Work Text:
“Apa yang sedang kau lakukan?”
Suara kertas yang baru saja ditarik dan disembunyikan di balik punggung terdengar. Jantungnya seakan melompat ketika mendengar pertanyaan dari seorang lelaki yang begitu dekat dengan telinganya. Di hadapannya kini, lelaki pemilik iris amber mengulas senyuman jahil dan memangku tangan.
“Kau menulis surat cinta, hm?”
Gadis itu menggeleng kuat. “B-Bukan,” jawabnya gugup. Tentu ia tidak ingin kekasihnya tahu mengenai kertas yang sedang ditulisnya. Malu adalah perasaan yang sedang dialaminya sekarang. Rasa malunya bertambah ketika ditangkap sedang menulis sesuatu dan akan ditambah pula jika ia berkata jujur. Lagipula, dia tidak ingin lelaki itu tahu.
“Ah, kalau itu ide ceritamu sih aku tidak akan memaksa.” Sang lelaki itu berujar sembari mengendikkan bahu. “Kata-katanya puitis, memang pacarku yang terbaik kalau disuruh merangkai kata-kata,” pujinya sembari mengacak rambut gadisnya.
“K-Kau membacanya?!”
“Yup, walau hanya dua kalimat pertama yang kubaca.”
Kelengahan sang gadis membuat lelaki itu menyambar kertas dari balik punggung kekasihnya, mengangkat kertas tersebut hingga tak bisa dijangkau dan menjulurkan lidah—mengejek sang hawa. “Kau percaya? Aku belum baca semua,” ungkapnya, membuat gadis itu panik. Ia beranjak dari kursi dan berusaha untuk merebut kertasnya kembali. Berkali-kali ia melompat, tetapi tinggi badan mereka memiliki jarak lumayan jauh membuat sang hawa kesulitan meraih kertas bahkan tak dapat menjangkau pergelangan tangan lelakinya.
Wajah sang lelaki mengejek diiringi tawa karena melihat gadisnya tak bisa mendapatkan kertas dari tangannya. Ia terus menghindar dan berjalan mundur, tanpa sadar kakinya tersandung sesuatu dan saat sang gadis melompat guna mengambil kertas, tubuhnya tak dapat menahan yang berakhir dengan terjatuhnya ia dan gadisnya. Punggungnya bertabrakan dengan lantai membuatnya mengaduh, sementara sang gadis yang mendarat di dada lelakinya tersentak, mengambil kertas dari tangan lelakinya dan memukul bahunya.
“Kau sih!” tukasnya.
“Kau yang terlalu agresif sampai membuatku jatuh,” balas sang lelaki tak mau kalah, membuat gadis itu mengembungkan pipi. Ia menjauh dari tubuh lelakinya, melipat kertas kecil-kecil hingga sulit untuk diintip isinya dan berdiri, melangkah menuju meja belajar dan menyimpan kertas di selipan buku-buku. Menoleh pada sang lelaki yang berjalan menghampirinya, mendekatkan tubuh dan meletakkan kedua tangan di atas meja—mengepung gadisnya diiringi senyuman miring. “Ada yang kau sembunyikan ya?”
.
.
Kuas tak lepas dari tangan, berpegang teguh pada warna yang ditorehkan ke atas kanvas walau terlihat mencolok. Perkara salah memilih warna berujung diakali agar tidak hancur hasilnya tetapi semakin lama memumpuk warna membuatnya menjadi bertabrakan tak beraturan. Melanie menghela napas, melepas kanvas dari easel stand dan menyandarkannya di dinding. Beruntung tugas yang sedang dikerjakannya memiliki tenggat waktu lama, ia masih bisa mengulangnya dan lebih berhati-hati dalam memilih warna.
