Actions

Work Header

Proximity (Coupshan)

Summary:

Terjebak dalam pernikahan yang dingin di sebuah penthouse mewah, Jeonghan merasa kian terasing dari suaminya, Seungcheol, dan menjadi pelengkap egonya semata.

Work Text:

Jarum jam di dinding marmer itu belum menyentuh angka enam, tetapi apartemen penthouse di kawasan Hannam-dong tersebut sudah terjaga.

Atau lebih tepatnya, salah satu penghuninya tidak pernah benar-benar tidur.

Yoon Jeonghan menatap langit-langit kamar yang tinggi, memerhatikan bagaimana bias cahaya lampu jalanan perlahan digantikan oleh abu-abu pucat fajar yang menyelinap dari balik tirai otomatis. Langit-langit itu tampak begitu jauh, seolah mencerminkan jarak yang membentang di antara dua jiwa yang menghuni ruangan ini.

Di sebelahnya, sisi kasur terasa dingin. Bukan karena kosong, melainkan karena sosok yang berbaring di sana memancarkan aura asing yang membekukan tulang.

Choi Seungcheol tertidur dengan punggung menghadapnya. Punggung lebar yang dulu menjadi tempat Jeonghan melarikan diri dari dunia, kini justru menjadi tembok paling kokoh yang memisahkan mereka. Bahu tegap itu tidak lagi menawarkan perlindungan, melainkan penolakan bisu. Napas pria itu teratur, berat, dan berjarak.

Ada bentangan sepuluh sentimeter ruang kosong di antara tubuh mereka di atas ranjang king size itu, namun rasanya seperti jurang yang tak mungkin dijembatani. Jurang yang digali oleh ribuan kata yang tak terucap dan ratusan janji yang terlupakan.

Jeonghan menghela napas, uap tipis seolah bisa terlihat di udara kamar yang diatur terlalu rendah suhunya. Ia merasa seperti hantu yang menghantui rumahnya sendiri. Ia bangkit tanpa suara, kaki telanjangnya menyentuh lantai kayu herringbone yang dingin. Sensasi dingin itu merambat naik, namun tidak sebanding dengan kebekuan di dadanya. Rutinitas pagi dimulai seperti koreografi bisu yang telah ia hafal di luar kepala selama tiga tahun terakhir. Ia bergerak otomatis, tanpa jiwa.

Dapur penthouse itu luas, didominasi warna monokromatik dan permukaan stainless steel yang berkilau hampa. Segalanya di apartemen ini berteriak tentang kekayaan, tentang kesuksesan, namun miskin akan kehangatan. Tidak ada foto liburan di kulkas, tidak ada tempelan catatan manis. Hanya kemewahan yang steril. Mesin kopi berdengung pelan, satu-satunya suara yang berani memecah keheningan yang menyesakkan.

Aroma arabika yang pekat menguar, namun gagal memberikan kehangatan yang diharapkan. Dulu, aroma ini adalah tanda dimulainya hari yang penuh tawa. Sekarang, ini hanyalah tanda dimulainya jam kerja. Jeonghan meletakkan cangkir keramik hitam di atas kitchen island, tepat di sisi di mana Seungcheol biasa berdiri -- sebuah ritual pelayanan yang mulai terasa seperti kewajiban mekanis daripada gestur cinta.

Pukul enam lewat lima belas. Pintu kamar utama terbuka.

Seungcheol keluar, sudah rapi dengan setelan jas abu-abu arang yang membalut tubuh tegapnya dengan presisi militer. Tidak ada sehelai rambut pun yang keluar dari tempatnya. Dia adalah patung kesempurnaan. Dasi sutra biru tua -- pilihan Jeonghan minggu lalu yang baru sempat dipakai -- terikat rapi di leher.

Ironis, pikir Jeonghan. Seungcheol memakai dasi pilihannya, tapi tidak pernah menatap mata orang yang memilihkan dasi itu. Pria itu tampak gagah, dominan, dan sepenuhnya tidak terjangkau. Seungcheol adalah personifikasi kesuksesan, citra sempurna pewaris chaebol yang digadang-gadang akan memimpin konglomerasi raksasa.

“Pagi,” gumam Seungcheol, suaranya parau khas bangun tidur, namun matanya sudah tajam menatap layar tablet di tangan kiri, memindai indeks saham global yang bergerak semalam.

Tidak ada kontak mata. Tidak ada senyum. Hanya bisnis.

“Pagi,” balas Jeonghan.

Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, serak karena jarang digunakan untuk percakapan yang bermakna akhir-akhir ini.

“Kopinya,” Seungcheol menyesap cairan hitam itu dalam satu tegukan besar, seolah itu hanyalah bahan bakar oktan tinggi, bukan sesuatu yang diracik dengan afeksi. “Aku pulang larut lagi hari ini. Ada pertemuan dengan investor dari Jepang. Jangan tunggu aku.”

Kalimat itu sudah menjadi mantra harian. Jeonghan hanya mengangguk, jari-jarinya memainkan ujung lengan piyamanya yang berbahan satin, mencari pegangan. Ia ingin berteriak, ingin bertanya, kapan kau pulang untukku? Tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

“Makan malam?”

