Work Text:
boyfriend : —n. A person who 90% of the time annoys you, and 10% of the time makes you forget the 90%.
.....
Langit mulai terlihat gelap di luar sana, matahari pada akhirnya terlelap setelah seharian seolah-olah berada tepat satu meter di atas kepala. Sunghoon menatap ujung sepatu putihnya yang nampak kotor oleh debu. Ia sejenak berpikir untuk membersihkannya besok—karena kebetulan ia libur, sebelum akhirnya mendengus pelan dan memutuskan untuk tidak peduli. Ia membenarkan letak tas selempang yang sempat turun dari bahunya, menarik ujung kaos kuning kebesaran yang ia kenakan sedikit ke arah kanan saat dirasanya posisi pakaiannya itu tidak simetris menutupi tubuh rampingnya. Pantulan dirinya pada dinding lift terlihat begitu berantakan, tapi ia sama sekali tak memikirkan itu. Ia sudah merasa sangat lelah, tubuhnya terasa lengket oleh keringat akibat bekerja seharian dalam ruangan dengan tiga lampu besar yang menyoroti langsung ke arahnya.
Sunghoon ingin segera mandi air hangat, membasuh dirinya hingga bersih dengan sabun beraroma woody kesukaan Heeseung. Ia ingin segera mengganti celana jinsnya dengan piyama katun atau sutra yang nyaman. Ingin segera memeluk pacarnya dan tidur hingga pagi. Matanya terasa begitu berat. Kelelahan tak pernah meninggalkan efek baik pada tubuhnya. Ditambah lagi suasana hatinya yang kacau hari ini, membuatnya semakin merasa tak bertenaga. Rahangnya mengeras saat ia mengingat kembali kejadian siang tadi—masih dapat ia rasakan sentuhan semu telapak tangan yang menepuk bokongnya dengan tidak sopan. Saat pintu lift terbuka, Sunghoon menghela napas berat. Matanya memanas, tiba-tiba nyaris merasa ingin menangis karena dibuat kesal oleh bayangan wajah laki-laki yang menyeringai di balik kamera, mengomentari tubuhnya dengan cara yang sangat ia benci. Sunghoon sering mendapat pujian ketika sedang melakukan pekerjaannya sebagai model, tetapi hal itu tidak membuatnya buta. Ia sangat bisa membedakan mana kalimat tulus yang dilontarkan untuk mengapresiasi dirinya dan mana komentar berbalut nafsu yang meski terdengar seperti pujian, tetapi selalu berhasil membuatnya mual.
Ah, sial. Ia benar-benar membutuhkan Heeseung saat ini.
Rantai pikirannya terputus ketika ponselnya bergetar oleh pesan masuk dari kekasihnya—ia sudah menunggu di mobil dengan segelas teh kamomil hangat, sebuah croissant dengan isian daging pedas dan sebuntal awan putih menggemaskan yang akan menggonggong riang ketika melihatnya. Sunghoon tersenyum tipis, sebagian penatnya terangkat hanya dengan membayangkan kekasihnya dengan senyum sehangat roti cokelat yang baru saja keluar dari oven menyambutnya ketika membuka pintu mobil. Ia sangat ingin dipeluk saat ini, digenggam tangannya dengan lembut. Ia ingin mengisi kembali energinya—yang seolah telah tersedot habis oleh segala hal yang terjadi hari ini—dalam dekapan Heeseung. Menyerap hangat laki-laki itu untuk membuatnya kembali merasa hidup.
Sunghoon melintasi lobi bangunan tersebut dengan cepat, menggeret kakinya yang terasa berat. Ia menyempatkan diri menanggapi seorang staf yang menyapanya dengan sangat manis, sekedar memberikan anggukan singkat dan sebuah senyum kecil. Harinya memang buruk, tapi ia tidak ingin membuat hari orang lain juga berakhir tidak menyenangkan hanya karena merasa tersinggung sebab keramahannya tidak berbalas. Berbuat kebaikan tak akan pernah merugikan seseorang, begitu prinsipnya.
Ketika ia keluar pintu lobi, sebuah Camry Hybrid berwarna putih sudah menunggunya di area pick up. Heeseung sengaja tak pernah menurunkan jendela mobil apabila sedang membawa Udon di dalamnya. Sunghoon membuka pintu sebelah kemudi dan masuk ke dalamnya dengan cepat.
Aroma lezat croissant langsung memenuhi indra penciumannya, membuat perutnya mendadak lapar setelah seharian tak mau diisi. Hal pertama yang ia lihat adalah dua pipi Heeseung yang mengembang oleh senyum serta suara keras Udon yang menyambut kedatangannya, menyalak ceria memenuhi ruang sempit mobil. Sunghoon tertawa renyah sekali ketika anak itu mengendusnya dengan penuh semangat, menempelkan hidung lembabnya pada telapak tangan yang Sunghoon berikan. Ia seakan sedang menceritakan kegiatan seru yang ia dan ayahnya lakukan sepanjang sore.
“Sit, Udon. Jangan ribut, oke? Biarkan daddymu menyetir.” Perintahnya lembut. Samoyed putih itu menyalak sekali lagi sebelum akhirnya bergelung di kursi belakang, merasa lelah setelah berlarian di taman sembari menunggu waktu pulangnya.
Sunghoon menjulurkan tubuhnya untuk memeluk leher Heeseung yang sedang tersenyum lembut kepadanya—wangi segar citrus dan cedarwood dari parfum milik Heeseung seketika mengendurkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Ia mengecup bibir pemuda itu sekilas, lalu melepaskan rangkulannya dan mulai memasang sabuk pengaman. Heeseung mengusak pelan rambutnya, mengacak helaian panjang yang bergelombang dan berantakan. Lelaki itu meraih sebuah cup berukuran sedang beraroma bunga teh yang khas yang langsung diterimanya dengan senang hati. Permukaan gelas kertas tersebut terasa begitu hangat dalam genggaman tangannya.
