Actions

Work Header

Those Damn Flowers

Summary:

Keduanya saling tatap dengan ekspresi bingung yang sama.

Kebencian, rivalitas, dan ego mereka mendadak lumpuh oleh intervensi mistis ini.

Lalu, dari sudut ruangan, terdengar suara berat yang memecah keheningan.

“Oh, apakah kalian Soulmate?”

Notes:

Ini spin-off Donghyuck dari Visualize You

 

(Karena walaupun gak direncanakan, kayanya aku bakal sawan kalau gak buat bagian Jendongnya. Sigh, I'm so biased for them it's not funny anymore)

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

 

 

 

Donghyuck Lee tidak percaya pada konsep soulmate.

Koreksi: Dia tahu konsep itu ada. Dia bukan seperti para penganut teori konspirasi bumi datar yang memaksa opini mereka sendiri yang paling benar. Bukti nyata keberadaan sistem soulmate itu bahkan sering meneleponnya dari Paris sambil menangis haru atau tertawa bahagia—ya, Renjun dan kisah cintanya yang ajaib itu.

Tapi bagi Donghyuck pribadi untuk mendapatkannya? Tidak, terima kasih.

Baginya, hidup sudah cukup rumit dengan tagihan kartu kredit, tenggat waktu laporan, dan kemacetan Seoul. Dia tidak butuh tambahan drama berupa orang asing yang ditunjuk semesta untuk menjadi pasangannya. Cinta itu seharusnya dipilih, bukan dipaksakan lewat tato-tato aneh atau mimpi-mimpi absurd.

Dan jika ada daftar orang yang paling tidak mungkin—atau lebih tepatnya, dilarang keras oleh akal sehat Donghyuck—untuk menjadi belahan jiwanya, nama Jeno Lee akan berada di urutan paling atas, dicetak tebal, digarisbawahi tinta merah, dan diberi tanda seru tiga kali.

Jeno Lee.

Pria itu baru bergabung enam bulan lalu di divisi pemasaran. Seorang "pindahan emas" dari kantor cabang luar negeri yang langsung menduduki posisi setara dengan Donghyuck. Posisi yang Donghyuck dapatkan dengan, mengutip lirik lagu favoritnya, blood, sweat, dan tears.

Sementara Jeno? Dia melenggang masuk dengan setelan jas mahal yang licin dan senyum sopan yang menurut Donghyuck palsu setengah mati.

Jeno itu... menyebalkan.

Jika ketenangan adalah mata uang, Jeno adalah inflasi terbesar dalam hidup Donghyuck. Laki-laki itu memiliki bakat alamiah untuk menempati ruang—bukan hanya fisik, tapi juga mental. Suaranya memiliki frekuensi khusus yang entah bagaimana selalu berhasil menyusup di sela-sela pikiran Donghyuck, meretakkan fokus yang sudah dibangun susah payah.

Di ruang rapat yang pendingin udaranya menderu terlalu kencang, Jeno kembali beraksi. Ia duduk di seberang meja, memutar pena di antara jari-jari panjangnya dengan ritme yang menjengkelkan. Setiap kali Donghyuck mengajukan poin, Jeno akan memiringkan kepala sedikit ke kiri—tanda bahaya universal—lalu menyisipkan komentar sarkastik yang dibungkus rapi dalam format “masukan konstruktif”.

“Data itu valid,” ujar Donghyuck datar, matanya terpaku pada layar proyeksi, enggan bersitatap.

“Valid untuk tahun lalu, mungkin,” sambar Jeno, bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang penuh kemenangan. “Tapi kita sedang membicarakan kuartal depan, Donghyuck. Cobalah untuk tidak hidup di masa lalu.”

Donghyuck menghela napas, suara udara yang lolos dari hidungnya terdengar kasar. Jam dinding berdetak lambat, seolah mengejek kesabarannya yang menipis setipis kertas tisu. Rapat itu sudah berjalan dua puluh menit lebih lama dari jadwal, dan oksigen di ruangan itu rasanya sudah habis dihirup oleh kesombongan Jeno.

Ketika manajer divisi akhirnya menutup agenda, Donghyuck sudah siap melarikan diri. Ia menumpuk berkas dengan gerakan mekanis yang kaku, berharap bisa keluar tanpa perlu berinteraksi lagi. Namun, semesta—atau mungkin karma buruk dari kehidupan sebelumnya—punya rencana lain.

Ia melihat Jeno berjalan mendekat ke arahnya. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membuat Donghyuck ingin mengunyah pulpen.

"Ini data tambahan untuk klien," ujar Jeno, menyodorkan map biru.

Saat Donghyuck menerimanya, ujung jari mereka bersentuhan.

Ada sensasi aneh. Seperti sengatan listrik statis kecil yang menjalar cepat dari ujung jari ke lengan Donghyuck. Jantungnya berdesir aneh selama sepersekian detik, tapi logika kemarahannya bekerja lebih cepat.

Ah, pasti karpet ruangan ini yang jelek. Atau saking menyebalkannya dia sampai badanku menolak bersentuhan.

Donghyuck perhatikan Jeno tidak menarik tangannya. Pria itu justru menatap Donghyuck dengan tatapan yang, entah kenapa, terlihat sedikit… iba?

"Kamu tahu, Donghyuck," ujar Jeno dengan nada rendah yang menyebalkan itu. "Kalau saja kamu mau mendengarkan orang lain sesekali, mungkin hidupmu akan lebih mudah."

Itu dia. Batas kesabarannya putus.

Donghyuck tidak menjawab. Dia hanya membanting layar laptopnya menutup. Suaranya cukup keras untuk membuat beberapa kepala yang beranjak keluar ruangan menoleh sebentar.

"Terima kasih sarannya, Tuan Paling Tahu," desis Donghyuck.

Ia bangkit berdiri dengan gerakan cepat dan dramatis, mendorong kursinya ke belakang sambil menggebrak meja untuk mengambil barang-barangnya.

Dan di situlah bencana terjadi.

Donghyuck tidak sadar Jeno masih berdiri terlalu dekat dengan tangan bertumpu di tepi meja. Kursi dan tumpukan berkas tebal yang digeser paksa oleh Donghyuck meluncur, menjepit tangan Jeno dengan keras di antara sandaran tangan kursi dan tepi meja kayu solid.

"ARGH!" Itu bukan suara bariton tenang yang biasa Jeno pamerkan, tapi suara kesakitan murni yang menarik perhatian. Donghyuck terlonjak kaget. Matanya membelalak melihat Jeno menarik tangannya dengan cepat, wajah pria itu meringis menahan sakit.

"Aku—" Donghyuck tergagap, rasa bersalah sempat mampir sebentar sebelum egonya menendang pergi.

"Kamu baru saja menjepit tanganku!" seru Jeno, matanya melotot tak percaya sambil memegangi punggung tangan kanannya.

Donghyuck mendengus, menegakkan punggungnya. "Ya, dan kamu masih bisa bicara. Kamu akan baik-baik saja." balas Donghyuck, mengangkat bahu acuh tak acuh. "Anggap saja itu karma instan karena mulutmu yang pedas."

Tapi tiba-tiba Donghyuck merasakan sesuatu. Ada sensasi menggelitik yang aneh di punggung tangan kanannya sendiri. Rasanya hangat, seperti ada semut yang berjalan di bawah kulitnya.

Donghyuck menunduk, menatap tangannya.

Di sana, tepat di punggung tangan kanannya, di titik yang sama persis dengan tempat tangan Jeno terjepit, tinta hitam mulai muncul dari ketiadaan. Garis-garis halus merambat cepat, membentuk kelopak, tangkai, dan daun. Dalam hitungan tiga detik, sebuah bunga peony yang indah dan mendetail mekar sempurna di atas kulitnya. Warnanya merah muda samar, kontras dengan kulit tan-nya.

"Apa-apaan..." Donghyuck menjerit kecil, suaranya tercekat. Ia menggosok tato itu dengan jempolnya, berharap itu cuma noda spidol. Tapi pola itu menyatu dengan kulitnya.

Donghyuck melihat Jeno berhenti meringis. Pria itu mengulurkan tangannya yang berdenyut nyeri ke hadapan Donghyuck, memamerkan punggung tangannya yang kini membengkak merah—seolah menuntut pertanggungjawaban.

Mata Donghyuck terkunci pada memar itu. Didorong rasa penasaran yang mengalahkan akal sehat, dia perlahan menggerakkan tangannya sendiri mendekat. Ia menyejajarkan punggung tangannya dengan tangan Jeno, membiarkannya melayang hanya berjarak beberapa sentimeter di udara.

Bentuknya identik.

Luas memar kemerahan di kulit Jeno sama persis dengan hamparan kelopak bunga di kulit Donghyuck.

Seperti stempel dan tintanya.

Rivalnya itu kini menatap Donghyuck, lalu tatapannya jatuh ke tangan yang disandingkan. Wajah Jeno yang tadi merah karena marah dan sakit, kini berubah pucat.

"Apa yang terjadi?" tanya Donghyuck lirih, suaranya bergetar.

"Kenapa..." Jeno tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Keduanya saling tatap dengan ekspresi bingung yang sama. Kebencian, rivalitas, dan ego mereka mendadak lumpuh oleh intervensi mistis ini.

Lalu, dari sudut ruangan, terdengar suara berat yang memecah keheningan.

“Oh, apakah kalian Soulmate?”

Jisung Park, staf magang yang sedari tadi bersembunyi di balik dispenser air karena takut melihat pertengkaran seniornya, memberanikan diri bersuara. Matanya membulat polos, menunjuk kedua tangan itu bergantian.

Bagi Donghyuck, pertanyaan yang menggantung di udara itu lebih menakutkan daripada tenggat waktu laporan manapun yang pernah ia hadapi.

 

-

 

Jisung duduk tegak kaku di kursi ergonomisnya, tampak menyusut di bawah tatapan tajam Donghyuck yang berdiri di sisi kirinya, dan Jeno yang berdiri menjulang seperti patung es di sisi kanannya.

"Coba scroll ke bawah lagi," perintah Jeno kaku.

"Bukan, bukan yang itu. Klik link yang warnanya ungu norak itu," sela Donghyuck tak sabaran, jarinya mengetuk meja Jisung. Ia butuh jawaban, dan ia butuh sekarang.

Jisung menelan ludah—jakun anak itu naik turun gugup—sambil menggerakkan tetikusnya dengan gemetar. Layar komputernya menampilkan website ber-domain SoulmateEncyclopedia.com.

"Lihat," tunjuk Jisung pada satu paragraf. "Di sini tertulis: Ikatan jiwa sering kali memanifestasikan diri melalui flora dermis. Ketika pasangan A terluka, pasangan B akan menerima visualisasi bunga di lokasi tubuh yang sama."

Jeno memijat pelipisnya frustrasi. Donghyuck sendiri mendengus kasar, masih menyangkal realita.

"Ini konyol," protes Donghyuck. "Dengar ya, Wikipedia Cinta ini pasti salah. Katanya tanda ikatan jiwa itu muncul umur 20 tahun. Aku sudah 26 tahun, dia..." Donghyuck melirik Jeno jijik, "...tua bangka ini juga pasti sudah lewat 20. Kenapa baru sekarang tandanya muncul? Kita kan juga sudah satu kantor enam bulan!"

“Kita seumuran.” Jeno mengoreksinya dingin, namun Donghyuck tidak mempedulikannya, masih melihat pucuk kepala Jisung yang kini mengetik kata kunci baru di kolom pencarian: Delayed Soulmate Bond.

"Itu miskonsepsi umum, kak," jelas Jisung. Ada nada sedikit bangga dalam suaranya karena bisa menggurui seniornya. "Banyak kasus di mana ikatan itu 'tidur'. Butuh pemicu untuk membangunkannya. Biasanya..."

Jisung menekan Enter. Sebuah artikel berjudul The Spark: How Physical Touch Awakens the Bond muncul.

"...biasanya dipicu oleh kontak fisik langsung dengan intensitas emosi tertentu," baca Jisung nyaring.

Donghyuck membeku. Ingatannya berputar mundur ke satu jam yang lalu. Momen ketika Jeno menyerahkan berkas. Ujung jari yang bersentuhan. Dan sensasi zzzt seperti setruman listrik statis yang menjalar sampai ke tulang belakangnya.

Ia melirik Jeno pelan-pelan, yang ternyata juga sedang menatapnya. Mata sipit pria itu melebar sedikit, pupilnya bergetar.

"Ah," gumam Jeno pelan. "Setruman itu."

"Itu... itu cuma karpet jelek," sangkal Donghyuck cepat, merasakan wajahnya memucat. "Listrik statis. Sains."

Donghyuck melihat Jisung menghela napas panjang. Tanpa ragu, anak magang itu mengklik tombol silang di sudut layar, mematikan tampilan situs ensiklopedia itu seketika.

Barulah setelah itu, Jisung memutar kursi rodanya berbalik menghadap mereka berdua. Ia memberikan senyum masam nan lelah—tipe senyum karyawan yang ingin pulang cepat dan tidak mau terlibat drama rumah tangga orang lain.

"Sains atau takdir, terserah kalian," ujar Jisung. "Sekarang, saya udah bisa lanjut input data? Deadline jam tiga."

 

 


 

 

Tiga hari berlalu dalam siksaan bisu.

Atmosfer di divisi pemasaran berubah menjadi zona perang dingin. Tidak ada lagi adu mulut sarkastik di ruang rapat. Tidak ada lagi saling sindir di pantry.

Donghyuck menghindari Jeno seperti wabah penyakit. Jika Donghyuck melihat Jeno berjalan ke arah mesin fotokopi, ia akan tiba-tiba berbelok ke toilet. Jika Jeno masuk lift, Donghyuck akan pura-pura sibuk mengecek ponsel dan menunggu lift berikutnya.

Namun, tubuhnya berkhianat.

Setiap kali mereka tidak sengaja bertatapan, Donghyuck merasakan jeda yang bertahan satu detik terlalu lama. Ada ketegangan aneh yang menggantung di udara.

Dan yang paling parah: Bunga-bunga sialan itu.

Siang itu, Donghyuck sedang merapikan tumpukan kertas laporan. Karena bergerak terlalu cepat, jarinya teriris pinggiran kertas tajam. Perih dan berdarah sedikit.

"Ssshh," desis Donghyuck, mengibaskan jarinya.

Tiga meter di seberangnya, di meja kubikel Jeno, Donghyuck mendengar suara kursi berdecit dan tarikan napas kaget.

Donghyuck menoleh. Ia melihat Jeno menatap jari telunjuknya sendiri dengan ngeri. Di sana, di jari Jeno yang mulus tanpa luka, Donghyuck bisa melihat samar-samar munculnya tato bunga daisy kecil seukuran luka papercut.

Donghyuck buru-buru menyembunyikan tangannya di bawah meja, wajahnya memanas karena malu dan bersalah (sedikit).

Sore harinya, giliran Jeno. Donghyuck melihat dari ekor matanya pria kaku itu sedang menuang air panas dari dispenser untuk kopinya.

"Aw," gumam Jeno pelan.

Donghyuck yang sedang mengetik tiba-tiba merasakan kehangatan di punggung tangannya. Ia menyingkap lengan kemejanya. Sebuah bunga matahari seukuran koin mekar di kulitnya, tepat di mana Jeno sepertinya tersiram.

Donghyuck menatap bunga itu dengan tatapan ingin membunuh. Tato itu indah, artistik, dan sangat mengganggu. Untungnya, Jisung bilang tato itu akan memudar seiring lukanya sembuh.

Tapi tetap saja, terhubung secara fisik dengan musuh bebuyutan adalah mimpi yang sangat, amat buruk.

 

-

 

Jam 23.45.

Donghyuck sedang bergelung nyaman di balik selimut tebalnya, hanya diterangi oleh pendar cahaya kebiruan dari layar ponsel yang menyorot wajah. Jempolnya bergerak otomatis menggeser layar tanpa tujuan di media sosial. Video kucing lucu, resep pasta yang tidak akan pernah ia masak, dan drama selebriti lewat begitu saja di matanya yang mulai berat.

Ia menikmati momen ini; momen langka di mana otaknya bisa beristirahat dari beban kerja, drama kantor dan tato bunga sialan itu.

Namun, ketenangannya itu tidak bertahan lama.

Ponsel Donghyuck bergetar panjang, hampir saja lepas dari genggaman dan menjatuhi mukanya jika bukan karena refleks yang lebih dulu berjalan. Sebuah banner notifikasi meluncur turun dari atas layar, menutupi video mukbang yang sedang ia tonton.

Logo biru. Outlook.

Donghyuck mengerutkan kening, rasa kantuknya menguap seketika digantikan rasa jengkel. Siapa orang gila yang mengirim email kerja tengah malam begini? Apakah bosnya kena insomnia lagi?

Dengan menghela nafas lelah, ia mengetuk notifikasi itu.

 

From: Lee, Jeno (Marketing Dept) To: Lee, Donghyuck (Marketing Dept) Subject: PEMBERITAHUAN GUGATAN

LEE DONGHYUCK.

SAYA AKAN MENUNTUT ANDA!.

 

Mata Donghyuck membelalak. Ia langsung duduk tegap. Jemarinya bergerak, membalas dengan kecepatan cahaya.

 

From: Lee, Donghyuck (Marketing Dept) To: Lee, Jeno (Marketing Dept) Subject: RE: PEMBERITAHUAN GUGATAN

ATAS DASAR APA?! KEWARASAN ANDA YANG HILANG?!

 

Satu menit kemudian.

 

From: Lee, Jeno (Marketing Dept) To: Lee, Donghyuck (Marketing Dept) Subject: RE: RE: PEMBERITAHUAN GUGATAN

ANDA TIDAK PERLU MENDERITA SAAT SAYA MENDERITA. DAN SAYA TIDAK MAU ADA BUNGA MAWAR DI PAHA CUMA KARENA ANDA DENGAN PINTARNYA KEPENTOK MEJA TADI SORE.

INI MENGHINA. SAYA MERASA TERHINA OLEH SEMESTA.

 

Donghyuck mendengus membaca itu. Ia mengetik dengan agresif.

 

From: Lee, Donghyuck (Marketing Dept) To: Lee, Jeno (Marketing Dept) Subject: RE: RE: RE: PEMBERITAHUAN GUGATAN

BERITA BAGUS, TUAN LEE. SAYA JUGA TIDAK MAU.

AKAN  LEBIH BAIK PUNYA ALERGI SERBUK SARI PERMANEN DARIPADA PUNYA KONEKSI SEPERTI INI DENGAN ANDA.

 

From: Lee, Jeno (Marketing Dept) To: Lee, Donghyuck (Marketing Dept) Subject: RE: RE: RE: RE: PEMBERITAHUAN GUGATAN

BISA KITA AKHIRI INI DENGAN CARA APA PUN?

SAYA SERIUS. SAYA AKAN MELAKUKAN APAPUN AGAR KITA TIDAK TERHUBUNG.

 

Donghyuck menatap kaku layar ponselnya di kegelapan kamar. Membaca pesan itu membuat dadanya mengkerut. Dengan menarik napas panjang, Donghyuck mengetik balasan terakhir sebelum melempar ponselnya ke kasur.

 

From: Lee, Donghyuck (Marketing Dept) To: Lee, Jeno (Marketing Dept) Subject: FINAL

PISAH PLANET.

SILAKAN DAFTAR KE NASA BESOK PAGI.

 

 


 

 

Donghyuck pikir dia punya rencana yang solid.

Hindari kontak mata, hindari percakapan selain “File sudah dikirim”, dan anggap Jeno Lee tidak lebih dari furnitur kantor yang kebetulan bisa bernapas.

Rencana itu berjalan mulus selama, ya katakanlah, empat jam.

Pak Manajer memanggil mereka ke ruang rapat siang itu.

"Kita ada proyek peluncuran musim dingin," Pak Manajer menunjuk layar proyektor dengan laser. "Ini proyek besar. Kita butuh dua otak terbaik divisi ini untuk memimpinnya selama dua bulan ke depan."

Firasat Donghyuck mulai tidak enak. Bunga di tangannya terasa gatal.

"Lee Jeno. Lee Donghyuck."

Dunia Donghyuck runtuh. Dia auto melirik ke samping, melihat wajah Jeno yang tampak seperti baru saja menelan lemon utuh.

"Pak," sela Jeno cepat, senyum korporat palsunya terpasang sempurna meski Donghyuck bisa menangkap kilat kepanikan di matanya. "Saya menghargai kepercayaan Bapak. Namun, demi efisiensi tim, saya rasa saya akan lebih produktif jika dipasangkan dengan... siapa saja, selain Donghyuck. Mungkin tanaman hias di lobi?"

"Sepakat," sambar Donghyuck, tidak tersinggung. Ia justru mengangguk cepat, menyetujui penghinaan itu dengan sepenuh hati. "Kami memiliki perbedaan fundamental dalam metode kerja. Saya manusia, dia robot. Tidak akan cocok."

Atasan mereka hanya menatap mereka datar, seperti guru TK yang melihat dua balita berebut mainan truk.

"Justru karena itu," jawab Pak Manajer santai. "Kalian bisa saling melengkapi. Jeno, kamu analitis, kaku, dan ambisius. Donghyuck, kamu detail, kreatif, dan cepat tanggap. Di atas kertas, kalian adalah pasangan kerja yang hebat."

Pasangan kerja yang hebat.

Donghyuck menahan hasrat untuk memutar bola matanya sampai copot sendiri. Jeno menahan hasrat untuk muntah di tempat.

"Keputusan sudah final. Rapat pertama besok pagi. Bubar."

Mereka keluar dari ruangan dengan aura seperti pembunuh.

"Dua bulan," desis Jeno pelan saat mereka berjalan beriringan di lorong. "Dua bulan terjebak bersamamu. Neraka bocor."

"Kalau kamu sampai membuatku stres dan memicu maag-ku kambuh, aku yang akan balik menuntutmu," balas Donghyuck sengit.

 

-

 

Tapi Donghyuck bukan orang yang pasrah menerima nasib.

Malam itu, di apartemennya yang gelap, Donghyuck kembali membuka situs laknat yang diperlihatkan Jisung tempo hari. Namun kali ini, ia tidak mencari artikel romantis tentang ‘bagaimana mencintai takdirmu’.

Jemarinya melayang ragu di atas layar ponsel, sebelum akhirnya mengetik pertanyaan putus asa yang sedari tadi berputar di kepalanya:

'Apakah ada cara memutuskan koneksi ikatan jiwa?'

Layar memuat daftar hasil pencarian. Donghyuck mengabaikan artikel-artikel tidak berguna yang menyarankan meditasi atau terapi pasangan. Matanya menyisir cepat ke bawah, hingga terkunci pada satu istilah asing yang muncul di baris paling atas, dicetak dengan huruf tebal yang mengintimidasi.

