Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-24
Updated:
2026-09-03
Words:
3,748
Chapters:
3/7
Kudos:
2
Hits:
121

Unlived Love

Summary:

Lewat percakapan di cafe siang hari itu, keduanya menutup halaman terakhir dari kisah mereka. Berkata cukup pada setiap kurang dari kasih sayang. Menjadikannya bagian terbaik dari cerita yang tertulis selama 3 tahun.

Dan yang terbaik untukmu, juga terbaik untukku.

Chapter 1: Silent Tears

Chapter Text

Original Story by Lotushym
All characters belongs to Masashi Kishimoto

DLDR!
Don't repost, translate, or copy my work to any other platform without my explicit permission ☠️

Beberapa kesamaan dalam cerita hanya kebetulan belaka

A piece inspired by My Chemical Romance's-I Don't Love You

Enjoy💔

Part 1

Silent Tears

**

Hinata mengakhiri hubungan mereka hanya dengan sebaris kalimat rapi yang pasti telah ia rangkai jauh-jauh hari. Tepat diakhir kencan terakhir mereka sebelum memulai hari esok sebagai single. Ketenangan yang biasa tercipta saat mereka bersama sambil menautkan telapak tangan, perlahan hilang saat hinata melepas tautan tersebut, kemudian mengucapkan kalimat yang sasuke fikir mustahil untuk dia ucapkan.

"Sasuke, ayo kita putus..............." Telinganya berdenging setelah kata putus yang hinata lontarkan, sehingga kalimat setelahnya tak bisa ia dengar. Hanya ekspresi hinata yang tenang dengan senyuman yang sasuke lihat sangat tulus menjadi penutup sebelum akhirnya dia bentangkan jarak yang cukup jauh untuk mereka.

Hinata mengucapkannya dengan tutur kata yang lembut. Seharusnya tidak ada masalah dengan itu, tapi entah kenapa, hatinya serasa diiris begitu tajam dan pelan. Pria itu mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum memejamkanya sejenak, lalu bergumam dalam hati, ini mimpi bukan? Tapi karena rasa sakitnya sangat nyata, dia kembali membuka mata, tapi malah mendapati pandangannya memburam menatap kepergian hinata.

Gadis itu pergi tanpa mau menunggu barang sejenak saja, sejenak saja, untuknya mendengar sasuke berbicara.

Ada bagian yang kosong setelah kepergian hinata yang tak mampu ia cegah. Seakan selepas kalimat itu terucap, hinata memberi kendali pada tubuhnya untuk berhenti menyangkal, termasuk menahannya pergi.

Sasuke benci mengakui ini, bahwa dia mendapati langkah hinata begitu mantap saat meninggalkannya. Terasa ringan. Tidak sepertinya dirinya, yang sulit menerima kenyataan.

Pria itu berusaha mencoba menenangkan diri, namun malah mendapati tarikan nafasnya menjadi berantakan, disertai denyut jantung yang menggila. Terdengar sangat keras sampai rasanya sebentar lagi akan meledak. Dia fikir hanya jatuh cinta yang membuatnya demikian, ternyata tidak, patah hati juga membuatnya serupa.

Hinata berhasil membuatnya tampak menyedihkan, dia lebih terlihat dicampakkan meski belum mengutarakan maksudnya untuk melamar gadis itu. Seharusnya, seharusnya, seharusnya malam ini ia meminang hinata, namun cincinnya justru tertahan disaku celana, lengkap didalam kotak beludru dan keinginannya berakhir menjadi sebuah pengandaian.

"hah...hah...hah" fikirannya ikut kalut, matanya memandang sekitar dengan panik, dia bahkan tak punya kuasa atas tubuhnya sendiri, sehingga perlahan tubuhnya membungkuk sampai akhirnya jatuh bersama air mata yang tak mampu ditahan.

Rasanya sakit sekali, sampai tak sasuke temukan pita suaranya berfungsi, tak ada raungan atau sedikitpun suara yg keluar mengiringi laju airmatanya yang kian deras. Pria itu seperti tercekik oleh kesedihan, urat dilehernya bahkan menonjol, menjelaskan batapa keras usahanya mengendalikan sakit yang terasa menggulung tubuhnya. Cuaca malam ini tak sedingin biasanya, sebab masih dalam musim peralihan ke winter, namun wajah sasuke memerah dengan jejak air mata yang kentara.

Hinata sukses membuatnya menangis hebat tanpa suara untuk pertama kalinya, gadis itu juga berhasil membuat sasuke memukul dadanya dengan keras hanya untuk mempertahankan tubuhnya agar tetap bernafas, meski putus-putus, juga terdengar ringikan kecil darinya.

Hinata tidak tahu, bahwa dia adalah oksigen untuk sasuke, maka perlukah sebuah penjelasan seberapa penting ia dalam hidup sasuke?

Sungguh menyedihkan, pria matang itu terlihat seperti anak kecil yang dibuang oleh ibunya ditaman, ditinggalkan seorang diri dengan wajah jelek karena menangis. Ditinggalkan itu...bukankah arti lain dari tidak diinginkan? Sasuke gigit bagian bawah bibirnya dengan keras hingga samar-samar lidahnya mengecap rasa asin dengan sedikit aroma besi. Tidak diinginkan ya? Dia benci susunan kata itu, sebab tak ada yang bisa ia tafsirkan selain kalimat "Dia tidak berharga untuk diinginkan, sehingga opsi paling baik untuk menjaga kestabilan hubungan adalah meninggalkannya".

Laki-laki itu akhirnya hanya terlentang ditanah cukup lama, tak peduli mantel mahalnya akan kotor, atau rambut yang telah ia tata sedemikian rupa menjadi berantakan. Tangisannya sudah tak sehebat tadi, tapi air matanya masih mengalir lembut dengan sesekali sesegukan, tatapan matanya kosong, namun jauh didalam sana, ia sedang memutar kenangan indahnya bersama hinata. Tawa dan senyum hinata semakin menggerogoti dirinya dengan kesedihan. Apakah hinata melupakan moment bahagia itu? moment dimana dia tertawa dan tersenyum, tampak indah dan mengagumkan dimata sasuke. Hinata selalu hebat dimatanya, dan dia, akan selalu jatuh cinta berkali-kali kepada gadisnya itu.

 

.

Flashback

"Sasuke" hinata memanggilku dengan lembut, selembut angin menerpa rambutnya dan selembut cahaya matahari menyinari bagian dari dirinya dengan tepat. Dia berhenti sejenak mengagumi keindahan laut sore itu hanya untuk menoleh dan memanggil namaku. Lucu sekali rasanya karena gadis itu tak perlu jawabanku lewat sebuah kata, dia seakan faham bahwa saat aku menarik atensiku sepenuhnya padanya merupakan caraku menjawab panggilannya barusan.

Ada senyum dimatanya saat ia mengucapkan kalimat yang membuatku perlu menegaskan jawabannya dalam balutan kalimat romantis "Aku suka saat kau tersenyum, itu senyuman paling indah yang pernah kulihat", kuarahkan kedua tanganku menyentuh wajahnya, menelusuri kelopak matanya yang spontan menutup dengan usapan lembut, selembut ia menyuarakan namaku tadi, kemudian berucap "dan itu hanya ada saat aku bersamamu"

Saat kelopak matanya terbuka, kulanjutkan kalimatku yang tertahan 'Aku menyukai saat dimana aku tenggelam dalam binar matamu', setelah jawabanku barusan, gadis nakal itu menanggapinya sebagai lelucon, tawanya bagai melodi paling merdu, dan aku tak bisa menahan diri untuk mendekapnya, kemudian ikut tertawa.

End Flashback

 

Sekelebat moment itu membuat sasuke tersenyum miris dengan hati yang berdenyut sakit. Dia, ingin momen itu kembali dan hidup dikenangan dengan hinata didalamnya. Hari ini dia membenci banyak hal. Dia benci betapa kesedihan meluluh-lantahkan semua kebahagiannya tentang hinata. Dia benci melihat bagaimana sorot mata gadisnya berkata tidak menginginkan kehadirannya lagi, sehingga hatinya tertahan untuk mencegahnya pergi.

Dia tidak tahu bahwa ini hari yang dipilih hinata. Mereka baik-baik saja selama kencan hari ini, tidak ada yang aneh, sampai dia mendapat kejutan dari hinata.

Begitu banyak pengakuan yang belum sempat sasuke katakan kepada gadisnya itu. Bahwa laki-laki itu mencintai hinata dengan sangat, bahwa hadirnya membuat sasuke ingin hidup lebih lama dari yang dia inginkan, bahwa hinata bentuk bahagianya yang absolut, bahwa sasuke tidak mengenal cinta yang lain setelah kehadirannya. Apa kau menunggu dicampakkan untuk bisa mengatakan semua pengakuanmu itu sasuke?

Tapi fikirannya kemudian bergumam banyak sekali pertanyaan untuk hinata. Mengapa, dari sekian banyak kata, dia memilih kata "putus" untuk mereka? Tentang apa yang salah dari hubungan mereka yang baik-baik saja selama ini? bukankah mereka berhasil mengatasi pertengkaran dengan sebuah komunikasi? Sasuke fikir mereka sudah cukup dewasa menyikapi pertengkaran yang terjadi, buktinya permasalahannya tak pernah larut berhari-hari. Pria itu sangat tau bagaimana komunikasi memegang kunci sukses dalam setiap hubungan.

Rasanya semua putus asa yang terefleksikan menjadi berbagai pertanyaan itu menumpuk diotaknya. Semakin ia cari bagian mana yang salah dari hubungan mereka, semakin frustasi pula dia.... sebab jawaban dari semua pertanyaannya—ada pada hinata.

Malam itu, ditanggal yang sama dengan waktu, yakni 23 juni pukul 23:06, sasuke nikmati salju pertama seorang diri, terbaring tak berdaya dengan sisa kenangan yang terus otaknya putar, mengiringi kesedihan yang sasuke fikir takkan pernah hilang. Ironisnya, hari dimana salju pertama turun, menjadi hari terakhir hubungannya dengan hinata yang telah berjalan tiga tahun. Ditempat ini, bukan kesendirian yang hinata tinggalkan untuk sasuke, melainkan rasa kesepian dan kesedihan yang pasti berulang.

 

...

Sedangkan ditempat lain, dalam perjalanan pulangnya menaiki bus, hinata hanya termenung, sesekali air matanya jatuh namun dengan cepat ia usap dengan punggung tangannya. Sekarang merupakan jam terakhir bus beroperasi, jadi tak heran jika penumpangnya hanya segelintir orang. Namun meskipun begitu, ia tak ingin orang lain melihatnya menangis. Dia sudah cukup menyedihkan dengan merealisasikan apa yang selama ini ingin ia lakukan, yakni mengakhiri hubungannya dengan sasuke.

Dengan menyatukan kedua tangannya didepan dada, hinata berdoa dengan tulus kepada tuhan untuk kebahagiaan prianya itu, yang mungkin sudah tidak bisa ia klaim demikian "Cintaku....semoga setelah kesedihanmu, kau akan temukan banyak kebahagiaan dengan orang-orang terbaikmu" sampai saat ia selesai berdoa, air matanya tetap tak mau berhenti.

Jika hinata juga merasakan kesedihan yang sama dalamnya dengan sasuke, mengapa ia memilih melepaskan pria itu? Doanya yang tulus bahkan masih menyebut pria itu sebagai cintanya.

 

Hinata, loving you, is like breathing. How can I stop?

.

.

.

To Be Continue

Kutipan terakhir kudapatkan dari @wallofwovenwords

Vote and comment!

15/July/2025 (Revisi: 9/1/2025)

BestRegards
Lotushym