Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-14
Words:
1,870
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
24
Bookmarks:
2
Hits:
1,989

Antara Hidup, Mati, dan Tangisan Pertama

Summary:

Malam tenang pasangan Uzuki berubah menjadi ketegangan saat Rion mulai kontraksi sungguhan sebelum HPL (Hari Perkiraan Lahir)

Notes:

Sebuah cerita hangat tentang kelahiran anak pertama dan ketakutan terbesar Kei melihat Rion mempertaruhkan nyawa.

(Uzurion, fluff, family, married au, one-shot)

Work Text:

 



Seorang pria duduk tenang dengan buku ditangannya, tenggelam dalam bacaannya. Kei melirik ke arah kamar mandi, masih terdengar gemercik air. Malam semakin larut tetapi kedua sejoli itu masih tidak ingin pergi tidur. Dari sofa yang ia duduki, terlihat Rion sering bolak-balik dari kamar mandi, Kei lalu menutup bukunya. Sudah 4 kali di rentang waktu 2 jam ini Rion pergi ke toilet.

“Rion? Kamu tidak apa-apa?”

“Kei, rasanya kok mulas banget ya. Tadi habis minum susu, kok jadi mulas,” Rion memegang perutnya curiga, berpikir apakah ini kontraksi atau diare saja.

Kei lalu membantu istrinya untuk duduk. Rion mencengkeram lengan suaminya kuat, dia mencondongkan tubuhnya untuk memeluk lengan suaminya.

“Tapi beneran, ini sakit banget.” Kei lalu mengelus punggung hingga tulang ekor istrinya. Kei hanya terdiam mendengar rintihan Rion, dia setia mengelus punggung Rion. Ya, istrinya ini tengah mengandung buah hati mereka sekitar hampir 39 minggu. Walaupun sejak mereka menikah, dia selalu menjadi bulan-bulanan teman Rion dengan mengatakan bahwa Kei lah yang akan mengandung.

Sejak awal lelaki itu sadar, circle istrinya itu memiliki otak yang tidak lurus.

“Kayanya adek mau lahir deh, Kei,” Rion terdengar mengatur nafasnya. Sesungguhnya dia sangat bingung pada dirinya sendiri, semasa mudanya banyak hal yang membuat dirinya babak belur, berdarah, maupun juga terluka. Tetapi rasa sakit seperti ini baru untuk Rion.

“Hah!?” Kei terbelalak, “Rion, HPL nya masih satu minggu lagi kan?”

“Tidak tahu, Kei,” Rion meringis, sepertinya nanti dia akan pergi ke rumah orang tuanya dan bersujud di kaki ibunya karena sudah menjadi anak perempuan yang nakal, dan berandalan. Ternyata akan melahirkan sosok anak itu sesakit ini. Rion tetap mencoba mengatur nafasnya, setelah itu dia merasakan sensasi hangat mengalir di antara kakinya.

“Kei, kurasa juga ini ada yang rembes,” Rion lalu merasa kehilangan tumpuan tubuhnya ketika Kei bangkit dari sofa.

“Ayo sayang, kamu ganti baju dulu ya. Kita pergi ke rumah sakit,” suaminya itu dengan sigap membantu Rion berganti baju. Lelaki itu sangat berhati-hati, Rion mungkin merasa tegang tapi Kei lebih tegang lagi. Raut wajah lelaki itu sudah tidak bisa dideskripsikan apalagi ketika dia mulai menuntun istrinya itu dan menyadari Rion mulai berkeringat. Tangannya gemetar ketika mengambil kunci mobil bahkan sempat terlepas dari tangannya.

Merasakan Kei yang panik Rion lalu menarik lengan Kei. Tidak bisa, Kei tidak akan fokus mengemudi, atau keselamatan mereka bertiga yang menjadi taruhannya.

“Taksi saja, Kei,” ujar Rion sambil melihat wajah suaminya yang rona wajahnya menghilang, Kei seperti mau pingsan.

“Kei! Jangan panik gitu dong. Aku jadi ikutan panik.”


“Aneh banget, Kei. Aneh.”

Kei lagi-lagi bingung, sudah sih dia sedang linglung sekarang istrinya itu bikin bingung juga.

“Kenapa sayang?” Seperti yang Rion duga sebelumnya bahwa anak pertama mereka akan segera lahir. Ketika mereka tiba di rumah sakit, ternyata Rion sudah di tahap pembukaan enam.

“Sakit lho, sumpah,” Kei menatap maklum, istrinya itu memang mengatakan sakit. Tapi entah kenapa wajahnya terlihat santai sekali, “Sebentar dulu, tadi aneh kenapa, Rion?” Kei mengusap punggung belakang Rion, matanya senantiasa menatap wajah istrinya.

“Ini beneran aku bakal jadi ibu?” Rion lalu terlihat bengong, tidak pernah dia membayangkan hal-hal semacam ini saat dia masih muda.

“Benar," ujar Kei singkat, tangannya membenarkan selimut di badan Rion.

“Singkat banget sih jawabnya. Sebel deh," Kei yang mendengar Rion misuh-misuh hanya menghela nafas, “Tidur ya..”

“Bete banget tau tiduran doang,” Rion terus mengajak ngobrol suaminya, Kei menanggapinya dengan penuh perhatian. Di tengah obrolan mereka kadang Rion berhenti berbicara karena merasakan kontraksi tiap beberapa menit. Wajah Kei tidak bisa berbohong, dia tegang sekali seperti dia yang akan melahirkan.

Rion yang berbaring miring menghadap suaminya bisa merasakan ia menggenggam tangannya erat. Tangan Kei sangat dingin.

“Stop menatapku seolah aku akan meninggal, Kei.”

“Rion, tolong dong jangan bicara yang macam-macam dulu,” Kei lalu menatap istrinya dengan pandangan memohon, sifatnya yang terlalu santai itu sangat berbanding terbalik dengannya. Rion tidak paham betapa takutnya Kei sekarang, dia mengingat beberapa artikel yang dia baca tentang sakitnya melahirkan bahkan ada kasus sang ibu meninggal dunia.

“Ngantuk..” Perkataan istrinya itu menarik kembali Kei ke dunia nyata, dia lalu menyelimuti istrinya dengan baik.

“Sakit?” Kei menepuk lengan Rion, dan menyisir rambut biru Rion yang menghalangi wajahnya.

“Sakit.”

“Mau kupijat?” Rion mengangguk, dan dengan sigap tangan Kei pergi ke belakang punggung istrinya, dan memijat lembut punggungnya. Kei bisa bernafas dengan lega barang sejenak ketika Rion terlihat mulai terlelap, dalam hatinya selalu di panjatkan doa agar keduanya bisa melewati ini dengan selamat.

02.44 dini hari.

Lelaki berambut putih yang menelungkupkan kepalanya di sisi tempat tidur itu merasakan ada yang menjambak rambutnya, dia membuka mata dan melihat istrinya sedang merintih kesakitan. Kei lalu membiarkan rambutnya di acak-acak dan diremas, memang perih tapi ia yakin rasa sakit yang ia rasakan tidak ada apa-apanya.

Seorang Rion Akao—sekarang Uzuki— yang memiliki pain tolerance sangat tinggi sampai merintih seperti itu. Tidak pernah seumur hidupnya melihat Rion merintih kesakitan se-intens sekarang. Istrinya mengatur nafas, dan Kei kembali mengusap kepala Rion yang berkeringat.

Pagi perlahan menyingsing, lelaki itu merasakan waktu seperti selamanya, malam itu Rion tidak dapat tidur dengan nyenyak, dia merasa tidak sanggup melihat Rion kesakitan sepanjang malam. Masih ada beberapa waktu lagi hingga pembukaan penuh. Istrinya itu sudah tidak banyak berceloteh, mulai misuh-misuh lagi, mengomel ketika ingin dipegang oleh Kei, tapi tidak ingin juga Kei menjauh darinya. Dibandingkan hal itu, yang membuat Kei tersiksa adalah melihat istrinya itu kesakitan.

“Sarapan dulu, Rion. Kamu harus siapin tenaga.”

“Tidak mau. Mana bisa makan,” Rion mencengkeram pinggiran bed kontraksinya lebih terasa intens. “Beberapa suap saja ya?” ujar Kei memohon.

“Tolong, Kei. Aku mau minum saja.” Kei lalu dengan sigap membantu istrinya minum. Sepertinya kalau ini berlangsung lebih lama Kei akan berakhir menangis, dia tidak peduli kalau misalnya hal itu akan menjadi bulan-bulanan Rion seumur hidup.

Rion lalu kembali ke posisi tiduran.

“Wah, anjing. Sakit banget, Kei,” Kei mengusap kepala Rion dengan sangat hati-hati. Untuk saat ini Kei akan membiarkan Rion mengumpat, untuk saat ini wajah kesakitan Rion lebih membuat dirinya khawatir.

Kei selalu berdoa agar hari ini berjalan dengan cepat.

“Sayang, ngomong dong.” Kei semakin tertekan melihat istrinya yang biasanya galak itu lebih banyak diam.

“Capek, Kei.”

“Makanya makan dulu sedikit ya.”


Tiba waktunya, ketubannya pecah.

Wajah lelaki itu pucat, sekarang persalinan sedang berlangsung. Kei sedikit banyak menyesal telah menyanggupi akan menemani sang istri melahirkan. Dia tidak sanggup melihat Rion kesakitan. Tetapi mana tega dia meninggalkan istrinya seorang diri saat persalinan. Kei melihat wajah berkeringat Rion yang saat ini berusaha melahirkan buah hati mereka ke dunia dengan selamat dan sehat. Tidak, Rion juga harus selamat. Rion memang kesakitan tapi dia tetap terlihat tenang.

Berapa ratus kali dia merasa istrinya itu hebat, sangat hebat.

“Ini gara-gara kamu, Kei!” Rion menjambak rambut Kei, lelaki berambut putih itu hanya pasrah.

“Iya, iya, gara-gara aku.”

Persalinan tersebut membuat Kei merasa mual, rintihan dan cengkeraman Rion membuatnya sangat tersiksa, matanya memanas. Dia menggenggam tangan Rion, Kei bahkan tidak merasa pantas untuk mengucapkan kata semangat. Istrinya itu sedang berjuang antara hidup dan mati.

Waktu terasa berhenti ketika suara tangisan bayi itu terdengar keras dan menggema di ruangan tersebut. Jantung Kei tiba-tiba berdebar kencang, sekarang dia secara resmi menjadi ayah. Kei bangkit mendekati Rion, saat ini tidak terlintas sedetik pun dibenak Kei untuk melihat dan mencari bayinya. Kei mencondongkan badannya, menciumi wajah dan kening Rion, istrinya itu masih tersengal. Wanita berambut biru itu dapat melihat suaminya itu menangis.

“Sayang..” Kei tidak dapat berkata-kata. “Terima kasih.. hebat banget. Istriku yang paling hebat,” lelaki itu terisak di samping telinga Rion.

“Pak, Bu. Bayinya perempuan dan sehat. Selanjutnya kami mandikan terlebih dahulu ya.” Rion yang masih setengah sadar hanya bisa tersenyum lemah, Kei gemetar melihat bayi yang masih diselimuti darah dan lendir itu, sebelum akhirnya dibawa untuk dibersihkan.

“Kei. Aku ngantuk.” Kei lalu melihat ke arah dokter dan perawat yang menangani persalinan. Kei mundur sejenak ketika mereka mulai cek kondisi ibu setelah melahirkan.

“Kita pantau dulu beberapa menit ya, Bu. Untuk sekarang jangan tidur dulu.”

“Tapi..” Kei merasa kasihan sekali dengan Rion yang kelelahan.

“Tekanan darah istri Anda sedang turun, sepertinya ada perdarahan yang kurang wajar. Kita akan atasi perdarahannya secepat mungkin. Kalau ciri-ciri kondisinya sudah stabil baru boleh tidur ya.”

Perkataan itu membuat seperti ada pisau imajiner yang menembus dada Kei. Perasaannya kalut. Tidak ada perasaan tenang sedikit pun untuk sekarang.

Ya Tuhan, apalagi ini?

'Kumohon, berikan Rion kekuatan lebih,' ujar Kei dalam hati.


Ketegangan pasca bersalin perlahan menghilang, istrinya berhasil stabil dalam waktu yang cukup singkat. Semesta pun tahu setakut apa Kei, saat dokter mengatakan hal tersebut.

Mata lelaki itu terlihat bengkak, tetapi hatinya lega. Dalam hatinya terus bersyukur, sangat bersyukur. Mereka sekarang sudah kembali ke kamar rawat inap khusus ibu bersalin. Sejak tadi pagi Kei setia menemani istrinya, Rion sempat mengomeli Kei karena belum makan. Tergeletak makanan yang mendingin di meja khusus penunggu pasien. Tadi, Aoi—Istri Sakamoto—sempat mengirimkan beberapa makanan untuk mereka. Kabar kelahiran anaknya dengan cepat tersampaikan kepada keluarga Sakamoto.

“Kei makan dulu sana. Aku kan sudah tidak apa-apa.” Rion masih terlihat lemas, bahkan lemas walaupun hanya bangkit duduk. Kei lalu melihat makanan di meja.

“Nanti aku makan kalau makananmu juga sudah datang.” Kei lalu mendekat ke arah Rion lagi, entah kenapa wajah kesakitan istrinya itu masih terngiang-ngiang, dia lalu kembali memberikan ciuman kecil di wajah istrinya. Rion lalu mengelus pipi suaminya.

“Rion, sehabis ini sepertinya aku akan mencari tahu tentang vasektomi.”

“Hah? Kenapa?” Rion terkejut dengan pernyataan Kei.

“Satu anak saja, Rion. Aku mohon ya, aku tidak mau melihatmu kesakitan seperti tadi lagi,” ujar Kei lirih nyaris terderngar seperti merengek. Mendengar itu tangan Rion menepuk pelan kepala suaminya.

“Tenang dulu, Kei. Anak kita baru lahir loh. Nanti kita bicarakan lagi saja ya,” Kei lalu kembali menangis, entah kenapa hari ini dia cengeng banget.

“Kenapa nangis lagi?” Rion melihat wajah merah Kei.

“Tidak tahu, Rion.” Istrinya hanya terkekeh. “Ngomong-ngomong. Kok, bayi kita belum di antar ke kamar ya.” Kei lalu mengusap lehernya canggung.

“Tadi pagi perawatnya tanya mau bertemu bayinya sering atau diurus mereka dulu. Aku meminta tolong, untuk sementara di urus mereka.” Kei lalu tersenyum canggung.

“Ya ampun, nak. Kasihan banget kamu.” Rion menggeleng tidak habis pikir.

“Rion..” Kei lalu merengek kecil. “Aku cuma ingin kamu istirahat dulu. Apalagi tadi tekanan darahmu sempat turun drastis, aku panik banget tau.” Rion dapat melihat mata suaminya itu memerah, terlihat ingin menangis lagi.

“Utututu. Maaf Kei, maaf.” Rion memeluk kepala Kei dan mengusapnya rambutnya. “Udah ah jangan nangis lagi, nanti sakit kepala.”


Sapaan perawat mengudara ketika membawa masuk anak mereka di bed bayi. Anak mereka, putri kecil mereka sedang tertidur pulas. Selama beberapa jam sejak lahirnya dia ke dunia, bayi kecil tersebut belum sempat membuka mata. Hati Rion menghangat, dan perasaan ingin menggendong menggebu tetapi apa daya tangannya masih lemas, mungkin karena perdarahan sebelumnya. Rion memerhatikan suaminya itu menggendong anak mereka dengan baik, mata Kei tidak pernah lepas dari anak mereka yang masih merah itu.

“Rion. Kok dia gemes banget sih, aku hap boleh?” Mata suaminya itu berbinar-binar penuh keharuan.

“Jangan mengada-ada ya. Lu yang gue hajar nanti.”

Sejak saat itu hidup baru mereka akan segera dimulai. Terutama bagi putri kecil mereka yang mulai membuka bab baru kehidupan. Mereka bersumpah akan mengisi lembaran hidup malaikat kecil mereka hanya dengan hal-hal indah, dan selalu dipanjatkan doa agar mereka berdua dapat menjalankan dan memberikan yang terbaik untuk Uzuki kecil ini. Kei menunduk guna mencium ringan pipi merah anak pertamanya itu.

‘Selamat datang di dunia, Uzuki Himeko’—Uzuki Kei