Work Text:
Mekarlah engkau di taman derita
Yang kau susun sendiri!
Hibur aku dengan duka yang kau miliki
Layu, mati, dan tumbuhlah berkali-kali
Di kerontang dunia kejam ini.
Mari menari! Di dunia penuh luka ini, kau terlihat rupawan bagai bidadari. Jiwamu lebam biru tapi lihat, wajah letihmu makin cantik setiap hari! Buatku jatuh cinta lagi dan lagi, pada derita yang kau pikul setengah mati.
Tahukah engkau bahwa duka menambah rona pada jiwamu yang lesu? Sembap matamu indah diwarnai pilu. Pucat bibirmu manis menyanyikan sedu. Bahkan babak belur mindamu yang kuyu tiada pernah gagal membuatku terpaku. Kasih, engkau menawan dimandi sendu.
Kaulah wujud kesengsaraan paling cantik! Berkali-kali pecah tapi tak sudi mengenal serik. Terus dan terus harapan yang padam kembali kau pantik. Sungguh pelik. Namun itulah alasan hatiku terculik. Engkau keras kepala, bodoh lagi cantik.
Ingatanmu kau hapus demi melupakan kegagalan, demi mencari cara mengubah takdir dunia. Namun, sayangku, jiwamu takkan bisa lupa neraka yang pernah dilewatinya. Pikirmu bisa lari dari kusut masai masalah yang tiada habisnya? Dirimu masih seindah tangismu kemarin lusa!
Jatuhlah lagi dan pecah jadi rusak! Biar serpihan dirimu kuarak di depan dunia yang retak. Agar takdir gila ini puas tergelak. Menangislah parah dan terisak, hancurlah engkau dengan telak. Supaya dapat kunyalakan selling harapan buatmu. Untuk kau lanjutkan kisah naasmu. Akan kupandu kau menuju derita yang takkan bisa disembuhkan waktu.
Jadilah engkau selamanya indah; dipenuhi luka, sengsara serta darah. Dikaulah wadah bagi derita dan gelisah. Kau harus selamanya kalah, direndam putus asa dan amarah tapi cuma bisa tersedu dipeluk resah. Membayangkannya saja kebahagiaanku tumpah ruah. Rover, cintaku, engkaulah kesedihan paling indah!
Dongeng bercerita pasal bahagia selama-lamanya
Lantas kan kukisahkan pada dunia
Tentang derita dan sengsara milikmu
Yang takkan pernah menemui akhirnya
Sebab kau harus selalu indah
Di mataku
Jadilah indah untukku []
