Work Text:
----
Suara derit pintu mengusik tidur seorang Uzuki Kei. Menjadi seseorang yang mudah terjaga membuat dia sering terbangun hanya karena hal-hal kecil. Dia membuka mata dan menyesuaikan retinanya di ruangan temaram tersebut, dengan mata setengah terbuka dia mengamati jam di atas meja nakas, pukul 02.12 dini hari. Kei menyadari ruang kosong di tempat tidur mereka, istrinya mungkin sedang pergi ke kamar mandi. Kei mencoba menutup matanya kembali sembari menunggu Rion—istrinya—kembali berbaring di sampingnya.
5 menit.
10 menit.
15 menit sudah berlalu.
Rion, tidak tertidur di kamar mandi ‘kan?
Kei lalu menyingkap selimutnya, dan memutuskan untuk keluar dari kamar mereka. Raut heran muncul di wajahnya saat lampu dapur terlihat menyala, dia melangkah perlahan dan melihat wanita berambut biru itu duduk dengan menelungkupkan kepalanya di meja makan, di depannya terdapat segelas air hangat.
Kei menghampiri Rion, dan mengusap rambut birunya.
“Kenapa tidur disini, hm? Apa kamu lapar? Mau kubuatkan sesuatu?” Kei lalu duduk di kursi kosong di sampingnya, suara serak khas bangun tidur Kei membuat Rion lalu mengangkat kepalanya dan melihat wajah bantal suaminya itu.
“Tidak perlu, Kei.” Rion lalu meminum lagi seteguk air hangat dihadapannya.
“Kalau begitu, ayo kita kembali ke kamar.”
“Aduh, nanti dulu deh. Aku lemas banget.” Kalimat Rion tersebut membuat Kei sedikit banyak merasa khawatir, telapak tangannya lalu ditempelkan di kening istrinya.
“Kamu sakit? Kenapa tidak bilang?” Rion lalu menggeleng dan menyingkirkan dengan perlahan tangan Kei di dahinya. Kei lalu melihat layar ponselnya dan kemudian dia menyadari sesuatu.
“Menjelang menstruasi ya?”
“Lebih tepatnya hari pertama.” Ujar Rion sambil menghela nafas dan punggungnya bersandar pada sandaran kursi. Dahi Kei berkerut mendengar kalimat tersebut.
“Maju 5 hari dari siklus biasanya ya.” Begitu ujarnya, yang membuat Rion gantian mengernyitkan dahi.
“Sepertinya aku tidak perlu lagi aplikasi pengingat menstruasi, suamiku ini lebih mengingatnya dibanding diriku sendiri.” Kei lalu menyisir rambut Rion yang membingkai wajahnya. Jelas saja, segala hal tentang istrinya itu entah kenapa mudah sekali diingat oleh otaknya.
“Apa sakit sekali? Mau ku gendong?”
“Apa sih. Insomnia doang kok ini.” Kei tidak membalas dan tidak berbicara apapun tapi ia menanggapinya dengan tetap memandang wajah Rion yang agak pucat itu, karena ditatap seperti itu membuat wanita berambut biru itu mulai salah tingkah.
“Oke, aku bohong. Ini sakit, makanya aku sampai terbangun. Tadi aku niatnya cari heatpack tapi kok tidak ada.” Mendengar hal tersebut, Kei berinisiatif untuk bangkit dari duduknya dan mulai mencari heatpack di kotak kesehatan milik mereka. Rion menatap punggung suaminya dan terdengar gemerisik kecil tanda bahwa ia fokus mencari sesuatu. Tak membutuhkan waktu lama pria jangkung itu sudah menemukan benda tersebut.
“Kok tadi tidak ada!?” Rion entah kenapa merasa kesal benda itu tidak dapat ditemukan ketika dia yang mencarinya. Kei lalu menepuk-nepuk kecil kepala Rion.
“Ya, ya, ya. Lebih baik kita tidur. Sini ku gendong.” Kei sudah siap jongkok tapi—
“Mau ku toyor?” Rion perlahan bangkit dari duduknya. Sesungguhnya, sekarang tungkainya bukan hanya sekedar lemas tapi persendiannya sangat ngilu, belum lagi perutnya juga sakit. Rion tiba-tiba merasa seperti nenek-nenek.
“Tulangmu bunyi semua, tuh.” Setelah itu hanya terdengar ringisan Kei, karena Rion menyikut pinggang suaminya.
Dikamar temaram itu, mereka sudah kembali bergelung di bawah selimut, mencoba kembali terlelap. Kei selalu memastikan heatpack terpasang dengan benar di perut Rion, terkadang dia mengelus pelan perut Rion dengan harap bisa memberikan kenyamanan bagi istrinya itu.
“Aku tidak menyangka mantan preman sekolahan ini tidak berdaya karena nyeri menstruasi.”
“Kamu beneran mau di toyor ya? Aku masih jago berantem lho.”
“Ampun.” Setelah beberapa detik saling diam, Kei lalu memulai percakapan kembali.
“Tapi dari yang aku baca, dismenore atau kram menstruasi itu akan berkurang setelah menikah. Tapi kok kayanya makin sakit ya? Apa iya harus melahirkan dulu?” Ucapan polos nan datar dari bibir Kei membuat Rion sedikit memerah.
“Hm, oke. Buku apa lagi yang habis kau baca?”
“Aku serius, Rion. Kalau setiap bulan semakin nyeri, kita pergi ke dokter ya.”
Rion hanya bergumam entah mengiyakan atau tidak. Lelaki itu memilih untuk tidak bersuara lagi, tetapi tangannya sibuk mengusap pelan perut Rion.
“Ya tidak perlu sampai diusap terus, Kei.” Rion mengangkat tangan Kei dari perutnya. Sebenarnya, wanita tersebut agak malu.
“Kenapa sih? Kaya tidak pernah ku elus saja.”
“Wah, beneran ngajak berantem ya?”
“Tidak.” Ujung bibir Kei tersenyum otomatis berkat komentar Rion, pria itu menempelkan pipinya ke kepala Rion, walaupun dia berhenti mengelus perut Rion, sekarang tangannya memilih untuk mengelus belakang kepala Rion. Sebelum wanita itu sempat protes dia menyadari bahwa Kei perlahan mencoba terlelap.
Akhir-akhir ini Kei sudah dapat tertidur dengan nyenyak setelah sebelumnya dia memiliki kecenderungan untuk sulit tidur. Sekarang saat Rion yang tidak dapat tidur karena fluktuasi hormon saat menstruasi, Kei pun ada untuk menemaninya. Hal-hal kecil tapi cukup untuk membuat rongga dadanya menghangat. Merasakan sensasi hangat karena heatpack diperutnya, temaram lampu, aromaterapi yang lembut, serta kehadiran sosok berharga di sampingnya ini, perlahan membuat kelopak mata Rion mulai memberat.
‘Duh, kenapa gampang banget deh aku jatuh cinta lagi sama si Uzuki Kei, ini’—Rion.
