Work Text:
#1
Terkutuklah bagi siapapun yang menciptakan jadwal perkuliahan pagi. Karena.. ya, yang benar saja dirinya terpaksa harus mendengarkan celoteh dosennya mengenai entah apa (Yushi sudah duluan tidak fokus) dari pukul 7 pagi hingga pukul 9 nanti. Ah, lagi-lagi Yushi menyesal karena kurang cepat saat KRS kemarin, padahal ia hampir selamat dari jadwal pagi yang tidak masuk akal ini.
“Udah sarapan, Yu?” Anton, teman sekelas Yushi, bertanya, yang mana berhasil sementara menghilangkan lelap Yushi.
Yushi menggeleng. “Mana sempet gue sarapan anjir,” wajahnya mengernyit ketika ia sekali lagi meregangkan tubuhnya, “Bangun aja udah syukur.”
“Iya, ya.” Anton terkekeh pelan, setuju dengan jawaban Yushi. “Kelar ini sarapan, mau ga lo? Di kantin aja.”
“Gak sekalian keluar? Gue bosen kalau langsung balik kos.” ujar Yushi. Iya, Yushi bosan, padahal dirinya masih memiliki 2 tanggungan tugas.
Anton menggeleng tidak setuju. “Gue ada kelas lagi jam 11, males bolak-balik.”
Dengan begitu, mereka sepakat untuk sarapan di kantin kampus saja, lalu setelahnya Yushi akan mencari teman lain yang bisa diajak membunuh bosan.
Drrt.
Ponsel Yushi bergetar di dalam saku celananya. Yushi dengan sigap mengambil dan menyalakan ponselnya untuk memeriksa notifikasi tersebut, sebagai upaya untuk melepas kantuk.
Maeda Riku
Yushi
Sarapan bareng, mau gak?
Wah, berhasil—kantuknya hilang.
Bagaimana tidak, jika degup jantungnya serasa berhenti sebentar ketika mendapat pesan tersebut, dan selalu saja begitu. Sampai-sampai Yushi sudah tidak merasa bahwa reaksinya ini aneh. Dirinya selalu begitu ketika, dan hanya ketika, Riku yang menginisiasikan sesuatu kepadanya. Sekali lagi, bukan hal yang aneh bagi Yushi. Or at least that’s what he chooses—forces—to believe.
He just lets himself be nervous.
Me
Gue udah janjian sama Anton, Rik
Ntar aja? Agak siangan, mau?
Maeda Riku
Yaudah. Makan siang, ya
Yushi mengirimkan emotikon jempol sebagai respons, lalu menutup ruang obrolan tersebut. Sedikit disiratkan senyum kala terlintas sadar bahwa akan bertemu Riku, dirinya yakin bosannya akan mati nanti.
*
Yushi bersyukur bisa keluar dari kelas pagi itu dengan selamat. Rasa syukur itu pas sekali untuk dirayakan dengan sarapan.
Kini, Yushi dan Anton sedang mengantre untuk memesan makanan. Kantin kampus ternyata lumayan ramai. Sekilas tadi Yushi lihat, tidak banyak bangku yang kosong.
“Kata lo, bungkus apa makan sini, ya?” Yushi bertanya.
“Makan sini aja. Ntar ada kok bangku yang kosong,” jawab Anton. “Tadi gue lihat masih ada yang kosong, tapi barengan sama orang lain.”
Yushi mendecak kesal. “Ya itu mah namanya bukan kosong, anjir. I’d rather eat alone daripada makan sama some strangers.” ujar Yushi, sepenuhnya bertekad untuk menikmati sarapan.
Drrt.
Yushi membuka ponselnya, lagi-lagi menemukan notifikasi dari nama yang sama.
Maeda Riku
Lo di kantin, ya?
Alisnya terangkat ketika membaca pesan tersebut. Riku juga di kantin?
Me
Iya
Kok tau?
Ceklisnya langsung berwarna biru, dan Riku mulai mengetikkan sesuatu.
Maeda Riku
Mau duduk sama gue gak? Ada temen-temen gue juga sih
Meja lain pada penuh soalnya
Yushi sempat terheran sebentar, lalu terpikir mungkin Riku menawarkan hanya karena melihat tampang Yushi yang kasihan dan bukan karena ada alasan lain. Namun begitu, Yushi lagi-lagi bersyukur.
Me
Boleh deh
Gue sama Anton tapi. Gapapa kah?
Maeda Riku
Aman
Sebelah kanan kasir, bangku ketiga dari depan
“Makan di sini aja, Ton.” kata Yushi sembari mengantongi ponselnya.
“Ya kan gue bilang juga apa.” Anton merespons dengan agak songong, Yushi menunjukkan muka datar, tidak peduli. “Kenapa tiba-tiba mau di sini? Diajakin Riku, ya?” tanya Anton, menerka-nerka sambil bercanda.
Yushi mengangguk. “Sama temen-temennya juga. Gapapa kan?”
Anton tersenyum santai, tetapi terlihat sedikit mengejek. “Aman gue mah,” katanya, “Udah kebal ngeliat lo berdua pacaran.”
Air muka Yushi saat ini benar-benar menunjukkan rasa kesal: alisnya menukik, bibirnya cemberut, dagunya mengerut, pun pipinya memerah hingga ke telinga. Entah karena apa, Yushi juga tidak tahu—tidak ingin terlalu tahu. Mungkin karena pertemanannya sudah terlalu lama dirajut dan Yushi enggan membuat pola baru, dengan kemungkinan galat, gagal, yang besar.