“Di luar. Sekretaris Kim sudah mengatur reservasi untuk klien.”

Seungcheol meletakkan cangkir yang kini kosong dengan bunyi denting pelan. Ia melangkah mendekat, mencondongkan tubuh sedikit. Jeonghan memejamkan mata secara refleks, menanti sentuhan bibir di kening atau bibirnya. Sisa-sisa harapan yang bodoh. Namun, yang ia rasakan hanyalah kecupan sekilas di pipi -- dingin, cepat, dan pragmatis. Seperti stempel persetujuan pada dokumen bisnis yang harus segera diselesaikan.

Checklist tugas suami: selesai.

“Aku berangkat,” ujar Seungcheol, sudah berbalik menuju pintu foyer bahkan sebelum Jeonghan sempat membuka mata kembali.

Punggung itu menjauh, membawa serta sisa oksigen di ruangan itu. Suara pintu yang tertutup terdengar seperti dentuman palu hakim yang memvonis kesepian. Hening kembali meraja. Jeonghan berdiri mematung di tengah dapur mewah yang berkilauan ditimpa matahari pagi. Ia dikelilingi perabot impor dari Italia, lukisan abstrak bernilai ratusan juta won, dan pemandangan Sungai Han yang menakjubkan dari jendela floor-to-ceiling.

Orang luar akan melihat surga. Namun bagi Jeonghan, ia sedang berdiri di tengah gurun pasir. Gurun yang penuh dengan emas, namun tidak memiliki setetes air pun untuk membasuh dahaganya akan kasih sayang. Mereka berbagi alamat yang sama, tempat tidur yang sama, bahkan rekening bank yang sama. Namun, di antara inci jarak fisik yang memisahkan tubuh mereka di malam hari, terbentang samudra kesalahpahaman yang tak terukur luasnya.

Kedekatan fisik, pada kenyataannya, tidak pernah menjamin kedekatan hati.

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Makan malam bulanan di kediaman utama keluarga Choi selalu terasa seperti ujian masuk universitas yang tidak berkesudahan.

Ruang makan bergaya tradisional itu sarat dengan aroma dupa mahal, kayu tua, dan ekspektasi yang menyesakkan dada. Setiap sudut ruangan seolah memiliki mata yang menilai kelayakan siapa pun yang duduk di sana. Jeonghan duduk tegak di samping Seungcheol, postur tubuhnya sempurna, senyumnya terukur. Ia tahu perannya di sini; menantu yang manis, pendukung setia, “trofi” indah yang mempercantik citra sukses Choi Seungcheol. Ia adalah ornamen yang diam.

Ayah Seungcheol, Tuan Besar Choi, seorang pemimpin keluarga dengan tatapan setajam elang dan aura yang membuat ruangan terasa lima derajat lebih dingin, meletakkan sumpit peraknya. Denting logam beradu dengan piring porselen terdengar nyaring, menghentikan percakapan ringan ibu Seungcheol tentang klub bunga.

“Bagaimana proyek perluasan di Gangnam?” tanya sang ayah, tanpa basa-basi, suaranya berat menuntut jawaban presisi.

“Berjalan sesuai rencana, abeoji,” jawab Seungcheol sigap.

Tangannya sibuk memotong daging di piringnya dengan presisi bedah, namun tidak satu potong pun ia pindahkan ke piring Jeonghan seperti yang biasa dilakukannya saat masa pacaran dulu. Fokus pria itu sepenuhnya pada pria tua di ujung meja. Seungcheol sedang dalam mode tempur, mode bertahan hidup untuk memuaskan sang raja.

“Kami memproyeksikan keuntungan dua puluh persen di kuartal pertama.”

“Bagus,” sang ayah mengangguk kaku, sebuah pujian langka.

Tatapannya beralih pada Jeonghan sejenak -- sebuah tatapan menilai -- sebelum kembali ke putranya. Tatapan yang mengatakan, “Apakah ‘benda’ ini masih berguna untukmu?”

“Dan rencana ke New York? Cabang di sana butuh pimpinan yang kompeten untuk restrukturisasi total. Para direksi sepakat, kau satu-satunya yang bisa diandalkan untuk membereskannya.”

Jeonghan membeku, sumpit di tangannya nyaris terlepas. New York?

Jantungnya berdegup kencang, menabrak tulang rusuk. Seungcheol tidak pernah menyebutkan sepatah kata pun tentang New York. Tidak dalam sarapan singkat mereka, tidak dalam pesan teks yang jarang, tidak pula di sela-sela tidur mereka. Bagaimana bisa keputusan sebesar ini disembunyikan darinya?

“Tentu,” jawab Seungcheol lancar, nadanya datar seolah sedang mendiskusikan cuaca. “Aku sudah memikirkannya. Mungkin akhir tahun ini waktu yang tepat untuk pindah. Tim di sini sudah cukup solid untuk ditinggal.”