Pikirannya benar-benar kacau. Entah karena perasaan apa perutnya benar-benar tidak enak dan selalu membuat keinginan untuk mual bahkan muntah. Kepalanya pusing, berkali-kali memijat dahi, diberi minyak kayu putih agar merasa hangat dan mengurangi rasa sakit. Diiringi sakit perut dan kepala yang tak kunjung hilang, ia memasang kanvas baru yang putih dan bersih lalu duduk di kursi, mengambil pensil dan menggambar sketsa terlebih dulu. Di sela-sela menyoret kanvas, matanya terfokus pada kertas yang terselip di antara buku-buku miliknya. Diingat kertas tersebut adalah kertas berisikan teks lagu yang sengaja dibuat saat senggang—ya walau titelnya tidak bisa dibilang senggang, sih. Saat itu ia sedang kepikiran membuat sebuah lagu untuk kekasihnya yang seorang bassist juga vokalis, siapa tahu lagu ciptaannya bisa membuat nama band lelaki itu semakin dikenal. Ia tak bisa berbuat banyak, tetapi apa yang bisa dilakukan demi mendukung hobi sang kekasih akan dikerjakannya.
Saat sketsa kasar terlihat di kanvas, lagi-lagi hasrat ingin muntah muncul. Melanie meletakkan pensil asal-asalan tanpa peduli bahwa alat tulis berbahan granit tersebut telah jatuh ke lantai, berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya. Ia tak tahu kenapa hal seperti ini bisa terjadi, padahal jadwal makannya sudah dirubah seteratur mungkin karena tadinya ia selalu tidak makan. Tiada lain menjadikan tugas sebagai alasan.
Kakinya bergerak keluar kamar mandi setelah bebersih, memegang perutnya yang terasa tidak enak. Ada sesuatu yang ia curigai, tapi rasanya tidak mungkin. Terakhir kali melakukan hubungan badan bersama kekasihnya mereka memutuskan untuk mengenakan pengaman (atas saran kakak Melanie), jadi tidak mungkin ‘kan?
Decakan tercipta, Melanie buru-buru mengambil jaket dari sandaran sofa, mengenakannya dan berjalan keluar apartemen. Sejenak meraba saku jaket, mendapati masker kain berwarna hitam—diingat tidak dipakai dalam waktu lama—pun dikenakan. Jantungnya berdegup kencang ketika memikirkan kemungkinan tersebut, kepalanya semakin pusing karena takut bahwa jika hal ‘yang tidak diinginkan’ terjadi. Kekasihnya pasti mau tanggung jawab ‘kan? Teringat saat mereka akan melakukan hubungan badan, keresahan Melanie tentang kehamilan membuat lelaki itu menjawab dengan enteng.
“Ya, kalau kau hamil ya hamil saja sih. Itu bisa menjadi alasanku untuk menikahimu ‘kan?”
Terdengar klise, tetapi ia memercayai lelaki itu sepenuh hati. Sangat sulit bagi Melanie untuk percaya pada seseorang, namun karena sang lelaki sudah mengatakannya terlebih ia juga sudah memercayai kekasihnya membuatnya yakin bahwa hal seperti ini bukanlah mimpi buruk melainkan berita bahagia bukan?
Melanie tak ingin berlama-lama. Setelah membeli alat tes kehamilan dari apotek, ia langsung bergegas kembali ke apartemen karena tidak mau ada satu orang pun yang ia kenali menemuinya. Saat berada di apartemen, ia lekas melepas alas kaki, meletakkan jaket di tiang hanger dan masuk ke dalam toilet untuk mengeceknya. Perasaannya sudah begitu tenang ketika mengingat lelaki tersebut akan bahagia saat mengetahui apa yang sedang terjadi padanya. Buah hati dari keduanya akan terlahir ke dunia, memikirkannya membuat Melanie mengulum bibir—merasa senang tak karuan. Ia keluar dari toilet, melihat hasil dari alat tes yang menunjukkan dua garis merah—mengartikan bahwa kehidupan baru telah tercipta di dalam perutnya. Ia sampai menangis saking senangnya hingga tak mampu berkata-kata, lekas berjalan cepat menuju kamar dan duduk di pinggir kasur. Alat tersebut ia masukkan ke dalam laci nakas, mengambil ponsel yang diletakkan di kasur dan segera menghubungi sang lelaki. Baginya, berita besar seperti ini tidak boleh ditunda.
.
.
“Tumben kau menelponku duluan,” ujarnya. “Kau merindukanku ya?” Ia bertanya, seperti biasa sifat percaya diri tinggi darinya membuat Melanie mendengkus.
“Siapa juga yang rindu padamu,” ketus sang gadis, berjalan masuk ke kamar—berniat mengambil alat tes yang disimpannya di dalam nakas. Di detik ini pun jantungnya berdegup kencang, perasaan bahagia berkecamuk di dalam benak terlebih melihat suasana hati sang lelaki benar-benar baik. Alat tes di tangan pun dibawa ke luar, tepat saat kakinya akan melangkah keluar kamar, Shaw muncul membuat langkahnya terhenti. Melanie mengulas senyuman lebar pada sang lelaki, menyodorkan alat tersebut pada kekasihnya. “Aku ingin menunjukkan ini padamu.”
Kernyitan tercipta, Shaw mengambil alat tersebut, melihat garis dua dan tulisan “pregnant” di sampingnya membuat wajahnya tergambar tak percaya. Gadis itu tak dapat membaca air muka sang lelaki, tetapi harusnya ia senang bukan?
“Kau … hamil?” tanyanya, dijawab dengan anggukan penuh rasa yakin dari sang gadis. Lelaki itu memberikan alat tes pada Melanie tanpa berucap sepatah kata dan berlalu meninggalkan sang gadis ke luar kamar. Melihat reaksi tersebut membuat sang gadis terkejut bukan main, memutuskan untuk mengikuti langkah kekasihnya yang hendak meninggalkan apartemennya.
“Kau mau kemana?” Melanie bertanya sembari memegang lengan Shaw. Siapa sangka lelaki itu menghempaskan tangannya, tangan seorang perempuan yang ia cintai. Wajahnya terlihat berang, Melanie bahkan tak menyangka bahwa wajah tersebut akan ditujukan padanya. Napasnya tertahan seketika tatkala ekspresi tersebut terekam jelas oleh memori, kakinya gemetar, berharap apa yang tengah terjadi saat ini hanyalah mimpi.
“Itu bukan anakku,” elaknya diiringi decakan. Mendengar hal tersebut membuat Melanie tak terima, sekali lagi memegang lengan Shaw dan menggoncangnya.
“Bagaimana bisa kau tidak percaya? Aku tidak pernah melakukannya dengan siapa pun selain dirimu!”
Shaw menghempaskan tangan Melanie untuk kedua kalinya. “Jangan berlagak lugu, kau pasti sudah melakukannya dengan kakak kelasmu ‘kan?”
“A-Apa?” Perasaannya saat ini bercampur aduk menjadi satu, tetapi rasa kecewa dan sedih mendominasi ketika melihat reaksi dan ucapan kekasihnya. Bagaimana bisa seseorang yang begitu ia percayai melakukan hal sepert ini padanya? Dipikir, apa yang ia bayangkan berupa reaksi membahagiakan diiringi tawa saat mengetahui kehamilannya akan terwujud. Namun hal sebaliknya terjadi, membuat kepalanya tiba-tiba berdenyut.
“Aku … tidak mungkin melakukannya dengan kak Marius,” ucapnya pelan. Ia tak tahan lagi, air mata yang tak dapat dibendung pun mengalir di pipi. Kedua tangannya memegang tangan Shaw, menatap lelaki itu penuh harap. Ia benar-benar percaya dengan Shaw, ia benar-benar percaya dengan kekasihnya. Susah payah kepercayaan ia bangun pada lelaki itu, tapi kenapa benteng tersebut hancur begitu saja? “Shaw … aku berani bersumpah, hanya kau satu-satunya orang yang melakukannya denganku.”
Melanie berbicara guna meyakinkan sang lelaki, walau rasa percayanya perlahan terkikis pula akan segera habis seiring berjalannya waktu. Ia pernah bersumpah, jika sedikit saja Shaw mengkhianati rasa percayanya, suatu hal yang buruk akan terjadi. Terdengar mengerikan memang, tapi Melanie benar-benar sulit mempercayai manusia. Hanya sedikit yang bisa ia percayai, namun saat orang tersebut mengecewakannya satu kali ia tidak akan percaya lagi pada mereka. Sepanjang ia hidup, hanyalah Shaw satu-satunya lelaki yang dapat ia percaya walau memakan waktu lama. Meski sifatnya mengesalkan dan selalu membuat amarah muncul, perlahan menumbuhkan kepercayaan diantaranya dan sang lelaki. Namun, untuk hari ini, hatinya berubah. Ia kecewa sebesar-besarnya pada Shaw.
Masih ada rasa tak percaya di dalam benak lelaki itu. Ia yakin, gadisnya tak pernah melakukan hubungan badan pada siapa pun selain dirinya. Namun, api cemburu setiap kali melihat Melanie bersama dengan kakak kelasnya di kampus membuatnya kesal. Kedekatan mereka membuatnya curiga, berkali-kali berusaha untuk menepis kecurigaan tersebut tetapi tiada usaha yang bisa membuatnya mengikis perasaannya. Terlebih berita seperti ini terlalu mengejutkan baginya, semakin membuatnya tidak mempercayai sang gadis.
Shaw melepas genggaman tangan Melanie dari tangannya, tidak melirik sang gadis dan keluar apartemen tanpa mengucap sepatah kata. Tatkala pintu tertutup dan menghilangkan sosok sang lelaki membuat kaki Melanie melemas, terduduk di lantai dan menangisi diiringi teriakan frustasi. Semua kepercayaan yang ia beri pada sang lelaki telah hancur, ia kecewa sejadi-jadinya pada lelaki tersebut. Ia berani bersumpah pula, tidak berani bahkan tidak akan melakukannya pada siapa pun selain sang kekasih tetapi tetap ia tidak percaya. Harus berbuat apalagi agar ia bisa dipercaya? Melanie bahkan kehabisan ide, melihat alat tes yang tak sengaja ia jatuhkan ke lantai dan mengusap air matanya. Sungguh, ia tak ada rasa lagi untuk kembali hidup. Tidak ada lagi yang dapat mempercayainya, untuk apa ia masih berada di muka bumi ini?
.
.
Malam hari, ponsel Melanie tidak dinyalakan sejak bertengkar dengan Shaw. Ia masih berharap lelaki itu datang kembali dan menemuinya di apartemen, tetapi saat waktu menunjukkan pukul sembilan malam, tanda-tanda kemunculan sang lelaki tak tampak membuat air mata semakin mengalir deras di pipi. Tangannya memegang pena, menulis kata-kata di sebuah kertas yang tadinya ia simpan di selipan buku. Sebuah teks lagu yang ingin ia berikan pada sang lelaki. Melanie tak mau berharap banyak tentang lagu yang ia ciptakan, apakah akan digunakan oleh lelaki itu atau tidak. Paling penting, teks tersebut diselesaikan terlebih dahulu.
Setelahnya, ia melipat kertas tersebut dan menyimpannya lagi ke dalam selipan buku. Mengusap air mata, ia beranjak dari kursi belajar dan berjalan ke kamar guna mencari ponsel, menghidupkan benda elektronik tersebut dan menunggu cukup lama agar pesan dapat masuk di ponsel. Saat mengeceknya, tidak ada satu pun pesan dari orang yang dinanti—semakin membuat dada Melanie menyempit. Rasanya sesak, ia benar-benar tidak tahan dengan cobaan yang ia alami. Mungkin sekarang sudah waktunya untuk pergi.
Melanie memegang perutnya dan mengulas senyuman tipis. Bayangannya ketika dapat melahirkan seorang anak dan membentuk keluarga kecil sudah cukup membuatnya bahagia meski hal tersebut tidak akan terjadi. Setidaknya, hal bahagia tersebut benar-benar terasa menyenangkan di dalam mimpi dan imajinasinya.
Sampai jumpa.
.
.
Mendengar kabar bahwa kekasihnya ditemukan telah tak bernyawa di apartemennya membuat Shaw bergegas, tetapi apalah daya ketika kakinya menghentikkan langkah ke sebuah kamar bertuliskan nomor 1503 di pintu, petugas kesehatan sudah membawa sekantong mayat dari dalam apartemen. Iris merkurinya membola, berharap apa yang baru saja melintas di hadapannya adalah bunga tidur. Ia akan segera bangun dan menyadari bahwa semua ini hanyalah mimpi. Langkahnya memasuki apartemen sang gadis, tetapi polisi yang sedang menyelidiki tempat kejadian perkara melarangnya membuatnya naik pitam.
“Aku mau masuk!”
“Kami sedang memeriksa tempat ini, tuan. Tidak ada yang dibolehkan masuk selain petugas kepolisian.”
“Keparat!” makinya. “Jangan larang-larang aku!”
“Shaw.”
Suara seorang perempuan memanggil membuat Shaw menoleh, mendapati wanita berambut sebahu dengan mata sembab dan hidung memerah berdiri di hadapan. Wanita itu adalah kakak kekasihnya, Shaw cukup mengenalnya karena diberi amanah untuk menjaga adik perempuannya. Namun, jika hal seperti ini sudah terjadi, apakah ia masih dipercaya?
Saat menjauhkan diri dari polisi, ia berhadapan dengan kakak Melanie—Elena. Belum sempat mengucap kata, satu tamparan keras melayang di pipinya membuat Shaw tersentak.
“Kau membunuh adikku!” tukasnya, mengeluarkan ponsel dan melemparnya pada sang lelaki. “Mana janjimu? Kau bilang kau akan menjaganya bukan?!”
Shaw memegang pipinya yang terasa panas dan nyeri, membuka layar ponsel dan mendapati pesan dari Melanie yang ia kirim pada kakaknya jam sembilan lewat lima belas menit.
[Kak, aku hamil.]
[Maaf.]
Adalah dua balon pesan terakhir sebelum gadis itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan mengonsumsi obat-obatan yang ia campur menjadi satu dan ditenggak hingga menewaskan dirinya sendiri. Shaw menatap Elena yang sesugukkan, memberi benda elektronik tersebut pada sang wanita dan dirampasnya kasar. Wanita itu menatap Shaw dengan tatapan marah, meninggalkan lelaki tersebut dan mengikuti polisi yang menjadi ketua tim investigasi kematian adiknya.
Sejenak melirik pada apartemen yang telah diberi garis polisi, menatap ruangan tersebut dengan tatapan kosong. Bayang-bayang ketika mereka menghabiskan waktu bersama di dalam tempat tersebut terlintas. Ketika mereka berlarian mengelilingi sofa, menonton film, saling mengerjakan tugas, memasak, semua bayang-bayang mengilas begitu saja dari pandangannya. Rasa bersalah menyelimuti, membuatnya memegangi dadanya karena merasa sesak teramat sangat. Jika saja hari itu ia tidak tersulut emosi, jika saja saat itu ia bahagia dan tidak curiga dengan kekasihnya, memori tersebut tidak akan menjadi ‘kenangan’ dan akan terulang dengan cerita-cerita mengasyikkan untuk mereka lalui bersama. Namun, Tuhan berkata lain. Apa memang Tuhan membencinya, membuatnya menyakiti satu persatu orang yang ia sayangi dan membuatnya menderita?
.
.
Shaw tidak diizinkan untuk pergi ke acara pemakaman sang gadis, membuatnya memutuskan untuk pergi ke makam dimana kekasihnya telah dikebumikan. Kakinya terasa berat saat menyusuri makam, iris merkurinya terfokus pada sebuah nisan yang masih terlihat baru. Ia tak ingin ke nisan tersebut, tetapi ia harus memaksa guna melihat sang gadis walau wujudnya telah tiada. Saat dirinya hendak menghampiri makam Melanie, ia melihat seseorang duduk berlutut dan berdoa disana. Langkahnya terhenti, masih terfokus pada sang lelaki pemilik mahkota biru tua tersebut. Ia melihat lelaki itu membuka kedua mata, mengulas senyuman tipis dan berdiri di depan makam.
“Kau bilang aku terlalu tinggi jadi aku harus berlutut dulu ‘kan?” ucapnya diiringi kekehan. “Aku sudah melakukannya loh, jangan lupa bayar aku ya.”
Shaw berjalan mendekati sang lelaki, di saat itu pula ia mengenali bahwa sosok lelaki tersebut adalah kakak kelas Melanie—Marius von Hagen. Iris merkuri dan violet saling bertabrakan, membuat Shaw mengalihkan pandangan. Ia meletakkan buket mawar putih di dekat nisan, melihat foto seorang gadis bermahkota hitam tersenyum lebar bersamaan dengan dupa yang mengapitnya. Wajah dan senyuman gadis itu sangat cerah di dalam bingkai, tetapi senyuman itu tak akan pernah dilihatnya lagi. Kedua tangan disatukan, berdoa pada gadis yang telah ia buat sehancur-hancurnya. Rasa bersalah ini akan ia bawa sampai mati, juga sesal dialami karena tak bisa menepati janji—melindungi sang gadis sepenuh hati.
“Sayang sekali, padahal aku masih mempunyai projek dengan adik kelasku,” ujar Marius setelah melihat Shaw selesai berdoa. “Dia akan menjadi seorang pelukis berbakat, tapi siapa sangka ia akan mengakhiri hidupnya sendiri karena orang yang ia percayai sudah berkhianat?”
Mendengar ucapan Marius yang menyindirnya membuat Shaw mengepalkan tangan, wajahnya terlihat murka. Namun, apa yang dikatakan lelaki itu ada benarnya. Ia telah menghancurkan kepercayaan Melanie yang telah dibangun susah payah, mengingat gadis itu sangat sulit mempercayai manusia. Ketika kepercayaan tersebut hancur sekali saja, ia tidak akan mempercayai orang tersebut untuk kedua kali.
“Ah, aku berterima kasih karena kau telah mengingatkan kesalahanku.”
“Memang kau yang salah, kok,” ucapnya, merogoh saku jas hitam yang ia kenakan dan mengeluarkan kertas yang dilipat kecil lalu diberikan pada Shaw. “Akan kutambah rasa bersalahmu dengan ini.”
Shaw mengernyit, mengambil kertas tersebut dan bertanya, “Apa ini?”
“Baca saja, tapi bacanya jangan di depan Melan. Kau tahu dia akan malu kalau kau membaca sesuatu darinya bukan?”
Lelaki pemilik iris merkuri tersebut tak merespon, menatap Marius tanpa mengucap sepatah kata lalu pergi meninggalkan makam juga kakak kelas kekasihnya. Di perjalanan, ia membuka kertas dan membolak-balikkannya sebelum membaca teksnya. Terdapat tulisan “For S.” di belakang kertas, tepat di sudut kiri bawah. Ia membaca kalimat yang dirasa sangat familiar, diingatnya pernah membaca kata-kata tersebut saat memergoki Melanie menulis sesuatu di meja belajarnya.
Ini lirik lagu yang aku buat untukmu, yah terserah mau pakai atau tidak tapi semoga saja apa yang aku tulis tersampaikan padamu.
Catatan kecil di bawah judul lagu ia baca, seakan meremas dadanya hingga membuatnya sesak napas. Ia membaca kata demi kata, kalimat demi kalimat perlahan. Setiap kata yang tertera membuat napasnya tertahan, bahkan jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia mengulum bibir, meremas bagian kertas yang ia genggam tanpa peduli jejak ronyok akan ditinggalkan pada kertas.
Meski rasa percayamu padaku telah luntur,
Aku tetap memiliki rasa padamu.
.
Seburuk apa pun sifatmu,
Kau bagaikan bunga matahari di mataku.
Karena aku tahu,
Kau adalah seorang lelaki yang setia hingga akhir hayatku.
.
“Helianthe dari bahasa Yunani yang artinya bunga matahari,” Marius bergumam lalu tersenyum tipis. “Apa itu nama anakmu … atau kau hanya asal-asalan memberi nama tersebut untuk lagumu?” Ia bertanya diiringi dengkusan lalu menggeleng pelan. “Tidak buruk juga seleramu, adik kelasku yang imut.”
