Actions

Work Header

Ratusan Tahun Nanti yang Akan Dirayakan

Summary:

“was it lonely Mr. Vampire?”

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Kalo kamu minum darah aku, gimana?”

“Kamu mau aku minum darah kamu?”

Jaeyun mengangguk tanpa Jongseong benar-benar melihatnya—anggukannya dirasakan bagian dada telanjangnya, di mana Jaeyun malas-malasan menumpu dagunya.

Kekasihnya terus mengganggunya, tak peduli dengan kantuk yang bisa kapan saja menariknya ke kegelapan, ke tidur panjang tanpa mimpi, yang biasa dialaminya sejak mengenal bagaimana rasanya bergumul di ranjang dengan Jaeyun. Lelaki itu tak pernah puas dengan satu, dua atau tiga kali orgasme. Jongseong jadi berkaca; mungkin ini yang biasa manusia rasakan saat ia dengan lancang mencecap habis darah mereka dengan mulutnya, bedanya Jaeyun menyerap semua energinya.

Kantung mata yang jadi khasnya sebagai vampir malah membaik karena tidur berhari-hari setelah melayani Jaeyun, yang bukan hal jarang. Entah ini baik atau buruk untuk jati dirinya.

Goresan kuku Jaeyun di bibir atasnya menyadarkannya dari pikiran mengawangnya. Oh. Jongseong belum membalas pertanyaannya. 

Dengan Jaeyun yang memainkan jari di bibirnya dan tanpa permisi menyelinap masuk ke dalam mulutnya untuk mengusap bagian giginya yang paling tajam, tanpa takut jarinya akan terluka, Jongseong tahu betul pemuda itu punya niat lain.

“Kamu cuma mau aku gigitin aja, iya ‘kan?”

Tanpa berdosa, lelaki yang lebih muda tertawa. Jongseong mengintip, membuka satu matanya dan menemukannya merangsek lebih dekat ke pelukannya seakan kurang dekat, seakan tubuh Jongseong kurang telanjang dan ia masih bisa menyingkapnya lebih jauh dan menyembunyikan dirinya yang tak tahu malu.

“Seksi. Mau…” gumamnya, buat Jongseong memutar bola mata. Alih-alih tersentil nafsunya, hatinya malah mekar. Senyum kecil tersungging di bibirnya.

“Tapi, kalo iya, gimana?” tanya Jaeyun belum puas, “‘Kan aku sekarang sama kayak kamu.”

“Vampir minum darah vampir, gimana?” lanjutnya

“Gak tau?” Jongseong memutar otaknya, mengingat darah vampir yang tak tercium, tak menggoda rasa laparnya, “aku gak pernah.”

“Double immortality?”

Keabadian. Dua kali keabadian. Jongseong tanpa sadar mengernyit. Kerumun kalut merayap tiba-tiba di kepalanya, yang mana tak luput dari penglihatan Jaeyun.

Pemuda yang lebih muda setengah bangun, membuat selimut yang memeluk tubuh polosnya melorot, kini hanya menutupi pinggang ke bawahnya. Kedua tangan Jaeyun mengusap kepalanya, menyisir ke belakang seluruh rambutnya, berharap kerut di dahi vampir yang lebih tua hilang.

Satu kecup mesra dirasakan pelipisnya, “was it lonely Mr. Vampire?”

Dengus geli keluar begitu saja dari mulut Jongseong, turut dengan kekehan manis nan merdu dari kekasih di atasnya; sang perebut hati juga nafasnya, yang secara harfiah dan kiasan karena kekasihnya itu sedang menumpu seluruh beratnya di atas tubuhnya. Jongseong membiarkannya, malah melingkarkan lengannya di pinggang pemuda di atasnya.

“It was,” hell, tapi Jongseong memilih melanjutkan dalam hati, tak ingin mata coklat bening yang menatapnya hilang binarnya karena khawatir- ah. Pikirnya, Jaeyun mungkin tahu tanpa Jongseong harus mengejanya.

Tangannya balik menangkup wajah Jaeyun di atasnya—kulit yang kini sama pucat dengannya, sama dinginnya, sama dengannya.

Jongseong tak lagi sendirian. Ia tak perlu berkabung atas ratusan tahun yang telah dilaluinya sendiri—ada ratusan tahun ke depan yang akan dirayakannya bersama Jaeyun.

“But not anymore.” 

 

Notes:

@ ciumyeni on twt!