Actions

Work Header

Prettiest to Me

Summary:

Tidak seperti biasanya, studio yang memang selalu berantakan itu tampak lebih berantakan dari terakhir kali sang kasih menjejakkan kaki di sana. Seluruh jendela dan pintu serta semua celah yang sekiranya terlihat dari luar ditutup sedemikian rupa karena satu dan dua alasan.

Notes:

Inspired by HYBS - Prettiest to Me

Work Text:

Tidak seperti biasanya, studio yang memang selalu berantakan itu tampak lebih berantakan dari terakhir kali sang kasih menjejakkan kaki di sana. Seluruh jendela dan pintu serta semua celah yang sekiranya terlihat dari luar ditutup sedemikian rupa karena satu dan dua alasan. Suara kepakan yang sangat familier tidak dihiraukan, tangan sang pemilik studio masih sibuk mencoret sisi kertas yang masih kosong sambil sesekali keningnya berkerut. Suara dering telepon juga tak disambut, meninggalkan beberapa jejak notifikasi panggilan tidak terjawab di layar dengan nama yang sama.

Akibat usaha yang Sylusㅡsang kasih lakukan untuk mendapatkan kabar dari yang tercinta tidak satu pun diindahkan, dengan cepat ia sambar jaket kulit hitamnya dan melenggang keluar sembari membawa kunci motor yang tergeletak di atas nakas. Satu ketukan, nihil. Dua ketukan, tetap sunyi. Tiga ketukan, Sylus putuskan untuk menggunakan hak istimewanya, yaitu akses kunci rumah yang dulu pernah kekasihnya berikan dengan alasan kalau saja ada keadaan mendesak dan mereka berdua lupa akan kode kunci digital bangunan mewah di Whitesand Bay itu.

Mungkin sang empu terlalu fokus dengan hal yang menjadi kesibukannya saat ini sampai ia tidak menyadari, bahwa Sylus sudah berada di jarak satu meter dari lantai tempat sang pemuda bersurai ungu itu dudukㅡbukan bersama tumpukan kanvas dan kaleng-kaleng cat lukis yang biasa menjadi pemandangan Sylus sehari-hari, melainkan kertas-kertas yang kini berserakan hampir di seluruh penjuru ruangan.

“Rafayel,”

Sylus menepuk kepala Rafayel pelan yang buat Rafayel menoleh cepat ke arah asal suara. Rafayel terkejut dan kemudian mengumpulkan semua kertas yang berserakan tadi menjadi satu tumpukan dan menyembunyikannya di balik badan.

“Syl? Kamu ngapain ke sini?” tanya Rafayel dengan kedua tangan yang masih berada di belakang tubuhnya.

Sylus terkekeh pelan. “Seharian nggak ada kabar, semua pintu dan jendela ditutup. Mephisto bilang kamu ada di studio tapi sama sekali nggak respon semua pesan, kira-kira wajar nggak aku kepikiran kalau kamu sakit?”

“Itu…cuaca terlalu cerah buat lukisan yang lagi aku kerjain.” dalihnya dengan sedikit gagap.

Sylus tersenyum menanggapi jawaban dari Rafayel yang ia seratus persen yakin hanyalah alasan semata. “I see.”

Rafayel mengulurkan tangan, meminta Sylus untuk membantunya bangkit dari posisi duduk di lantai yang disanggupi oleh pemuda yang lebih gagah. Si surai ungu tertarik ke atas dan menubruk tubuh Sylus tepat di dada, kepalanya mendongak dan menerima sebuah kecupan manis di pucuk kepala. Senyum terbit di wajah Rafayel. Ia memukul dada Sylus satu kali dengan kepalan tangan yang buat Sylus mengaduh pelan, lalu melangkah ke arah meja kecil tempat alat lukisnya beradaㅡmenyelipkan tumpukan kertas yang sedari tadi ia jauhkan dari pandangan kekasihnya.

“Kamu pasti belum makan sebelum ke sini. Mau makan apa, pak tua?” tanya Rafayel sambil menuntun Sylus ke arah meja makan.

Anything is fine, selama kamu yang masak.”

“Masakan kamu lebih enak,”

Nu-uh,” Sylus menggeleng. “Nothing beats my Lemurian seafood recipe.

Rafayel mati-matian menahan senyum. “Stop being sweet.”

Said the sweetheart himself.”

Rafayel selalu kalah telak jika dihadapkan oleh Sylus yang tidak pernah absen melontarkan kata-kata manis untuknya.

Seafood and wine it is.” ucap Rafayel final.

Sylus mengangguk setuju. “Aku bantu keluarin winenya aja, ya.”

Oh, you tease.”

