tata panggung, busana, rias, dan sound system.
“Sekarang, kalian tentukan dulu, siapa yang akan menjadi sutradara dan penulis naskah, selebihnya dapat kalian pikirkan setelah sudah menentukan siapa sutradara dan penulis naskah,” ucap Bu Tiara.
“sebelum itu, adakah di antara kalian yang volunteer ingin menjadi sutradara atau penulis naskah?” tanya Bu Tiara kepada murid XI IPS 1.
Hening.
Mereka saling memberikan kode, saling menunjuk satu sama lain, ya … walaupun hanya dapat mereka lakukan di dalam hati. Sampai akhirnya … keheningan selama 2 menit itu dipecahkan oleh suara Haidar yang dengan penuh keyakinan dan percaya diri ingin menjadi sutradara. Sontak semua sorot mata mengarah ke Haidar. Kelas-pun menjadi ramai–terutama barisan kursi paling belakang yang memang penyumbang suara terberisik, mereka semua menyorakkan Haidar penuh dengan respect. Setelah ditegur oleh Bu Tiara, kelas kembali tenang, dan Bu Tiara kembali menjelaskan terkait persiapan teater serta berpesan kepada Haidar untuk menghubungi beliau jika sudah membentuk kepanitiaan.
[Gempi Gemi]
Sekarang, sudah waktunya untuk pulang sekolah. Banyak murid berlarian agar dapat menjadi yang pertama sampai ke tempat parkir sekolah, sebab semakin ramai, maka semakin lama untuk mengeluarkan motor mereka. Meskipun begitu, terdapat beberapa murid yang masih berada di sekolah, kebanyakan dari mereka adalah mereka-mereka yang mengikuti ekstrakurikuler atau OSIS. Begitu juga dengan kelas XI IPS 1 yang masih berada di sekolah. Mereka ingin melanjutkan pembahasan teater yang sempat tertunda dan sepakat untuk membahasnya hingga minimal 75% kepanitiaan sudah dibentuk.
“Oke guys, langsung ke intinya aja, kita di sini mau ngelanjutin pembahasan teater tadi, tapi sebelumnya gw mau perkenalin lagi, kalo gw Haidar sebagai sutradara di teater ini,” kata pembuka Haidar.
“dan di sini, ada yang udah mau ngajuin diri untuk masuk ke divisi acara sama danus, yaitu Rani dan Putri, gimana menurut kalian?” sambung Haidar.
Semua-pun langsung mengiyakan permintaan mereka berdua, toh mereka ajuin diri ini, pikir mereka. Haidar kembali melanjutkan rapatnya, menanyakan siapa yang ingin menjadi penulis naskah.
“Gw mau jadi penulis naskah, asal yang jadi pemeran utamanya, Gempi sama Milan,” celetuk Aleya sambil mengangkat tangan.
Gempita Semburat Cakrawala–atau biasa dipanggil Gempi, yang sedang sibuk mengabari Ara–teman sejak kecil Gempi meskipun beda satu tahun, masih belum sadar namanya disebut. Jujur saja ia tidak mendengarkan rapat dengan seksama, karena ia sedang chatting atau lebih tepatnya membujuk Ara untuk menunggunya agar mereka bisa pulang bersama.
“Gem … Gem! Gempi!!” Alin yang berada di sebelah Gempi menyenggol lengannya.
Gempi langsung menegakkan kepalanya dan menoleh kanan-kiri dengan bingung, kenapa ia dipanggil.
Alin menggelengkan kepalanya heran, “Itu … lu mau jadi pemeran utama engga?”
“KOK GW YANG JADI PEMERAN UTAMANYA?!” Gempi berkontak mata dengan Haidar meminta penjelasan.
“Lu jadi pemeran utama ya … biar si Aley mau jadi penulis naskahnya,” jawab Haidar sambil menghela nafas.
Gempi menengok ke arah Aleya, tidak terima namanya disebut begitu saja untuk menjadi pemeran utama. Jelas, ia menolak menjadi pemeran utama. Aleya-pun memberikan alasannya mengapa ia menunjuk Gempi menjadi pemeran utama.
“Lucu aja nggak sih … kalo Gempi sama Milan yang jadi pemeran utamanya, gw kepikiran untuk genre teater kita romance-comedy ala anak sekolahan, jadi judul teaternya Gempi Gemi, LUCU NGGAK SIH?” Sambil memberikan pose paham ala Kak Gem di TikTok.
Sekelas-pun tertawa mendengar penjelasan Aleya dan mendukung keputusan Aleya untuk menjadi penulis naskah. Namun, berbeda dengan yang lain, Gempi menunjukkan raut muka tidak setuju. Ia menengok ke arah Gemilang Bintang Jenaka atau akrab disapa Milan–mencari bala bantuan untuk mendukungnya, tetapi melihat wajah Milan yang sedikit senang, membuat Gempi menjadi semakin kesal. Haidar yang tahu akan sulit membujuk Gempi, ia memilih untuk melanjutkan proses pembentukan panitia divisi yang lain. Mereka selesai membentuk panitia (walaupun kurang di pemeran utama) pada pukul 5 sore. Setelah itu, mereka melanjutkan aktivitas masing-masing—ada yang masih tetap berada di sekolah dan ada yang pulang ke rumahnya.
Gempi bergegas turun tangga, sebab ia sudah di-spam chat oleh Ara untuk segera pulang. Sampai di halaman parkir, ia menemukan Ara yang sedang mengobrol dengan petugas keamanan sekolah. Mencibir lebih dulu kepada Gempi yang membuat Ara harus tunggu lebih lama, sebelum akhirnya mereka pulang ke rumah.
[Gempi Gemi]
Di tengah perjalanan, Ara penasaran dengan Gempi yang keluar dari kelas lebih lama daripada biasanya, ia pun bertanya,
“Tumben banget Gem lebih lama keluarnya, ada apaan?”
“Ck … ini weh, gw ada tugas senbud sekelas bikin teater, masa gw jadi pemeran utamanya, gw mana mau!” jawab Gempi dengan nada kesalnya.
“dan panggil gw kakak anjir, gw setahun lebih tua dari lu,” Gempi menggeplak kepala Ara pelan.
Ara mengiris sakit, “Iya, kalo inget.”
“emang siapa lawan main lu?” tanya Ara—penasaran lagi.
“Sama Milan! Kalo diinget-inget lagi gw kesel sama itu orang, main setuju aja jadi pemeran utama,” cibir Gempi.
Ara tertawa, “AHAYYY … lucu amat, Gempi Gemi dong? Siap … paham Kak Gem…” ledek Ara sambil bersiap melajukan motornya setelah melihat lampu kuning di rambu lalu lintas.
Gempi menggeplak Ara lagi dengan kali ini bahu yang menjadi korbannya, “Lu jangan ikut-ikutan deh. Itu udah hijau, fokus ke depan aja.”
Ara kembali tertawa dan senyum ledek Gempi melalui kaca spion motornya. Setelah menghabiskan 15 menit di perjalanan dengan diam (Karena Ara tidak berani meledek Gempi lebih jauh), akhirnya mereka sampai di rumah Gempi. Turun dari motor Gempi menyerahkan helm yang ia pakai kepada Ara.
“Terima aja sih jadi pemeran utama, lu kan pinter akting,” ujar Ara meyakinkan Gempi.
Gempi yang sedang merapikan rambutnya menjawab, “Tapi kenapa harus si Milan anjir, gue nggak mau!!” Gempi menghentakkan kakinya.
Ara yang melihat tingkah dan ucapan Gemi ini ane—bukan, sangat aneh, akhirnya menyadari alasan Gempi yang sebenarnya. “Alah… bilang aja takut baper, profesional dong … pro-fe-si-o-nal, masa sampe harus dieja gitu,” Ara sambil mimik kata ‘profesional’.
“Berisik Ara! Udah sana lu balik dicariin emak lu!” balas Gempi yang sebenarnya ia kelabakan mendengar ucapan Ara. Apa yang diucapkan Ara tadi? Baper? Ya nggak mungkin lah ia juga bisa kali profesional. Ara sekarang meledeknya tanpa henti. Gempi dengan susah payah mengusir Ara agar tidak terus meledeknya, hingga Ara pun akhirnya berhenti dan menjalankan motornya untuk pulang ke rumah. Sementara itu di sisi Gempi, sebelum benar-benar masuk ke dalam rumah, ia mengatur emosi dan pakaiannya lebih dulu yang sedikit berantakan akibat tingkah Ara. Setelah itu, ia pun masuk ke dalam rumah yang langsung disambut oleh sang Ibu.
