Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-13
Words:
2,057
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
127
Bookmarks:
7
Hits:
1,506

Sunyi Bertemu Suara

Summary:

“Kalau orang lain nggak mau dengerin kamu, ya udah biar aku aja yang dengerin ya?”

“Kamu punya aku. Walau telingaku nggak berfungsi, tapi kalau sama kamu, tuliku pun minder makanya dia mumpet.”

“Aku akan selalu jadi pendengarmu Sasya, jangan berhenti ya? Terus jadi Sasya yang aku kenal.”

Notes:

Spesial hari lahir si cantik, aku persembahkan cerita ini untuk kita semua.
Cerita ini ada unsur disabilitas untuk karakternya, yaitu tuli.
Maaf aku tidak terlalu bisa menyusun tag dengan baik, jika ada yang ketrigger dengan isu ini bisa banget untuk stop di sini.
Utamakan kesehatan mental ya teman-teman.
Font miring adalah bahasa isyarat.
Yang ada di sini biarlah menetap di sini, mohon bijak dalam membaca ^^ 

Keonho sebagai Karan
Seonghyeon sebagai Sasya

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Karan-Sasya

Hening dalam keramaian, sepi dalam kerusuhan, diam dalam kebisingan. Bukannya tak ada suara, hanya telinga yang tak mampu mendengar. Orang-orang menyebutku tuli. Ada telinga tapi tak berfungsi. Ada mulut yang sehat tapi tak juga untuk bersuara. 

Tumbuh dalam keheningan tidak lebih menyakitkan dibanding dengan tumbuh dengan tidak mengetahui siapa kedua orang tuamu. Aku ditinggalkan mereka hanya berbekal sarung kusut pembungkus tubuhku dan kertas usang bertuliskan nama dan tanggal lahir. 

Di bawah terowongan aku dibuang mereka. Miris. Tapi beruntung mereka “masih memiliki hati” dengan meninggalkanku di tempat umum yang masih terjangkau banyak orang. Peristiwa yang tidak kurasakan tapi sangat nyata kualami.

Aku Karan, dan di sinilah aku sekarang, di panti asuhan bersama Ibu Dini dan teman-teman lain. Kata ibu, dulu aku bisa mendengar sampai usia hampir 2 tahun, namun setelah usiaku menginjak 2 tahun, ibu mendapati ada yang aneh denganku. Ibu membawaku ke dokter, dan mulai saat itu, aku hidup dengan status baru yaitu sebagai orang yang tidak bisa mendengar.

Sebenarnya tanpa menggunakan alat bantu dengar aku masih bisa mendengar suara, namun sangat sangat sangat kecil. Jadi alat bantu dengar ini sangat membantuku untuk berkomunikasi. Setidaknya aku mendengar apa yang mereka katakan. Aku tuli tidak dari lahir, seharusnya bicaraku masih aman saja. Tapi karena aku kehilangan pendengaran saat usia masih sangat kecil, itu juga yang membuatku kesulitan bicara. Di usiaku yang sekarang, aku sudah bisa sedikit-sedikit untuk berbicara, walau terbata-bata.

Menangis sendirian berharap ada keajaiban. Tidak berharap banyak dengan telingaku yang sekarang, tapi masih sering berharap mereka datang untuk menjemputku. Sungguh impian yang mustahil untukku. 

Dulu aku sempat menyalahkan Tuhan atas keadaanku. Sudah dibuang orang tua, pendengarannya diambil pula. Aku berpikir apa salahku sampai Tuhan memberiku takdir seperti ini. 

Dengan usiaku yang hampir menginjak 17 tahun, kembali aku berpikir. Ternyata aku tidak semenyedihkan itu. Aku dikelilingi banyak kasih sayang, banyak teman-teman, dan satu orang yang menjadi alasan untuk aku tetap semangat hidup sampai saat ini. 

Dia adalah Sasya. Laki-laki manis yang sudah 2 tahun ini kukenal. Saat aku berusia 15 tahun Sasya datang. Saat itu ia datang bersama dengan teman-teman organisasinya, dan dia adalah anggota OSIS. Saat itu mungkin Sasya sedang menjalankan program kerja organisasinya, maka Sasya bisa berada di panti asuhan ini. 

 

Flashback



Hari ini akan ada tamu. Kata ibu, tamunya adalah dari anak-anak SMA dekat sini. Aku dan teman-teman sudah diberitahu sebelumnya tentang agenda hari ini. Sekarang aku berada di aula utama panti untuk mengikuti kegiatan yang akan dilaksanakan.

Melihat satu persatu murid SMA berdatangan dengan senyum yang terpatri di wajah, membuatku merasa iri. Andai saja aku tidak dibuang oleh orang tuaku, mungkin aku juga bisa seperti mereka. Andai saja aku hidup “normal”, aku pasti memiliki banyak teman dan mungkin kini duduk di bangku SMA seperti mereka.

Aku sekolah? Tentu. Tapi sekolah tempatku menimba ilmu sedikit berbeda dengan mereka. Itulah yang membuatku merasa iri. Tapi tidak lama setelah itu, aku melihat dari kejauhan ada anak laki-laki dengan senyum manis dan lesung di pipi. Berperawakan kecil dengan jaket kebesaran yang melekat di tubuhnya. Seolah tersihir akan senyumnya, tidak sadar aku pun ikut tersenyum.

“KARAAAAN! Dari tadi aku senggol-senggol kamu kenapa nggak digubris? Alat dengermu oke kan?” Tanya salah satu teman dekatku, dia bernama Jena.

“Oke aja, maaf aku nggak terasa.” Jawabku dengan bahasa isyarat yang biasa kugunakan.

“Aku tadi tanya, kenapa kamu tiba-tiba senyum sendiri?”

“Enggak, kamu salah lihat.” Jawabku kepada Jena, sebenarnya Jena tidak salah. Namun aku yang tidak mau membahasnya lebih lanjut. Lalu tiba-tiba Jena meninggalkanku begitu saja dan lebih memilih duduk di barisan depan.

Dari awal acara sampai sekarang yang kulihat hanya dia. Laki-laki dengan senyum manis dan lesung di pipi, serta jaket yang kebesaran. Kalau saja aku bisa bicara lancar, sudah kudatangi dia dan kuminta nomor ponselnya.

Melihat caranya berbicara, berjalan, dan tertawa membuatku tersenyum. Saat kulihat ia menghampiri Dek Rio dan mengajaknya bermain bersama, aku justru terlarut dalam lamunan, sampai lupa diri bahwa sejak tadi, dengan tidak sopan, aku terus menatapnya, hingga…

“Halo! Kayaknya kita seumuran? Namamu siapa?” Kira-kira itu yang kulihat dari gerakan mulutnya.

Sungguh di posisi ini aku sangat panik. Aku seperti ketahuan mencuri mangga milik pak Tono di kebun sebelah. Ini benar, dia mengajakku berbicara? Sungguh aku tidak bisa mendengar suara apapun walau alat bantu dengar ini terpasang rapi di telingaku. 

Dia melayangkan telapak tangannya di depan wajahku dan berkata “Halo?” Karena masih belum mendapat respon dariku, dia memiringkan kepalanya dengan pupil mata yang membesar. Oh Tuhan, imut sekali orang ini. Bukan tidak mau meresponnya, tapi tubuhku seakan kaku dan tidak mau bergerak.

Karena tak kunjung mendapat jawaban, dia menepuk pundak kiriku dengan tangan kanannya, dan itu sontak membuatku tersadar atas lamunanku.

“Maaf…”

“Eh??” Respon dia sedikit kaget melihatku berkomunikasi. Segera aku mengeluarkan ponselku dan menuliskan kalimat untuk dia. Aku tidak yakin dia bisa bahasa isyarat atau tidak, maka opsi mengetik lewat ponsel adalah yang terbaik kukira.

Setelah memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang kondisiku dengan bantuan mengetik di ponsel, bisa kulihat raut wajahnya berubah. Lebih murung, lebih sendu. Entah mengapa aku tidak suka melihat alisnya mengkerut tanda ia bersedih. Siapapun tolong beri tahu aku cara menghibur seseorang.

Karena tidak tahu apa yang harus kulakukan, aku tetap berdiam diri dengan tatapan sendu pula. Kuharap dia paham bahwa aku pun ikut bersedih jika dia sedang bersedih. Bahkan ramainya aula saat itu seakan tidak terdengar. Kami melempar pandang kesedihan selama beberapa saat, aku melihat bibirnya yang ia katupkan. Seolah menahan sesuatu yang ingin keluar.

“Jangan nangis.”

“Nanti mereka pikir aku nakalin kamu.”

Tanpa sadar aku malah menggunakan bahasa sehari-hariku kepadanya. Kuharap dia paham dengan membaca gerak mulutku. 

Oh tidak! Dia semakin meneteskan air matanya. Bagaimana ini? Tolong aku!

Karena panik, aku pun berusaha menghapus air matanya. Sopan atau tidak, aku memberanikan diri mengusap bawah matanya dengan ibu jariku. Kembali aku mencoba menghiburnya dengan mengatakan bahwa aku baik-baik saja lewat tulisan di ponsel. Tiba-tiba ia berkata.

“Besok Sasya kesini lagi boleh?”

Melihatnya yang berhenti menangis membuatku merasa lega. Aku hanya bisa mengangguk saja. Akhirnya aku tahu, namanya adalah Sasya. Nama yang cantik oleh orang yang cantik pula.



Flashback end



Sejak saat itu, setiap hari Jumat dan Sabtu Sasya selalu datang berkunjung. Yang kusukai darinya adalah betapa lugu dan polosnya dia. Jika orang lain memperlakukanku dengan penuh kehati-hatian, seolah aku adalah vas tua yang rapuh dan mudah pecah, Sasya justru bersikap sebaliknya. 

Perlakuan orang-orang sering membuatku merasa lemah, tak bisa diandalkan, dan harus selalu dijaga. Aku bersyukur, meski tak sepenuhnya merasa nyaman. Berbeda dengan Sasya—sikapnya yang apa adanya membuatku merasa bahwa akulah yang seharusnya menjaga, bukan dijaga. 

Aku senang bagaimana Sasya menumpahkan keluh kesah pelajarannya di sekolah, bicara tentang drama teman sekelasnya yang tak kunjung mereda, bercerita soal film fantasi yang selalu ia idam-idamkan untuk masuk kedalamnya, bertanya tentang tanggapanku mengenai novel romance yang ia baca, dan bahkan tak jarang ia membawa bricks legonya untuk kami selesaikan bersama. 

Bukan kami, lebih tepatnya aku. Saat aku merangkai bricks yang ia bawa, Sasya lebih memilih untuk mengoceh dengan aku yang dengan senang hati mendengarkan. Senang sekali rasanya ada seseorang yang membuatku sadar bahwa aku ini berharga dan tidak lemah. Oh ya satu lagi yang tak kalah penting. Aku suka sekali saat Sasya memanggil dirinya sendiri dengan namanya, dan itu sangat menggemaskan.

“Besok Sasya bawa yang bentuk puppy ya? Yang itu baru boleh Karan bawa.”

“Bawa aja, nanti rakit bareng lagi.”

Ngomong-ngomong soal komunikasi, Sasya sekarang sudah bisa bahasa isyarat. Setidaknya dia paham dengan bahasaku. Tak kusangka Sasya mau dengan repotnya belajar bahasa isyarat demi bisa memahami bahasaku supaya tidak lagi kesulitan menggunakan ponsel.

Bagaimana ada orang sebaik ini? Disaat banyak orang “normal” di luar sana yang bisa dijadikan teman, Sasya memilihku untuk menjadi temannya. Banyak waktu yang telah kulewati bersamanya. Rasa nyaman, aman, dan sayang. Baru kusadari bahwa sayangku ke Sasya bukan hanya sayang pada seorang teman. Tapi rasa sayang yang lebih dari itu.

Sekarang kami berada di warung mie ayam. Kami sudah izin kepada ibu panti untuk keluar hanya sekadar makan mie ayam. Kali ini aku ingin mentraktir Sasya, meski uang saku yang kudapat tidak lebih banyak darinya, tapi kali ini aku ingin bergantian karena Sasya sudah terlalu sering mentraktirku.

Hanya disaat makan dan tidur saja Sasya diam. Sasya adalah tipe orang yang akan fokus dengan makanannya, setelah makanan habis ia akan kembali mengoceh dan membicarakan banyak hal. Bahkan mulai dari daun jatuh bisa ia jadikan obrolan berdurasi satu setengah jam.

Tak sadar langit mulai gelap tanda turun hujan, kami segera membayar dan kembali ke panti. Aku mengayuh sepeda dengan Sasya berada di belakang. Ia berpegangan pada pingganggku seperti biasanya. Namun aku selalu tak terbiasa dengan hal itu, dadaku selalu berdegup lebih kencang saat ia melakukan itu.

Mungkin Dewi Fortuna sedang tidak berpihak pada kami, padahal sekitar 5 meter lagi kami akan sampai, tapi hujan telah turun dengan derasnya. Karena tidak ingin menghujan-hujankan anak orang, aku lebih memilih berteduh di depan ruko yang sedang tutup. 

“Maaf, harusnya aku lebih cepet ngayuhnya.”

“Kamu ada yang basah?”

“Nggak ada yang basah. Nggak apa-apa kok Sasya malah seneng bisa kejebak hujan bareng Karan.”

Hey balasan apa itu? Berhenti membuatku tersipu Sasya, mau ditaruh di mana mukaku jika ketahuan salah tingkah.

Kami hanya menunggu hujan dengan berdiam-diaman. Sesekali aku melirik Sasya yang sepertinya kedinginan. Sayangnya aku tidak memakai jaket, jadi aku tidak bisa memberikannya kepada Sasya. Aku berinisiatif membawa kedua tangannya kedalam genggamanku. Kami berdua berhadapan, dan aku menundukan sedikit kepalaku untuk meniup tangannya guna memberi kehangatan. Kepalaku menunduk tapi mataku menatap tepat pada matanya. Mata kami bertemu tapi Sasya tidak bereaksi. 

Sasya hanya diam memperhatikanku dan terus menatapku lama. “Terus sama Sasya ya Karan, jangan pergi kemana-mana.” Kata Sasya tiba-tiba. 

Tentu. Aku segera mengangguk dan membawa Sasya untuk lebih dekat denganku, lengan kami menempel dan tangan kami saling menggenggam. Bisa tidak aku berharap hujannya tidak mereda? Aku ingin seperti ini sedikit lebih lama. 

Tidak biasanya Sasya diam begini. Kupikir karena dia tidak nyaman denganku, tapi jika tidak nyaman, mana mungkin Sasya merapatkan diri dan mengenggam erat tanganku. Di menit-menit berikutnya aku mencoba mencari topik.

“Aku inget pernah cari tau arti namamu.”

“Sasya dalam bahasa sansekerta artinya hujan.”

“Kalau lagi hujan, aku selalu inget kamu.”

“Kamu hadir di hidup aku juga kayak hujan.” 

“Hujan itu berisik, tapi karena suara hujan, aku bisa dengar walau nggak pake alat. Kamu itu hujan juga, karena kamu cerewet…” 

“Eh enak aja! Gitu-gitu Sasya cerewet tapi Karan suka kan!” Sasya memotong pembicaraanku.

“Iya, kamu cerewet tapi aku suka." 

“Makasih ya Sasya”

“Makasih kenapa? Aku nggak kasih kamu uang padahal.”

“Makasih karena udah hadir di hidup aku, makasih karena udah mau jadi ramainya aku, makasih udah mau jadi suaraku, makasih udah mau berteman sama aku. Aku sayang kamu Sasya.”

Tidak ada jawaban dari Sasya, hanya ada senyum haru dan mata yang sedikit basah. Tiba-tiba Sasya melompat ke tubuhku, sedikit berjinjit dan merangkulkan tangannya ke leherku dan memelukku erat.

“Sasya juga sayang banget sama Karan, Karan nggak apa-apa kok kalo mau bicara, Sasya nggak akan ejek. Sasya juga nggak maksa Karan kalo Karan masih belum mau.”

“Sasya juga pernah cari tau arti nama Karan. Artinya dalam bahasa sansekerta itu telinga. Terserah orang-orang mau lihat dan anggap Karan kayak apa. Tapi bagi Sasya, Karan itu pendengar yang baik.”

“Nggak semua orang tahan dengan cerewetnya Sasya, nggak semua orang suka dengan obrolan random Sasya, nggak semua orang suka dengan kegemaran yang Sasya ceritakan. Tapi Karan enggak. Karan dengerin semua yang Sasya obrolin. Entah itu yang Karan suka atau tidak, paham atau tidak. Karan tetap dengerin dan tetap senyum waktu Sasya cerita.”

“Terima kasih ya Karan.”

Bagaimana ini? Bagaimana kalau aku semakin sayang kepadanya dengan dia yang mengatakan hal ini kepadaku? Sasya masih memelukku erat, enggan melepas. Namun kupegang tangannya yang berada di leherku untuk kugenggam sebentar.

“Aku nggak tau kamu berpikir kayak gitu tentang aku. Terima kasih…”

“Kalau orang lain nggak mau dengerin kamu, ya udah biar aku aja yang dengerin ya?”

“Kamu punya aku. Walau telingaku nggak berfungsi, tapi kalau sama kamu, tuliku pun minder makanya dia mumpet.”

“Aku akan selalu jadi pendengarmu Sasya, jangan berhenti ya? Terus jadi Sasya yang aku kenal.”

Dahulu aku berada di tengah keramaian, namun hidup dalam keheningan. Dunia memandangku rapuh dan tak berdaya. Aku menerimanya, meski diam-diam merasa kosong.

Lalu Sasya datang. Ia mengisi sunyi itu dengan kehadirannya yang sederhana namun berarti. Perlahan, hidupku yang hening menjadi ramai. Aku yang dahulu dipenuhi keraguan, kini belajar percaya. Aku yang pesimis menemukan kembali semangat, dan aku yang dianggap lemah mulai merasa pantas untuk diandalkan.

Semua perubahan itu bermula dari satu nama, Sasya.

Notes:

Selamat bertambah usia Eom Seonghyeon
Kiranya tahun ini menjadi tahunmu
Semakin sukses dengan karirmu
Semakin disayang oleh banyak orang
Berkat melimpah buatmu Uri Eomppeuni, Eom Gongju, Teteh, Princess Umm