Actions

Work Header

[FV] (not you!) i only wanted the mochi.

Summary:

Mammon only wanted a day off, nothing more. Fon makes even that feel like something Mammon didn’t plan for, and isn’t entirely ready to refuse.

Notes:

Latar waktu yag digunakan adalah 5YL! dengan umur para arcobaleno mengalami kemajuan menjadi tiga puluh tahun.

Ini adalah bagian lanjutan dari cerita pertama.

Work Text:

Menghabiskan waktu sehari penuh bersama dengan Fon adalah sesuatu yang aneh. Pria bermata phoenix itu terus membawanya pergi. Untuk pertama kalinya Mammon berdoa di hadapan kuil, menghadap sebuah patung, bahkan melemparkan uang koin ke dalam kotak seperti kolam yang dalam.

“Seharusnya aku membuka kuil untuk mendapatkan uang secara cuma-cuma.”

Denting uang koin terus terdengar saat banyak orang melemparkannya. Mereka berdoa dengan mata tertutup dan tangan yang menangkup, berbicara sedikit samar terkait permohonan sebelum membunyikan lonceng, dan berakhir dengan dua tepukan.

Dia menatap heran orang-orang di sekitar yang mengabdikan diri untuk beribadah. Untuk apa Dewa — dari mereka, meminta uang kecil sebagai imbalan permohonan doa.

Mammon masih tidak mengerti.

Fon tertawa ringan — pendek. Ia melakukan semua itu dengan cara yang sama seperti setiap kali pergi ke kuil. Melempar koin, menangkupkan tangan, menundukkan kepala sebentar. Untuk pendekar beladiri itu, yang dilakukan bukanlah untuk mengharapkan doa yang terkabul melainkan tubuhnya telah mengingat gerakan yang sama lebih dahulu daripada pikirannya.

Bagi Fon, doa tidak pernah menjadi pernyataan harapan yang harus diminta atau ditagih kepada Dewa. Ia tumbuh dengan pemahaman bahwa kekuatan ada dari disiplin napas, dari posisi tubuh yang benar, dan dari kesadaran yang terus di asah — sesuatu yang mungkin, jika dipaksa diberi nama, bersinggungan dengan Konfusianisme.

Namun Fon tidak pernah repot untuk mengikatnya pada filsafat atau sistem tertentu. Ia hanya melakukan apa yang terasa selaras, seperti latihan pagi atau membakar dupa sebelum pergi keluar.

“Kurasa itu hanya sebuah kebiasaan. Jika Mammon menginginkannya, aku bisa membangun satu kuil dan berdoa di sana dengan koin-koin dari emas.”

Mammon tentu mengabaikan ucapan Fon yang lebih seperti omong kosong di telinganya. Wanita itu mengurung niat untuk kembali menginjak kaki Fon, cukup dengan denyutan yang masih terasa di hari sebelumnya karena niat tersebut.

“Berisik,” cibirnya, kemudian berbalik meninggalkan Fon tanpa melirik sedikit pun pada pria berwajah tabah yang berjalan bersamanya itu.

Mereka menghabiskan waktu setelah berkunjung dari kuil kecil. Mammon beruntung tidak mendapati Gokudera Hayato selama perjalanan, atau dia benar-benar akan dipindahkan oleh tangan kanan generasi kesepuluh Vongola ke kamar yang sama dengan Fon.

Meskipun ia sendiri tidak yakin Gokudera akan melakukan hal seperti itu.

“Bagaimana hubunganmu dengan penjaga awan generasi kesepuluh? Sepertinya dia masih tidak menyukaimu.”

Fon memiringkan kepala atas pertanyaan yang dilemparkan oleh Mammon. Pria itu tidak berpikir hubungannya dengan keponakan jauh yang pemarah itu buruk — meskipun sedikit rumit.

“Bagaimana Kyouya bisa tidak menyukaiku?”

Mammon berpikir mengenai cara pandang Fon yang terlalu tidak mempermasalahkan banyak hal, cenderung ringan dan mengabaikan mungkin akan menjadi bumerang di waktu yang lain.

Semua orang tahu ekspresi tidak bersahabat yang dimiliki Hibari Kyouya ketika bertemu dengan Fon.

“Dia hanya anak kecil yang sedang merajuk. Aku beberapa kali membawa Hayato ke gunung untuk berlatih dan bermeditasi, lebih banyak daripada waktu yang ia habiskan dengan Kyouya.”

Fon berbicara lagi, terkadang tertawa ringan. Dia selalu suka waktu untuk membuat Hibari bertindak seperti anak kecil karena masalah sepele berkaitan kekasih badainya.

“Bukankah Kyouya sangat lucu.”

Menggabungkan kata lucu dengan Hibari Kyouya adalah suatu hal yang tidak terlintas oleh Mammon. Wanita itu bergidik membayangkan penjaga terkuat generasi kesepuluh yang menghentakkan kaki sebagai bentuk protes pada pamannya yang usil.

Baut di kepala Fon benar-benar harus diperiksa dengan benar.

“Bagaimana dengan Mammon di Varia? Kudengar dari Squalo bahwa Fran sangat merepotkanmu.”

Mammon menyimpan gerutu mengenai dirinya yang harus menghadapi Fran sebagai muridnya beberapa bulan terakhir. Dua penjaga kabut generasi kesepuluh benar-benar lepas tangan akan katak bodoh dengan mata seperti ikan mati itu.

Setiap kali ponsel Mammon berbunyi atau pintu ruangannya diketuk dengan ragu, Mammon tahu bahwa Fran telah berulah. Terakhir kali ia mendapat laporan bahwa Fran mengubah separuh dari tujuh keajaiban dunia menjadi bunga bangkai.

Ia harus mengurus pembersihan sebelum dunia benar-benar sadar bahwa tingkah Fran mendatangkan petaka. Mammon hampir tidak tidur selama satu pekan penuh.

Terima kasih atas perhatian Fran untuknya dan semua beban yang diberikan padanya.

“Aku tidak ingin membicarakan katak bodoh itu.”

Fon terkekeh. Tangannya terangkat untuk merangkul bahu yang lebih sempit mendekat ke arahnya. Mammon terus bergumam, lebih seperti mengumpat saat mengingat-ingat semua kekacauan yang diciptakan Fran.

“Aku tidak akan memaafkannya jika dia merusak hari liburku.” Mammon berkata dengan tangan yang terkepal. Wajahnya berkerut, tidak menyukai pikiran yang terus berbicara bahwa Fran mungkin akan melakukan hal ‘spektakuler’ lainnya malam ini.

Malam pergantian tahun.

Mammon tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti. Dia hanya berharap untuk kembali ke kamar hotel yang nyaman, menikmati pergantian tahun dengan tertidur atau memandang ledakan kembang api dari jendela kamar.

Betapa menyenangkannya.

Udara menjadi lebih dingin ketika mereka meninggalkan area kuil. Jalanan Namimori tidak sepenuhnya lengang, namun keramaiannya berbeda dari kuil utama atau jalan sekitar pusat kota.

Orang-orang berlalu-lalang tanpa tergesa, membawa kantong berisi makanan beruap hangat atau kotak berisi kue untuk dibawa pulang.

Fon berhenti di depan sebuah toko kecil dengan tirai kain berwarna pucat. Gerakan tiba-tiba itu membuat tubuh Mammon yang berada dalam rangkulannya ikut kerhuyung. Wanita yang lebih pendek kemudian mengadah, memberikan ekspresi menuntut penjelasan pada Fon.

“Maaf Mammon, tetapi kita harus masuk ke dalam.”

Uap tipis keluar dari celah pintu yang terbuka sedikit saat Fon menggesernya ke kanan. Aroma beras hangat dan gula menyeruak, mengetuk indera penciuman Mammon. Mata yang bersembunyi dibalik helaian berwarna ungu gelap mulai mengintip tulisan tangan pada papan kayu.

“Mochi?” Dia bergumam.

Fon mengangguk, “mereka membuatnya dari pagi hari dan tidak pernah tersisa di sore hari. Jika beruntung, kita bisa melihat prosesnya sekarang.”

Mammon mendengus pelan, namun wanita itu tidak menolak ketika Fon mendorongnya masuk ke dalam.

Ruangan itu disusun atas kayu-kayu berwarna cokelat terang, terasa sempit dan hangat. Di sudut terdengar bunyi pukulan, seorang pria tua dengan palu kayu besar menghantam wadah di bawah kakinya.

Kemudian seorang wanita duduk bersimpuh, mengubah bentuk adonan di dalam wadah setiap kali palu kayu terangkat. Adonan tepung yang belum tercampur terbang tipis, kemudian terjatuh di lantai yang mulai memutih.

Mammon berjalan untuk melihat lebih dekat, melepaskan diri dari rangkulan Fon tanpa ia sadari. Mata itu terus bergerak mengikut gerakan palu yang naik turun. Bagaimana sesuatu yang kasar dan lengket perlahan menjadi halus dan berkilau.

“Itu terlihat melelahkan,” gumamnya dengan suara kecil.

Fon mengulas senyum, lalu mengangguk.

“Itu sebabnya mereka melakukannya bersama. Kudengar dua orang lebih baik daripada satu.”

Mammon memicing dari ekor mata, mengabaikan ucapan Fon yang terdengar seperti omong kosong di telinganya.

“Berhentilah berbicara omong kosong.”

Pendekar beladiri itu kemudian tertawa.

Dia beralih pada wanita tua di dekat kasir, berbicara dengan suara pelan sembari melirik ke arah Mammon yang tidak bergerak dari kegiatan menonton pembuatan mochi itu.

“Kekasihmu sungguh cantik. Kenapa dia menyembunyikan wajah itu, sayang sekali.”

Ucapan itu meluncur ringan, tanpa berniat menusuk — hanya basa-basi seorang pemilik toko yang terlalu lama mengamati psangan orang asing. Fon tidak menanggapi ucapan itu.

Hanya tersenyum sopan dengan sudut mata yang sedikit menyipit — gestur yang biasa digunakan saat memilih untuk tidak memperpanjang percakapan.

“Tidak ada yang perlu disayangkan. Mammon cantik dengan apa pun yang dilakukannya.”

Wanita tua itu merona, menyembunyikan tawa di balik telapak tangan yang keriput.

“Oh, astaga! Maafkan aku, nak. Kamu benar-benar menyukainya.”

Fon tersenyum kembali. Ekor mata pria itu melirik ke arah Mammon yang masih diam di tempatnya — tak seperti mendengar pembicaraan dengan pemilik kedai.

Wanita dengan topi bundar itu masih berdiri di dekat wadah kayu. Meskipun terhalang, Fon masih mendapati bagaimana sepasang mata Mammon kini berkilau — bergerak mengikuti sisa-sisa uap yang naik dan menghilang di udara hangat.

“Ya, aku sangat…” Fon menggantung sisa kalimatnya.

Mammon tidak memikirkan diri ketika Varia berbicara mengenai siapa di antara para eksekutif yang merupakan pembicara natural. Jelas dia berada pada urutan hampir terbawah, bukan seorang yang bisa membuka suara pada banyak hal — terlebih pada orang-orang yang lebih asing.

Tetapi, dia juga tidak merasa seperti pembicara yang buruk.

Setidaknya sebelum ia bertemu dengan Fon.

Dahi wanita itu berkerut heran ketika mendapati Fon berbicara dengan wanita tua di kasir. Mereka terlihat akrab seolah pernah bertemu beberapa kali sebelum hari ini. Suatu pemandangan canggung yang tidak pernah dialami oleh Mammon.

“Kamu sudah selesai?”

Ia merasa bingung ketika tubuhnya bergerak sendiri, berjalan mendekati Fon yang masih berbincang dengan wanita tua. Tangan Mammon terulur menarik sisi punggung pakaian Fon saat berbicara.

Pandangan kedua orang yang telah terinterupsi kini beralih padanya. Mammon ingin berlari keluar dari kedai tersebut secepat mungkin, merasa malu atas tindakan spontan yang tak dipahaminya.

Fon berkedip beberapa kali, sedikit heran. Ekspresi itu tidak bertahan lama — mengendur, lalu menetap untuk bergerak dengan tenang. Ia memiringkan tubuh setengah langkah, beringsut menarik tangan yang ada di punggungnya untuk mendekat.

Meraih Mammon dalam rangkulan yang hangat, sesekali meremas bahu sempit wanita dengan helaian rambut ungu itu.

Wanita tua di kasir mengalihkan pandangan dari Fon kepada Mammon, menyimpan tawa di wajahnya yang memiliki keriput akibat penuaan.

“Tentu. Aku membeli mochi terbaik dari wanita baik ini untuk Mammon.”

Kepala Fon menunduk sopan setelah berbicara. Sebuah anggukan singkat diberikan pada orang-orang di dalam kedai, isyarat pamit yang sederhana dan sopan.

Wanita tua tidak bisa berhenti tersenyum dan tertawa lembut, memenuhi kedai kecil yang sepi. Mammon menatap dengan tanda tanya di wajah, cukup heran dengan pembicaraan yang sepertinya tidak memiliki titik temu antara wanita tua dan Fon.

Meski begitu, melihat bahunya naik turun, matanya menyipit ramah. Mammon yang tidak menangkap kata-katanya dengan jelas — hanya nada tawa hangat membuat telinganya terasa panas.

Dia malu tanpa alasan.

Tangannya berpindah, meraih lengan baju Fon. Jemarinya mencengkeram tanpa sadar, cukup erat hingga kain itu berkerut samar. Fon menoleh, mendapati pipi Mammon memerah tipis — rona yang nyaris tidak kentara jika tidak diperhatikan dengan saksama.

Fon tidak mengatakan apa pun.

Rangkulan di bahu Mammon mengendur. Tangannya turun perlahan, lalu bergerak lagi, meraih tangan Mammon dari samping. Pria itu menautkan jari mereka di bawah meja kasir, tersembunyi dari pandangan wanita tua.

Mammon menegang sesaat.

Namun ia tidak menarik diri.

Percakapan di atas meja berlanjut, kata-kata mengalir tanpa ia ikuti. Mammon hanya berdiri di sana sebagai pendengar, jari-jarinya tetap terjalin dengan milik Fon, genggamannya tidak menguat dan tidak pula dilepas.

Panas menjalar pada bahu yang sempit, menciptakan sensasi nyaman dan menggelitik — hal asing yang terus datang ketika Fon berada di sekitarnya.

“Baiklah, kami akan pergi sekarang. Terima kasih, selamat tahun baru untukmu nyonya.”

Fon menghentikan percakapan dengan wanita tua di kasir setelah melirik Mammon yang menatap bingung pada keduanya.

Tangan yang terbebas meraih kantung belanja, diberikan oleh wanita tua sembari tertawa. Kemudian, kantung itu berpindah tangan. Mammon memperhatikannya sebentar, lalu menurunkan pandangan ketika wanita tua itu masih tersenyum lebar, melambaikan tangan dengan semangat yang terasa berlebihan baginya.

Fon membalas dengan anggukan singkat.

Tautan jari mereka tidak terlepas bahkan ketika Fon menuntun Mammon keluar melalui pintu kayu yang kembali berderit saat digeser.

Udara luar menyambut lebih dingin. Helaian rambut ungu yang terurai berterbangan ringan di bawah topi bundar. Mammon menyipitkan mata, mencoba untuk menyesuaikan berkas cahaya yang masuk dari matahari di siang hari.

Tubunya berhenti selangkah di belakang Fon, membuat tautan keduanya menegang. Wanita itu seolah perlu waktu untuk menyesuaikan diri. Bahu sempit sedikit terangkat, refleks mengeratkan tautan jari pada Fon — sementara tangan yang lain menghalangi cahaya matahari.

Fon menoleh ke belakang dengan senyum yang lebih halus. Ini bukan senyum yang ditujukan untuk siapa pun, melainkan jenis lengkungan kecil di sudut bibir yang muncul ketika ia bersama dengan Mammon.

Hanya dengan wanita di sisinya.

“Silau, ya?” ucapnya ringan, suaranya diturunkan sedikit.

Ibu jarinya mengusap punggung tangan Mammon dengan gerakan nyaris tak terasa. Menurunkan tangan pucat yang menutupi wajah wanita itu.

“Mammon selalu berhenti seperti ini setiap kali keluar dari tempat hangat, menggemaskan.”

Tatapannya terpaku di depan, sedikit melebar sebelum akhirnya berkedip pelan — sekali, dua kali — seolah otaknya tertinggal setengah langkah di belakang tubuhnya sendiri. Jemarinya masih terjalin dengan milik Fon, namun genggamannya mengendur tanpa benar-benar terlepas.

Ada jeda kecil.

Pipi Mammon memanas, rona tipis menjalar perlahan, tertahan di bawah kulit pucatnya. Ia menurunkan dagu sedikit, berusaha menyembunyikannya di balik bayangan topi bundar. Bahunya mengeras sepersekian detik sebelum akhirnya turun kembali, napasnya keluar pendek dan hati-hati.

“Berisik.”

Tetapi ia tidak menepis tangan Fon.

Mereka berjalan berdampingan. Bunyi lonceng kecil di pintu toko memudar di belakang, digantikan suara langkah kaki di jalanan kayu dan percakapan orang-orang yang lewat. Mammon menunduk, menatap bayangan kaki mereka yang bergerak sejajar.

Mammon tidak menjauh. Ia menggeser langkahnya setengah inci lebih dekat. Fon menyadarinya dari sudut mata. Tangannya yang memegang kantung belanja turun sedikit, memberi ruang.

“Bagaimana kalau kita menonton kembang api bersama?” katanya.

“Penginapan tempatku menginap menghadap langsung ke kuil. Hayato yang mengurusnya — katanya pemandangan dari kamarku adalah yang terbaik.”

Mammon berhenti melangkah.

Tautan jari mereka menegang sebentar sebelum ia melepaskannya — bukan dengan kasar, melainkan dengan gerakan pelan yang penuh kehati-hatian.

Tangannya segera berpindah pada kantung mochi pada Fon. Mammon mengambilnya dengan cepat, meremas ujung kertasnya seolah benda itu tiba-tiba jauh lebih penting.

“Aku hanya ingin menikmati mochi,” ujarnya cepat, sedikit terlalu cepat.

“Dan berlibur. Tidak ada rencana lain.”

Ia tidak menatap Fon. Pandangannya tetap tertuju ke depan, pada jalanan yang tiba-tiba terasa terlalu terang.

Fon berhenti bersamanya.

Lalu tertawa kecil — bukan tawa yang mengejek, melainkan rendah dan hangat, seolah ia sudah menduga jawaban itu sejak awal. Bahunya mengendur, langkahnya kembali bergerak, kali ini sedikit lebih santai.

“Baik,” katanya ringan.

“Kalau begitu, mari kita mulai dari sana.”

Fon tidak melangkah lebih dulu.

Ia justru berputar setengah badan, tangannya terangkat dan mendarat ringan di bahu Mammon. Dengan gerakan yang nyaris kasual, lengan itu melingkar, menarik Mammon mendekat ke sisinya.

Mammon tersentak kecil. Kantung berisi mochi kembali berpindah ke tangan Fon, pria itu masih terkekeh — menyukai ekspresi terkejut milik Mammon.

Tubuh wanita yitu menegang sebelum akhirnya mengendur, punggungnya menyentuh sisi Fon. Bahu sempit itu terperangkap di bawah lengan yang hangat, posisinya pas — terlalu alami untuk disebut kebetulan, terlalu lembut untuk ditolak dengan alasan yang sama seperti sebelumnya.

“Aku bilang aku hanya ingin mochi,” gumam Mammon pelan, nyaris kalah oleh suara langkah kaki mereka sendiri.

Fon terkekeh rendah.

“Dan kita akan memakannya,” jawabnya tenang.

Mereka mulai berjalan. Langkah Fon mantap, membawa Mammon bersamanya tanpa tergesa. Kantung mochi bergoyang pelan di tangan Fon, sementara Mammon tetap berada di dalam rangkulan itu — tidak berusaha melepaskan diri, tidak pula bersandar sepenuhnya.

Penolakannya tetap ada, tersisa di udara seperti napas yang belum dilepaskan. Namun tubuhnya sudah memilih lebih dulu.

Dia mencoba untuk menikmati harinya.

‘Setidaknya untuk hari ini saja.’

 

Series this work belongs to: