Work Text:
Jika Riku boleh berlebihan, Riku ingin mengaku pada seluruh jiwa di muka bumi bahwa dirinya kini adalah orang paling bingung sedunia. Pasalnya ini sudah tiga minggu sejak terakhir kali dirinya benar-benar berinteraksi bahkan bertemu dengan ketiga lelaki itu.
Siapa lagi kalau bukan Sion, Yushi, dan Daeyoung. Rekan yang menjadi teman.
Tidak sepenuhnya hilang, interaksi-interaksi kecil seperti saling melihat cerita di Instagram masih ada. Hanya saja Riku sudah benar-benar tak melihat batang hidung atau sehelai rambut mereka dalam jarak pandangnya selama belakangan ini.
Riku tak mengerti. Seingatnya, Riku selalu berusaha untuk menghargai setiap momen bersama mereka dalam proses di proyeknya hingga hatinya terikat. Meski badai kerap kali membuatnya goyah, di sana, ketiganya selalu menenangkan dirinya. Berdiri tegap seperti pilar yang memang diperuntukkan untuk menjaga. Tapi kini lenyap dan senyap.
Riku merasa seperti berpegangan pada bongkahan kayu yang mengapung di perairan yang jauh dari daratan. Entah harus berteriak meminta pertolongan pada siapa. Pikirnya, mungkin keresahan akan jarak yang ada sekarang hanyalah masalah bagi dirinya sendiri, tapi tidak dengan yang dirasakan ketiga lainnya.
Mungkinkah ada peluang bagi ketiga yang lain merasa kehilangan?
Mungkinkah ada peluang bagi dirinya untuk mengembalikan warna dan makna yang senantiasa ketiganya tanam di hati Riku?
Mungkinkah bagi dirinya untuk menciptakan peluang itu sendiri?
Dengan segala kegundahan dalam hati dan kekalutan dalam pikirannya, Riku menatap layar ponselnya yang menampilkan gambar dirinya dengan ketiga yang lain. Sesekali membuka kontak masing-masing dari ketiganya. Merasa ada bisikan yang menggerakkan ia untuk memanggil, untuk menarik semua kembali dekat, kembali seperti apa yang Riku indahkan.
Riku ingin merasakan lagi bagaimana Sion yang sering mengusap kepalanya kala Riku sedang sedih. Menyarankan berbagai hal dengan sesuatu yang relatable.
Riku ingin melihat lagi cengiran lebar Yushi yang tak pernah bosan menjahilinya. Berusaha untuk menahan antara umpatan kesalnya atau gelak tawanya.
Riku ingin bertanya lebih banyak lagi tentang kesukaan Daeyoung. Mengambil banyak pelajaran dari Daeyoung yang selalu memiliki alasan di balik langkahnya, setiap keputusannya.
Bisikan menggaung tanda keinginan meraung, hatinya mantap menggerakkan jarinya. Meski bergetar, kata-kata yang selama ini mengendap di kepalanya, tumpah di setiap ruang obrolannya dengan ketiga yang lain. Kini, Riku hanya bisa pasrah dengan hasilnya.
Ia memandang sekali lagi ke layar ponselnya, di sana terlihat tiga nama kontak dalam posisi teratas yang menjadi bukti Riku tengah mencoba peruntungan. Entah siapa yang akan menjawab terlebih dahulu ia tak peduli, ia hanya butuh meredakan gemuruh dalam hatinya sebelum turun hujan dari kedua netranya.
Ia tahu pening dalam hening yang tak nyaman ini akan hilang jika memori otaknya tak terus menerus mengulang kejadian terakhir. Tapi manusia, tempatnya akal dan hati bertarung, tanpa sadar pandangannya terarah menatap kosong langit-langit kamarnya.
Ia kembali mengingat bagaimana Sion, Yushi, dan Daeyoung yang menatap tak percaya saat dirinya berdiri dengan segala emosi yang ditahan dan berpamitan seadanya meninggalkan meja cafe yang mereka tempati. Meninggalkan ketiga lelaki yang selama ini menawarkan kebaikan padanya, tapi dengan satu kali tolakan sekaligus semua berubah drastis. Kini tak ada lagi kebaikan acak yang diterimanya. Seolah semua yang pernah ia dapatkan dari mereka tak membekas sedikit pun.
Setelah dilanda kebingungan dan sempat berpikir untuk membelah diri saja, Riku dengan segera mengatakan pada Sion dan Yushi untuk menyusul dirinya ke sebuah cafe dekat kampus. Pun daeyoung yang telah menunggunya, tanpa banyak bertanya menyetujui ajakan dadakan dari kakak tingkatnya itu.
Maka saat ketiga lelaki itu bertemu di satu meja, Riku merasakan atmosfer yang membuat senyumnya terasa kikuk. Riku yang awalnya sudah mendudukkan diri di kursi terpaksa berdiri lagi. “K-kenapa gak pada duduk? Ayo duduk!” ajaknya sambil menatap satu persatu.
“Gue kira lo dateng sendirian, Rik.”
“O-oh itu, kan lo bilang mau perayaan kecil-kecilan karena proyek kita udah beres, kita makan aja. Gapapa, kan?”
“Iya, tapi niat gue awalnya mau berdua sama lo dulu, sekalian ngomongin tugas lain. Biar mereka berdua bisa nantian. Tapi ya udah, gapapa kok. Udah keburu di sini semua.” Sion dengan helaan napasnya yang berat itu lantas mendudukkan dirinya. Buat Riku turut mendudukkan dirinya, disusul kedua adik tingkatnya.