“Terima kasih.” Sunghoon mengatakannya dengan senyum manis yang langsung menghangatkan mobil mereka. Ia menaikkan kakinya ke atas kursi setelah melepas sepatunya, melipatnya dengan nyaman sembari menyandarkan tubuh lelahnya pada celah antara kursi dan jendela, duduk menyerong agar bisa menatapi wajah tampan kekasihnya yang mulai mengemudi.
“Kembali.” sahut Heeseung. “Croissantmu.” Heeseung mengedikkan kepalanya pada kantong kertas yang terletak pada kompartemen kecil diantara kursinya dan Heeseung. Sunghoon hanya bergumam menanggapi, tangannya sibuk membuka penutup kecil pada tutup gelasnya.
Sunghoon menyeruput teh miliknya, membiarkan cairan itu mengalir ke perutnya seolah sedang memeluknya dari dalam. Ia mendesah pelan, terbuai oleh rasa hangat yang begitu nyaman. Ketika Heeseung sedang menunggu untuk masuk ke ruas jalan raya, ia meletakkan gelas kertas tersebut ke dalam cup holder pada mobil mereka dan meraih croissant dagingnya. Ia membukanya perlahan, lalu memberikan gigitan kecil pada ujung makanan gemuk itu. Teksturnya yang berlapis-lapis dan empuk langsung pecah dalam lidahnya. Aroma mentega dan rempah-rempah yang berasal dari isian daging pedas memenuhi rongga mulutnya. Sunghoon mengunyah perlahan makanannya, menikmati tiap gigitannya. Matanya menatap kosong lampu-lampu tepi jalanan ibukota yang mereka lalui. Ia melirik Heeseung yang bergumam bersama lagu yang terputar di dalam mobil mereka. Kemudian, menengok sebentar ke belakang mendapati Udon yang mulai tertidur. Sunghoon merasa begitu utuh saat ini.
“Mau?” tanyanya. Ia menjulurkan tangannya, menggoyangkan makanannya di dekat wajah Heeseung. Lelaki itu menggeleng pelan, menolaknya dengan halus.
“Habisin aja. Enak?” Sunghoon hanya menggumam mengiyakan, kembali memberi gigitan besar dan merasakan daging pedas penuh rempah meleleh dalam mulutnya.
“Kita langsung pulang atau kamu mau mampir ke suatu tempat dulu?”
“Pulang. Aku mau mandi. Rasanya lengket banget.”
Heeseung menyetujuinya begitu saja. Ia juga sedikit merasa lelah hari ini. Badannya terasa pegal padahal hari ini ia tak banyak melakukan kegiatan. Mungkin karena ia sibuk meladeni partner bisnis yang sulit bersama Jay, sehingga energinya menguap entah kemana. Ditambah lagi menemani Udon yang tak hentinya berlarian tadi. Meski begitu, hatinya terasa ringan setelah memiliki Sunghoon disisinya. Ia menatap laki-laki itu dari kaca spion, meliriknya yang sedang mengunyah makanan dengan menggemaskan. Pipinya bulat dan penuh, terlihat seperti tupai yang baru saja melahap kacang. Sunghoon menatap jalanan padat di depan mereka dengan wajah murung yang nampak kelelahan.
“Sayang?” panggilnya lembut ketika mobil mereka mulai terjebak macet yang menyebalkan. Sunghoon menoleh sembari memasukkan bagian terakhir croissantnya ke dalam mulut. Ia mengangkat kedua alisnya, bertanya kenapa Heeseung memanggilnya.
“Mau dengar musik nggak? Macet banget, kayaknya bakal lama di jalan.”
Sunghoon melemparkan pandangannya kembali ke depan—barisan kendaraan di depan mereka sangat panjang. Mungkin karena ini adalah malam Sabtu dan semua orang memutuskan bahwa hari ini adalah waktu yang tepat untuk berkencan. Sunghoon menghela napas berat. Tangannya dengan cekatan melipat kantong kertas bekas pembungkus makanannya.
“Boleh, deh. Tapi nanti kalau aku ketiduran gimana?”
Ia menjulurkan tubuhnya ke belakang, meraih tempat sampah kecil yang Heeseung letakkan di sana lalu membuang kertas makanannya ke dalam sana.
“Ya nggak apa, tidur aja. Mukamu lemes banget. Aku sedih.” sahut Heeseung.
Sunghoon tersenyum lembut mendengarnya dan mengatakan bahwa ia baik-baik saja, hanya butuh tidur nyenyak yang panjang dan makanan enak buatan Heeseung, maka ia akan pulih kembali dari lelahnya. Ia meremas tangan Heeseung yang berada pada tuas transmisi, mengusap ruas jemarinya dengan halus. Sebelum akhirnya kembali meraih tehnya untuk ia minum pelan-pelan, juga ponsel yang sejak tadi berada pada tas kecilnya.
“Kamu mau makan apa nanti?” tanya Heeseung. Tangan lelaki itu membelai surainya yang halus dan panjang, sedikit bergelombang dibagian ujungnya. Mobil mereka benar-benar berhenti saat itu, terjebak di tengah macet yang entah dimana ujungnya. Sunghoon bergumam asal memikirkan makanan apa yang ingin ia santap bersama Heeseung. Tangannya sibuk menghubungkan ponselnya dengan perangkat audio mobil mereka.
