Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-16
Words:
2,988
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
10
Bookmarks:
1
Hits:
91

Hangat Hari Itu di Ruang Musik

Summary:

Di musim panas yang sepi di SMA Teiko, Akashi Seijuurou menemukan sebuah pelarian tak terduga di ruang musik lantai tiga—dan di sana, ia bertemu Kuroko Tetsuya, seorang pemain cello yang memainkan kesedihan dengan cara paling sunyi.

Berawal dari alunan nada klasik, keduanya perlahan menjalin relasi melalui duet cello dan tuts piano.

Ini adalah sebuah kisah tentang dua remaja yang sama-sama terbiasa sendirian, menemukan bahwa terkadang, musik tidak hanya menyelamatkan—tetapi juga mempertemukan.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Langit siang itu cerah dan terik. Udara terasa pengap dan angin bagai tak berani lewat di antara pepohonan halaman SMA Teiko. Di tengah panas yang membara itu, Akashi Seijuurou berjalan di koridor panjang dengan setumpuk berkas di tangan—berkas lomba debat nasional yang harus ia selesaikan hari ini juga.

Sebagai ketua OSIS, Akashi terbiasa dengan kesibukan. Ia selalu tampak tenang, teratur, dan efisien. Namun hari itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, pikirannya terasa sedikit kosong. Barangkali karena suasana sekolah yang sepi; sebagian besar siswa sudah pulang untuk menikmati liburan musim panas.

Hanya ada suara jangkrik berderik di luar, hingga Akashi mendengar sayup suara musik. Nada-nada rendah dan lembut mengalun samar, datang dari arah lantai tiga. Suara itu jelas bukan dari radio atau pengeras suara; terlalu hidup, terlalu nyata dibandingkan rekaman.

Akashi berhenti sejenak. Ia menutup mata dan berusaha mendengar lebih seksama. Alunan melodi itu menyelinap masuk ditangkap oleh telinganya. Otaknya memproses suara tersebut hingga ia mengenali suara instrumen itu—cello.

Langkahnya berbelok tanpa ia sadari. Berkas-berkas di tangannya didekap dengan erat seraya ia menaiki tangga ke lantai tiga, mengikuti alunan musik yang semakin keras. Di ujung koridor, pintu ruang musik terbuka sedikit.

Dari celahnya, Akashi melihat seseorang duduk di tengah ruangan yang diterpa cahaya senja.

Rambut biru muda, dengan poni jatuh ke dahi. Kulitnya pucat dengan tubuh ramping yang sedikit membungkuk, jemarinya yang terlihat ramping itu menekan dawai dengan sedikit kikuk. Walau begitu, terdapat emosi yang berlapis di setiap sentuhannya.

Akashi menahan napas. “The Swan” oleh Saint-Saëns—lagu yang sangat ia kenal sedari kecil. Mendengar kembali lagu ini membuatnya merasa sedikit nostalgia, ibunya sering memainkan lagu ini sembari menemani Akashi kecil belajar.

Suara cello memantul di dinding ruangan musik. Sang pemain tidak menyadari keberadaan seorang penonton berambut merah. Mata sang pemuda biru itu tertutup seraya ia fokus memainkan frase melodi dengan legato. Bow cello-nya menggesek dawai dengan lembut dan pasti.

Akashi berdiri di sana hingga not terakhir meredup dan kembali menjadi sunyi.

Kuroko mengangkat wajahnya dan membuka matanya, sedikit terkejut melihat seseorang berdiri di ambang pintu.

“Oh,” katanya pelan. “Maaf, aku tidak menyadari ada orang.”

Akashi tersenyum tipis dan masuk. “Tidak perlu minta maaf. Permainanmu terlalu indah untuk dihentikan.”

Kuroko menunduk sedikit, tersipu malu. “Terima kasih,” ujarnya. Ia tidak terbiasa dipuji. Boro-boro dipuji, dianggap keberadaannya saja hampir tidak pernah.

