Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-10
Words:
2,741
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
17
Bookmarks:
5
Hits:
211

Renjana

Summary:

Dunia ini memang sejatinya sudah sesak, selain disesaki oleh insan manusia seperti kita, banyak pun makhluk hidup lainnya yang juga hidup berdampingan dengan kita, atau mungkin saja dunia ini tak hanya milik manusia seorang, tapi sisi dunia yang mungkin sudah menetap lama, namun keberadaan mereka yang tak terlihat oleh mata telanjang.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Bangunan sederhana itu terdengar tenang namun riuh disaat yang bersamaan. Suasana kental tradisional masih tercium pekat di sekitar pelataran rumah. Meski rumah tersebut terdengar sudah tua dikarenakan sudah melewati banyak sekali perjalanan waktu yang tak bisa dikatakan lama, tapi rumah itu masih berdiri kokoh. Dengan lantai yang berupa semen, tanpa ada satupun keramik, dapur yang masih mengeluarkan kepulan asap dari kayu bakar, dan isi rumah yang tak pernah terlihat penuh, menunjukkan bahwa kesederhanaan sudah membuat rumah itu terlihat indah apa adanya.

 

Hari itu rumah sedikit ramai oleh beberapa orang. Di sebuah komplek kecil, rumah itu berdiri ditengah, dan diapit beberapa bangunan sederhana lainnya menandakan bahwa bangunan itu dimiliki oleh keluarga besar yang masih menjaga budaya kental di daerahnya. Bertempat di Klaten, pemilik dari rumah sederhana itu memiliki satu tradisi yang masih dijaga sampai saat ini. Sebuah tradisi yang mungkin bagi mereka yang tak pernah diundang akan menganggap ini sebuah upacara yang menakutkan, namun bagi keluarga besar ini, tradisi ini sangatlah sakral dan memiliki makna yang kuat.

 

Sebagai keluarga besar yang memiliki garis keturunan yang cukup kuat, mereka masih mempertahankan tradisi untuk menghormati para leluhur mereka yang sudah berjuang keras hidup hingga bisa memberikan kebahagiaan yang cukup untuk keturunan mereka di masa depan kelak. Dengan mendatangi makam, dan mengadakan sedikit perjamuan kecil, dirasa cukup untuk memberikan rasa terima kasih, atas perjuangan yang mungkin tak bisa dilihat karena waktu tidak bisa seenaknya memutar mundur dengan paksaan.

 

Meski begitu tradisi yang sudah mendarah daging ini pastinya akan menghadapi dunia yang terus bergerak maju. Pemikiran atas rasa syukur dan tradisi yang panjang akan dirasa terlalu merepotkan bagi insan muda yang sudah terpapar banyak sekali informasi yang selalu datang silih berganti. Bahkan meski masih dalam satu ikatan darah sekalipun, rasa tidak percaya bisa saja menyesap terlalu dalam, dan hanya akan menganggap semua bentuk rasa syukur ini sebagai acara formal untuk berkumpulnya satu keluarga besar.

Pemikiran itu pun sudah menetap di pikiran salah satu anggota keluarga tersebut. Chandra, salah satu dari bagian anggota keluarga yang masih memegang erat tradisi yang begitu sakral. Chandra sendiri paham bahwa keluarga besarnya tak mungkin bisa melepaskan tradisi yang sudah dilakukan sekian tahun lamanya. Tapi Chandra bukanlah peminat besar untuk mengikuti rangkaian acara yang begitu panjang ini. Malangnya hari ini bukan hari yang untung baginya, karena ia sudah terjebak di dalam rumah sederhana ini sejak hari sebelumnya, dan ikut membantu mempersiapkan segala sesuatu yang ada di dalamnya.

 

Tapi Chandra pun tak punya banyak pilihan, karena mau sekeras apapun ia menolak, Chandra akan tetap ikut terseret ke dalam acara penting ini. Saat ini Chandra menginjak di umur 18 tahun. Umur yang sudah cukup dewasa untuk membedakan mana yang benar dan salah. Chandra juga mungkin salah satu dari keturunan dari darah jawa yang kental dari keluarganya. Tapi ia sudah lama menghabiskan waktunya hidup di hiruk pikuk ibukota.

Mungkin saat kecil Chandra dengan senang hati mengikuti segala bentuk rangkaian acara yang dipersembahkan keluarga besarnya untuk para leluhur. Namun seiring Chandra tumbuh, bertemu bermacam-macam orang, dan banyaknya informasi yang Chandra serap membuatnya semakin kebal dengan tradisi sakral yang ada di sekitarnya. Chandra memang akan selalu mengapresiasi kekayaan budaya negaranya yang beragam. Tapi jika sudah membicarakan mereka yang sudah tiada, Chandra rasa sudah tidak begitu memercayainya. Mengingat leluhur Chandra bahkan bukanlah pahlawan nasional, jadi ia pikir untuk apa menghabiskan waktu, tenaga bahkan biaya untuk semua ini. Tapi Chandra pun masih terlalu muda untuk mengutarakan pemikirannya atas acara yang diselenggarakan keluarganya. Lagi pula keluarganya bukanlah forum diskusi yang akan selalu menerima saran dan kritik, selagi keluarganya belum tiada, tradisi ini mungkin akan terus berlanjut sampai Chandra memasuki usia dewasa.

 

Pagi itu, seluruh keluarga sudah siap dengan persiapan mereka. Acara akan selalu dimulai sebelum matahari bangkit hingga menampakan dirinya. Peran pun dibagi merata dalam persiapan. Untuk para lelaki mulai menyiapkan peralatan hingga tempat untuk memulai kegiatan, sementara para wanita mempersiapkan santapan yang akan dinikmati bersama selepas rangkaian acara selesai.

 

Seluruh anggota pun tidak datang dengan baju biasa yang mereka kenakan sehari-hari. Hanya untuk hari ini, seluruh anggota keluarga akan dibalut busana sederhana namun elok dengan sentuhan tradisional. Para wanita dengan kebaya mereka yang tampil cantik dengan macam-macam corak tak lupa kain jarik menutupi bagian bawah dengan tampilan dan warna yang memanjakan mata. Sedangkan para lelaki dengan beskap rapih terpasang gagah, dan kain jarik tak kalah menarik untuk bersanding dengan para wanita.

 

Dengan isi rumah yang begitu riuh mempersiapkan segala acara, Chandra memilih untuk mencari angin segar di luar. Dengan posisi rumah yang masuk ke pedalaman desa, setidaknya Chandra masih bisa merasakan udara segar dan suasana tenang yang meliputi rumah keluarga besarnya itu. Chandra sendiri sudah siap dengan baju beskap dan kain jarik yang langsung dipilihkan oleh ibunda, agar setidaknya Chandra tidak kalah dengan para sepupu yang datang juga hari ini.

Sedikit ada rasa tidak nyaman selama menggunakan setelan hari ini, mungkin karena Chandra lebih terbiasa menggunakan kaos lengan pendek yang agak kebesaran, dan celana kargo yang membuatnya bisa berjalan dengan bebas kesana kemari. Dengan baju ini, rasanya ruang gerak Chandra terasa terbatas. Melihat matahari yang masih menunjukkan tanda-tandanya, membuat Chandra menghela napas kecewa karena hari ini akan terasa sangat panjang.

 

“Chandra,” si empu yang dipanggil segera menoleh.

 

Seorang lelaki paruh baya mendatanginya dengan tergopoh-gopoh membawa dua kain jarik ditangannya. Lelaki yang Chandra kenal sebagai pakdenya.

 

“Kamu lagi senggang tah?” tanya pakde dengan logat medhoknya yang lekat bagi orang jawa.

 

“Iya. Kenapa pakde?”

 

Iki lho, pakde itu lupa ikat ini didekat makam besar. Kamu yang taruh sana ya, tolong lilit di makam yang didalem sangkar itu” mendengar permintaan itu Chandra terkejut bukan kepalang.

