Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-22
Words:
4,088
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
28
Bookmarks:
2
Hits:
1,812

Apakah Ini Karma?

Summary:

Akao Rion menatap anaknya yang baru berusia 10 hari itu dengan getir. Ketidakmampuannya memberikan ASI membuatnya overthinking akan segala hal.

Uzuki Kei sebagai suami yang baik menjadi sosok yang menenangkan, agar istrinya senantiasa terhindar dari baby blues

Notes:

#uzurion (Hurt & Comfort, married life, OC!Himeko)

Cerita ini mengandung: rumor jelek, rokok, kata kasar, hint baby blues, kekerasan/perkelahian.

Work Text:

Tokyo, 2026

..

Pria dengan rambut putih itu mendekap bayi kecil yang masih merah berusia 10 hari itu. Anak pertamanya itu tertidur pulas setelah kenyang dan lelah menangis. Kei dengan perlahan menidurkan Himeko—sang bayi—di dalam baby cribnya berharap sang bayi tidak akan terbangun.

Tapi malam ini, belum selesai tugasnya. Setelah mengemban tugas sebagai ayah, mata biru pria itu melihat istrinya yang terlihat sedih.

“Kenapa, Sayang?” ujarnya sambil menaiki ranjang mereka, tangannya dengan telaten menyisir rambut Rion kebelakang. Detik berikutnya matanya terbelalak saat tubuh istrinya menubruk badannya, kepalanya di sandarkan di bahu suaminya.

Waktu menunjukkan waktu 1:34 dini hari, Kei terdiam ketika istrinya tidak merespon ucapannya, tetapi dengan penuh kekhawatiran dia mengusap punggungnya dengan pelan.

“Aku gagal menjadi ibu ya, Kei?” ujar Rion dengan suara serak, kalimat pertanyaan itu membuat pria yang mendekapnya itu menghela nafas.

“Tidak, Rion. Hanya karena adek minum susu formula bukan berarti kamu gagal menjadi ibu, kamu tetap ibu yang hebat,” suara Kei dengan lembut mencoba menenangkan Rion.

“Apa ini adalah karma untukku karena masa lalu?”

Pergerakan tangan Kei pada punggungnya sempat berhenti ketika pundak Rion bergetar. Lelaki itu menjauhkan Rion dari dekapannya guna melihat wajah istrinya, hatinya mencelos melihat mata yang biasa berkilat penuh ambisi dan kepercayaan diri itu redup.

“Sakit ya?” pertanyaan sederhana itu membuat air mata Rion semakin deras.

“Maafin aku, Kei. Maafin aku atas kesalahanku dulu," suara istrinya tercekat, kata-kata menjadi sulit keluar dari bibirnya, “Jangan balas aku dengan karma yang seperti ini.”

“Ngomong apa sih, Sayang? Jangan berkata seperti itu, dong. Ini bukan karma,” Kei mengusap punggung istrinya, “Lagipula kejadian itu sudah lama sekali. Tidak ada hubungannya dengan ini.”



Tokyo, 2016

..

Seorang lelaki bertubuh kurus itu berdiri mematung saat tiba-tiba di hadang oleh berandalan di gang belakang kampus, dia juga heran kenapa ada berandalan tidak jelas ini yang bisa masuk ke dalam lingkungan yang notabene masih lingkungan kampus, mungkin selanjutnya dia akan melaporkan hal ini via email.

“Kayanya dia bisu deh. Dari tadi dia tidak menjawab," ujar salah satu dari mereka.

“Masa dari kampus terkenal bisu.”

“Eh bukannya bagus kalau dia bisu, minimal dia tidak bisa berteriak kalau kita rampas,” Kei hanya menghela nafas, dia hanya diam saja tidak mau berurusan dengan orang-orang tidak ada kerjaan ini. Mungkin saatnya dia mengeluarkan kemampuannya untuk pergi tanpa suara yang biasa dia lakukan ketika kabur dari pengurus panti dahulu.

“Woy! Apaan rampas-rampas. Otak kalian sini gua rampas,” sebelum Kei pergi datang seorang wanita dengan celana hitam dan baju sleeveless putih, rambut birunya tergerai. Lelaki itu menyesal kenapa tidak sejak awal dia pergi. Dia melirik dibalik poninya, perempuan itu merupakan pentolan kampus. Tipikal orang-orang jago tapi tengil. Salah satu manusia yang Kei hindari juga sebenarnya.