“Emang kamu nggak capek? Mau masak?” tanyanya santai. Kepalanya refleks mengejar tangan Heeseung yang kini sedang memainkan daun telinganya, mengusapnya tanpa pola.
“Capek, sih. Tapi kalau kamu mau makan sesuatu, ya nggak masalah. Aku buatin,” akunya. Sunghoon menggeleng, lalu mencium pergelangan tangan Heeseung yang kini mengusap pipinya, tepat pada nadinya.
“Take out aja lah. Besok kamu bisa masak sesuatu buat sarapan kita. Pancake mungkin? Or you can bake something sweet? Pengen makan yang manis-manis, deh.” Sunghoon mengatakannya dengan sangat santai sembari menekan salah satu lagu kesukaannya. Mobil mereka kini dipenuhi suara Frank Sinatra yang tengah melantunkan The Way You Look Tonight, mengubah mood mereka menjadi jauh lebih baik seketika.
“Oke besok kubuatin sesuatu.” Sahut Heeseung. Ia kembali meraih tuas transmisi setelah mobil didepannya mulai bergerak. Sunghoon menyesap minumannya dengan nyaman, kepalanya bergerak kecil mengikuti irama lagu yang terputar. Ponselnya ia letakkan pada pangkuan, memutar secara otomatis daftar lagu yang ia buat dalam aplikasi musiknya.
“Lovely never never change. Won't you please arrange it? 'Cause I love you, just the way you look tonight.“
Sunghoon bernyanyi mengikuti lagu yang diputarnya. Suaranya halus dan manis sekali. Ia terpana menatap Heeseung yang tersenyum mendengarnya. Jemarinya menggelitik dagu Heeseung, menggodanya dan mengundang tawa kecil dari laki-laki yang ia cintai. Ia ikut tertawa menggemaskan. Sunghoon tidak tahu bahwa saat itu Heeseung ingin sekali mencium tawa pada wajah tampannya, lalu menyapukan lidahnya pada taring laki-laki yang mempesona itu. Ia ingin melakukan banyak hal pada tawa Sunghoon yang begitu ia sukai.
“Babe!” panggil Sunghoon. Heeseung berdehem menyahutinya dan menoleh sesaat untuk memberinya perhatian. “Take out pizza aja gimana? Udah lama nggak makan pizza. Oh, oh! Beer juga!”
Heeseung tertawa renyah mendengar nada antusias dalam suara kekasihnya, “You don't even like beer, Sayang. Kok, tumben semangat banget ngomongin beer?”
Sunghoon mengangkat bahu tak peduli. Ia menyesap kembali minumnya, lalu menjilat cairan yang tersisa di tepi gelasnya seperti kucing kecil. Ia memang tak terlalu menyukai minuman beralkohol, lebih memilih sesuatu yang hangat dan tak mengandung terlalu banyak pemanis, seperti teh bunga kamomil yang sedang ia nikmati saat ini. Namun, entah mengapa tiba-tiba ia ingin menikmati pizza dan beer bersama Heeseung sambil menonton sesuatu di Netflix—mungkin, saling memeluk di atas tempat tidur mereka yang hangat.
“Tiba-tiba aja aku pengen nonton sambil makan pizza sampai ketiduran gitu.” jelasnya. Heeseung mengusak rambutnya dengan sayang.
“Boleh. Nanti kita pesan pizza dan beer dari rumah, oke?” tawar Heeseung. Sunghoon mengangguk setuju, bersemangat dengan prospek malam mereka yang menyenangkan.
..…
Saat Heeseung memarkirkan mobilnya pada garasi kecil di samping rumah, Sunghoon membangunkan Udon yang tertidur pulas tanpa terganggu sama sekali. Ia mengusap lembut perutnya yang halus, lalu memijit sekitar telinganya dengan sabar. Anjing itu perlahan terbangun dan duduk dengan tegak. Sunghoon memainkan pipinya dengan sayang, mengajaknya berbicara seolah ia adalah manusia yang dapat menjawabnya. Udon mengibaskan ekornya dengan riang, menyalak antusias menyahuti Sunghoon yang menanyakan apakah dia ingin snack sore.
Ketika ketiganya memasuki rumah kecil mereka, Udon langsung berlari cepat di atas lantai vinil menuju area makannya yang berada di dekat lantai marbel yang sengaja Heeseung tempatkan di samping sofa bersantai sebagai tempat tidurnya. Mereka sempat berdebat mengenai lantai vinil pilihan Heeseung ini ketika dulu sedang membangun ulang hunian yang kini mereka tempati karena harganya yang cukup mahal dan Sunghoon merasa mereka hanya menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak diperlukan. Saat itu Sunghoon tak tahu bahwa Heeseung sudah berniat mengadopsi Udon sebagai hadiah ulang tahunnya sekaligus kesediaannya untuk tinggal bersama Heeseung.
“Kita bisa pakai lantai yang normal, Lee Heeseung!”
Mereka berdiri di depan pintu rumah yang akan mulai mereka huni dalam beberapa minggu ke depan. Sunghoon nampak merengut karena tak setuju dengan keputusan Heeseung dan kekasihnya itu terlihat tenang, tengil seperti biasanya.
“Ya, ini 'kan normal! Apanya yang kurang normal coba? Kalau aku mau ganti lantainya pakai aspal itu baru nggak normal.“
“Ini mahal banget ya, Tuhan. Buat apa coba? Lantai bawaan rumahnya juga udah oke, kok. Aneh deh kamu.“
“Tapi lantai bawaan rumahnya 'tuh licin. Nanti kamu kepeleset.“ Sunghoon memandangnya dengan sebal, seolah Heeseung baru saja mengucapkan hal paling bodoh di muka bumi.
“Aku bukan anak kecil.” Heeseung sudah bersiap memberikan argumen lain, tapi Sunghoon menaikan dagunya dan menatap Heeseung galak dengan mata disipitkan—menantang Heeseung untuk memotong kalimatnya kalau berani, sebelum akhirnya melanjutkan ketika Heeseung merapatkan bibirnya dan memilih untuk menyimpan sahutannya, “Umurku 23 tahun dan apartemenku yang sekarang juga pakai lantai yang kamu bilang licin ini. Pernah nggak aku, selama 6 tahun tinggal di sana, kepeleset karena lantai licin?”
“Pernah.” Sahutan Heeseung terdengar sangat mantap, tanpa ragu seolah ia sudah menyiapkan jawaban itu jauh-jauh hari. Sunghoon nyaris terkesiap. Ia mencoba mengingat kejadian yang dimaksud Heeseung, tapi seakan otaknya tak menyimpan memori itu sama sekali.
“Kapan?”
“Tengah malam. Waktu kita habis seks pertama kali. Kamu kepeleset terus lengan kanan kamu memar ungu-biru-kuning-hijau karena kepentok tempat tidur.”
Sunghoon melongo. Tiba-tiba merasa jauh lebih kesal saat akhirnya kembali mengingat kecerobohan kekasihnya malam itu. Rasanya ia ingin sekali memukul kepala Heeseung dengan sepatunya.
“Ya itu karena kamu numpahin air bekas bersihin aku di lantai dan nggak langsung kamu lap kering! Ya Tuhan. Kamu bikin aku inget lagi dan kesel lagi tahu gak?!” ucapnya bersungut-sungut. Heeseung hanya meringis, seketika merasa ngilu mengingat Sunghoon yang merintih kesakitan akibat terpeleset saat hendak buang air kecil tengah malam. Sunghoon dengan pinggang yang linu luar biasa setelah dihajar Heeseung semalaman dan lubang senggamanya yang masih terasa perih, duduk bersimpuh mengenaskan di atas lantai dingin yang basah oleh tumpahan air yang Heeseung gunakan untuk membersihkannya. Heeseung tak pernah merasa sebodoh malam itu seumur hidupnya.
“Aduh maaf-maaf. Bego banget aku waktu itu.” ucap Heeseung. Ia mengusapkan ibu jarinya pada kening Sunghoon yang berkerut kesal, lalu menarik pemuda itu ke dalam peluknya untuk meredakan amarah mereka. Sunghoon langsung meleleh di sana, membalas pelukannya dengan wajah yang masih cemberut.
“Udah pokoknya kamu tenang, duduk manis aja. Aku ngelakuin ini ada tujuannya, kok. Kamu tunggu aja, oke? Uangku banyak, kok. Lantai vinil doang 'mah kecil. Janji, kita tetap bisa makan enak sampai tua.” guraunya. Sunghoon menghela napas berat. Ia masih tidak setuju dengan pemilihan lantai yang menghabiskan banyak uang ini, tapi ia tahu Heeseung tak berbohong saat mengatakan bahwa ia punya tujuan khusus mengenai pilihannya.
“Terserah kamu deh, Lee 'Kaya Raya dan Sombong, Nggak Bisa Hemat' Heeseung.”
Maka Sunghoon tak pernah lagi ikut campur masalah pembangunan ulang rumah mereka, memilih untuk menyerahkannya pada Heeseung agar tak perlu dibuat kaget oleh material-material aneh lainnya yang Heeseung pilih.
Sunghoon masih ingat bagaimana air mata meleleh begitu saja di wajahnya ketika Heeseung menyambut kepindahannya di rumah itu. Bukan karena Heeseungnya, tapi karena sebuah buntalan awan kecil yang langsung berlari ke balik sofa untuk bersembunyi. Ia ingat bagaimana Heeseung memperkenalkan Udon—yang ternyata sudah Heeseung kunjungi dengan rutin ke tempat keluarga lamanya selama dua bulan belakangan sebelum akhirnya membawanya pulang. Heeseung menjelaskan bahwa Udon adalah satu dari lima bayi samoyed milik temannya yang diizinkan untuk diadopsi, maka ia melakukan itu sebagai hadiah untuk ulang tahun Sunghoon. Ketika Heeseung membisikkan kata 'Selamat ulang tahun, Sayang. Welcome home!” dan menyerahkan Udon ke gendongannya dengan lembut, Sunghoon tak bisa menahan tangisnya. Ia mendapat panggilan 'papa' hari itu. Sunghoon sering memimpikam tentang masa depannya bersama keluarga kecilnya yang hidup nyaman dalam rumah impian mereka yang sederhana. Namun, Sunghoon tak menyangka bahwa Heeseung akan datang dalam hidupnya dan memberikan rumah tersebut kepadanya secepat itu.
“Aku isi air hangat di bathtub, ya?”
Sunghoon menoleh, terbangun dari nostalgianya. Ia menatap Heeseung sebentar untuk memproses perkataan pemuda itu sebelum akhirnya mengangguk setuju. Ia mengucapkan terima kasih pada Heeseung yang disahuti pemuda itu sambil lalu. Sunghoon bergegas menghampiri Udon yang mulai bergerak gelisah karena snack yang dijanjikan padanya tak kunjung ia dapatkan. Kemudian, Sunghoon meraih rak paling atas di ruang santai itu dan mengeluarkan camilan milik Udon dari sana. Anjing itu segera duduk dengan tenang, ekornya mengibas antusias. Ketika Sunghoon duduk bersila di hadapannya dan menaruh makanan itu di lantai di hadapan Udon, anjing itu tetap tenang. Ia menatap Sunghoon dengan mata membulat menggemaskan—seakan mengabaikan makanan di depannya yang sudah sangat ia inginkan, menunggu dengan sabar untuk diizinkan makan. Ia langsung menggerus snacknya saat Sunghoon mengatakan 'eat!'. Mengunyah dengan lahap dua keping camilan kering yang Sunghoon berikan.
“Papa mandi dulu, ya. You can play with Daddy.” ucapnya halus sambil mengusap sayang telinga samoyednya. Anjing putih itu mendongak sejenak, lalu membaringkan tubuhnya di lantai yang sejuk. Ia memberikan perutnya pada Sunghoon, meminta untuk dibelai dengan tangannya yang hangat.
“Atau bobok aja. Capek, ya? Iya?” tanyanya. Udon menatapnya seolah mengatakan kalau ia memang lelah dan ingin tidur.
“Bobok, oke? Papa mau mandi.” Sunghoon meraih wajah sempit samoyednya, lalu menciumnya dengan gemas sebelum berdiri dan berjalan menuju kamarnya. Ia terlampau antusias membayangkan berendam dia air hangat yang nyaman.
…..
Heeseung duduk pada tepian tebal bathtub mereka. Sebelah tangannya berada di dalam air yang mulai terisi, bergerak tanpa berpikir menimbulkan gelombang halus di permukaannya—mungkin memeriksa suhu air di dalam sana—dan tanga lainnya sibuk memainkan handphonenya. Ia mendongak saat mendengar pintu kamar mandi yang terbuka, tersenyum lembut mendapati kekasihnya berdiri di sana bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana boksernya yang tipis. Kulit Sunghoon yang putih tampak sedikit pucat di bawah pendar lampu kamar mandi mereka.
“Hai, seksi.” Sunghoon memutar malas matanya mendengar sapaan itu, tetapi semu merah muda cantik pada pipi dan telinganya tidak bisa membohongi mata Heeseung. Heeseung meletakkan ponselnya pada sofa kecil di dalam kamar mandi mereka.
Sunghoon tanpa sengaja mengubah kamar mandi di rumah ini menjadi salah satu ruangan paling intim untuk keluarga mereka. Sofa kulit berwarna cokelat itu adalah ide gila Sunghoon dua bulan setelah mereka menempati rumah ini. Saat itu Udon sangat menempel padanya dan sering mengikutinya ke kamar mandi, menemaninya berendam dengan tenang sembari berbaring di lantai kamar mandi yang dingin. Ia akan mendengking menyedihkan di depan pintu kamar mandi apabila tidak diizinkan untuk masuk. Sunghoon merasa sangat stress dibuatnya. Kemudian, Sunghoon secara impulsif membeli sofa kecil berbahan kulit yang terlihat antik dan menaruhnya di antara bathtub besar mereka dan sepasang wastafel keramik, menjadikan sofa itu sebagai tempat Udon menunggu Sunghoon berendam. Sofa tersebut entah bagaimana nampak sangat cocok dengan dinding kamar mandi yang menggunakan motif keramik herringbone dengan susunan menyerupai mosaik yang mereka pilih. Kemudian, Heeseung menambahkan karpet bercorak di tengah dry bathroom mereka itu, menyempurnakan kesan mewah nan klasik.
Seiring berjalannya waktu, sofa yang berada pada kaki bathtub itu lebih sering Heeseung gunakan untuk menonton Sunghoon yang sedang berendam atau mandi di bilik shower pada sisi basah kamar mandi mereka. Heeseung seringkali membawa laptopnya ke sini, duduk bersila mengerjakan sesuatu pada laptopnya sembari mengobrol santai dengan Sunghoon yang berendam nyaman di dalam air hangat atau hanya duduk dengan manis seperti anjing penjaga yang patuh, menghabiskan waktu mengamati Sunghoon menikmati waktu luangnya. Udon, yang kini sudah tumbuh besar, lebih suka bergelung malas di atas karpet bercorak di tengah ruangan itu. Sunghoon mau tak mau tertular kebiasaan buruk dua makhluk kesayangannya itu, menontoni orang mandi—lebih tepatnya menontoni Heeseung mandi karena ia sama sekali tidak tertarik dengan mandi orang lain yang bukan Heeseungnya.
Sofa itu juga seringkali menjadi korban ide-ide kreatif mereka yang nakal.
Heeseung mengulurkan tangannya ke udara, meminta Sunghoon untuk menghampirinya. Laki-laki itu berjalan mendekat tanpa berpikir panjang, menyambut uluran tangan Heeseung dan menggenggamnya. Ia mendudukkan diri di pangkuan Heeseung yang langsung meraih pinggangnya dengan tangan yang tadi berada di dalam air. Sunghoon berdesis kaget merasakan jemari basah Heeseung menyentuh kulit dinginnya. Tangan lebar itu mengusap pinggangnya, membiarkan Sunghoon menyamankan kepala bersandar pada perpotongan leher Heeseung. Tautan tangan mereka terlepas karena Sunghoon memilih mengalungkan lengannya pada leher Heeseung, memeluknya seperti anak koala.
“Udah mau penuh, nih.” Heeseung memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang bahu telanjang Sunghoon—mengecupnya lebih lama pada bagian tahi lalat di dekat belikatnya. Sunghoon mendesah nyaman, mengeratkan pelukannya pada leher Heeseung. “Kurang wangi nggak?”
Sunghoon hanya menggeleng kecil menjawabnya, tiba-tiba merasa seluruh energinya terkuras habis karena rasa nyaman yang diberikan dekapan Heeseung. Ia menduselkan wajahnya pada kulit kekasihnya yang sejuk terpapar oleh pendingin di dalam kamar mandi. Ia nyaris tertidur ketika Heeseung perlahan menarik kepalanya menjauh, dua tangan besarnya menangkup wajah kecil Sunghoon. Kemudian, Heeseung hanya menatapnya cukup lama, mungkin merasakan gejolak kesal yang kembali merambat memenuhi hati Sunghoon. Tangan kotor itu masih bisa ia rasakan pada bokongnya. Namun, Heeseung tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mencium Sunghoon dengan lembut, melumat bibirnya dengan sungguh-sungguh. Sunghoon meraih rahang Heeseung untuk menciumnya lebih dalam, membiarkan tangan laki-laki itu kembali ke pinggangnya, mencengkeramnya dengan begitu posesif. Sunghoon lagi-lagi mendesah nyaman dalam ciuman mereka, merasa begitu aman dan utuh duduk dalam pangkuan terkasihnya di bawah cahaya lampu kamar mandi yang temaram.
Heeseung melepaskan ciuman mereka, beralih menciumi rahangnya yang bersih dengan lembut. Ia juga memberikan kecupan basah di sepanjang leher Sunghoon, naik ke dagunya dan berahir pada kening Sunghoon yang tidak lagi berkerut. “Yuk, berendam. Aku temenin.”
Ia menepuk paha kiri Sunghoon memintanya bangun. Sunghoon bergerak patuh, berdiri di hadapan Heeseung yang sedang meraih pegangan keran, memutarnya untuk mematikan. Kemudian, Heeseung meraih pinggang celananya, menariknya turun. Sunghoon berpegangan pada pundak kekasihnya mengangkat kakinya satu per satu, meloloskan kaki celana itu dari tubuhnya dan membiarkan Heeseung melemparnya ke keranjang baju di sudut ruangan. Ia melirik celana boksernya yang berhasil masuk ke sana, bersiul rendah menatap Heeseung yang tersenyum lebar. Heeseung menarik kedua pahanya medekat, menciumi pinggulnya turun hingga paha.
“Masuk duluan. Aku ambil handuk.” Ucap Heeseung dengan ibu jari yang mengusap sayang kulit paha Sunghoon.
Sunghoon melangkah masuk ke dalam bathtub, menyamankan diri di sana mengamati Heeseung yang berjalan menjauh untuk mengambil handuk dari laci kamar mandi mereka. Suhu airnya persis seperti yang ia sukai dan semua otot tegang Sunghoon rasanya langsung meleleh saat itu juga. Heeseung berjalan medekat dengan sepasang handuk bersih di tangannya tak lama kemudian, menghampiri sofa dan meletakkan bend aitu di sana. Ia meraih ponselnya, mengetik sesuai sejenak sebelum akhirnya bergabung dengan Sunghoon di dalam bathtub. Ia duduk di seberang laki-laki itu, mengamati wajah tenangnya yang sedang memejamkan mata. Tubuhnya bersandar rileks pada bantalan kecil di kepala bathtub, kakinya ia angkat naik sedikit. Ia tumpangkan kedua kaki itu di atas paha Heeseung yang terbuka.
Heeseung meraih kaki kiri kekasihnya, memijat betisnya yang mengundang desahan nikmat dari bibir Sunghoon. Ia tersenyum lembut, senang membuat Sunghoon merasa nyaman dengan sentuhannya. Ia mengangkat kaki itu untuk mencium lembut pergelangannya, lalu memijatnya lagi selama beberapa saat sebelum akhirnya meraih kaki Sunghoon lainnya untuk melakukan hal yang sama.
“I ordered your favorite pizza.” Heeseung mengusap pergelangan kaki Sunghoon dengan cara yang membuat laik-laki itu nyaris mengantuk. “Will arrive in like, um, thirty minutes.”
Heeseung pikir Sunghoon benar-benar tertidur sebab laki-laki itu tidak merespons apa pun. Dadanya naik turun dengan teratur, wajahnya terlihat tenang. Hingga entah bagaimana Heeseung bisa merasakan suasana hati laki-laki itu berubah total. Otot di bawah sentuhannya terasa menegang dan kerutan samar di antara alis Sunghoon membuat Heeseung seketika siaga. Ada yang salah sejak ia melihat kekasihnya keluar dari lift tempat pemotretannya dan Heeseung sudah membiarkannya terlalu lama diam.
“Are you okay, baby?” tanyanya lembut. Ia bergerak mendekat ke arah Sunghoon, menekuk kedua kaki Sunghoon mengapit pinggangnya. Heeseung melihat bagaimana wajah tampan kekasihnya mengerut oleh kesedihan yang menyakiti hati Heeseung, maka ia meraih kedua tangan Sunghoon dan menggenggamnya. “Hey, shh, shh. It’s okay. Oh, my baby.”
Heeseung tidak melakukan apa-apa lagi setelah itu. Ia mengamati Sunghoon yang masi bersandar pada bathtub dengan mata terpejam, melihat dengan dada yang sesak bagaimana air mati mengalir membasahi sisi wajahnya. Kekasihnya tidak menangis secara terbuka, tidak tersedu-tersedu seperti bayi. Sunghoon menangis dalam diam, sesekali terisak pelan. Punggung tangan Heeseung mengusap pipinya dengan hati-hati, menangkap beberapa air mata yang jatuh ke sisi wajahnya. Tangan lainnya, yang berada dalam genggaman Sunghoon, mengusapnya tanpa henti, meremasnya lembut untuk menguatkan.
Saat Sunghoon akhirnya membuka mata empat menit setelahnya, hati Heeseung rasanya diremas dengan menyakitkan melihat bagaimana kedua mata cantik kekasihnya memerah. Kemudian, ia mengumpati dirinya sendiri di dalam hati karena berpikir betapa luar biasanya wajah kekasihnya itu meski baru saja selesai menangis dengan menyedihkan. Sisa-sisa air mata yang menggantung pada bulu mata indah milik Sunghoon seperti embun dan hidung juga pipinya yang bersemu merah oleh emosi membuat laki-laki itu terlihat menggemaskan. Sangat menawan.
“I’m here, sayang. I’ve got you. Shh. It’s okay.” Timangnya masih mengusap pipi halus Sunghoon dengan punggung jemarinya.
Sunghoon meraih tangan Heeseung, meletakkan kedua tangan besar kekasihnya pada perutnya yang dipenuhi otot-otot halus nan ramping. Ia menghela napas dan merengek sebal teringat kembali pada kejadian di tempat kerjanya. Heeseung bergumam lembut, dengan sabar menunggunya mengatakan sesuatu. Sunghoon menunduk, menatap jemari laki-laki yang sangat ia cintai itu.
“Can you kiss it better?” tanyanya pelan. Ia mendengar Heeseung bergumam bingung sebelum menatap laki-laki itu dengan bibir mencebik sedih. “Can you kiss my ass better?”
Ekspresi pada wajah Heeseung seketika membuatnya tertawa dengan air mata yang kembali mengalir pada pipinya. Ia nampak menyedihkan sekali.
“What? Maksudnya gimana, sayang?” tanya kekasihnya. Heeseung semakin duduk mendekat padanya. Posisi ini sebenarnya sangat familiar untuk mereka, dengan keduanya berada di dalam bathtub, bertelanjang bulat dan Sunghoon yang nyaris duduk pada pangkuan Heeseung. Namun, biasanya ada lebih banyak sentuhan juga ciuman yang terlibat dan normalnya mereka berada dalam kondisi yang lebih panas, serta terangsang.
Sunghoon mendengus sebal, merasa dirugikan karena tidak bisa menikmati malam seksi Bersama kekasihnya karena tangan menjijikkan seseorang menyentuh tubuhnya tanpa izin.
“Salah satu fotografer tadi pegang pantat aku,” katanya. Ia melepaskan tangan Heeseung dan membentuk tanda petik dengan kedua jari telujuk juga jari tengahnya di udara. “Gak sengaja, katanya. But he touched me with his whole dirty hand.”
Rahang Heeseung mengeras seketika. Kerutan dalam muncul di antara dua alisnya dan matanya menatap nyalang pada Sunghoon. Bukan untuk Sunghoon. Sunghoon menghela napasnya lelah, kembali meraih tangan kekasihnya untuk digenggam.
“And did anyone do something to him?” tanya Heeseung dengan suara rendah yang sekuat hati ia ucapkan dengan lembut. Ia berusaha dengan seluruh tenaganya untuk tidak membuat ini tentang amarahnya karena kekasihnyalah yang sedang butuh untuk ditenangkan, disayangi setelah mengalami kejadian tidak mengenakkan itu.
“I did something to him.” Sahut Sunghoon. “I gave a him a good slap. A really strong one. Dia limbung ke samping, nabrak kamera yang buat videoin behind the scene. Habis itu dia teriakin aku dan bilang I slap him for no reason. Such a dick. Untungnya ada beberapa kru yang lihat dia pegang pantat aku dan belain aku. Banyak kru yang udah sering kerja bareng aku di sana, jadi mereka tahu aku gak mungkin tampar orang sembarangan tanpa alasan. Dia langsung diminta keluar sambil dijagain security.”
Heeseung menatap langit-langit kamar mandi mereka, mengatur napasnya yang memburu. Kemudian, ia menarik punggung tangan Sunghoon ke bibirnya, menciumnya dengan hati-hati. “Harusnya kamu patahin tangannya. Aku pasti patahin tangannya kalau tahu dia kurang ajar ke kamu.”
Sunghoon mengehela napasnya, merasa senang mendengar bagaimana Heeseung sangat protektif kepadanya. Ia mengusap leher dan rahang laki-laki itu. “Maaf, ya, tadi aku nggak cerita. Aku rasanya kesel dan kotor banget tadi. Pengen cepet-cepet sampai rumah dan bersihin diri aku.”
Heeseung menggeleng singkat. Sunghoon tidak perlu meminta maaf padanya, Heeseung hanya menyesali hal seperti itu harus terjadi pada pujaan hatinya. “Nggak perlu minta maaf ke aku, sayang. You must be so upset, ya, tadi? Kamu nggak pantes diperlakukan nggak sopan begitu. You always treat people with respect and kindness. Kok, bisa-bisanya ada orang cabul begitu kerja sama brand gede, sih?”
Sunghoon mengangkat bahunya, tidak mengetahui bagaimana orang itu bisa bergabung dengan brand besar yang sudah sering bekerjasama dengannya. “Aku marah banget tadi. Aku bahkan nggak ngenalin suara aku sendiri waktu maki-maki dia. I hate that version of me.”
Heeseung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan keluhan Sunghoon, berharap kekasihnya dapat merasa lebih baik setelah menceritakan kejadian tadi kepadanya.
“Aku bangga banget kamu berani lawan orang gila kayak dia.” Heeseung mencium jemari Sunghoon yang mulai dingin sekali lagi.
“Trims, sayang.” Kata Sunghoon ringan. Suasana hatinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
Sunghoon mulai bangkit dari bathtub, bertumpu pada kedua lutut Heeseung. Heeseung memegang pinggangnya, menahannya agar tidak jatuh atau terpeleset di dalam bak. Heeseung kira kekasihnya akan melangkah keluar dari bak itu karena airnya mulai terasa dingin. Namun, ternyata Sunghoon malah berlutut, membalik badannya membelakangi Heeseung. Heeseung bergerak mundur, memberi ruang untuknya. Kemudian, Sunghoon menungging dengan kedua siku bertumpu pada kepala bathtub. Heesenung nyaris tersedak melihat Sunghoon menyuguhinya dengan paha seputih air susu yang merendam tubuh mereka, juga pantat bulat dan kencang yang terangkat berani di udara tepat di depan wajah bodoh Heeseung. Heeseung menelan ludahnya dengan susah payah, mengernyit dalam sekali sebab tidak mengerti maksud dari tingkah tiba-tiba kekasihnya. Sunghoon meletakkan kepalanya pada lipatan lengannya sendiri, melirik ke belakang dengan kerucut lucu pada bibirnya.
“Please, kiss it better.” Suara Sunghoon serak, menggoda dan Heeseung benar-benar tersedak mendengarnya. “Tadi dia pegang sebelah kanan. I hate it. Rasanya kayak ada kuman raksasa di pantat aku. It feels dirty. I hate feeling dirty.”
Heeseung masih termangu. Ia dapat mendengar keseriusan di balik cara bicara kekasihnya yang santai dan menggoda, di balik tatapan matanya yang membuat Heeseung ingin memakannya saat itu. Ia dapat merasakan sakit hati kekasihnya. Namun, otaknya menolak untuk berfungsi. Heeseung mematung di tempatnya selama dua detik. Kemudian, ia tersentak kaget merasakan sesuatu merambat pada paha dalamnya yang berada di dalam air. Itu kaki Sunghoon, terangkat main-main untuk menelurusi kulit kekasihnya menggunakan ujung jemari kaki. Bibirnya masih mengerucut kecil dan matanya menatap Heeseung berbinar.
“Please?” Mohonnya. Heeseung bergerak seperti kuda yang dipecut setelah mendengar satu kata itu.
“Right. Oke.”
Ia menggeser tubuhnya ke depan, meraih kedua sisi pinggul Sunghoon dengan tangan besarnya. Jemarinya yang panjang terasa sangat pas di sana. Lalu, ia mengecup pantat kanan Sunghoon dengan hati-hati tanpa melepaskan tatapan matanya pada kekasihnya itu. Sunghoon mendesah senang dan memejamkan matanya dengan nyaman. Heeseung mengenduskan tawa melihatnya. Ia memberikan banyak ciuman pada kulit Sunghoon. Bukan hanya pantat kanannya seperti yang Sunghoon inginkan, tetapi juga sisi kirinya. Biar nggak iri, pikirnya. Ia juga mencium hingga ke pinggul dan pinggang kekasihnya. Kemudian, naik ke sepanjang tulang punggungnya yang lembut. Sunghoon mendengkur senang saat bibir Heeseung menempel pada tengkuknya yang dingin, menciumnya dengan bibir terbuka dan menjilatnya sekali, dua kali.
Ponsel Heeseung berbunyi. Pemberitahuan bahwa makanan yang ia pesan akan tiba sebentar lagi.
“Fuck!”
Heeseung mengumpat keras sekali, menjatuhkan diri pada punggung Sunghoon yang bergetar oleh gelak tawa. Tangannya memeluk perut Sunghoon dengan erat, merengek kesal seperti bayi. Kemudian, ia ikut tertawa bersama kekasihnya untuk beberapa saat sebelum menarik rahang Sunghoon untuk menoleh ke arahnya dan mencium bibir lembab itu dengan rakus. Sunghoon mengeluh pelan, lalu mendorong tubuh ramping Heeseung menjauh.
“Cepet pake baju sana. Nanti drivernya nunggu lama. Kasihan.”
“Arrggh!” Heeseung menggeram keras, bersungut-sungut bangkit dari punggung Sunghoon dan langsung merindukan rasa kulit kekasihnya pada tubuhnya sendiri. Tawa Sunghoon lagi-lagi meledak dan Heeseung mengusak rambutnya dengan sayang.
Saat Heeseung sudah berdiri sepenuhnya, Sunghoon membalik tubuhnya kembali bersandar pada bathtub dan bersiul menggoda melihat tubuh kekasihnya yang telanjang memamerkan diri Heeseung yang setengah mengeras, basah oleh tetesan air yang membuatnya semakin menawan. Sunghoon dapat membayangkan rasa Heeseung di dalamnya, memenuhinya dengan kenikmatan yang memabukkan. Heeseung yang menyadari tatapan kekasihnya, dengan sengaja melangkah keluar dari bathtub sambil menghadap Sunghoon. Dan Sunghoon mengerang pilu melihat bagaimana pantat Heeseung bergerak indah dengan setiap langkah kakinya yang kokoh. Tubuhnya merosot masuk ke dalam air, menyesali keinginannya untuk makan pizza.
“I’ll be back.” Janji Heeseung sembari mengeringkan tubuhnya sembarangan. Ia lalu mengenakan bathrobe yang tergantung. “Fast.”
Mereka dapat mendengar suara Udon menggonggong keras. Pizza mereka sudah tiba. Heeseung buru-buru keluar dari kamar mandi. Ia masih sempat berhenti di pintu kamar mandi mereka dan meniupkan ciuman ke udara untuk Sunghoon.
Sunghoon hanya bisa menggerutu dengan senyum bodoh pada wajahnya. “Stupid pizza.”
…..