 

“Loh bukannya yang dimakam harusnya udah beres kemaren ya?”

 

“Iya, pakde juga baru sadar, pantes aja kok jariknya lebih. Tolong yah, mumpung kamu diluar juga”

 

Sayangnya tatapan memelas pakde langsung meluluhkan hati Chandra, hingga mau tak mau ia harus mengiyakan permintaan pakdenya.

 

“Yaudah sini sama aku dipasangin”

 

Matur suwun ya le, inget yo ini diiket di makam besar yang didalam sangkar. Chandra berani to kesana sendiri, apa pakde minta dianter sama yang lain?”

 

“Gapapa pakde, aku aja kesana sendiri”

 

“Ya sudah kalau begitu, hati-hati ya disana pasti gelap, hati-hati jalannya, banyak batu”

 

Setelah mendengar instruksi dari pakde, Chandra tak mau membuang waktu dan bergegas bergerak menuju makam yang tak jauh berada di rumah.

 

Makam itulah yang akan menjadi tujuan utama adanya acara ini, mungkin jika semua sudah selesai, seluruh anggota keluarga akan bergerak secara serentak untuk mendatangi makam dan berdoa untuk para leluhur. Makam tersebut adalah makam keluarga Chandra. Bahkan karena adanya tradisi ini, bisa memperlihatkan bahwa keluarga Chandra bukanlah keluarga sembarangan. Bayangkan dengan rumah tradisional yang besar luas, ditambah ada makam khusus keluarga sudah menggambarkan bahwa ekonomi dari keluarga Chandra sepertinya sudah termasuk cukup bahkan sebelum dunia mengenali listrik.

 

Jarak menuju makam itu pun tidak terbilang jauh, namun tidak dekat juga. Chandra harus menyusuri jalan setapak dengan sisinya yang dipenuhi pepohonan rindang. Meski zaman sudah modern, namun komplek rumah keluarga Chandra masih mempertahankan beberapa eksistensi tradisional, dengan tidak menempatkan lampu penerang di sepanjang jalan.

 

Bulu kuduk Chandra memang sempat berdiri sesaat karena suasana dingin dan terlampau sunyi. Chandra memang tidak begitu percaya dengan hal-hal gaib apalagi yang berkaitan dengan ilmu gaib, namun bukan berarti Chandra sepenuhnya tidak percaya soal keberadaan “mereka” yang tak kasat mata. Meski tak pernah melihat secara langsung, tapi Chandra juga tidak mau berurusan dengan mereka yang tak bisa Chandra lihat.

 

Setelah perjalanan yang terasa panjang, akhirnya Chandra sampai di makam keluarga. Tempat peristirahatan terakhir bagi semua manusia dimuka bumi ini yang takkan terelakkan. Tak lupa mengucap salam sebelum memasuki makam, Chandra pun melangkah dengan hati-hati, melewati beberapa makam yang memiliki ukuran bervariasi. Di tengah komplek makam itu Chandra bisa melihat ada satu bangunan besar, yang pakde sempat sebutkan sebagai “sangkar,” karena bentuknya seperti sangkar yang dimana makam dikelilingi pagar yang menutupinya. Chandra pun dengan segera menuju ke sangkar tersebut, rasanya berlama-lama di komplek pemakaman juga rasanya tidak nyaman.

 

Chandra sempat kesulitan saat ingin memasuki sangkar tersebut, karena kain jarik yang ia pakai di pinggang membuat pergerakannya terbatas. Ia pun mencoba untuk melompat akan bisa masuk, dan untungnya ia akhirnya mendarat dengan sempurna tanpa harus terjatuh.

 

Tanpa basa-basi, Chandra langsung melaksanakan tugasnya, melilitkan beberapa kain jarik ke dua buah makam besar yang ada di dalamnya. Entah mengapa berada di sangkar ini lebih menakutkan dibandingkan di luar. Entah karena merasa parno, tapi Chandra seakan diawasi dari suatu tempat. Tanpa berlama-lama lagi, Chandra segera melangkah keluar dari sangkar tersebut. Ia berjalan cepat keluar dari komplek pemakaman yang dirasa mulai tak nyaman.

 

Namun belum Chandra melangkah sempurna keluar, ia merasa seperti ada yang bergerak di belakangnya. Dengan cepat Chandra menoleh untuk memastikan, namun yang tertangkap olehnya hanyalah keadaan hening tanpa ada pergerakan apapun. Saat itu mungkin Chandra hanya bisa menyimpulkan entah burung atau kucing, dan dengan segera ia berjalan menjauh.

 

 

Setelah persiapan yang lama, akhirnya acara pun bisa dilaksanakan. Semua orang mengikutinya dengan khidmat dan penuh hormat. Tak ada satupun interupsi yang terjadi, para keluarga berjalan dengan tertib menuju makam untuk melakukan ziarah dan berdoa. Acara dipimpin oleh mbah, atau bisa dikenal dengan nenek dan kakek Chandra. Tentunya acara ini ada atas keinginan mbah yang terus mendesak anak-cucu mereka untuk tetap melestarikan apa yang sudah leluhur mereka jaga. Hitung-hitung melepas rindu setelah bertahun-tahun tak bertemu secara lengkap.

 

Sesi doa pun berjalan dengan lancar dipimpin mbah, dan diikuti seluruh keluarga. Meski begitu Chandra sendiri tak bisa fokus, karena seluruh sesi ini diisi menggunakan bahasa jawa dengan kromo halus. Bahasa yang tak pernah Chandra dengar ataupun pahami sejak ia hadir didunia ini. Ia mungkin sudah terlalu lekat dengan kehidupan ibukota yang jarang mencampurkan bahasa lokal dengan bahasa nasional. Sehingga selama sesi acara berdoa, Chandra lebih sering menunduk sambil memikirkan hal lain.

 

Kadang kala Chandra akan iseng menatap kedepan, melihat para orang dewasa di barisan depan yang terlihat lebih serius dibandingkan barisan belakang yang penuhi anak-anak seusia Chandra. Ketika Chandra sedang menatap ke sekelilingnya, ia menyadari satu hal. Ia melihat siluet pria di dalam sangkar. Lebih tepatnya ia melihat ada seseorang seakan berdiri di tengah kedua makam, seolah tengah menonton kegiatan yang ada di depannya. Meski begitu Chandra tidak tahu pasti siapa yang ada di dalam sangkar, apakah sesi berdoanya juga termasuk di dalam sangkar itu?

 

Namun Chandra merasa ini tidak beres, mengapa rasanya Chandra seolah bertukar tatap dengan sosok tinggi didalam sana. Seakan memang kehadirannya ingin dilihat oleh Chandra, ditambah Chandra yang sudah kepalang penasaran ingin melihat lebih jelas. Ia bahkan bisa menangkap bahwa sosok yang berdiri itu menggunakan pakaian adat jawa yang saat kental. Namun pakaian itu berbeda dengan apa yang dipakai seluruh keluarganya, seperti baju yang condong dipakai oleh mereka yang berada di masa lalu.

 

“Chandra!” 

 

Seketika Chandra tersentak dan menoleh kearah salah satu sepupunya yang lebih tua darinya, Ridwan

 

“Jangan bengong!” ia pun diperingati membuat Chandra reflek menunduk.

 

“Maaf mas”

 

“Ya untungnya kita dibelakang sih. Kalo lagi sesi berdoa ga boleh sampe bengong, takut terjadi apa-apa”

 

“Aku ga bengong kok mas, cuman ngeliat kedepan aja penasaran”

 

“Didepan juga ga ada apa-apa Chan..”

 

“Iya sih.. tapi mas mau nanya deh” 

 

Ridwan menoleh, mempersilahkan Chandra.