Severance.

Donghyuck menelan ludah, lalu mengklik tautan itu. Halaman berubah memuat latar hitam pekat dengan tulisan putih yang mencolok.

Prosedur Severance: Pemutusan Paksa Ikatan Jiwa.

Dulu, prosedur ini ilegal. Pemerintah menganggapnya sebagai bentuk mutilasi spiritual. Bagaimana mungkin kamu menolak hadiah semesta?

Tapi seiring zaman, ketika semakin banyak kasus soulmate yang berakhir tragis—kekerasan, ketidakcocokan mental, atau sekadar penderitaan fisik—gerakan bawah tanah mulai menuntut legalisasi.

Sekarang, itu menjadi hal yang "tabu". Legal, tapi dipandang hina. Seperti orang yang membuang berlian ke tempat sampah.

Donghyuck membaca detail prosedurnya. Metode: Pemutusan saraf spiritual. Efek Samping: Nyeri fisik ekstrem selama 48 jam pasca-prosedur. Rasa hampa permanen. Pasien sering melaporkan perasaan "kehilangan separuh diri" atau "lubang di dada yang tidak bisa ditutup".

Resikonya mengerikan. Menghancurkan setengah jiwa demi kebebasan.

Donghyuck menatap tato bunga di tangannya yang mulai memudar. Ia membayangkan hidup selamanya terikat dengan Jeno—merasakan sakitnya, terpaksa berurusan dengannya.

Ia menarik napas panjang.

Ia menandai dan menyimpan tautan itu.

 

 


 

 

Saat jam makan siang, Donghyuck mengirim pesan singkat ke Jeno: Balkon lantai 20.

Balkon itu sepi, hanya ada beberapa puntung rokok di asbak besar dan angin kencang yang mengacak-acak rambut. Jeno datang lima menit kemudian, berdiri di ambang pintu dengan waspada.

"Kamu mau mendorongku?" tanya Jeno datar. "Kalau iya, biar aku siapkan surat wasiat dulu."

Donghyuck mendengus, bersandar di pagar pembatas tanpa menoleh. "Jeno, kalau pembunuhan itu legal, kamu sudah jadi kompos sejak minggu lalu."

Donghyuck berbalik, menata wajahnya seserius mungkin. Tidak ada ejekan. Tidak ada sarkasme. Ia menyodorkan ponselnya yang menampilkan halaman Severance.

"Baca."

Jeno mendekat, mengambil ponsel itu dengan ragu-ragu. Pria itu membaca dalam diam. Dan semakin lama ia membaca, semakin keruh ekspresi wajahnya. Alis Jeno menukik tajam.

"Ini..." Jeno mendongak, menatap Donghyuck tak percaya. "Pemutusan paksa? Kamu tahu ini berisiko membuat kita cacat emosional permanen, kan?"

"Aku tahu," jawab Donghyuck tenang. "Tapi opsinya cuma dua: Kita jalani prosedur ini, sakit sebentar, lalu kosong selamanya tapi bebas. Atau... kita terjebak selamanya, saling membenci, dan tubuh kita jadi kebun bunga setiap kali salah satu dari kita ceroboh."

Donghyuck menatap mata Jeno lurus-lurus. "Kamu bilang di email kamu mau mengakhiri ini dengan cara apapun, kan? Nah, ini caranya."

Jeno terdiam. Donghyuck melihat pria itu menatap layar ponsel, lalu beralih menatap langit abu-abu Seoul. Angin kencang menerbangkan dasi Jeno.

Sepuluh menit berlalu dalam diam. Jeno tampak berpikir keras. Donghyuck tahu Jeno adalah pria yang logis. Dia pasti sedang menghitung untung rugi di kepalanya.

Akhirnya, Jeno menghela napas panjang, lalu mengembalikan ponsel itu.

"Kapan?" tanya Jeno singkat.

Donghyuck tersenyum miring—bukan senyum senang, tapi senyum sekutu dalam kejahatan. "Aku akan buat janji temu. Mungkin butuh waktu sebulan untuk antreannya. Sementara itu..."

"Sementara itu kita kerjakan proyek sialan ini," potong Jeno. Pria itu mengangguk sekali, tegas dan kaku. "Lakukan saja. Aku akan bayar setengahnya."

Donghyuck menatap Jeno, merasakan perjanjian aneh terbentuk.

Mereka berdiri di sana, di atas ketinggian kota, baru saja menyepakati untuk membunuh takdir mereka sendiri.

 

 


 

 

Gedung Pusat Severance Seoul berdiri megah dengan arsitektur kaca dan beton yang dingin. Dari luar, tempat ini tampak seperti rumah sakit elit biasa. Namun bagi Donghyuck, tempat ini terlihat seperti rumah jagal. Suram.

Hari ini adalah hari konsultasi mereka.

Seminggu setelah kesepakatan di balkon kantor, mereka akhirnya mendapatkan slot untuk sesi screening wajib. Prosedurnya birokratis: sebelum diizinkan memutus ikatan, pasangan harus menjalani pemeriksaan fisik dan psikis untuk memastikan tubuh mereka kuat menerima dampak Severance. Jika lolos hari ini, barulah nama mereka akan dimasukkan ke daftar tunggu operasi bulan depan.

Hanya pemeriksaan awal. Seharusnya sederhana.

Namun, Donghyuck masih saja duduk di dalam mobilnya di area parkir, mesin masih menyala, jemarinya mengetuk-ngetuk setir dengan ritme gelisah yang tak beraturan.

Sudah satu jam dia di sini. Niatnya yang tadi menggebu-gebu perlahan menciut seperti balon kempes.

Matanya terpaku pada pintu keluar gedung. Ia mengamati orang-orang yang sepertinya adalah para pasien yang baru selesai menjalani prosedur. Seorang wanita keluar sambil menangis histeris, ditenangkan oleh temannya. Seorang pria berjalan keluar dengan langkah tegap, namun Donghyuck bisa melihat tatapan matanya. Kosong. Mati. Seperti boneka yang baterainya dicabut.

Donghyuck bergidik ngeri. Ia bisa merasakan hawa keputusasaan merembes bahkan sampai ke dalam mobilnya yang tertutup rapat.

Apakah dia rela jadi zombie emosional cuma demi menghindari Jeno?

Ting.

Lamunan Donghyuck teralih ketika suara notifikasi pesan masuk.

 

>Jeno: Aku gak bisa datang hari ini.

 

Donghyuck mengerutkan kening. Dia mengetik balasan dengan cepat.

 

>Donghyuck: Kenapa? Jangan bilang kamu takut.

>Jeno : Bukan. Ikan mas koki ibuku mati. Aku harus pulang, bantu nguburin. Upacara pemakaman ikan butuh waktu.

 

Donghyuck menatap layar ponselnya tak percaya. Dia mendengus keras, lalu tertawa sumbang.

Ikan mati? Serius?

Pembohong macam apa yang pakai alasan seburuk itu? Jeno Lee benar-benar pengecut.

Donghyuck baru saja hendak mengetik balasan sarkas, ketika matanya menangkap pergerakan lain di pintu lobi gedung. Seseorang keluar. Posturnya tegap, bahu lebar, mengenakan mantel abu-abu gelap.

Itu Jeno.

Donghyuck melihat wajah pria pucat itu gelap gulita, seolah baru saja melihat tempat kejadian kriminal yang parah. Jeno berjalan cepat menuju parkiran sisi utara, matanya menatap ponsel dengan ekspresi muram—kontras sekali dengan pesan konyol soal ikan mati yang baru saja dia kirim.

Donghyuck tertegun. Alih-alih melabrak kebohongan itu, Donghyuck memutuskan untuk bermain di level yang sama. Jika Jeno mau main gila, Donghyuck akan lebih gila.

 

>Donghyuck : Ya, terserah. Kebetulan, tetangga apartemenku juga minta tolong mendadak. Suruh urus kudanya yang sakit.

 

Biarlah. Biar mereka berdua menjadi pengecut yang saling membohongi satu sama lain daripada mengakui bahwa mereka tidak sanggup menghancurkan jiwa mereka sendiri.

 

 


 

 

Pada akhirnya, topik Severance tidak pernah mereka bahas lagi.

Mereka terpaksa bertahan menghabiskan waktu bersama karena disibukkan proyek musim dingin itu.

Hari pertama, mereka saling hina soal selera sarapan—Donghyuck mencibir Jeno yang minum smoothie hijau yang terlihat seperti muntahan alien, sementara Jeno memandang jijik roti selai kacang Donghyuck yang remahnya ke mana-mana.

Hari ketiga, bencana kecil mulai terjadi. Donghyuck sedang menyusun hasil print dokumen, dan... sret. Pinggiran kertas yang tajam mengiris telunjuknya. "Aw!"

Di seberang meja, Donghyuck melihat Jeno langsung melepaskan pulpennya. Pria itu menatap telunjuk kanannya sendiri. Di sana, Donghyuck bisa melihat sebuah tato bunga baby's breath kecil mekar seketika.

Jeno mendongak, menatap Donghyuck dengan nyalang. Donghyuck membalas tatapan itu dengan defensif.

"KAMU INI MASOKIS ATAU GIMANA?! SUKA BANGET KENA PAPERCUT?!" sembur Jeno frustrasi.

"KAMU PIKIR AKU SUKA?!" balas Donghyuck tak kalah nyaring. "Kertasnya yang nyerang aku duluan!"

Hari kelima, giliran Donghyuck yang menjadi korban.

Mereka sedang berjalan keluar dari ruang arsip. Tiba-tiba, Donghyuck melihat Jeno berhenti mendadak di depan pintu kaca yang tertutup. Alih-alih membukanya, Jeno—entah kerasukan setan apa—sengaja membenturkan jidatnya sendiri ke kaca itu.

Tidak keras, tapi cukup untuk meninggalkan rasa nyeri.

"Apa-apaan!" Donghyuck memekik, memegangi jidatnya sendiri yang tiba-tiba terasa hangat.

Donghyuck berlari ke cermin di lorong. Sebuah bunga dandelion kecil kini bertengger manis tepat di tengah dahinya.

Donghyuck berbalik, menatap Jeno tidak percaya. "Kamu... kamu sengaja?!"

"Ups," jawab Jeno datar. Wajahnya sama sekali tidak terlihat menyesal. Malah Donghyuck bisa melihat sedikit kepuasan di matanya.

"Aku sumpahin kamu kena papercut lima kali berturut-turut di sela-sela jari!" kutuk Donghyuck sambil menggosok jidatnya.

"Aku gak sebodoh kamu," balas Jeno santai sambil melenggang pergi.

Tapi, seiring berjalannya minggu pertama menjadi minggu kedua... Donghyuck merasakan sesuatu mulai bergeser.

Frekuensi pertengkaran mereka menurun, menyusut hingga hanya menjadi dengungan latar yang nyaris tak terdengar, digantikan oleh efisiensi yang menakutkan.

Di ruang rapat direksi lantai 12, udara terasa kering dan berbau pewangi ruangan sintetik. Cahaya proyektor membelah ruangan yang gelap, menyorot grafik batang yang menanjak tajam di layar.

Jeno berdiri di depan, laser pointer di tangannya menunjuk titik krusial pada kurva demografi. Ia sedang membedah alasan kegagalan kampanye kompetitor, suaranya tenang dan metodis, tipikal Jeno yang selalu berpijak pada angka.

“Berdasarkan heat map dari kuartal lalu, kita melihat pola kejenuhan audiens,” ujar Jeno, matanya memindai wajah para direktur yang tampak bosan. “Algoritma tidak lagi memprioritaskan visual yang terlalu dipoles. Pasar Gen-Z menolak hard-selling. Jika kita ingin masuk ke feed mereka, kita tidak bisa sekadar menjadi iklan. Kita harus menjadi…”

Jeno terdiam. Ia menggantung kalimatnya di udara. Alisnya bertaut sedikit, lidahnya mencari kata yang tepat, tangannya yang memegang pointer turun sedikit—tanda ragu yang sangat langka.

“…Bagian dari ekosistem mereka,” suara Donghyuck memecah sunyi, lembut namun tegas. Dia bahkan tidak mengangkat kepala dari tabletnya.

Donghyuck menggeser layar dengan jari telunjuk—jari yang memiliki pola tato kelopak bunga samar—lalu melanjutkan kalimat Jeno seolah itu adalah pikirannya sendiri yang tumpah.

“Bukan gangguan, tapi destinasi. Kontennya harus raw, terasa lo-fi, seperti direkam oleh teman, bukan di studio dengan pencahayaan tiga titik.”

Jeno menoleh perlahan ke arah Donghyuck.

Donghyuck akhirnya mendongak, memutar tabletnya ke arah direksi untuk menampilkan moodboard visual yang berantakan tapi estetik—visualisasi sempurna dari apa yang ada di kepala Jeno namun tak terucap.

Jeno berkedip sekali. Sudut bibirnya terangkat, nyaris tak terlihat. Ia kembali menatap para direktur.

“Tepat,” sambung Jeno, suaranya kembali menemukan ritme, kali ini lebih percaya diri. “Seperti yang Donghyuck katakan. Hyper-authenticity adalah kunci konversi kita bulan ini.”

Direktur Pemasaran mengangguk-angguk terkesan, mencatat poin itu dengan antusias.

Donghyuck menangkap tatapan sekilas Jeno—sebuah anggukan kecil sebagai tanda terima kasih.

Saat lembur malam mengerjakan proposal pun, mereka tidak lagi perlu berdiskusi atau debat kusir panjang lebar. Mereka mulai bergerak seperti dua roda gigi yang akhirnya menemukan minyak pelumas.

Donghyuck menatap punggung Jeno yang sedang menyeduh kopi di pantry. Ia baru sadar, Jeno membuatkan dua cangkir. Satu hitam, dan satu manis dengan banyak susu—yang Donghyuck mungkin pernah ucap saat mereka beradu argumen siapa selera kopi yang lebih baik. Jeno bahkan tidak bertanya, dia hanya membuatkannya.

Sialan.

Donghyuck merinding.

 

 


 

​

​Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Kantor sudah hampir mati suri, lampu-lampu di lorong mulai dipadamkan, menyisakan kubikel divisi pemasaran yang masih terang benderang.

​Hanya ada mereka berdua.

​Donghyuck melirik ke arah kubikel seberang. Jeno, si robot korporat yang biasanya selalu klimis dan rapi, malam ini tampak manusiawi. Kemeja putihnya kusut di bagian lengan yang digulung asal-asalan. Kacamata minusnya tergeletak di meja. Pria itu memejamkan mata sejenak, menggosok pelipisnya dengan gerakan lelah.

​Untuk sesaat, Donghyuck terpaku. Ia melihat garis rahang Jeno yang tegas, bayangan bulu matanya di pipi, dan lehernya yang terekspos karena kancing teratasnya dibuka.

​Donghyuck tidak seharusnya peduli. Ia seharusnya bersorak karena musuhnya kelelahan.

​Tapi entah kenapa, mulutnya bergerak lebih cepat dari logikanya.

​"Kamu sudah makan?"

​Suara Donghyuck memecah keheningan dengung pendingin ruangan. Jeno membuka mata, mengangkat alisnya tinggi-tinggi, "Apa?"

​Donghyuck segera melipat tangan di dada, membuang muka ke layar laptopnya, berusaha terlihat santai dan tidak peduli. "Aku gak mau berurusan kalau kamu sampai pingsan di meja kerja. Mengangkat tubuhmu itu bukan tanggung jawabku."

​Jeno terdiam sebentar. Perlahan, sebuah seringai kecil—yang tulus, bukan seringai mengejek—muncul di wajahnya.

​"Oh? Kamu khawatir?" goda Jeno.

​"Lupakan," sembur Donghyuck, telinganya memerah. "Mati kelaparan sana."

​Tapi sebelum Donghyuck bisa kembali pura-pura fokus ke layar laptopnya, Jeno sudah bangkit dari kursinya. Ia menyambar jas nya yang tersampir di kursi.

​"Baiklah, ayo."

​Donghyuck mengernyit, mendongak. "Ayo ke mana?"

​"Makan," jawab Jeno santai, seolah mengajak musuh bebuyutan makan malam adalah hal paling wajar sedunia. "Kamu juga belum makan, kan? Perutmu sudah bunyi tiga kali sepuluh menit terakhir."

​Donghyuck ingin membantah, ingin melempar staples, tapi perutnya—si pengkhianat sejati—kembali bergemuruh setuju.

​Jadi, di sinilah mereka.

​Duduk berhadapan di sebuah kedai sup hangat yang sepi pengunjung. Uap panas mengepul dari mangkuk di antara mereka. Tidak ada argumen tentang strategi pemasaran. Tidak ada sarkasme tajam. Hanya dua orang lelah yang mencoba berpura-pura bahwa mereka tidak peduli satu sama lain.

​"Jadi," Jeno memulai pembicaraan setelah menghabiskan separuh nasinya. Ia menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu menatap Donghyuck dengan sorot mata menelisik. "Ada satu hal yang membuatku penasaran."

Donghyuck mendongak dari mangkuk supnya. "Apa?"

"Sebenarnya... kenapa kamu sebenci itu sama konsep belahan jiwa?"

Pertanyaan itu membuat Donghyuck nyaris tersedak kuah sup. Ia meletakkan sendoknya dengan denting keras, "Siapa bilang aku benci? Jangan menyimpulkan sembarangan. Kamu kan gak kenal aku."

Jeno terkekeh pelan, menggelengkan kepala seolah jawaban Donghyuck adalah lelucon paling lucu hari itu.

"Ayolah, Donghyuck. Kamu mengajakku ke Severance untuk memutus ikatan kita. Kamu bahkan sudah riset soal prosedur yang menyakitkan itu," ujar Jeno santai, namun matanya memancarkan kecerdasan yang membuat Donghyuck merasa telanjang. "Orang yang menyukai—atau setidaknya netral terhadap—konsep takdir tidak akan senekat itu sampai mau merusak jiwanya sendiri. Jadi, asumsi ku kalau kamu benci sistem ini cukup valid, kan?"

Sial.

Donghyuck terdiam. Ia tidak bisa membantah logika itu. Tindakannya memang sejelas papan reklame neon yang bertuliskan: SAYA BENCI TAKDIR SAYA.

Donghyuck menghela napas, ia kembali mengaduk supnya, membiarkan uapnya menerpa wajah.

"Bukan benci," koreksi Donghyuck pelan, suaranya lebih lunak. "Cuma... aku gak suka didikte. Aku ingin memilih sendiri."

Donghyuck melirik Jeno, menantang. "Kamu pasti berpikir aku aneh kan? Mengingat semua orang memuja sistem ini."

​"Gak juga," jawab Jeno ringan. Ia meletakkan sendoknya. "Aku mengerti. Pasangan takdir itu konsep lama. Zaman sekarang orang bisa jatuh cinta dengan siapa saja. Prosedur pemisahan jiwa juga sudah bukan tindakan kriminal lagi. Pilihanmu itu sah-sah saja, Donghyuck."

​Donghyuck tertegun. Ia tidak menyangka akan divalidasi oleh Jeno Lee.

​"Tapi..." Jeno melanjutkan, matanya menerawang menatap uap kuah sup yang menari-nari. "Aku tumbuh melihat orang tuaku."

​Jeno tersenyum tipis, senyum yang sangat lembut hingga membuat dada Donghyuck berdesir nyeri.

​"Mereka pasangan takdir. Bunda sama Ibu memang bukan tipe pasangan yang romantis, gak ada bunga setiap hari atau puisi cinta. Tapi... hanya dengan berada di lingkup satu sama lain, mereka terlihat cukup." Jeno menatap Donghyuck lagi. "Melihat mereka duduk diam berdua di teras, minum teh tanpa bicara tapi saling mengerti... bukankah itu menakjubkan? Aku... kurasa aku orang yang cukup romantis karena itu. Aku mendambakan ketenangan seperti itu."

​Lidah Donghyuck kelu. ​Ia menatap Jeno. Di bawah lampu kedai yang remang, Jeno terlihat begitu polos.

​Lalu mata Donghyuck jatuh ke tangan Jeno yang tergeletak di meja.

​Tanpa sadar, ibu jari Jeno sedang mengusap-usap punggung jari telunjuknya sendiri. Di sana, ada tato bunga kecil yang baru muncul sore tadi—hasil dari kecerobohan berulang Donghyuck yang tidak sengaja menggores jarinya sendiri dengan pinggiran kertas.

​Jeno mengusap "luka" yang diberikan Donghyuck itu dengan lembut, seolah itu bukan gangguan, melainkan bagian dari dirinya.

​Perasaan Donghyuck campur aduk. Seperti adonan semen yang basah dan berat. Ada rasa sayang yang mekar perlahan melihat sisi lembut Jeno. Tapi di saat yang sama, ada rasa minder menghantamnya telak.

​Jeno menginginkan ketenangan. Jeno menginginkan ‘duduk diam dan merasa cukup’.

Sementara Donghyuck? Dia adalah badai.

Donghyuck adalah suara bising, argumen keras, dan kecerobohan yang menghasilkan tato luka di kulit orang lain.

​Donghyuck menunduk, menatap mangkuk supnya yang kini terasa hambar. Ironis sekali. Jeno menginginkan jenis cinta yang ditawarkan takdir, tapi Donghyuck—sang takdir itu sendiri—merasa dia adalah orang yang paling salah untuk mewujudkannya.

 

 


 

 

​Senin pagi dimulai dengan kejutan yang tidak diinginkan.

​Di ruang rapat, Pak Manajer memperkenalkan "anak magang" baru dengan senyum lebar yang mencurigakan.

Namanya Jimin Yoo, atau lebih suka dipanggil Karina. Dia cantik, berkelas, dan... oh, dia anak pemilik perusahaan.

​"Karina akan magang di sini selama tiga bulan untuk mengenal lingkungan kerja, utamanya di bagian pemasaran, sebelum dia memegang cabang" jelas Pak Manajer. "Saya ingin dia belajar dari yang terbaik. Jadi, Karina, selama seminggu ini kamu akan mengamati dan mengikuti Jeno ber-"

​"Kenapa Jeno?!"

​Suara Donghyuck meledak begitu saja, memotong kalimat atasannya.

​Keheningan melanda ruangan. Beberapa staf menoleh dengan mata membelalak, takut akan terjadi perang dunia melihat riwayat debat Donghyuck dan Jeno.

Sedangkan Jisung, yang duduk di pojok dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, hanya membenamkan wajah ke telapak tangan.

Sadar dirinya baru saja terdengar seperti pacar posesif, Donghyuck buru-buru berdeham, wajahnya memanas.

​"Maksud saya... saya dan Jeno sedang memegang proyek besar bersama. Kalau Karina hanya menempel pada Jeno, dia hanya akan belajar setengah prosesnya. Saya bisa... membantu juga."