“Gak pacaran!” serunya sebal, “Ini masih pagi, lo awas aja, ya.”
Yang terkena ancaman hanya lanjut tersenyum dan mengangguk pasrah. “Weh calm down. Iya iya, paham, ketua.”
Untungnya mereka sudah sampai di ujung antrean. Kalau tidak, Yushi bisa-bisa sudah semakin jengkel dan Anton akan menjadi korban omelannya.
Yushi dan Anton menyampaikan pesanan mereka kepada petugas kasir kantin, melakukan pembayaran masing-masing (agar tidak ada utang-utangan, kalau kata Yushi), lalu pergi ke kiosk tempat pesanan mereka dibuat. Di sana, mereka menyerahkan struk pesanan dan menerima makanan mereka.
Sambil membawa piring plastik berisi Nasi Katsu, Yushi memindai keseluruhan bangku yang ada di sebelah kanan kasir. Ia mencoba mencari tempat dengan sosok yang familiar, tetapi mengingat penglihatannya yang akhir-akhir ini semakin buruk, ia gagal menemukannya.
“Riku pakai baju apa?” tanya Anton, ingin membantu Yushi mencari.
Yang ditanya hanya menggeleng tidak tahu. Iya juga, mengapa ia tidak bertanya pada Riku mengenai pakaian yang ia pakai, ya? Pasalnya, bangku yang Riku sebutkan di roomchat mereka telah digunakan oleh orang yang.. lumayan asing bagi Yushi. Seingatnya, teman-teman Riku tidak ada yang terlihat seperti itu.
“Yushi,” yang dipanggil menoleh. “Gak duduk?”
“Ya gimana bisa duduk orang lo kagak ada di sana.” ketus Yushi, menunjuk bangku yang dimaksud Riku dengan dagunya.
Riku terkekeh pelan. “Ya sorry. Mau ambil minum gue,” katanya. Lalu tanpa aba-aba, penglihatan Riku seperti terkunci pada helaian rambut yang menggantung di depan mata Yushi. Riku sedikit menunduk, dan lagi-lagi tanpa aba-aba, tangan Riku bergerak untuk merapikan helaian rambut Yushi, membuatnya sedikit menjengit.
“Lo duduk aja duluan. Anton kenal Sohee kok,” Riku menoleh sebentar pada Anton, “Iya kan, Ton?” ujar Riku dengan tangan yang masih sibuk.
Mendengar namanya disebut, Anton pun membenarkan ekspresinya yang terlihat terkejut dengan adegan lucu yang baru tak sengaja ia lihat. “Iya, kenal kok.” jawabnya, menahan tawa.
Riku mengangguk terhadap jawaban Anton, dan kini kembali fokus merapikan rambut Yushi dengan tangan kanannya. Setiap sentuhannya lembut dan hati-hati, seperti tengah mengelus kucing asing yang pertama kali ia temui. Seperti ingin meminta perhatian dan takut si kucing pergi.
“Nah, gini kan cakep.” ucap Riku setelah selesai dan puas dengan hasil tatanannya. “Yaudah, gue ambil minum dulu.” Riku pamit, menepuk bahu Yushi dua kali, meninggalkan Yushi yang masih membeku di tempat, dan Anton yang tengah menahan tawanya ketika melihat wajah Yushi yang memerah.
“Gak pacaran, itu?” ujar Anton sarkas, berjalan mendahului Yushi untuk duduk di bangku yang Riku maksud.
Tidak tahu saja Anton (atau mungkin sudah tahu) kalau Yushi sedang mati-matian merutuki si Maeda dalam hatinya
#2
Siang pada hari Sabtu kala itu tetap sama dengan tipikal siang lainnya: panas. Dan Yushi, yang memang tidak suka dan tidak kuat dengan cuaca bak gurun pasir ini, merasa amat tersiksa. Karena ulahnya sendiri.
Ceroboh, memang. Tapi Yushi sendiri tidak mengira bahwa siang itu akan datang dengan suhu setinggi ini. Pun Yushi tidak mengira bahwa mengayuh sepeda di siang itu akan sangat melelahkan. Eh, ralat. Bukan hanya melelahkan. Ia serasa hampir pingsan.
Yushi baru sampai di 2/3 dari rute yang ia rencanakan, dan di sepanjang jalan ini tidak ada satupun pohon rindang yang dapat dia gunakan sebagai tempat meneduh. Padahal ia sudah sangat ingin berhenti.
Kayuhannya pun berlanjut, dan dorongan dopamin yang pada awalnya sangat kuat, kini kian melemah seiring bertambahnya hitungan kilometer. Dadanya kembang kempis, hidungnya terasa terbuka lebar, dan mulutnya pun ikut serta dalam meraup rakus oksigen yang lewat.
500 meter lagi. Yushi tahu 500 meter lagi akan ada toserba kecil yang bisa ia hampiri. Sedikit lagi.
Kedua tangannya yang menggenggam erat setir sepeda mulai gemetar. Pening mulai menyerang, seakan sinar matahari itu menembak tepat panasnya pada pucuk kepala. Kayuhannya memberat dan kakinya hampir menyerah.
Dikit lagi. Bisa kok.