Darah Jeonghan berdesir turun ke kaki, meninggalkan wajahnya pucat pasi. Ia menoleh perlahan, menatap profil samping suaminya yang tampak begitu tenang, begitu asing. Siapa pria ini?

“Seungcheol-ah?” panggilnya pelan, nyaris berbisik karena tenggorokannya tercekat. “New York?”

Seungcheol menoleh sekilas, memberikan senyum tipis yang tidak mencapai mata -- senyum ‘sopan’ yang ia gunakan untuk menenangkan klien yang rewel. Di balik meja, tangannya menepuk paha Jeonghan sekali, sebuah isyarat untuk diam.

Diam. Jangan bikin malu.

“Hanya untuk tiga atau empat tahun, sayang. Itu peluang besar untuk portofolio perusahaan. Langkah terakhir sebelum posisi CEO.”

“Tapi...” Jeonghan menelan ludah, berusaha mati-matian menjaga suaranya tetap stabil di depan mertuanya yang menatap tajam. “Galeri seniku... baru saja mulai stabil di sini. Kami baru mendapat kontrak pameran besar. Dan ibu... kondisinya sedang menurun bulan ini. Dokter bilang dia butuh pengawasan keluarga.”

Suasana di meja makan berubah menjadi intens dan tidak nyaman. Tuan Besar Choi mendengus pelan, jelas tidak suka rencananya dipertanyakan dengan alasan sentimental.

“Ibumu bisa dirawat oleh perawat terbaik, kita bisa membayarnya. Fasilitas VIP di rumah sakit Seoul jauh lebih baik daripada perawatan rumahan,” jawab Seungcheol, nadanya final, memotong argumen Jeonghan seperti pisau panas membelah mentega. Ia kembali menatap ayahnya, mengabaikan tatapan terluka suaminya. “Jeonghan akan mengerti. Dia selalu mendukung karierku. Lagi pula, dia bisa beristirahat di sana. Tidak perlu lelah bekerja mengurus galeri kecil itu. Di New York, dia bisa fokus belanja atau bersosialisasi.”

Galeri kecil itu.

Tiga kata itu menghantam dada Jeonghan lebih keras daripada tamparan fisik. Galeri itu adalah jiwanya. Itu adalah tempat ia menumpahkan kreativitas saat kesepian di rumah membunuhnya perlahan. Itu adalah identitasnya di luar “Nyonya Choi”. Dan bagi Seungcheol, itu hanyalah hobi sepele, mainan anak kecil yang bisa dibuang demi ambisi korporat.

Ibu Seungcheol tersenyum lebar, memecah ketegangan dengan tawa renyah yang palsu. “Ah, menantu kami memang pengertian. Kalian pasangan yang serasi. Seungcheol memimpin, Jeonghan mendukung. Begitulah seharusnya rumah tangga.”

Jeonghan mencengkeram kain serbet di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih, kukunya menancap ke telapak tangan. Ia memaksakan sudut bibirnya naik, membentuk senyuman retak. Di dalam, sesuatu yang rapuh akhirnya hancur berkeping-keping. Ia bukan lagi pasangan. Ia adalah koper. Benda mati yang bisa dipindahkan ke mana saja sesuai keinginan pemiliknya. Kehadirannya dianggap ada, tapi suaranya dianggap tiada.

Malam itu, perjalanan pulang diisi dengan keheningan yang lebih pekat dari biasanya. Seungcheol menyetir mobil sport Jerman miliknya dengan satu tangan, tangan lainnya mengetuk-ngetuk setir mengikuti irama lagu jazz dari radio, tampak puas dengan hasil makan malam tadi. Ia sama sekali tidak menyadari -- atau memilih untuk tidak peduli -- bahwa penumpang di sebelahnya sedang menyusun tembok pertahanan yang tinggi dan tak tertembus.

“Kau diam saja,” komentar Seungcheol saat mobil memasuki basement apartemen yang remang.

“Aku lelah,” jawab Jeonghan singkat, suaranya hampa.

Ia keluar dari mobil bahkan sebelum mesin mati sempurna, langkahnya menggema sendirian menuju lift.

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Perubahan itu tidak terjadi dengan ledakan, melainkan pengikisan perlahan.

Seperti ombak yang menjilat karang, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya struktur itu runtuh dan tenggelam. Seminggu setelah makan malam itu, Seungcheol mulai merasakan ada yang salah. Atmosfer di rumah berubah dari sekadar ‘sunyi’ menjadi ‘bermusuhan’.

Awalnya, hal-hal kecil. Tidak ada lagi setelan jas yang sudah disiapkan di atas kasur setiap pagi. Seungcheol harus mencarinya sendiri di walk-in closet seluas kamar tidur normal, yang meskipun tertata rapi, terasa membingungkan baginya yang terbiasa dilayani. Kemeja putihnya ada di rak mana? Dasi mana yang cocok? Kebingungan kecil di pagi hari itu menciptakan iritasi yang menumpuk.

