Actions

Work Header

Planet Pengembara

Summary:

Rui layaknya sebuah planet pengembara. Melayang-layang bebas di alam semesta, sendirian dan tanpa bintang untuknya mengorbit.

Hingga suatu hari ia bertemu dengan bintangnya.

Notes:

tuttururuttu ruttutturu

terinspirasi dari NayutalieN - Planet Loop, cover paling barunya ruikasa
maaf kalau ada typo

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

"Ah, I wanna meet you”
My feelings loop, they loop.
I feel like I’m gonna lose it,
I can’t exchange with you anymore than that



"Mizuki, apakah kau tahu ada planet yang mengembara di angkasa?"

"Hah?" Mizuki yang sedari tadi hanya diam menatap langit biru langsung menoleh ke arah Rui yang duduk di sampingnya. Sementara Rui justru masih sibuk mengutak-atik robot di tangannya, sama sekali tidak berpaling. 

Beberapa minggu bersama dengan Rui di atap sekolah, Mizuki sudah terbiasa dengan kebiasaan Rui yang suka mengajaknya berbicara tiba-tiba. Topiknya sering tidak bisa Mizuki duga, tapi kadang membuatnya berpikir kalau Rui seperti ensiklopedia berjalan—tahu segalanya.

"Planet Pengembara ini tidak terikat dengan bintang apapun, jadi tidak punya orbit," lanjut Rui, pandangan masih terpaku pada robotnya.

Mizuki berpikir sebentar, masih tidak mengerti arah pembicaraan kakak kelasnya satu ini. "Terus, kenapa dengan planet itu? Bahan baru untuk pertunjukkan ya?"

Rui akhirnya balas mengangkat wajahnya ke arah Mizuki dan tersenyum. Ia terlihat sedikit senang Mizuki menunjukkan sedikit ketertarikan pada ceritanya. (Walaupun Mizuki seratus persen yakin bahwa tidak peduli ia tertarik atau tidak, Rui pasti akan tetap melanjutkan ceritanya.)

Tapi kemudian Rui menggeleng pelan. "Tidak. Hanya sesuatu yang kubaca kemarin."

Rui mengangkat wajahnya. Langit hari ini begitu cerah, tanpa awan. Meski begitu, cuaca tidak begitu panas. Malah terasa sejuk, karena angin dengan bebas melewati mereka berdua yang hanya bersandar pada pagar. Rambut Rui yang panjangnya melebihi rambut Mizuki itu bergerak-gerak tertiup angin, sedikit menutupi sisi samping muka Rui.

"Ketika suatu sistem tata surya terbentuk, planet-planet bertubrukan satu sama lain. Orbit planet-planet itu akan begitu berdekatan dan mereka akan saling berebut dominasi. Akibat tubrukan itu, ada planet yang kalah dan terlontar dari sistem keplanetan itu. Ia akan lepas dari bintang yang selama ini menariknya dengan gravitasi, lalu kehilangan orbitnya," jelas Rui. Mizuki hanya menyimak mendengarkan.

Rui memutar-mutar obeng yang dipegang tangan kanannya. "Planet yang terlempar itu akhirnya kehilangan sumber panas dan cahayanya. Ia menjadi dingin, membeku bahkan. Tidak tahu waktu, tidak tahu musim, apalagi siang dan malam seperti Bumi. Ia hanya melayang, sendirian dan tanpa arah, dalam kegelapan abadi."

Mizuki ingin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi ia urungkan. Justru Rui yang kemudian membuka suara lagi dan mengucapkan apa yang Mizuki sempat pikirkan tadi.

"Bukankah planet ini agak mirip dengan kita?" Rui tersenyum.  

"Iya... mungkin?" Mizuki tiba-tiba tidak yakin. Rui hanya terkekeh pelan dan melanjutkan pekerjaannya mengutak-atik robot.

Keheningan sekali lagi menyesap diantara mereka berdua yang sama-sama sendirian di atap sekolah ini.

"Rui."

"Hm?"

"Menurutmu, apakah ada planet pengembara itu yang masuk ke sistem tata surya yang baru?"

"Entahlah. Ah tapi..."

 


 

Seumur hidupnya—atau setidaknya sejak ia masih sekolah dasar—Rui Kamishiro selalu bergerak sendiri. Ia teralienasi dari aturan dan nilai normal milik orang pada umumnya. Dipental dan dilontarkan ke dalam luar sistem, lalu dibiarkan berjalan sendiri. Persis seperti Planet Pengembara. Tidak ada gelombang lain yang bisa saling beresonansi dengan dirinya, betapa kerasnya Rui mengirimkan sinyal. Tidak ada sistem tata surya yang bisa menerimanya, karena mereka telah bekerja dengan sempurna. Planet-planet yang ada sudah saling melengkapi, dengan orbitnya masing-masing terhadap bintang yang bersinar terang di tengah. Jika Rui memaksakan dirinya untuk masuk ke sistem itu, ia tahu dirinya hanya akan menabrak salah satu planet tersebut lalu menciptakan efek domino: planet-planet yang lain pun juga akan ikut saling berbenturan hingga terjadi kekacauan besar. Barangkali juga sistem tata surya itu menjadi 'rusak.'

Oleh karena itu, layaknya Planet Pengembara, ia membiarkan dirinya melayang-layang sendiri di ruang kosong angkasa yang gelap dan sunyi.

Dan begitulah keadaan Rui di SMA barunya ini. Baru beberapa hari pindah, apalagi di tengah-tengah semester, ia sepertinya sudah memiliki banyak rumor yang sebagian besar isinya tidak begitu baik. Murid-murid lain saling berbisik di belakangnya, mengatainya "aneh" atau "gila" dan mungkin juga "menyeramkan." Tidak apa, tidak masalah. Rui sudah terbiasa. Ia sadar diri bahwa di tempat baru ini, pasti juga tidak akan ada frekuensi lain yang sama dengan miliknya. Tempat ini mungkin juga tidak akan memberinya sistem tata surya baru dengan bintang yang menariknya untuk mengorbit.

Hanya saja... Rui mungkin saja tanpa sadar masih belum menyerah sepenuhnya. Radionya masih dibiarkan mengirim sinyal ke luar sana, siapa tahu bakal ada seseorang atau sesuatu yang menangkapnya. Barangkali di luar angkasa yang begitu luas nun jauh. Walau saat ini yang ia terima kembali hanyalah gema. 

Maka ia menunggu dan menunggu. Dari hari ke hari, hingga ia telah berputar kembali ke hari di awal minggu. Ia menunggu. Kalau-kalau radionya akan menangkap sinyal balasan atau frekuensinya akan bergetar, tanda telah bergetar dengan frekuensi yang lain.

Hingga suatu hari, bintang yang ia tunggu akhirnya datang. Tidak dalam gelapnya malam, tapi dalam siang cerah dengan langit tanpa awan di atap sekolah. Tidak dengan ledakan keras yang menggema dan memancarkan cahaya, tetapi begitu normal, begitu biasa, dan justru dengan suara helaan napas.

Bintang itu kemudian mengulurkan tangannya dan menarik Rui secara paksa untuk mengorbit kepadanya.

"Beri aku peran apapun dan aku pasti menjawab arahanmu hingga12.000%, Kamishiro!!!"

"Biar kujamin!! Pertunjukkan denganku pasti akan menyenangkan!!

Anehnya, bintang itu tetap terasa begitu menyilaukan bagi Rui. Tidak kalah kilaunya dengan satu-satunya bintang lain yang sedang bersinar terang saat itu—matahari.

 


 

Meskipun begitu, Rui tidak langsung begitu saja mengorbit kepada bintang itu. Barangkali tanpa sadar ia takut. Takut terpental dan menubruk planet lain lagi. Atau mungkin bisa jadi bahkan menabrak sang bintang. Menghancurkannya hingga menjadi ledakan gas dan semburan cahaya yang seolah hanya terjadi sekejap mata di luasnya alam semesta. Rui takut jika ia tidak akan bisa bertahan hidup dalam sistem yang baru itu. Tidak pula bisa sinkron dengan planet-planet lain—sama seperti sistem yang dulu kerap menolaknya.

Hanya saja, bintang baru ini sedikit aneh. Oke, mungkin memang tidak "sedikit". Yang jelas, sang bintang ini justru tidak menyerah untuk menarik Rui agar menaruh perhatian kepadanya. Untuk mengorbit dan mengelilingi bintang itu. Sang bintang membuktikan berkali-kali bahwa apa yang Rui takut dan khawatirkan tidak akan terjadi. Sang bintang mengajari suatu hal yang sudah lama Rui lupakan: percaya kepada orang lain.

Dan hal itu sangat silau, terlalu silau bahkan, bagi Rui sampai-sampai mampu membuat air matanya keluar. 

Rui pun tidak punya pilihan lain selain mengorbit kepada sang bintang, kepada Tenma Tsukasa, dan itu adalah keputusan yang tidak pernah Rui sesali. 

 

 

"Rui!! Di sini kau rupanya."

Terdengar suara pintu terbuka. Rui secara reflek melihat ke arah orang yang baru saja datang itu. Lihat, sang bintang hari ini pun juga masih berkilau. Rambut kuningnya yang tertimpa cahaya siang pun seperti ikut terlihat gemerlap. 

"Hai, Tsukasa-kun. Sudah selesai urusannya dengan Komite Kedisplinan?" tanya Rui. Tsukasa berjalan mendekat lalu duduk di samping Rui. Ia membuka kotak bekal yang dibungkus dengan serbet bermotifkan pegasus yang imut—mungkin bekal hari ini disiapkan oleh adiknya.

Tsukasa mengangguk. Hanya pertemuan rutin biasa saja tadi, katanya. Ia lalu mengatupkan kedua telapak tangannya dan mengucapkan "selamat makan!" agak keras. Rui hanya tersenyum mengamati gerak-gerik Tsukasa yang kadang terlihat besar dan dilebih-lebihkan, tetapi ada keanggunan di dalamnya. Seolah ia selalu berada di atas panggung setiap saat.

"Omong-omong kau sudah makan?'

"Sudah kok. Tadi aku sempat membeli roti di kantin."

"Kau ini," Tsukasa menghela napas sambil menurunkan sumpitnya. "Sudah berapa kali kubilang kalau kau ini harus banyak makan makanan sehat! Apalagi kau ini kan director kebanggaan WonderlandsxShowtime jadi sebaiknya kau—"

"Ah, tidak masalah. Tanpa sayur pun aku bisa tumbuh setinggi ini."

"Berisiiik! Dan jangan potong pembicaraanku!!"

Rui hanya tertawa. Ia menyukai saat-saat seperti ini. Ketika ia begitu bebas dan lepas menjadi dirinya sendiri di sekolah, dengan Tsukasa di sampingnya. Membicarakan segala hal—yang mungkin 80% diantaranya berkaitan dengan teater—yang tidak signifikan, tidak begitu penting, dan bisa saja membosankan. Hari-hari biasa yang damai dan penuh ketenangan.

"Itu drone baru?" Tsukasa menunjuk alat yang Rui pegang.

Rui menggeleng pelan. "Tidak, aku hanya sedang melihat kondisinya. Beberapa waktu yang lalu kita sibuk dengan pertunjukkan di Arkland, kan? Aku tidak sempat melakukan pemeliharaan untuk drone dan robot-robotku. Takutnya, tiba-tiba ada sesuatu yang rusak atau salah di dalamnya."

Tsukasa hanya manggut-manggut mendengarkan. 

"Dan aku juga berpikir untuk menambah fitur baru," lanjut Rui.

"Oh?!" Tsukasa langsung tertarik. Kotak bekalnya yang sudah kosong isinya ia letakkan di atas lantai. Tsukasa sedikit mencodongkan tubuhnya ke arah Rui. "Seperti apa?? Apakah bisa kita gunakan untuk pertujunkkan??! Tapi tidak berbahaya kan?!! Jangan bilang bakal meledak???"

Tsukasa langsung merocos. Eskpresinya sangat beragam, seperti berubah-ubah setiap detik. 

"Ah, tapi karena kau yang buat aku yakin pasti aman. Aku tidak sabar menantikannya, Rui!" Tsukasa melanjutkan dan tersenyum lebar.

Matanya berkilau-kilau. Berkas sinar matahari juga terpantul dalam mata itu. Rui tidak bisa melepaskan pandangannya dari mata yang bergemerlap seperti permata itu.

Begitu silau dan begitu—

"Cantik."

"Hah?"

"..eh?"

Keduanya terdiam beberapa detik. Rui tiba-tiba tersadar bahwa ia baru saja menyuarakan apa yang ada dalam pikirannya. Dan Rui panik. Dalam kepanikannya itu, ia justru meletakkan kedua tangannya pada bahu Tsukasa. Mencoba untuk menengkannya... mungkin? Karena sejak tadi Tsukasa juga hanya bergeming.

"Bu-bukan begitu maksudku Tsukasa-kun! Maksudku tadi, ini, kau tahu, matamu tadi terlihat berkilau? Bukan, bukan! Maksudku iya!"

Baru kali ini Rui kehilangan ketenangannya dan merasa menjadi orang paling bodoh di dunia. Dan dia seharusnya adalah seorang jenius.

"Te-te-tenangkan dirimu Rui! Me-memang jika aura bintangku yang menawan ini terlihat ca-cantik buatmu! Meskipun aku sebenarnya lebih cocok kalau keren tapi aku tetap bintang masa depan jadi kurasa dibilang ca-cantik juga tidak buruk juga! HA HA HA HA..." Tsukasa berbicara cepat dan tertawa dengan aneh. Nadanya begitu kaku.

Ditengah paniknya orang lain, Rui tiba-tiba bisa menjadi tenang. Ia memperhatikan Tsukasa yang ekspresinya tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia terlihat kikuk dan... tersipu malu? Rui menurunkan tangannya dari bahu Tsukasa.

Melihat Rui hanya terdiam, Tsukasa pun memanggilnya pelan, "ru-rui?"

Rui mengerjap-ngerjapkan matanya. "Tsukasa-kun, kau ini.." 

Tsukasa memiringkan kepalanya, menunggu.

"...kau ini lucu juga ya."

Wajah Tsukasa seketika memerah, bahkan hingga ke telinganya. Mulutnya megap-megap, sepertinya bingung ingin mengatakan apa. Mirip ikan, pikir Rui asal.

"Ka-kau! Sudah kubilang aku ini keren!!! Jangan bilang lu-lucu!!!!"

"Oh? Apa kau malu, Tsukasa-kun?"

"Aaaaaahh! Jangan buat muka seperti itu!! Terus juga jangan lihat ke sini!!!" Tsukasa memalingkan wajahnya. Rui masih melihat semburat merah muda yang belum menghilang bahkan dari telinganya it. Ketika Rui tertawa, Tsukasa hanya membalas dengan menggurutu.

Hari ini, Rui menyadari sesuatu untuk pertama kalinya. Ia ingin mengorbit lebih dekat ke Tsukasa. Begitu dekat. Ia ingin mengejar bintang itu, kemanapun perginya bahkan jika itu ke ujung alam semesta sekalipun. Sepanjang sang bintangnya ini ada dan bersinar, Rui tidak akan pernah berhenti untuk berputar mengitarinya, terus berputar dan berputar selamanya. Rui sadar, bahwa masih ada jarak yang begitu jauh di antara mereka berdua sekalipun Tsukasa selalu berada di sampingnya setiap hari. Akan tetapi, melihat reaksi Tsukasa tadi, Rui yakin bahwa tidak akan butuh waktu yang terlalu lama untuk menutup jarak itu.

Karena bagaimanapun, Tsukasa sudah menjadi pusat dunia bagi Rui. Dan Rui akan terus ditarik untuk bergerak berputar dalam lintasan orbitnya untuk selalu mengelilingi Tsukasa.







"Rui."

"Hm?"

"Menurutmu, apakah ada planet pengembara itu yang masuk ke sistem tata surya yang baru?"

"Entahlah. Ah tapi... Kurasa akan sangat menarik jika Planet Pengembara itu bisa menemukan bintangnya sendiri untuk mengorbit."




Aa, just as the stars turn,
we keep on looping forever
My feelings are drawing an orbit,
only chasing after you

Notes:

1. Sekali lagi maaf typo atau tidak jelas
2. Sebenernya fic ini udah ditulis beberapa hari sebelumnya terus kutinggal dan aku agak lupa awalnya mau dibawa ke mana endingnya...? Dan akhirnya jadi begini ini..?? WKWK pokoknya semoga enjoy deh ya :")
3. Bukan anak STEM apalagi astronomi, jadi kalau ada bagian yang berkaitan itu ternyata salah, mohon maaf... (i tried)