​Alasan yang lemah, tapi Pak Manajer membelinya. "Ide bagus. Kalau begitu Karina akan menjadi tanggung jawab kalian berdua."

​Maka dimulailah hari-hari neraka bernama: Mengasuh Tuan Putri.

​Ternyata, Karina bukan tipe anak bos yang manja. Dia justru sempurna.

Dia tenang, anggun, cepat tanggap, dan cerdas.

​Yang membuat Donghyuck bergidik adalah betapa miripnya Karina dengan Jeno.

​Mereka berdua memiliki cara kerja yang sama: sistematis, efisien, dan minim bicara. Saat Jeno menjelaskan grafik, Karina mengangguk paham di detik yang sama. Mereka seperti dua robot model terbaru yang saling berkomunikasi lewat gelombang data.

Mereka cocok. Sangat cocok.

Jeno yang mendambakan ketenangan, dan Karina yang adalah perwujudan ketenangan itu sendiri.

​Dibandingkan dengan Donghyuck yang berisik dan berantakan, Karina terlihat seperti jawaban atas doa-doa Jeno.

Melihat mereka duduk bersebelahan, Donghyuck merasa perutnya melilit.

 

 


 

 

​Rabu malam itu jadwalnya lembur.

​Karina memutuskan untuk ikut bersama mereka dengan alasan "ingin mendalami alur kerja". Donghyuck tidak bisa menolak, apalagi gadis itu membawa piza mahal untuk makan malam.

​Suasana di ruangan terasa menyesakkan bagi Donghyuck.

​"Jeno," panggil Karina lembut. "Bagian ini, apakah analisisnya menggunakan data bulan lalu?"

​Jeno, yang sedang fokus, memutar kursinya mendekat ke arah Karina. Dia menunjuk layar laptop gadis itu, tubuh mereka condong berdekatan. "Benar. Tapi kamu harus membandingkannya dengan kuartal yang ini..."

​Donghyuck menatap pemandangan itu dari mejanya. Jeno tersenyum tipis—senyum sabar yang akhir-akhir ini dia berikan kepada Donghyuck, kini diberikan pada orang lain.

​Cemburu? Tidak mungkin, batin Donghyuck menyangkal.

​Tangan Donghyuck bergerak gelisah. Ia sedang memotong kertas label dengan gunting besar. Matanya terpaku pada Jeno yang tertawa kecil menanggapi ucapan Karina.

​Sret.

​Rasa perih menyengat ujung telunjuk kirinya. Darah segar menetes. Gunting itu meleset.

​Donghyuck mendesis, refleks memasukkan jarinya ke mulut. Ia melirik seberangnya lagi.

Jeno belum sadar. Pria itu masih fokus pada layar laptop Karina.

​Hati Donghyuck mencelos.

​Tanpa bicara, ia bangkit dan berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia butuh air dingin. Bukan untuk lukanya, tapi untuk kepalanya yang mendidih. Donghyuck berdiri di depan wastafel, membiarkan air keran membasuh darah di jarinya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya kusut, matanya lelah.

Seketika pintu terbuka, ​Jeno masuk dengan napas sedikit terengah. Wajahnya panik. Ia langsung menyambar tangan kiri Donghyuck, memeriksa lukanya.

​"Kenapa ceroboh sekali?" tanya Jeno, nadanya mendesak. "Ada bunga seruni yang muncul di telunjuku. Kamu gapapa?"

​Donghyuck menarik tangannya kasar. "Aku gapapa. Cuma luka kecil."

​"Luka kecil kalau infeksi bisa bahaya," Jeno bersikeras, mencoba meraih tangan Donghyuck lagi.

​"Kubilang aku gapapa!" Bentak Donghyuck.

​Jeno terdiam, tangannya menggantung di udara. "Donghyuck, kenapa kamu marah? Aku cuma khawatir."

​"Khawatir?" Donghyuck tertawa sinis. Rasa insekuritas melihat Karina dan Jeno tadi meledak menjadi kalimat pengelakan yang bodoh. "Kamu gak perlu khawatir. Lagipula, sebentar lagi kita akan melakukan Severance. Setelah itu, kamu gak perlu lagi merasakan sakit cuma karena aku bodoh dan ceroboh. Kamu bisa bebas cari ketenangan yang kamu mau."

​Ekspresi Jeno berubah drastis. Kecemasan di wajahnya lenyap, digantikan oleh raut dingin yang keras. Rahangnya membeku.

​"Oh," ujar Jeno pendek. Suaranya datar dan tajam. "Jadi kamu masih mikirin Severance itu? Padahal kupikir minggu lalu kita..."

​Jeno tidak melanjutkan kalimatnya. Ia menggeleng pelan, mundur selangkah.

​"Baiklah kalau itu maumu. Maaf sudah mengganggu." Jeno berbalik dan keluar dari kamar mandi

Ia tidak menoleh lagi.

 

 


 

 

​Sisa minggu itu adalah siksaan dalam bentuk keheningan.

​Jeno benar-benar menutup akses. Dia hanya bicara soal pekerjaan, itu pun dengan nada baku yang sangat profesional. Tidak ada lagi ledekan, tidak ada lagi kritik saat rapat, tidak ada lagi makan malam.

​Jeno kembali menjadi robot. Dan Donghyuck merasa lebih kesepian daripada sebelumnya.

Donghyuck berdiri di pantry, mengaduk kopinya dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang ke formulir pendaftaran Severance yang masih tersimpan di markah ponselnya. Haruskah dia benar-benar melakukannya?

​"Donghyuck?"

​Donghyuck tersentak, hampir menumpahkan kopinya.

​Karina berdiri di ambang pintu, memegang tumbler kosong. Gadis itu tersenyum canggung.

​"Eh, Karina. Maaf, ngelamun," Donghyuck bergeser sedikit, memberi ruang.

​Karina mengisi air, lalu menatap Donghyuck ragu-ragu. "Donghyuck, boleh tanya sesuatu?"

​"Tanya apa? Soal laporan?"

​"Bukan. Soal Jeno."

​Donghyuck mengerutkan kening. "Kenapa sama dia?"

​Karina menghela napas pelan. "Sejak Rabu malam, setelah dia nyusul kamu ke toilet, dia jadi... beda. Dia dingin. Sangat profesional, sampai rasanya menakutkan. Padahal sebelumnya aku pikir kita bisa berteman dengan baik."

​Karina menatap Donghyuck dengan mata menyelidik. "Kalian bertengkar ya?"

​"Sedikit," jawab Donghyuck jujur.

​"Kalian harus baikan," ujar Karina tegas. "Suasana divisi jadi gak enak. Lagipula..." Karina memiringkan kepalanya. "...soulmate bisa berantem juga ya?"

​Donghyuck tersedak ludahnya sendiri. "A–apa?"

Donghyuck tidak menjawab pertanyaaan itu langsung. Menunggu kemungkinan bahwa pertanyaan Karina itu hanya bersifat umum. Bahwa pertanyaan Karina hanyalah rasa penasaran biasa yang dengan asal dia tanyakan ke Donghyuck, seniornya.

Tapi, buat apa dia bertanya hal itu ke Donghyuck?

Barulah ketika wajah Karina memunculkan senyum perlahan dengan alis yang di naik turunkan, Donghyuck mengerti.

Karina tahu.

Sialan.

Karina tahu.

Donghyuck menatap Karina horor. "Per–pertama, i–iya soulmate bisa berantem… Kedua,” pria itu mencondongkan badannya sedikit, menurunkan volume pita suaranya agar hanya Karina yang bisa mendengar, “kamu tahu darimana?"

​Setahu Donghyuck, mereka mencoba merahasiakan itu ketat-ketat. Seharusnya, hanya mereka berdua dan Jisung saja yang tahu. Melihat pasangan jiwanya, Jeno pasti tidak mungkin cerita ke orang yang baru di kenalnya.

Atau, apakah memang mereka sudah sedekat itu?

​Karina tersenyum kecil, sedikit geli melihat reaksi Donghyuck. "Dari Jisung."

​"Jisung?!" Donghyuck melotot. "Anak itu... awas saja nanti—"

​"Please, jangan marahin Jisung!" potong Karina cepat. Wajahnya sedikit memerah. "Dia gak maksud buat kasih tahu. Dia... gak sengaja."

​"Gak sengaja gimana? Dia keceplosan?"

​"Bukan," Karina menggigit bibir bawahnya, terlihat bimbang sejenak sebelum akhirnya mengaku. "Dia kasih tahu lewat pikiran. Dia gak bisa ngatur pikirannya kalau lagi panik."

​Donghyuck berkedip. Sekali. Dua kali. Otaknya mencoba memproses kalimat itu.

Kasih tahu lewat pikiran?

​"Maksudnya..." Donghyuck menunjuk Karina, lalu menunjuk ke arah meja kerja Jisung di luar.

​Karina mengangguk malu-malu. “Dia soulmate-ku. Sistem kami telepati. Aku bisa dengar pikiran dia, dan dia bisa dengar pikiran aku. Jadi saat kamu teriak 'Kenapa Jeno' hari Senin lalu, pikiran Jisung berteriak keras sekali tentang kalian yang soulmate."

​Rahang Donghyuck jatuh.

​Jisung Park? Si anak magang kikuk yang takut bayangannya sendiri itu? Soulmate dengan Jimin Yoo, putri tunggal pemilik perusahaan yang anggun ini? Dan mereka bisa telepati sebagai sistem ikatan jiwa mereka?

​Dunia ini benar-benar sudah gila.

​Tapi di tengah keterkejutannya, satu hal terlintas di benak Donghyuck.

Jika Jisung dan Karina—dua orang yang bagaikan bumi dan langit—bisa menerima takdir aneh mereka, kenapa dia dan Jeno harus begitu keras kepala menolaknya?

 

 


 

 

Layar laptop menampilkan wajah Renjun Huang yang sedang memegang kuas cat, coretan warna biru muda menempel di pipinya. Di latar belakang, terlihat jendela apartemen Paris yang menampilkan langit sore.

​"Tunggu," Renjun meletakkan kuasnya, mendekatkan wajah ke kamera dengan mata membelalak dramatis. "Ulangi lagi. Siapa?"

​Donghyuck menghela napas panjang, membenamkan wajah ke bantal sofa apartemennya di Seoul. "Lee Jeno. Musuh bebuyutanku. Manusia paling menyebalkan di muka bumi."

​Donghyuck mengangkat tangan kirinya ke depan kamera, memperlihatkan sisa pudar dari tato bunga dandelion di jari tengahnya—hasil dari Jeno yang tidak sengaja menjepit jarinya sendiri di laci kemarin lusa.

​Hening sejenak di seberang sana. Lalu, tawa Renjun meledak.

​Bukan tawa sopan. Itu tawa puas, tawa nyaring yang membuat Donghyuck ingin mematikan sambungan.

​"Ini karma!" seru Renjun di sela tawanya. "Ini definisi karma instan! Kamu yang selalu mengejek konsep belahan jiwa, sekarang malah terjebak sama musuhmu sendiri? Semesta punya selera humor yang bagus, Hyuck."

​"Tertawalah sepuasmu," gerutu Donghyuck. "Aku menderita di sini."

​Melihat wajah sahabatnya yang benar-benar kusut, tawa Renjun mereda. Ia kembali duduk tegak, mode 'sahabat bijak' diaktifkan. "Oke, maaf. Tapi serius, Hyuck. Sudah sebulan dan kamu baru cerita sekarang? Kenapa?"

​"Karena aku malu! Dan karena aku pikir aku bisa mengatasinya lewat prosedur Pemisahan Jiwa," Donghyuck mengaku. "Tapi..."

