Actions

Work Header

IF THIS WAS A MOVIE

Summary:

“Tapi kali ini, kita udah sama-sama nggak mampu.”

Selamanya bersama pernah jadi cita-cita yang diimpikan berdua, walau barangkali entah besok entah lusa jadi alkisah usang yang dulu dikelakar penuh gelora.

Notes:

The title is taken from If This Was A Movie by Taylor Swift. Enjoy your reading, yaa <3!

Work Text:

Dua entitas manusia bukan lakon utama serial televisi jadi dasar absolut Anton berkuyup deras hujan malam selasa cuma berupa andaikata dalam rasio kepala Taesan saja. Temu ditebus lir melucuti harga diri; menelanjangi keputusasaan selepas suntuk terasuh ego sendiri. Taesan kontan benci, di mana nggak pernah sekalipun ia tanggalkan ratusan langkah di belakang hanya supaya Anton sudi berpaling pandang; terjerembab berkali-kali sebab sang pujaan hati akan pastikan tali sepatunya telah teranyam rapi. Kasih Anton merekah dan Taesan nggak perlu kerepotan mengiba. Aries mahir suapi Leo dengan segala bentuk cinta mula sederhana sampai yang sukar dieja. Barangkali karenanya Taesan demikian lupa, nggak sewajarnya cinta paksa Anton sapu apa-apa dalam hidupnya buat dipersembah pada Taesan semata; brangkali pun Taesan total lupa, usia mesti bawa Anton lari kejar ekspektasi sana-sini yang prioritasnya bukan cuma dia.

Taesan cuma baru mafhum, sedang Anton kepalang jengah kalau mesti terus-terusan maklum.

“Anton, brengsek!” Gema bentur udara kosong, sisakan Taesan dengan kendali yang bukan lagi dalam genggam, raib bersama pengecualian Anton sudi penggal derap-derap kaki yang kian kabur—menarik satu langkah makin jauh manakala Taesan mengayun tungkai lebih dekat. “Sampai kapan mau jadi pengecut kaya gini, sih?” getir pada ujung suara disambangi degung putus asa. Nggak lagi akan Taesan mati-matihan tandah air mata kalau-kalau Anton masih keras kepala. Kendati kabar baiknya adalah api perlu disulut lewat taksir harga diri yang dijunjung selangit tinggi, beruntung Taesan kali ini berhasil matikan Anton dan seluruh niatnya buat terus lari.

Kendatipun buat menarik napas masih tersenggal-senggal, lelaki itu dapati sampul yang sempat sesak ikat dadanya kemudian melonggar. Segerakan pasang presensi sebelum Anton kembali angkat kaki. Kali ini presetan; kali ini Taesan pastikan mereka bakal dapat ganjaran.

“Ngomong dulu sama aku sebentar.”

Taesan piawai curi kuasa sampai Anton berani serahkan cuma-cuma. Adapun lelaki itu mana mengerti, sungguhnya Anton kepalang benci kalau pada akhirnya mesti labeli diri sebagai pengecut ulung sebab telah memblokade seluruh akses komunikasi dengan sang mantan kekasih. Hanya karena semua telah selesai seperti kesepakatan mereka di malam penuh nelangsa, menemui Taesan hanya akan buat ia berakhir sengsara. “Semuanya udah selesai, San.”

“Masih bisa kita perbaiki …” Anton cukup tersentak dapati Taesan bersikukuh, pun sontak langsung disangkal teguh, “Udah nggak bisa!”

Renggang di antara mereka nggak mestinya disulap sebegini tegang. Anton di hari-hari lalu adalah yang paling segan ungkap penolakan. Anton dalam miskonsepsi kalau lelaki itu juga bisa buat Taesan mati dua kali

“Lagian apanya yang mau diperbaiki, sih?” Vokal lantang menuntut tanya kembali renggut sadarnya. Taesan belum sempatkan bicara kala si Aries sambung menyela, “Sikap kamu yang hobi nuduh-nuduh aku?”

“Aku nggak akan nuduh kamu kalau nggak ada sebab, ya!” Taesan jelas tak terima. Emosi disulut semena-mena. Niat bicara lewat kepala dingin ditebas lain. Jari telunjuk sontak mengarah tepat pada dua mata yang enggan sorotkan hangat pada dirinya, yang sekaligus ditelak kasar sampai Taesan terhuyung ke belakang.

Ironisnya Taesan nggak meraba apapun; nggak ada tumpuan untuk tiap petak kecil sebagai langkah mundur manakala Anton makin menghimpit lelaki itu sampai hela lara dari nafas keduanya beradu.  “Emang aku ngelakuin apa, sih? NGELAKUIN APA TAESAN?”

Anton naik pitam, nggak sedikitpun beri ruang bagi Taesan guna kembalikan tentram. Tutur keluar dari bilah suara milik si Maret masih kelewat mencekam,  “Soal Kak Sungchan, kan. Kamu butuh aku jelasin soal Kak Sungchan buat yang keseribu kali?”

“Kamu nggak pernah bilang bakal ada Kak Sungchan, Anton! Masalahnya, tuh, kamu udah bohong dari awal.” 

“RIBET, TAESAN! Kamu harusnya sadar kenapa aku nggak jujur dari awal karena ujungnya bakal kaya gini.” Taesan gelengkan kepala, total nggak lagi kenal siapa Anton di hadapannya yang buta suara. “Cemburu kamu, Taesan. Cemburu kamu ngeribetin aku!”

“Aku cemburu karena aku di sini percaya sama kamu, Anton. Tapi, di sana kamu malah matahin kepercayaan aku.” Nyaris lenyap seluruh tenaga, Taesan nggak mengira bahwa lelaki itu bakal beri ultimatum dengan ungkit semua hal yang brengseknya nggak ada cela buat dibantah salah. Tapi Taesan juga tahu, yang kalah bukan cuma dia. Mereka berdua— Taesan dan Anton kandidat utama. 

“Nggak ada sedikitpun niat aku buat main gila di belakang kamu kalau itu yang bikin kamu takut.” Anton balik bersua, tentu nggak berhenti sampai sana.  “Yang gila itu prasangka di dalam kepala kamu Taesan, itu yang bikin semuanya jadi gila.”

Taesan terkesiap. Suara Anton dan emosinya yang meninggi buat ia terperangkap. Sempat sekejap longgar sampul yang ikat dadanya kini kembali mengerat. Fakta kalau Anton barangkali nggak lagi punyai cinta, nggak lebih dari rasa sakit seolah tengah ditelanjangi hidup-hidup, dan Taesan putuskan nggak lagi sanggup.

“Iya, Anton, iya! Aku salah, aku mita maaf …” Kalau harus relakan warasnya digerus reka ulang seperti malam ketika ia berakhir bertelanjang dingin manakala Anton putuskan tutup pintu indekost selepas Taesan beri keputusan final yang berhasil luluh lantakkan jiwa, Taesan pastikan ia bakal menyerah.

Butuh sejemang jeda sampai Taesan mantap gelengkan kepala. Ragu nggak pernah kenali dirinya dibanding keyakinan bahwa Anton masih bersisa cinta. “Aku minta maaf buat semua keegoisanku selama ini–” Waktu di mana Taesan cukup gentar paku Anton tepat pada nayanika milik lelaki itu adalah serupa sama kala teduh yang dia damba sejatinya diterka telah binasa. Akan tetapi, seberapapun takutnya, Taesan kembali bersua bela, “Aku mau belajar buat lebih mengerti … perihal semuanya–”

Cinta sanggupi Taesan bertekuk lutut jika Anton butuhkan ia begitu, jaga kesempatan supaya nggak jumpa jalan buntu. Suara Anton bisa jadi secercah harap atau diamnya lelaki itu justru buat udara kian pengap. Nggak papa, tutur disambung sigap, “Semua yang selalu kamu usahakan untuk kamu, untuk aku. Aku nggak akan maksa kamu buat kerahin seluruh waktu. Aku nggak akan kekanak-kanakan. Aku mau lebih dewasa buat nyikapin semua masalah. Aku nggak akan minta kamu terus ada. Aku nggak akan marah kalau kamu nggak bisa. Aku mau menghargai apapun yang kamu lakuin. Aku mau kamu terus nyaman sama aku, aku mau–” Tiap kata tertutur sendat. Hampir-hampir ia paksa kembali tumpahkan semua benang kusut dalam kepala sebelum Anton sekonyong-konyong jerat tubuhnya buat Taesan terpekur kaku.

Taesan tidak boleh menangis sebab Anton berjanji akan buat cantik senyumnya abadi, meski abadi buat  mereka ternyata cuma sebatas dua warsa. Nggak ada yang lebih lama dari selamanya selain omong kosong, kan.

“Maaf, maaf, Taesan, maaf. Maaf atas ucapanku yang nggak pantes kamu denger.” Anton kunci sang jelita pada dekap rindu yang kerap ia damba. Tangan kanan melingkar pada pinggang ramping yang selalu ia hujami puja, sedangkan yang kiri usak surai lembut yang senantiasa beraroma puspa. Anton kenal betul Taesan bisa luruh kapan saja dan di hari-hari menjelang, Anton tentu nggak lagi bisa ulurkan tangan. Bukan karena keseluruhan cintanya musnah, bukan juga Anton yang putuskan berubah. Sejatinya, sejak lama mereka sudah sama-sama patah. Kembali menganyam hubungan cuma buat keduanya makin payah.

“Aku sedikitpun nggak pernah nyesel kenal kamu.” Anton renggangkan peluk, beralih tangkup iras Taesan dengan rasa total remuk. “Tapi kali ini, kita udah sama-sama nggak mampu.”

Selamanya bersama pernah jadi cita-cita yang diimpikan berdua, walau barangkali entah besok entah lusa jadi alkisah usang yang dulu dikelakar penuh gelora. Anton percaya Taesan merkah akan suka cita  di mana nggak ada lagi nama Anton dalam bayang. Dan bilamana hari itu tiba, bahagianya akan serta benderang. []