‘Tamatlah diriku.' Kei menggerutu dalam hati.

“Anjing! Ada Akao. Pergi saja kita.” Mereka lalu pergi dengan langkah cepat meninggalkan kedua orang tersebut, sekarang hanya ada Rion—wanita yang datang tadi—dan juga Kei yang mati kutu.

“Kau tidak mau berterima kasih?” Rion melihat pria itu dengan tatapan biasa, tanpa wanita itu tahu pria tersebut menerjemahkan tatapan itu dengan tatapan dingin. Kei kemudian mengernyit ketika menghirup aroma rokok yang kuat ketika dia mendekat.

“Dilarang merokok di lingkungan kampus.” Kei berbicara pelan nyaris bergumam.

“Hah? Ngomong yang betul dong. Gak kedengeran nih.” Kei lalu berniat untuk pergi dari tempat itu karena malas berurusan dengan orang ini.

“Akao-san. Dilarang merokok di lingkungan kampus.” Pria itu memberanikan diri melihat wanita yang setidaknya lebih tinggi darinya beberapa senti itu.

“Apa sih? Siapa juga yang merokok?” Rion menanggapi dengan ketus.

“Anda bau rokok.”

“Buta? Kan aku tidak merokok sekarang. Aku juga tahu tidak boleh merokok di kampus.” Rion mendengus keras, “Orang gila, tidak tahu diri, udah ku tolong juga,” ucapan Rion banyak membuat Kei terluka.

“Waduh, lagi mojok sama siapa tuh?” Suara menyebalkan itu muncul, Rion melihat ke atas dan menemukan figur lelaki berambut hitam yang juga tersenyum dengan menyebalkan dari jendela.

“Ngapain sih lu masih diatas? Cepet turun gila, kita pergi” Rion berbicara cukup kencang agar bisa didengar oleh Nagumo—orang yang berada di jendela—. Rion melirik lelaki di hadapannya sekilas lalu pergi meninggalkan lelaki kurus berambut putih itu begitu saja.

“Woy, Akao. Anak orang nangis tuh.” Nagumo kembali berteriak dari atas sebelum akhirnya menghilang dari jendela. Kei mau tidak mau menahan amarahnya, rupanya dia lebih tersulut karena dua orang ini.



Pertemuan itu entah kenapa seperti menarik semesta agar membuat mereka sering bertemu, contohnya seperti kebetulan mereka datang di seminar yang sama walaupun alasan Rion datang adalah memenuhi dare dari Nagumo. Lalu seperti sekarang, insiden Kei tidak sengaja tersandung dan membuat minuman Kei tumpah ke tablet Rion yang sedang makan di salah satu meja, yang bahkan Kei saja tidak tahu ada Rion disitu, saat itu satu pujasera heboh dan 100% orang menjadi kasihan kepada Uzuki Kei karena berurusan dengan Rion.

Kei tertegun beberapa detik dan wajahnya terlihat panik, dia lalu bergumam maaf beberapa kali tidak berani melirik ekspresi Rion, dia sudah siap jika beberapa detik ke depan hantaman keras akan datang ke wajahnya. Wanita di meja itu tidak bersuara sama sekali, bahkan Kei rasa semua orang di pujasera itu tidak bersuara. Sepertinya Kei terlalu banyak membaca novel, kenapa kehidupannya malah menjadi seperti novel dimana ia menjadi karakter lemah tak berdaya.

“M-maaf. A-aku tidak sengaja.” Rion tidak menanggapi ucapan pria yang berdiri mematung di samping meja. Rion lalu mencoba mengetuk layar tabletnya dan tidak nampak reaksi.

“Ampas.” Rion lalu berdiri dan pergi, sebelum dia pergi dia mendengar Rion berbicara sesuatu. Lelaki berambut putih itu tidak fokus.

“.....kau uruslah itu.” Kepalanya mendongak melihat Rion pergi dari sana setelah berujar demikian.

‘Urus? Urus apa?’ Kei berujar dalam hati, lalu melihat ke meja tempat kejadian, disana di tinggalkannya tablet milik Rion. Kei tidak tahu apakah ini hal baik atau tidak, wanita itu tidak memukulnya, tidak memarahinya tapi dengan ditinggalkannya saksi bisu korban tumpahannya, lelaki itu yakin dia harus ganti rugi, dia juga yakin tamatlah riwayat tabungannya melihat gawai dari kalangan elit itu.

‘Sialan, kenapa hidupnya seperti novel remaja begini.’



