Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-18
Words:
936
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
7
Hits:
39

Pertemuan Pasar Seni

Summary:

Sebuah kisah singkat tentang 2 orang yang bertemu tak sengaja.

Notes:

Izinkan aku gunakan ini sebagai penyimpanan tulisanku🥹🫶

Work Text:

Aku bertemu dengannya di jalan, di Pasar Seni. Pasar seni yang mengumpulkan orang dari berbagai penjuru kota. Mereka yang paham atau hanya sekedar mengusir sepi memenuhi ruas jalan di taman kecil tengah kota ini.

Walaupun kecil, kapasitasnya yang mencapai 500 pengunjung cukup untuk semua orang yang hanya berasal dari kota kecil ini.

"Kau perlu menyegarkan pikiranmu. Kembali lagi setelah cutimu selesai, dan jangan pernah kembali sampai kau benar-benar rileks"

Aku merogoh kantongku, tak ada apapun.

Benar, aku tidak merokok. Tapi aku mencari permen. Sepertinya tertinggal di kantorku.

 

Sial sekali.

Mulutku pahit.

Mataku menyusuri keramaian di segala penjuru taman.

Dan mataku jatuh padanya. Pada dia yang tersenyum samar, matanya menyipit berusaha berfokus pada kanvas di depannya.

Aku menolehkan kepalaku ke arah matahari yang bersinar terik, namun cukup hangat sebab hari masih pagi.

Ketika aku menoleh lagi, seorang wanita sudah berdiri di sebelahnya. Wanita itu memakai kacamata hitam dengan floppy hat merah muda bertengger di kepalnya.

Mereka berdua terlibat perbincangan yang sepertinya cukup serius. Namun tak lama, wanita itu terlihat kesal dan pergi dari sana.

Wanita itu melewatiku meninggalkan harum parfum pink pepper yang cukup kuat.

Aku terus memperhatikannya sampai dia hilang di kerumunan. Perasaanku mengatakan wanita itu sedikit mencurigakan.

Sial, ketua Zhang menyuruhku agar tidak memikirkan hal-hal seperti itu.

"Sudahlah"

Aku mendapati pelukis itu sudah menyusun barang-barangnya. Dan entah dorongan apa yang merasuki ku, aku memutuskan untuk mengikutinya.

Dia mengikat peralatannya di atas sebuah sepeda dan mendorong sepedanya sambil memberi ucapan selamat tinggal pada pelukis yang masih setia menorehkan kuasnya pada kanvas di depan mereka.

Pelukis itu pergi, tas sampingnya ikut bergoyang seirama dengan gerakan kakinya. Dan aku tersenyum tanpa sadar.

Belum sadar, aku mengikutinya sampai keluar dari pasar seni dan memasuki sebuah gang kecil.

Sudahlah, sudah terlanjur. Aku harap ia tidak mencurigai ku. Ya aku tau itu aneh, sudah pasti ia akan curiga jika sadar.

Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Gang ini cukup sunyi di pagi hari, aku lihat dia menyapa beberapa warga lansia yang lewat. Apakah anak mudanya sudah pergi bekerja?

Setelah melewati beberapa belokan, pelukis itu berhenti. Seketika kakiku ikut berhenti

Dia sudah sampai?

Dia kemudian memutar sepedanya, aku sedikit terkejut.

Dia menatapku dengan wajah yang tenang, dan matanya yang tajam namun sendu ketimbang terlihat galak. Bibirnya menekan seolah menahan sesuatu untuk di katakan.

Aku menghela nafas ku dan tersenyum, perlahan aku melangkah mendekatinya. Aku bisa lihat tangannya semakin erat memegang kemudi sepedanya. Aku menahan geli, mungkin terlihat menyeramkan tapi seru sekali melihat wajahnya perlahan semakin panik.

Oh, Tuhan dia menggemaskan.

Aku berdiri di depannya, dan dia menundukkan kepalanya.

"Hai, aku melihatmu di pasar seni tadi"

Aku mencoba membuka percakapan

"Maaf, aku menakutimu ya?"

Dia perlahan mengangkat kepalanya menatapku. Matanya berkedip dengan lucu.

Angin membuatnya hampir menjatuhkan sepedanya jika tidak aku tahan dengan tanganku.

"Kau baik-baik saja?"

Akupun menyenderkan sepedanya ke dinding salah satu rumah warga dan menangkup wajahnya.

Matanya tertutup. Sepertinya terkena debu.

"Biar aku bantu tiup, jangan di gosok. Nanti iritasi" ujarku dengan lembut. Dia mengangguk pelan.

Akupun meniup matanya dengan hati-hati.

Setelah beberapa kali tiupan dia sudah mulai bisa membuka matanya yang lucu itu lagi.

Matanya terlihat lebih besar dilihat dari dekat. Besar dan bersinar seperti ada ribuan bintang terperangkap di dalamnya.

Sial aku tidak mampu mengalihkan pandanganku.

Dia tersenyum dan berterimakasih padaku. Dan aku balas senyuman indahnya.

"Ducheng" aku memperkenalkan diriku. Takkan aku biarkan kami berpisah tanpa kenal.

Atau bahkan aku tak ingin berpisah.

"ShenYi" balasnya, suaranya lembut dan namanya cantik. Elegan dan lucu sekali seperti dirinya.

"Namamu bagus, cocok untukmu"

Dia tertawa pelan

"Terimakasih. Ngomong-ngomong ada apa mengikutiku?"

Aku tertegun, harus ku jawab apa?

Aku juga tidak tau, hanya saja langkahku ini tadinya seperti mobil-mobilan yang di atur remot kontrol. Kalian tau siapa remot kontrolnya.

"Aku tertarik" jawabku akhirnya.

Ekspresinya mendadak bingung dengan perkataanku, namun dia menoleh ke arah lukisannya di atas sepeda yang masih bersandar.

"Lukisanku?" Tunjuknya

Aku tertawa dan menggeleng

"Aku belum pernah melihat lukisanmu"

"Oh..."

Ah? Apa aku menyakiti perasaannya?

"Boleh aku lihat?" Tanyaku berhati-hati

Dia kemudian mengangguk dan tersenyum "mm" katanya dengan antusias

Aku menghela nafas lega.

Kami pun berjalan sedikit lagi ke kediamannya, kali ini bukan seperti penguntit. Dan aku membantunya mendorong sepedanya.

 

Kami tiba di rumahnya. Cukup rapi untuk seorang pekerja seni.

Seekor kucing putih menyambut kami.

Aku menggendong gadis bernama Xiaoxuan—Shenyi memperkenalkan-nya—itu di tanganku. Dia mengeong manja, membuat ku tersenyum.

Shenyi membereskan beberapa barang yang berantakan di sofa dan menyuruhku duduk.

"Terimakasih" kataku menurut dan duduk menunggunya menyusun beberapa kanvas di depanku.

Kemudian lukisan-lukisan itu sudah berdiri di depanku. Perhatian ku langsung terkunci. Tanpa aku sadar Xiaoxuan kuturunkan dan aku bangkit dari duduk.

Aku perlahan mendekati lukisannya.

Aku tidak pernah mengerti lukisan. Tidak sama sekali.

Aku tidak pernah melihat pameran apapun, kecuali saat pameran itu berkasus. Aku akan meneliti lukisan Berjam-jam melihat apa ada petunjuk yang bisa aku dapatkan dari apa yang aku anggap coretan coretan abstrak.

Namun rasanya apa yang di depanku ini... Lebih dari sekedar lukisan.

Aku tersenyum dan mengangguk.

"Bagus sekali. Aku tidak paham tapi aku rasa... aku mau mencoba memahami"

Aku menoleh ke Shenyi yang melihatku dengan manis. Pria ini selalu manis pikirku. Caranya menatapku, caranya berdiri dan caranya tersenyum dengan cantik.

Perpaduan yang indah.

"Tak hanya lukisan ini, aku juga ingin mencoba memahami mu. Bolehkah?"

Senyum Shenyi hilang sejenak sebelum muncul lagi, kali ini malu malu dan wajahnya terlihat memerah.

Menggemaskan.

Akupun menghampirinya dan mengusap pipinya lembut.

"Mari berjalan perlahan untuk saling mengenal"

 

Dua orang asing. Bertemu baru tadi. Sudah memutuskan untuk memulai mengenal.

Apakah sebuah percikan yang akan segera sirna?

Atau takdir?

Entahlah, tapi aku merasa sangat bahagia tak membiarkannya lepas.

 

Shenyi to Ducheng

Entah sejak kapan segala inspirasiku dimulai dari kamu.