“Maaf ya—”
“Gapapa, Kak Riku,” Daeyoung yang tadi sudah mengantarkannya, berusaha menenangkan dengan memegang bahu Riku lembut dan mengalihkan pandangannya ke arah Sion.
“Kak Sion, lo gak usah segitunya. Kesannya lo jadi nyalahin dia banget. Lagian awalnya dia mau langsung pulang sama gue aja—”
“Lah?”
Mendengar celetukan itu, tiga pasang mata beralih menatap Yushi yang dari awal kedatangannya hanya membisu, kini bersuara. “Gue udah ngajak dia pulang duluan, mau makan juga. Tapi Kak Riku bilang tiba-tiba lo ngajakin, dan dia nyuruh gue nyusul ke sini.”
“Kok lo malah jadi kayak ikut nyalahin Kak Riku, sih, Yus?”
“Gue bukan nyalahin Kak Riku, justru gue nyalahin lo karena lo yang jadi—”
“Aduh, udah duduk tenang dulu deh. Itu minumannya coba diminum dulu. Tenangin diri kalian. Ini kenapa malah pada ribut, sih? Biasanya juga bercanda bareng.”
Tak kuasa melihat suasana yang dirasa semakin panas, Riku mengambil alih. Bukan maksud Riku untuk membuat ketiganya saling beradu mulut bahkan dengannya. Riku hanya berusaha untuk tidak menolak siapapun. Riku hanya berusaha untuk menghargai semuanya. Bukan karena memikirkan dirinya—hatinya seorang, Riku tak mau pertemanan yang bahkan dimulai sebelum dirinya mengenal justru renggang karenanya. Riku memikirkan mereka. Riku ingin mempertahankan mereka, karena mereka.
Untungnya, semua bisa menenangkan diri. Meski jeda yang ada sempat membuat Riku bingung akan cara untuk mencairkan suasana.
Tak terlalu lama, keadaan mulai kembali seperti apa yang Riku harapkan saat hidangan tersaji di meja. Dimulai oleh Yushi si pecinta makanan yang mengomentari makanan yang ada. Pun Sion dan Daeyoung yang melupakan pembicaraan sebelumnya menyahuti Yushi dengan argumen soal makanan. Riku bernapas lega melihat setiap senyum ketiganya terukir di wajah mereka. Riku tersenyum melihat obrolan acak yang mulai mengalir seperti biasanya saat mereka bersama.
“Kalau Seunghan gimana, Rik?”
“Katanya udah tinggal ngumpulin juga.”
Sion mengangguk singkat. “Semoga nilai kita aman ya.” katanya sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Riku yang menganggur di atas meja. “Semoga ya.”
“Eh, temen deket Kak Riku selain Kak Seunghan tuh siapa aja deh?”
“Kalau lo kenal Doyoung, itu juga temen deket gue kok. Sama Hye—”
“Oh yang deket sama Haruto gak, sih?” sahut Yushi penasaran.
“M—”
“Bukannya dia sama si Junghwan, ya?”
Belum sempat menjawab, Daeyoung menyela Riku. “Emang dia sama Haruto deket, Yus?”
“Kalau gue denger Haruto cerita ya keliatannya gitu, emang Junghwan siapanya?”
“Gue juga gak tau pasti, sih. Tapi yang gue tau Junghwan sering banget anter jemput Kak Doyoung. Cuma emang dia jarang cerita anaknya.”
Riku ingin memberitahu fakta sebenarnya soal teman yang tiba-tiba jadi bahan pembicaraan di tengah kedua adik tingkatnya, tapi belum sempat menjelaskan, terdengar satu pertanyaan yang jadi akar sebuah jarak.
“Ngomongin anter jemput, Kak Riku nanti pulang sama gue, kan?” Yushi, air wajahnya masih tenang dan bertanya dengan nada santai, ada senyum di wajahnya. Tapi kedua yang lain menunjukkan reaksi yang justru sebaliknya. Satu tampilkan kerutan pada keningnya, sedang satu lagi langsung menyahuti. “Kok sama lo? Gak bisa gitu,”
“Tadi yang anter Kak Riku ke sini gue, berarti pulang sama gue juga.” Daeyoung dengan badan tegapnya berbicara percaya diri.
“Mana ada aturan begitu? Dari awal juga harusnya gue, lo aja tiba-tiba muncul.”
Baru kali ini, Riku melihat ketua dan wakil ketua angkatan ribut. Dan baru kali ini, Riku jengah sebab sadar alasan keributan ini adalah dirinya.
Sudah cukup merasakan suasana tak nyaman beberapa waktu lalu, ia tak mau hal itu hadir lagi di meja ini. Tapi ia terlambat, satu suara lain justru menjadi api pertama sejak pemantik pertama dinyalakan.
“Lo berdua gak usah begitu. Riku bakal sama gue. Gue mau ngomongin hal lain yang kalian gak perlu tau, jadi kalian bisa balik duluan.”
Bukan, bukan seperti ini. Riku tak ingin besar kepala karena merasa diperebutkan oleh ketiga lelaki di hadapannya. Bahkan untuk sekadar tersenyum karena hati berbunga saja Riku sadar betul itu bukan hal yang tepat. Riku justru ingin menyangkal semuanya. Riku tak ingin menolak apa yang Sion sampaikan, tapi Riku tak mau kedua yang lain merasa tak diindahkan. Lagi-lagi Riku dihadapkan pada situasi di mana ia berharap dapat menduplikat dirinya lebih dari satu.
“Emangnya Kak Riku udah setuju? Emangnya gak bisa nanti? Gue udah bilang, hari ini tuh gue yang udah duluan ngajak Kak Riku. Iya, kan, Kak?”