Namun, jarak 300 meter tidak pernah terasa sejauh itu bagi Yushi. Rasa sakit di kepalanya mulai menjalar ke area mata dan penglihatannya buram. Degup jantungnya terdengar kencang dan terasa menyakitkan — Yushi rasa tidak akan ada bedanya jikalau dibandingkan dengan ditindih 3 kg gas elpiji.
200 meter lagi, tetapi insting Yushi menghentikan kayuhannya yang sudah terbata. Ia menekan kilat rem dan sepenuhnya turun dari sepeda tersebut. Buru-buru kakinya menginjak standar sebelum penglihatannya menghitam sekejap dan kedua tungkainya benar-benar menyerah — Yushi ambruk.
Lengan kanannya mendarat keras, disusul dengan tubuhnya yang sudah tiada tenaga. Napasnya berantakan dan matanya terus-terusan ia kedipkan, berharap dirinya tidak jatuh pingsan. Untungnya saja kesadarannya berhasil melawan. Namun kabar buruk: kakinya total enggan bergerak, tidak bisa merasakan apapun, tidak kuat diangkat apalagi menapak.
Yushi membenarkan posisinya. Kini ia terduduk dengan kedua kaki lurus, dan lengan di samping masing-masing sisi tubuh untuk menopang.
Napasnya ia tarik dalam-dalam sembari mencoba memproses apa yang baru saja terjadi—dan kini rasa sakitnya mulai terasa. Lengan kanannya terasa perih (tebakan Yushi adalah terpatok batu saat ia terjatuh tadi), matanya sakit untuk melihat, dan paha serta lututnya nyeri.
Terus ini gue baliknya gimana kocak.
Yushi tertawa kecil. Dirinya merasa konyol. Lalu sekarang, bagaimana caranya dia kembali? Yushi tahu toserbanya sudah cukup terlihat ujungnya dari sini, tetapi tidak mungkin juga ia mengayuh sepedanya lagi untuk menuju ke sana.
Yushi merogoh ponselnya dari dalam tas silang yang ia bawa, dibuka dan ia mengetikkan satu nama, atau satu-satunya nama, yang terpikirkan saat ini.
Belum sampai 7 detik ponselnya mencoba menghubungkan panggilan, sudahlah terdengar suara dari seberang sana.
“Rik?”
“Iya, Yu. Kenapa?” yang dipanggil menjawab. Yushi bisa mendengar suara piring yang diletakkan di atas meja.
“Lo lagi makan?” Yushi bertanya, mencoba terdengar tenang.
“Iya. Baru banget kelar bikin lauk.” jawab Riku, yang sepertinya kini sudah duduk di kursi meja makan.
“Oh..”
Riku terdiam sebentar. “Kenapa?” tanyanya.
Yushi menimbang-nimbang. Sekarang ragu ingin meminta tolong secara blak-blakan karena Riku masih akan makan, dan Yushi yakin Riku belum makan dari semalam.
“Yushi?” Riku kembali bersuara.
“Itu..” ucap Yushi. “Lo makan berapa menit?”
“Hah?” Bingung.
“Gue mau minta tolong, tapi nunggu lo selesai makan aja.” ujar Yushi.
Kalau dipikir-pikir, Yushi bisa saja membatalkan panggilan ini dan kembali menelepon orang lain, Anton misal, untuk membantu kondisinya saat ini. Mungkin saja itu bisa lebih cepat.
“Apa?” suara Riku terdengar.. entahlah. Menurut Yushi, suaranya terdengar risau. Khawatir, tetapi siap atas apapun yang akan Yushi katakan setelahnya.
“Ini, Gue abis jatuh dari sepeda, mau balik tapi kaki gue—“
“Di mana?”
Pikiran Yushi seketika kabur. Ia tidak menyangka temannya itu akan terdengar sebegitu khawatir.
“Yushi, di mana?” buru-buru. Seperti dikejar sesuatu.
“Lo makan dulu, Rik. Abis ini—“
“Gue tanyanya lo lagi di mana, bego.” Riku sepertinya marah. “Kirim lokasinya, gue ke sana.”
Panggilan terputus, dan pesan dari Riku langsung sampai kepadanya.
Maeda Riku
?
Pun Yushi segera mengirimkan lokasinya saat ini kepada Riku. Pesannya langsung terbaca.
Menit-menit berikutnya, ia menunggu. Yushi kerap mencoba menekuk dan meluruskan kaki agar nyerinya pudar. Sesekali pula ia mengusahakan untuk berdiri. Berhasil di percobaan kedua. Yushi juga berulang kali menenggak air yang ia bawa, setiap tenggakan secukupnya saja untuk dihemat selagi menunggu Riku.
Heatstroke sialan.
Terhitung menit keenam sejak Riku melihat pesannya, dan Yushi bisa menemukan sebuah mobil abu-abu yang mendekat dari arah dirinya datang.
Mobil itu melambat dan berhenti cukup dekat dengan tempat Yushi saat ini duduk. Pintu sopirnya terbuka, dan lelaki yang Yushi tunggu pun turun.
“Lo tuh,” ucap Riku pertama ketika ia melihat temannya yang duduk. “Ada-ada aja.”
Yushi, mau tak mau, tertawa malu. “Sorry. Gue kira masih belum kesiangan buat sepedaan.”
Riku menggeleng heran. “Bisa berdirinya?”
