Actions

Work Header

strange, wild, and known. loved, always.

Summary:

Utahime mengingat hidupnya dalam potongan-potongan kecil:
bunyi bel sekolah, angin sore yang hangat, dan biru yang memudar.

Bersama Satoru Gojo ia tumbuh. Mengarungi ombak demi ombak hidup yang selaras dengan perjalanan mereka.

Notes:

im so in love with gojohime your honour

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: plant the seed

Chapter Text

Gemuruh kaki mereka berisik. Mulut mereka sibuk meneriaki satu sama lain.

Perkara kursi.

Perkara meja.

Perkara tas.

Perkara apa pun yang diatasnamakan kepemilikan masing-masing.

Padahal mereka ini titipan. Titipan orang tua masing-masing kepada pihak sekolah. Anak-anak ini hadir dengan seragam bersih dan warnanya jauh dari kata pudar, sebab sudah waktunya mereka mulai belajar.

Utahime kecil pun menuruti segala ucapan ibu gurunya. Suaranya lembut sekali, bu guru. Aku mau kayak ibu guru! Seru Utahime dalam hati kecilnya kala itu.

Kemudian telinga Utahime menangkap gelak tawa yang sangat amat keras. Anak kecil memang terkenal dengan keberisikan mereka, namun yang satu itu… melewati batas. Apalagi bagi Utahime. Anak manis dan penurut seperti Utahime tentu saja akan heran dan sebal ketika dihadapkan pada anak laki-laki aneh dengan tawa candanya yang terlalu keras, juga kelakuannya yang begitu ganjil. Mulut anak laki-laki itu tak pernah berhenti berceloteh. Bahkan saat memakan bekalnya. Mulutnya terbuka, celotehnya terus berjalan, dan Utahime kecil melihat beberapa bulir nasi terjun bebas keluar dari mulut anak laki-laki itu. Jika itu Utahime, sudah pasti ibunya akan menegur.

Mungkin dia nggak punya ibu, pikir Utahime kecil.

Either way, he was annoying. Loud and too much. Utahime just wanted to go home and watch cartoons.

Utahime kecil dengan cerianya menyapa ibunya, mulutnya tak berhenti mengeluarkan rentetan kalimat demi kalimat yang berisi cerita tentang hari pertamanya di sekolah. Tangan kecilnya bergerak ke sana kemari, berharap gemuruh isi hatinya bisa tersampaikan pada sang ibu, walau beberapa kali ibunya harus mengelus pelan anaknya—isyarat lembut agar Utahime bisa sedikit memelankan diri. Namun apa Utahime kecil paham perkara tenang? Hatinya sedang meledak. Kebahagiannya tumpah.

“Tapi ada anak nakal banget, Ibu! Tiap bu guru marahin dia, dianya malah makin nakal! Aku nggak mau temenan sama dia. Rambutnya juga aneh. Putih. Aku nggak suka lihat dia.”

“Hush, masa ngomong begitu soal teman barumu, Hime?”

“Tapi dia beneran nyebelin, Bu! Ish. Satoru jelek.”

Suara pisau yang memotong sayuran tiba-tiba menghilang. Ibunya terdiam sejenak mendengar celotehan putrinya. Utahime tetap meneruskan coretan krayonnya, kaki kecilnya menggantung, mengikuti alunan lagu di kepalanya.

“Satoru?” Ibunya bertanya pelan. “Namanya Satoru?”

Kepala Utahime mendongak dan mengangguk. Dengan binar mata yang tak pernah padam, ia menjawab, “Iya, Bu! Satoru… Goji? Pokoknya itulah!”

Ah, of course, pikir ibunya. Ternyata putrinya bersekolah di tempat yang sama dengan Satoru Gojo. Di kota ini, siapa yang tidak mengenal keluarga Gojo? The Gojo name carried an enormous existence of its own heir. It’s a bit wild that such gravity already belonged to a child so small. But supposedly, that’s how a child should be.

Except that it’s different.

Yang ini keterlaluan berisik.

Tak hanya mengganggu kawan sebangkunya, Satoru dengan mudah melontarkan celotehan kepada hampir seluruh siswa di kelas itu. Utahime? Bukan pengecualian. Bahkan, seiring berjalannya waktu, Utahime menjadi samsak kesukaan Satoru.

“Pinjem dong, Utahime!”

“Pakai punyamu sendiri, Satoru!”

“Nggak mau, wleee!”

Kepangan rambut hitam legam Utahime tak pernah bertahan lama. Anak perempuan itu, dengan sekuat tenaga, mengejar Satoru yang membawa kabur penghapus merah mudanya. Suaranya hampir habis meneriaki Satoru, pelipisnya basah oleh keringat, namun dadanya bergemuruh awas kamu ya! dan samar-samar, amarah itu melebur menjadi tawa yang lepas dan bebas.