Bukannya menjawab, Riku terdiam. Menatap Yushi yang menunggu suaranya. Yakin sekali menunggu Riku mengiyakan. Tapi Riku tetap diam.
“Rik?”
“Kak?”
“Kak Riku—”
Srettt~
Riku berdiri dari duduknya, “G-gue, gue pulang sendiri. Udah, ya? Hari ini sampai sini dulu. Bisa besok-besok lagi. Gue… mau istirahat. Iya, gue mau istirahat.” dan setelah mengatakan semua itu tanpa berpikir terlebih dahulu, kakinya melangkah menjauh dari ketiganya. Menatap sebentar raut wajah mereka untuk terakhir sebelum benar-benar keluar dari sana.
Riku tak tahu, benar-benar tak tahu. Kata ‘besok’ yang ia ucapkan barusan tak pernah datang lagi. Wajah-wajah yang ia tatap terakhir kali itu bukan raut bahagia karena menanti, melainkan raut tak percaya karena kecewa.
Riku sudah cukup kewalahan menerima semuanya, tapi pada saat akhirnya ia menolak dalam satu tarikan napas, hilang sudah semuanya.
Bukan hanya keesokan hari, tapi hingga satu minggu Riku tak bertemu dengan ‘besok” yang ia harapkan. Riku tak bertemu dengan ketiganya. Tak ada lagi Daeyoung yang tiba-tiba duduk di sebelahnya saat makan di kantin, tak ada lagi Yushi yang memperlakukannya seperti passenger princess. Tak ada lagi Sion yang melambaikan tangan padanya jika berpapasan saat kelas mereka bertukar jadwal.
Bukan lagi satu minggu, satu tolakan yang ia hembuskan dengan segala emosi itu mulai terasa mengganggu di minggu kedua. Riku yang semula masih menahan segala berisik di benaknya mulai tak karuan. Rasanya seperti ada sesuatu yang ingin mencuat ke permukaan, tapi tertahan di dalam hatinya. Riku benar-benar tak tahan jika harus menunggu. Menunggu sesuatu yang tak pasti, menunggu sesuatu yang bahkan tak pernah menjadi haknya.
Merasa upaya tak akan bertemu dengan hasil secepat itu, Riku harus melakukan hal lain selain menunggu jawaban dari ketiga lelaki yang menjadi tokoh utama dalam pikirannya belakangan ini. Riku putuskan untuk bertemu Seunghan dan duduk meluapkan semua yang mengganjal di hatinya.
Kalau bukan pada Seunghan—orang yang menjadi jembatan dirinya dengan ketiga yang lain—entah pada siapa lagi Riku bisa menyatakan ia hampir gila. Hanya karena orang-orang yang baru dikenalnya di semester sekarang.
“Terus? Lo juga gak mungkin nyuruh gue buat tanyain ke Sion, kan?”
“Ya nggak lah, gila!”
“Ya udah, emang udah abis masanya.”
Mendengar itu, Riku yang dari awal pertemuan sudah mencebik mulai merengek. “Hannn, kok lo gitu, sih?”
“Apa?”
“Berarti mereka emang beneran cuma baik ke gue karena jadi rekan proyek gue?”
“Lo ini ngarepin apa, sih, Rik? Bukannya lo yang harusnya seneng karena udah bebas dari mereka?”
Riku bergeming, pandangannya turun. Tak menjawab pertanyaan Seunghan yang seharusnya benar, tapi kini terasa ada yang salah.
“Hey, jangan bilang lo jatuh cinta sama salah satu dari mereka? Tapi biar gak terlalu mencolok lo ingin semuanya tetep keep in touch sama lo? Rik? Jawab, Rik.”
“H-hah yang bener a—”
Ting! Ting! Ting!
Terpaksa menunda sanggahannya pada Seunghan, Riku alihkan fokusnya pada notifikasi di ponsel. Dan bukan lagi menunda sanggahan, Riku bahkan lupa apa yang harusnya ia katakan pada Seunghan, sebab notifikasi yang baru saja ia dapatkan rasanya seperti surat magis dari sekolah sihir Hogwarts yang datang bertubi-tubi tanpa peringatan.
Rasanya seperti Sion, Yushi, dan Daeyoung sengaja bermain-main.
Riku hanya menatap, jari-jarinya bergetar. Alih-alih mulai mengetik jawaban, Riku mendongak melihat Seunghan yang tengah memandangnya dengan alis berkerut. “Han,” katanya pelan.
“Bantuin gue…”
“Gue di sini dari tadi bantuin lo cari jalan keluar permasalahan lo yang gak jelas ini, please, deh. Sekarang apalagi?”
“Mereka bertiga jawab gue.”
“Tiga-tiganya?”
Riku mengangguk.
Seunghan menatap ragu sebelum menyuarakan usulnya. “Sini hape lo.” pintanya sambil mengulurkan tangan.
Riku beringsut menjauh dengan pandangan menghakimi. “Mau apa?”
“Udah siniin dulu.” katanya sambil merebut paksa ponsel Riku.
“Ah elah,”
“Jangan aneh-aneh, please. Gue udah mau gila, Han.” kembali merengek, Riku pasrah jika hidupnya kembali disetir oleh kawannya. Ia hanya bisa menyandarkan kepalanya pada meja.
Hampir lima menit berlalu, Seunghan masih berkutat dengan ponsel Riku, sedang Riku yang dibiarkan dalam ketidakpastian mulai penasaran setengah mati. “Lo ngapain, sih?”
Waktu yang tepat, begitu Riku mendekat, Seunghan mengembalikan ponselnya dengan raut wajah bangga. “Kosongin waktu lo tiga hari ke depan.” finalnya sebelum berdiri dan mulai berjalan keluar.
