Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-16
Words:
1,190
Chapters:
1/1
Comments:
12
Kudos:
113
Bookmarks:
9
Hits:
922

Keonho si perona pipi alami Seonghyeon

Summary:

“Hey,” sapa Seonghyeon dengan ramah. Dia memberikan senyum tipis pada Keonho yang seketika menengadah mendengar suara yang amat dikenalinya. Mata mereka bertemu sesaat sebelum Keonho memutus kontak lebih dulu. Anak-anak lain ikut menyapa Seonghyeon sebelum kembali fokus pada pembicaraan mereka yang sempat tertunda. Tanpa melihat ke arah Seonghyeon, lelaki kelahiran februari itu berujar datar. “Tunggu di luar dulu, ya.” Nadanya yang tak biasa buat Seonghyeon keheranan namun dia tetap menurut. Entah kenapa, meskipun Keonho tak terlihat marah padanya, suaranya seolah-olah sedang memarahi Seonghyeon. Atau Seonghyeon yang kelewat sensitif? Entahlah, yang penting dia keluar dulu dari sana. Gak tau kenapa suasana di ruangan itu jadi mendadak suram. 

Sedikitnya cara dari Keonho membujuk pacar cengengnya.

Notes:

I wrote this instead of sleeping. There's soooo many headcanon knhn di kepalaku tapi aku mau bisik bisik sedikit sajaaa, dan ini salah satunyaa! Selamat menikmati!

Work Text:

Sore menjelang malam, langit mulai gelap, awan-awan menutupi sebagian biru yang berganti oranye itu, burung-burung mulai berterbangan kembali ke sarang mereka. Begitu juga dengan Seonghyeon, dua tas berada di bahunya, dia melangkah ringan menuju kolam renang indoor. Seonghyeon membuka pintu dengan perlahan, keadaan kolam renang sore itu lumayan sepi, tak seramai di pagi hari, anak-anak yang mengikuti ekstrakurikuler renang terlihat sudah pulang, kebanyakan. Menyisakan beberapa anak yang sedang berkumpul di kursi panjang, handuk tersampir di bahu telanjang masing-masing anak. Seonghyeon menghampiri ketika dia menemukan pacarnya di salah satu lima siswa yang entah sedang membicarakan apa. 

 

“Hey,” sapa Seonghyeon dengan ramah. Dia memberikan senyum tipis pada Keonho yang seketika menengadah mendengar suara yang amat dikenalinya. Mata mereka bertemu sesaat sebelum Keonho memutus kontak lebih dulu. Anak-anak lain ikut menyapa Seonghyeon sebelum kembali fokus pada pembicaraan mereka yang sempat tertunda. Tanpa melihat ke arah Seonghyeon, lelaki kelahiran februari itu berujar datar. “Tunggu di luar dulu, ya.” Nadanya yang tak biasa buat Seonghyeon keheranan namun dia tetap menurut. Entah kenapa, meskipun Keonho tak terlihat marah padanya, suaranya seolah-olah sedang memarahi Seonghyeon. Atau Seonghyeon yang kelewat sensitif? Entahlah, yang penting dia keluar dulu dari sana. Gak tau kenapa suasana di ruangan itu jadi mendadak suram. 

 

Seonghyeon membawa tungkainya melangkah keluar ruangan, bahunya merosot, tanpa sadar bibirnya menekuk sedih. 

 

Tiga puluh menit lebih sedikit, Keonho keluar dari ruangan, lengkap dengan seragam abu dan kemeja putih yang sudah ditanggalkan—digantikan kaos biru gelap. Matanya mencari keberadaan Seonghyeon, setelah menyuruh kekasihnya menunggu di luar, Keonho berharap Seonghyeon akan menunggunya di luar tapi dia gak menemukan Seonghyeon di mana pun. Keonho menelponnya berkali-kali berujung dengan suara wanita. Keonho bahkan menanyakan keberadaan Seonghyeon ke teman-temannya dan sayangnya, mereka tak bersamanya. Berpuluh-puluh pesan dan beberapa panggilan tak terjawab. Keonho resah, dia merasa bersalah teringat betapa dinginnya nadanya ketika berbicara pada Seonghyeon tadi, sejujurnya dia tak bermaksud sejudes itu padanya tapi keadaan sekitar saat itu membuat Keonho kelepasan dan secara tak sengaja melampiaskan pada Seonghyeon yang tak tahu apa-apa. 

 

Keonho berjalan menyusuri jalanan, kendati wajahnya biasa biasa aja, jantungnya berdegup kencang, beberapa kali ia mengambil nafas panjang, hatinya tak tenang sama sekali. Tiba-tiba ponsel yang di genggamannya bergetar, sebuah pesan muncul dari Juhoon. 

 

Juhoon

| Gue liat Seonghyeon di sini tadi

|📍Location 

 

Tanpa menunggu lebih lama, Keonho berlari menuju lokasi yang diberitahukan Juhoon. Ternyata laki-laki itu berada di rumahnya. Keonho bahkan gak peduli seberapa jauh lokasi sekolah ke rumahnya, rambutnya yang setengah basah kini basah lagi karena keringat, peluh memupuk di pelipis, sia-sia dia mandi habis latihan renang tadi tapi tak apa, dia bisa mandi lagi kok nanti. 

 

Dari kejauhan, Keonho bisa melihat ada sesuatu di atas atap rumahnya, dia mempercepat langkahnya. Keonho menemukan Seonghyeon berbaring di atas genteng, ditemani kucing jenis apa itu Keonho gak tau pokoknya warnanya item nyaris menyatu dengan langit malam. Setelah naik ke lantai dua rumahnya, Keonho dengan hati-hati memanjat ke atas. Dia tak bicara apa-apa sesampainya di sana, dia justru duduk di sebelah Seonghyeon, mengikuti arah pandang laki-laki yang lebih tua, menatap langit malam yang kini dipenuhi bintang-bintang. 

 

Bermenit-menit mereka di sana, ditemani kucing yang sesekali mendusel ke Seonghyeon dan kehangatan yang terpancar dari tubuh satu sama lain cukup untuk mengendurkan bahu Seonghyeon yang entah sejak kapan terasa tegang. Terdengar helaan nafas panjang dari sebelah Seonghyeon, dia tak perlu menoleh tapi Seonghyeon tau sebentar lagi Keonho akan mengajaknya bicara.

 

“Sayang,” di malam itu, pukul enam petang, suara Keonho memecah keheningan. Nadanya lembut, hangat dan penuh sayang, terdengar kencang, suara-suara lain teredam begitu saja, yang terdengar hanyalah suara milik Keonho, melesat masuk ke dalam telinganya dan meluncur ke hatinya. Namun, ketika Seonghyeon mengalihkan tatapannya ke Keonho, yang dia ingat justru suara Keonho tadi sore yanh terdengar kasar di telinganya. Hatinya berdenyut sakit, maniknya bergulir menatap ke arah lain, ujung bibirnya menukik ke bawah bersamaan dengan alisnya yang menyatu. Tiap detil perubahan ekspresinya tak luput dari perhatian Keonho, laki-laki yang lebih muda menghela nafas, tau jika dia benar-benar menghancurkan hari kekasihnya. Keonho mendekat, menoel lengan Seonghyeon ringan, sentuhannya seringan bulu. 

 

“Sayang,” panggilnya lagi, kali ini lebih pelan, nyaris berbisik, “liat sini, dong.” namun Seonghyeon yang terlampau sebal tak menurut. Lagi, lagi, Keonho menghela nafas, di satu sisi, dia selalu menganggap ngambeknya Seonghyeon imut, menggemaskan dan lucu tapi terkadang bikin dia ikutan jengkel. Kadang aja, kebanyakan dia seneng seneng aja kok, toh mau gimanapun cintanya lebih besar daripada rasa kesalnya. Jadi, Keonho mau tak mau mengangkat tubuh Seonghyeon yang anehnya—ringan banget. Kucing yang tadinya tiduran di atas perut Seonghyeon langsung melompat menjauh, mendsesis sinis ke Keonho karena udah nyuri bantalnya. Keonho meletakkan Seonghyeon di atas pangkuannya dengan lembut, memastikan punggung yang lebih tua bersandar di dadanya. Tangan Keonho melingkari pinggang Seonghyeon yang kecil ukurannya untuk seorang laki-laki tujuh belas tahun. 

 

“Masih marah?” tangan Keonho yang lain bergerak menelusup di sela-sela jari Seonghyeon, mengusap punggung tangan Seonghyeon dengan lembut. “Maaf, ya? I didn't mean to being that rude to you. Salah aku, bukan salah kamu, maaf, ya, Sayang?” Keonho berbisik lembut, hidungnya menempel di punggung kecil Seonghyeon, menghidu parfum dan aroma tubuh alaminya. 

 

Tak ada jawaban dari Seonghyeon. Namun, tak lama, bahunya gemetar. Keonho mengeratkan pelukannya, ia semakin menenggelamkan wajahnya di punggung Seonghyeon. Kata maaf berulang kali ia bisikkan untuk yang tercinta, usapan-usapan di lengan yang lebih tua tak henti ia berikan. 

 

Keonho membiarkan Seonghyeon-nya menangis untuk beberapa saat. Sekiranya sudah lebih tenang, Keonho memutar tubuh yang lebih tua dengan mudah, membuatnya menghadap ke arah Keonho. Tangannya terulur untuk menangkup wajah Seonghyeon, ibu jarinya mengusap sisa-sisa air mata yang mengecup halus pipi merahnya. Seonghyeon-nya yang cantik meskipun sehabis menangis, Seonghyeon-nya yang begitu lembut dan rapuh, Seonghyeon-nya yang begitu ia cintai. Gemas, Keonho menghujani wajah Seonghyeon dengan ciuman, tiap incinya tak dilewatkan sedikitpun. Merah di pipi serta hidung Seonghyeon menjalar sampai ke seluruh wajah hingga telinga, bahkan leher. Keonho tertawa gemas, sedangkan Seonghyeon memajukan bibirnya kesal. Dia pukul tuh dada yang lebih muda sambil ngedumel gak jelas sebelum mengubur wajahnya di dadanya, merasa malu. 

 

“Maaf, maaf,” Keonho mendekapnya, tangan kanannya mengusap lembut surai kecoklatan yang lebih tua. “Maafin aku ya? Aku janji gak akan gitu lagi ....” tak ada jawaban verbal, namun Keonho bisa rasakan anggukan di dadanya, tangan Seonghyeon melingkari pinggangnya, mengeratkan pelukan meski jarak di antara mereka sudah tak tersisa. 

 

Setelah beberapa lama berpelukan di atas genteng, Seonghyeon menarik tubuhnya menjauh. Ia menengadah, menatap Keonho dengan mata yang berlinang air mata. “Aku takut kamu marah sama aku tadi, kamu keliatan kesel ke aku, kamu jelek, kamu galak, kamu nyeremin kalo marah. Jelek pokoknya!” ocehnya. Bibir bawah Seonghyeon maju lima senti. Meski nadanya terdengar berlebihan tapi Seonghyeon beneran kok, dia takut kalau Keonho udah marah, yang marah beneran meskipun nada bicaranya lembut dan tenang tapi matanya, tatapan tajamnya yang bikin Seonghyeon takut. 

 

Seonghyeon ngerasain wajahnya ditangkup lembut, “Maaf, maaf, maaffff. Nanti aku beliin es krim ya biar mood-nya membaik? Apa lagi ya? Mau sushi? Onigiri? Aku beliin semuanya, sama matcha kesukaan kamu itu.” Selain disogok jajanan, Seonghyeon gak bisa ngambek terlalu lama ke Keonho kalau Keonho sendiri merayunya dengan mengusak hidungnya ke pipinya. Gemas sekali menurutnya. 

 

“Iya deh, dimaafin.” Seonghyeon mencoba terdengar biasa aja, tapi ujung bibirnya kedat kedut nahan senyum. 

 

“Asikk, abis ini kita jajan ya? Tapi mandi dulu.”