Penghapus merah mudanya kembali ke tangan Utahime, meski telah terkikis hampir habis. Dengan semangat, Utahime menyemprot Satoru dengan deretan amarah. Satoru hanya duduk diam, menatap Utahime dengan sorot mata jahil, lalu tiba-tiba menarik lepas karet rambut Utahime dan kembali berlari menjauh ketika Utahime berteriak semakin keras.

Esok hari, pensilnya patah di tangan Satoru.

Esoknya lagi, kertasnya habis dimintai Satoru.

Lalu botol minumnya disembunyikan.

Juga sepatunya yang kanan.

Dan… tasnya.

Kemudian Utahime menangis. Menangis keras. Kesalnya bukan main. Barang-barangnya hilang. Habis. Hanya karena keisengan bocah laki-laki itu. Utahime tak peduli ia sudah menginjak kelas tiga SD. Tak peduli ucapan teman-temannya udah kelas tiga, udah nggak boleh nangisan! seakan-akan merekalah yang barang-barangnya disembunyikan oleh Satoru. Dadanya bergemuruh, darahnya berdesir oleh amarah yang tak pernah ia kenal sebelumnya, matanya memanas, dan air matanya tumpah bersama curahan hati kecilnya kepada wali kelas.

Utahime pulang dijemput ibunya. Badannya lemas, wajahnya kusut, poninya berantakan, dan masih tersisa bekas air mata di sudut matanya.

Esoknya, Satoru tak datang lagi ke meja Utahime untuk mengambil pensilnya. Ia datang dengan tangan terjulur. Utahime memandangnya aneh. Yang keluar dari mulut Satoru lebih mengherankan lagi.

“Maaf.”

Singkat. Cepat. Tak menyentuh hati Utahime.

Ucapan itu hadir sebab wali kelas mereka menginstruksikan Satoru untuk meminta maaf. Utahime mengacuhkannya, lebih tertarik menatap jendela kelas yang tertutupi poster bendera-bendera negara. Bocah laki-laki menyebalkan itu lalu menduduki kursi di depan Utahime, menyentuh lengannya berkali-kali hingga yang tumbuh di dada Utahime lagi-lagi adalah gejolak amarah.

“Stop, ah! Sana pergi!”

“Apa sih! Aku minta maaf! Yaudah kalau nggak mau!”

Satoru melengos pergi.

Utahime tak peduli.

Siangnya, Utahime duduk di pos satpam sekolah, menunggu ibunya datang menjemput. Kendaraan berlalu-lalang, tanda bahwa teman-temannya telah pulang. Utahime duduk sendiri, kakinya ia ayunkan di atas kursi kayu panjang, menatap pak satpam yang membantu anak-anak menyeberang.

Lalu kursinya terguncang. Hampir saja Utahime terjatuh. Ia menoleh ke samping, bertemu biru mata Satoru yang berkerling berbeda siang itu. Beda dari sebelumnya.

“Maaf, ya, Hime…”

Huh.

Kayak serius, pikir Utahime.

Utahime memilih diam. Ia ingin segera pulang dan tidur siang agar tak ketinggalan siaran kartun sore nanti.

“Maafin aku, Hime. Maaf aku sembunyiin tas kamu.”

Utahime menatapnya. Mencari-cari sisa main-main di wajah Satoru.

But all little Utahime could see was his soft, sincere blue eyes.

So when he offered his hand, she took it. Unknowingly forming something that shifted their centre of gravity for the rest of their lives.

Beberapa hari berlalu.

Mungkin juga beberapa minggu.

Utahime tak benar-benar menghitungnya.

Yang ia tahu hanyalah bahwa Satoru tak lagi menarik-narik barangnya. Tak lagi menyembunyikan sepatu kanan. Tak lagi menjadikan Utahime sasaran utama keisengannya. Ia masih berisik, tentu saja, tapi kini kebisingannya lebih sering berakhir di udara, bukan di telinga Utahime.

Suatu sore, halaman sekolah lebih sepi dari biasanya.

Rumput hijau terbentang luas, sedikit basah oleh sisa siraman pagi. Sepatu-sepatu kecil meninggalkan jejak samar. Angin bertiup ringan, membawa suara anak-anak lain yang berlarian entah ke mana.

Utahime berdiri di pinggir lapangan. Tangannya memegang tali tas, matanya mengikuti seekor kupu-kupu kecil atau… kumbang? Entahlah, hewan kecil itu datang, hinggap, lalu pergi lagi.

Lalu Satoru berlari.

Tidak ada aba-aba.

Tidak ada ajakan.

Ia hanya… berlari.

Entah berlari dari mana dan dari apa. 

Kakinya menapak rumput tanpa ragu, meninggalkan jejak kaki kecilnya. Seragamnya sedikit kusut. Rambut putihnya tertiup angin, berantakan seperti biasa. Ia berlari memutari lapangan, lalu memotong ke tengah, lalu kembali lagi, tanpa tujuan yang jelas.