Lalu, pesan teks. Ponsel Seungcheol yang biasanya bergetar di jam makan siang dengan pesan berisi foto makanan, kabar tentang lukisan baru, atau sekadar “Jangan lupa makan, sayang” kini mati suri. Kolom chat mereka hanya berisi instruksi teknis dari Seungcheol seperti “Aku pulang telat” atau “Siapkan berkas pajak”. Dan balasan Jeonghan selalu satu kata, “Oke”.

Puncaknya adalah sentuhan.

Malam itu, sepuluh hari setelah rencana “New York” diketahui, Seungcheol pulang dalam keadaan sedikit mabuk. Alkohol memberinya keberanian semu dan sedikit kelonggaran dari stres pekerjaan. Ia masuk ke kamar tidur, dasinya sudah longgar, kemejanya berantakan. Lampu kamar sudah dimatikan, hanya lampu baca di sisi Jeonghan yang menyala redup, menciptakan lingkaran cahaya kuning di tengah kegelapan. Pria cantik itu sedang membaca buku, kacamata bertengger di hidung bangirnya, wajahnya tenang namun dingin.

“Hei,” sapa Seungcheol, duduk di tepi ranjang. Berat tubuhnya membuat kasur sedikit melesak.

Jeonghan tidak menoleh. Matanya tetap terpaku pada halaman buku yang sama sejak sepuluh menit lalu. “Kau bau alkohol.”

“Hanya sedikit. Wiski dengan klien, merayakan pra-kontrak,” Seungcheol mendekat, merangkak naik ke atas kasur.

Tubuhnya merindukan kehangatan. Di tengah tekanan pekerjaan yang gila, ia ingin memeluk suaminya, menenggelamkan wajah di leher yang wangi vanila itu, tempat di mana ia biasa menemukan ketenangan. Tangan besarnya terulur di bawah selimut, menyentuh pinggang Jeonghan, meraba kulit halus di balik piyama sutranya.

“Hanie...”

Seketika, Jeonghan menepisnya. Gerakannya tidak kasar, tapi tegas dan penuh penolakan.

Seungcheol tertegun. Tangannya menggantung di udara, ditolak mentah-mentah. “Hanie?”

“Aku mau tidur, Seungcheol. Besok aku harus ke galeri pagi-pagi, ada kurator tamu yang datang,” ujar Jeonghan dingin. Ia menutup bukunya, meletakkan kacamata di nakas, lalu mematikan lampu tanpa melihat ke arah suaminya sedikit pun.

Gelap gulita.

“Kenapa kau jadi begini?” tanya Seungcheol, suaranya mulai meninggi. Frustrasi bercampur alkohol membakar kesabarannya. “Sejak makan malam di rumah orang tuaku, kau berubah. Kau menghukumku? Karena aku ingin karier kita maju?”

“Maju?” Suara Jeonghan terdengar dari kegelapan, tajam seperti silet yang mengiris kain sutra. “Kau yang maju, Seungcheol. Aku hanya bagasi yang kau seret. Jangan campur adukkan ambisimu dengan ‘kita’.”

“Aku bekerja keras untuk kita! Untuk masa depanmu juga! Kau tinggal di penthouse, kau pakai kartu kreditku tanpa limit, kau tidak perlu pusing soal tagihan. Apa lagi yang kurang?” protes Seungcheol.

Ia merasa harga dirinya diserang. Ia adalah pemberi nafkah, pelindung. Bagaimana bisa itu tidak cukup?

Hening sejenak. Sangat hening hingga desau AC terdengar seperti badai. Lalu terdengar suara selimut ditarik. Jeonghan memunggunginya.

“Tidurlah. Kau mabuk. Bicara denganmu saat ini hanya membuang tenaga.”

Penolakan itu membakar ego Seungcheol. Ia merasa tidak dihargai. Ia merasa semua jerih payahnya, lembur malamnya, ramah-tamahnya pada klien, dianggap angin lalu. Dengan kasar, ia menarik selimutnya sendiri, memunggungi Jeonghan. Di ranjang king size itu, punggung mereka saling membelakangi.

Jarak fisik yang dekat, namun secara emosional, mereka berada di dua kutub yang berlawanan.

Malam itu, Seungcheol tidur dengan rasa amarah, sementara Jeonghan tidur dengan air mata yang merembes diam-diam ke bantal.

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Dua minggu berlalu dalam mode ‘perang dingin’.

Atmosfer apartemen begitu kental dengan ketegangan hingga rasanya sulit bernapas. Para asisten rumah tangga bahkan bekerja dengan berjinjit, takut memicu ledakan dari salah satu majikan mereka. Malam itu hujan badai mengguyur Seoul. Kilat menyambar, menerangi langit kota yang kelabu.

Seungcheol pulang pukul sebelas malam, dalam keadaan basah kuyup. Ia nekat berlari dari parkiran lobi tamu tanpa payung karena sopirnya sudah pulang -- sebuah tindakan impulsif karena kemarahannya yang menumpuk seharian di kantor akibat negosiasi yang alot. Ia masuk ke penthouse, air menetes dari jas mahalnya ke lantai marmer. Ia mendapati Jeonghan sedang duduk di sofa ruang tengah, menatap jendela besar yang basah oleh hujan.