 

“Kalo berdoa emang sampe masuk ke sangkar dalem situ ya mas? Kukira cuma diluar”

 

“Emang cuman diluar kok, tuh mbah kakung juga diluar”

 

“Atau yang masuk buat naro bunga?” tanya Chandra lagi.

 

“Ga ada yang masuk ke sangkar Chan, di sesi ini. Kalo berdoanya udah beres baru masuk”

 

“Hah? Tapi tadi ada yang berdiri kok didalem sangkar” sanggah Chandra.



“Mana? Ga ada siapa-siapa Chan”

 

“Ada tadi mas—” namun saat Chandra hendak menunjukkan sosok yang tadi, sosok tersebut sudah tidak ada, atau memang sejak awal hal itu memang tidak ada.

 

“Hayoh liat apaan kamu!”

 

“Mas sumpah aku liat ada orang didalem sana, make baju khas jawa juga kayak kita!”

 

“Kan kubilang apa.. jangan bengong! Liat yang aneh-aneh kan”

 

“Tapi mas, tadi ada kok disana”

 

“Yaudah iya, mungkin emang ada yang lagi “mampir”. Mending kamu doain sekarang”

 

Chandra yang ingin kembali menyanggah akhirnya menghentikan niatnya. Mungkin memang ia sedang tidak fokus.



 

Malam itu Chandra tidur, namun pikirannya masih mengawang ke segala arah. Acara yang dilaksanakan sejak tadi pagi berjalan dengan sangat lancar. Sedangkan kejadian yang terjadi di makam saat itu tidak Chandra bahas dihadapan keluarga, Ridwan juga menyarankan lebih baik Chandra tidak menceritakan apapun karena khawatir menyebabkan keributan.

 

Namun ia yakin matanya tak berbohong pagi itu. Sosok dengan yang dibalut beskap yang terlihat lebih formal, tak lupa kain jarik dengan motif asing. Tubuh tegap yang menangkap kehadiran Chandra ditengah kerumunan manusia itu membuat Chandra kebingungan. Kalau memang Chandra tak sengaja menangkap kehadiran “mereka” setidaknya bisa membuat Chandra lebih percaya dengan kehadiran mereka.

 

Tapi setidaknya ia bisa bernapas lega karena ia ditunjukkan dengan sosok yang sempurna, dan tidak menakutkan seperti cerita-cerita orang. Chandra pun mulai menyimpulkan mungkin benar kata Ridwan, mereka hanya hampir, dan tak sengaja terlihat. Siapa tau tak hanya Chandra saja yang melihat tadi pagi. 

 

Dikarenakan Chandra akan kembali ke ibukota keesokan harinya jadilah ia memilih untuk mengistirahatkan diri. Perlahan ia pejamkan mata, tertidur didalam salah satu kamar sederhana dengan alas dipan yang sudah usang.

 

 

Chandra terbangun, namun satu hal yang aneh. Chandra tidak terbangun di dalam kamar. Ia tiba-tiba saja berada ditengah-tengah salah satu rumah tradisional jawa, rumah joglo. Rumah itu terlihat megah namun sederhana disaat yang bersamaan. Beberapa tiangnya berdiri kokoh dengan kayu jati yang diukir dengan beberapa motif indah. Chandra juga bisa melihat beberapa kursi dan alat musik sederhana yang ditempatkan dipojok-pojok ruangan.



Chandra tak ingat ada bangunan ini di sekitar komplek rumah keluarganya. Berkali-kali Chandra berjalan menyusuri area rumah joglo itu, namun Chandra seakan terjebak diruang terbatas yang mengurungnya disana. Isi pikirannya sudah merasa hal ini tidak benar, sampai ia mendengar suara gamelan yang mengalun di belakang. Seingatnya, semua alat musik tradisional itu hanya teronggok di ujung ruangan, tanpa ada siapapun yang memainkannya, sampai akhirnya ia menoleh ke belakang untuk mencari sumber suara.