Utahime mengernyit.

“Apa sih,” gumamnya kecil.

Namun kakinya bergerak lebih dulu.

Langkah pertama terasa canggung.

Langkah kedua lebih ringan.

Langkah ketiga, Utahime lupa untuk berhenti.

Ia berlari.

Rok seragamnya berkibar. Napasnya mulai terasa berat dengan dada yang memaksa meraup oksigen di dunia ini. Rumput menggelitik pergelangan kakinya. Terkadang, gesekan tajam rumput tersebut menusuk kaki kecil Utahime. Dunia terasa besar dan terbuka, seolah tak ada dinding kelas, tak ada meja, tak ada kursi, tak ada poster bendera negara yang menempel rapi. Seakan-akan dunia kosong ini tempat permanen bagi Utahime untuk bernapas dan bebas.

Satoru menoleh. Matanya, yang kini terlihat sebiru langit, membulat sesaat, lalu senyumnya melebar.

Ia mempercepat langkah.

“Eh!” Utahime berseru, meski tak benar-benar marah.

Satoru tertawa. Bukan tawa yang mengejek. Bukan tawa yang berisik seperti biasanya. Ini tawa yang keluar begitu saja, seiring dengan langkah kakinya yang makin cepat.

Utahime mengejarnya.

Mereka berlari memutari lapangan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Utahime tak tahu pasti berapa lama. Yang ia tahu, paru-parunya semakin terasa panas, dan pipinya memerah. Kakinya pegal. Tapi ia tidak berhenti.

Ia tidak ingin berhenti.

Untuk apa berhenti berlari jika dunia tak terlihat ujungnya?

Ketika akhirnya Utahime tersandung batu kecil dan hampir terjatuh, Satoru berhenti mendadak. Ia berbalik, matanya melebar.

“Eh—!”

Utahime terduduk di rumput. Tangan dan lututnya kotor. Napasnya terengah. Ia menatap Satoru, siap memarahi.

Namun yang keluar justru tawa.

Tawa yang keras.

Tawa yang lepas.

Tawa yang membuat perutnya terasa sakit.

Utahime terkejut dengan dirinya sendiri.

Satoru ikut tertawa. Ia duduk di samping Utahime, kakinya menjulur, telapak tangannya menekan rumput yang dingin.

“Kamu jatuh,” katanya, seolah itu penemuan besar.

“Diem,” Utahime membalas, masih tertawa.

Mereka duduk berdampingan. Bahu mereka hampir bersentuhan. Rumput menempel di kaus kaki Utahime. Angin sore menyapu wajah mereka, membawa bau tanah dan daun, serta sisa-sisa engahan napas yang membawa diri mereka ke dunia lain.

Tidak ada yang bicara untuk beberapa saat.

Tidak perlu.

Utahime menatap langit yang perlahan berubah warna. Biru muda bercampur jingga. Ia menyadari sesuatu yang aneh. Ia tidak merasa waspada. Tidak merasa perlu menjaga jarak. Tidak merasa perlu bersiap jika Satoru tiba-tiba berbuat jahil lagi.

Satoru hanya… ada.

Satoru berbaring telentang, tangannya dilipat di belakang kepala.

“Besok lari lagi,” katanya tiba-tiba.

Itu bukan pertanyaan.

Utahime menoleh. Menghela napas pelan.

“Kalo kamu nggak nyebelin,” katanya.

Satoru menyeringai. “Aku nyebelin terus.”

Utahime mendengus. “Emang.”

Namun Utahime tidak menolak. Tak terbesit sekalipun di otaknya untuk menolak ajakan unik itu. 

Ketika bel pulang akhirnya berbunyi, mereka bangkit dengan malas. Rumput masih menempel di seragam mereka. Nafas mereka masih berat. Dunia terasa sedikit lebih ringan.

Utahime berjalan pulang dengan langkah kecil yang lelah, tapi dadanya hangat.

Ia tidak tahu kapan tepatnya Satoru berhenti menjadi anak yang membuatnya menangis.

Ia juga tidak tahu kapan tepatnya mereka mulai berlari bersama.

Yang ia tahu hanyalah ini:

Mungkin tidak ada yang benar-benar berubah hari itu. Tidak ada janji terucap kecuali ajakan berlari di atas rumput basah dengan kaki polos. Tidak ada pula keputusan besar. Mereka hanya pulang dengan seragam yang kotor oleh rumput, napas yang masih berat, pelipis yang lengket sebab keringat mengering, dan tawa yang belum sepenuhnya hilang dari dada masing-masing.

Pada sore itu, di atas rumput yang hangat, Utahime berlari bebas bersama anak laki-laki yang dulu selalu membuatnya kesal.

Dan entah kenapa, itu terasa… benar.