Tidak ada sambutan. Tidak ada handuk kering yang disodorkan. Tidak ada kekhawatiran.

Seungcheol merasa transparan, tidak dianggap.

“Kau bahkan tidak melihatku!” geramnya.

Kesabarannya putus. Tas kerjanya ia lempar ke lantai dengan bunyi ‘gedebuk’ keras yang menggema. Jeonghan menoleh perlahan. Wajahnya lelah, matanya sembab, namun ekspresinya datar, seolah ia sudah kehabisan energi untuk bereaksi.

“Aku melihatmu, Cheol. Masalahnya, kau yang tidak pernah melihatku.”

“Jangan mulai bicara dengan teka-teki sialan!” bentak Seungcheol. Suaranya menggelegar, bersaing dengan guruh di luar. Ia berjalan mendekat, amarah menguasai akal sehatnya. “Katakan apa maumu! Kau ingin tas baru? Mobil baru? Liburan ke Eropa? Katakan! Aku akan belikan sekarang juga agar kau berhenti memasang wajah menyedihkan itu!”

Jeonghan berdiri. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada api kemarahan di matanya yang biasanya lembut.

“Aku ingin suamiku kembali!” Teriakan Jeonghan memecah udara, membuat Seungcheol terdiam seketika. Ia lalu melangkah maju, pertahanannya runtuh. Air mata mulai mengalir deras di pipinya. “Aku tidak butuh uangmu! Aku punya uangku sendiri! Aku tidak butuh apartemen ini jika isinya hanya kehampaan! Kau pikir aku menikahimu untuk menjadi pajangan di rumah mewah ini? Untuk mengangguk setuju saat kau merencanakan membuang hidupku ke benua lain tanpa bertanya padaku?!”

Dada Jeonghan naik turun menahan isak yang menyakitkan.

“Kau bilang kau bekerja untuk ‘kita’. Tapi setiap kali kau sukses, kau makin jauh. Kau merencanakan masa depan di New York, kau menyimpannya sendiri seolah pendapatku tidak penting, seolah aku akan menghalangimu! Kau lupa hadir di masa sekarang, di sini, bersamaku!”

Seungcheol membuka mulut untuk membela diri. “Aku tidak memberitahumu karena aku tahu kau akan menolak! Aku pikir jika SK itu sudah turun, jika posisinya sudah pasti, kau akan melihat peluangnya. Bahwa kita bisa menguasai semuanya!”

“Menguasai apa?!” potong Jeonghan, suaranya parau. “Menguasai dunia tapi kehilangan rumah? Aku kesepian, Seungcheol... Ya Tuhan, aku sangat kesepian...”

Tubuh Jeonghan merosot, ia memeluk dirinya sendiri, gemetar hebat. “Aku menikah denganmu karena aku mencintaimu, bukan ambisimu. Tapi sekarang... rasanya aku hidup dengan hantu yang hanya pulang untuk ganti baju dan tidur. Jika New York adalah masa depanmu, pergilah sendiri... Aku tidak bisa ikut.”

Kalimat terakhir itu -- pergilah sendiri -- menghantam Seungcheol lebih keras dari petir mana pun.

Ia terpaku di tempatnya. Matanya menelusuri sosok di hadapannya. Ia melihat tangan Jeonghan yang gemetar, melihat betapa kurusnya pria itu sekarang, melihat lingkaran hitam di bawah matanya yang indah. Ia melihat foto pernikahan mereka di dinding, sedikit miring akibat getaran lemparan tasnya tadi -- simbol sempurna dari kehidupan mereka saat ini.

Tiba-tiba, argumen tentang “tanggung jawab” dan “warisan” terasa sangat konyol. Seungcheol menyadari bahwa ia sedang memenangkan dunia tetapi kehilangan satu-satunya orang yang membuat dunia itu layak ditinggali. Ketakutan merayap dingin di punggungnya -- bukan takut gagal bisnis, tapi takut pulang ke rumah yang benar-benar kosong.

Apa yang sudah kulakukan? batinnya menjerit.

Egonya hancur berkeping-keping, digantikan oleh kepanikan murni. Kakinya bergerak sendiri, bukan untuk marah, tapi untuk meraih.

“Maaf...” Satu kata itu keluar bersamaan dengan rengkuhan erat lengan Seungcheol di tubuh Jeonghan.

Ia menarik tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya, tidak peduli jas basahnya membasahi piyama kering Jeonghan.

“Maafkan aku, Hanie... Maafkan aku...” Seungcheol membenamkan wajahnya di ceruk leher Jeonghan, terisak. Pertahanan dirinya runtuh total. “Aku bodoh. Aku takut... aku takut kalau aku tidak sukses, aku tidak pantas untukmu. Aku pikir cinta itu berarti memberimu segalanya! Aku pikir kau butuh Seungcheol yang hebat, bukan Seungcheol yang biasa saja!”