“Kei, darimana kamu dapat ini?” Sosok kenalan Kei itu agak terkejut melihat Kei mengeluarkan sebuah tablet di hadapan wanita tersebut.

“Ini milik Akao. Aku tidak sengaja merusaknya.”

“Hah? Akao? Akao Rion?” Wanita berambut pendek itu menelan ludah, “Dan apa tadi? Merusaknya?”

Suasana menjadi hening, “Kei, menurutku kau harus berdoa deh. Akhir-akhir ini kamu kena sial terus.”

“B-berapa kira-kira biaya reparasinya?”

“Ini harus di cek dulu sih rusak apanya.” Kumanomi—kenalan Kei—melihat wajah Kei kasihan. “Menurutku kamu coba nego deh sama si Akao itu. Masa sih dia tega banget, kamu kan tidak sengaja. Aku tau dia keras tapi aku dengar dia tidak setega itu sama orang lain.”

“Tapi dia meninggalkan ini depan mataku, lalu pergi.”

“Dia sendiri yang bilang kamu harus ganti rugi?”

“T-tidak sih, hanya tersirat. Tapi kan aku harus bertanggungjawab.”



Dua minggu berlalu

Kei masih meratapi kehidupannya. Tidak, lebih tepatnya meratapi isi rekeningnya, benar nominal reparasinya mahal sekali untuk seukuran seorang Uzuki Kei. Dia berkhayal pasti enak kalau dia menjadi orang kaya. Hari ini lelaki itu memutuskan untuk mencari pemilik tablet ini, dia menunggu dimana tempat Rion sering nongkrong sendiri sambil merokok, dia tahu karena dia mahasiswi yang menonjol. Bohong, Kei dapat informasi dari teman-temannya dan karena mereka tahu masalah Kei dan Rion mereka dengan raut kasihan memberikan semua informasi yang mereka tau tentang Rion.

“Akao.” Rion lalu menoleh ketika mendengar seseorang memanggil namanya. Rion mengernyit ‘Oh? Pria aneh si polisi rokok.’ Rion lalu berdiri dan menghisap rokoknya sekali lalu membuangnya.

“Ada apa? Mau komentar lagi masalah rokok? Ini bukan lingkungan kampus.” Rion memasukkan tangannya ke saku celana. Kei lagi-lagi merasa tersudut.

“Aku mau mengembalikan ini. Aku sudah—“

“Itu tabletku? Bagaimana bisa ada di tanganmu?” Rion menatap Kei dengan curiga.

“Huh?” Tangan Kei mematung ketika mengulurkan gawai tersebut. Dia semakin sakit hati ketika Rion mengambil tablet tersebut agak kasar dari tangannya. Kei lalu tidak percaya dengan omongan orang-orang yang bilang Rion hanya kasar dari luarnya tetapi sebenarnya dia baik. Ya, mungkin dia baik kepada orang-orang yang setara dengannya tapi melihat perbedaan status sosial yang cukup signifikan di antara mereka membuat Kei sadar bahwa dunia kejam bagi orang-orang kecil. Lagi dan lagi, asumsi hanya sekedar asumsi.

“Aku kehilangan ini selama berhari-hari dan malah berada di tangan orang yang tidak terduga. Sekarang mau mengaku gimana? Kau ambil ini darimana?” Akao terus mencecar lelaki tersebut. Tanpa sadar kalimat tersebut melukai lagi perasaan sosok di depannya. Secara tidak langsung wanita di depannya itu menuduhnya mencuri.

Suasana hening beberapa detik.

“Mungkin kau lupa meninggalkan itu di meja pujasera saat aku menumpahkan minumanku ke tabletmu. Aku memperbaikinya untuk bertanggung jawab. Terserah kalau kau mau menuduhku pencuri atau sejenisnya.” Suara Kei mulai terdengar seperti menahan emosi. “Sekali lagi aku mohon maaf.”

Kei membungkukkan badannya dalam, raut wajahnya tersembunyi oleh poninya, Rion tercekat mendengar reaksi pria di hadapannya, wanita itu pun sadar dia sudah keterlaluan.

“Oh iya. Walaupun hidupku jauh sederhana dibanding kamu. Tapi aku tidak akan pernah sudi melakukan perbuatan hina seperti mencuri," Kei berjalan meninggalkan tempat tersebut, menahan rasa kesal dan terluka. Di sisi lain Rion menatap punggung yang berjalan menjauh itu dengan rasa bersalah.

“Hei! Aku tidak bermaksud demikian. Woy, minimal kasih tahu aku namamu.” Teriakan Rion tidak dihiraukan oleh lelaki itu, Rion termenung, perlahan dia mengingat walaupun samar-samar.

Pertama sepertinya dia pernah mengatakan sesuatu tapi dia lupa, kedua dia tidak berekspektasi kalau orang yang menumpahkan itu adalah orang ini, ketiga, kesalahannya sendiri yang meninggalkan tablet itu disana karena siang itu pikirannya sedang tidak karuan. Sumpah demi apapun Rion tidak berniat untuk memaksa lelaki itu untuk ganti rugi atau sejenisnya, wanita itu lalu mengusap rambutnya kebelakang.

‘Nambah lagi deh, musuhku.’—Rion Akao



Ujian semester sudah berakhir berarti liburan akhir semester datang. Tidak bagi Rion, dia harus rela meninggalkan kasurnya demi aktivitas sosial ini. Bukan karena dia rajin, tapi karena dia remedial salah satu mata kuliah. Lebih kesal lagi penyebab dia remedial adalah karena semua tugas yang dia submit selama satu semester salah alamat email. Demi mencapai nilai minimal rata-rata mau tak mau dia lebih memilih mengikuti kegiatan amal ini selama 1 minggu, daripada harus mengulang 1 semester.

Sebenarnya Rion tidak masalah dengan acara seperti ini, karena Rion pun tipe orang yang mudah bersosialisasi dan beradaptasi. Tapi, kalau ada kesempatan tidur ya mending tidur. Sekarang dia berada di barisan kelompok sosial itu, Rion agak gelisah karena seharian ini belum merokok, bagaimana mau merokok kegiatan mereka berada di salah satu panti asuhan di pusat kota. Tentu tidak etis, pikirnya.

Rion mulai penasaran dengan jalannya acara amal ini, sederhana saja sebenarnya hanya membantu panti asuhan itu dengan skala kecil dengan harapan dapat membantu jalannya kehidupan bagi pengurus dan anak-anak kurang beruntung disana. Setelah briefing sejenak di mobil, Rion mengikuti tim mulai memasuki area panti asuhan, kesan yang didapat adalah sangat terawat. Beberapa kali Rion mengalihkan pandangan ketika melihat anak-anak kecil yang sedang bermain di taman, dia mengingat keponakannya di rumah. Matanya memindai sekitar saat sang ketua organisasi berbicara dengan pengurus panti, mata Rion gagal fokus dengan seseorang di belakang ibu-ibu paruh baya, yang juga pengurus panti.

'Loh? Ngapain si pria aneh itu disini? Remedial juga dia? Tapi bukannya dia salah satu mahasiswa beasiswa yang harus sempurna terus nilainya ya.’ Rion tidak sadar kalau dia memperhatikan pria itu lama. Kei yang merasa diperhatikan melirik hendak mencari tahu siapa yang menatapnya, sejenak dirinya kaget dan langsung mengalihkan pandangan.

‘Oh iya, aku kan sempat menuduhnya pencuri, pantas saja dia benci padaku’ Rion menghela nafas. Ini bisa menjadi kesempatannya meminta maaf padanya.

Kegiatan itu berlangsung lancar, tersisa beberapa hari terakhir yang harus Rion jalani. Tetapi, ada hal yang masih membuatnya belum puas, dia belum minta maaf ke lelaki kurus dengan wajah ngenes itu. Rion menemukan lelaki yang bahkan sampai sekarang belum ia tahu namanya itu sedang duduk di bawah pohon sambil membaca buku.

“Hei..” Kei menengok ke atas. Matanya menangkap figur wanita yang dia kenal, hal itu sedikit banyak membuatnya merasa canggung, “Ada yang bisa di bantu?” Saat ini Kei adalah penghuni panti tersebut, sedangkan orang di depannya adalah sosok yang memberikan bantuan ke panti mereka.

“Namamu siapa?” Tangan Kei berkeringat, tamatlah sudah riwayatnya. Akao Rion menanyakan namanya.

“Uzuki, Uzuki Kei.”

“Boleh aku duduk disampingmu?” Kei melihat Rion lagi, wanita itu tampak berbeda dengan setelan sopan formalnya. Walaupun masih ada kesan bahwa dia adalah ‘pemilik suatu daerah’

“Silakan.” Hening tercipta, hanya gemerisik daun di atas mereka yang terdengar.

“Kamu disini ngapain? Single project? Atau remedial juga? Bukannya kau salah satu murid beasiswa ya?” Kei melirik dengan ujung matanya, Kei menyadari bahwa Rion belum mengetahui bahwa dia adalah penghuni panti.

“Tidak, tidak, dan ya.”

Rion melihat ke arah depan dengan lurus. Sudah dia duga reaksi pria di sampingnya sesuai ekspektasi dia. Rion tidak menyalahkan.

“Sejujurnya aku mau minta maaf. Aku sudah menuduhmu mencuri.” Suasana hening, terlihat Kei tidak menanggapi hal tersebut dan tetap membaca bukunya, wajah Rion memanas.

“Ngomong dong!” ujar Rion keras membuat Kei terperanjat, “Kamu mau aku merespon apa?”

“Ya maafin tidak?”

“Tidak.” Rion tertegun dengan balasan pria itu. “Orang mana yang dituduh mencuri lalu memaafkan dengan begitu mudahnya," ujar Kei dengan datar, membuat Rion merasa ada pisau imajiner menembus dadanya.

Rion hanya tertawa canggung, “Kau benar.” Wanita itu menghela nafas. “Entah kamu ingin tahu atau tidak, tapi aku tidak bermaksud untuk menyuruhmu memperbaiki tablet itu. Sebenarnya memang itu sudah agak rusak karena beberapa kali terjatuh.” Rion bukan orang yang terlalu peduli bagaimana dia di cap orang, tapi entah kenapa dia sangat berhati-hati berbicara dengan orang ini.

“Biaya reparasinya akan ku ganti. Berapa?” Rion siap dengan gawainya, “Tulis nomormu di sini lalu beri aku nomor rekeningnya.” Sebenarnya Rion sudah beberapa kali mencari Uzuki di kampus tapi setelah kejadian itu semesta seperti menyembunyikan Uzuki darinya. Kei lalu menghela nafas. Tuhan permohonan dia sekarang cuma satu, bisa tidak selamatkan dia dari orang ini.

“Tidak usah, Akao.”

“Kakakkkk.” Rion yang hendak berbicara lagi terdiam mendengar suara beberapa anak kecil mendekati mereka, tiga anak kecil itu berbondong-bondong mendekati Kei.

“Kenapa nih?” Kei menutup bukunya tersenyum kecil kepada anak-anak itu. Rion terdiam melihat mereka. “Kak, cara mengeja brokoli itu bagaimana sih? Dia bilang seperti ini tapi kok aku merasa aneh.” Kei menatap buku yang diserahkan padanya. Disana tertulis berbagai macam kata acak dan Kei menemukan satu kata yang sepertinya beberapa kali dihapus. ‘Berokoli’, begitulah yang tertulis. Kei lalu tersenyum dan membenarkannya. “Brokoli ya, tidak pakai huruf e.”

“Tuh kan benar tidak pakai e.” Ketiga anak itu lalu mulai berdebat kecil. “Terima kasih kak, Kei.” Anak perempuan itu memeluk bukunya. “Oh iya, nanti malam katanya kita bisa makan brokoli lagi.”

“Tadi aku lihat juga ada daging di dapur.”

“Wah serius? Bosan banget aku sama wortel.” Ketiga anak kecil itu malah berbicara tentang makanan sekarang. Mereka terlihat sumringah.

“Kak Kei masak ya malam ini, kalau tidak aku tidak mau makan.” Tangan Kei mengusap kepala anak perempuan itu.

“Iya iya, sudah sana main lagi. Sebelum disuruh tidur siang lho sama, Ibu.” Sebelum mereka berlari menjauh ketiga anak itu melihat eksistensi Rion disana, mereka langsung tahu bahwa kakak ini adalah salah satu orang dari kegiatan bakti sosial yang beberapa hari ini datang. Mereka lalu bergantian menunduk pada Rion. Sebelum akhirnya pergi dengan riang.

“Anak-anak itu..”

“Aku dulu tinggal di sini, karena sudah dewasa aku memutuskan untuk pergi mandiri dan kuliah.” Sebenarnya Kei berasal dari panti asuhan itu bukan rahasia besar yang harus disembunyikan.

“Mengenai pertanyaanmu, aku bukan sedang menyelesaikan tugas remedial atau sejenisnya. Karena lagi liburan jadi aku memilih kembali kesini. Ngomong-ngomong ini kamu mangkir dari kegiatan ya?”

“Aku tidak mangkir.” Rion tersulut, dan Kei hanya menutup telinganya mendengar pekikan Rion.



Setelah pertemuannya di panti kehidupan Rion menjadi membingungkan. Otaknya selalu memikirkan sosok ngenes itu. Hal tersebut tentu menjadi sasaran empuk bagi Nagumo untuk meledek Rion.

Nagumo tersenyum licik, “Hei, Akao. Bagaimana menurutmu Uzuki? Dari jurusan apa sih dia? Linguistik ya?”

“Lu ngeledek gua kan?”

“Loh, aku hanya bertanya.” Nagumo tergelak melihat Rion membalas ucapannya dengan menenggak segelas alkohol di depannya.

“Lu beneran demen sama orang itu, Akao?” Sakamoto bertanya dengan datar tapi membuat Rion kesal setengah mati.

“Apaan sih? Mana mungkin.” Rion mengambil satu batang nikotin lagi yang tergeletak di meja, “Korek.” Rion menjulurkan tangan meminta korek dari Sakamoto. Detik berikutnya kepulan asap mengepul dari bibir wanita berambut biru itu.

“Soalnya kamu uring-uringan terus tuh.” Nagumo menatap Rion dengan pandangan seratus persen meledek, “Makanya jangan galak-galak sama cowok. Kayanya yang suka kamu semuanya cewek deh, Akao.”

“Tolol.” Rion mencibir. “Gua kagak demen sama dia ya, jaga congor lu itu.”

“Oh? Karena dia anak panti ya? Bukan levelmu ya?” Nagumo dengan mulut setannya itu selalu saja membuat Rion tersulut.

“Bukan gitu ya, anjing. Emang gua keliatan sejahat itu apa?”

“Memang iya, tanya aja sama si Uzuki itu. Dia pasti setuju.” Nagumo kembali tertawa. Wanita itu melamun sebentar tapi dia menjadi ke pikiran apakah dia memang sejahat itu.

“Sifat gua kan memang seperti ini. Gak peduli gua.”

“Kurang-kurangin deh, berfikir kaya gitu. Gara-gara kamu tuh yang semangat banget minta nomor rekening ke Uzuki. Dia malah jadi cibiran orang." Rion mengernyitkan dahi kemudian kepala Nagumo mendekat ke arah tengah meja seperti akan memberi info rahasia.

“Kata mereka Uzuki jadi sugar baby Akao Rion. Dengan kata lain jual diri.”

“Orang pada gila semua apa ya?” Ujar Rion sambil menenggak satu gelas alkohol, dan Nagumo hanya mengangkat kedua bahunya.

"Makanya kalau mau interaksi tuh baik-baik ngomongnya, gak usah teriak-teriak. Orang kan jadi salah paham." Nagumo lalu menopang dagunya dengan tangan, dan menatap Rion jenaka.



Awalnya Rion tidak percaya dengan omongan sampah Nagumo, tetapi suatu hari dia mulai mendengar hal itu dengan telinganya sendiri, wanita itu membuang puntung rokoknya dengan emosi yang membara.

Beberapa minggu ini perasaannya sangat buruk sudah berapa orang yang dia labrak dan hajar karena berbicara macam-macam tentangnya, tanpa dia sadari hal tersebut memperburuk rumor tentang Kei.

Wanita itu membuka jaket hitamnya dan menyampirkannya di bahu, dia berniat untuk menyulut satu lagi batang nikotin. Wanita itu berdecak menyadari bahwa tadi merupakan batang terakhir, dengan langkah kerasnya dia berjalan menuju minimarket. Rion melirik bangunan asrama pria yang kebetulan harus ia lewati ketika akan pergi ke minimarket.

“Tolol banget, kenapa mukanya terus muncul di otak gua sih.” Ujarnya menggerutu, sebelum Rion berbelok dia berhenti melangkah. Takdir memang suka bercanda, Rion melihat wajah ngenes itu di tempat yang tidak terduga, yaitu di belakang asrama pria tempat Kei bernaung.

“Apa?” Ujarnya ketus sambil berkacak pinggang. Sesungguhnya tangannya dingin karena mendadak gugup.

“Berhenti melakukan itu, Akao.” suara Kei dingin.

Mata Rion menatap sinis, “Melakukan apa? Merokok? Kan ini di luar—“

“Berhenti mencampuri urusanku!” potong Kei. “Kamu pikir dengan menghajar orang, masalahku selesai? Kamu justru membuatku terlihat seperti orang kecil yang butuh perlindunganmu. Kamu hanya ingin memuaskan ego pahlawanmu, kan?”

Rasa gugup itu hilang, digantikan dengan rasa muak.

“Ego pahlawan? Aku membelamu karena mereka bicara sampah tentangmu, Uzuki! Kamu itu terlalu lembek sampai-sampai orang menginjakmu seenaknya!”

“Aku lebih baik diinjak daripada dikasihani oleh orang sepertimu!” Kei maju selangkah, suaranya bergetar. “Kamu tidak tahu rasanya menjadi aku. Kamu punya segalanya—uang, kekuatan, teman-teman yang berpengaruh. Bagimu, memukul orang adalah solusi. Bagiku, itu bisa saja menghancurkan hidupku jika namaku terseret dalam perkelahianmu!”

Rion terdiam. Kata-kata ‘dikasihani’ itu menusuknya lebih dalam dari yang dia duga.

“Aku tidak butuh uang reparasimu, dan aku tidak butuh perlindunganmu,” lanjut Kei dengan nada yang lebih rendah tapi lebih menyakitkan. “Tolong, anggap saja aku tidak pernah ada. Kita hidup di dunia yang berbeda, Akao. Jangan tarik aku ke duniamu yang berisik dan penuh kekerasan itu.”

Kei berbalik, sebelum dia melangkah pergi bahunya terasa ditarik kuat, kejadiannya begitu cepat. Pukulan pertama mendarat di pipi kiri Kei, membuat kepalanya terhentak ke samping.

Rion tidak berhenti. Amarahnya yang meluap karena merasa niat baiknya diinjak-injak, membuat tangannya bergerak tanpa kendali. Dia menarik kerah baju Kei, memaksanya untuk berdiri tegak hanya untuk melayangkan pukulan berikutnya.

“Kenapa kamu selalu sok suci, hah?!” teriak Rion, suaranya parau karena emosi yang campur aduk. “Aku mencoba memperbaiki semuanya! Aku merendahkan diriku untuk minta maaf, aku membelamu, tapi kamu malah memperlakukan aku seolah aku ini penghancur hidupmu!? HAH!?"

Satu hantaman lagi mengenai rahang Kei. Kei dapat merasakan kepalanya berdenging, tidak diragukan lagi kekuatan Akao Rion ini mampu membuat matanya memburam. Pria berambut putih itu tidak melawan. Dia tidak mengangkat tangan untuk menangkis, apalagi membalas. Tubuhnya terasa sangat ringan di bawah cengkeraman Rion. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan cairan merah yang kontras dengan kulit pucatnya.

Kei hanya memejamkan mata. Di balik kelopak matanya yang berdenyut sakit, dia teringat pada sosok ibu pengasuh di panti asuhan yang selalu mengajarinya bahwa tangan laki-laki diciptakan untuk melindungi, bukan untuk menyakiti wanita siapa pun itu. Dia lebih memilih hancur daripada melanggar prinsip yang satu itu.

“Pukul saja, Akao,” gumam Kei lirih, suaranya hampir hilang tertelan amarah Rion. “Kalau itu bisa membuatmu merasa lebih puas... pukul saja sampai kamu lega.”

Kata-kata itu seperti siraman air es bagi Rion. Tangannya yang sudah mengepal di udara mendadak kaku. Dia melihat wajah Kei, wajah itu bukan wajah seorang musuh yang menantang, melainkan wajah seorang pria yang benar-benar sudah menyerah pada keadaan. Mata biru itu menatapnya dengan kekosongan yang menyakitkan.

Rion perlahan melepaskan cengkeramannya. Napasnya memburu. Dia melihat tangannya yang kemerahan, lalu melihat darah yang menetes dari bibir Kei di atas tanah. Dia baru saja melakukan hal yang paling dia benci. Dia baru saja menjadi penindas yang sesungguhnya.

“Kenapa...” suara Rion bergetar, “kenapa kamu tidak membalas? Kamu punya kesempatan untuk memukulku!”

Kei menatap Rion dengan mata memarnya, lalu tersenyum tipis, sebuah senyum yang terlihat sangat menyedihkan, “Karena bagiku, kamu tetap wanita, Akao. Aku tidak akan pernah memukul seorang wanita, bahkan jika dia ingin membunuhku sekalipun.”

Kei berdiri dengan bersandar pada tembok.

“Kumohon berhenti. Anggap saja aku tidak ada. Rumor itu akan hilang kalau kau tidak berbuat apa-apa. Jadi kumohon, jangan sia-siakan waktumu untuk itu.” Kei berujar lirih dengan pandangan memohon, melihat Rion hanya mematung Kei memilih untuk segera pergi dari sana dengan langkah tertatih.



“Rion, Sayang..” Kei berucap dengan penuh kelembutan, berhasil menghentikan lamunan istrinya. 

Suara lembut suaminya mampu menarik Rion dari kilas balik yang terus berputar dikepalanya akhir-akhir ini.

Kei merasakan pundak istrinya bergetar, Rion menangis tanpa suara, tangannya meremat kaus suaminya dengan sisa tenaga yang dia punya. Bayangan masa lalu itu, sensasi rasa sakit di kepalan tangannya saat menghantam rahang Kei, dan tatapan kosong Kei, seolah terputar kembali dengan kualitas yang sangat jernih di kepalanya.

“Aku jahat banget ya, Kei? Dulu aku mukulin kamu sampai kamu sakit... dan sekarang, saat aku jadi ibu, aku bahkan nggak bisa kasih ASI yang cukup buat Himeko,” bisik Rion di sela tangis tertahannya. “Ini karma, kan? Karena aku pernah nyakitin orang sebaik kamu, sekarang Tuhan kasih aku rasa nggak berdaya ini.”

Kei menghela napas panjang, bukan napas lelah karena bosan, melainkan napas yang membawa ketenangan. Kei melakukan hal favoritnya, yaitu menyisir rambut Rion kebelakang, memperlihatkan wajah istrinya yang sekarang mulai sembab, Kei mengusap dahi berkeringat istrinya. Mata biru Kei yang dulu redup karena pukulannya, kini menatap Rion dengan kehangatan yang tak terbatas.

“Rion,” ujar Kei lembut. Tangannya turun mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya dengan ibu jari. “Kejadian itu sudah lama mati. Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kamu sempat minta maaf secara resmi waktu itu.”

Kei tersenyum kecil, senyum yang selalu berhasil meruntuhkan pertahanan Rion. Salah satu tangan Kei mengenggam dan mencium punggung tangan kanan istrinya yang terdapat cincin pernikahan mereka. 

“Kalau itu memang karma, aku tidak akan ada di sini sekarang. Aku tidak akan menikahimu, dan kita tidak akan punya Himeko. Susu formula bukan hukuman, sayang. Itu cuma jalan lain untuk memastikan anak kita tumbuh sehat. Kamu pikir Himeko akan peduli dia minum apa kalau dia tahu ibunya sehebat ini dalam menjaganya?”

Rion menunduk, mencoba mengatur napasnya yang masih tersengal. “Tapi aku merasa gagal... Aku mau jadi ibu yang sempurna buat dia. Aku nggak mau dia ngerasain sakit kayak yang aku kasih ke kamu dulu.”

Kei hanya tersenyum kecil, jemarinya mengusap punggung tangan istrinya yang sedang dia genggam, tangan lainnya tetap memainkan rambut biru istrinya.

“Kamu sudah jadi ibu yang sempurna sejak kamu memutuskan untuk mempertaruhkan nyawamu melahirkannya. Berhenti menghukum dirimu sendiri atas masa lalu yang sudah kita kubur bersama.” Kei menggoyang-goyangkan tangan mereka yang tergenggam.

“Sekarang, tidur ya? Kamu butuh istirahat. Besok pagi, kita urus Himeko sama-sama. Pakai susu formula, pakai ASI, yang penting dia punya kita berdua.”

Kei melihat Rion mengusap wajahnya diikuti dengan menghela nafas kasar, kebiasaannya untuk membuang rasa frustrasi.

"Peluk?" Kei berujar sambil merentangkan tangannya, dan di balas oleh anggukan istrinya, detik berikutnya Rion menubruk tubuh kurus itu. 

Di dalam pelukannya, Kei mengecup puncak kepalanya lama. Aroma rambut Rion yang dulu berbau rokok, kini berbau sampo favoritnya. Sebuah perubahan yang selalu membuat Kei bersyukur.

Di keheningan dini hari itu, Rion perlahan mulai merasa tenang. Pelukan Kei adalah tempat teraman di dunia, sebuah pelabuhan bagi wanita yang dulu begitu liar dan tak terkendali, yang kini telah luluh oleh kasih sayang pria yang pernah ia sakiti.