​"Tapi?"

​"Tapi batal. Dan sekarang..." Donghyuck menggigit bibir bawahnya, menatap langit-langit kamar. "Sekarang rasanya aneh. Kehadiran dia gak lagi ngebuat aku ingin melempar kursi. Malah, saat dia diam ke aku, rasanya... gak tenang. Dan saat dia dekat dengan anak yang punya perusahaan itu, rasanya ada api di perutku."

​Renjun tersenyum miring. "Cemburu, Tuan Lee?"

​"Bukan!" bantah Donghyuck cepat. "Aku cuma... bingung. Masalahnya, Njun, aku gak tahu perasaan ini asli atau palsu. Apakah aku mulai menyukainya karena dia memang Lee Jeno? Atau karena sistem bodoh ini memanipulasi otakku lewat bunga-bunga sialan itu supaya kami cocok?"

​Donghyuck mengusap wajahnya frustrasi. "Aku gak mau jadi boneka takdir."

​Renjun menatapnya lamat-lamat lewat layar. Tatapan tajam yang seolah bisa menembus ribuan kilometer serat optik.

​"Hyuck," panggil Renjun lembut tapi tegas. "Jujur sama aku. Sebelum semua drama bunga ini muncul... seberapa sering kamu ngomongin Jeno ke aku?"

​Donghyuck memajukan bibirnya, agak sangsi untuk menjawab pertanyaan itu. "Ya itu… karena kemarin-kemarin dia menyebalkan. Aku hanya curhat betapa aku tidak menyukai tingkah dia yang congak itu."

​"Sering. Curhat yang sangat, amat, terlalu sering. Kamu ngomongin cara jalannya yang sok tegap. Kamu ngomongin kacamatanya yang bikin dia sok pintar. Kamu ngomongin betapa rapi meja kerjanya yang bikin kamu sakit mata," urai Renjun. "Sejujurnya, menurutku, setiap kali kamu curhat tentang betapa-aku-benci-lee-jeno, itu sebenarnya kamu sudah naksir duluan sama dia. Cuma kamu tutup-tutupi dengan pura-pura kesal."

​Donghyuck berdengung. "Itu gak benar."

​"Bayangkan saja," lanjut Renjun. "Dia cuma bernapas menurut kamu sudah nyebelin. Itu namanya obsesi, Hyuck. Kalau kamu benar-benar tidak peduli, kamu bakal anggap dia angin lalu. Tapi matamu selalu tertuju ke dia."

​Renjun tersenyum penuh arti. "Ingat, benci sama..."

​"...cinta itu beda tipis," sambung Donghyuck datar, menyela kalimat itu karena sudah hafal di luar kepala. Kalimat klise yang sudah sejuta kali Renjun lontarkan, dan bahkan sering ia dengar di drama vertikal kesukaannya.

​"Tepat," sahut Renjun. "Renungkan itu. Aku harus cuci kuas. Kabari aku kalau kalian sudah jadian."

​Sambungan terputus.

​Donghyuck menutup laptopnya tanpa mematikan dengan proper, dan menggesernya ke sisi sofa. Ruangan kembali sunyi.

​Benci dan cinta beda tipis.

​Pikiran Donghyuck melayang mundur. Jauh ke belakang. Enam bulan lalu. Hari pertama Jeno masuk ke kantor.

​Saat itu, Donghyuck sedang berdiri di dekat mesin kopi, merasa bangga dengan promosi jabatannya.

Lalu pintu terbuka. Jeno masuk. Setelan jas biru tua yang pas badan. Rambut hitam yang ditata rapi. Langkah kaki yang percaya diri.

​Kesan pertama Donghyuck saat itu sebenarnya bukan 'Dia menyebalkan'.

Ada rasa kagum. Ada detak jantung yang melompat kecil melihat senyum mata bulan sabit itu saat Jeno memperkenalkan diri. Tapi detik berikutnya, rasa inferior menghantam Donghyuck.

Jeno terlihat terlalu sempurna. Terlalu kompeten. Terlalu... di luar jangkauan. Donghyuck merasa terancam. Dia takut posisinya tergeser, dia takut terlihat kurang di samping Jeno. Jadi, sebagai mekanisme pertahanan diri, otak Donghyuck memutar narasi itu.

​'Dia pasti sombong,' pikir Donghyuck saat itu. 'Lihat senyumnya, palsu sekali. Dia pasti tipe penjilat.'

​Donghyuck mengubah kekagumannya menjadi rivalitas. Ia mengubah ketertarikannya menjadi kebencian yang dibuat-buat.

Karena membenci seseorang itu lebih mudah daripada mengakui bahwa kamu merasa minder dan tertarik pada saat yang bersamaan.

​Donghyuck menutup matanya.

​Renjun benar. Sialan. Renjun benar.

​Sistem soulmate ini tidak memanipulasi perasaannya. Bunga-bunga di kulitnya tidak menciptakan cinta dari ruang hampa.

Dia tidak jatuh cinta karena dipaksa takdir. Dia sudah jatuh—sedikit demi sedikit, dalam bentuk obsesi dan rivalitas—sejak enam bulan lalu.

​"Sial," bisik Donghyuck di keheningan malam. "Aku benar-benar menyukainya."

 

 


 

 

Minggu pagi itu kelabu, sekelabu suasana hati Donghyuck.

​Sudah seminggu penuh Jeno masih melakukan aksi ‘bisu radio’. Tidak ada pesan, tidak ada sapaan, hanya anggukan kaku saat berpapasan di koridor kantor. Pria itu benar-benar menepati janjinya untuk tidak mengganggu hidup Donghyuck lagi.

​Donghyuck duduk di sofa apartemennya, menekan tombol remote TV dengan agresif. Berita, kartun, drama, iklan obat sakit kepala—semuanya lewat begitu saja. Ia hanya butuh suara bising untuk menutupi keheningan di kepalanya yang terus meneriakkan nama musuh yang menjadi ikatan jiwanya itu.

​Drrt. Drrt.

​Ponselnya bergetar di meja. Nomor tidak dikenal.

​"Halo?" jawab Donghyuck malas.

​"Selamat pagi. Kami dari Severance Pusat," suara resepsionis terdengar ramah namun formal. "Kami ingin mengonfirmasi kehadiran Tuan Lee Donghyuck untuk prosedur pemutusan ikatan jiwa besok pagi pukul 09.00."

​Donghyuck terlonjak kaget sampai hampir jatuh dari sofa.

​Astaga. Dia lupa.

Saking sibuknya galau dan cemburu pada Karina minggu lalu, dia lupa membatalkan janji temu yang sudah dia buat sebulan lalu via email.

​"Batal!" seru Donghyuck panik. "Saya batalkan. Tolong hapus nama saya."

​"Baik, Tuan Lee. Akan kami proses," jawab resepsionis itu tenang. "Tapi kami tetap akan menghubungi pihak pasangan Anda, Tuan Lee Jeno. Karena catatan kami menunjukkan beliau sudah melakukan konfirmasi kehadiran secara manual minggu lalu."

​Darah Donghyuck seolah berhenti mengalir.

​"Tunggu... apa?" suaranya mencicit. "Jeno... konfirmasi?"

​"Betul. Beliau menelepon minggu lalu untuk memastikan jadwalnya tetap ada."

​Sambungan terputus sepihak, ponsel Donghyuck jatuh ke karpet.

​Minggu lalu. Itu pasti setelah pertengkaran mereka di kamar mandi. Jeno pasti menganggap itu serius. Jeno benar-benar ingin memutus ikatan ini.

​"Dasar bodoh! Lee Jeno bodoh!"

​Donghyuck mengambil ponselnya dari lantai, menyambar jaket hoodie-nya, memakai sepatu dengan asal-asalan, dan berlari keluar apartemen. Ia tidak peduli rambutnya mencuat seperti sarang burung atau ia masih memakai celana training belel.

​Tujuannya satu: Gedung Severance.

​Ia memacu mobilnya membelah jalanan Seoul, menerobos dua lampu kuning. Sesampainya di gedung berkaca itu, ia berlari ke meja resepsionis dengan napas memburu.

​"Lee Jeno! Apakah pasien bernama Lee Jeno ada di sini?!"

​Resepsionis menatapnya takut. "Maaf Tuan, hari ini kami libur praktik. Tidak ada pasien."

​Donghyuck mengacak rambutnya frustrasi, dia lupa tadi di telepon mereka juga konfirmasinya untuk pertemuan besok pagi.

Lalu, satu alamat melintas di kepalanya. Bodoh, Donghyuck membuang-buang waktu dan bensin karena kepanikannya. Kenapa dari awal dia tidak langsung kesana.

Apartemen Mapo Central, Lantai 7, Unit 702.

Enam bulan lalu, Donghyuck tidak sengaja melihat data karyawan saat HRD memakai mesin fotokopi sebelum dia. Donghyuck ingat bukan karena dia penguntit. Sama sekali bukan. Itu murni kesalahan otaknya yang terlalu jenius dalam menyerap informasi tidak penting.

​Pria tan itu kembali ke mobil, tancap gas menuju distrik Mapo.

Sesampainya di pelataran parkir apartemen, Donghyuck melompat keluar tanpa mematikan mesin dengan benar. Ia berlari menuju pintu kaca lobi utama.

Terkunci. Tentu saja.

Donghyuck menatap panel interkom di samping pintu dengan napas memburu. Jari-jarinya gemetar saat menekan angka: 7-0-2, diikuti tombol CALL.

Tuuut... Tuuut...

Detik-detik menunggu itu terasa seperti berjam-jam.

Klik. Suara sambungan terbuka.

"Halo?" Suara Jeno terdengar dari speaker kecil, sedikit bergema dan bingung. "Siapa—"

"BUKA PINTUNYA!" teriak Donghyuck ke arah kamera interkom, tidak peduli ia terlihat seperti orang gila di layar monitor unit Jeno. "JENO, BUKA! INI DARURAT!"

Hening sejenak.

Lalu terdengar bunyi BEEP panjang, dan kunci magnetik pintu lobi terlepas.

Donghyuck tidak membuang waktu. Ia mendorong pintu kaca itu, berlari menuju lift yang kebetulan sedang terbuka di lantai dasar.

Jantungnya berpacu seiring angka lantai yang naik.

Jangan pergi, Jeno. Jangan lakukan itu. Jangan potong jiwamu.

Sampai di lantai 7, Donghyuck berlari menyusuri lorong menuju pintu 702. Ia baru saja mengangkat tangan mau menggedor, tapi pintu itu sudah terbuka lebih dulu dari dalam.

Jeno berdiri di sana. Dia mengenakan kemeja rapi yang dimasukkan ke celana bahan, rambutnya ditata perm, dan dia sedang memegang kunci mobil—jelas baru saja hendak keluar saat interkomnya berbunyi tadi.

"Donghyuck?" Jeno menatapnya dengan alis berkerut, bingung melihat rekan kerjanya itu berantakan dan ngos-ngosan di depan pintu unit nya. "Kamu kenapa—"

"JANGAN PERGI!" teriak Donghyuck, napasnya putus-putus.

Jeno mengerjap kaget, mundur selangkah karena volume suara itu. "Hah?"

"Jangan ke Severance!" racau Donghyuck, melangkah maju mendesak Jeno mundur masuk kembali ke dalam apartemen. "Kita gak perlu melakukan itu! Aku tahu aku menyebalkan, aku tahu aku ceroboh, tapi tolong jangan potong ikatan ini. Kita bisa cari cara lain! Kita bisa... kita bisa pakai sarung tangan tebal biar gak saling melukai! Atau... atau aku akan bungkus tubuhku pakai bubble wrap seumur hidup!"