Jeonghan awalnya kaku dalam pelukan itu, terkejut dengan keruntuhan suaminya yang tiba-tiba. Ia merasakan bahu tegap itu terguncang hebat oleh tangisan. Namun, berbeda dengan masa lalu di mana ia akan luluh seketika, malam ini Jeonghan tidak membalas pelukan itu dengan erat. Perlahan, tangan Jeonghan naik. Bukan untuk memeluk, tapi untuk menahan dada Seungcheol. Dengan lembut namun tegas, ia mendorong suaminya menjauh.

Melepaskan diri dari rengkuhan yang basah dan putus asa itu.

“Cheol...” panggil Jeonghan, suaranya tenang tapi sarat luka.

Seungcheol menatapnya dengan mata merah dan basah, bingung dengan jarak yang tiba-tiba tercipta kembali. “Hanie?”

“Kau minta maaf karena kau takut aku pergi malam ini,” kata Jeonghan, menatap lurus ke mata suaminya. “Kau menangis karena egomu terluka. Tapi air mata saja tidak cukup untuk mengembalikan tiga tahun yang hilang. Maaf saja tidak bisa menghapus rasa sepi yang kau tanam di rumah ini.”

“Tidak, aku bersungguh-sungguh...” Seungcheol mencoba meraih tangan Jeonghan lagi, tapi Jeonghan mundur selangkah.

“Kau bersungguh-sungguh sekarang. Tapi besok pagi? Saat matahari terbit dan ayahmu menelepon, kau akan kembali menjadi CEO Choi yang patuh. Kau akan kembali memakai topeng sempurnamu, dan aku akan kembali menjadi koper yang siap kau seret ke New York.”

“Aku tidak akan --”

“Jangan berjanji. Aku lelah dengan janji yang diucapkan di malam hari dan dilupakan di pagi hari,” potong Jeonghan sebelum berbalik, mengusap sisa air matanya. “Mandi dan tidurlah. Kau bau alkohol dan hujan. Aku akan tidur di kamar tamu malam ini.”

Ia berjalan menjauh, meninggalkan suaminya yang terpaku di tengah ruang tamu yang gelap. Untuk pertama kalinya, Seungcheol menyadari bahwa uang dan kekuasaannya tidak memiliki nilai tukar di sini.

Ia sendirian, benar-benar sendirian.

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Sinar matahari pagi kembali menyapa kamar tidur itu, namun kali ini suasananya berbeda.

Tidak ada kehangatan. Hanya ada gema kesepian yang lebih nyaring dari sebelumnya. Seungcheol terbangun di ranjang utama yang kosong. Kepalanya berdenyut sisa alkohol dan tangis semalam. Ia meraba sisi kasur Jeonghan. Dingin, rapi, tidak tersentuh. Kepanikan menyergapnya. Dengan langkah sempoyongan, ia berlari ke luar kamar, menuju dapur. Tidak ada aroma kopi. Tidak ada suara mesin espreso.

Di ruang tengah, Jeonghan sudah berdiri. Ia tidak mengenakan piyama satinnya. Ia mengenakan trench coat berwarna beige, rapi, cantik, namun berjarak. Di samping kakinya, ada sebuah koper kecil. Bukan koper besar untuk pindahan, tapi cukup untuk menyatakan ketiadaan seseorang di rumah itu.

Jantung Seungcheol berhenti berdetak. “Kau... kau mau pergi?”

Jeonghan menatapnya tenang. Wajahnya sembab, tapi tekadnya terlihat jelas. “Aku akan tinggal di studio galeriku untuk sementara waktu. Ibuku butuh perawatan ekstra, dan aku butuh ruang untuk berpikir apakah pernikahan ini masih memiliki masa depan selain menjadi aksesoris kariermu.”

“Jeonghan, tolong...” Seungcheol melangkah maju, putus asa. “Kita bisa bicarakan ini. Aku akan membatalkan rapat. Aku akan --”

Jeonghan mengangkat tangan, menghentikan langkah Seungcheol.

“Tiket ke New York masih ada di e-mailmu, Cheol,” kata Jeonghan. Suaranya datar. “Pilihan ada di tanganmu sekarang.”

“Pilihan apa?”

“Pergilah ke kantor, temui ayahmu, tanda tangani kontrak itu, dan jadilah CEO kebanggaan keluarga Choi di New York. Jika kau memilih itu, pergilah. Jangan cari aku lagi. Anggap aku sudah mati.”

Napas Seungcheol tercekat.

“Tapi...” Jeonghan melanjutkan, suaranya sedikit bergetar, “jika kau masih menginginkan ‘kita’... jika kau masih menginginkan Yoon Jeonghan lebih dari kau menginginkan kursi CEO... datanglah ke galeriku malam ini sebelum tutup.”

Jeonghan menatap mata Seungcheol tajam.

“Tapi hanya jika kau datang sebagai suamiku. Bukan sebagai pewaris keluarga Choi. Bukan sebagai boneka ayahmu. Datanglah sebagai dirimu sendiri, tanpa membawa beban nama besar di punggungmu. Bisakah kau lakukan itu?”

Tanpa menunggu jawaban, Jeonghan menarik kopernya. Roda koper itu bergemuruh di lantai, suara yang menyakitkan telinga.