 

Namun bukannya menemukan siapa yang membunyikan alunan gamelan, Chandra justru melihat lelaki bertubuh tinggi dihadapannya. Wajahnya datar, dengan mata yang begitu tajam seakan menusuk pandangan Chandra. Namun yang lebih gila, bahwa fakta lelaki itu menggunakan baju yang sama dengan sosok yang ia lihat di sangkar makam tadi pagi. Beskap tradisional yang terlihat sangat formal seakan pakaian bangsawan, ditambah jarik berwarna coklat tua yang dipadu sedikit coklat muda dan kuning gelap. Tak lupa blangkon yang tertata rapi diatas kepalanya, memberikan kesan wibawa padanya.

 

Entah siapa yang ada di hadapan Chandra saat ini, namun rasanya Chandra ingin sekali kabur dari sana secepatnya. Berada di radius 1 meter di depannya saja membuat lutut Chandra lemas. Namun dengan tubuh yang sudah mulai terasa lemah, ia tak mampu beranjak dari sana. Ditambah lelaki itu berjalan mendekati Chandra. Sedangkan Chandra bersikeras memaksa kedua kakinya untuk bergerak pergi, ia juga tak mengerti kenapa matanya tak bisa menutup, dengan ketakutan yang ia rasakan, Chandra hanya bisa menunduk. Memutus kontak mata dengan lelaki itu.

 

Sampai akhirnya Chandra bisa melihat kedua kaki sang lelaki sudah sejajar berada di hadapannya. Chandra sudah merasakan keringat mengalir deras, mengutuk dirinya sendiri yang tak mampu menyelamatkan diri dari entah siapapun orang yang ada didepannya.

 

“Saya sudah menunggu kamu lama sekali” suara berat nan halus akhirnya keluar dari lelaki itu.

 

Namun sayangnya Chandra tak bisa mengerti apa yang dikatakan lelaki itu, karena kalau Chandra bisa menebak, lelaki itu menggunakan bahasa jawa kromo halus yang selalu asing di telinganya.

 

“Kenapa menunduk? Tidak mau melihat saya” suara berat itu justru membuat Chandra semakin kalut dalam rasa ketakutan, ia bahkan tak bisa mengeluarkan satu pun kata dari mulutnya.

 

Sampai Chandra bisa merasakan tangan kasar dan dingin memegang pipinya. Perlahan wajah Chandra diangkat, memaksanya untuk bertatapan dengan lelaki itu. Hingga akhirnya kedua mata mereka kembali bertemu. Chandra bahkan sudah tidak ingat bahwa sebelumnya ia berada di dalam kamar, bukan di rumah joglo bersama lelaki asing di hadapannya. Dengan tatapan kontak yang memaksa itu, membuat Chandra tak bisa berkutik, memasrahkan dirinya kepada lelaki di hadapan orang itu. Perlahan Chandra bisa merasakan tangan kasar milik lelaki itu mengusap pipinya, tak lupa menyingkirkan poni Chandra yang mulai memanjang, seakan lelaki itu ingin melihat wajah Chandra lebih jelas.

 

Namun Chandra merasa bahwa lelaki ini bersikap lembut padanya, sentuhan demi sentuhan terasa lembut. Seolah Chandra adalah benda berharga yang harus dipegang hati-hati. Hingga satu tangannya menarik Chandra mendekat, mempersempit jarak diantara mereka.

 

Lagi-lagi, lelaki itu berbicara dengan jawa kromo halus, membuat Chandra semakin tak mengerti apa yang diucapkan lelaki itu. Kata demi kata lelaki itu ucapkan sambil memeluk Chandra. Matanya yang tajam terlihat lebih teduh, suara beratnya terasa lebih lembut dari pada ucapan orang-orang yang pernah Chandra temui.

 

“Tetaplah bersama saya selamanya” 

 

Setidaknya itu yang bisa Chandra dengar sebelum akhirnya ia kembali sadar, dengan dirinya kini diatas dipan rumah keluarganya.

Notes:

mff yah kalo banyak kekeliruan dalam penyampaian bahasa jawa/deskripsi kata-katanya :'')