Akashi berjalan mendekat, menaruh berkasnya di meja dekat Kuroko. “Aku sedang mengurus dokumen lomba, tapi sepertinya di luar terlalu panas. Boleh aku numpang mengadem di sini sambil mendengarkanmu?”

“Silakan,” jawab Kuroko datar seraya Akashi menarik kursi dan duduk di sebelahnya.

“Oh, kita belum berkenalan. Aku Akashi Seijuurou.”

“Aku tahu, kok.” ujar sang pemuda biru sambil tersenyum, “siapa yang tidak mengenal ketua OSIS termuda di Teiko?”

“Heh, benar juga. Kalau begitu, namamu?”

“Kuroko Tetsuya. Aku satu angkatan denganmu, namun aku di kelas B.”

“Begitukah…” Akashi termenung, ia hampir mengenal semua orang di angkatannya, namun ia baru menyadari keberadaan pemuda biru ini sekarang.

“Aku baru tahu ada pemain musik klasik selain diriku di angkatan kita.”

”Aku baru memainkan cello di sekolah mulai hari ini. Terasa lebih bebas di sekolah daripada di….” Kuroko terdiam sejenak, lalu mengganti topik “Aku juga baru tahu Akashi-kun suka dan bisa memainkan musik klasik.”

Akashi termenyit dengan pergantian topik yang mendadak, namun ia tidak mendesak lebih lanjut. “Aku bisa memainkan semua alat musik, tapi favoritku adalah violin dan piano.”

“Violin dan piano, ya…” Kuroko termenung.

“Kenapa?” tanya Akashi.

“Tidak, hanya kepikiran kalau kita berdua mungkin bisa berduet kapan-kapan. Tapi aku tidak yakin, aku tidak terbiasa bermain di depan umum. Orang juga jarang menyadari keberadaanku.” jawab Kuroko.

“Sebenarnya itu ide yang bagus, aku bisa mengiringimu dengan piano. Namun sayang, aku sedang terjebak dengan berkas-berkas lomba ini.”

“Ah, tidak perlu dianggap serius. Aku juga belum siap bermain bersama orang hebat seperti Akashi-kun.”

“Jangan rendah diri, Kuroko. Permainanmu tadi sangat bagus, buktinya aku ke sini karena mendengarnya.”

Kuroko terdiam, wajahnya memerah tersipu malu. “Terima kasih…”

Well, aku akan lanjut mengerjakan berkas ini. Apa boleh kau menemaniku dengan permainan cello-mu, Kuroko?”

Kuroko kembali tersipu, namun ia mengangguk dan mengatur kembali posisi cellonya.

“Kalau begitu, aku akan memainkan Sarabande no. 5 milik Bach.” ujar Kuroko. Ia menarik nafas dan mulai memainkan frase melodi prelude dari lagu tersebut.

Akashi memperhatikan sosok pemain berambut biru itu dengan saksama. Ia tidak hanya mendengarkan musiknya, tapi juga membaca sosok yang memainkannya—gerak kecil di bahu Kuroko, kerutan halus di antara alisnya, dan tatapan emosinya ke instrumen cello yang dimainkannya. Ada sesuatu yang menariknya kepada pemuda biru satu ini, namun Akashi belum tahu pasti apa itu.

Sejak hari itu, ruangan musik di ujung koridor lantai tiga menjadi dunia kecil mereka berdua.

 


 

Hari-hari berikutnya, Akashi kembali ke ruang musik.

Awalnya ia beralasan bahwa ruang itu memang lebih tenang untuk bekerja. Tapi pada akhirnya, berkas-berkasnya hanya menjadi alasan untuk datang. Kuroko selalu ada di sana, duduk di kursinya, memegang cello dengan posisi yang sama, seolah waktu di ruangan itu tak bergerak.

“Bach lagi?” tanya Akashi suatu sore, sambil meletakkan dua botol ocha dingin di meja.

Kuroko mengambil salah satunya. “Tidak kali ini. Ernest Bloch.”