​"Donghyuck, tunggu—"

​"Dengarkan aku dulu, Lee Jeno!" potong Donghyuck, matanya mulai berair karena panik. "Aku minta maaf soal kamar mandi itu. Aku cuma cemburu! Aku gak mau kamu pergi dan jadi kosong gara-gara aku!"

​Donghyuck mengambil napas panjang untuk melanjutkan pidato histerisnya, tapi matanya tiba-tiba menangkap sesuatu di rak sepatu di belakang Jeno.

​Sebuah akuarium bulat kecil.

Di dalamnya, berenang seekor ikan mas koki gemuk berwarna oranye cerah.

​Kalimat Donghyuck tersangkut di tenggorokan.

Ikan mas.

​"Itu..." Donghyuck menunjuk akuarium itu dengan jari gemetar.

​Jeno mengikuti arah pandang Donghyuck, lalu menghela napas pelan. Bahunya turun.

​"Itu pengganti buat Ibu," jelas Jeno tenang. "Ikan mas kesayangannya mati minggu lalu—kali ini bukan bohong, beneran mati—jadi hari ini aku mau ke rumah orang tua ku untuk antar penggantinya."

​Donghyuck menatap ikan itu, lalu menatap pakaian rapi Jeno.

"Ke... rumah orang tua?"

​"Iya. Makan siang keluarga," jawab Jeno.

​"Bukan ke Severance?" cicit Donghyuck.

​Jeno menggeleng pelan. "Mereka bukannya tutup praktik hari minggu? Aku juga sudah kirim email pembatalan pagi ini. Mungkin sistem mereka belum update saat hubungin kamu."

​Jeno menatap Donghyuck lamat-lamat. "Lagipula, barusan aku dapat notifikasi balasan kalau pihak 'Pasangan Anda'—alias kamu—juga batalin."

​Keheningan turun di antara lorong masuk apartemen Jeno.

​Donghyuck merasa kakinya lemas. Adrenalin yang memompanya tadi mendadak hilang. Dia berdiri di sana, berkeringat, napas tidak teratur sehabis melarang orang pergi makan siang ke rumah orang tua mereka.

​Jeno bersandar di pintunya, melipat tangan di dada. Matanya menyapu penampilan kacau Donghyuck dari ujung rambut sampai ujung kaki.

​Jeno tidak terlihat marah. Tidak terlihat terganggu sedikit pun. Dia justru terlihat... takjub. Seolah dia baru saja melihat keajaiban dunia ke delapan.

​"Jadi..." Jeno memiringkan kepalanya sedikit, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang hangat. "Kenapa kamu batalin? Kenapa kamu lari-lari ke sini kaya orang kesurupan cuma buat cegah aku?"

​Donghyuck tercekat. Lidahnya berat. Semua pengakuan soal cemburu dan bubble wrap tadi mendadak terasa sangat nyata dan memalukan. Ia menunduk, menatap ujung sepatunya yang kotor. Wajahnya merah padam sampai ke telinga.

​Jeno menghela napas lembut. Ia tidak mendesak jawaban sekarang. Ia tahu Donghyuck butuh waktu untuk menata egonya yang berserakan di lantai.

​Jeno melangkah mundur, membuka pintu apartemennya lebih lebar.

​"Kamu kacau banget," ujar Jeno pelan, nadanya separuh geli separuh lembut. "Mau masuk dulu gak? Aku punya air dingin."

​Donghyuck mengangkat wajahnya, menatap mata Jeno. Di sana, tidak ada lagi dinding dingin yang dibangun seminggu ini.

Hanya ada Jeno.

Jeno-nya.

 

-

 

Donghyuck duduk di ujung sofa kulit yang empuk, lututnya dirapatkan, memperhatikan Jeno yang berjalan dari dapur membawa segelas air es.

​Apartemen Jeno rapi. Terlalu rapi, sebenarnya. Tapi ada sentuhan hangat di sana-sini—seperti handuk yang tersampir santai di sandaran kursi makan dan tumpukan buku yang agak miring di meja kopi—yang membuat tempat itu terasa dihuni, bukan sekadar showroom furnitur.

​"Minumlah," ujar Jeno, menyodorkan gelas itu.

​Donghyuck menerimanya dan langsung menenggak rakus. Ia baru sadar betapa kering tenggorokannya setelah aksi teriak-teriak histeris di depan pintu tadi. Sensasi air dingin yang mengalir turun ke kerongkongan terasa seperti surga.

​Jeno berdiri bersandar di dinding seberang sofa, kedua tangan di saku celana, matanya tak lepas menatap Donghyuck yang berantakan. Rambut menyembul ke segala arah, hoodie kedodoran, dan wajah memerah.

​"Salah gak sih," suara Jeno memecah hening. "Kalau aku tetap merasa kamu menarik, bahkan saat kamu sedang kacau begini?"

​Donghyuck tersedak. Air hampir menyembur dari hidungnya. Ia terbatuk-batuk heboh, matanya melotot galak ke arah si empunya apartemen.

​Jeno hanya terkekeh pelan, "Apa? Bukannya kita lagi di sesi jujur-jujuran sekarang? Kamu barusan nyatain perasaan kamu di depan pintu, jadi aku juga bisa dong."

​"Aku gak lagi nyatain perasaan!" sangkal Donghyuck, mengelap dagunya yang basah dengan lengan hoodie dan meletakan gelas kosong itu dengan keras ke meja di depannya.

​"Kamu bilang kamu suka sama aku tadi."

​"Aku gak bilang aku suka kamu!"

​"Kamu bilang kamu cemburu," Jeno mengingatkan, alisnya naik sebelah.

​"Iya, cemburu! Bukan suka, Lee Jeno!"

​Jeno mengedikkan bahu santai. "Tomato, Tomahto. Cemburu tandanya cinta."

​"Aku benci kamu," desis Donghyuck.

​"Aku juga tadinya mengira begitu."

​Jeno terdiam sejenak, senyum tipis bermain di bibirnya. Perlahan, ia melangkah maju mendekati sofa. ​Tubuh Donghyuck menegang. Refleks, ia memundurkan badannya sedikit. Gerakan itu sangat halus, tapi Jeno dapat menangkapnya. Pria itu langsung berhenti. Kakinya terpaku di tempat, memberikan jarak aman. Tidak memaksa, tidak mendesak.

​Donghyuck menatap Jeno. Ia melihat kesabaran di mata itu.

Jeno menghormati batasannya. Jeno memberinya ruang.

​Sikap itu... begitu kontras dengan keagresifan Jeno saat debat di kantor, namun begitu selaras dengan Jeno yang diam-diam menyeduhkannya kopi tanpa diminta. Pertahanan diri Donghyuck yang selama ini kokoh perlahan retak, lalu runtuh sepenuhnya.

​"Aku minta maaf," cicit Donghyuck pelan.

​Jeno tidak menjawab, hanya menatap lurus menunggunya melanjutkan.

​"Maaf karena sikapku menyebalkan akhir-akhir ini," lanjut Donghyuck, meremas ujung hoodie-nya. "Dan sikapku yang kayak landak dari awal kita kerja bareng. Aku... aku cuma berlindung."

​Jeno menghela napas, lalu duduk di ujung sofa lainnya—masih berjarak, tapi cukup dekat untuk bicara pelan.

​"Kalau kita bicara dari awal pertemuan, aku juga minta maaf," ujar Jeno rendah. "Aku juga kesal sama kamu. Sejujurnya, fakta bahwa pertama kali kita kenalan kamu sudah gak suka sama aku, bikin aku jadi gak suka kamu. Egoku terluka. Kamu ngerti kan?"

​Donghyuck mendengus geli. "Eugh. Kamu orang yang pintar sekali membujuk."

​Wajah Jeno berubah datar, bola matanya berputar jengah. Namun sedetik kemudian, air mukanya perlahan menjadi serius. Ia menggeser duduknya, mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga lutut mereka bersentuhan. Donghyuck otomatis terpojok ke sandaran lengan sofa.

​Jantung Donghyuck berpacu liar. Jeno mendekatkan wajahnya. Tatapannya jatuh ke bibir Donghyuck.

Entah karena tembok perlindungan yang sudah luruh, atau suhu di ruangan seperti menurun rendah di tengkuk, Donghyuck memejamkan mata, mengalah pada gravitasi momen itu.

Kemudian sebuah hembusan napas kasar menerpa wajahnya, diikuti tawa kecil yang menyebalkan.

​Donghyuck membuka mata lebar-lebar. Wajah Jeno masih di sana, dekat sekali, tapi pria itu sedang menyeringai jahil.

​"Untuk orang yang bilang benci aku, kamu gampang banget menyerah pas tahu aku mau cium kamu." goda Jeno.

​Wajah Donghyuck memanas hebat. Rasa malu bercampur gemas meledak di dadanya.

​"Dasar brengsek," umpat Donghyuck.

​Tanpa peringatan, Donghyuck menggerakan tangannya, mencengkeram kerah kemeja Jeno, dan menarik wajah pria itu kasar. Ia membungkam tawa menyebalkan itu dengan bibirnya sendiri.

​Tabrakan bibir mereka terasa keras dan kaku di detik pertama akibat gerakan tiba-tiba Donghyuck. Namun, Jeno tidak butuh waktu lama untuk merespons. Tangannya langsung menarik pinggang Donghyuck. Bibirnya mulai bergerak, memimpin ritme.

Ciuman yang tadinya kasar berubah menjadi dalam dan menuntut. Jeno memiringkan kepalanya, menjulurkan ujung lidah untuk menyapu bibir bawah Donghyuck, meminta akses. Donghyuck membukanya tanpa ragu.

​Lidah mereka bertemu, basah dan panas.

​Posisi tubuh bergeser. Jeno kini bergerak menindih, lututnya berada di sela-sela paha Donghyuck, mengurung pasangan jiwanya itu sepenuhnya di bawah kuasanya. Tangan Jeno menyelinap masuk ke balik hoodie Donghyuck.

​Saat telapak Jeno menyentuh kulit di pinggangnya, Donghyuck tersentak.

Rasanya bukan sekadar hangat. Itu seperti listrik. Seperti api yang menjalar langsung ke aliran darahnya, dari pucuk kepala sampai ke ujung jemari.

Donghyuck gemetar di bawah sentuhan itu, lengannya melingkar di pundak Jeno, membawanya lebih dekat. Tangannya menari di helai rambut Jeno, mengacaknya.

Donghyuck bukan perawan. Ia pernah berciuman sebelumnya. Ia pernah punya mantan pacar. Ia pernah bersentuhan.

Tapi tidak pernah... tidak pernah ada sensasi terbakar yang memabukkan seperti ini. Yang membuat kepalanya ringan. Yang membuat kakinya mengkerut karena hatinya penuh. Yang membuatnya kecanduan.

Donghyuck salah. ​Dia pikir dia bisa memilih siapa saja. Dia pikir dia bisa mencintai siapa saja. Dia pikir biologi itu omong kosong. Konsep soulmate itu sampah.  

Tapi saat jari Jeno menelusuri tulang rusuknya, Donghyuck sadar.

Dia tidak akan pernah bisa merasakan intensitas setinggi ini dengan siapa pun selain Jeno.

Jeno Lee.

Musuhnya, rekan kerjanya, orang paling menyebalkan sedunia.

Ikatan jiwanya.

​Kringggg!

​Bunyi dering telepon yang nyaring dari saku celana Jeno memecah gelembung gairah itu. Donghyuck kaget setengah mati. Refleks tubuhnya bekerja lebih cepat dari otak.

​Ia menggigit bibir atas Jeno.

​"Akh!" Jeno meringis, langsung menarik wajahnya menjauh.

​Donghyuck membuka mata, napasnya terengah-engah. Matanya membelalak saat melihat setitik darah merah muncul di bibir atas Jeno.

​"Astaga!" pekik Donghyuck panik. "Maaf! Maaf!"

​Jeno menyeka bibirnya dengan punggung tangan, melihat darah itu, lalu menatap Donghyuck dengan ekspresi campur aduk. Antara nyeri dan geli.

​Tapi Donghyuck tidak melihat Jeno lama. Ia menatap ke arah cermin hias di dinding seberang dengan tatapan khawatir. Ia bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

​Jeno bangkit berdiri, merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel yang masih berisik itu.

​"Halo?... Ya, Bu… Iya sebentar lagi... Belum, belum aku masukin plastik ikannya… Tenang, aman, tenang. "

​Jeno menutup telepon, lalu menoleh kembali ke arah Donghyuck yang masih duduk terpaku di sofa, memegangi bibirnya sendiri.

​Jeno berjalan mendekat, menunduk untuk mensejajarkan wajah mereka. "Coba lihat," pintanya lembut.

​Donghyuck menurunkan tangannya ragu-ragu.

​Di sana, tepat di atas bibir Donghyuck—di titik yang sama dengan luka gigitan di bibir Jeno—muncul sebuah tato. Bentuknya seperti kuncup mawar kecil yang manis.

​Jeno melihat pola itu dengan jelas lalu tertawa kecil. Tawa yang renyah dan penuh rasa sayang.

​Donghyuck menatapnya sebal. "Jangan ketawa! Kamu pasang ringtone kayak alarm kebakaran!"

​Tapi omelan Donghyuck terhenti saat Jeno kembali memajukan wajahnya, mengecup lembut pola di atas bibirnya itu.

​"Cantik." bisik Jeno setelah menarik kepalanya, matanya menatap lekat ke mata Donghyuck.

​Pipi Donghyuck merona. Jantungnya berdetak begitu kencang hingga rasanya sakit. Kalimat ejekan yang sudah ia siapkan di ujung lidah tertelan kembali ke tenggorokan.

​Di hadapan tatapan Jeno yang seperti itu... Donghyuck benar-benar kalah telak.

 

 


 

 

"Nah."

Sebuah map tebal bersampul kulit mendarat dengan bunyi yang memuaskan di atas meja mahoni. Manajer divisi mereka mundur selangkah, kedua tangannya bertolak pinggang, wajahnya memancarkan kepuasan seorang ayah yang baru saja melihat anaknya memenangkan olimpiade matematika.

"Apa saya bilang?" Ia menunjuk Donghyuck dan Jeno bergantian. "Kalian itu... simfoni. Data di halaman dua puluh? Tajam. Visual di bab tiga? Apik. Besok pagi, saya bisa berdiri di depan investor tanpa perlu menyiapkan obat sakit kepala."

Donghyuck berdiri tegak, kedua tangannya terjalin sopan di depan tubuh. Ia memamerkan senyum profesional terbaiknya—senyum yang dilatih khusus untuk momen seperti ini.

"Kami hanya mengikuti arahan Bapak," jawab Jeno di sebelahnya, nadanya rendah dan hormat.

"Pertahankan ritmenya," ujar sang Manajer, menepuk bahu Jeno sekilas sebelum melenggang keluar ruangan sambil bersiul kecil.

Begitu pintu tertutup dan langkah kaki manajer menjauh, bahu tegak Donghyuck merosot seketika. Ia melirik ke samping.

Jeno sedang menatapnya, sudut bibirnya terangkat tiga milimeter lebih tinggi dan alisnya bergerak naik sekilas. “Simfoni?”

Donghyuck menahan dengusan geli.

 

-

 

Pukul 19.15.

Dengung halus pendingin ruangan menjadi satu-satunya suara yang mengisi lantai divisi pemasaran. Lampu-lampu utama sudah padam, menyisakan pendar putih dari layar monitor di kubikel sudut.

Donghyuck sudah menggendong tasnya di satu bahu sejak sepuluh menit lalu. Ia berdiri di samping meja Jeno, lalu tanpa permisi, mendudukkan pantatnya di tepi meja kerja, menggeser beberapa tumpukan kertas.

Kakinya yang menggantung berayun-ayun, ujung sepatunya sesekali menyenggol ban kursi Jeno.

"Input data segitu doang butuh setahun?" cibir Donghyuck, tangannya jahil memutar-mutar pulpen mahal milik Jeno.

Jeno tidak menoleh. Jemarinya masih menari lincah di atas papan ketik, matanya terpaku pada kolom-kolom Excel yang bagi Donghyuck terlihat seperti sandi rumput.

"Lima menit lagi, Hyuck," gumam Jeno. "Tanggung. Kalau gak di-save sekarang, rumusnya pecah."

Donghyuck mendengus. Ia benci diabaikan demi angka-angka di dalam kotak. Mata Donghyuck turun ke kaki Jeno yang bersila santai di bawah meja. Sebuah ide jahil melintas.

Dengan gerakan yang diperhitungkan, Donghyuck mengayunkan kaki kanannya lebih keras. Tumit sepatunya menghantam kaki kursi beroda Jeno dengan sudut yang presisi. Kursi itu terdorong paksa ke samping.

Dug!

Laci besi di bawah meja menjadi sasaran empuk paha kanan Jeno yang terhimpit.

"Sshhh!" Jeno mendesis tajam. Tangannya refleks lepas dari keyboard dan menyambar paha kanannya. Ia mendongak, alisnya menukik tajam, mulutnya sudah terbuka untuk melontarkan protes.

Namun, di detik yang sama, Donghyuck mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpu berat badan pada satu tangan di meja, memangkas jarak wajah mereka hingga ia bisa mencium aroma parfum Jeno yang mulai memudar.

"Sakit ya?" bisik Donghyuck. Matanya turun sekilas ke paha Jeno, lalu kembali ke mata pria itu. "Kamu mau lihat hasilnya gak di paha aku?"

Kalimat protes Jeno mati seketika.

Kekesalan di wajah pria itu menguap, digantikan oleh pupil yang melebar dan menggelap. Jeno menelan ludah. Jakunnya bergerak naik-turun. Tanpa suara, dia bangkit berdiri.

Kursi kerjanya terdorong mundur. Jeno melangkah maju, masuk ke celah di antara kedua kaki Donghyuck yang terbuka. Kedua tangannya mendarat di tepi meja, di sisi kiri dan kanan pinggul Donghyuck—mengurung, memblokir segala jalan keluar.

Dari jarak sedekat ini, dengan posisi Jeno yang berdiri menjulang, mata Donghyuck sejajar dengan leher pria itu. Kancing teratasnya terbuka, menampilkan tulang selangka yang tegas.

Dan di sana, tercetak jelas di kulit pucat itu.

Sebuah tato bunga mawar merah kecil. Kelopaknya merekah sempurna.

Tadi pagi, sebelum berangkat kerja, Jeno sempat ‘berpamitan’ dengan cara yang agresif di lehernya—meninggalkan tanda merah keunguan yang kini mati-matian Donghyuck sembunyikan di balik kerah kemejanya yang dikancing rapat.

Memar cinta di kulit Donghyuck, menjadi mawar mekar di kulit Jeno.

Jeno menunduk, napas hangatnya menyapu pipi Donghyuck. Wajahnya semakin dekat, jelas berniat menagih tawaran "melihat tato" dengan caranya sendiri.

Cklek.

Suara gagang pintu yang ditekan terdengar bagaikan letusan pistol di ruangan sunyi itu.

Jeno membeku. Donghyuck menahan napas.

Mereka tidak sempat menjauh, hanya sempat menoleh kaku ke arah pintu.

Jisung berdiri di sana.

Anak itu baru selangkah masuk. Matanya menyapu pemandangan di depannya. Lalu raut mukanya berubah. Bukan kaget, melainkan kosong. Tatapan matanya mati, seolah ia berharap bisa memformat ulang ingatannya lima detik terakhir.

Tanpa menyapa, tanpa berkedip, Jisung berputar arah menuju mejanya sendiri dengan gerakan kaku seperti robot.

Ambil tas. Masukkan charger. Tutup ritsleting.

Semuanya dilakukan tanpa menoleh sedikitpun ke arah meja Jeno.

Donghyuck melompat turun dari meja, pura-pura sibuk merapikan kemejanya yang tidak kusut. Jeno mundur selangkah, berdeham canggung sambil mengetuk-ngetuk meja.

"Duluan," gumam Jisung datar, tasnya sudah tergendong erat, kakinya melangkah cepat menuju pintu keluar seolah ada hantu yang mengejarnya.

Namun, sebelum Jisung mencapai ambang pintu, Karina masuk. Gadis itu hampir bertabrakan dengan Jisung. Ia melihat wajah pucat Jisung, lalu matanya beralih cepat ke arah Donghyuck yang wajahnya merah padam dan Jeno yang sedang pura-pura mematikan monitor.

Karina terdiam sejenak. Matanya menyipit. Keningnya berkerut. Lalu, bibirnya terkatup rapat, pipinya menggembung menahan ledakan tawa.

Donghyuck bisa merasakan percakapan yang terjadi di udara, percakapan tanpa suara yang bising dan mulut terbuka.

Mata Karina yang jenaka. Mata Jisung yang memohon ampun.

Donghyuck tahu persis apa yang sedang terjadi di frekuensi otak mereka.

"Stop ngobrolin aku sama Jeno di pikiran kalian," sembur Donghyuck tajam, matanya menusuk tepat ke Jisung.

Bahu Jisung menegang. Ia menoleh pelan dengan mata membelalak horor. Jeno, yang berdiri bingung di belakang Donghyuck, mengerutkan kening. "Maksudnya?"

Donghyuck mengabaikan pertanyaan Jeno. Ia hanya menatap Karina yang kini sudah tidak berusaha menahan diri lagi, terkikik pelan sambil mengedikkan bahu dan menggeleng ke Jisung yang juga menatapnya menuduh.

"Keluar. Sekarang." perintah Donghyuck.

Pintu terbanting menutup di belakang punggung Jisung yang menarik tangan Karina keluar, diikuti tawa yang masih terdengar samar dari lorong.

Ruangan kembali sunyi.

"Hyuck," panggil Jeno, masih dengan wajah bingung polosnya. "Kamu ngomong apa tadi? Mereka—"

Donghyuck berbalik, lalu menarik ujung dasi Jeno, memaksanya mendekat kembali.

"Lupakan mereka," bisik Donghyuck. Tangannya bergerak turun, mengelus pelan dada bidang Jeno yang terbungkus bahan kemejanya. "Jadi... kita lanjut inspeksinya?"

Seringai di wajah Jeno kembali. "Tentu."

Dan malam itu, Donghyuck belajar satu hal: meskipun rahasia mereka nyaris bocor oleh duo telepatis kantor, memiliki Jeno—dan setiap kelopak bunga yang pria itu lukis di kulitnya—adalah risiko yang akan selalu ia ambil.

 

 

 

 

  

Notes:

TMI : bisa kelihatan aku kesulitan bikin enemies to lovers, karena aku gak begitu favor trope ini. Aku lebih ke 'strangers-to-lovers-meet-cute' people.