Tawa jenaka temani adegan romansa masak memasak mereka. Sylus yang menyiapkan meja makan dan juga wine miliknya yang sengaja ia simpan beberapa di kediaman Rafayel. Di sisi lain, Rafayel sedang sibuk dengan cumi-cumi dan udang yang sedang ia bersihkan.

Merasa pekerjaannya sudah selesai, Sylus berbalik dan berjalan menuju kekasihnya berada. Diselipkannya dua lengan besar itu ke pinggang kesayangannya yang sedang sibuk mengupas kulit udang. Ia kecup sesekali pundak Rafayel yang membuat sang empu terkekeh geli.

“Minggir atau aku jejelin cumi?” ancam Rafayel dengan niat bercanda.

One minute for my daily dose wangi bubble bath kesukaan aku, please.”

Rafayel terkekeh, buat Sylus yang ada di bahunya bergerak seirama kekehannya. “Kangen banget, ya?”

“Sama wangi bubble bath-nya? Iya.”

Mendengar jawaban yang tak sesuai harapan, Rafayel berbalik dan mendorong Sylus menjauh dari tubuhnya lalu melenggang pergi ke arah letak kompornya berada. Sylus tertawa dan menggumamkan kata maaf.

“Kangen kamunya, sayang.”

Sesi makan terlewati dengan pujian Sylus terhadap hasil masakan Rafayel yang tidak pernah gagal, lalu menjanjikan di dinner date selanjutnya Sylus lah yang akan memasak. Dengan pipi yang penuh pun Rafayel tidak lupa untuk bercerita, bahwa sebelum Sylus datang, ada burung camar yang menabrak kaca jendela rumahnya kala ia melukisㅡmenambah alasan kenapa ia menutup segala akses jendelanya dengan tirai hari ini.

Setelah Sylus mencuci semua peralatan masak juga bekas makanan mereka, ia menghampiri Rafayel yang sedang membuka gawainya di sofa. Sylus mengambil tempat yang kosong di sebelah kekasihnya dan mengintip apa yang sedang ada di layar handphone Rafayel.

Another exhibition?” tanya Sylus sambil menarik pelan Rafayel ke arahnya untuk direngkuh.

“Iya, Thomas bilang ada yang nawarin buat submit 3 lukisan. Hm, menarik.”

Rafayel menyamankan kepalanya di atas dada bidang Sylus. “Oh iya, aku liat si kembar upload video baru di youtube. Prank lagi?”

Sylus mendengus. “Biasa, the kids punya ide. Kali ini prank buat mereka sendiri, kok. Aku cuma denger bagian ributnya aja dari kamar.”

“Mephi?”

“Dia sibuk ngeliatin jendela kamu yang ditutup rapet itu. Beneran di situ seharian sebelum akhirnya aku suruh balik biar aku aja yang ke sini.”

Rafayel terdiam dan merasa bersalah. Ia dengan panik ubah posisi untuk menghadap ke arah Sylus.

“Eh, ngomongin Mephisto, dia mau nggak aku jodohin sama burung camar temenku itu, si Lemon?” ucapnya sebagai usaha mengalihkan topik soal jendela tertutup itu.

“…I don’t think it’s a good idea, kitten.

Kitten? In this house we don’t believe catto exist.

I mean, fishie…

Percakapan demi percakapan terlewati. Sylus tidak bertanya lebih lanjut soal alasan Rafayel susah dihubungi hari itu, karena menurutnya Rafayel hanya belum siap memberitahukan yang sebenarnya. Jadi malam itu mereka isi dengan obrolan sehari-hari dari cerita tentang teman-teman laut Rafayel yang selalu ia temui ketika mencari kulit kerang dan tentang bisnis Sylus yang sedikit membuatnya sakit kepala akhir-akhir ini. Tidak lupa juga tepukan pelan menenangkan di punggung Rafayel serta usapan lembut di pucuk kepala Rafayel ikut mengisi kehangatan suasana bagi yang sedang memadu kasih tersebut.

“Jadinya kemarin auction-nya ditundaㅡ Fishie?”

Tidak ada jawaban dari yang ia dekap dengan hangat, hanya ada dengkuran halus dan napas yang teratur. Sylus menelisik wajah kekasihnya yang ternyata sudah melanglang buana dalam mimpi. Ia tersenyum dan langsung membawanya dalam gendongan untuk kemudian diletakkan di atas kasur milik Rafayel.

Well, I guess it’s time to go home. Aku balik ya, sayang.” bisiknya di telinga Rafayel dan berikan satu kecupan di dahi sebelum beranjak keluar kamar.

Sylus berjalan pelan menuju pintu keluar namun langkahnya terhenti ketika ia melewati meja tempat Rafayel menyimpan perlengkapan lukisnya. Tumpukan kertas yang tadi Rafayel selipkan di sana, jatuh berceceran ke lantai. Asumsinya, Rafayel terlalu panik untuk menyimpan tumpukan kertas itu dengan benar. Sylus mendekat dan memungut satu per satu kertas-kertas itu dan tidak sengaja membaca judul yang tertera di bagian atas.

For Syl’s birthday.

Sylus terkekeh pelan dan melihat partitur yang Rafayel tulis dalam lembaran musik itu dengan seksamaㅡbelum selesai karena banyak coretan tanda tanya di akhir nada tetapi bagi seseorang yang mempelajari musik, Sylus tau harus ke mana notasi musik itu mengalir. Ia putuskan untuk mengambil foto lembaran musik tersebut dan meletakkannya kembali ke dalam lemari kecil itu sebelum akhirnya melangkah pulang ke Onychinus.

 


Esok harinya, sesuai dengan pesan terakhir Sylus yang mengatakan bahwa ia akan lumayan sibuk hari itu, Rafayel sedikit lega karena bisa kembali fokus dengan proyek yang hampir gagal karena ia menghindari kontak dengan kekasihnya seharian.

Rafayel kali ini membuka jendelanya lebar-lebar, memanggil Lemon si burung camar dan teman-temannya dengan potongan roti sebagai kompensasi sudah bersedia menemaninya latihan bernyanyi dan memperbaiki notasi musiknya. Dikarenakan hari ini Mephisto juga hadir, maka Rafayel putuskan untuk berbicara menggunakan bahasa Lemuria kepada Lemon dan teman-temannya, yang disambut ramah oleh para unggas tersebut.

Uh, not sure about this one, nggak bikin outro-nya nggak masalah, kan?” tanyanya pada si Lemon.

Lemon mengangguk-anggukan kepala seolah paham soal masalah yang Rafayel hadapiㅡrealitanya ia menunggu suapan potongan roti dari Rafayel.

“Kayaknya nggak bisa dari A deh, terlalu tinggi. Nono, G mungkin terlalu rendah di bagian chorus. Arghㅡ”

Rafayel habiskan sore hari itu untuk menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena bingung harus melanjutkan lagunya seperti apa.

 


D-day.

“Aku ke Ony tapi belum tau jam berapa pastinya,” jelas Rafayel dalam panggilan telepon. “Yup, nanti aku kabarin lagi, ya, sayang. Aight, love you too.

Panggilan terputus, dengan cepat Rafayel menghubungi kontak lainnya yang langsung mendapat jawaban.

“Kue?”

Waitㅡ Solana udah kelar bikin, bentar lagi ke sana habis mandiin baby.” jawab Thomas dari sambungan telepon.

Ouchie, okie dokie artichokie. Salam buat si baby, ayahnya nggak usah. Smell you later.”

“Sialan.”

Drama sesi serah terima kue bersama Thomas dan Solana serta Thomas jr. selesai, waktunya Rafayel melesat menuju Onychinus. Menempuh rute yang sudah ia hapal di luar kepala, akhirnya Rafayel sampai di kediaman Sylus yang selalu ia sebut suram itu. Sebelum bertemu dengan pemilik rumah, Rafayel diam-diam menyempatkan diri untuk menghampiri dua prank master yang bernama Luke dan Kieran.

“Udah baca pesanku, ‘kan?” tanya Rafayel ketika ia sudah berada di dalam ruangan pribadi mereka.

“Udah,” sahut Kieran. “Tapi ulang tahun bossman bukan hari ini, deh?”

“Masa? Hari ini ‘kan, Luke?”

Luke menggaruk kepalanya bingung. “Bukan hari ini seingetku.”

Rafayel menatap keduanya dengan kecewa. “Terus….kuenya…?”

Si kembar Luke dan Kieran balik menatap pemuda dengan setelan putih terbaiknya itu dengan prihatin. Mereka berdua mengendikan bahu.

“Yaudah, kuenya kita makan bareng aja.” lanjut Rafayel dengan bahu terkulai lemah, meletakkan kotak kue yang ia bawa ke atas meja.

Sembari memakan kue yang Rafayel bawa, Kieran bercerita. “Sebenarnya, kami juga nggak tau kapan bossman ulang tahun. Kita tau ulang tahunnya di bulan April, tapi tanggal pastinya enggak. Jadi kita rayain aja setiap hari sampai nemu tanggal yang pas. Tapi hari ini lagi libur ngucapin, soalnyaㅡ”

“Fishie?”

Suara berat nan familier di telinga Rafayel itu membuat ketiganya menoleh dan mendapatkan Sylus berdiri di ambang pintu.

“Kamu di sini?” tanya Sylus sambil menyandar di bingkai pintu.

HAPPY BIRTHDAY, BOSSMAN! Ini ada kue! Akhirnya bossman ulang tahun beneran!” seru si kembar bersamaan.

Rafayel ganti menoleh lagi ke arah Luke dan Kieran, yang ditatap terkekeh sambil masih menguyah kue yang Rafayel bawa.

“Kalian berdua?!”

Sebelum Rafayel sempat melemparkan tantrum ke arah keduanya, Sylus menarik pergelangan tangan Rafayel dan membawanya keluar ruangan. Di sepanjang koridor Rafayel mencebikkan bibirnyaㅡmerasa kesal karena tertipu dengan ulah si kembar.

“Ingatanku beneran kayak ikan mas, ya?” gumamnya kesal.

Sylus usap pergelangan tangan Rafayel lembut dan mengecupnya. “Nggak ada yang bilang gitu. Udahan ngambeknya, sweetie. Aku mau nunjukin sesuatu buat ganti kue sama kejutan gagalnya, mau?”

Rafayel mengangguk, ia genggam erat telapak tangan Sylus dan mengikuti arah langkah besar kekasihnya.

Mereka berdua memasuki sebuah ruangan yang tak jauh dari kamar Sylus, tempat Sylus menyimpan segala hobi bermusiknya. Sylus bawa Rafayel mendekati sebuah piano klasik berwarna putih di ujung ruangan.

“Duduk sini.” tawar Sylus pada Rafayel untuk mengisi bagian kosong kursi panjang di sebelahnya.

Tangan besar itu mulai menekan tuts piano satu per satu yang kemudian merangkai nada indah. Dua baris nada dalam partitur terlewati, tiba-tiba Rafayel terdiam sembari menatap Sylus penuh tanya. Yang ditatap mengulum senyum sambil terus berusaha melanjutkan permainannya pada tuts piano.

No way….kok….kamu tau dari mana?!” Rafayel menarik lengan Sylus agar atensinya teralihkan padanya.

Alih-alih menjawab, Sylus melepaskan cengkraman tangan Rafayel di lengannya dan mengecup telapak tangan yang terlihat mungil di genggamannya itu.

“Nyanyiin buat aku, mau?” ajaknya pada sang penulis lagu.

So won’t you sing along, to our brand new song.

Rafayel mengangguk dan mulai menyanyikan bait demi bait, lirik demi lirik, dan nada demi nada Sylus iringi lantunan indah itu dengan alunan pianonya. Rafayel sebenarnya agak kalut dan kurang percaya diri karena masalah yang ia hadapi soal lagu ciptaannya belum mendapatkan solusi. Namun, Sylus tidak juga berhenti di saat Rafayel kebingungan harus melanjutkan apa. Sylus menatap mata Rafayel lembut dan meyakinkannya untuk kembali bernyanyi. Dengan dukungan semanis itu, Rafayel kembali melantunkan lirik yang otaknya bisa proses saat itu juga tanpa Sylus menyebutkan satu kata pun. Mengikuti kemana arah nada yang Sylus mainkan, lagu itu pun mencapai akhir penutup yang Rafayel bimbangkan pada hari-hari sebelumnya. Lagu itu singkat tapi melekat pada benak masing-masing dari yang sedang saling tatap.

It might not last forever, but ain’t it pretty?

“Kamu bikin lagu ini buat aku?” tanya Sylus memecah keheningan.

Yang ditanya lempar pandangan ke arah lain, dengan pelan ia mengangguk malu. “Iya…”

“Cantik, kayak yang nyiptain.”

Semburat merah timbul dari ujung ke ujung telinga yang dipuji. Sudah begitu, mana bisa Rafayel sembunyikan wajahnya lagi?

“Sebenarnya lagu ini belum selesai, tapi kamu lanjutin terus melodinya jadi aku improvisasi liriknya juga. I don’t think it can be called perfect tho.

I’ll write the melody, you write the words for me.

“Mantan penyanyi profesional, ya, no wonderEven if it was improvised, still pretty — the prettiest to me because you put your whole heart into this masterpiece.” Sylus kecup sekali lagi telapak tangan sang kekasih, berusaha kembalikan kepercayaan dirinya.

It might not be the prettiest, but it’s the prettiest to me.

Sylus hapus jarak antara wajah keduanya, mengusakkan hidung bangirnya ke pucuk hidung yang lain. “Is it really my birthday present?

Rafayel terkekeh dan melingkarkan kedua lengannya ke leher Sylus. “Yup. Happy birthday, pak tua.”

The best present ever. Thank you, the best fishie in the world, as known as mine.

Sooo cheesy, as always. I love you.

You are, you are, the prettiest to me.

 

ㅡfin.