Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-13
Words:
1,870
Chapters:
1/1
Hits:
18

Uncontrollable

Summary:

Untuk kedua kalinya mereka seperti ini, Iwaizumi juga tak paham apa yang terjadi.

[Cross-post dari Wattpad]

Work Text:

Semua begitu kacau baik keadaan mental, fisik, bahkan lingkungan. Kali kedua netra miliknya melihat kehancuran begitu parah dari makhluk yang menjadi tulang rusuknya. Napas naik turun dengan mata yang berair, tatapan begitu tajam bak sembilu sedikit demi sedikit menyayat hatinya. Cairan merah mengalir di tangan, tak lupa dengan memar pada sudut bibir yang menimbulkan bercak darah disana. Tak hanya sang hawa yang kacau, perilaku prianya pun begitu namun tak sebegitu parah sepertinya. Akalnya hilang, logikanya tak jalan, tubuhnya benar-benar tak terkendali.

"Tooru/[Name]."

Keduanya saling memanggil nama sang kekasih, masih merasakan debaran begitu kuat pada bagian dada diiringi amarah yang begitu menggebu. Bagi sang pria dengan kepemilikan nama keluarga Oikawa ini bukanlah hal baru melihat kekacauan yang menimpa kekasihnya, bisa dibilang yang kedua. Masih diselimut kekhawatiran serta keterkejutan, tak menyangka bahwa wanitanya kembali bertingkah tak wajar karena sebuah perkara yang sepele.

Suara Oikawa begitu parau sebab terselimuti rasa takut masih bertahan pada dirinya. Tenggorokkannya begitu tercekat bahkan untuk memanggil nama sang wanita begitu berat. Harusnya ia mudah memanggil atau menyebut nama itu kendati beberapa huruf tersebut membentuk nama yang disukainya, namun kali ini tidak.

Ia telah menghancurkan hidupku.

"Tooru, kau mencintaiku 'kan?" Adalah pertanyaan pertama yang terlontar setelah dirinya membuat kekacauan yang tak begitu terkendali. Ia membutuhkan seseorang, seseorang yang dapat mengendalikan emosinya, amarahnya, egonya. Bukan seperti ini.

[Name] bahkan lupa rasa sakit yang begitu menjalar di tangannya. Darah menetes dengan sia-sia akibat sayatan pisau tajam yang diterima, melupakan denyutan pada sudut bibir yang begitu nyata sakitnya sebab terlalu besar, bahkan ia merasa raganya hampir tak ada. Rasanya...kakinya tak memijaki tanah, pandangannya pun mulai mengabur. Ah, kalaupun memang mati di hadapan kekasihnya sendiri tak apa, ia ikhlas.

"Tentu saja! Kenapa kau menanyakan sesuatu yang sudah jelas jawabannya?!"

Tiba-tiba saja semua begitu gelap, tubuhnya tak mampu lagi menahan rasa sakit. Sang wanita jatuh, hilang kesadaran dengan darah yang tetap menetes konstan dari tangan membuat Oikawa tersentak dan segera menangkap tubuh [Name]. Wajah wanita itu begitu pucat, sejenak ia melupakan semua yang begitu berantakan di rumahnya. Pot tanaman hancur, gelas-gelas berpecahan, bahkan bingkai foto yang tergantung di dinding terjatuh bahkan kacanya pecah. Bahkan ia tak peduli dengan kakinya yang menginjak pecahan gelas, entah seberapa dalam, ia tak peduli. Wanitanya harus diselamatkan terlebih dulu.

-ooooo-

Aku mencintaimu, [Name]. Kenapa kau masih belum paham juga?

"Berhenti saja, Oikawa." Teman dekatnya berujar, Iwaizumi biasa disebut. Pria itu berdiri di samping Oikawa dengan kedua tangan berada di saku celana, melihat betapa hancurnya teman masa kecilnya. Ia sudah begitu khawatir dengan keadaan sang sahabat ketika hubungan antara Oikawa dan gadis itu mulai aneh, ditambah aneh dengan kejadian yang sudah terjadi sebanyak dua kali, tepatnya hari ini. Entah apa yang dipikirkan mantan kapten klub volinya dulu, mempertahankan sebuah cinta yang begitu konyol dan hanya bisa menyakiti diri. Bukankah itu toksik? Itu hanya akan menjadi racun saja bagi tubuh, baik jiwa dan raga seorang manusia.

Kedua tangan Oikawa yang tengah memegang kepalanya kini turun ke paha dan telapak tangannya disatukan hingga membentuk genggaman. Sudah sering sekali ia diberi nasehat oleh Iwaizumi, dimana ia sudah mengenal lelaki itu cukup lama. Baik susah maupun senang, baik buruk dirinya sudah diketahui. Untuk kali ini Oikawa ingin menolak semua nasehat yang berhubungan dengannya maupun [Name], gadis yang tengah tak sadarkan diri akibat terlalu banyak mengeluarkan cairan. Ia mencintai gadis itu, mencintai gadis dengan mahkota [Hair Color] yang begitu berkilau, yang memiliki senyum secerah dan sehangat matahari, memiliki sentuhan bak malaikat yang turun ke bumi. Bagaimana bisa ia menolak dan berhenti mencintai seseorang yang menjadi rusuknya?

"Iwa-chan, sudah kubilang ini tak semudah yang kau katakan."

"Bodoh, aku sudah tahu sifatmu." Iwaizumi mendengus. Tangannya sudah bergerak hendak menggeplak kepala lawan bicaranya, namun ia tahan mengingat kondisi sang pria yang sedang kacau. Ia juga tak mau menambah luka dan juga trauma tentunya, terlebih disini di rumah sakit. Katakanlah Iwaizumi berpikir terlalu jauh, tapi bisa saja ada polisi disini dan ia bisa-bisa ditangkap walau ia ingin memukul kepala Oikawa untuk menyadarkan lelaki itu. "Kau bisa mencari wanita lain demi kehidupanmu. Kenapa harus [Name]?"

"[Name] itu berbeda, Iwa-chan. Untuk apa juga aku mempertahankannya jika dia tidak memiliki sesuatu yang membuatku tertarik?"

Decihan lolos dari mulut Iwaizumi. Ia tak menyangka sahabatnya sudah mulai hilang akal, bahkan tangannya benar-benar sudah siap untuk melayangkan tamparan ke pipi Oikawa—namun mengambang di udara karena manik lelaki itu begitu dingin—menatapnya. Ia benar-benar tak tahu apa yang sudah mengendalikan otak dan tubuh seorang lelaki berambut cokelat muda itu, tatapannya benar-benar dingin dan kosong. Sungguh, Iwaizumi Hajime tidak memahami sahabatnya kali ini. Ada sesuatu yang berbeda, tetapi ia tak mampu mengungkapkannya.

Plak! Satu tamparan melayang di pipi Oikawa. Menyedihkan memang karena Iwaizumi tak mampu menahan amarahnya, tetapi ia tak bisa melakukan apapun selain memberi kekerasan untuk membuat sahabatnya sadar. Dari sejak mereka berpacaran, baru kali ini lelaki bermahkota obsidian itu menampar seorang Oikawa. Bayangkan saja sudah berapa lama ia menahannya, tapi kali ini si Oikawa benar-benar kelewatan. Ia tidak mau kalau sahabatnya menjadi sinting hanya karena cinta.

Panas dan berdenyut, itulah yang dirasakan oleh si mahkota cokelat muda ketika tamparan mendarat di pipinya. Suaranya begitu keras menimbulkan keterkejutan orang-orang di sekitar sampai akhirnya mereka kembali ke aktivitas masing-masing—sebab Iwaizumi berdeham—bersikap biasa dengan memasukkan kedua tangannya kembali ke saku celana. Sakit memang, tapi tamparan itu tidak membuatnya sadar atas apa yang dilakukannya. Sejenak Oikawa mendecih, merasakan nyeri pada sudut bibirnya yang terkena tamparan menjadi-jadi. Ia menyentuh bagian tersebut, lalu beralih pada ibu jarinya dan didapati jejak cairan merah disana. Dikiranya perdarahan tersebut telah berhenti, tapi karena ditampar kini lukanya terbuka kembali.

"Oi, kau harus diobati juga!" Iwaizumi berujar seraya menarik kerah belakang baju Oikawa, melihat jejak darah yang timbul dari sudut bibir lelaki itu. Yah, ia terlalu gegabah juga karena asal memukul tanpa melihat luka yang tercipta. Terkutuklah emosinya karena tingkah laku sahabatnya itu.

"Tenang saja, Iwa-chan~ Ini akan sembuh sebentar lagi."

"Mumpung kau di rumah sakit! Aku tidak mau repot-repot mengantarmu kembali kesini hanya karena kau terluka makin parah, bodoh," ketusnya. "Atau kau mau aku obati?"

Mendengar itu membuat Oikawa tersentak, spontan menggeleng dan mengibaskan kedua tangan. "Gak mau~ Iwa-chan kalau ngasih obat kayak gak ikhlas. Sakit banget~"

"Ya makanya karena kau di rumah sakit kau haru—"

"Ano, apa kalian keluarganya [Last Name]-san?"

Suara tersebut membuat keduanya menoleh, mendapati seorang perawat berdiri di hadapan dengan map berisi laporan medis—yang sepertinya milik [Name]. Oikawa berdiri dari kursi, meletakkan telapak tangannya di depan dada dan berujar, "Saya pacarnya. Ada apa?"

"Dokter ingin berbicara dengan anda," ujarnya, lalu mengernyit ketika melihat wajah sang lelaki yang memar. "Maaf, apa anda tidak apa-apa? Luka itu apa sudah diobati?"

"Ah, biar saya saja yang berbicara dengan dokter," Iwaizumi berucap, melangkah mendekati Oikawa. "Bisakah anda mengobatinya dulu?" tanyanya seraya memegang bahu sang lelaki, membuat lawan bicaranya itu mendengus dan menepis tangan Iwaizumi darinya.

"Apa-apaan ini? Aku baik-baik saja dan aku perlu tahu kondisi [Name]!"

Perempatan muncul di dahi Iwaizumi. Spontan mencengkram kerah baju Oikawa dan menariknya hingga kedua wajah mereka hampir tak memiliki jarak sedikitpun. "Aku akan mengurusnya. Obati saja dirimu dulu, sialan."

Ia lalu melepas tangannya dari baju sang lelaki, lalu menghela napas dan berjalan masuk ke ruangan, meninggalkan Oikawa dan seorang perawat disana. Dirasa Iwaizumi sedang ditatap dengan kesal, tapi dia bersikap untuk tidak peduli. Kalau begini terus bisa-bisa sahabatnya jadi gila, mana mau dia seperti itu. Mengingat betapa tidak terkontrolnya seorang Oikawa jika melakukan sesuatu dan terlalu terobsesi membuat Iwaizumi khawatir karenanya.

-ooooo-

Sinar yang tanpa izin masuk ke dalam mata membuatnya mengerang, spontan meletakkan tangan di atas dahi guna menetralisir cahaya yang masuk. Kepalanya menoleh ke kiri, didapati sebuah tirai cokelat yang menutupi tempatnya. Hal itupun sama ketika ia menoleh ke sisi kanan dan tirai berwarna senada juga berada disana. Bau obat-obatan menyusup masuk ke indera penciuman, hiruk-pikuk orang-orang berlalu lalang dengan membawa brankar ataupula berbicara, suara-suara tabung oksigen yang menyala dan juga elektrokardiogram darimana terdengar.

Ah, lagi-lagi dia disini.

Di sebuah unit gawat darurat sebuah rumah sakit. Dilihat punggung tangan kanannya kini terpasang infus, sedikit meringis kala menggerakkan tangannya dan melihat perban melilit di kedua tangan. Otaknya memutar kembali apa yang baru saja terjadi, hingga kilas balik ketika semua perabotan rumah dilempar dan hancur, tangannya disayat dengan pisau tanpa perasaan dan saat itu ia bungkam—menahan rasa sakit. Hal itu membuatnya menggeleng cepat, semua itu adalah mimpi buruk dan trauma baginya. Bagi seorang [Name], yang begitu terpuruk atas apa yang telah menimpanya.

"[Name]-chan!"

"Jangan lari-lari, bodoh!" tukas seorang lelaki, menarik kerah baju sahabatnya agar berjalan lebih pelan. [Name] yang mendengar suara itu hendak bangkit, menyandarkan diri ke punggung brankar tapi apalah daya tubuhnya sakit dan selalu meringis walau hanya sedikit bergerak.

"Kau baik-baik saja 'kan, [Name]?" Oikawa menghampiri sang gadis dengan tatapan khawatir, menggenggam tangannya dan menempelkannya ke pipi. "Kau ingat aku 'kan?"

[Name] meringis kala tangannya ditarik dan digenggam, lalu mengangguk pelan sebagai respon. Hal itu membuat si mahkota cokelat muda kalut, menoleh pada Iwaizumi—agar memanggil dokter—namun decakan yang didapat. "Lukanya baru saja diobati. Wajar saja dia merasa kesakitan."

"Tapi ini parah sekali, Iwa-chan!

"Perlu aku beritahu berapa kali sampai kau memahami dan menyerapnya ke otakmu hah?"

"Aku baik-baik saja, Tooru," ujar sang gadis seraya mengulas senyuman tipis. "Tenang saja."

"Benarkah?" Oikawa bertanya dengan wajah yang sama, khawatir. "Kau tidak perlu dokter?"

Sang gadis menggeleng pelan, lalu mengelus tangan Oikawa yang berada di tangan kanannya. "Iya, kau tidak perlu khawatir oke?"

Iwaizumi menatap keduanya dengan miris, lalu menghela napas kasar dan keluar dari tempat tersebut dan menutup tirainya kembali. Mengingat kembali apa yang dikatakan dokter membuatnya sakit kepala, seperti—yang benar saja. Ia juga tak habis pikir dan menyangka bahwa kedua orang itu benar-benar sinting. Selama ini ia berpikir bahwa Oikawa adalah pria sinting yang terlalu mencintai [Name] sepenuh hati sehingga pria itu selalu melakukan kekerasan pada sang gadis. Ternyata ia salah, tapi tidak sepenuhnya salah. Baik Oikawa maupun [Name], keduanya sama-sama saling mencintai dan tidak mau menjauh hingga melakukan kekerasan demi menunjukkan rasa cinta yang begitu mendalam.

Gila? Memang.

Setiap mendengar apa yang dokter katakan membuat Iwaizumi tak segan-segan mendengus atau bahkan mendecak. Ia pun tak tahu harus berbuat apa, memisahkan keduanya juga sama saja cari mati. Tetapi ini benar-benar tidak baik, sangat tidak baik untuk keduanya. Bagaimana bisa ia melihat sahabatnya yang selalu mendapat luka di sekujur tubuh dan sama halnya dengan sang gadis, selalu tampak memar atau bahkan cairan merah yang keluar.

[Full Name] adalah pasien psikiatri kami. Dia memang selalu melakukan kekerasan jika terobsesi pada seseorang dan yah...kami tidak menyangka bahwa ia juga menemukan orang yang sama. Hanya saja kami belum melakukan pemeriksaan dengan saudara Oikawa, untung saja anda yang menghadap saya. Jika anda mau tahu, setiap kali ia berbicara dengan saya ia hanya mengiyakan saja seolah-olah tidak takut dengan apa yang sudah diperbuatnya, begitupula dengan apa yang dilakukan [Last Name]. Bolehkah saya minta tolong untuk membujuk saudara Oikawa Tooru diperiksa?

"Apa yang terjadi jika ia tidak mau diperiksa, sensei?"

Jujur, jantung Iwaizumi sudah begitu berdebar cukup kuat ketika mendengar semua penjelasan dari dokter—memilih untuk mendecak guna menetralisir perasaannya. Ia memang sudah begitu dekat dengan Oikawa, tapi tidak tahu kalau pria itu ternyata memiliki gangguan kejiwaan seperti ini.

"Kelakuannya tidak akan bisa dikontrol dan kemungkinan buruknya...keduanya bisa mati karena terlalu sering melakukan kekerasan, tuan."

Fin.