Work Text:
Pergi sebagai anak rantau demi mengejar sebuah gelar yang nantinya akan tersemat di akhir nama bukanlah rencana Kresna. Kresna pikir bekerja setelah lulus SMK adalah pilihan terbaik mengingat ia juga memiliki adik yang harus disekolahkan kedua orang tuanya.
Kresna sadar ia tidak lahir dari keluarga yang kaya. Untuk itu ia tidak ingin menambah beban dengan melanjutkan ke perguruan tinggi. Namun, orang tuanya justru berpikir sebaliknya.
Apa gunanya sekolah SMK kalau pada akhirnya tetap berkuliah? pikir Kresna kala itu.
Saat SMK, Kresna mengambil jurusan DKV dengan tujuan setelah lulus dapat langsung bekerja. Di saat yang sama, ayah ibunya mempunyai harapan agar Kresna bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Berbagai cara dilakukan ayah dan ibu untuk membujuk Kresna agar setuju. Hingga suatu malam ibunya berkata pelan.
“Ayah sama ibu itu nggak kuliah, Mas.” Kata ibu sambil menyuapi Gita, adiknya. “Ayah sama ibu pengen, kamu nggak seperti kami. Ibu nggak apa-apa nggak kuliah, tapi kamu jangan.” Tambah ibu.
“Kres, nggak perlulah kamu mikirin biaya. Itu sudah tanggung jawab kami sebagai orang tua.” Timpal ayah yang saat itu sedang menyesap kopinya.
“Kami cuma ingin ada yang kuliah di keluarga ini, kami ingin kamu kuliah Kres. Apa lagi sekarang pada mandang gelar. Iya bener yang terpenting itu pengalaman. Tapi kalau nggak ada embel-embel gelar juga bakal susah.”
“Iya Mas, bener kata ayahmu. Mas Kresna mau ya kuliah?”
Kresna terdiam. Ia bingung memilih antara keinginannya atau harapan orang tuanya. Tapi perkataan ayahnya tidak sepenuhnya salah. Beban pikiran Kresna sebenarnya bukan karena ia tak mau belajar lagi, melainkan karena ia memikirkan biaya—dan adiknya yang terpaut enam belas tahun dengannya.
Dengan pertimbangan matang, Kresna akhirnya menyetujui untuk kuliah. Ia termasuk dalam barisan siswa eligible yang memiliki kesempatan masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi. Kresna memilih jurusan yang sejalur dengan jurusan SMK dan universitas di kotanya sendiri. Namun, ketika hari pengumuman tiba, tampaknya keberuntungan belum berpihak kepadanya. Kresna dinyatakan tidak lolos.
Ia kecewa. Sangat.
Sempat berpikir untuk menyerah dan membatalkan niatnya berkuliah. Namun, kedua orang tuanya menguatkan agar ia tetap melanjutkan pendidikan.
Kresna pun menata ulang rencananya. Selain memiliki ketertarikan pada desain grafis, Kresna juga menaruh minat besar pada seni musik. Sejak sekolah, ia kerap bekerja di kafe-kafe sebagai gitaris akustik, sekadar untuk menambah uang jajan.
Ia menganggap kegagalan di DKV bukan sekadar kebetulan. Jika dipaksakan, mungkin ia akan jatuh di lubang yang sama. Maka ia memilih seni musik—bidang yang terpikirkan olehnya dan yang paling ia kuasai. Sayangnya, jurusan itu tak tersedia di kota asalnya.
Kresna pun membicarakan hal tersebut dengan kedua orang tuanya, dan jawaban yang ia terima sangat menenangkan, tidak masalah. Di mana pun Kresna berkuliah, dan apa pun jurusan yang ia pilih, kedua orang tuanya akan selalu mendukungnya.
Usaha terbaik telah Kresna lakukan. Ia belajar dengan sungguh-sungguh untuk menghadapi tes yang ada, sekaligus mempersiapkan portofolio. Benar kata orang, dibalik kegagalan, selalu ada rencana yang lebih indah yang tengah menanti untuk terwujud. Dengan usaha dan doa dari ayah dan ibu, Kresna berhasil masuk ke jurusan seni musik. Ayah dan ibu senang, bangga, terharu, dan Kresna pun demikian.
Kini Kresna berada di sini, di kamar kos berukuran 4x2. Dindingnya dipenuhi tempelan poster konser yang sudah sedikit robek, foto polaroid yang tertempel asal di dekat meja belajar, serta kertas lirik yang diremas lalu ditempel kembali menggunakan selotip.
Spring bed yang langsung menempel dengan lantai beralaskan tikar. Lampu meja kuning temaram. Kabel-kabel kusut di dekat meja. Gitar akustik lecet yang senarnya sering putus di pojok ruangan, tak lupa laptop menyala menunjukkan software Digital Audio Workstation dengan nama file ”demo_final_fix_fix_fix_beneran.wav”.
Kamar kecil yang terasa luas bagi seorang perantau dan anak yang jauh dari orang tua. Membawa beban yang menjelma menjadi harapan untuk orang rumah. Berat, tapi sejauh ini ia mampu bertahan. Satu semester telah terlewati, UAS tinggal di depan mata.
Semua akan terasa sangat berat kalau saja orang itu tak hadir dalam hidup Kresna. Dia adalah Sanjaya. Aya, begitu Kresna memanggilnya. Aya adalah kakak tingkat satu jurusan Kresna. Awal bertemu saat makrab jurusan, dan semakin dekat saat tahu rumah Aya berada tak jauh dari kos Kresna.
Entah keberanian apa yang dimiliki Kresna, baru dua bulan mengenal, ia sudah menjadikan kakak tingkatnya itu sebagai kekasih.
Aya cantik, suaranya merdu, santun, dan pendiam. Kalau tidak ada yang memulai maka ia pun tak akan memulai. Berbanding terbalik dengan Kresna, namun karena hal itulah mereka saling melengkapi.
Karena jarak antara rumah dan kos yang dekat, hal itu memudahkan mereka untuk sering bertemu. Beberapa kali Aya pun ketiduran di kos Kresna.
Seperti saat ini, ketika Aya baru saja melangkah masuk ke kamar Kresna, ia langsung disuguhi pemandangan Kresna yang duduk di lantai dengan dada telanjang. Salah satu kakinya ditekuk, menyangga tubuhnya. Sementara tangan kirinya menjepit sebatang rokok—entah sudah batang keberapa yang ia habiskan hari ini.
Begitu masuk, aroma campuran asap rokok dan pewangi ruangan berbau kopi langsung menyapa penciuman Aya. Masih ada sisa bau rokok yang tipis, khas seorang perokok, namun tertutup rapi oleh wangi kopi yang pas. Jadinya bukan bau asap yang menyengat, melainkan aroma yang terasa maskulin.
“Enak tuh.” Kresna terkejut dengan keberadaan Aya yang tiba-tiba. Sambil berjalan menuju Kresna ia kembali bertanya. “Udah berapa batang?” Tanyanya sambil duduk menyender ke kasur dengan bantal yang ia susun meninggi.
“Eh si cantik. Baru empat Yang, suer!” Jawab Kresna, langsung mematikan puntung rokoknya pada asbak.
“Kamu kok nggak bilang mau kesini?”
“Udah aku chat. Kamu sih, keasikan BERCUMBU sama nikotin.”
“Ettt iya deh, maaf ya Sayang.”
“Untung nggak kamu kunci pintunya, jadi aku bisa langsung masuk.”
“Eh tapi, besok lagi dikunci aja. Kamu sering nggak pake baju gini nggak rela aku berbagi sama orang kalo tiba-tiba ada yang masuk.”
Aya yang ini apakah sama seperti Aya yang dikenal Kresna saat pertama kali? Jawabannya tidak. Aya yang sekarang lebih terbuka, lebih cerewet dan tidak kaku. Memang ya, kalau sudah nyaman maka yang pendiam pun bisa jadi cerewet.
“Gerah sayang, makanya lepas kaos. Kamu nggak gerah apa pake hoodie gitu?”
“Ya gerah, ini mau dilepas.” Aya melepas hoodie. Terlihat Aya memakai kaus tanpa lengan favoritnya.
“Mana sini hoodiemu aku pake” Pinta Kresna tiba-tiba.
“Katanya gerah? Kok dipake?”
“Suka-suka aku lah.” Kresna memakai hoodie lalu menghirup aroma dari hoodie tersebut. Wangi powdery dengan sedikit manis vanilla.
Sejenak kamar kos Kresna kembali sunyi, hanya ada suara kipas angin yang berbunyi halus dan lagu yang terputar di laptop berjudul “Kau yang Kusayang”. Lagu lama dengan versi terkenal dinyanyikan oleh The Rollies, dan versi modernnya oleh Dewa 19 feat Ello.
Kini mereka berdua dalam posisi tiduran di lantai, dengan kasur sebagai bantalan. Mereka saling berhadapan. Ada yang tersenyum menggoda ada pula yang tersenyum karena malu, tangan Aya terangkat menyentuh satu persatu bagian dari wajah Kresna. Dari alis, mata, hidung, hingga bibir Kresna.
“Kenapa senyum-senyum?”
“Kamu ganteng.”
“Suka?”
“Aku?”
“Iya kamu.”
“Aku sih disukain kamu ya? Kalo kamu?”
“Kalo kamu disukain aku…. berarti aku juga disuk– eh, berarti aku nyukain kamu.”
“Hahaha lucu banget, Kres. Padahal bisa jawab “Aku disukain kamu juga” loh!”
“Justru itu. Kalo aku jawab itu, mungkin kamu nggak akan ketawa.”
“Iya deh, siap si paling jago ngalus!”
“Yang penting ganteng.”
“Nggak nyambung!!” Cubit Aya pada dada Kresna.
“Aduh aduh! Aku bales loh, Yang.”
“Nggak! Stop!” Lawan Aya dengan menjauhkan tangan Kresna darinya.
“Eh tapi kumis sama jenggotmu udah tumbuh! Nggak mau dicukur apa, Kres?”
“Mau aku tumbuhin biar kayak Ello Tahitoe. Biar kamu makin kepincut.”
“Dih!! Nggak nggak! Aku emang suka Ello kumisan jenggotan, tapi kamu nggak boleh! Kamu harus rapi, bersih.”
“Ya udah, cukurin kalo gitu.”
“Kres aku serius!”
“Emang aku lagi bercanda?”
Karena tidak melihat ada candaan dari Kresna, akhirnya Aya pun beranjak dari posisinya dan mengambil alat-alat yang diperlukan.
Ada pisau cukur lipat, tisu, dan krim cukur. Sudah tersedia semua, kembali Aya duduk bersila di dekat Kresna.
“Duduk yang bener dulu, Kres.” Kresna menurut apa kata Aya. “Gordennya buka lebar ya? Biar terang.” Kata Aya ingin membuka gorden jendela kamar.
Tangan Kresna menahan tangan Aya “Jangan! Lampunya aja yang dinyalain, sinarnya silau banget kalo dibuka lebar.” Timpal Kresna sambil menghidupkan saklar.
Duduk sila berhadapan, lutut saling menyentuh, muka bertemu muka. Kipas yang menyala, lagu terputar, dan lampu kamar yang dihidupkan. Sedikit cahaya masuk dari gorden yang tidak tertutup sempurna. Terkadang angin berhembus dari jendela yang sengaja dibuka lebar.
Aya membuka tutup krim cukur. “Aku pakein dulu krimnya.” Mengoleskan dengan rata, dengan tangan nakal Kresna yang sejak tadi berada di atas paha Aya dan mengusapnya halus. “Diem dulu tanganmu, krimnya masuk mulut loh!”
Sontak Kresna menghentikan kegiatan tangannya. Saat mengoleskan krim, wajah kakak tingkatnya ini begitu serius. Bibirnya sedikit terbuka saking fokusnya. Mata Kresna tak bisa lepas dari wajah Aya.
“Udah, Yang?”
“Udah, sekarang kamu baring. Kakinya lurus kesana.” Pinta Aya kepada Kresna.
Saat ini Kresna berbaring di atas kasur dengan posisi terbalik. Jika biasanya kepala berada dekat dengan tembok, kini justru kepalanya berada di bagian bawah kasur demi memudahkan Aya mencukur. Sementara itu, Aya duduk bersila di lantai, tangan kanan sudah siap menggenggam pisau cukur, sedangkan tangan kiri memegang beberapa lembar tisu yang terlipat rapi.
Dari sudut itu, wajah Aya tampak begitu cantik, begitu dekat.
Aya mulai mengikis perlahan mulai dari pipi sebelah kanan, sesekali mengelapkan pisau cukur pada tisu guna menghilangkan krim yang menempel. Kresna tidak bisa lepas dari pergerakan Aya. Sampai-sampai di mana Aya bergerak, kepala dan mata Kresna selalu mengikuti.
“Diem dulu, ganteng.” Kata Aya sambil tersenyum. Aya tahu sejak awal mata Kresna tak lepas dari pergerakannya. Aya jadi salah tingkah. Sedikit.
“Cantik banget, Aya.”
“Ssst jangan ngomong dulu, susah aku nanti.”
Sudah dikikisan terakhir, tangan Kresna yang menganggur tiba-tiba terangkat untuk menjawil hidung bangir Aya. Aya terkejut lalu menatap Kresna tepat pada matanya.
“Kamu sadar nggak,” kata Aya pelan, “kalau kamu ganteng?”
Kresna tersenyum. “Kamu sadar nggak kalau kamu bikin aku susah fokus?” Aya tertawa kecil.
Sungguh jika boleh, ingin sekali Aya mencium pacar tampannya itu. Bagaimana mungkin ia tidak salah tingkah sedang dari tadi ia ditatap begitu lekat oleh orang setampan ini.
Bibir yang tidak menghitam meski nikotin sudah menjadi makanan sehari-harinya, hidung bangir yang mungkin bisa jadi perosotan untuk semut, alis tebal yang sangat sangat menawan, serta wajah tegas yang berpadu sempurna hingga menjadikannya sungguh tampan.
Mata mereka masih saling menatap, nafas satu sama lain terasa hangat menyerbu muka. Debaran jantung seperti habis berlari dikejar anjing tetangga, dan tak sadar Aya mulai mengikis jarak untuk mengecup sekilas hidung Kresna. Mengecup sekilas kedua matanya, kedua pipinya, dan dahinya, terakhir pada–
bibirnya.
Namun kali ini tidak langsung dilepas. Aya hanya berhenti di atas sana, hanya menempel tidak ingin bergerak seolah jika bergerak semua ini akan hilang saking tidak nyatanya.
Walau sudah tidur bersebelahan di beberapa malam, jujur saat berpacaran dengan Kresna ia belum pernah berciuman bibir, paling-paling hanya pipi dan pelukan hangat. Kali ini ia melakukannya.
Aya mencium bibir Kresna.
Menyadari tindakannya, Aya pun menjauhkan wajahnya dari Kresna, tergagap dan merasa tidak enak. “M-maaf Kres.” Melihat tidak ada respon dari Kresna, membuat Aya bingung dan sedikit panik.
Kresna beralih dari posisi berbaring lalu duduk bersila di atas kasur dan menyender ke tembok. “Sini.” Suruh Kresna sambil menepuk pahanya. Dengan patuh Aya beranjak dari duduk silanya di lantai ke pangkuan Kresna.
Tangan yang awalnya menggantung di sisi kanan kiri tubuh dibawa Kresna untuk ditaruh ke lehernya. Merapatkan tubuh dengan sedikit mengangkat tubuh Aya lalu berakhir dengan memegang pinggang dengan tangan kirinya.
“Aku berat ya?”
“Nggak, siapa bilang?”
“Mau lanjutin yang tadi?”
Tidak ada jawaban dari sang lawan, hanya ada senyum tersipu dan dada berdegup kencang yang suaranya sampai terdengar oleh telinga lain. Aya tak sanggup menjawab, ia hanya bisa mengangguk sambil tersenyum.
Tangan kanan Kresna ia bawa untuk mengangkat dagu Aya. Tangan kanannya memegang tengkuk Aya. Wajahnya mendekat, matanya masih terbuka untuk melihat pacar kecilnya yang sudah menutup mata sedari tadi. Hidung mereka saling bersentuhan, terakhir ia dekatkan bibirnya pada bibir si cantik.
Ciuman itu tidak terburu-buru. Tidak ada nafsu, hanya ada rasa yang sedari lama ingin disampaikan. Kalau tadi hanya menempel, namun kini ada pergerakan tambahan. Lumatan kecil diawali oleh Kresna. Amatir namun tetap mengalir.
Makin lama makin terbuai, Aya menggigit kecil bibir Kresna. Bibirnya menekan. Menguji. Kresna membalas. Sebisanya. Tubuh mereka menegang bersamaan.
Untuk hal seperti ini, adalah kali pertama untuk Kresna—ia tak tahu bagaimana dengan Aya, yang terlihat jauh lebih berpengalaman. Tangan Aya yang melingkar di leher Kresna tak ia biarkan menganggur. Jemarinya meremas pelan rambut belakang Kresna, seolah menyalurkan rasa yang tak mampu ia ucapkan dengan kata-kata.
Dua tangan Kresna yang kini bertengger indah di pinggang Aya pun tidak hanya diam. Tangan itu mencengkram pinggangnya sesekali mengelusnya perlahan.
Kamar kos yang hanya berukuran 4x2 itu kini dipenuhi oleh suara kecipak berirama yang mendebarkan hati. Bagaimana Kresna kini semakin terbiasa dengan cara bermain Aya. Gerakan Kresna mengalir, tidak menuntut, tidak terburu-buru. Semuanya ia lakukan sesuai dengan nalurinya.
Tak berhenti hanya di bibir saja, Kresna pelan tapi pasti turun ke dagu si cantik. Memberi kecupan kecil. Aya semakin mendongakkan kepalanya, refleks agar Kresna lebih leluasa bermain di sana.
Tangan Aya pun kini berada di pundak Kresna, berpegangan pada pundaknya yang lebih seperti cengkeraman. Menyalurkan apa yang Aya rasakan.
Bibir Kresna kini berada di leher jenjang Aya. Kepala Aya yang mendongak membuat Kresna dengan mudahnya menjamah bagian itu. Kecupan, jilatan, hingga gigitan kecil Kresna tinggalkan di sana. Membuat sang empu leher mengeluarkan erangan kecil.
"Emmh... Kres..." Erang Aya tertahan dan mencoba menjauhkan Kresna dari lehernya.
Seolah tak mendengar walau nyatanya mendengar dengan jelas, Kresna terus bermain di leher itu. Tangan Aya yang tadinya berusaha menjauhkan Kresna dari lehernya, kini ditahan Kresna menggunakan tangannya di sisi kanan kiri tubuh Aya.
Semakin terbawa suasana, posisi mereka pun berubah. Kini Aya berbaring dengan Kresna berada di atasnya. Aya terkejut, seorang Kresna bisa seperti ini rupanya.
Sejenak mereka saling menatap, menikmati wajah satu sama lain. Mata keduanya sayu. Bibir keduanya terbuka, terlebih untuk Aya yang sepertinya kehabisan napas akibat perlakuan pacar tampannya. Dada Aya naik turun, berusaha menghirup banyak oksigen saat Kresna sedang tidak beraksi.
"Pelan, Kresna."
"Aku nggak ke mana-mana."
Mendengar perkataan itu, membuat Kresna semakin tidak tahan. Ia kembali meraup bibir kakak tingkatnya yang sudah menjadi pacarnya itu. Kali ini lebih kasar. Keduanya kini saling mengimbangi, walau Kresna lebih dominan, namun tak jarang Aya melakukan gerakan-gerakan kecil yang membuat hasrat Kresna kembali terpancing. Dalam ciuman kasar itu tangan Aya berada mengalung di leher Kresna, ia kembali meremas rambut belakang Kresna dengan penuh perasaan.
Dada mereka saling menempel, merasakan detak jantung satu sama lainnya. Mereka berdua terbawa suasana, suara keduanya pun saling beradu. Erangan Aya dan napas rendah Kresna memenuhi ruangan itu. Membuat mereka tak bisa mengontrol yang ada di dalam.
Beruntung Aya masih memiliki kesadaran, berbeda dengan Kresna yang sepertinya sudah kepalang tak tertolong. Salahkan Aya karena punya wajah yang cantik. Kresna jadi tidak bisa berhenti mencium.
Hingga beberapa saat, akhirnya Aya melepaskan tautan bibir itu. Tangan kanannya berada di pipi Kresna, dan tangan kirinya berada di pundak Kresna. Dengan nafas terengah dan dahi yang saling menempel. Aya melihat bibir Kresna, sedikit merah karena gigitan yang ia beri tadi. Tak kalah dengan Aya, bibirnya pun bengkak karena ulah Kresna.
“Kresna." suara Aya bergetar. "Calm down, Sayang." Jari Aya ia bawa untuk mengelus pipi Kresna.
Masih berada di atas Aya, Kresna membenarkan posisi agar lebih nyaman. Ia tengkurap sedikit menyamping dengan siku sebagai tumpuan.
“Maaf, Aya. Aku kelepasan, ya?" Tanya Kresna khawatir.
“Nggak apa-apa." Aya tersenyum, bibirnya ia basahi sedikit sebelum kembali melanjutkan. "Aku harap kamu nggak nyesel, Kres.”
“Kalau ini bikin aku nyesel,” kata Kresna pelan, “berarti aku nggak kenal diriku sendiri.”
“Terus sukain aku ya? Aku pengen selalu disukain kamu."
"Iya, cantik.” Kresna kembali mengecup singkat bibir Aya. "Sebelum kamu bilang juga, aku selalu suka sama kamu."
“Nginep sini yuk, Yang?" Tanyanya sambil mengecupi pipi Aya. “Besok kan libur."
Aya mencubit hidung Kresna.
“Jangan macem-macem, Kresnaaa!!!"