“Udah bisa.” dan Riku mengangguk. Dirinya berdiri dari posisi cangkung, lalu menawarkan tangan kanannya untuk Yushi agar lebih mudah berdiri.
“Langsung masuk mobil. Ini sepedanya gue masukin dulu.” ujar Riku seraya Yushi menerima uluran tangannya.
*
Mobil yang dikemudikan oleh Riku akhirnya meluncur, dengan Yushi duduk di kursi sebelahnya, dan sepeda biru Yushi bertengger di area belakang. Posisinya kursi baris kedua ditekuk, dan sepeda Yushi terbujur hingga bagasi.
“Harusnya tadi lo makan dulu, njir.” ucapan Yushi mengundang helaan napas dari Riku. Terdengar kesal.
“Bisaan banget lo mikir gue masih nafsu makan pas lo bilang lo jatuh, hah?” ketusnya.
Bibir Yushi mengerucut lucu. Ah, sekarang ia merasa bersalah.
“Jatuh gini doang,” katanya. “Tadi aja sempet kepikiran gue mau balik sendiri.”
“Emang bebal banget, ya, kalau udah urusan begini?” Yushi terdiam.
Iya, Yushi bebal. Dan ceroboh. Namun begitu, ia tidak suka merepotkan orang lain, apalagi jikalau sampai orang itu harus meluangkan waktu untuk Yushi ketika Yushi tahu bahwa ia bisa melakukannya sendiri. Padahal dalam hati, Yushi tahu—ia tidak bisa. Tetapi dalam kurun waktu tertentu, entah menit ataupun jam, ia bisa. Dipaksakan, harus bisa.
“Lo tau sendiri, Yu, kalau udah urusan kena heatstroke itu lo lemes. Gampang ambruk.” Riku mulai mengomel. “Coba aja kalau tadi lo nekat balik sendirian, terus, amit-amit, lo ambruk di tengah jalan. Terus ditemuin orang, kagak tau dia baik atau enggak.”
Riku menarik napas, sejenak memejamkan matanya. “Iya kalau lo gapapa. Kalau enggak, siapa yang ribet?”
Yang terkena omelan menoleh setelah Riku terdiam. Mata Yushi mengerjap beberapa kali sambil memproses apa yang baru saja Riku katakan. Tatapnya yang penuh rasa bersalah itu melihat Riku kembali menghela napas.
Riku menengok sekilas ke arah Yushi, yang masih belum mengalihkan pandangannya, dan tersenyum tipis. “Diliatin mulu dah guenya.” Riku melanjutnya, “Sorry for yapping too much. Gue khawatir aja tadi.”
Yushi akhirnya memindahkan pandangannya ke jalanan. Ia memilih untuk memikirkan kata-kata Riku dibanding menjawabnya dengan ucapan maaf. Yushi tahu Riku malah akan tidak suka jika dirinya minta maaf, karena menurut Riku, Yushi tidak salah. Yushi tidak pernah salah, setidaknya begitu di Kamus Besar Riku.
Dan Riku selalu saja seperti itu. Yushi sudah tahu.
“Rik.” Pandangannya masih pada jalanan, Yushi membuka suara setelah selesai dengan pikirannya. Dibalas dengan hm sederhana. “Makasih, ya.”
Yang sedang menyetir pun mengangguk paham, “Iya. Thank you for calling me.”
Selalu saja pintar dengan kata-katanya, yang entah mengapa memberikan kesan aneh bagi Yushi. Runtutan kata yang diucapkan Riku selalu disisipi definisi sayang. Yushi suka menganggap hal itu adalah hal yang normal untuk dituturkan oleh seorang Riku, seseorang yang memang penuh dengan kasih sayang.
“Abis ini ke rumah gue dulu mau gak? Makan siang, sekalian gue cek yang sakit. Tadi tangan lo kayak ada luka.”
Pun tindakannya juga pintar. Pintar sekali dalam menyalurkan perhatian.
Dan Yushi hanya bisa mengiyakan. Selalu saja. Namun Yushi tidak keberatan, karena dirinya senang diperhatikan.
#3
Yushi menjadikan ruang kelas yang kosong sebagai tempat singgahnya untuk sementara, tentu saja setelah meminta izin kepada petugas lantai gedung fakultasnya. Waktu interval per kelas yang perlu Yushi hadiri hari ini tidak lama, hanya sekitar 20 menit, tidak cukup walau sekadar untuk mampir ke minimarket dan memesan segelas milk tea kesukaannya. Namun hari ini, ia lumayan beruntung karena kelasnya tadi selesai 15 menit lebih awal— bonus 15 menit untuk beristirahat sebentar.
Kursi di pojok kelas merupakan pilihannya. Handphone-nya tengah diisi baterai di stopkontak terdekat, sehingga saat ini ia hanya bisa berkutat dengan tabnya. Jarinya berjalan dan melompat-lompat di atas layar itu, sibuk mengetikkan catatan pengingat bahwa ia masih memiliki beberapa tugas dan jobdesc yang belum diselesaikan.
Klik.
Pintu ruang kelas yang terbuka membuat Yushi menoleh ke arah suara dengan heran. Seingatnya, petugas lantai bilang kalau ruang kelas ini tidak dipakai hingga 45 menit lagi.
“Loh, Rik?” celetuk Yushi ketika melihat sosok Riku di ambang pintu.