“Sampai jumpa, atau selamat tinggal, Seungcheol.”

Suara pintu tertutup terdengar seperti vonis hakim.

Seungcheol ditinggalkan sendirian di istana marmernya. Hening. Sangat hening hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang ketakutan. Ia melihat ke sekeliling. Perabotan Italia, lukisan mahal, pemandangan Sungai Han  -- semuanya terlihat seperti sampah...

Semuanya tidak ada artinya tanpa Jeonghan.

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Hari itu, Seungcheol tidak pergi ke kantor pusat di Gangnam.

Sekretaris Kim meneleponnya puluhan kali, tapi ponselnya dimatikan. Mobil sport Jermannya melaju menembus sisa hujan semalam menuju kediaman utama keluarga Choi. Ia membawa map kulit berisi surat persetujuan mutasi ke New York yang seharusnya ia tanda tangani hari ini. Di ruang kerja ayahnya yang beraroma kayu tua dan intimidasi, Seungcheol meletakkan map itu di meja.

“Aku menolaknya,” kata Seungcheol.

Suaranya tenang, berbeda dengan nada patuh yang selalu ia gunakan seumur hidupnya di hadapan pria tua itu.

Tuan Besar Choi menatapnya dari balik meja mahoni besar, matanya menyipit berbahaya. “Kau sadar apa yang kau ucapkan? Ini perintah direksi. Menolak ini artinya kau membangkang. Artinya kau tidak kompeten memimpin!”

“Kalau begitu, cari orang lain,” balas Seungcheol tanpa ragu. “Berikan pada Mingyu. Atau siapa pun yang bersedia menukar jiwanya dengan saham!”

“Kau memilih ‘seniman’ itu dibanding warisanmu?” Ayahnya berdiri, wajahnya memerah menahan murka. Suaranya menggelegar memenuhi ruangan. “Kau pikir kau bisa hidup nyaman tanpa nama Choi? Tanpa fasilitas yang kuberikan? Tanpa perlindunganku, kau bukan apa-apa!”

“Aku akan mencobanya,” jawab Seungcheol. “Aku sudah memenangkan banyak tender untukmu, abeoji. Aku sudah memberikan yang terbaik selama ber tahun-tahun untuk perusahaan ini. Tapi aku hampir kehilangan satu-satunya orang yang membuatku merasa hidup. Itu membuatku sadar bahwa pindah ke New York bukan keputusan yang menguntungkan bagiku.”

“Keluar!” desis ayahnya dingin, jarinya menunjuk pintu. “Tinggalkan mobil dinasmu. Tinggalkan kartu korporatmu. Tinggalkan kunci apartemen yang dibeli atas nama perusahaan. Jika kau melangkah keluar dari gerbang ini untuk mengejar suamimu itu, jangan harap kau bisa kembali ke posisi Direktur Utama. Kau dicoret dari keluarga ini, Choi Seungcheol!”

Seungcheol menunduk. Ia merogoh saku jasnya. Ia meletakkan kunci mobil sport-nya. Ia meletakkan dompet kulit mewahnya yang berisi kartu kredit hitam limitless. Ia meletakkan pin emas perusahaan dari kerah jasnya. Ia membungkuk hormat -- bukan sebagai bawahan yang takut, tapi sebagai anak yang pamit untuk menjadi dewasa.

“Terima kasih untuk semuanya, abeoji. Jaga kesehatan.”

Seungcheol berbalik dan berjalan keluar. Ia tidak menoleh lagi saat ayahnya berteriak memanggil namanya. Ia meninggalkan rumah megah itu dengan berjalan kaki. Langit kembali mendung, gerimis mulai turun. Ia tidak punya payung, tidak punya sopir, dan tidak punya gelar. Kemeja mahalnya basah, sepatu kulitnya terkena lumpur. Tapi anehnya, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dadanya terasa lapang.

Langkah kakinya terasa ringan; ia bukan lagi pewaris keluarga Choi, ia hanya Seungcheol.

 

-<>-||-<>-||-<>-

 

Pukul tujuh malam galeri kecil milik Jeonghan di kawasan Samcheong-dong sudah sepi.

Lampu-lampu sorot lukisan mulai dimatikan satu per satu. Jeonghan duduk di balik meja resepsionis, menatap pintu kaca yang berembun. Kopernya masih ada di sudut ruangan. Ia belum membukanya. Sebagian hatinya masih menunggu, tapi logika di kepalanya berteriak bahwa Seungcheol tidak akan datang. Seungcheol terlalu mencintai pencapaiannya. Seungcheol tidak pernah bisa melawan ayahnya.

Jeonghan menghela napas panjang, menahan perih di matanya. Ia bangkit, mengambil kunci galeri.

“Sudahlah...” bisiknya pada diri sendiri.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu untuk mengunci, lonceng di atas pintu bergemerincing. Pintu terbuka dari luar. Angin malam yang dingin berhembus masuk. Sosok itu berdiri di ambang pintu, basah kuyup.

Itu Seungcheol.