Akashi mengangkat alisnya. “Huh… Biar kutebak, Prayer?”

Kuroko mengangguk singkat dan mulai bermain. Tangannya dengan pasti menekan fingerboard sementara busur cello nya menggesek dengan lembut, namun intens. Akashi menutup matanya, mendengarkan. Ada suatu pesan yang melankolis di balik setiap nada yang keluar dari permainan Kuroko, seolah ia hendak mengisahkan sesuatu yang tak ingin diucapkan.

Setiap satu lagu usai, mereka berbincang sedikit—tentang musik, lagu kesukaan, cuaca, dan hal-hal kecil yang biasanya sepele dan tidak berarti apa-apa. Namun percakapan kecil itu terasa hangat di antara dua pribadi berambut merah dan biru ini.

Terkadang juga Akashi ikut duduk di depan piano, jarinya mengiringi Kuroko bermain. Di ruangan itu, keduanya begitu larut dalam permainan mereka sehingga seolah-olah dunia hanya terdiri dari mereka berdua.

Semakin sering mereka bermain bersama, semakin Akashi menyadari sesuatu dalam permainan Kuroko. Ada sebuah kesedihan yang samar membayangi permainannya.

 


 

Suatu sore, ketika matahari condong dan udara dipenuhi aroma debu hangat, Akashi menyandarkan diri di dekat jendela sambil menonton Kuroko kembali memainkan *The Swan* karya Saint-Saëns.

Nada-nada lembut itu mengalir begitu indah. Namun, seperti biasa, ketika Kuroko yang memainkannya, Akashi merasakan perasaan perih di dada.

Ketika lagu berakhir, Akashi menepuk tangan pelan sambil tersenyum. “Seperti biasa, permainanmu indah, Kuroko.”

Kuroko menunduk sedikit. “Terima kasih.”

Namun Akashi tidak berhenti di sana. “Kau tahu,” katanya sambil berjalan mendekat, “semakin sering aku mendengar permainanmu, semakin aku merasa bahwa musik yang kau mainkan terasa… menyedihkan.”

Kuroko terdiam.

“Dari The Swan, Beethoven Sonata No.3, Elgar Cello Concerto, bahkan Bloch – Prayer. Semua penuh duka. Apa kau menyadarinya?”

Kuroko memandang senarnya. “Mungkin.”

“Kenapa?” tanya Akashi lembut.

Untuk sesaat, hanya ada bunyi jangkrik di luar. Lalu Kuroko menjawab pelan, “Musik… adalah caraku melarikan diri dari kesendirian. Aku merasa aku tidak terjebak dalam bayanganku sendiri ketika aku memainkan cello."

Akashi menatapnya, tapi tidak tahu harus berkata apa. Ia mengenal kesepian dengan cara berbeda—kesepian yang disamarkan oleh kesempurnaan, oleh tuntutan untuk selalu unggul.

Beberapa detik berlalu dalam sunyi. Lalu, tanpa berpikir, Akashi melangkah mendekat dan memeluk Kuroko dari belakang.

Kuroko terkejut. Bahunya menegang, jemarinya masih menggenggam busur cello yang kini menggantung di udara.

“...Akashi-kun?” suaranya pelan, bingung.

Akashi tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata, merasakan detak jantungnya yang tak seirama dengan detak di dada Kuroko. Namun, keduanya sama-sama semakin berdetak kencang.

“Maaf,” gumamnya akhirnya, hampir tak terdengar. “Aku hanya… tidak ingin kau merasa sendirian.” ujar Akashi, yang sebenarnya tidak tahu juga mengapa ia mendekap sang pemuda biru. Namun ia tidak berbohong kalau ia tidak ingin Kuroko merasa sendirian.

Kuroko diam. Ia bisa merasakan panas tubuh Akashi di punggungnya. Anehnya, ia tidak ingin menolak. Kehangatan yang Akashi berikan terasa nyaman dan damai.

Ruang musik kala itu kembali senyap. Tetapi dalam hati masing-masing pemuda itu, pikiran mereka berkecamuk dan ramai mengenai perasaan satu sama lain.

 


 

Setelah hari itu, hubungan mereka terasa sedikit canggung.

Akashi tetap datang ke ruang musik, tapi ada jeda aneh di antara setiap percakapan mereka. Kuroko tetap bermain dan Akashi tetap sibuk dengan berkas persiapan lomba debat, tetapi setiap kali busurnya bergerak, ia selalu merasakan tatapan Akashi di punggungnya.

Akashi terus memikirkan pelukannya di hari itu. Ia merasa bahwa ia seharusnya tidak mendekap Kuroko secara tiba-tiba seperti itu. Namun, di lubuk hatinya, ia juga tahu ia menyukai perasaan ketika detak jantung mereka berdebar cepat ketika ia memeluk Kuroko. Pemuda merah itu merasa nyaman ketika Kuroko berada dalam dekapannya, dan kenyamanan itu persis seperti ketika ia berada dalam dekapan ibunya.

“Maaf tentang waktu itu,” kata Akashi suatu sore, tanpa menatap.

Kuroko berhenti memainkan lagu yang ia mulai. “Tidak perlu minta maaf. Aku tidak keberatan.”

“Benarkah?” Sekilas, mata merah milik Akashi terlihat berbinar menatap pemuda berambut biru tersebut.

Kuroko menatap cello-nya, menghindari tatapan pemuda berambut merah. “Aku tidak tahu kenapa kau melakukan itu, tapi… entah kenapa, aku mengerti.”

Akashi mengangkat satu sisi alisnya. “Mengerti?”

Kuroko mengangguk pelan. “Karena kita sama.”

Kata-kata itu sederhana, tapi memantul dalam hati Akashi seperti gema yang panjang. Ia ingin bertanya ‘sama dalam hal apa?’, tapi mengurungkan niatnya. Akashi belum siap mendengar jawabannya.

Mereka berdua tertawa kecil dan rasa canggung yang sebelumnya ada kini terurai menjadi hangat di antara keduanya.

Setelah itu, Akashi duduk di depan piano lagi. “Kau ingin main sesuatu yang lebih cerah kali ini?”

Kuroko berpikir sejenak. “Mungkin. Tapi aku tidak biasa dengan lagu dengan nuansa cerah.”

“Tidak masalah, kita ‘kan tidak bermain untuk kompetisi,” jawab Akashi, jemarinya sudah menyentuh tuts putih. “Bagaimana kalau Liebestraum-nya Liszt?”

“Boleh saja,” jawab Kuroko.

 


 

Hari demi hari di musim panas berlalu. Bermain bersama di ruang musik kini menjadi semacam rutinitas yang mendekatkan keduanya.

Kuroko akan selalu tersenyum kecil setiap melihat Akashi membawakan minuman kesukaannya—vanilla milkshake—bersama dengan kopi hitam untuk Akashi sendiri. Kemudian Akashi akan selalu terkekeh kecil melihat bagaimana raut wajah sang pemain cello berseri ketika meminum vanilla milkshake-nya.

Terkadang pun, mereka tidak berbicara sama sekali. Akashi fokus belajar materi debat dan Kuroko fokus memainkan cello.

Ketika mereka berdua melakukan duet, musik sudah cukup untuk menjadi kata-kata di antara mereka.

Suatu hari, setelah mereka memainkan Arpeggione Sonata karya Schubert, Kuroko meletakkan cello-nya dan berkata, “Aku tidak tahu kenapa, tapi setiap kali kau mendengarkan atau bermain bersamaku, musikku terasa berbeda.”

Akashi menatapnya. “Berbeda bagaimana?”

“Tidak terlalu sedih,” jawab Kuroko singkat. “Seolah… aku punya seseorang untuk berbagi kesedihanku dan menyinari bayanganku.”

Akashi terdiam, lalu tersenyum manis, “Aku terharu, Kuroko. Aku juga senang bisa menemanimu. Terima kasih sudah mengizinkanku mendengar sambil mengerjakan berkas debat, dan juga bermain bersamamu.”

Kuroko menunduk, bibirnya melengkung samar. “Terima kasih juga sudah mengapresiasi musikku.”

Ruang musik sore itu terasa lebih berwarna dari biasanya. Matahari sudah rendah, dengan sinarnya masuk lewat jendela besar di tengah ruangan, menoreh bayangan panjang pada lantai kayu.

Keduanya saling menatap satu sama lain. Akashi beranjak dari piano mendekati Kuroko dengan perlahan.

“Kuroko,” bisik Akashi. Ia mengulurkan tangan, ragu, lalu menyentuh punggung tangan Kuroko yang memegang busur.

Sentuhan itu ringan, nyaris tak ada tekanan, seolah ia memberi kesempatan bagi Kuroko untuk menolak. Namun Kuroko tidak menarik tangannya, mata birunya menatap langsung ke mata merah Akashi.

“Akashi….kun?” ujar Kuroko bingung. Hatinya berdegup kencang, jantungnya terasa seperti mau meledak.

“Maaf bila aku lancang, tapi bolehkah aku memelukmu lagi?” bisik Akashi.

“…Eh?” Kuroko terkejut, walau ekspresinya masih terlihat datar.

“Entah lah, aku terus memikirkan hari di mana aku pertama mendekapmu. Rasanya nyaman dan hangat. Ini mungkin terdengar personal, tapi ketika aku bersamamu, rasanya mengingatkanku kepada mendiang Ibuku yang selalu membuatku merasa lebih tenang,” Akashi memalingkan wajahnya, sedikit tersipu.

Kuroko terdiam. Ia tidak menyangka seorang Akashi yang terkenal dengan kesempurnaannya memiliki sisi rapuh seperti ini.

“Tidak apa-apa, Akashi-kun,” jawab Kuroko sambil meletakkan cello dalam posisi rest di lantai, “sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama. Silakan saja.”

Walau wajahnya datar, namun dalam hati Kuroko menjerit keras karena malu dan tidak menyangka ia dapat mengatakan hal seperti itu dengan lancar. Akashi sedikit terkejut mendengar jawaban Kuroko. Ia tidak menyangka bahwa permintaan lancangnya akan diizinkan oleh pemuda biru.

“Baiklah.” ujar Akashi dengan ragu.

Jarak di antara mereka semakin mengecil dan jantung keduanya sama-sama berdebar semakin kencang. Kuroko membuka tangannya lebar, seakan mengisyaratkan Akashi untuk masuk ke dalam dekapannya.

Akashi membungkuk, menutup jarak dan mendekap Kuroko dengan hati-hati, ia tidak ingin membuat sang pemain cello merasa tidak nyaman. Dirinya dapat mencium aroma bedak bayi dari tengkuk leher Kuroko. Lucu sekali, kenapa harus bedak bayi?, pikir Akashi.

Kuroko, sedikit kikuk, membalas pelukan Akashi. Pemuda berambut merah tersebut memiliki wangi seperti parfum vintage. Wangi ini sangat Akashi-kun sekali, pikir Kuroko.

Keduanya kemudian melepaskan dekapan satu sama lain. Namun Akashi masih membungkuk, menyesuaikan dengan posisi Kuroko yang masih duduk.

Jarak di antara keduanya begitu dekat hingga napas mereka saling bersentuhan. Kedua iris biru dan merah saling berpadu, mematri keindahan warna masing-masing ke dalam ingatan mereka.

“Kuroko,” bisik Akashi dengan suara yang lirih. Wajahnya memerah karena ia masih merasa malu akan keinginannya untuk mendekap Kuroko.

“Ya, Akashi-kun?”

“Aku sepertinya akan kecanduan pelukanmu,” ujar sang pemuda merah sambil tersenyum lirih.

Kuroko hanya membalas dengan tawa.

 


 

Pelukan itu tidak berhenti di hari itu.

Sejak hari itu, pelukan diantara keduanya menjadi kebiasaan baru di ruang musik lantai tiga. Terkadang pelukan itu singkat—hanya sentuhan bahu atau lengan yang saling merapat. Terkadang pula keduanya berpelukan hangat dalam hening, seolah waktu memilih untuk berhenti sejenak demi mereka berdua.

Akashi sering berpindah ke kursi di belakang Kuroko, lengan melingkar longgar di pinggang sang pemuda biru, dengan dagu bersandar ringan di bahunya. Kuroko yang awalnya canggung, kini mulai bersandar balik.

Terkadang pula ia hanya duduk dalam pelukan Akashi, sementara Akashi mengerjakan berkas OSIS atau berkas debat.

Keduanya menikmati momen berbagi kehangatan itu tanpa kata-kata, hanya kehadiran satu sama lain yang mengisi keheningan di ruangan itu.

Hingga suatu sore, keduanya berjarak hanya beberapa senti dari satu sama lain setelah pelukan. Akashi mengangkat tangannya, ragu, lalu menyentuh pipi Kuroko dengan lembut—sentuhannya hampir tidak terasa, namun cukup membuat napas Kuroko tertahan dan jantungnya kembali berdebar cepat.

Wajah Akashi kala itu sulit dibaca, namun Kuroko tahu bahwa mereka berdua saling terpikat dalam pandangan satu sama lain.

“Kuroko…,” bisik Akashi.

Kuroko mengangkat wajahnya, pandangannya masih terfokus kepada dua rubi milik Akashi. Ia tidak menjawab dengan kata-kata, namun melalui matanya yang tidak berpaling dari Akashi yang semakin menutup jarak di antara mereka.

Akashi tidak tahu kenapa ia ingin semakin dekat dengan Kuroko. Ia hanya tahu, jarak di antara mereka terasa terlalu jauh. Ada dorongan impulsif, hangat, dan membingungkan yang mendorongnya untuk menutup jarak itu.

Perlahan, bibir Akashi menyentuh bibir Kuroko dengan lembut. Pemuda berambut merah itu memagut bibir yang terasa seperti lip balm vanilla itu dengan lembut.

Tubuh Kuroko menegang sepersekian detik, namun ia tidak menolak. Tangannya meraih halus punggung Akashi, mencengkeram ringan kemejanya, seolah mencari pegangan, dan perlahan melembut.

Kuroko membalas ciumannya—sedikit kikuk, namun tulus.

Ciuman itu berubah menjadi pagutan ringan, manis, namun terasa seperti keduanya berhati-hati. Menjaga agar keduanya merasa nyaman, seolah keduanya takut merusak satu sama lain.

Ketika ciuman itu berakhir, napas keduanya terangah. Pipi mereka memerah dengan degup jantung berdebar dengan cepat.

Akashi dan Kuroko saling menatap dalam diam, dahi mereka menempel satu sama lain. Keduanya kehabisan kata-kata, dan Akashi kembali menarik Kuroko ke dalam pelukannya, lebih erat dari sebelumnya. Kuroko membenamkan wajahnya di dada Akashi, mendengarkan detak jantung milik pemuda merah yang belum kembali tenang.

Kuroko terdiam sejenak sebelum berbisik, “Akashi-kun….”

“Ya, Kuroko?” Akashi masih berusaha menenangkan diri, ia tidak percaya ia baru saja melakukan hal tadi. Entah apa yang merasukinya, yang ia tahu ia ingin memiliki Kuroko dengan wajah lugunya tadi.

“Kita ini… apa?” ucap Kuroko pelan.

Akashi diam, mencari kata-kata yang sesuai dengan perasaannya.

“Aku… sebenarnya takut dengan keintiman,” lanjut Kuroko. “Ibu dan ayahku masih bersama, tapi mereka tidak harmonis. Keduanya sama sama musisi, aku belajar musik dari mereka juga. Namun belakangan ini, setiap aku memainkan cello di rumah, aku bisa merasakan ketegangan itu. Seolah musik mengingatkan mereka pada hal-hal yang tidak ingin mereka hadapi.”

Ia menarik napas. “Mereka tidak pernah melarangku bermain. Tapi aku tahu, mereka tidak nyaman.”

Akashi perlahan memeluk Kuroko lebih erat. Tangannya mengelus kepala Kuroko, berharap memberikannya kenyamanan lebih.

“Namun,” Kuroko melanjutkan, suaranya hampir bergetar, “bersamamu, semuanya terasa berbeda. Duet kita, pelukanmu, kehadiranmu berbicara sambil aku berlatih cello… semuanya terasa nyaman, terasa tepat. Seolah… kita ditakdirkan bersama.”

Kini giliran Akashi yang berbicara.

“Aku… dibesarkan dengan tuntutan untuk sempurna,” katanya. “Aku harus bisa segalanya, tidak boleh kalah atau memiliki kelemahan. Bahkan di titik terendahku, aku tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk berduka.”

Akashi teringat masa ketika ia kehilangan ibunya. Ayahnya tidak memberikan waktu baginya untuk berduka, malah menambah beban belajar dan latihannya untuk menjadi penerus keluarga Akashi.

Ia tersenyum kecil, pahit. “Namun bersamamu, aku tidak perlu sempurna. Aku boleh rileks sejenak. Aku bisa menjadi diriku sendiri tanpa perlu takut terlihat rapuh.”

Akashi kemudian menatap Kuroko, tangannya menyentuh pipi Kuroko dengan lembut. “Aku belum sepenuhnya mengerti hubungan kita ini apa. Aku juga ragu, Kuroko.”

Kuroko menyentuh tangan Akashi, merasakan kehangatan yang diberikan pemuda berambut merah itu di pipinya yang sudah merona dan tersipu malu.

“Jika aku boleh bertanya, Akashi-kun, apa perasaanmu padaku?”

Akashi berpikir sejenak. “Aku tahu aku ingin berada di dekatmu. Tapi aku ragu, apakah ini cinta?” ujarnya ragu. “Aku tidak pandai dengan hal-hal seperti ini, ini yang pertama untukku.”

Kuroko tertawa kecil, “Ini juga pertama kalinya aku merasa dekat dan ingin bersama seseorang, Akashi-kun. Kau tidak sendiri.”

Akashi ikut tertawa. Ia kemudian mengangkat Kuroko dengan mudah dan menempatkannya di atas pangkuannya.

"Akashi-kun!” teriak Kuroko dengan wajah merah.

“Jadi? Bagaimana menurutmu, Kuroko?” tanya Akashi dengan senyum lembut di wajahnya.

“Aku tidak ingin hubungan tanpa kejelasan.”

Fair enough.” jawab Akashi. “Kalau begitu, maukah kau menjalin hubungan romansa denganku, Kuroko Tetsuya?”

Kuroko kembali tertawa kecil, “Aku juga menyukaimu, Akashi-kun.” ujarnya gugup. “Aku belum pernah pacaran sebelumnya.”

“Aku juga,” Akashi mengakui. “Tapi tidak ada salahnya kita belajar bersama, bukan, Tetsuya?”

Akashi mencium kening Kuroko dengan lembut. “Ijinkan aku berada di sisimu, Tetsuya.”

Kuroko memeluknya erat, “Teruslah di sisiku, Sei-kun.”

Sejak hari itu, musik keduanya tidak lagi terasa sedih. Alunan nada yang dimainkan keduanya terdengar bagai janji suci sama lain. Di ruang musik lantai tiga, dua remaja yang sama-sama kesepian, akhirnya menemukan kehangatan di antara satu sama lain.

Notes:

Ini sebenarnya mau dibikin jadi drabble singkat tentang pengalaman pribadi penulis, tapi tiba-tiba god mode jadi 3k kata 😭😭 Semoga kalian suka!