“Loh, hai? Lo abis kelas di sini, Yu?” Riku juga terdengar tidak menyangka akan melihat Yushi di ruang kelas itu. Dirinya menutup pintu dengan perlahan di belakangnya.
Yushi menggeleng, “Ngadem aja di sini. 20 menit lagi gue di kelas sebelah.”
“Kenapa gak langsung ke samping aja?” Yang baru datang memilih kursi tepat di samping kiri Yushi, pun meletakkan tasnya di kursi kosong terdekat.
“Rame,” Yushi melanjutkan, “gue mau selesaiin kuis ini dulu. Gak bisa kalo ngerjain di sana.” Pandangannya terfokus pada layar tabnya lagi, yang kini menampilkan rentetan soal belum terjawab.
Riku mengangguk paham sembari sekilas melirik layar tab Yushi—sedikit penasaran.
“Gue di sini gapapa, kan?” Riku bertanya. Sorot fokusnya kini teralih pada tampak samping wajah Yushi—matanya yang memantulkan sinar tab seolah terlihat berkelip, jembatan hidungnya yang lumayan tinggi, pipinya yang sedikit gembil dan lucu—
“Iya, di sini aja.” kata Yushi, “Temenin gue.”
Riku tersenyum tipis ketika mendengar jawaban Yushi. Dirinya masih betah sekali mengobservasi air muka temannya. Temannya yang lucu, imut, menggemaskan, cantik, tampan, rupawan—
“You’re staring too hard.”
Pipi Yushi sedikit memerah, sangat samar. Riku bersyukur bisa melihatnya.
“Am I?” salah satu alisnya terangkat, rautnya lengkap dengan senyuman puasnya—niatnya untuk mengalihkan pandangannya dari Yushi adalah nihil.
Yushi tengah berusaha tetap fokus pada soal-soal kuisnya, tetapi keberadaan Riku saat ini sungguh tidak membantu. Seharusnya ia tidak mengizinkan lelaki itu untuk duduk di sini.
“Pipi gue panas ini lo liatin terus.” keluhnya. Tangan kirinya yang kosong mendorong Riku pada dada, memaksa yang lebih tua agar sedikit menjauh—tidak terlalu jauh.
“Yakin?” ujar Riku. Nadanya jahil, kembali mendekatkan diri.
“Berhenti gak–“
“Salting ya lo?”
Kepalanya menoleh secepat cahaya saking terkejutnya dengan perkataan tidak masuk akal dari Riku. Alisnya menukik dan bibir Yushi cemberut tidak suka. Pipinya memerah lucu. Temannya ini benar-benar sudah gila atau bagaimana?
“Ngomong yang bener.” kata Yushi, menekankan pada kata ‘bener’ karena ucapan Riku barusan benar-benar sudah tidak ‘bener’ lagi.
Riku tertawa angin. “Sorry,” ujarnya. “I’ll keep quiet. Kerjain aja kuisnya, gue gak ganggu lagi.”
And so he did— Riku tidak mengganggunya lagi.
Yah, sesekali dirinya masih mencuri pandang ke arah Yushi, mencoba mengambil sedikit saja detail untuk dilihat dan diamati. Dirinya benar-benar tidak mengeluarkan suara lagi kecuali ketika sedikit bergerak untuk membenarkan posturnya, dan dirinya benar-benar tidak menginisiasikan apapun kepada Yushi—tidak ada elusan tiba-tiba pada surainya, tidak ada senggolan kecil pada lengannya, tidak ada.
Yushi seharusnya sudah bisa fokus saat ini. Ia sungguh bebas dari gangguan apapun— bibirnya diam dan tangannya hanya meladeni layar tablet.
Namun naasnya, di luar dari dua organ itu, Yushi malah terganggu.
Matanya berkali-kali bergetar untuk menatap singkat Riku, ingin tahu apa yang Riku lakukan jika dirinya tidak sedang mengganggu Yushi. Otaknya berkali-kali merutuk kepada Riku, seolah menyesal dan kecewa karena telah gagal untuk fokus. Telinganya berusaha menangkap suara dari earphone yang Riku pakai, ingin tahu musik apa yang Riku saat ini dengarkan. Napasnya seperti tidak tenang dan kakinya dihentak-hentakkan pelan, seakan ia menuntut sesuatu.
Riku.
Sebut saja Yushi ini hipokrit, tetapi bagaimana bisa Riku benar-benar mendiamkannya? Jahat sekali?
“Rik.” Yang dipanggil tidak menanggapi. “Riku,” kini tangan kirinya terulur menepuk pundak Riku.
Earphone-nya dilepas, dan Riku menatapnya. “Apa?”
Yushi memandang mata Riku sejenak, sebelum ia menyadari degup jantungnya menjadi lebih kencang. Pilihannya salah, ternyata.
Riku menaikkan kedua alisnya, “…. Halo? You’re not gonna say anything?”
Pertanyaan Riku gagal terdengar jelas— semuanya seperti teredam dan fokusnya hanya bisa tertuju pada bunyi detak jantungnya yang semakin bising—
Kemudian fokusnya buyar ketika Riku mengusap daun telinganya pelan dengan ibu jari dan telunjuknya. Yushi dapat merasakan sengatan listrik tersalurkan ke seluruh tubuh, hanya dengan usapan ringan itu.
“Telinga lo merah.” kata Riku, yang setelahnya beralih untuk mengusak lembut surai Yushi. “Dingin?”
Panik, Yushi menggeleng cepat. Segera ia mengedipkan matanya berkali-kali, seolah itu dapat menghapuskan pikirannya yang nyaris mengambil alih.
Bahaya.
“Kalo kuisnya udah, langsung ke kelas samping aja, Yu, biar gak telat.” ucap Riku, mengusaikan usakan pada kepala Yushi. Menurut Yushi, rasanya seperti perpisahan—hangatnya hilang.
Namun layaknya, Yushi bersyukur. Karena kalau dilanjutkan, ia bisa tebak dadanya akan lebih sakit akibat dipukuli degup jantungnya yang amat keras seakan ingin Yushi mati saja di sana.
+1
Yushi mendongakkan kepalanya untuk menatap pemilik tangan yang ada di hadapannya, yang menyodorkan seuntai gelang berwarna silver.
“Apa?” tanya Yushi, dahinya mengernyit, menginginkan detil konteks dari pemberian gelang tersebut.
“Buat lo,” ujar Riku. “Biar tangan lo gak sepi-sepi banget.”
Satu alisnya terangkat dan pandangannya teralih pada gelang yang dimaksud.
Italian bracelet warna perak, sudah ada 3 charm yang terpasang. Charm kucing oranye-putih, charm berpola bintang-bintang berwarna biru dan kuning, serta charm kucing hitam dan kucing putih bersandingan.
“Ambil elah. Pegel ini tangan gue.” Pun gelangnya diraih oleh Yushi. Sekali lagi detilnya diamati, lalu dipasang di pergelangan tangan kanannya.
“Suka, gak?” Riku bertanya seraya duduk di samping Yushi.
Yushi mengangguk. “Bagus. Makasih,” katanya, masih memandangi pergelangan tangannya yang kini diisi gelang silver tersebut. Terlihat cocok—familiar, padahal Yushi belum pernah sebelumnya memakai gelang seperti itu.
Ternyata Yushi suka pergelangan tangannya dihias. Ukurannya pas, kesannya seperti digenggam. Senyumnya timbul, samar. Yushi suka perasaannya—apalagi ketika tersadar bahwa mungkin Riku hafal lingkar pergelangan tangannya karena sudah terlalu sering menggenggamnya. Sudah terlalu kenal.
“Kenapa tiba-tiba beli?” tanya Yushi, kini menatap Riku yang ternyata memerhatikannya.
Riku menunjukkan pergelangan tangan kirinya sebagai jawaban. “Kembaran,” ujarnya santai.
Melihatnya membuat jantung Yushi berdetak sedikit lebih cepat. Perutnya menjadi sedikit geli. Mungkin hiperbola, tetapi Yushi seharusnya sudah mengira ia akan seperti ini. Apapun yang ditindak Riku, Yushi akan selalu gugup.
Lalu seperti respons otomatis, telunjuk dan ibu jarinya terulur ragu untuk menyentuh gelang Riku, “Mau lihat,” dan dipersilakan. Satu per satu butirnya Yushi tamatkan, seakan ingin tahu apakah punyanya sama dengan punya Riku. Matanya memindai charm yang terpasang di sana—ada 3 juga. Pita merah, kucing hitam yang sedang tidur melingkar, dan huruf Y bewarna emas dengan latar biru. Alis Yushi mengerut.
Huruf Y?
“Ini,” Yushi menunjuk pada charm itu, “enggak ketuker sama punya gue?” Pandangannya teralihkan pada Riku, mencoba memastikan galat yang baru ia temukan.
“Enggak. Emang punya gue kok, yang ini.” Riku menjawab, dengan enteng seakan tidak ada yang janggal. Telinga Yushi memanas rasanya.
“Y?” dijawab Riku dengan anggukan. Wajahnya sama sekali benar—seperti sudah seharusnya begitu, sewajarnya begitu, meletakkan inisial Yushi di dekat nadinya sebagai penjaga yang melingkar indah di sana. Yushi kembali memandangi gelang itu, huruf itu, lebih tepatnya. Entah mengapa, Yushi lagi-lagi suka. Inisialnya cocok berada di sana. Cocok dimiliki, dipakai, atau mungkin dipamerkan. Dibanggakan.
“Dilihatin mulu,” Yushi masih melamun, tetapi dapat mendengar senyuman di suara Riku. “Cocok, enggak?”
Yushi jadi ikut tersenyum. “Cocok.” Tatapnya kini merujuk Riku, bertabrakan dengan tatap yang lebih tua, “Cocok banget.” Lalu napasnya berhenti sebentar.
Riku terkekeh saat mendengar jawaban Yushi. Tangannya pun terangkat, mengusak gemas surai lelaki yang lebih muda.
“Berantakan ih.” Yushi mendecak kesal, berusaha menepis ringan tangan Riku agar berhenti.
Riku, masih betah tersenyum menatap Yushi, bukannya menarik kembali tangannya kini malah mengelus surai yang baru saja ia berantakkan. “Maaf maaf,” sentuhannya halus, sesekali sembari membantu merapikan. “Habisnya gemes. Lucu,” ucap Riku. Kepalanya miring, berusaha menangkap ekspresi lucu Yushi yang pura-pura merajuk.
Yang lebih muda tiba-tiba mengangkat pergelangan tangannya di hadapan Riku, seakan teringat sesuatu.
“Cocok kok,” jawaban Riku malah mengundang gelengan dari Yushi. “Hm? Kenapa? Gak suka?” tanyanya sambil menyelipkan helai rambut Yushi ke belakang telinga. Yushi rasa Riku hanya pura-pura tidak tahu jika telinganya memerah.
“Di punya gue kok ga ada?” Yushi melanjutkan, “Huruf R.” Yushi bisa melihat senyuman Riku yang perlahan muncul setelah kalimatnya selesai.
“Mau?” tanya Riku. Anggukan diberikan Yushi. Air mukanya masih pura-pura marah, membuat Riku semakin gemas.
“Mau. Kayaknya cocok di gue.” ada jeda sebentar— “Lo juga, sih. Kayaknya cocok.”
“Huruf R?”
Yushi menggeleng. Tangannya ia letakkan, “Sama gue.” Kedua tangannya dimainkan sebagai distraksi dari jantungnya yang tak karuan. “Setuju?” Alisnya naik dan kepalanya dianggukkan sekali, memancing yang lebih tua untuk mengiyakan.
Riku mengulum senyum. Yushi tidak tahu kalau hatinya bisa meleleh, atau bagaimana rasanya memiliki hati yang meleleh. Mungkin hanya perasaannya saja. Lagipula Riku, sahabatnya, sudah terlalu sering menjadi pertama kalinya, dan kali ini Yushi tidak masalah hatinya dileburkan.
“Lucu, sumpah.” Lagi-lagi tangan Riku bergerak guna merusak tatanannya. “Kok lo lucu banget sih, Yu? Sengaja, ya, lo? Biar gue gemes-gemesin begini?” tuduh Riku, tangannya masih betah bermain dengan surai Yushi.
“Biasanya gue diem doang juga lo gemes-gemesin,” kata Yushi. “The problem’s on you. I’m just here.”
“You like being here.”
Yushi mengangguk. “I do,” jawabnya. “And you like having me.”
Kini giliran Riku yang mengangguk. “Setuju.” Riku menambahkan, “Tapi I’ve been thinking..”
Entah mengapa jantung Yushi tiba-tiba berdegup gugup. Kalimat Riku yang menggantung seakan terikat pada seribu kemungkinan, bisa baik ataupun buruk. Banyak dari kemungkinan tersebut yang tidak Yushi suka—mungkin semuanya, kecuali satu.
“That..” Riku menyambungkan kalimatnya dengan sangat lambat dan Yushi pikir ia bisa saja mati tepat saat ini. “I actually want to have you.”
Yushi tidak jadi mati. Namun mungkin tidak ada bedanya dengan memiliki jantung yang detaknya amat keras dan berantakan, yang amat berisik hingga Yushi kira Riku bisa saja dengar.
Pun tangan Riku, yang masih lembut mengelusnya bak kucing, tidak membantu tenang. Detaknya semakin kencang dan istirahat pun tidak diberi luang.
“In a sense that..” Riku kembali bersuara, “I’d like to think that you want to have me, too.”
“Kedengeran kayak mau ngelamar.” ungkap Yushi. Rautnya dibuat meringis, pura-pura geli ketika mendengarkan kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Riku.
Riku terkekeh, “Iya, ya?”
Yang lebih muda mengangguk. “You look nervous, too,” pandangannya menyapu keseluruhan ekspresi Riku, membacanya transparan.
“I am.” Riku akhirnya menarik tangan. “You have no idea how nervous I was while preparing this.”
“Oh iya?” Yushi tersenyum geli ketika terbayang Riku yang semalam suntuk mempersiapkan diri untuk… apapun ini. Apapun maksudnya ini.
Riku mengangguk.
“Enggak ngira,” kata Yushi jujur. “I thought you were the type to just improvise on the spot. All casual and stuff.”
“Biasanya emang gitu, sih.”
Yushi berdehem paham. “Terus? Why the hassle? Nothing new kan, berarti?” Sejujurnya saja Yushi tahu perkiraannya benar, tetapi mendengar kata ‘biasanya’ sedikit membuat Yushi merasa tidak suka. Entahlah. ‘Biasanya’ itu artinya Riku sudah banyak begini, kan? Sudah banyak membuat orang lain deg-degan seperti Yushi begini?
“Lo-nya, Yu, yang bikin gue begini.”
Jika bisa berteriak, Yushi akan. Namun syukur saja akal sehat Yushi masih sedikit tersisa.
“Serius gue,” kata Riku ketika melihat Yushi akan membantah pengakuannya.
“Emangnya gue kenapa? What’s new about me?” tantang Yushi.
Riku membenarkan duduknya, menyamankan posisinya, serong menatap Yushi, seakan bersiap untuk mengelaborasi sesuatu yang lama. “There’s something about falling for a best friend. I thought the comfort only came from knowing you for a long time, and that having you as a friend was just it. Nothing more, nothing less,” kata Riku. Tiap kata yang diucapkan seperti tangga tanpa ujung yang tengah Yushi panjat.
“But whenever I look at you,” Riku melanjutkan, “it’s like.. apa, ya, rasanya kayak.. sayang.”
Terjun bebas sudah seisi tubuh Yushi.
“It’s a lot more than comfort, dan gue suka. Even when you’re just.. here, as you said, gue suka. Banget.” Ditatapnya Yushi yang sudah memerah, malu. “And when I realized what it was, I was scared.”
Gue juga. Tetapi Yushi hanya diam, membiarkan Riku melanjutkan.
“I thought I’d lose myself if I gave up on pretending I didn’t feel what I felt. And telling you was never the answer in my book because you never said anything.”
Alisnya menukik, hatinya terasa sedikit dicubit—merasa tidak adil. Yushi meledak kecil. “Ya gue juga takut, Rik. I thought you were just being.. you? The casual, nothing more, nothing much. Gue juga deg-degan tiap kali lo senyum, tiap kali lo kasih gue perhatian, tiap kali you look at me like I mean so much.” Yushi menarik napas, “I didn’t know what or how to process it karena lo juga enggak kasih konteks.”
Yushi terengah, jantungnya kian berdegup keras dan pupilnya bergetar. Dirinya sendiri tidak menyangka akan mengatakan itu semua, dan kini tidak ada pilihan lain selain tenggelam sepenuhnya. “So I just concluded: friends. That’s it. But then.. you look at me like you love me so much that it’ll hurt you to hide it, even if your life depended on it.”
“Emang, Yu.”
Riku melihat tangan Yushi yang gemetar sebagai hutang, yang mana langsung dilunaskan dengan diraih dan digenggam. Dielus. Pelan, menenangkan.
“Gue sayang banget sama lo. You know I’m bad lying, jadi rasanya kayak dosa kalau gue sembunyiin.” ungkapnya kemudian. “Tapi gue kemarin juga masih terlalu takut buat gamblang, Yu.”
“I feel like crying,” dan Yushi juga tidak berbohong. Matanya sudah berair. Sebentar lagi, kalau Riku tidak mengalihkan pandangannya yang penuh sayang itu dari Yushi, Yushi akan menangis.
Riku tersenyum. “You cry all the time and you’re still pretty,” katanya.
Banjir sudah pipi Yushi dengan air matanya yang asin itu. Dirinya terisak. Tubuh seutuhnya menggigil seakan tidak tahan dengan apapun perasaan yang saat ini mekar dan memaksa untuk dirasakan.
“Imut,” tangan kanan Riku beralih membelai pucuk kepala Yushi, lalu turun untuk mengusap jejak air matanya yang masih basah. “Cantik. Maaf, ya. I didn’t think you’d cry.”
“Ya— ya pikir aja. Lo— tiba-tiba— ke— hiks sini, gangguin gue— terus— hiks bilang kalau hiks lo—“
“Ssst, iya iya, maaf, Cantik. Don’t force yourself. It’s just me, you don’t have to explain,” ujar Riku, kirinya masih menggenggam tangan Yushi.
Mengupayakan mengatur napas, Yushi memejamkan matanya sebentar dan menghirup napas dalam-dalam. Isakannya sudah mereda, tetapi degup jantung masih mengganggunya. Terutama ketika ia mendapati Riku yang menatapnya lamat, tersenyum dan memberi sekali anggukan. “Udah?”
Bibir bawah Yushi maju 5 senti, mengundang Riku untuk tertawa geli.
“Jangan ketawa..” kata Yushi lirih. Rasa malu melandanya dalam sekejap saat ucap-ucapannya kembali terputar di otak. “Gara-gara lo, ini.” tuduh Yushi.
“Kan gue udah minta maaf, Cantik.”
Yushi mengirim lirikan tajam, “Stop calling me ‘Cantik’.”
“Ya kalau gitu jangan cantik, lah.”
“Siapa juga yang cantik?”
“Lo, cantik.”
“Bohong.”
Riku diam untuk mengalah, lebih memilih untuk menyantik-cantikkan Yushi dalam pikirnya saja sambil mencerna rupa cantik Yushi di hadapannya.
“Minimal dipacarin dulu.” celetuk lirih Yushi ternyata terdengar oleh Riku, karena belum sempat Yushi membuang muka, bibirnya sudah diberi kecup kecil oleh yang lebih tua.
Kedua mata Yushi membola. Keduanya menatap Riku tidak percaya dan mencari di mana letak lucunya saat menemukan Riku tertawa gemas. “Pacar aku cantik,” katanya.
“Ah Riku mah!”
“Lah, apa?!” Riku balas dengan emosi yang sama, tapi pura-pura: frustrasi.
Belum sempat Yushi melanjutkan, air matanya sudah kembali mengalir deras. Lebih deras dari sebelumnya, membuat Riku kebingungan. Air mukanya menjadi serius, tangannya buru-buru menangkup wajah mungil Yushi. “Heh– kenapa, Sayang?” tanyanya. Ibu jari tak henti mengusap pipi.
Yushi menggeleng, isakannya masih betah tinggal di bibir. “M— ma– makasih, hiks Rik.”
Riku lagi-lagi dibuat tertawa oleh tingkah dan ucapan Yushi. Tawanya terdengar setulus sinar matahari, tapi tetap saja Yushi kesal. Padahalnya Riku tahu Yushi tidak suka ditertawakan.
“Udah ih hiks ketawanya! Gak lucu!” dan tawa geli Riku malah semakin kencang.
Perutnya dipukul dan Riku pun mengaduh dan berhenti. “Iya iya iya iya– Duh, Yu, sakit!”
That, pretty much, sums up the two of them. In love, maybe, because Yushi’s still not too sure of what love feels like. But he’s not worried, not even a little. Because hereafter, he trusts Riku to define it for him.
And Riku will. He always will.