Tapi bukan Seungcheol yang biasa. Tidak ada jas desainernya yang licin. Kemeja putihnya basah menempel di tubuh, transparan memperlihatkan kulit, lengan bajunya digulung berantakan, dan rambutnya lepek oleh hujan. Ia terengah-engah, dadanya naik turun seolah habis berlari jauh. Ia terlihat kacau, lelah, dan... hancur.

Jeonghan terpaku, kuncinya jatuh dari tangan. “Cheol?”

Seungcheol masuk, menutup pintu di belakangnya. Ia menatap Jeonghan dengan tatapan putus asa namun penuh harap.

“Aku terlambat, ya?” tanyanya, suaranya parau. “Aku tidak punya mobil. Aku harus naik bus, tapi aku salah jurusan, jadi aku lari dari stasiun Anguk.”

Jeonghan menatapnya bingung, melangkah mendekat. “Di mana sopirmu? Di mana mobilmu? Di mana... semuanya?”

“Di garasi ayahku,” jawab Seungcheol, tersenyum tipis -- senyum yang tulus meski bibirnya pucat kedinginan. “Aku mengembalikan semuanya, Hanie. Mingyu yang akan ke New York. Ayah membekukan aksesku. Kartu kreditku, jabatanku, apartemen itu... semuanya hilang!”

Mata Jeonghan membelalak, tangannya menutup mulut. Air mata mulai menggenang. “Kau... kau melepaskan semuanya? Ayahmu tidak mengakuimu lagi?”

“Aku melepaskan beban itu!” koreksi Seungcheol. Ia melangkah mendekat, ragu-ragu ingin menyentuh Jeonghan dengan tangannya yang kotor dan basah. “Sekarang aku cuma Seungcheol, pengangguran yang mungkin butuh pekerjaan. Aku dengar galeri ini butuh staf untuk angkat-angkat lukisan? Aku kuat angkat barang!”

Air mata tumpah dari mata Jeonghan. Ia melihat pria di hadapannya -- pria yang rela turun dari takhta emasnya, membuang warisan konglomeratnya, hanya untuk bisa berdiri sejajar dengannya di lantai kayu galeri yang sederhana ini. Pria ini memilihnya. Benar-benar memilihnya.

“Kau bodoh,” isak Jeonghan, lalu menerjang maju. Kali ini, Jeonghan yang memeluk duluan. Ia melingkarkan lengannya erat-erat di leher Seungcheol, tidak peduli pakaiannya jadi basah dan kotor. “Kau bodoh sekali, Cheol... Bodoh...”

Seungcheol membalas pelukan itu dengan kekuatan penuh, mengangkat tubuh Jeonghan sedikit dari lantai, membenamkan wajahnya di bahu yang wangi vanila itu.

“Aku tidak bodoh. Aku baru saja membuat investasi terbaik dalam hidupku!”

“Tapi kita tidak punya uang sekarang,” bisik Jeonghan di sela tangisnya, tertawa kecil dalam isakan.

“Kita punya tabungan pribadiku. Cukup untuk hidup sederhana. Cukup untuk membayar perawatan ibumu di rumah sakit yang bagus!” kata Seungcheol menenangkan, mengusap punggung Jeonghan. “Kita mungkin tidak bisa tinggal di penthouse Hannam-dong lagi. Mungkin kita harus tinggal di apartemen studio ini dulu, atau cari apartemen kecil. Tidak apa-apa, kan?”

Jeonghan menarik wajahnya, menatap mata suaminya. Tidak ada lagi dinding es. Tidak ada lagi jarak sepuluh sentimeter yang terasa seperti jurang. Hanya ada kehangatan yang nyata.

“Asalkan bersamamu,” kata Jeonghan mantap, “aku bisa tinggal di mana saja. Di kolong jembatan pun aku mau!”

Seungcheol tersenyum, lalu mencium Jeonghan. Ciuman itu asin karena air mata, dingin karena hujan, namun membakar. Tidak ada keraguan, tidak ada jarak. Itu adalah ciuman permintaan maaf, pengakuan dosa, dan janji setia yang dilebur menjadi satu.

Malam itu, mereka tidak lagi pulang ke istana yang dingin. Mereka memesan jjajangmyeon dan tangsuyuk, duduk bersila di lantai galeri yang dikelilingi lukisan abstrak. Mereka makan dengan lahap, tertawa membicarakan masa depan yang tidak pasti -- tentang mencari apartemen murah, tentang Seungcheol yang harus belajar naik kereta bawah tanah, tentang Jeonghan yang akan mengajari suaminya cara hidup normal.

Di luar sana, Seoul mungkin terus berputar dengan segala kegilaan bisnis dan ambisinya. Mungkin besok berita tentang jatuhnya pewaris Choi akan menjadi headline. Tapi di sini, di ruangan kecil yang hangat ini, Seungcheol memiliki segala yang ia butuhkan. Jarak itu telah hilang. Gema di ruang hampa telah berganti menjadi detak jantung yang berirama senada.

Mereka telah pulang ke satu sama lain, dan kali ini, untuk selamanya.

 

 

The End

Series this work belongs to: