Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-10
Words:
963
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
22
Bookmarks:
2
Hits:
1,954

Kekhawatiran Calon Ayah

Summary:

Uzuki Kei, sang calon ayah yang mengalami stres menjelang kelahiran anak pertamanya.

Rion Akao, sang calon ibu yang tetap santai karena tahu suaminya sudah melakukan yang terbaik.

Notes:

(Uzurion, domestic fluff, married life, pregnancy, oneshot)

Work Text:

Cahaya oranye bersinar, sinarnya masih menghantarkan hangatnya matahari yang hampir tenggelam, beberapa burung terbang tidak beraturan seperti ingin kembali ke singgasana mereka. Hangatnya terpaan sisa cahaya pada siang hari tidak membuat kehangatan memeluk sosok pria bertubuh kurus dan jangkung yang sedang berdiri menunduk menatap wanita yang berbaring menutup mata dengan badan yang mulai mendingin dan mengkaku.

Tangan lelaki itu gemetar, keringat dingin membanjiri tubuhnya, apa yang telah dia lakukan kepada wanita yang menjadi alasannya untuk tetap bertahan dan terus hidup. Kenapa dia melakukannya?

“Rion. Kenapa?” Uzuki Kei, pria yang terpukul itu mulai merasakan mual dan suara dikepalanya semakin berisik. Di tangannya masih tergenggam senjata yang menjadi saksi bisu hilangnya jiwa sang pujaan.

“Sepertinya aku harus ikut bersamamu—“

...

...

“UZUKI KEI!!!” Suara yang keras itu membuat dia terperanjat, matanya terbelalak lebar, nafasnya tersengal, matanya mulai bergulir dengan cepat memindai lingkungan sekitar. Atap putih, lampu gantung, lemari, pintu kayu yang kokoh, dinding berwarna krem yang bersih, aroma harum dari ruangan yang familiar. Dia berada di kamar. Lelaki itu kemudian terduduk dan mulai mengatur nafasnya.

“Kei..” Suara yang sangat Kei kenal, suara yang selalu dia sukai, suara yang selalu memenuhi hari-harinya. Wajah Kei mendongak mencari sang pemilik suara, dan ia bersyukur dapat melihat wajah cantik itu masih berwarna, sehat, tidak pucat, dan tidak dingin. Melihat itu, Rion lalu mendekat ke arah kasur, hatinya sangat khawatir ketika melihat air mata mengalir dari mata suaminya sambil menatap wajahnya.

“Rion..” Suaranya tercekat, bahkan dia tidak bisa mengucap nama istrinya dengan jelas. Rion duduk perlahan di tepian kasur, perut besarnya membuatnya mulai sulit bergerak. “Mimpi buruk lagi?” Rion menyisir rambut Kei ke belakang, kulitnya masih sangat panas.

“Masih demam.” Rion menghela nafas. Akhir-akhir ini Kei sering mimpi buruk, hal itu semakin diperparah dengan kondisi badannya yang sedang tidak sehat beberapa hari kebelakang.

“Maaf, Rion. Maaf.”

“Tidak. Tidak ada maaf-maaf. Ngapain? Orang kamu tidak salah apa-apa.” Rion lalu mengusap lengan Kei, “Kalau nanti sore masih demam, kita ke dokter. Aku gak mau tau.”

“Kamu tuh stres, Kei. Akhir-akhir ini juga kamu kerja terus. Aku tau HPL nya tinggal beberapa minggu lagi, tapi persiapan kita sudah lebih dari cukup, Kei. Adek bayi juga sehat.” Mata Rion agak memanas, sungguh dia khawatir sekali dengan suaminya itu.

“Rion, jangan nangis.”

“Diam dulu, aku lagi bicara.” Rion melotot kearah Kei. Lalu selanjutnya Rion memeluk badan Kei.

“J-jangan terlalu dekat, Rion. Nanti tertular.” Walaupun berkata demikian Kei malah bersandar ke bahu Rion. Wanita bersurai biru itu dapat merasakan panas di lehernya.

“Sayang, aku sangat takut. Aku bermimpi membunuhmu dengan tanganku sendiri. Itu terasa sangat nyata, Rion.” Rion membiarkan suaminya itu meluapkan segalanya, dia menepuk punggung Kei dengan lembut.

“Cuma mimpi Kei, cuma mimpi. Lihat, aku sehat begini juga.” Rion lalu mencoba mencairkan suasana. Kei lalu melepaskan dekapannya, tangannya sekarang mengelus pelan perut besar istrinya. Rion benar, Kei stres dan juga dia menyimpan banyak kekhawatiran. Dalam benaknya dia merasa belum bisa menjadi suami dan calon ayah yang baik. Dia merasa masih belum maksimal.

“Hari ini sepertinya aku akan WFH saja.” Ujar Kei yang berhasil mendapat jeweran dari Rion, Kei hanya meringis.

“Tidak ada kerja. Hari ini kamu istirahat. Kalau perlu sini aku yang bilang sama bos kamu.”

“Iya iya maaf sayang, aku istirahat.”



 

“Kan, melamun lagi.” Rion lalu menepuk pipi Kei. Beberapa hari berlalu, setelah Kei pulih dari sakitnya, dia kadang masih tidak sadar melamun memikirkan hari persalinan yang semakin dekat. Acap kali Kei menatap istrinya berjalan, dia dapat melihat bahwa kondisi perut besarnya sudah lebih turun dari sebelumnya.

“Maaf..” Ujar pria itu penuh penyesalan. Sekarang Rion membantu Kei untuk menyusun hasil belanjaan suaminya itu, sudah sepuluh kali Kei melarang Rion, sepuluh kali juga istrinya itu berakhir mengeluh agar tidak memperlakukan dia seperti orang sakit. Kei yang pada dasarnya suami takut istri itu ya hanya pasrah.

Kegiatan mereka berlangsung normal, hingga beberapa menit kemudian tangan Rion mulai bertumpu di atas meja, dia memegang pinggangnya, perutnya terasa mengencang, Rion menarik nafas dalam, dia merasakan kram dan mulas pada perut bagian bawahnya. Mendengar helaan nafas itu, membuat Kei yang sedang jongkok depan kulkas mengalihkan pandangan dengan cepat. Kei mengabaikan belanjaannya di lantai tergeletak begitu saja, dia memilih menghampiri istrinya dengan cepat.

“Rion? Sayang? Kenapa? Sakit? Kontraksi? HPL nya 2 minggu lagi kan. Aduh, bagaimana ini?” Kei membantunya untuk duduk.

“Jangan-jangan, adek mau keluar sekarang?” Kei panik, dia lalu terlihat ingin berdiri, tetapi dengan cepat Rion menarik lengannya untuk tetap duduk.

“Jangan aneh-aneh deh, ini kontraksi palsu kok. Memang seperti ini—“ Ucapan wanita itu terhenti dan dia kembali meringis, tangan Rion secara alamiah meremas rambut Kei. Kei hanya pasrah saja ketika rambutnya di acak-acak. Demi Rion. Demi anak mereka.

Setelah beberapa menit, kontraksi palsu itu perlahan menghilang, Rion lalu menghela nafas.

“Aneh sekali, kok lebih sakit kontraksi, dibanding bonyok habis berantem.”

“Rion, kok kamu masih bisa bersikap tenang seperti itu? Aku lho, sudah merasa jantung ini jatuh ke perut.” Kei memegang dadanya sendiri, karena panik.

“Lebay.” Rion lalu mengelus pipi suaminya itu. “Ya, itu semua karena aku tahu kita sudah mempersiapkan segalanya. Berkat kamu yang sudah berusaha maksimal untukku dan untuk anak kita. Papa keren banget.” Kei lalu tersipu mendengar pengutaraan isi hati istri cantiknya itu.

“Makanya Kei. Jangan stres, semua akan baik kalau kamu juga berpikiran baik. Kalau ada nominasi suami dan papa terbaik, kamu pasti menang deh” Rion terkekeh kecil

“Apaan sih. Kamu kan tau sendiri aku yatim piatu, aku juga tidak tahu rasanya disayang orang tua, dan juga bagaimana bersikap selayaknya seorang ayah. Aku masih harus banyak belajar.”

“Lho? Kamu pikir aku juga tidak harus belajar? Kita kan sama-sama pertama kali jadi orang tua.” Rion lalu merasakan satu tangannya digenggam dengan erat oleh suaminya, selain itu tangan Kei yang lain menyisir rambut Rion yang menghalangi pelipisnya. Setelah puas memandangi wajah istrinya telapak tangan Kei menyapa anak mereka.

“Dek sehat-sehat ya. Sebentar lagi kita bertemu, mohon bantuannya ya, kecil.”