Sontak hal itu memicu reaksi panik dalam diri Riku, “EH— Tunggu, Han. Woy, lo ngapain?” teriaknya sambil buru-buru memeriksa setiap ruang obrolan, tanpa mengindahkan Seunghan yang benar-benar meninggalkannya. Di detik selanjutnya, Riku hampir saja berteriak histeris jika tangannya tak segera menutup mulutnya.
Seunghan gila!
Apa maksudnya Riku harus bertemu Sion, Yushi, dan Daeyoung berturut-turut dalam tiga hari ke depan. Satu hari, empat mata. Satu hari, dua rahasia.
Dan tak ada cara lain untuk menebak takdir selanjutnya selain Riku yang memang harus siap bertemu dengan ketiganya, sebagai upaya untuk mengembalikan kewarasan akalnya dan kedamaian hatinya.
Hari ini cuaca terlalu cerah untuk hati Riku yang masih keruh.
Ia duduk pada sebuah bangku di bawah pohon dekat gedung fakultas lama—tempat yang Sion sarankan lewat pesan singkat kemarin. Riku menggenggam tali tasnya, jari-jarinya dingin meski matahari masih tinggi. Ia sudah datang sepuluh menit lebih awal, lalu menyesal karena tiap detik yang berlalu terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang tak ia tahu bentuknya. Kepalanya penuh oleh kemungkinan-kemungkinan. Sion yang dingin, Sion yang kecewa, atau Sion yang berpura-pura. Semuanya sama-sama menakutkan.
Mungkinkah akan hadir Sion yang suka mengusap bahu atau puncak kepalanya? Riku tak yakin.
Dan langkah kaki itu datang tanpa aba-aba. Sion berhenti beberapa langkah di depannya, berdiri dengan penampilan yang terlalu rapi untuk sekadar pertemuan santai—tidak santai bagi hatinya. Kemeja lengan panjangnya digulung rapi sampai siku, jam tangan melingkar di pergelangan kiri. Wajahnya sulit dibaca. Bukan marah, bukan juga ramah.
“Rik,” sapa Sion, suaranya datar tapi tidak dingin.
Riku berdiri refleks. “Sion.”
Ada jeda canggung yang menggantung di antara mereka, seperti udara yang lupa cara bergerak. Sion akhirnya menunjuk bangku di belakang Riku. “Duduk.”
Mereka duduk berdampingan, jarak di antara bahu mereka terlalu sopan untuk ukuran dua orang yang pernah berbagi kehangatan lewat rengkuhan manis waktu lalu. Riku menunduk, menatap ujung sepatunya sendiri, menunggu—atau mungkin berharap Sion yang lebih dulu membuka percakapan.
Dan Sion benar melakukannya, “Lo keliatan kayak capek.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti basa-basi. Lebih seperti sesuatu yang sudah lama ingin diucapkan, tapi baru menemukan waktunya sekarang.
Riku menghembuskan napas kecil. “Emang iya, ya?”
“Iya,” jawab Sion pelan. “...dari mata lo.”
Riku tersenyum tipis, lalu menunduk. Ada sesuatu dalam cara Sion mengatakannya—tidak mengorek atau memaksa, seperti Sion yang lembut pada biasanya. Dan itu yang membuat Riku merasa aman untuk tidak berpura-pura baik-baik saja. Sama seperti waktu itu, meski tetap berbohong.
“Lo gak harus cerita dengan lengkap kalau gak mau,” lanjut Sion, nada suaranya tenang. “Gue cuma pengen lo tau… gue tetep bakal dengerin lo.”
Lagi-lagi soal didengarkan. Sion selalu mengajukan dirinya untuk jadi pendengar. Itu baik, tapi cukup membuat tenggorokan Riku mengencang. Ia mengangguk kecil, jari-jarinya saling mengusap tanpa sadar.
“Gue pikir lo marah,” akunya lirih.
Sion terdiam sejenak sebelum menggeleng. “Kesel, iya. Marah, nggak.”
Riku menoleh. “Bedanya?”
“Kalau marah, gue gak bakal iyain buat ketemu,” jawab Sion jujur. “Kalau kesel, berarti gue masih peduli. Dan ya gue ke sini.”
Jawaban itu membuat Riku terdiam cukup lama. Angin sore menyapu pelan, membawa suara langkah orang-orang yang lewat, tapi dunia Riku seolah menyempit seukuran dengan bangku yang didudukinya.
“Gue gak tau gimana cara ngejelasinnya,” kata Riku akhirnya. “Waktu itu gue beneran pusing dan takut salah ngomong.Yang kepikiran sama gue ya cuma mau pulang dan istirahat. Gue bahkan gak jawab lo sama sekali.”
Sion mengangguk pelan, seolah sudah menduga. “Lo sering gitu. Kalau lagi bingung atau panik, lo milih diem. Diem-diem nangis, kayak waktu itu.”
Riku tertawa kecil. “Iya. Jelek, ya.”
“Gak gitu,” sahut Sion cepat. “Cuma itu bikin orang yang peduli jadi khawatir. Setelah yang kemarin gue jadi takut untuk nge-reach lo, takut lo risih. Bahkan gue kira kita gak bakal ketemu kayak gini lagi. Tapi akhirnya lo nge-chat, dan gue seneng banget.”
Riku menunduk lebih dalam. “Maaf. Gue gak bermaksud kayak gitu.”
Sion tidak langsung menanggapi. Ia menggeser posisinya sedikit, lalu dengan gestur yang terasa begitu akrab—sampai Riku hampir lupa jarak yang sempat tercipta, mengusap kepala Riku pelan. Sekali, dua kali, dan cukup.
Rupanya, Sion yang ia harapkan benar-benar hadir di hadapannya. Sion yang lembut, Sion yang kembali beri rasa nyaman. Sion senang membuat Riku tenang.
“It’s okay, Rik,” katanya lembut sambil terkekeh. Sion menatapnya sesaat, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi memilih menyimpannya dan berusaha bangkitkan binar ceria di wajah Riku yang masih redup. “Gak usah lesu gitu. Nanti kita harus banyak main deh, Rik. Tinggal bilang aja. Tapi agaknya kalau mau main hari ini terlalu dadakan, ya?”
“I-iya, hehe.” jawab Riku seadanya. Berusaha menyembunyikan perasaan senangnya mendengar bagaimana Sion dengan santai mengajak dirinya.
Meski mereka tidak menyelesaikan secara gamblang, mereka tahu mereka tidak lagi merasakan jarak yang pernah ada. Sion dengan cepat mengubah topik menjadi bahasan mahasiswa kala akhir semester menyapa. Banyak senyum manis yang ia tunjukkan untuk Riku. Banyak tawa konyol yang ia bagikan dengan Riku. Bahkan banyak hal yang mulai ia keluhkan. Dan di sisinya, Riku dengan menguatkan tekad berusaha untuk mengimbanginya. Ia tak mau lagi kalah karena gegabah, ia tak mau lagi salah dalam melangkah.
Untuk pertama kalinya setelah tiga minggu terakhir, Riku pulang dengan langkah yang tidak terasa membingungkan seperti sebelumnya.
Tanpa banyak persiapan seperti kemarin, Riku dengan penampilan kasualnya duduk tegap di kursi belajarnya. Panik mulai merayap dalam dirinya.
Ada notifikasi yang masuk sore itu, singkat.
Lo di kos, kan?
Gue jemput.
Riku sempat menatap layar ponselnya lama. Jantungnya mulai berdetak cepat mengetahui Yushi yang akan menjemputnya setelah lama tidak bertemu. Ia tepuk-tepuk dadanya sebelum benar-benar menjawab.
Iya.
Dan balasan datang nyaris seketika.
Tunggu.
Yushi selalu begitu. Tidak memberi ruang dan waktu untuk terlalu banyak berpikir. Tetap sama sejak pertama kali ia diantar pulang oleh Yushi waktu itu.
Lima belas menit kemudian, mobil Yushi berhenti di depan kos Riku. Kadang, Yushi menyempatkan diri untuk keluar dan membukakan pintu untuk Riku. Berbeda di hari ini, Yushi hanya menurunkan kaca mobil dan, “Naik.” kata Yushi singkat.
Riku mengernyit. Sedikit tak suka dengan Yushi yang terlihat ketus padanya. Tapi enggan membuang waktu, Riku masuk dan berusaha untuk tak terlihat tegang.
Tidak ada basa-basi, tidak ada pertanyaan pembuka.
“Gue laper, kita– maksudnya gue mau makan dulu, kalau lo mau… ya boleh.”
Yang ada justru pernyataan dan penawaran. Tipikal.
Pada akhirnya Riku hanya menurut. Keduanya makan di tempat sederhana dekat jalan besar. Tempat makan yang sering mereka datangi sepulang pengerjaan proyek atau waktu luang yang disengaja. Yushi mulai makan dan Riku hanya memperhatikan.
“Mau diem sampai kapan?” tanya Yushi sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. “Kirain ngajak ketemu karena ada yang mau diomongin.”
Riku menegakkan badan. “Gue mau minta maaf… soal yang terakhir kali.”
Yushi menatapnya lama. Sedikit terlalu lama. “Lo tau gak hal yang ngeselin dari lo?”
Riku menatapnya, mulai memberanikan diri. “Banyak, kayaknya.”
“Lo selalu ngerasa harus jadi versi paling aman buat semua orang. Lo gak mau ada yang dibikin rugi karena lo,” kata Yushi, nada suaranya masih ringan, tapi matanya serius. “Padahal kalau ada yang harus lo pilih, itu diri lo sendiri.”
Riku terdiam. “Lo kesel sama gue?”
Yushi menyandarkan punggung ke kursi, menghela napas. “Jujur iya. Tapi gue juga kemarin gak tau harus gimana pas lo beneran pergi. Padahal posisinya emang gue yang beneran lebih dulu ngajak lo, kan?”
Riku mengangguk pelan. “Maaf.”
“Gak usah minta maaf terus, gue ngerti lo juga bingung. Mending kita lupain aja, emang lo gak kangen gue, Kak?”
Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa dikemas rapi. Sangat Yushi. Yushi yang hanya ditunjukkan pada Riku. Dan kalimat itu yang akhirnya membuat sudut-sudut bibir Riku naik ke atas. Matanya turut menyipit, satu senyum manis terukir di wajah Riku yang memerah. Tapi Riku tak menjawab, hanya kekehan kecil yang terdengar.
“Lo tau rasanya kayak apa gak, Kak?” lanjutnya. “Orang yang biasanya lo isengin sampai cemberut tiba-tiba pergi, mungkin marah, terus ilang. Dan lo gak tau salahnya di mana.”
Riku mengangkat sebelah alisnya. “Bukannya lo yang ngilang?”
“Gue gak hubungin lo ya karena gue bingung,” sangkal Yushi cepat. Bukan marah, tapi jujur. “Gue mikir… apa gue terlalu santai ke lo padahal lo kakak tingkat gue? Apa isengnya gue keterlaluan?
Riku menggeleng cepat. “Nggak, Yushi. Bukan gitu.”
“Terus apa?” Yushi mencondongkan tubuhnya ke depan. Tidak agresif, tapi jelas ingin jawaban.
Riku menghela napas, sedikit bergetar. Ada keraguan dalam dirinya. “Gue takut.”
“Takut apa?”
“Takut kalau gue terlalu ngerasa nyaman. Takut karena lo bukan orang biasa, lo orang nomor satu di angkatan lo, Yushi. Takut nanti—”
“Kak,” panggilnya memotong penjelasan Riku. Tangannya terulur meraih milik yang lain. “Mungkin gue jago di banyak hal, sampai lo kepikiran sama posisi gue. Tapi gue bukan orang yang jago nebak-nebak.”
Riku mengangkat wajahnya.
“Kalau lo nyaman, bilang nyaman. Kalau lo mau gue berhenti, gue berhenti. Tapi jangan pergi tiba-tiba kayak kemarin. Dan lo, gak usah peduliin posisi gue, gak usah peduliin kata orang.”
Ada kejujuran di sana. Rasanya seperti sengaja hadir untuk perlahan melenyapkan keraguan dalam diri Riku. Riku kembali diingatkan bahwa seharusnya ia merasa aman berada di dekat Yushi. Tak perlu ada yang dikhawatirkan, tak perlu merasa disudutkan. Sebab Yushi memang seperti itu, ia tak takut. Ia mungkin bisa jadi garda terdepan teman-temannya, tapi bagi Riku, Yushi tak perlu di depan. Cukup di sampingnya saja sudah buat Riku aman.
Pada akhirnya, mereka menyelesaikan makan tanpa perpanjangan kata. Yushi kembali berceloteh soal hal-hal sepele—makanan, kamera, dosen—seolah jarak itu tidak pernah hadir dalam sibuknya waktu. Tapi kali ini, Riku tahu, itu bukan pengalihan seperti hobi Yushi. Itu cara Yushi merajut ulang yang sudah pernah dijalin.
Sampai akhirnya mereka tiba di depan kos Riku, Yushi mematikan mesin mobilnya. “Kak.”
“Ya?”
“Next time kalau lo butuh pergi, kabarin gue lagi kayak biasa, ya?” katanya. “Mungkin kayak sebelumnya, gak bakal selalu bisa. Tapi gue usahain terus.”
Riku mengangguk. “Iya.” katanya sambil menatap wajah Yushi lama. Entah maksudnya apa, tapi tanpa sadar Riku tersenyum.
Di sampingnya Yushi turut tersenyum puas. Tangan isengnya tiba-tiba menjawil dagu Riku, buat Riku yang hampir saja hilang fokus itu merengut. “Ih! Yushi apaan, sih?”
“Ya lo ngapain liatin gue terus, udah masuk sana.” katanya kini sambil mencubit hidung Riku. Mau tak mau Riku kembali merengek dan berusaha kabur dari adik tingkatnya yang mulai tunjukkan sifat aslinya.
Saat Riku melangkah memasuki kamarnya, ia menyadari sesuatu. Saat bersama Sion ia belajar bernapas pelan, bercerita tak mesti dengan banyak kata. Hadir dan ciptakan kehangatan sudah cukup. Sedang bersama Yushi ia dibuat untuk berterus terang, ada baiknya untuk tidak memilih warna abu-abu yang sering timbulkan keraguan. Dan yang terpenting untuk mengingat diri, hal pertama yang perlu dipilih adalah dirinya sendiri.
Pertemuan ketiga dengan orang yang berbeda datang dengan pesan yang paling rapi. Riku akan datang ke perpustakaan fakultas sesuai saran Daeyoung. Entah Daeyoung tengah mengerjakan tugas atau memang Daeyoung yang memiliki alasan tersendiri seperti biasa.
Riku datang tepat waktu. Perpustakaan hari ini tidak terlalu ramai, hanya suara langkah kaki dan halaman buku yang dibalik pelan. Daeyoung sudah duduk di meja dekat jendela, ada laptop terbuka dan dua buku terbuka di depannya, lalu satu kursi kosong di seberang.
“Kak Riku,” sapa Daeyoung sambil berdiri setengah.
Riku membalas sapaan itu dengan anggukan dan senyuman singkat. Tiba-tiba merasa sulit mengeluarkan suaranya. Tapi di hadapannya Riku dapat melihat Daeyoung yang seperti tak sabar akan sebuah penjelasan.
Dan benar saja, “Kayaknya langsung aja, Kak.” kata Daeyoung kemudian.
Riku mengangkat pandangannya. “Daeyoung…”
Yang disebut namanya tak menyahut, hanya memiringkan kepalanya tanda menuntut.
“Lo… marah sama gue?”
Daeyoung mengangkat sebelah alisnya. “Nggak? Justru gue kira lo yang marah, Kak.”
Riku menggeleng pelan. “Gue udah jarang liat lo di kantin, atau sekadar papasan. Sorry kalau gue kesannya nuduh, tapi… lo ngehindarin gue?” tanyanya semakin pelan kala kalimat terakhir keluar.
Daeyoung menghembuskan napasnya pelan. “Kak, sebenernya gue mau minta maaf. Pas hari itu, gue bener-bener ngerasa bersalah karena gue gak tau kalau lo udah ada janji duluan sama Kak Sion atau Yushi. Seandainya lo bilang, gue gak akan asal—”
“Justru karena itu, gue juga mau minta maaf. Karena gue gak terus terang sama lo. Gue pikir dengan gue pulang sendiri, semuanya gak bakal gini. Gue kira, besoknya kita bakal ketemu terus makan bareng lagi di kantin kayak biasa. Tapi ternyata gue salah.”
“Gue bukan gak mau, tapi gue juga bingung. Lo yang pulang duluan kemarin itu karena lo marah atau gimana gue gak paham. Tapi akhirnya gue mikir, mungkin emang karena kita udah gak ada keperluan lagi, kita udah gak perlu ketemu—”
“Gak gitu, Daeyoung… kayaknya kita saling salah paham. Gue masih mau ketemu sama lo. Kita masih bisa ketemu. Lo juga kan yang bilang bakal hubungin gue kalau lo butuh bantuan ngerjain tugas, tapi lo gak ada hubungin gue. Ini? Sekarang lo lagi nugas? Butuh bantuan gak, gue coba—”
“Kak, Kak Riku tenang,”
Mendengar Riku yang terlihat panik dan menuntut dari banyaknya pernyataan dan pertanyaan yang mengudara, Daeyoung raih tangan yang lain dan menggenggamnya.
“Iya, ini gue lagi nugas. Tapi yang ini masih bisa gue handle, makanya gue gak hubungin lo. Gak mungkin juga gue tiba-tiba minta bantuan lo setelah gue kira lo… marah.”
“Padahal chat aja…” bisik Riku pelan, bergumam pada dirinya sendiri.
“Hah?”
“E-eh? Nggak! Bukan apa-apa. Tapi kalau gue mau bantu boleh? Ini tugas apa?” tanya Riku tetap pada pendiriannya yang ingin membantu Daeyoung menyelesaikan tugasnya.
“Ini tugas kelompok, Kak. Udah pasti gue ambil bagian naskah, masih mau bantu?” tanya Daeyoung dengan senyumnya yang sedikit remeh, tapi tetap ramah.
Riku yang mendengar itu hanya bisa menjatuhkan bahunya lemas. “Yah, kayaknya… itu lebih jago lo, hehe.” akunya sambil terkekeh. Buat yang lain turut tertawa karena tingkah kakak tingkatnya yang menggemaskan. “Thanks, i guess,”
“Tapi lo mau baca gak? Udah finishing.”
“Mau! Mana?”
Dan dengan itu Riku kembali mendapatkan banyak hal baru dari Daeyoung. Entah itu cerita tentang bagaimana naskah itu mulai disusun dan dikaji, entah itu alur unik atau makna tersirat yang Daeyoung sisipkan di naskahnya.
Mereka tidak menuntaskan salah paham yang ada dengan satu duduk dan satu percakapan yang kaku. Daeyoung tetap Daeyoung—rapi, terukur, tidak berlebihan dalam memberi pengertian di setiap kalimat, tapi justru di sanalah Riku merasa tenang. Dan dengan membaca naskah di hadapannya, kini Riku tahu, ini memang bentuk kebersamaan yang Daeyoung hadirkan untuk menghilangkan jarak yang ada. Langkah Daeyoung nyaris tak pernah salah.
Maka saat akhirnya mereka berpisah di depan pintu perpustakaan, Riku membawa satu pelajaran lain dalam hati. Bersama Daeyoung, ia belajar untuk tidak mengisi kesunyian dengan asumsi, tidak memaksa arti yang jelas pada setiap jeda. Tidak semua hubungan perlu dirapikan dengan emosi, sebagian cukup dijaga dengan pengertian.
Dan hari itu, Riku pulang dengan keyakinan baru lagi. Ia tidak kehilangan siapapun—tidak Daeyoung, atau Yushi, apalagi Sion. Ia hanya sedang belajar menempatkan semuanya pada jarak duniawi yang paling manusiawi. Riku belajar semua butuh ruang dan waktu, tak harus selalu dalam jarak pandangnya dan tak mesti selalu pada tempo yang ia pacu.
Di awal semester, Riku dan mungkin sebagian besar mahasiswa lain pasti pernah berpikir “kalau bukan semester ini yang habis, berarti kita yang habis.” Riku ingat sekali bagaimana saat ia mengubur wajahnya pada bantal hingga sedikit demi sedikit benda empuk itu mulai basah karena air matanya. Menangisi segala macam jadwal yang terasa mustahil untuk dilalui, tapi pada akhirnya prinsip “ya udah, jalanin dulu aja.” yang jadi pemenangnya.
Kini Riku menatap layar tabletnya yang menampilkan laman nilai akhir untuk semua mata kuliah di semester yang menurutnya sangat mengesankan. Tanpa sadar ia tersenyum. Bahkan tanpa bisa ditahan, ia mulai tertawa. Bukan karena konyolnya hasil yang tertera di samping namanya, Riku tertawa karena yang ia dapati di akhirnya bukan hanya angka dan huruf. Riku lebih mensyukuri atas hadirnya orang-orang yang dulu jauh menjadi dekat—sangat dekat.
Ternyata benar, kuliah itu bukan soal nilai yang diperhitungkan di akhir. Bagi Riku, kuliah turut menuntun ia dalam menjalin hubungan yang berharga. Bukan dalam artian saling memanfaatkan peran atau sekadar menciptakan kesan baik di permukaan—relasi yang tampak rapi dan menguntungkan di mata orang lain. Seperti value yang sengaja dilahirkan pada hubungan mutualisme di anatra rekan. Melainkan pertemuan-pertemuan yang memberi ruang untuk saling memahami, menghadirkan warna dan makna, lalu perlahan mengajarinya tentang rasa. Tentang hati yang tanpa sadar mulai bergerak melampaui batas pertemanan, bersama tiga lelaki yang kehadirannya tak lagi bisa ia anggap biasa.
Meskipun Riku sendiri tak memahami nama dalam hubungan ini, Riku hanya paham ia memiliki ketertarikan pada ketiga yang lain. Riku ingin terus berada di dekat mereka dan menjadi perhatian mereka. Riku tahu—sangat tahu—jika dirinya terkesan serakah. Tapi Riku tak bisa membohongi dirinya sendiri. Ia selalu teringat pada perkataan yang Yushi utarakan padanya, “kalau ada yang harus dipilih, itu diri lo sendiri.” Daripada menyesal, Riku sungguhan melakukan hal itu… sewajarnya. Mungkin.
“Gimana? Aman semua?” terdengar suara Seunghan di seberang sana melalui speaker ponselnya.
“Nilai aman, hati gue yang gak aman.” katanya, jujur dan terlalu lepas.
“Lo nih masih gak mau kasih tau gue siapa yang lo taksir, ya?”
“Aduh jangan tanya itu terus, Han…”
“Ya lagian, gak mungkin gak naksir. Udah dua minggu liburan guenya dianggurin, gak diajak main. Dua minggu udah ngapain aja sama mereka? Hm?”
“Kepo banget!”
“Ya kepolah, Instastory lo isinya mereka bertiga lagi mereka bertiga lagi, guenya dilupain. Eh, tapi ada yang lebih gue kepo.” ujar Seunghan dengan nada yang tak lagi merengek, tapi serius.
Riku di tempatnya reflek menegakkan badan. Merasa perlu mempersiapkan jawaban yang pas. “Apa…?” tanggapannya pelan.
“Lo jalan tiga kali seminggu udah kayak kontrol apaan begitu, itu mereka saling tau gak, sih?”
Benar, Riku sudah menduga pertanyaan itu akan lolos mengudara. Ia menghela napas, sedikit menenangkan diri. “Gue gak tau ya kalau mereka saling cerita atau gak, karena kita belum ketemu lagi berempat dan gue gak tau mereka masih temenan kayak sebelumnya atau gak. Gue gak berani ikut campur tentang itu soalnya. Tapi kalau dari gue sendiri, gue gak pernah kasih tau ke mereka gue jalan sama mereka tuh gantian-gantian… hehe…”
“....”
“Han?”
Merasa dibiarkan dalam keheningan yang canggung, Riku mengulum bibirnya. Jujur, ia memang tak terlalu banyak cerita pada kawannya mengenai kedekatannya dengan ketiga yang lain. Padahal ia tahu betul, Seunghan adalah orang penting baginya bahkan yang mengenalkannya. Ia pikir akan lebih baik memberitahunya jika situasi yang ia alami sudah jelas—sangat jelas.
“Han… Jangan diem aja…”
“Bentar, Rik. Gue beneran speechless. Gila,” entah ekspresi seperti apa yang ada pada wajahnya sekarang, tapi dari nada bicaranya memang terdengar bingung untuk memberikan reaksi seperti apa.
“Ini maksudnya kalau lo jalan sama Yushi, lo gandengan tangan atau rangkul-rangkulan, ah, bahkan pelukan juga terus besoknya lo jalan Daeyoung lo juga begitu sama dia? Riku… gue gak paham… Gue gak marah karena dari kalian pun gak ada status yang jelas, gue cuma bingung. Kayak kok bisa? Lo yang dulunya ogah banget terus sekarang… Hah… Mana gue gak bisa banget bayangin lo sama Sion, anjir Sion temen sendiri… kocak lu, Rik.”
“Lo kalau mau ngatain gue bilang aja, kayaknya emang gue harus digituin.”
“Bukan gitu, masalahnya gue juga gak tau mau nyalahin lo bagian mana. Gue aja terlibat sama lo yang jadi kenal mereka. Dan… gue juga yang bikin lo jadi ketemu mereka lagi.”
Riku kira Seunghan akan memarahinya habis-habisan. Riku pikir Seunghan tak akan membiarkan ia dengan peruntungan yang sedang dilakukannya. Riku harap Seunghan akan tetap membantunya jika ia berhadapan dengan sesuatu yang tak bisa ia lewati sendiri.
“Gue tuh… bingung juga, Han. Sebenernya gue kayak gini tuh ya lagi coba peruntungan.”
“Maksudnya?”
“Iya, setelah lo bikin gue ketemu mereka lagi... selanjutnya tuh gue sengaja bagi waktu gue buat mereka setiap minggu. Gue pengen aja liat mana yang akhirnya bisa, tapi sekarang udah dua minggu berjalan, gue tetep gak bisa milih.”
“Harusnya lo bisa bedain mana yang intensi ke lo cuma temen aja, mana yang lebih. Alias mana yang emang tujuannya sama kayak lo.”
“Gak bisa, Han. Gue beneran gak tau gimana kalau nanti ada yang gue bikin sakit hati… Karena yang gue rasain semuanya memperlakukan gue kayak lebih dari temen.”
“Terus mau sampai kapan?”
“Gak tau…”
“Jangan main-main, Rik. Ini bukan cuma satu, tapi tiga. Lo sekarang bisa pertahanin tiga-tiganya, tapi ke depannya gak ada yang tau. Sekarang hati lo berbunga-bunga, bisa jadi nanti hancur berkeping-keping. Karma itu gak kenal waktu, Rik.”
“Seunghan…”
“Gue cuma kasih tau aja. Tapi gue tetep gak bisa ikut campur lebih dalem lagi. Jadi, lo masih mau coba peruntungan?”
Percakapan serius tentang hati dan perasaan miliknya dengan Seunghan tak mencapai kesimpulan. Pertanyaan yang ia dengar dari seberang sana bisa jadi awal atau akhir dari semuanya. Riku dengan tekad yang masih terikat dalam dadanya, mencoba percaya diri.
“Iya, ...mungkin.”
Meskipun dirinya sedikit dibuat gentar akan peringatan yang sempat Seunghan utarakan.
